[Twoshot] 친구의 사랑 (Love Of A Friend) 1/2

Poster by
http://kidneypea.wordpress.com

Title
친구의 사랑 (Love Of A Friend)

Length
Twoshot

Rating
T

Genre
Angst, Romance, Alternate Universal

Author
YoseoBoo

CAST
B2ST’s Yang Yoseob (양요섭)
T-Ara’s Park Jiyeon (박지연)

DISCLAIMERS :
Sorry for the genre (angst). :)

Author’s POV

Jiyeon baru saja menghempaskan pantatnya di sebuah bangku dan ia langsung diserbu pertanyaan membara dari Lee Ji Eun—sahabatnya, “Jiyeon-ah! Kau berpacaran dengan Minho-ssi, ya?!” mata Ji Eun terus menatap lekat wajah Jiyeon yang sedikit risih ditatap seperti itu.

Jiyeon mengibaskan tangannya untuk menjauhkan tatapan tak mengenakan itu, lalu ia tersenyum kecil, “Ne, memangnya kenapa?” Tanya Jiyeon. “Yah! Kau jahat sekali! Aku sudah 2 tahun menyukainya dan kau? Kau baru 2 hari berkenalan dengannya dan langsung menjadi pacarnya?!” dengan kesal Ji Eun mengungkapakan isi hatinya, “Dunia memang tidak adil!” Ji Eun kembali merengut sembari menopang dagunya dengan tangan kanannya, wajahnya pun menjadi simbol kekesalannya.

“Kau benar, Ji Eun-ssi. Dunia memang tidak adil, tapi inilah hidupku, bahkan Minho-ssi duluan yang menyatakan cintanya padaku.” Jiyeon sama sekali tidak kaget dengan sikap Ji Eun yang marah-marah seperti itu, ia sebenarnya sudah tahu perasaan sahabatnya terhadap pacarnya. “Tapi kau sudah tidak menyukainya lagi kan?” Jiyeon memegang pundak kurus Ji Eun, dan dijawab dengan anggukan. “Itulah alasan kenapa aku menerimanya,” lagi-lagi Jiyeon tersenyum manis.

‘Drrrr….’

Jiyeon merogoh ponsel di dalam saku baju seragamnya, “Yah! Lihat! Joon-sunbae mengirimiku sms!”

‘BRAK!’

Secara bersamaan, Jiyeon dan Ji Eun mengangkat kedua pundak mereka karena kaget. Kedua yeoja itu menoleh kepada sumber suara dan, “Diam, babo! Terutama kau!” bentak seorang namja dengan wajah kesal sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Jiyeon. “Aku?” seakan tidak terima dengan pernyataan kasar dari orang yang telah menunjuknya. Tapi Jiyeon hanya bisa meringis kecil seraya melihat namja itu meninggalkan ruangan kelas.

“Cih, apa-apaan dia?!” gerutu Jiyeon kesal setelah ia yakin kalau orang yang dimakinya tidak mendengar ucapannya lagi. “Ya, begitulah sikap Yoseob. Dia memang dingin seperti itu.” Ji Eun memberitahu. “Dan kau tahan duduk di samping orang seperti itu?!” wajah Jiyeon lagi-lagi menunjukan ekspresi tak percayanya. Sedangkan Ji Eun hanya bisa mengangkat kedua bahunya, tak bisa memberikan jawaban yang pasti.

“Hmm, tunggu dulu! Siapa tadi namanya?” Jiyeon sedikit memiringkan kepalanya sambil bertanya kepada Ji Eun. “Yang Yoseob.” Jawaban Ji Eun disambut dengan ekspresi aneh dari Jiyeon sehingga mau tak mau, Ji Eun mengerutkan keningnya, “Wae?” pertanyaan Ji Eun langsung dijawab dengan gelengan kuat dari Jiyeon.

“Ahh~” Ji Eun menghela nafas panjang, “Kau beruntung sekali ya, Jiyeon-ah…” tatapan sendu dari Ji Eun seketika membuat Jiyeon menjadi tidak enak hati. “Kau cantik, kaya, dan populer…” lanjut yeoja yang ada di samping Jiyeon itu seraya menundukan kepalanya. Namun tiba-tiba, “Tapi kau itu bodoh!” Ji Eun menjulurkan lidahnya iseng.

Jiyeon yang tadinya tidak enak hati menjadi sedikit kesal karena sikap sahabatnya itu telah menipunya. “Yah!” Jiyeon mendaratkan jitakan kecilnya di kepala Ji Eun, sedangkan Ji Eun yang menerima jitakan itu hanya pura-pura meringis sembari mengusap-usap rambutnya. “Biarkan saja aku bodoh, yang penting aku punya pacar!” balas Jiyeon sambil melipat tangan dan mengangkat dagunya agak tinggi. Ji Eun yang melihatnya terkekeh kecil, “Hmm, Jiyeon-ssi, apa kau mau serius dengan Choi Minho-ssi?” Tanya Ji Eun dengan diselingi perasaan gugup. “Hmm…Bagaimana ya?”  Jiyeon berpikir-pikir sebentar, “Kita lihat saja nanti!” lanjutnya diiringi dengan satu kedipan matanya untuk Ji Eun, lalu dengan cepat keluar dari ruang kelas sahabatnya itu karena bel masuk sekolah sudah berbunyi.

