[Twoshot] 친구의 사랑 (Love Of A Friend) 2/2

| CHAPTER 1 |

by

YoseoBoo

Author’s POV

Jiyeon menghela nafasnya kesal sekaligus kelelahan. Ia lelah karena sekarang pelajaran olahraga, dan ia kesal karena telah melihat muka seorang Yang Yoseob!

“Beraninya dia tersenyum begitu kepadaku!” Gumam Jiyeon kesal dan pikirannya kembali mengingat kejadian di auditorium. Pertama, di auditorium, ia mengalami ciuman pertamanya yang sangat tidak diinginkanya. Kedua, di auditorium, pertama kalinya ia patah hati!

Jiyeon berhenti menggumam kesal ketika ia baru sadar jika sepatu olahraga berwarna merah ini sudah ia pakai sebanyak 3 kali. Jiyeon jadi kembali teringat darimana asal usul sepatu itu ia dapatkan.

Flashback

            Jiyeon menghentakkan kakinya yang tak beralas dengan kesal ketika ia terus berdiri, berharap hujan akan berhenti dan membiarkannya pulang ke rumah.

“Haruskah aku pulang tanpa alas kaki seperti ini?” pikirnya.

“Aneh…” sebuah suara berhasil membuat Jiyeon mendelikkan mata ke sumbernya, terlihat jika namja berambut hitam sedang berdiri menyandar di ambang pintu dan menyilangkan kedua tangannya heran menatap Jiyeon.

Mwo?!” Tanya Jiyeon tanpa ada nada ramah sedikitpun. Ia memutuskan untuk lebih tidak memandang namja tersebut lebih lama lagi.

“Ini…” kata-kata Yoseob berhasil membuat Jiyeon kembali menoleh ke arah di mana Yoseob berdiri. Kini Yoseob menunjukkan sepasang sepatu olahraga berwarna merah dengan tali berwarna putih. Membuat Jiyeon mengerutkan keningnya heran, “Apa maksudmu?”

Yoseob mengarahkan matanya ke kedua kaki Jiyeon yang hanya tertutup oleh sepasang kaus kaki sepanjang betis, tanpa menggunakan sepatu! “Itu…”

Jiyeon sendiri tampak kaget bahwa Yoseob memperhatikan kedua kakinya.

“Apa? Kenapa? Memangnya ini urusanmu?” Jiyeon menatap Yoseob dengan sedikit perasaan malu. Mau bagaimana lagi? Sepatunya hilang!

“Aku melihat sepatumu yang sudah kumal itu. Lalu aku menggantinya dengan ini.” Yoseob menggoyang-goyangkan sepatu yang dipegangnya karena Jiyeon tidak mengambilnya.

Jiyeon yang mendengar itu dengan spontan langsung menyipitkan matanya dan mengerutkan keningnya. Menunjukkan ekspresi ketidakpercayaannya. “Dia benar-benar gila! Tidak masuk akal!” batin Jiyeon kesal dengan Yoseob.

Jiyeon mengambil sepasang sepatu itu dengan tatapan jengkel. “Aku mau pulang!” ujarnya sambil memasang sepatu itu di kedua kakinya dengan terburu-buru.

Annyeong…” Yoseob tersenyum sambil melambaikan tangannya. “Jangan lupa minum susu hangat ya ketika sampai di rumah…” pesan dari Yoseob membuat Jiyeon mengerucutkan bibirnya jengkel. Ia tak menghiraukan omongan itu, ia langsung berlari menerobos hujan.

Flashback End

            “Ah! Dangsineun baboya, Park Jiyeon!” Jiyeon dongkol dengan dirinya sendiri. “Kenapa aku jadi selalu pakai sepatu ini ya?” tanyanya lebih kepada diri sendiri. Ia sedang memikirkan perasaannya dari tiga hari yang lalu. Dari sejak ia putus dengan…uhm…Choi Minho.

