[CHAPTER] Go Away – Part 5 END

Title: Go Away
Genre: Romance, Sad
Author: Reene Reene Pott
Rating: General

Main Cast : Choi Minho, Lee Son Hee

Supporter Cast : Goo Hara, Donghae, Park Nah Ra, Oh Jae Jin, Kim Hyun Jae, Choi Sulli
Legth: Sequel
Language: Indonesia

Chapter 5 – Last Part

Son Hee’s POV

“Son Hee-yah,” sebuah suara berat menyapaku dan menyadarkanku dari lamunanku. Aku menoleh.

Mataku membulat dan napasku tercekat mendapati namja itu ada di sampingku sekarang. Sedang apa dia di sini? Bagaimana dia bisa tahu aku ada di sini?

Author’s POV

Minho menatap yeoja di depannya. Hatinya membuncah ingin memeluk gadis itu, namun ia menahannya.

“Choi Minho…” gumam Son Hee. Ia menggelengkan kepalanya sesaat lalu berkata lagi,” Mian aku tidak datang ke pestamu,” Minho hanya tersenyum tipis.

“Kau sudah mendengar berita itu?” tanyanya. Son Hee mengerutkan keningnya.

“Berita yang mana? Banyak berita yang kudapat akhir-akhir ini,”

“Soal Hara,” perkataan Minho itu spontan membuat raut wajah Son Hee menegang.

“Oh, itu. Aku…” Son Hee menghentikan kata-katanya lalu menelan ludah, “Aku tak mengerti. Dan aku nggak mau ambil pusing. Jadi yaaa…” lalu dia mengangkat kedua bahunya.

“Jadi, kau menganggap ucapanku waktu itu benar-benar serius?”

“Ucapanmu yang mana?” Son Hee seperti orang babo sekarang.

“Yang di bandara,” jawab Minho sabar.

“Oh, itu. Tentu saja. Lagipula, terus terang saja aku sudah tak punya perasaan apa-apa padamu,” kalimat terakhir yuang telah diucapkan Son Hee membuat Minho pucat seketika. “Setelah mendapat undangan itu, aku berusaha keras melupakanmu. Sepertinya berhasil. Chukkae untuk pernikahanmu,” lanjutnya sambil tersenyum lalu menjilat es krimnya kembali.

Dia pura-pura. Son Hee berpura-pura tegar di depan namja itu. Hatinya sekuat tenaga menahan perih. Dia ingin Minho bahagia tanpa terbebani oleh perasaannya. Itu saja sudah cukup.

Tapi ternyata Minho menganggap semua ucapan Son Hee itu kebenaran, karena Son Hee terlihat sangat biasa. Dia ingin menceritakan tentang keluarganya, namun diurungkan niatnya itu.

Karena mereka sudah tidak saling bicara, maka Son Hee memutuskan untuk pulang. Duduk di sebelah Minho hanya akan membuat hatinya teriris-iris. Membuatnya merasa bersalah. Tanpa diketahuinya, seorang yeoja memperhatikan mereka berdua dengan tatapan merenung. Keningnya berkerut seperti sedang berpikir keras.

__

Son Hee melangkahkan kakinya dengan berat ke salah satu halte bis. Es krimnya belum habis-habis, walaupun sudah dari tadi ia jilati *eskrim ajaib*. Tetapi, tepat sebelum ia sampai di halte sebuah tangan menahannya. Son Hee menoleh dan mendapati seorang yeoja yang persis dengan yang ia lihat di tabloid.

“Hara,” gumamnya pelan. Hara tersenyum manis.

“Bisakah kita bicara sebentar?” tanyanya dengan nada memohon. “Jebal,” lanjutnya.

Son Hee mengangguk. “Ne,”

Hara membawa Son Hee ke sebuah café kecil yang ada di sekitar situ. Son Hee membuang es krimnya, karena dia kesal dari tadi ia menjilati es krimnya namun eskrimnya gak habis-habis. Setelah itu, mereka masuk ke dalam café tersebut. Mereka mengambil tempat di sudut ruangan. Kening Son Hee berkerut, ia mulai membatin yang aneh-aneh.

“Son Hee-ssi, mungkin kau masih marah dengan nampyeonku,” Hara mulai membuka percakapan setelah mereka duduk. Son Hee hanya tersenyum miris.

“Aku sudah tidak marah dengannya, dan kami sudah tidak ada hubungan apapun,” jawab Son Hee datar. Hara menyeruput cappucinno pesanannya sambil tersenyum.

“Kau tidak tahu kalau kami dinikahkan secara paksa,” perkataan Hara membuat Son Hee memutar kepalanya menghadap Hara.

“Mwo?”

“Ne, kami dinikahkan secara paksa oleh orangtua kami. Sebenarnya aku, bahkan Minho menolak, karena kami mempunyai kekasih masing-masing. Tapi kami terpaksa, karena orangtuaku yang sudah sakit-sakitan, ditambah kakek Minho yang suka jantungan, jadi kami menyetujuinya.” Jelas Hara. Son Hee jadi terperangah mendengar penjelasan Hara.

“Tapi, kalian mempunyai anak,” balas Son Hee.  Hara tersenyum masam.

“Lina bukan anak kandung kami. Tapi aku sangat menyayanginya. Kami meminta untuk berbulan madu selama 10 bulan di Jepang hanya untuk mengadopsi anak,” jelas Hara lagi. Son Hee melongo.

