[READ ME] WELCOME to FKI’s

ANNYEONGHASEYOO!

“WELCOME TO FANFICTION KPOP INDONESIA!”

Ok, This is the rule!

1. Tidak melakukan Bashing kepada Author atau Artis di dalam Fanfic!!

Kalo emang gak suka sama CAST-nya ya jangan dibaca!! Hargailah Authornya!! Buat diri kalian nyaman dan tambah cinta dengan FKI ^^

2. Tinggalkan jejak

Setelah membaca fanfiction disini, kalian saya harapkan dapat meninggalkan jejak kalian, Bisa dengan cara:

  • Pertama, Comment. Terserah sih mau comment apa aja, kritik, saran, pertanyaan, dengan senang hati kami akan menerimanya. Dan akan membuat kami semakin berkembang!
  • Kedua, Like.Jika kalian menyukai Fanfict kami kalian bisa kog nge-like **Dari Handphone bisa loohh**
  • Ketiga, Re-Share. Re-Share?? seperti apa itu? Reshare yaitu, “kalian liat gak ada tombol Twitt, Fb, Linked, Wp” nah kalian bisa Klik salah satu tombol itu untuk me-Reshare!

3. Tidak menjadi Plagiator!

Jangan memplagiat Fanfict di Blog ini. Kalau kalian menemukan Fanfict yang mirip dengan Fanfict disini di Blog lain, mohon langsung dilaporkan di post ini! Tapi cek dulu authornya ya, kalau authornya sama berarti itu BUKAN HASIL PLAGIAT!! :)

Kalau kalian mau tanya-tanya atau ngobrol, dengan sangat senang hati kami akan menerimanya. Silahkan Hubungi Contact person kami, bisa ke sebisa mungkin kami akan membantu dan melayani readers :)

Jadi, buatlah FKI ini menjadi rumah kalian sendiri^^ kami pasti sangat senang menerimanya~

Terimakasih untuk perhatiannya~

Sincerelly,

Admin _SeiraAiren_


Ok, Here the rule!

1. Dont Bashing Either Author or Cast !

If you dislike the character, the OTP, or the cast it self,  make sure you just dont read it!  Also do appreciate the Author! Make yourself comfortable and more in love with the FKI!! ^ ^

2. Leave a Comment

After reading fanfict here, I hope you can leave your comment, so the Author will get to know you, and notice how the fanfics goes. And that things will know how to appreciate our Author:

  •     First, Comment. I’m not BANNED a comment with criticism, but don’t be rude. suggestions or questions, we will gladly accept it. And will make us grow!
  •    Second, Like. if you like this Fanfict you just push the “like” buttons.
  •     Third, Share. Just push the buttons Re-Share? Reshare is, (The buttons like  Twitt, Fb, Linked, WP) So you can click one button to Reshare it to ur FB-Twitt or WP!

3. Don’t be a Plagiarist!

Don’t be a coward!! If you find a similar Fanfict here on another blog, please report that fics in this post! Give me the links. But check the author name first, If you find it same yeaa.. that means it’s the same Fanfict, NOT a plagiarism! :)

If you want to ask questions or chat wimme, Please Contact me asap. I will reply to you immediately if I have a time :)

So, make this FKI’s as your own house ^^ we must be very happy to receive a lot of your love~

Thank you for your attention ~

Sincerely,

Admin _SeiraAiren_

NEO!


Author : Choi Dae Zi (Wattpad : @MINDaezi)
Cast :

– Kim Tae Hyung
– Min Yoon Gi
– Choi Dae Zi
– Im Jaemi

Genre : Friendship, absurd.
Rate : Univers
Length : Oneshot
Disclaimer : Be good reader.

Rintik hujan berganti menjadi guyuran deras disertai angin, jalur utama antara Seoul-Busan-Daegu diguyur hujan lebat pada siang hari. Membuat dua gadis yang sedang melakukan perjalanan dari Busan ke Seoul mau tak mau harus berteduh pada salah satu rest area terdekat menyelamatkan diri sebelum keduanya mengigil kedinginan dan jatuh sakit. “Ah.. Jinjja, tahu begini kita pulang lebih pagi.” Eluh salah satu gadis yang memiliki warna rambut lebih terang, gadis dengan poni bulan yang panjangnya sudah melebihi alis, gadis yang duduk di belakang, sebagai penumpang.