Jiyeon menghela nafas berat ketika harus mengingat itu. Entah kenapa hatinya tidak terlalu sakit lagi. Entah kenapa ia jadi lebih sering mengingat ciuman pertamanya di auditorium!

“Apa yang kau pikirkan, Park Jiyeon?!” Jiyeon menutup telinganya dan menunduk, berusaha tidak memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan ‘Yang Yoseob’. Tapi sayangnya, ia melupakan satu hal yang sangat membuat dirinya mengingat namja itu, sepatu merah yang dipakainya.

“Yah! Jiyeon-ah!” seseorang menepuk pundak Jiyeon, membuat yeoja itu sedikit tersentak kaget.

“Oh…Ternyata kau ya, Ji Eun. Aku kira siapa…” ucap Jiyeon setelah lepas dari rasa kagetnya. Ji Eun yang tadi melihat ekspresi kaget milik Jiyeon masih tertawa kecil sembari mengambil tempat duduk di samping Jiyeon.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak ganti baju?” Tanya Ji Eun sembari mengikat rambut panjang hitamnya. Jiyeon menjawab pertanyaan itu dengan gelengen, “Waktu istirahatnya masih banyak, kok.” Jiyeon menjelaskan seraya melirik jam tangan berwarna merah di pergelangan tangan kirinya.

“Hmm…Jiyeon-ah…Bagaimana hubunganmu dengan Choi Minho-ssi?” pertanyaan dari Ji Eun sontak membuat Jiyeon terdiam, namun ia segera mengembangkan senyum mirisnya.

“Putus…”

Ji Eun membulatkan kedua matanya, “Hah? Putus?! Benarkah?!”

Jiyeon bisa mendengar bahwa tidak ada, bahkan sama sekali tidak ada nada kelicikan dibalik keterkejutan itu. Jadi ia hanya bisa mengangguk pelan dan mengangkat kedua bahunya, “Ya…Mau bagaimana lagi.”

“Yah! Kau tidak pernah mengatakannya kepadaku! Kau ini sahabatku atau bukan?”             Ji Eun mengerucutkan bibirnya tanda bahwa ia sedikit kecewa.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” Jiyeon berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Berharap jika Ji Eun tidak akan bertanya lebih lanjut tentang masalah putusnya ia dengan Minho. Sekali lagi, karena itu sangat berhubungan dengan Yang Yoseob!

“Sudah lumayan…” jawab Ji Eun dengan diiringi suara hidung yang berusaha menahan ingus agar tidak keluar. “Tapi hanya ini yang masih mengganggu.” Ji Eun tersenyum kecil sambil menunjuk hidungnya.

“Wah! Kau memakai sepatu baru!” Ji Eun berteriak histeris dan menunjuk apa yang dipakai oleh kedua kaki Jiyeon. “Bagus sekali!” walaupun Ji Eun berbicara sambil memuji, tetapi kakinya dengan sengaja menginjak sepatu milik Jiyeon bercanda. Jiyeon yang menerima sikap itu hanya bisa berusaha mengelak sambil menjulurkan lidahnya.

“Tentu saja ini bagus! Kau saja yang tidak masuk tiga hari, jadi ketinggalan berita kan?” Jiyeon berbalik membalas, membuat Ji Eun mengerucutkan bibirnya lagi, namun ia segera tersenyum kecil.

“Sepatu itu bagus! Aku jadi ingin beli juga!” ucap Ji Eun semangat, “Tapi aku ingin yang warna putih!” lanjutnya dan ditanggapi sebuah senyuman dari Jiyeon.

“Di mana kau membelinya?” Tanya Ji Eun dan segera membuat Jiyeon mengerutkan keningnya.

“Hah? Aku? Membelinya? Di mana?” Jiyeon memiringkan kepalanya, dan tanpa menunggu lama ia berkata, “Sepatu ini dikasih.”

“Sama siapa?”

“Yang Yoseob.”