“Ap… Apa?” Tanya Son Hee sambil membelalakan mata.

“Aku, dan Minho, saling takut untuk bersentuhan,” kata Hara sambil tersenyum. “Sekarang, aku nggak kuat lagi. Aku nggak kuat harus selalu memakai topeng di depan orangtua Minho. Jadi, kami memutuskan untuk bercerai,”

“Hah? Jadi? Gossip itu benar?” Tanya Son Hee. Hara menaikkan alisnya bingung. “Gosip kau dan Minho akan bercerai itu,” lanjutnya. Hara mengangguk.

“Besok jam 9 pagi,” jawabnya. “Kami harus segera berpisah jika tidak ingin terus-menerus memakai topeng seperti ini,” Hara menatap Son Hee dalam “Dan menyakiti hati kami sendiri,”

“Lalu, untuk apa kau memberitahuku semua itu?” Son Hee menyeruput hot chocolate-nya dengan santai.

“Tentu saja karena Minho masih mencintaimu,” kata-kata Hara membuat mata Son Hee membulat. Lalu ekspresinya melunak dan menyeruput hot chocolate-nya lagi.

“Huh, kalau saja kau tahu apa yang sudah diucapkannya sebelum keberangkatanku ke Paris,” dengus Son Hee. “Tepat sebelum aku boarding pass,”

“Aku tahu,” ucap Hara santai. “Tidak mudah mengucapkan kata-kata itu baginya. Kau tahu, dia diancam. Dia diancam kakeknya kalau dia tak mau menikahiku, kau akan dibunuh,” jelas Hara, sukses membuat Son Hee terperanjat.

“Kalau begitu, janganlah bercerai. Kalau kalian bercerai dan kakeknya Minho akan mengira penyebabnya adalah aku dan aku akan dipancung,” tukas Son Hee. “Aku kan masih mau hidup.” Hara terkekeh pelan.

“Son Hee, tenang saja, kami bercerai karena sudah berbicara dengan kedua orangtua kami. Aku sampai mengancam akan bunuh diri kalau orang tuaku tak membiarkanku bercerai,” jawab Hara.

“Dasar nekat,” celetuk Son Hee.

“Ya, aku memang nekat, kau tahu,” kata Hara sambil tersenyum riang.

“Lalu, kalau kalian bercerai, siapa yang mengurus Lina?”

“Aku,” jawab Hara mantap. “Dia sudah seperti darah dagingku sendiri,” jelasnya. “Sekarang, temuilah Minho di luar. Dia merindukanmu tahu,” ujarnya sambil bangkit berdiri.

“Kau mau kemana?” kening Son Hee berkerut.

“Pulang, aku harus mengurus Lina,” jawab Hara enteng. “Temui Minho di halte bus,” katanya sebelum melesat pergi. Son Hee hanya termenung. Tapi akhirnya dia bangkit berdiri dan melangkah menuju kasir. Tapi si kasir berkata bahwa minumannya telah dibayar oleh yeoja yang tadi. Son Hee mengucapkan terimakasih pada Hara dalam hati lalu melangkah keluar café.

Benar saja, Minho sedang menyenderkan punggungnya di tembok halte. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Tatapannya merenung. Lurus ke depan.

“Minho…” gumam Son Hee pelan. Namun sebenarnya ia memanggil namja itu, dan karena sangking pelannya dia tak yakin Minho mendengar panggilannya.

Tapi nyatanya Minho menoleh dan tersenyum pada Son Hee. Senyum yang sudah lama tak dilihat Son Hee. Senyum yang selama ini dirindukannya. Son Hee terdiam mematung, meredakan jantungnya yang berdebar setiap ada Minho didekatnya.

“Son Hee-yah…” sapanya ramah. Sekarang mereka berhadapan satu sama lain. Tangan Minho terulur dan menarik tubuh Son Hee ke dalam pelukannya. “Jeongmal bogoshipoyo,”

Son Hee mematung. Namun ia tak bisa menolaknya. “Nado,” jawabnya pelan. Minho semakin erat memeluknya. Entah berapa lama ia tenggelam dalam kehangatan tubuh Minho. Baru ia sadari, ia sangat merindukan namja yang ada dihadapannya itu. Namun sekejap kemudian dilepaskanya pelukan itu.

“Waeyo, Son Hee-yah?” Tanya Minho.

“Aniyo, aku baru ingat kau masih berstatus suami orang,” ucapan Son Hee membuat Minho terkekeh.

“Ku antar kau pulang,”

“Sirreo!!”

“Waeyo?” Kening Minho berkerut.

“Aku tidak mau ada gossip atau semacamnya, tahu.” Ucap Son Hee. Mau tak mau Minho tertawa.

“Ne, tapi aku bawa kendaraan,” jawab Minho. “Lagipula sudah lama aku tidak ngobrol denganmu,”

“Aku menolak,” sergah Son Hee sambil mengangkat kedua tangannya. “Sudah ya, aku pulang, capek, dan aku butuh mencerna semua yang telah terjadi hari ini. Annyeong,” Son Hee tersenyum pada Minho lalu melangkahkan kakinya berbalik ke arah  halte.

“Nanti malam kutelepon,” seru Minho dari belakang. Son Hee hanya melambai-lambaikan tangannya tanpa mengerti sambil terus melangkah.

Minho tetap mengawasinya sampai Son Hee masuk ke dalam bis dan melaju dari tempat itu.