Choi Dae Zi, roomates dari Im Jaemi. Keduanya bersahabat dari mereka duduk di bangku SMA, sama-sama mencari nafkah di ibu kota Korea Selatan. Daezi bekerja sebagai kurir antar beberapa rumah atau kedai makanan, sedangkan Jaemi bekerja di salah satu tempat sauna terkenal di Seoul. “Ahh.. Aku rasa kita akan terjebak disini cukup lama.” Eluh Jaemi setelah melepas pelindung kepala motornya, ia menyibak-nyibakkan air yang membasahi pundak dan lengannya. Daezi duduk di ujung bangku panjang rest area, di susul Jaemi yang duduk disampingnya. Kedua gadis ini menatap kearah jalanan yang menjadi kurang jelas karena lebatnya hujan, Daezi dan Jaemi menghembuskan nafas panjang bersamaan.

“Ya! Ya!” Jaemi menepuk-nepuk paha Daezi, seolah melihat satu hal yang menakjubkan. Daezi mengerutu, Jaemi mengubah posisi duduknya menghadap sahabatnya. Menyilakan satu kakinya di atas kursi, keduanya asik bercerita tentang pelangan yang datang ke tempat kerjanya. Membagi cerita tentang keluhannya yang mendapat pelangan dengan berbagai sifat, ada yang diam dan sensitif, ada juga yang berotak mesum dan menyebalkan. Dari beberapa kejadian itu sering kali Jaemi masukkan ke dalam cerita yang ia buat dengan memasukkan beberapa adegan dewasa, ide itu baru saja ia dapat saat menatap hujan. Daezi antusias dengan gaya cerita dan alur cerita buatan Jaemi, sampai Daezi tidak menyadari sudah ada dua laki-laki yang duduk tak jauh dari mereka. Dua gadis ini memang sedikit gila jika sudah berkumpul dan membicarakan ide fantasi mereka, tidak perduli dengan anggapan orang lain pada keduanya. Daezi mengerutkan dahi menatap kearah laki-laki yang sedang menatapnya, laki-laki berhidung mancung, dengan warna rambut coklat gelap dan beberapa ombrean hijau di bagian poni. Dia tampan.

Daezi berdehem dan mengubah posisi duduknya, bukannya Daezi tidak suka dengan laki-laki ini hanya saja, gadis ini risih akan tatapannya. Daezi hanya bisa balas menatapnya dengan tajam, seperti yang ia lakukan saat seseorang menganggunya. “Jadi Mingyu mengajakmu ke sebuah club malam, membuatmu mabuk, dan menidur—” Daezi membekap mulut Jaemi yang bercerita dengan suara lantangnya, mungkin hal inilah yang membuat laki-laki itu menatap kearah ku. Pikir Daezi mengira-ira. “Ya! Pelankan suaramu. Laki-laki di belakangmu menatap kearahku! ” Gerutu Daezi kesal, gadis ini juga mengancam Jaemi agar tidak menoleh seketika. Salah satu kebiasaan buruk Jaemi, keduanya memutuskan menganti posisi duduk menghadap kearah jalanan. Daezi menyandarkan kepalanya di dinding bangku rest area.

*

Yoongi melipat kedua tangannya di depan dada, menatap kearah motor miliknya yang terguyur hujan lebat. Min Yoon Gi, laki-laki asal Daegu yang mencoba peruntungannya di Seoul bersama salah satu sahabatnya semasa kecil, Kim Tae Hyung. Yoongi dan Taehyung sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul dari Daegu, libur kerja tahunan yang ia manfaatkan untuk mengunjungi keluarga di kampung halaman. Taehyung dan Yoongi sudah bersahabat saat mereka duduk pada bangku taman kanak-kanak, dimana ada Yoongi, disitu ada Taehyung. Walau mereka kerja di tempat yang berbeda tak membuat keduanya berjauhan. Yoongi bekerja sebagai office boy disalah satu mall terbesar dan Taehyung bekerja di salah satu pencucian mobil mewah di Seoul, keduanya rutin saling mengunjungi setelah jam kerja masing-masing usai.

