Only Hope Part 1

Main Cast : Jo Youngmin, Jo Kwangmin, Boyfriend

Genre : Romance, Friendship, Humor

Rated : G

Length : Chapter

Disclaimer : Idk how I can explain it, but I really like to make this story and this just another my romance story about YoungJang couple. And for make attention, this is just fanfiction guys and hope you enjoy it. Gomawo^^

Summary : It’s just about how Youngmin meet and knows Jangmi well. And they’re make an appointment, Youngmin as a superstar with his member, and Jangmi always stay with Youngmin’s heart. And I hope you also know like Jangmi feel.

“Youngmin ah~ apa yang akan kamu janjikan jika sudah terkenal nanti padaku?” tatapanku begitu penuh harapan.

“Hmm.. Aku takkan pernah melupakanmu! Ottokhaeyo?” jawabnya dengan wajah berbinar-binar.

“Aish~ semua pria akan berkata seperti itu! Kau ini membosankan sekali, Youngmin ah~,” tukasku yang mulai kesal.

“Jeongmal mianheyo, aku benar-benar bingung apa yang harus ku janjikan padamu. Hmm bagaimana kalau pada hari ulang tahunmu aku akan datang dengan seratus ikat bunga mawar, seperti namamu Jangmi ya~?” Youngmin kembali melempar pertanyaan padaku.

“Jinjjayo??? Ah keura, aku setuju! Dan kau harus benar-benar menepati janjimu itu, Youngmin sshi~!” akhirnya aku mengacungkan kelingking tanda sebuah janji yang Youngmin nyatakan.

Lalu Youngmin pun menyambut dengan kelingkingnya, “Yaa~ Kenapa kau memanggilku dengan kata ‘sshi’???” ia memukul kecil kepalaku.

“Yaaa~ appo!!!” dan kami pun saling berkejar-kejaran.

Aku selalu berharap kau akan menepati janji itu, Youngmin ah~! Walaupun seluruh dunia tau atas kehebatan dirimu, batinku.

***

“Youngmin ah~ hwaiting! Aku yakin kamu bisa menjalaninya. Jadilah entertainer yang membuktikan kualitas, bukan kuantitas. Arraseoyo?” ujarku dengan pesan-pesan singkatku.

“Ne, arraseo. Kau juga, tetap seperti ini. Jangmi ya~ si bunga mawar! Ne?” Youngmin terus menatapku.

“Aniya, harusnya aku yang bilang itu Youngmin ah~!” aku mencubit pipinya dengan lembut.

“Ne.. Ne.. Lagipula kita akan tetap satu sekolah, Jangmi ya~!” Youngmin menggenggam tanganku yang terpaku di pipi lembutnya.

“De. Cepatlah bergegas, manager Kim sudah menunggumu. Ppaliwa!” dan Youngmin pun berlari kearah mobil yang telah menjemputnya, aku merasa gugup saat ini.

Aku pun berbalik arah dan menuju kembali kerumah. Hatiku terasa mengganjal, apapun yang terjadi aku harus tetap kuat. Artis adalah pekerjaan Youngmin nantinya. Lagipula, pertemuan kami takkan berakhir dan menyakinkan diri bahwa sekolah adalah tempat satu-satunya kami bertemu.

“Jangmi ya~” teriak seseorang dari belakangku. Lalu aku pun menoleh perlahan.

“Omo~” aku begitu kaget.

“Annyeonghaseyo!” ucap semua member dengan senyuman yang berbinar-binar.

“Omo~” tukasku masih dengan perasaan yang sama.

“Jangmi ya~ aku ingin memperkenalkan mereka sebelum kami debut dan terkenal,” ujar Youngmin dengan wajah polosnya.

“Annyeonghaseyo, Kim Donghyun imnida. Bangapsamnida, Jangmi sshi~ aku rasa kamu teman yang baik untuk Jo twins,” ia pun mengakhirinya dengan senyum evilnya.

“Ah~ aniyo oppa, aku hanya berusaha menjadi teman yang berkualitas. Gamsahamnida oppa~,” Donghyun oppa tetap tersenyum dengan jawabanku.