Son Hee’s POV

Huahh… hari ini sangat lelah. Tiba-tiba aku berbincang dengan Hara dan bertemu dengan Minho. Otakku sudah tak cukup menampung semua, jadi aku langsung melangkah ke kamar mandi. Setelah segar, aku memakai piyama dan langsun naik ke tempat tidur.

10 menit…

15 menit…

Aiiisssshhh… kenapa aku tidak bisa tidur? Langsung aku menyambar Ipod di atas meja, memakai headsetnya, lalu memutar lagu-lagu di situ. Tak lama, mataku memberat dan sudah tak sadar apa-apa.

__

KRINGGGG!!!!!!

KRIIIINNGGGGGG!!!!!!

“Aigoo, apalagi ini?” geramku. Tanganku meraba-raba meraih weker. Got it! Langsung kutekan tombolnya, entah yang mana.

KRIIINGGGG!!!!!

Masih bunyi?? Aigoo, kulepas baterainya. Aman tenteram damai sejahtera. Hari ini hari apa ya? Eemmm.,.. Minggu? Libur dong?? Tapi… sepertinya aku ada schedule hari ini. Apa ya?? Hhmmm… rapat? Aigoo! Astaganagabonar! Rapat jam 8 pagi!! Omo, eotokhe? Sekarang jam berapa? Kulirik jam wekerku. JAM 07.30 A.M KST!!!!! OH MY GOD!!!!!!! Aku langsung seperti orang kesurupan. Rekor mandiku 3 menit. Setelah mandi kilat, langsung kupakai pakaian yang kurasa pantas, lalu ngabur keluar apertemen tanpa sarapan.

Sampai di depan halte, pas sekali ada bus. Aku langsung naik. Setelah turun, setengah berlari aku masuk ke kantor. Hufft.. untung masih keburu.

“Lee Son Hee! Untung kau masih keburu, rapat sebentar lagi akan dimulai!” seru Nah Ra. “Kkaja!” Nah Ra menarik tanganku memasuki ruang rapat.

Sulli’s POV

Jarum jam terus bergerak mendekati angka 9. Aku memeriksa jam tanganku. Jam 08.30 a.m. Jujur, aku merasa lega dengan keputusan oppa ini. Aku tidak harus hidup dalam penyelidikan, dalam kebimbangan, dan dalam kebohongan. Aku sampai heran, Minho oppa dan Hara eonni sangat pandai bersandiwara di depan ku, di depan eomma dan appa. Kenapa mereka tidak jadi pemain film saja?

Aku terduduk di sebuah café di dekat ruang sidang *author ngarang* sambil menunggu oppa dan eonni datang. Aku sudah mengurus semuanya, bahkan memanggil pengacara, untuk berjaga-jaga. Dan tentu saja ini harus dirahasiakan dari media. Mereka tidak ingin persidangan berlangsung ramai. Tunggu sampai sidang selesai, baru mereka mengumumkannya pada media.

Aku berharap, sangat sangat berharap, Son Hee eonni kembali ke dalam pelukan oppa lagi. Mereka sangat serasi. Yah, tidak selalu mesra sih, hanya saja hubungan mereka tidak ada bosan-bosannya. Aku tersenyum mengingat peristiwa saat aku mengintip mereka berdua sedang berperang lempar tepung di dapur kami. Tiba-tiba ponselku berdering.

“Yoboseyo? Oppa?” kataku setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel.

“Sulli, kau ada dimana?”

“Aku ada di café dekat ruang sidang oppa, menunggu kalian berdua,” jawabku.

“Ne, aku akan segera ke sana,” Klik. Telepon tertutup. Aku mengembalikan ponselku ke sakuku lalu menyeruput tehku. Inilah kebiasaanku dari dulu, aku tidak suka kopi. Tak lama, sosok jangkung memasuki pintu café bersama seorang yeoja yang sudah kutebak itu pasti Hara eonni.

“Annyeong,” sapa Minho oppa.

“Annyeong,” sapa Hara eonni. Aku hanya tersenyum untuk membalasnya.

“Apakah proses sidang ini akan lancar?” Tanyaku to the point.

“Harus,” jawab Minho oppa.

“Dan kau harus kembali dengan Son Hee. Aku tak suka melihat bestfriendku menderita karena kehilangan cinta,” balas Hara eonni.

“Bestfriend?” aku mengangkat alisku.

“Sulli-yah, kau pikir kami tinggal serumah harus musuhan? Kami hanya bersahabat,” sahut Hara sambil tersenyum. Harus ku akui, wajahnya sangat yeoppo.

“Aku ingin sidang ini berlangsung cepat,” kata Minho oppa.

“Kau pikir aku tidak?” balas Hara eonni. Ya, mereka tampak seperti sahabat. Bukan sepasang kekasih. Sama sekali tidak ada perasaan cinta diantara keduanya.

Tak terasa setengah jam kami mengobrol di café, hingga pengacara kami harus memberitahu kami untuk segera mulai. Aku ikut masuk, begitu pula eomma dan appa. Tampakknya appa sudah mau memaafkan Minho oppa, terlihat dari sikapnya yang tenang dan menyemangati Minho oppa. Eomma juga demikian.

Sidang pun dimulai…

Son Hee’s POV

Huahh… akhirnya rapatnya selesai juga. Aku dan Nah Ra melangkah gontai keluar gedung kantor.