Walaupun pekerjaan mereka bisa di katakan pekerjaan kalangan bawah, tampilan kedua laki-laki tidak bisa di katakan tidak fashionable. Dengan gaji mereka tidak melimpah seperti para pekerja kantoran, keduanya masih mampu untuk membeli beberapa pakaian bermerk dan berkualitas. Bukan ingin menjadi orang yang sok kaya, atau menipu orang lain lewat tampilannya. Kedua laki-laki ini memang memiliki pandangan yang lain soal status sosial dan penampilan diri.

Yoongi menoleh kesamping kirinya, saling menatap dengan gadis berambut coklat tua dengan poni panjangnya yang sedikit basah. Gadis yang dimaksud Taehyung, yang membicarakan hal senonoh dengan lantang. Yoongi hanya bisa menerjapkan mata beberapa kali, apa yang salah denganku? Pikirnya, Yoongi mengamati dirinya sendiri dari ujung kaki hingga bahu. Kenapa jadi Yoongi yang merasa memiliki kesalahan, jelas-jelas gadis itu yang memiliki masalah. “Ada yang salah dengan penampilanku?” Tanyanya lirih pada Taehyung yang menunduk, memainkan ponselnya. Taehyung mengeleng, tidak ada yang salah dengan tampilan dan wajah Yoongi. Laki-laki berkulit putih yang menggunakan sweater hitam di padu dengan kaus baseball berwarna senada, celana jeans yang robek dibeberapa bagian, sepatu convers high merah. Wajah Yoongi juga tidak terdapat sesuatu yang salah, dia tampan dan fashionable seperti biasanya. Lantas kenapa gadis itu menatap Yoongi seolah-olah tampilan laki-laki ini sangat aneh?

Daezi dan Jaemi beranjak setelah dua jam menunggu, bersiap meneruskan perjalanan karena hujan sudah lumayan reda. Jaemi berjalan lebih dulu kearah motor pinjaman dari tempat Daezi bekerja, kegiatan Jaemi menguncir rambut panjangnya pun terhenti saat perhatiannya teralihkan pada laki-laki yang sedang menatapnya dari salah satu kursi rest area. Jaemi menghimpit bibirnya sendiri menjadi satu garis lurus. ‘Dia tampan sekali. Kenapa aku tidak melihatnya tadi? Jelas-jelas dia duduk tak jauh dariku.’ Batinnya. “Ya Jaemi-ah igo..” Panggil Daezi membuat tatapan Jaemi beralih, dengan reflek yang bagus Jaemi menangkap lemparan kunci motornya yang tertinggal. “Neo baboya!” Jaemi memamerkan deretan giginya, meminta maaf karena kebiasaannya teledor akan barang-barang kecil. Daezi kembali memasukkan beberapa bungkus camilan yang ia makan ke kantong plastik hitam.

Yoongi menoleh ke kiri menatap kearah gadis yang sibuk dengan beberapa bungkus makanan kosong, keinginan untuk berpaling pun hilang seketika saat orang yang Yoongi tatap menghadapnya. ‘Cantik..’ Batin Yoongi memuji. “Ya! Palliwa.” Gadis berponi itupun menyahuti dengan gumaman dan segera beranjak dari rest area setelah mendengar teriakan gadis yang lain, gadis yang menatap Yoongi dengan pandangan tak suka. Apa masalahnya denganku sebenarnya?

*

Daezi berjalan menelusuri lorong dengan design elegan dengan warna cokelat disisi kanan dan kiri, dengan tatapan teliti Daezi mengamati. Gadis ini harus segera mencari ruangan 303 untuk mengantarkan pesanan, kali ini sudah empat kali Daezi datang ke tempat ini. “Daezi-ah..” Kedua alis Daezi terangkat saat melihat kearah orang yang memanggilnya, dengan langkah lebar gadis ini menghampiri. Daezi segera memberikan beberapa kotak berisi makanan yang sudah di beli. “Gomawo.” Daezi mengangguk, meninggalkan sahabatnya yang memasuki ruangan. Berguna juga memiliki sahabat yang begelut dan bertemu banyak orang dengan kantong dalam, beberapa kali Jaemi menawarkan pada orang yang ia layani untuk memesan satu kotak makan siang atau camilan lainnya di luar tempatnya bekerja.