Ji Eun yang tadinya menatap Jiyeon ingin tahu, tiba-tiba mengalihkan wajahnya dan menatap ke depan dengan pandangan kosong. Dan ia segera beranjak meninggalkan Jiyeon yang kebingungan.

~ *** ~

            Jiyeon’s POV

Aku berjalan lunglai menatap aspal yang kulewati. Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang ganjil dari ekspresi Ji Eun tadi siang, dan itu sangat mengganggu pikiranku. Ia bahkan seperti menjauhiku!

“Aduh!” aku merasakan sedikit rasa sakit di pundak kiriku ketika menabrak seseorang.

Jweisonghamnida!” aku membungkuk sembilan puluh derajat, merasa bahwa memang aku yang bersalah karena tidak melihat jalan.

“Ceroboh sekali kau ini, Jiyeon-ssi!” bentaknya membuatku mengangkat kepalaku dan dengan jelas aku melihat bahwa orang itu adalah…Yang Yoseob!

“Yah! Neo! Bilang apa tadi? Ceroboh? Cih! Siapa yang kau panggil ceroboh?!” aku tak bisa menyembunyikan rasa kesalku ketika mendengar suaranya, apalagi melihat wajahnya!

“Tentu saja kau, babo! Memang ada orang lain di sini?” jawabnya tak kalah sewot dengan nada bicaraku. “Lagipula, kau sendirian? Sedih sekali hidupmu…” lanjutnya membuatku mau tak mau jadi menatapnya kesal.

Aku menjulurkan lidah, “Memangnya itu urusanmu?!”

Ia mengangkat bahunya, “Ya…Tidak sih…Tapi kan, kau jadi terlihat sangat menyedihkan.”

Aku yang mendengar olokannya hanya bisa mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Oh…Ternyata kau suka dengan sepatu itu ya?” tanyanya membuatku sedikit tersentak.

“Tidak.” aku hanya berbohong sedikit hari ini.

“Bohong.” Tanggapnya sambil tersenyum tengil.

Aku yang melihat itu akhirnya menghela nafas kekalahan, “Iya, aku menyukainya.”

Yoseob masih tersenyum mendengar kejujuran dariku, “Nah, kalau begitu kan kau tidak perlu pasang wajah menyeramkan begitu di depanku!” ia mengatakan hal yang harusnya aku katakan kepada dirinya!

“Kau lebih menyeramkan, Yoseob-ssi.” Aku membalasnya, kali ini entah kenapa tidak terlalu kesal.

“Aku duluan yaaaa…” ujarnya ramah sambil melambaikan tangannya dan berjalan melewatiku.

Aku hanya tersenyum meringis, ini…bukan hal yang mustahil kan?

~ *** ~

-Tomorrow –

Yoseob’s POV

Aku terus memandanginya. Mataku tidak bisa lepas dari wajahnya. Tuhan…dosa apa aku ini? Kenapa aku harus bertakdir seperti ini? Ketika ia mendekat, aku harus menjauh? Bisakah aku merasakan indahnya dunia sekali saja?!

“Yoseob-ssi, kenapa kau melihatku terus? Lama-lama kau jadi menyeramkan tau!” ucapnya bercanda membuatku hanya bisa tersenyum kecil. “Ada apa mengajakku ke sini?” ia lanjut bertanya dengan eskpresi datar.

“Aku hanya –“ aku menggantungkan kalimatku, masih mempertimbangkan apakah aku akan benar-benar mengatakan kepadanya.

“Apa?” ia mengerutkan keningnya heran.

“Kau menyukaiku, ya?” aku benar-benar mengatakan hal ini dan berusaha tidak menunjukan kegelisahanku. Dan benar saja sesuai dugaanku, ia tidak segera menjawabnya. Ia menatap lurus ke depan tanpa berbicara sedikitpun.