Kruukk…

“Hei, bunyi apa tuh?” Tanya Nah Ra sambil menatapku. Aku hanya cengengesan.

“Aku belum sempat sarapan,” jawabku sambil menggaruk-garuk rambutku yang jelas-jelas tidak gatal.

“Terpaksa. Kkaja!” katanya sambil menarikku menuju ke sebuah warung kaki lima. Sepertinya aku mengenalinya, tapi kapan yah? Oh ya, waktu itu aku dan Nah Ra lembur sampai tengah malam dan makan di sini, dulu sebelum aku berangkat ke Paris.

Setelah mengambil tempat duduk dan memesan makanan, sambil menunggu aku ngobrol dengan Nah Ra.

“Son Hee-yah, kemarin aku bertemu Sulli di jalan,”

“Jinca? Lalu?” tanyaku. Memang, Nah Ra sempat kukenalkan dengan Sulli, dan boleh dikatakan sekarang mereka berteman baik.

“Lalu dia bercerita bahwa Minho dan Hara akan bercerai. Benarklah?” Tanya Nah Ra. Aku hanya mengangguk.

“Kemarin aku sempat bertemu Hara,”

“Jinca?” ia terkejut. Aku mengangguk.

Sudut mataku menangkap sesuatu. Aku menoleh ke arah tengah jalan. Ku lihat di tengah jalan ada seorang gadis kecil terjatuh, sementara ada sebuah truk besar melaju kencang. Panik, aku langsung menghambur menghampiri gadis itu.

“Hei, awas!!” aku membantunya berdiri, mendorong tubuhnya menepi, lalu terdengar teriakan Nah Ra.

“Son Hee!!!!!” aku menoleh dan mendelik melihat truk itu ada di depanku.

TIIIIIINNNNNN!!! TIIIINNN!!!!!!!!!!!!!!!!!!

BRUKKK!!!!

Tubuhku terlempar dari situ. Sempat kudengar teriakan-teriakan Nah Ra memanggil-manggil namaku dan semuanya menjadi gelap.

Sulli’s POV

Suasana ini sungguh tegang. Aku memainan tanganku sambil memperhatikan hakim. Tiba-tiba, tanganku menyenggol gelas air minum lalu jatuh dan langsung pecah seketika itu juga.

PRANGG!!

“Ah, mianhae,” kataku. Lalu semuanya kembali menghadap hakim. Bodohnya, aku menyentuh pecahan kaca itu. Jariku tertusuk salah satunya dan cairan berwarna merah merembes keluar dari kulit jariku. Kenapa perasaanku jadi tidak enak?

Author’s POV

Nah Ra langsung mencegat taksi dan membawa sahabatnya itu ke rumah sakit. Tubuh Son Hee bersimbah darah. Ia tak sadarkan diri.

“Ahjussi, tolong cepat,” kata Nah Ra cemas. “Son Hee, kuatkan dirimu,” tak terasa cairan berwarna bening keluar dari kedua matanya. Ia mengambil ponsel lalu menelpon Jae Jin, lalu Hyun Jae. Keduanya langsung panik dan ikut menyusul Nah Ra.

__

Seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung dicegat oleh Jae Jin.

“Bagaimana keadaannya?”

“Bisakah saya bicara dengan kedua orangtuanya?”

“Orangtuanya dalam perjalanan kesini, kami rekan kerjanya,” jelas Hyun Jae.

“Baiklah, kondisinya sangat kritis. Tubuhnya kehilangan banyak darah, rusuknya banyak yang patah, dan tengkoraknya retak. Jantungnya sangat lemah, sekarang ia sedang koma,” jelas dokter itu. Tangis Nah Ra langsung meledak.

“Bisakah anda menyembuhkannya?” Tanya Jae Jin.

“Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil, sehingga, kita lihat saja nanti. Berdoalah terus,” dokter itu berbalik dan pergi.

“Ap… apakah kit… kita harus… me… menelpon… Su… Sulli?” Tanya Nah Ra disela tangisnya.

“Untuk apa?” Tanya Jae Jin. Tubuhnya lemas mendengar kenyataan itu.

“Ku… ku pikir… Dia harus tahu…”

Sulli’s POV

Ponselku tiba-tiba berdering. Son Hee eonni?*maksudnya Nah Ra nelpon Sulli pake ponselnya Son Hee* Ada apa ya? Langsung kuangkat telepon itu.

“Yoboseyo? Eonni?” kataku sambil melangkah keluar ruangan.

“Su… Sulli?” inikan suara Nah Ra eonni? Kenapa ia menangis? Ada apa?

“Ne, eonni, ada apa? Apa yang terjadi?” sungguh firasatku mulai memburuk sekarang.

“Son… Son Hee…” apa yang terjadi dengan Son Hee eonni? Kenapa firasatku mengatakan sesuatu hal yang buruk menimpanya?

“Son Hee eonni kenapa?” tanyaku harap-harap cemas.

“Di rumah sakit XXX…” Klik. Telepon tertutup. Mataku mendelik. Rumah sakit? Apakah…? Omo, semoga firasatku salah. Aku langsung mengetikkan pesan singkat untuk oppa lalu melangkah tergesa-gesa ke parkiran dan langsung measuk ke dalam mobilku. Aku menginjak gas dalam-dalam dan langsung melesat pergi.