Dan untung saja tempat kerja Jaemi membebaskan membeli makanan dari luar, teman-teman kerja Jaemi juga sering mengorder makanan dari tempat Daezi bekerja. Setelah keluar dari tempat Jaemi bekerja, Daezi segera mengemudikan sepeda motornya ke tempat tujuannya yang lain. Masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, yang terakhir untuk hari ini. mengantarkan pesanan di salah satu tempat pencucian mobil pada kawasan Myendeong.

Siang hari yang cukup melelahkan untuk Daezi menembus kemacetan lalu lintas kota dan tuntutan agar dirinya cepat dalam mengantarkan pesanan. Dua puluh menit yang melelahkan akan di selesaikan dengan transaksi pembayaran sang pemesan, gadis ini melepaskan helmnya dan menyampirkannya di salah satu kaca spion motor bewarna kuning tersebut. Tak cukup waktu untuknya membenarkan kuncir rambunya yang sedikit berantakkan akibat pelindung kepala yang ia kenakan. Daezi mengambil tiga kotak Yangnyeom Tongdak atau ayam goreng berbumbu pada box yang ada di bagian belakang sepedanya. Gadis ini berjalan cepat memasuki tempat pencucian mobil dan segera menuju salah satu pekerja yang berdiri di baling meja tempat pembayaran para pengunjung.

“Pesanan untuk Seul Car wash, tiga porsi Yangnyeom Tongdak.” Ucap Daezi pada laki-laki yang memandangi ponselnya, mendengar ucapan seseorang laki-laki ini mengadahkan kepala yang membuatnya membelalakkan mata terkejut. Daezi pun ikut terkejut, ditatap dengan raut keanehan, dan di tunjuk. “Pesanan tuan..” Ucap Daezi sekali lagi.

Laki-laki ini menerjapkan mata, ia kembali sadar dari pemikirannya. “Aku tidak memesan ayam.” Tegasnya, Daezi mengerutkan dahi. Ia menaruh tiga box ayamnya di atas meja, mencoba menghiraukan tatapan si laki-laki hidung mancung di sampingnya. Daezi memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel laki-laki yang memesan tiga porsi ayam di tempatnya bekerja, panggilan gadis ini tidak kunjung mendapat respon. Ia semakin risih di pandangi dan juga keanehan pemesan tiga porsi ayamnya. Jika memang tempat yang ia datangi tidak memesan dan ternyata pesanan tersebut hanya ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, Daezi tidak tahu lagi bagaimana ia akan mengadapi omelan bosnya. Siapa yang akan membayar dua kotak ayam yang belum di bayar?

Kekhawatiran itu semakin besar saat orang yang Daezi hubungi tidak kunjung mengangkat teleponnya. Daezi menjelaskan pada laki-laki yang menatapnya jika tempat pencucian mobil ini memesan tiga porsi ayam padanya. “Bagaimana aku membayar makanan yang bahkan tidak aku pesan nona?” Jawab si laki-laki berhidung mancung itu, Daezi frustasi di buatnya.

“Oh. Sudah datang ternyata, berapa?” Sahut seseorang dari arah belakang, Daezi menoleh seketika. “Taehyung-ah, jadi kau yang memesan ayam.” Gadis ini menelan kembali amarah yang hendak ia luapkan pada sang pembeli saat dirinya menatap wajah tampan laki-laki yang sedang mengangguk beberapa langkah tak jauh darinya, laki-laki yang sempat bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Daezi masih ingat tatapan laki-laki ini yang mengitimidasinya. “2300 Won.” Jawab Daezi menundukkan kepalanya, setelah transaksi pembayaran rampung dengan langkah lebar Daezi meninggalkan tempat pencucian mobil. Mengabaikan gelagat aneh dari kedua laki-laki yang ia hadapi.

Taehyung memasuki salah satu toko pakaian ternama di sebuah mall, awal bulan yang selalu menyenangkan baginya. Kerja keras selama sebulan bisa ia nikmati sekarang, laki-laki ini memilih dan mencoba beberapa celana dan baju yang menarik perhatiannya. Beruntungnya toko yang ia datangi tidak terlalu ramai pengunjung, hal itu membuat waktunya tidak terbuang terlalu lama untuk antrian kamar ganti atau antrian saat melakukan pembayaran. Setelah menemukan baju yang ia sukai, Taehyung segera melakukan pembayaran. Tiga buah kaus dan satu celana sudah membuat Taehyung bahagia. Rencana selanjutnya Taehyung ingin melihat-lihat beberapa sepatu, Taehyung berdiri di belakang seorang gadis yang sama-sama sedang melakukan transaksi pembayaran.