“Jiyeon-ah…Apa itu benar?” aku berusaha sekali lagi untuk mendengarkan jawaban yang akan ia ucapkan. Tapi masih saja hening, ia belum menjawab apa-apa. Sampai pada akhirnya aku bisa bernapas lega ketika melihatnya menolehkan wajahnya ke arahku.

“Kau tidak keberatan kan dengan hal itu kan?” bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah balik bertanya, membuatku menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.

Jiyeon tersenyum kepadaku.

“Tuhan…Tolong jangan buat aku makin tidak rela dengan takdir ini!” aku menjerit sekuat tenaga di dalam hati, menahan gejolak perasaan di dada yang makin memburu dan tak beraturan.

“Aku juga menyukaimu, Jiyeon-ah.” jantungku berdebar kencang ketika mengatakan hal ini. Seluruh tubuhku memanas. Berusaha memberanikan diri menatap kedua bola mata indah itu.

“Jadi maksudmu, kita…?” ia meyakinkan dirinya sambil menatapku tajam. Namun aku segera menggeleng pasti.

Aniyo…Kita tidak pacaran. Aku sudah punya pacar.” tidak perlu kaget ketika melihat ekspresi wajah Jiyeon yang terkejut setelah aku mengatakan hal itu. Aku berani bertaruh bahwa ia masih berkutat dengan pikirannya yang terlihat sangat jelas, jelas bingung dengan apa yang aku katakan!

“Kau tau kan Lee Ji Eun?” aku memutuskan untuk memberitahunya setelah melihat ekspresi wajahnya yang sangat penasaran, atau kebingungan? Ah entahlah.

“Lee Ji Eun? Ji Eun?!” ada nada kaget sekaligus ketidakpercayaan di pertanyaannya. Dan aku segera menjawab cepat.

“Dia pacarmu?” bahkan sekarang, aku bisa melihat sesuatu yang bening mulai memenuhi matanya, makin banyak dan makin banyak. Hingga akhirnya dengan jelas aku bisa melihatnya menangis, tanpa isakan.

Aku mengangguk untuk meyakinkannya.

“Tapi aku menyukaimu, Jiyeon-ah!” lagi-lagi aku menatap matanya lekat, penuh dengan arti yang sungguh-sungguh.

Jiyeon kini menggigit bibir bawahnya sembari memejamkan matanya kuat. Sakit? Mungkin iya. Seakan aku bisa merasakan apa yang sedang dirasakannya saat ini.

Nappeun namja! Kau mengatakan kalau kau menyukaiku, tapi kau malah memacari Ji Eun?” ia berteriak dan aku hanya bisa mendiamkannya, “Kau menyakiti sahabatku, Yoseob-ssi…” nada bicaranya mulai pelan. Ia menyeka air mata yang keluar, “Mungkin itu lebih menyakitkan daripada yang pernah aku rasakan!” lanjutnya membuatku mau tak mau harus menjawabnya.

“Aku hanya ingin membuatnya bahagia…” ucapanku kali ini sangat sangat sangat serius.

Jiyeon tertawa meremehkan, “Bahagia dari mana?! Dari mana kau bisa sebut itu bahagia?!” bentaknya keras, lagi-lagi aku harus bertatapan dengan mata tajamnya.

“Waktunya hanya sekitar satu minggu lagi, Park Jiyeon.” jawabku masih berusaha tenang.

“Waktu apa? Memangnya dia mau ke mana?” dengan sewotnya, Jiyeon berusaha memperjelas kata-kataku barusan.

Sekarang, giliran aku yang mengerutkan kening karena heran, “Kau benar-benar tidak tau tentang hal ini?”

“Tidak tau apa? Tentang apa? Hal apa?!” pertanyaan memburu tidak sabaran itu membuatku menghela nafas berat.

“Ia sakit jantung.”

Seketika wajah yang terkesan dingin itu mulai meluluh. Makin meluluh. Dan tatapannya kini berubah menjadi tatapan yang berbeda.