“Annyeonghaseyo, No Minwoo imnida. Bangapsamnida, Jangmi noona~” Minwoo senyum dengan begitu menawan.

“Aigo~ aku ini seumuran Youngmin, Minwoo sshi~ untuk apa kau memanggilku noona? Apa aku terlihat tua?” aku tersipu malu.

“Omo~ mianhe Jangmi sshi~ Aku hanya ingin berlaku sopan” Minwoo hanya tersenyum malu.

“Arraseo!”

“Ne. Annyeonghaseyo, Lee Jeongmin imnida. Bangapsamnida, Jangmi sshi~ namamu bagus sekali!” mata sipit Jeongmin oppa terlihat manis.

“Ah, gamsahamnida Jeongmin oppa~ aku juga suka mata mu,” aku tetap penuh senyuman.

“Gomawo,” balas Jeongmin oppa dengan senyum kedipan matanya.

“Annyeonghaseyo, Shim Hyunseong imnida. Bangapsamnida, Jangmi sshi~” Hyunseong oppa tampak malu-malu saat berkenalan.

“Yaaa~ Hyung! Kau ini bagaimana, masa hanya begitu saja!” tegur Kwangmin.

“Gwenchana, Kwangmin ah~” ujarku.

“Jangmi ya~ apa kau melihat dia seperti orang kelainan mental?” Kwangmin bertanya serius padanya namun wajahnya polos sekali.

“Hmm.. Aniya, Kwangmin ah~ kau tega sekali berkata seperti itu pada Hyunseong oppa~ dan aku rasa dia tidak seperti itu” aku berusaha membela Hyunseong oppa.

“Oh syukurlah, hyung kau masih dianggap normal ternyata!” Hyunseong oppa pun memukul pelan kepala dongsaeng nya ini, “Yaaaa! Kwangmin sshi~!”.

Dan semua pun tertawa melihat kejadian ini. Lucu dan menarik bersama orang-orang yang baru ku temui ini.

“Baiklah Jangmi ya~ kita harus pergi ke tempat latihan sekarang,” ujar Youngmin.

“Ah, hmm!” aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.

“Main-mainlah ke tempat latihan jika kau punya waktu noona~” Minwoo mencoba mengakrabkan diri.

“Ah kau bisa saja, Minwoo sshi~ aku jadi malu. Baiklah, kalau ada waktu aku pasti datang,” hanya senyuman yang bisa aku paparkan.

Dan kali ini aku benar-benar ditinggalkan oleh mereka semua. Ku langkahkan kakiku dengan penuh harapan bahwa mereka semua tidak akan pernah melupakanku walaupun sudah sesukses apapun mereka. Memang hatiku berat rasanya, tapi aku harus mendukungnya.

***

Beberapa minggu telah berlalu, aku kini sendiri, namun tiada yang menyangka bahwa aku mengenal mereka semua. Tapi aku selalu bersyukur bahwa akhirnya mereka semua disini, dihidupku. Namun aku hanya orang biasa, aku cukup mendukung bukan menghampiri lalu masuk kehidupan mereka seenaknya yang sekarang merambat untuk dikenal dunia. Aku yakin panggung itu akan mengajak mereka semua pergi bersama ke suatu tujuan. Dan ku mohon, jangan lupakan janjimu jika tujuan itu telah sampai pada waktunya, Youngmin my juliette ginger hair.

Aku sedang berada disekitaran Namsan Tower. Untuk kesana aku perlu menaiki cable car dan kuharap isinya tidak ramai.

“Silahkan masuk, semoga anda menikmati perjalanan anda,” petugas itu menyapaku dengan ramah.

Aku hanya membungkuk ramah dan segera masuk ke dalam cable car itu. Disini cable car itu besar dan muat untuk 10 orang tapi kenapa aku hanya berdua saja dengan seorang pria aneh dihadapanku. Dengan penampilan serba tertutup dan aku heran apa dia tidak sesak napas? Sudahlah, biarkan saja dia yang merasakan.