Sepuluh menit berlalu, Taehyung masih berdiri di belakang gadis yang terlihat mendapat sedikit kendala akan transaksinya. Laki-laki ini menatap jam tangannya, jam menunjukkan pukul lima sore. Waktunya tidak banyak, ia masih memiliki banyak rencana hari ini. Taehyung memutuskan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di depannya, “Aku akan mencoba menghubungi nomor temanku, Jangkkamanyo.” Ucap si gadis yang ternyata Taehyung kenali, gadis yang pernah bertemu dengannya tempo hari. Taehyung tersenyum pada pekerja yang berdiri di belakang mesin pembayaran, laki-laki ini menyerahkan kantong belanjaannya untuk melakukan pembayaran.

“Ada masalah apa?” tanya Taehyung pada kassa karena transaksinya tidak bisa di lakukan sebelum si gadis tersebut menyelesaikan pembayarannya, pekerja wanita tersebut menjelaskan jika si gadis yang saat ini sedang sibuk dengan teleponnya si sudut toko tak jauh dari Taehyung kekurangan biaya. Uang yang ada dalam kartu kreditnya tidak mencukupi dengan total harga baju yang ia beli, gadis bersurai coklat tersebut mengatakan jika ia tidak memiliki uang cash di dompetnya. Taehyung mengangguk paham setelah paham hal yang terjadi. “Berapa kurangnya?”

Daezi menyabun kedua dan mengeringkannya tangannya dengan beberapa lembar tisu, gadis ini menatap pantulan dirinya pada kaca toilet yang besar. Ia merapikan kaus dan choker yang ia kenakan, di rasa sudah rapi sesuai keinginan gadis ini berjalan keluar toilet. Daezi merogoh saku celananya untuk mengambil uang biaya toilet, gadis ini mengecek seluruh kantong celananya namun tak juga menemukan selembar uang. “Waeyo?” tanya si penjaga toilet dengan tatapan bertanya, Daezi mengigit bibirnya dan mengambil nafas panjang. Bersiap untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa gadis ini tidak membawa uangnya.

Dompetnya ada di dalam tas sahabatnya, gadis ini meminta ijin pada pekerja laki-laki di depannya yang tampan itu untuk menunggu. Daezi akan menghubungi ponsel sahabatnya dan memintanya untuk menghampiri Daezi dan Daezi akan membayar biaya toilet seperti orang lain. “Aniyo.. Aku akan membayarnya, hanya saja setelah temanku datang. Aku akan menelponnya.” Ucap Daezi pada sang pekerja karena laki-laki itu tidak mempermasalahkan jika Daezi tidak membayar, hal itu jelas di tolak olehnya. Daezi tersenyum kearah sang pegawai laki-laki dengan memegangi ponselnya di telinga, ia menghubungi Jaemi untuk mencari tahu kenapa gadis itu menelponnya beberapa kali dan menyuruhnya untuk ke tempatnya secepatnya. Daezi lupa mengubah mode hening ponselnya setelah mereka menonton film tadi.

Tanpa Daezi tahu, pegawai mall di depannya tersebut menatap Daezi dengan senyuman yang manis. Laki-laki yang akhir-akhir ini berharap untuk bisa bertemu dengannya, ini pertemuan ketiga dengan Daezi. Sejujurnya, di luar rasa tidak nyamannya Daezi karena kelalaiannya tidak membawa uang. Gadis ini senang bisa bertemu dengan laki-laki tampan seperti yang ada di depannya saat ini, beberapa kali Daezi mencuri pandangan kearahnya. Saat tatapan keduanya bertemu, Daezi hanya bisa tersenyum lalu menunduk. Ia merasa ada sesuatu yang meledak-meledak di dadanya, rasa yang membuatnya selalu ingin tersenyum. Teleponnya tak kunjung mendapat respon dari Jaemi, hal itu semakin lama semakin membuat Daezi kesal. Daezi mematikan panggilannya.

“Non—“

“Chogi—“ Ucap mereka bersamaan, semakin membuat keduanya canggung. Daezi mengaruk pelipisnya yang tidak gatal dengan menunduk menertawkaan sikapnya sendiri.