__

Setelah bertanya pada resepsionis aku langsung melangkah ke ruang ICU. Aku terhenyak. Aku menemukan Nah Ra eonni menangis di pelukan seorang namja. Lalu seorang namja lainnya yang terdiam mematung di depat pintu kamar ICU. Aku langsung menghambur ke arah Nah Ra eonni untuk meminta penjelasan.

“Eonni, apa yang terjadi?” tanyaku dengan suara bergetar. Semoga saja… yang di dalam itu… semoga saja firasatku salah…

“Son… Son Hee…” isaknya. “Kau… yang… jelaskan…” katanya lagi pada namja yang terdiam mematung itu.

“Ta… tapi… kau… siapa?” tanyaku pada namja itu.

“Aku Oh Jae Jin, dan ini Kim Hyun Jae, kami bertiga rekan kerja Son Hee,” nadanya terdengar getir. “Son Hee mengalami kecelakaan, ia kehabisan darah dan rusuknya patah. Sementara tengkoraknya retak,” mendengar penjelasannya, aku terhenyak. Kakiku lemas seketika. “Sekarang ia sedang koma,” lanjutnya.

“Andwae!!!!” teriakku shock. Lalu air mataku mengalir deras dari kedua kelopak mataku. Sekuat tenaga aku menahan tangis, mencoba berkata. “Ba… bagaimana bisa?”

“Ia berusaha menolong seorang anak kecil,” kata Nah Ra eonni yang tangisannya sudah agak mereda. “Anak kecil itu terjatuh di tengah jalan, lalu ada truk melaju kencang ke arah anak kecil itu,” aku semakin terhenyak mendengar penjelasan Nah Ra eonni. Tiba-tiba ponselku berdering. Dari Minho oppa.

“Yoboseyo? Minho oppa?” suaraku bergetar dan serak.

“Sulli? Waeyo? Ada apa?” suara di seberang terdengar cemas.

“Op… oppa…” panggilku. “Son… Son Hee eonni…” sungguh aku tidak kuat mengatakannya.

“Ada apa denganya?” suaranya menjadi tajam. Aku harus bilang apa? Aku tak ingin oppa frustasi lagi karena merasa kehilangan Son Hee eonni. “Choi Sulli, tolong jawab pertanyaanku,” nada suaranya menjadi tinggi. Aku masih terisak.

“Ke… ke… kecelakaan…” jawabku. Hanya itu yang dapat kukatakan. “Di rumah sakit XXX…” tambahku. Aku tidak kuat harus menjelaskannya di telepon. Klik. Aku memutuskan panggilan.

Author’s POV

Sulli terus terisak sampai seorang namja tinggi datang dengan seorang yeoja. Mata Sulli sudah membengkak setelah kurang lebih setangah jam menangis. Melihat oppanya datang, Sulli langsung menghambur ke dalam pelukannya dan kembali menangis.

“Oppa….” Gumamnya di sela tangisnya.

“Apa yang terjadi?” Tanya Minho pada Nah Ra. Mata Minho sudah memerah serta suaranyapun bergetar.

“Dia koma,” Jae Jin menjawab singkat. “Kenapa kau datang? Mau melihat mantanmu?” suaranya terdengar sinis. Jae Jin melempar pandangan tidak suka pada Hara yang ada di sebelah Minho. “Ingin mengenalkan istrimu rupanya?”

“Ini bukan seperti yang kau pikirkan,” balas Minho.

“Sudah kubilang kan Minho, kau harus rujuk dengan Son Hee sebelum sidang,” sahut Hara. Jae Jin menoleh tak mengerti.

“Mereka sudah bercerai, Jae Jin-ah,” kata Nah Ra. Kedua mata Jae Jin membulat.

“Mwo?”

“Barusan, jam 9.” Sambung Hara. “Jadi, apa yang sudah terjadi pada Son Hee?”

“Sudah kubilangkan, dia koma,” Jae Jin ngotot.

“Iya, aku tahu, tapi bagaimana kondisinya? Kenapa dia bisa menjadi seperti ini?” Hara nggak kalah ngotot.

“Aku malas bicara denganmu,” dengus Jae Jin. “Nah Ra, jelaskan padanya,” Nah Ra pun mengangguk.

“Waktu itu kami sedang makan di warung kaki lima,” Nah Ra mulai bercerita. “Kami sedang ngobrol lalu Son Hee melihat seorang anak kecil terjatuh di tengah jalan. Ia langsung menolong anak itu, karena ada truk besar melaju kencang ke arahnya,” Minho lemas mendengar cerita Nah Ra. Ia tak bisa menopang tubuhnya lagi, jadi ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan tertunduk. Ia menangis.

Tiba-tiba seorang perawat keluar dari kamar ICU dan menghampiri Nah Ra. “Ada yang mau melihatnya?”

“Sa.. saya!! Dia baik-baik saja, kan?” jawab Nah Ra spontan. Perawat itu hanya memasang wajah muram.

“Entahlah, kesempatannya untuk bertahan sangat kecil. Sebenarnya dia termasuk cukup kuat, tapi entah apa yang akan terjadi,” jawab perawat itu.

“Minho, Sulli, Hara, kalian di sini dulu. Kami bertiga saja yang masuk dulu,” kata Jae Jin.

“Hei, kenapa dibeda-bedakan seperti ini?” Hara mencoba protes.

“Su… sudahlah eonni, aku juga belum mau bertemu dengannya, aku masih…” Sulli menarik napas berat lalu menghembuskannya. “Aku masih… belum siap…” Sulli memandangi oppa nya yang masih terlihat shock. Lalu ia menangis lagi.