***

“Huh! Kalau tau dihukum, lebih baik aku bolos daripada mengepel seluas ini!” Jiyeon terlihat mengomel pada dirinya sendiri. “Ternyata ada ya orang bodoh sepertimu?” sebuah suara seorang namja membuat Jiyeon mengehentikan apa yang tengah dilakukannya. Jiyeon membalikan badannya menghadap ke arah datangnya namja itu. “Oh, ternyata kau yaa…” Jiyeon memasang pose berkacak pinggang sambil memegang gagang alat pel di tangan kanannya. “Apa? Memangnya kau mengenalku?” lawan bicara dari Jiyeon itu bertanya agak heran. “Tentu saja! Namamu Yang Yoseob, kelas 12-B, lahir pada tanggal 5 Januari, dan sikapmu…dingin seperti setan…” Jiyeon menjawab pertanyaan itu dengan sangat sempurna sehingga namja yang bernama Yang Yoseob itu pun melangkah untuk berada lebih dekat dengan Jiyeon, sehingga pada akhirnya dalam jarak yang kurang dari satu meter, mereka bertatap muka secara langsung.

‘Chu~’

Bibir lembut milik Yoseob menyentuh bibir Jiyeon tanpa diduga-duga lagi. Jiyeon yang menerima perlakuan itu membelalakan matanya kaget dan sejenak diam karena tangannya tak bisa bergerak akibat digenggam oleh Yoseob. Namun tak lama kemudian, Jiyeon mendorong tubuh Yoseob dengan kuat sehingga pada akhirnya membuat namja itu jatuh tersungkur.

Jiyeon sedikit mendekat ke arah Yoseob dengan menahan rasa kesalnya, “Kau…” nada bicaranya terdengar dingin, “Kenapa kau mencuri first kiss ku, hah?!” terlihat jelas jika mata yeoja itu sudah mulai berkaca-kaca. Dan dengan santainya Yoseob menjawab, “Oh, jadi tadi itu first kiss mu ya? Seharusnya kau berterima kasih padaku!” mendengar itu, Jiyeon mengepalkan kedua tangannya dan segera membalikan badannya. “Kau memang benar-benar setan!” Jiyeon mengatakan hal itu sebelum akhirnya ia berlari menuju toilet.

***

Jiyeon mendekap kedua lututnya dengan erat. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Yang pasti, pikirannya penuh dengan bayang-bayang kejadian tadi siang di auditorium. Sesekali juga, tatapan mata milik Yang Yoseob yang tengah mencium bibirnya juga terbayang di pikiran Jiyeon.

“Kejamm…” gumamnya bergetar seraya mengusap bibirnya perlahan. “Ah! Kenapa harus dengan namja menyebalkan itu?!” lagi-lagi Jiyeon menggerutu kesal karena bayangan wajah Yoseob selalu terlintas di kepalanya.

Roly..Poly..Roly..Roly..Poly

Jiyeon mengambil ponselnya yang bunyi dengan sedikit gusar dan tanpa melihat lagi siapa yang menelponnya.

“Yoboseyo?!” nada tingginya membuat lawan bicara Jiyeon sedikit terdengar kaget.

Jiyeon-ah, kau kenapa?” ternyata Choi Minho—namjachingu Jiyeon yang menelponnya.

“Ah, aniya! Aku hanya..emm..sedikit bingung dengan tugasku,” Jiyeon mengusap keningnya, berusaha menghilangkan bayangan si-namja-itu agar dapat berbicara dengan Minho secara normal.

Oh, geurae. Pulang sekolah, kau ada waktu? Aku ingin bertemu denganmu.” Tanya Minho.

“Tentu. Aku harus menunggu di mana?” Pertanyaan Jiyeon membuat Minho terdiam sejenak untuk berfikir.

“Bagaimana kalau di depan auditorium saja?” usulan Minho lagi-lagi membuat si-namja-itu melintas di pikiran Jiyeon.

“B..baiklah..” jawab Jiyeon dan tanpa basa-basi, ia langsung menekan tombol merah untuk menutup sambungan telponnya dengan Minho.

“Kenapa harus di auditorium?! Ah, Tuhan!” Jiyeon mengusap-usap wajahnya ke atas dan ke bawah untuk menghilangkan sedikit rasa kesalnya. “Sudahlah! Lupakan saja Park Jiyeon!” ia memberikan sugesti kepada dirinya sendiri lalu merebahkan kepalanya di atas kasur. Jiyeon menguap, dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur dan tentu saja tanpa memikirkan si-namja-itu!

***

Jiyeon’s POV

“Ugh..hujan..” aku bergumam sendiri sambil menatap jendela auditorium. “Ke mana sih dia?” lagi-lagi aku melirik ke arah jam tangan berwarna putih lalu melihat ke beberapa arah, masih berharap kalau ia benar-benar akan datang ke sini, sesuai dengan apa yang dikatakannya di telpon semalam.

Namun dengan seketika aku mengembangkan senyum ketika melihat sosoknya benar-benar datang, “Jiyeon-ah..Mianhae aku terlambat…” ujarnya sambil berjalan menghampiriku. “Aniyo, gwaenchana…” aku tetap mempertahankan senyumanku di depannya.

“Emm, sebenarnya aku bertemu denganmu hanya untuk mengatakan –”, seketika keningku berkerut ketika ia menggantungkan kalimatnya. “–aku ingin putus denganmu.” Lanjutnya mantap yang membuat hatiku tersentak seketika.

Aku terdiam. Aku benar-benar seperti orang bisu. Atau lebih tepatnya seperti patung! Tanpa berkata sedikitpun dan hanya menatap nanar matanya, aku tidak bisa menerima hal seperti ini! “Atas dasar apa kau memutuskan hal itu?” aku tahu kalau nada bicaraku sedikit bergetar. Itu bukti kalau memang sekarang juga aku ingin menangis!

“Sebenarnya bukan masalah yang penting…” jawabnya ringan, “Katakan!” bentakku kesal, “Katakan alasanmu yang sebenarnya, Choi Minho!”

TO BE CONTINUE…

Iklan

10 thoughts on “[Twoshot] 친구의 사랑 (Love Of A Friend) 1/2

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s