*

Jaemi keluar toko dengan tergesa-gesa, menoleh ke kiri dan kanan dengan dua kantong baju di tangan kanannya, transaksi pembayaran yang sudah rampung tanpa ia kehendaki. Seseorang telah membayar kekurangan dirinya, sebab itulah gadis ini ingin mencarinya. Gadis yang menjadi kassa di toko mengatakan jika laki-laki berjaket kulit hitam lah yang membayar kekurangan belanjaan Jaemi. Jaemi tidak ingin memiliki hutang pada siapa pun, terlebih pada orang yang tidak ia kenal. Mengikuti instingnya, Jaemi memilih arah kanan untuk awal langkahnya mencari laki-laki berjaket kulit tersebut. Dengan langkah seribu dan pandangan awas seperti seekor elang, Jaemi meneliti pengunjung mall yang semakin malam semakin ramai.

Jaemi berjalan setengah berlari saat pandangannya menatap seorang laki-laki yang menenteng tas baju mirip seperti yang Jaemi bawa, laki-laki yang memakai jaket kulit berwarna hitam. “Chogiyo..” sapa Jaemi yang berdiri dan menghadang langkah laki-laki berjaket hitam tepat di depannya, Jaemi merentangkan kedua tangannya. Nafasnya memburu seperti orang berlari, gadis ini mengadahkan tangannya ke depan untuk meminta waktu untuknya mengambil nafas dan menenangkan nafasnya. Laki-laki berjaket kulit hitam tersebut menyergitkan dahi, Jaemi mengadahkan kepala bersiap untuk menjelaskan tujuannya. Hanya saja, rasa kagum membuatnya bungkam. Jaemi terdiam dengan tatapan yang masih sama, fokus kepada laki-laki berjaket kulit hitam di depannya. Sampai laki-laki itu berdehem untuk menyadarkannya kembali, Jaemi menelan ludahnya untuk membuat nada suaranya terdengar normal. “Jogiyo, apa kau yang membayar kekuranganku di toko pakaian ini?” tanya Jaemi dengan mengangkat tas belanjaannya, laki-laki berjaket itu mengangguk. Jaemi hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan sepatah-kata pun, ia terlalu terkejut dan terpana dalam waktu yang bersamaan. Jaemi mengelengkan kepalanya, memaksa dirinya untuk fokus pada tujuannya.

Jaemi menjelaskan pada laki-laki berjaket kulit tersebut kalau dirinya akan mengembalikan uang yang telah di keluarkannya untuk menolong Jaemi. Laki-laki berjaket tersebut sempat menolak dan tidak mempermasalahkan, lagi pula kekurangan Jaemi tidak terlalu besar. Hanya 3000 won. “Andwe.” Tegas Jaemi menolak pendapat si laki-laki, ia tidak suka memiliki hutang. Jaemi meminta waktu pada si laki-laki berjaket tersebut untuk menghubungi sahabatnya yang akan memberi Jaemi uang, si laki-laki menolak dan menjelaskan jika dirinya ada janji lain. Jaemi mengigir bibirnya, tanpa ia sadari gadis ini beraegyo.

Daezi berdiri dari jongkoknya, gadis ini frustasi karena terlalu lama dan lelah saat menghubungi ponsel sahabatnya yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Pada akhirnya Jaemi mengangkat teleponnya, Daezi menjelaskan dan menyuruh Jaemi untuk ke toilet yang letaknya tak jauh dari escalator lantai tiga. Jaemi pun menjelaskan situasi buruk yang menimpanya, kelalaian keduanya lah yang membuat hal memalukan hari ini terjadi. Daezi mengantongi kembali ponselnya ke saku celana, ia menatap pegawai laki-laki yang duduk tenang di kursinya. Daezi berjalan mendekat untuk mengatakan jika sahabatnya akan datang sebentar lagi. Namun, saat ia melangkah gadis ini mengaduh karena kakinya kesemutan. Ia terlalu lama berjongkok. Sang pegawai laki-laki beranjak dari duduknya dan menghampiri Daezi, menanyakan keadaanya. “Gwenchanayo. Gomawo. Temanku akan datang sebentar lagi, maaf sudah merepotkan.”