__Di dalam ruang ICU__

Son Hee terbaring di atas ranjang dengan berbagai selang disambungkan padanya. Tabung infuse, masker oksigen, dan kepalanya dibalut perban belum lagi beberapa peralatan dan selang-selang aneh lainnya tersambung pada tubuhnya. Alat penunjuk detak jantung menunjukkan bahwa ia masih hidup.

“Son Hee-yah.. kenapa kau babo sekali sihh?” kata Nah Ra sambil menggenggam tangan Son Hee. “Kau tahu, kau hampir saja mendapat kebahagiaanmu dan sekarang kau malah terbaring disini,” airmatanya mengalir lagi. Son Hee tak bergeming. Matanya terpejam rapat disela-sela perbannya.

“Nah Ra-yah, tolong biarkan aku sendiri dengannya,” pinta Jae Jin.

“Wae?” tukas Nah Ra. “Aku masih mau di sini,”

“Jebal, biarkan aku berdua dengannya,” pinta Jae Jin lagi. “Sebentar saja,”

“Ne,” Nah Ra mendengus pelan lalu meninggalkan ruangan itu dengan Hyun Jae. Jae Jin menatap Son Hee, lalu menduduki kursi bekas Nah Ra duduki tadi. Tangannya terulur menggenggam tangan Son Hee.

“Son Hee-yah, kau tahu, selama ini aku berbohong,” ucapnya pelan. “Ya, aku berbohong pada diriku sendiri. Aku ingin mengatakannya langsung,” ia menarik napas sejenak dan menghembuskannya pelan. “Aku tak pernah menganggapmu sebagai chingu-ku,” lanjutnya pelan dan lirih. “Saranghaeyo,” Jae Jin terdiam sejenak. “Aku tidak berharap kau membalas perasaanku. Aku hanya ingin kau bahagia. Bila kau bahagia bersama Minho, aku mendukungmu.” Lanjutnya lagi. “Sudah ya, kupikir kau harus bertemu Minho, atau Sulli,” Jae Jin berdiri, beranjak dari kursinya dan keluar.

Tak lama, Sulli menerobos masuk ke dalam ruangan. “Eonniiii…” matanya sembab dan bengkak. “Eonni, jangan pergiii….” Tangisnya. Tiba-tiba Hara masuk dan memegang pundak Sulli. Sulli masih menggenggam tangan Son Hee.

“Sulli-yah, kau harus kuat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, jadi tegarlah. Bila nanti Son Hee sembuh, kau harus berusaha membuatnya bahagia. Bila ia pergi…” kata-kata Hara terputus. “Kita harus tahu bahwa itulah yang terbaik untuknya,” tak terasa airmata mengalir dari kedua matanya. “Sudahlah. Sekarang oppamu harus berbicara dengannya, ingat, kita tidak tahu kemungkinannya,”

Flashback

Dokter yang memeriksa Son Hee datang dengan kedua orang tua Son Hee di belakangnya.

 

“Ahjumma…” Nah Ra langsung menghampiri eommanya Son Hee. “Dia baik-baik saja kan?”

 

“Tidak ada kemungkinan untuknya untuk terus hidup,” appa Son Hee menjawab pertanyaan Nah Ra. “Sekarang kita hanya menunggu,”

 

“Andwae!” seru Nah Ra perlahan, ia terduduk di depan kamar Son Hee dan airmata mulai membasahi pipinya lagi. Minho hanya terdiam, menahan perasaan yang sedang berkecamuk didadanya.

Flashback End

Sulli menegakkan tubuhnya ketika mendengar pintu ICU terbuka perlahan. Sempat ia mengira itu oppanya, namun ternyata itu orangtua Son Hee.

“Sulli-ssi, bolehkah kami berbicara sebentar dengannya?” Tanya eomma Son Hee.

__Di luar ruang ICU__

Minho terduduk di depan ruang ICU dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat dan terlihat jelas kepedihan terpancar dari matanya. Sulli keluar dari ruang ICU disertai Hara yang ternyata sedang menangis.

“Oppa…” suara Sulli bergetar. Ia menghampiri oppanya smabil menarik nafas dalam, mencoba untuk tegar. Setelah duduk di sampingnya, ia mulai berbicara.

“Sebenarnya, dulu waktu oppa memutuskan Son Hee eonni aku merasa selama ini aku telah dibohongi. Oppa tau, aku sangat menyayangi Son Hee eonni dan aku sangat berharap ia dapat menjadi eonniku,” Mata Sulli menerawang jauh “Namun setelah oppa memutuskannya aku sangat marah, aku tahu bagaimana perasaan Son Hee eonni, dan aku dapat merasakan sakitnya lewat matanya,”

“Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku menyayanginya seperti eonni kandungku sendiri, aku berharap kelak dia akan menjadi bagian dari keluarga kita,” Sulli mendesah. “Oppa tahu betapa kecewanya aku? Aku sangat sangat kecewa, hingga aku pernah menganggapmu bukan sebagai oppaku lagi,”

“Mianhae,” jawab Minho pelan. Dapat diketahui dari suaranya, terdengar pilu.

“Tapi aku begitu terkejut mendengar cerita Hara eonni, aku merasa ini seperti mimpi,” lanjutnya. “Harapanku agar oppa bisa bersama Son Hee eonni semakin kuat, apalagi diiring kenyataan-kenyataan yang selama ini kalian sembunyikan itu,” Sulli tersenyum tipis. Tiba-tiba ruang ICU terbuka. Kedua orangtua Son Hee keluar dari ruangan dan menghampiri Minho.