Setelah sampai dipuncak tower ini, aku berkeliling di sekitaran Namsan Tower dan aku langsung beralih ke tempat dimana semua pasangan berlomba-lomba untuk menaruh gembok impiannya. Aku dan sebuah kameraku hanya bisa mengabadikannya. Indah sekali, berwarna-warni.

“Wow, ternyata hasil fotoku masih sebagus dulu!” aku selalu puas akan hasil fotoku.

“Ya! Bisakah kau menggeser sedikit tumbuhmu? Aku tidak bisa fokus akan fotoku,” ujar seorang pria aneh yang tadi bersamaku.

“Ne, mianhamnida” kataku tanpa basa-basi aku langsung melanglang buana ketempat lain.

Cuaca hari ini sangat bagus, akan lebih baik jika aku mengabadikan semuanya disini, jika sudah malam pasti sangat indah. Dan aku lebih memilih untuk memfoto langit cerah menjelang sore ini.

“Ya! Minggirlah sedikit, aku juga ingin memfoto langit itu,” dan lagi-lagi manusia berpakain tertutup itu mendatangiku lagi.

Aigo~ orang ini mengganguku saja! Dia tidak tau aku ini resmi berdiri disini sejak tadi, batinku yang mulai kesal.

“Maaf, tapi kau tidak lihat betapa luasnya tempat ini? Langit pun tidak sesempit daun katuk! Jadi, kapan aku tidak akan minggir lagi?” aku mulai geram dengan orang ini.

“Oke, gwenchana.” orang itu pergi begitu saja, dasar aneh!

***

Aku berkeliling kemana saja kakiku ingin melangkah, sesekali aku duduk ditiap bangku yang ada disini. Aku masih menunggu malam, tapi kenapa pria aneh itu masih saja ada di tempat ini.

Aku juga berkeliling mengambil foto dimanapun aku suka. Sampai tiba-tiba saja perutku bersorak-sorai karena belum diisi. Aku bingung harus bagaimana. Dan sepertinya maag ku kambuh karena sejak tadi tidak ku isi makanan sedikitpun.

“Aku lapar, perutku sakit sekali!” aku tertunduk lesu disebuah bangku.

Dan entah aku salah lihat atau aku sedang bermimpi, laki-laki yang sedari tadi menggangguku menghampiriku.

Omo~ ottokhaeyo? Aku harus bagaimana ini? Aku tidak sanggup untuk berlari lagi.

“Ya! Kau mau apa? Mau mengganguku lagi?” teriakku.

“Kau ini kenapa? Aku hanya ingin membantu, kau lupa denganku Jangmi ya~!” ujar orang itu yang kini ada dihadapanku.

“Neo.. Neo.. Youngmin ah~?” tanyaku tak percaya.

“Ini mawar pertama untukmu, Jangmi ya~!” dia langsung memberiku setangkai mawar dan aku masih terpaku tak menyangka.

“Youngmin ah~?” aku mengucapkan kata itu kembali dan dari balik topinya ia tersenyum manis.

My juliette ginger hair ada disini? Dihadapanku?, batinku.

To Be Continue..

P.S. : Okay guys, this is another my fanfiction and for the first time I use Boyfriend’s member. Maaf ya kalo ff nya kurang memuaskan karena aku cuma berharap ff ini bisa dilanjutkan kkkk~~ Tolong berikan kritik dan saran kalian karena semua itu sangat membangun untuk kedepannya, chingudeul ! Please comment and don’t be a silent reader !!!! Gamsahamnida^^

13 thoughts on “Only Hope Part 1

    • hahaha iya maaf ya, aku baru selesaiin lanjutannya chingu semoga so sweet ya yang ini. sebelumnya gomawo uda mau baca ff aku :)

  1. Aaaaa baguuuus! Next partnya yang ketiga udah ada belom? Aku komen ama part 2nya disini aja yaa:D ehehe. Bagus bangeet! Aku gasabaran baca yang ketiga. Rasanya baca ff ini berasa cepet baget. Padahal panjaang wkwk. ><

    • hehehe sebelumnya gomawo uda baca ff ku ^^ iya aku lagi ketik yang part 3 nya kok semoga lebih greget yaaa hehehe :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s