“Aniyo, gwenchana. Kau mau duduk?” tanya si pegawai dengan menunjuk kursi miliknya, Daezi mengeleng. Ia tidak mungkin menerima tawaran itu, ia tidak ingin terlalu banyak merepotkan orang asing di depannya. Tapi sang pegawai tidak menyerah, ia memaksa Daezi agar mau duduk dan meluruskan kakinya. Mau tidak mau Daezi menerima tawaran tersebut. Menit-menit berlalu dengan kecanggungan yang semakin menjadi, banyak pengunjung yang keluar toilet menatap Daezi dan pegawai bergantian.

“Sudah lama bekerja di tempat ini?” tanya Daezi untuk mengurangi rasa bosannya, sang pegawai menjelaskan jika hampir dua tahun ia bekerja di mall yang Daezi datangi. Daezi menunduk dan memijit kakinya, ia tidak ingin memikirkan tatapan pengunjung lain dan juga kebingungannya untuk membuka topic pembicaraan yang baru. Daezi menatap jam tangannya untuk kesekian kali, sudah dua puluh menit Jaemi belum juga datang. Daezi melirik si pegawai yang tengah berdiri di sampingnya, jarak mereka hanya sepanjang kaki Daezi yang di luruskan.

“Kau sendiri? Bekerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi?” tanya si pegawai memecah keheningan dan membuat Daezi sedikit terlonjak karena terkejut. “Aku memilih untuk berkerja. Menjadi tukang antar untuk beberapa tempat makan.” Jelas Daezi tanpa menghentikan aktivitasnya memijit. “Oh ya, siapa nama mu?” Lanjut Daezi mengadahkan kepala, menatap kearah laki-laki yang juga tengah menatapnya, keduanya saling tatap tanpa ada percakapan.

Jaemi berdiri di samping laki-laki yang tengah menyelesaikan pembayaran akan sepatu yang ia beli, terpaksa Jaemi mengikutinya. Hanya itu satu-satunya cara agar laki-laki bernama Taehyung itu mau uangnya Jaemi kembalikan. “Jadi Jaemi, dimana temanmu?” tanya Taehyung yang menatap sepintas lawan bicaranya. “Toilet.”

“Apa yang di lakukannya di sana?” tanya Taehyung dengan nada terkejutnya, Jaemi mengehela nafas. Dengan rasa sabar yang besar Jaemi kembali menjelaskan jika sahabatnya terperangkap di toilet karena ia lupa membawa dompetnya, gadis itu tidak bisa pergi sebelum ia membayar biaya toilet. “Maka dari itu ayo cepat.” Pinta Jaemi dengan berjalan lebih dulu, hampir satu jam Jaemi meninggalkan sahabatnya. Taehyung berjalan menyusul langkah gadis yang tengah bersungut di depannya dengan cengiran, laki-laki ini memang suka mengoda seseorang hingga marah.

“Daezi-ah..” Panggil Jaemi yang berjalan di lorong toilet tempat sahabatnya menunggu, yang di panggil menenglengkan kepalanya memastikan orang yang memanggil. Jaemi berhenti melangkah, begitu juga Daezi yang langsung beranjak dari duduknya.

“Neo!” seru Daezi dan Jaemi serempak menujuk laki-laki yang mereka lihat di samping sahabatnya.

 

-The End-

(Vignette)Rhythm of the Rain

img1479541414663

img1479541414663

Chunniest Present

^

Rhythm of the Rain

^

Main Cast :

Jeon Jungkook (BTS) – Park Jiyeon (T-ARA) – Mun Eric as Park Eric

^

Genre: Sad, romance | Length: Vignette

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Baca lebih lanjut

(Chapter 10) G.R.8.U

gr8u-chunniest-copy

gr8u-chunniest-copy

Poster by PutrisafirA255@Indo Fanfictions Arts

Chunniest Present

^

G.R. 8. U

(Chapter 10)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice) – Park Chanyeol (EXO) –

Ok Taecyeon (2PM)

^

Previous :

PrologChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5 – Chapter 6

Chapter 7 – Chapter 8 – Chapter 9

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Baca lebih lanjut

(Chapter 9) G.R.8.U

img1473831208562

img1473830617063

Chunniest Present

^

G.R. 8. U

(Chapter 9)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice) – Park Chanyeol (EXO) –

Kim Hyorin (SISTAR)

^

Previous :

PrologChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5 – Chapter 6

Chapter 7 – Chapter 8

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Baca lebih lanjut