“Kami rasa, ia menunggumu,” kata eomma Son Hee. “Tolong temui dia,” Lalu mereka berdua gantian duduk. Mata eomma Son Hee sembab, sementara appanya hanya mengelus-elus punggungnya.

Minho hanya menatap pintu ruang ICU dengan ragu.lalu melirik Sulli, yang sedang menatapnya dengan berharap. Akhirnya ia mengangguk dan masuk ke dalam.

Kriekk… *maksudnya suara pintu*

Minho melangkah perlahan mendekati tubuh Son Hee yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Alat penunjuk detak jantung mneunjukan bahwa jantungnya masih berdegup lemah. Kaki Minho lemas seketika. Namun ia berusaha mendekati yeoja itu. Ia menarik sebuah kursi di samping tempat tidur dan mendudukinya. Matanya menatap Son Hee lurus-lurus,terus memandanginya.

“Aku tahu, aku berhutang banyak penjelasan padamu,” katanya mulai berbicara. “Aku tahu, aku jahat. Aku nappeun namja, yang tak pantas untukmu. Aku bukan mau mengumbar kata-kata romantis agar kau dapat memaafkanku. Mianhae,” tangannya menggenggam tangan Son Hee perlahan. “Mungkin Hara sudah menjelaskannya padamu, tentang bagaimana kami menikah dan segalanya. Aku hanya ingin mengatakan satu kata untukmu sebelum kau berangkat waktu itu. Mianhae,”

“Kau tahu, setelah aku berkata seperti itu sebelum keberangkatanmu, aku tidak pulang. Yang kutahu, Sulli bercerita ia menemukanku di sebuah bar dalam keadaan mabuk berat,” seulas senyum miris terukir di bibirnya. “Selama 4 tahun sebelum kau pulang, aku hanya diliputi perasaan bersalah padamu. Bersalah karena membuat hati seseorang yang kucintai terluka, Mianhae,” suaranya mulai bergetar.

“Kau tahu, aku tak bisa melepas bayangmu. Kau selalu hadir di dalam mimpiku sebagai sosok yang selalu terluka. Terluka amat dalam karenaku,” pandangannya beralih ke wajah Son Hee yang masih tak bergeming atau menunjukan suatu reaksi. Ia ingin yeoja yang dihadapannya mendengar seluruh kata-katanya. “Mianhae, aku masih mencintaimu. Mianhae, aku masih sangat mencintaimu. Mungkin perasaanmu padaku sudah berubah, aku tak bisa menyalahkannya. Aku ingin selalu melihatmu bahagia. Ketika aku melihat senyummu, aku merasa hidupku kembali. Mianhae,”

“Kau tahu, aku pernah cemburu padamu. Sepulang dari taman bermain waktu itu, aku mengikutimu. Aku cemburu pada Jae Jin, rekanmu. Aku cemburu karena kau akrab dengannya dan tersenyum karenanya. Mianhae,” Minho tersenyum getir. “Awalnya aku ingin memintamu kembali padaku, tapi kau selalu bersikap dingin padaku, jadi aku mengurungkan niat itu. Aku tahu, aku pantas untuk kau benci. Aku pantas untuk kehilanganmu karena itu. Tapi mianhae, aku masih mencintaimu. Jeongmal saranghae, mianhae,” sebutir cairan bening mengalir dari matanya. Lalu ia mendongak menatap yeoja yang merupakan belahan jiwanya itu.

Matanya membulat ketika melihat sebuah cairan bening mengalir turun dari kelopak mata Son Hee yang tertutup. “Son Hee, kau mendengarku kan?? Kau masih mendengarkanku??” spontan Minho menyentuh bahu Son Hee. “Dengar Son Hee, mianhae, mianhae, saranghae,” napas Minho tak beraturan. “Dengar, kau harus bahagia Son Hee, bagaimanapun caranya, jebal…”

Lau terengar bunyi monoton panjang. Kepala Minho berputar menatap layar mesin penunjuk detak jantung yang telah menunjukan garis lurus. Ia berpaling menatap Son Hee, lalu beralih lagi ke layar. Ia terhenyak.

Serombongan orang dengan pakaian putih menyerbu masuk, membuat Minho terdorong ke belakang. Seorang dokter mengeluarkan mesin pengejut jantung.

Satu… Dua… Tiga…

JEGRUKKKK!!!!!!!!!

Satu… Dua… Tiga…

JEGRUKKK!!!!!!!!!!!!

Namun hasilnya nihil. Segerombolan orang berbaju putih itu keluar dari ruangan tersebut, digantikan segerombolan orang dengan mata sembab.

“ANDWAEEEE!!!!! EONNIIIIIII!!!!!!!!!!!” Sulli berteriak histeris sambil memeluk tubuh Son Hee yang sudah pucat. Nah Ra menangis histeris dipelukan Hyun Jae. Jae Jin menyandarkan punggungnya ke dinding dan sedang berusaha untuk tidak menangis. Kedua orangtua Son Hee saling berpelukan, menangis. Hara ternganga, namun airmata tak henti-hentinya keluar dari kedua matanya. Tubuhnya lemas. Lalu ia mulai terisak.