“Aku hanya ingin memberikannya kebahagiaan sebelum dia pergi untuk selama-lamanya. Aku tau rasanya mempunyai waktu hidup yang pendek, bahkan teramat pendek! Aku juga mengalami itu!”

Jiyeon menatapku bagai patung setelah mendengar alasan itu.

“Kau tau rasanya? Kau juga sama seperti Ji Eun?” tanyanya dengan air mata yang makin deras mengalir.

Aku menggeleng, “Aku punya waktu, mungkin satu setengah bulan lagi.” Aku berusaha tersenyum manis walaupun sebenarnya hatiku sangat, sangat perih!

“Kau kenapa?” pertanyaan yang keluar dari bibir manisnya itu makin membuat dadaku gencar berdegup dan berdebar hebat. Haruskah aku mengatakan ini? Aku bimbang.

Dan akhirnya, “Kanker otak.” Jawabku. “Mungkin aku disebut ‘setan’ karena memang penampilanku yang pucat? Atau bahkan lebih menyeramkan daripada itu?” aku berusaha membuat sebuah lelucon yang mungkin tidak bisa mengubah atmosfir ketegangan di sekitar kami.

“Aku bahkan ikut menangis sekarang.” aku tertawa kecil seraya menyapu cairan hangat yang mulai keluar dari mataku.

Hening. Tegang. Bingung. Menyedihkan.

Itulah keadaan yang terjadi pada kami berdua, Jiyeon masih diam dengan tatapan tidakpercaya yang terpancar jelas di matanya. Sedangkan aku? Aku hanya berusaha mempertahankan senyum ketegaran yang mungkin hampir padam.

“Benar…” ucapnya sambil memaksakan sebuah senyuman, “Kau benar,” ulangnya. “Kau harus membuat Ji Eun bahagia. Ia sahabat yang paling baik. Kau harus bisa membuatnya bahagia sampai akhir.” Lanjutnya sambil memalingkan wajah dariku ke sembarang arah.

“Kau juga,” ucapku membuat wajahnya kembali menoleh kepadaku. “Kau juga harus membuatku bahagia sebelum aku benar-benar pergi.” Aku mendekat ke arahnya.

Jiyeon kembali menangis. Aku memeluknya erat. Berusaha membuatnya lebih nyaman dan tenang.

Uljima…” aku mengelus rambut rambut hitam panjanganya. “Kau mau berjanji?” tanyaku membuatnya ia berhenti terisak, “Janji apa?” ia balik bertanya.

“Berjanjilah kau akan membiarkanku pergi dengan kebahagiaan yang kauberikan, Jiyeon-ah.”

Ne. Aku berjanji.” Jawabannya membuatku merasa lebih baik.

Aku tersenyum. Jiyeon juga tersenyum.

Walaupun bersamanya lebih lama akan membuatku senang, tetapi bersamanya di dalam kepedihan dan keterbatasan waktu membuat itu lebih berarti.

THE END

[A/N] Demi apapun ini endingnya maksa banget yah? Hehe. Mianhae kalau lama banget kelanjutannya. Abisnya, filenya kebawa ke luar kota ;w;
Sekali lagi mianhae kalau Jiyeon sama Yoseob nya langsung deket. Karena kalau diceritain proses deketnya, bisa sampe puluhan pages_- hehe
Mianhae juga kalau kalian mesti membacanya fanfiction yang konon katanya sangat tidak jelas ini~
Jeongmal gomawo buat readers yang dengan senang hati meninggalkan jejaknya :D

13 thoughts on “[Twoshot] 친구의 사랑 (Love Of A Friend) 2/2

  1. aku agak shyok pas tau ceritanya loh thor-.- mungkin alurnya kecepatan ya?
    minhonya mutusin dia kenapaaa? terus buat nambah tangisan di hati yang sudah pedih ini #plakplakk pas yoseobienya meninggal ditunjukin gitu._.
    tapi daebak loh thor, terus berkarya yaa~

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s