Minho menatap Son Hee dengan kepedihan. Ia terjatuh berlutut, kedua kakinya tak lagi mampu menopang beban tubuhnya. Airmata tak henti-hentinya keluar dari kedua matanya, meski ia tidak terisak sama sekali.

“Gomawo, Minho, nado saranghae…” sebuah suara berbisik ke dalam hati Minho. Namun, kepalan kedua tangan Minho meninju lantai. Ia menangis.

Ia sudah pergi…

Belahan jiwanya sudah pergi…

__Di pemakaman__

Segerombolan orang berbaju hitam mengeliling sebuah pusara dengan tangis pilu. Terukir dengan indah di batu nisan yang terbuat dari marmer putih itu, nama seorang yeoja yang tengah berbahagia setelah mengalami semua kepedihan di bumi.

Lee Son Hee

Minho tetap berdiri mematung memandangi nama itu seraya orang-orang mulai saling meninggalkan pusara itu. Ia kelihatan jauh lebih tegar, karena percaya, yeoja itu akan selalu ada di dalam hatinya, dan akan selalu bahagia.

Nah Ra mendatangi Minho dengan sapu tangan yang hampir sepenuhnya basah oleh airmata. Sebuah buku bersampul cokelat muda ada di salah satu tangannya. “Aku menemukan buku ini di dalam tas Son Hee sebelum kecelakaan. Aku ingin kau membacanya,” katanya seraya menyerahkan buku itu pada Minho. Minho pun menerimanya, dan Nah Ra langsung berlalu.

Minho menatap buku yang ada di genggamannya, berpikir sejenak lalu membukanya. Ia membacanya sambil berlalu ke mobilnya, semakin ia membacanya semakin pandangannya menjadi buram oleh airmata.

Bukk…

“Hei, kalau jalan lihat-lihat dong,” seorang yeoja menegurnya ketika ia menubruk yeoja itu. Minho mendongak. “Oh, kau, Minho. Namja yang mencampakkan eonni, kan?” lalu yeoja itu berlalu dengan sorot mata kebencian. Minho hanya mematung. Namun ia meneruskan langkahnya.

Langkah kakinya, dan juga langkah hidupnya…

END

EPILOG

First page…

Aku sampai. Yeah, walaupun capek, aku harus mengucapkannya!!! Hufft… kenapa aku masih sesak ya?? Ah molla, mungkin itu akan hilang seiring waktu. Hmm.. kemungkinan siapa yah yang akan kutemui? Apakah aku akan langsung menemuinya?? Huahh.. entahlah. Yang penting aku harus tulus, ya, aku harus tulus!! Hwaiting!!!

Second page…

Dia sudah mempunyai anak. Choi Lina. Tapi aku belum pernah melihatnya, karena aku belum ketemu kedua orangtuanya. Di sini semakin sesak, rasanya ingin menangis. Tapi airmataku tak mau keluar. Eotokkhe? Aku merindukannya. Mianhae, tapi bogoshipoyoo….

Hanya mimpi untuk bersamanya lagi. Sudahlah, lupakan dia, Lee son Hee. Jangan buat jurang untukmu sendiri!!

Third page…

Aku melihatnya lagi… di taman bermain bersama keluarganya. Kenapa rasa sesak itu semakin menjadi-jadi?? Aigoo, berapa kali aku memikirkannya?? Yeah, mungkin, itu benar. Dan aku tidak bisa pungkiri itu. Mianhae, jongmal mianhae, Hara….

Aku masih mencintainya….

Forth page…

Baiklah. Aku menyerah. Aku menyerah sudah berusaha sekuat ini, namun samasekali nihil. Baiklah, kau menang, Choi Minho, kau menang. Sekarang kau membuatku semakin sakit. Aku ingin meneriakkan kata-kata ini, namun akal sehatku berkata, kalau aku meneriakkannya, aku sudah gila. Mana mungkin aku menyatakan perasaanku padanya, kan dia sudah berkeluarga?? Baiklah, aku tidak tahan lagi.

JONGMAL JONGMAL SARANGHAEYO CHOI MINHO!!!!

JONGMAL BOGOSHIPOYO!!!!

__END__

Akhirnyahhhh!!!!!! Selesai lah FF yang gaje ini!!!!! Mari kita tumpengan!!!! *plakk*. Aku tidak tahu apa yang kutulis, karena semuanya aku yakin acakadut, mianhae yang gak jelas dengan ceritanya… *sujudsujud depan reader*. Yang epilog itu, sebenernya isi dari buku yang dikasih Nah Ra ke Minho.. jadi udah pada nebak kan?? Buku itu diary nya Son Hee… Aku bikinnya sampe nangis-nangis, dan berharap ada reader yang nangis baca ini…*kaloada*

Okeh, aku yakin pasti banyak yang protes kenapa nih FF kubuat dengan akhir yang sad end. Udah gitu endingnya ngegantung lagi. Itu karena mau kubuat sequelnya!!!!   Janji deh nanti sequelnya bakalan happy end…

Untuk semuanya… yang sudah bersedia membaca dari awal sampe akhir nih FF…. Jongmal jongmal gomawoyooo…!!!!*bow* Yang sudah baca, tolong yah… RCL!!!!!!*bow*

NOT FOR SILENT READER!!!!

Gamsahamnida…. Annyeong.. sampai jumpa pada FF selanjutnyaaa…. ^_^

Iklan

8 thoughts on “[CHAPTER] Go Away – Part 5 END

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s