[STEP 3B] The Pain of This Marriage

Title : The Pain of This Marriage [STEP 3B] – He is Back!
Author : Vania Lee / Vania_MinKey0923 (@van_alexasntani)
Genre : AU, romance, family, friendship, tragedy, angst, life
Length : chapter
Rating : PG
Main cast :

  • Choi Minho SHINee
  • Kim Hyunra (OCs)
  • Kim Keybum SHINee

Support cast :

  • Jung Hyorim / Cathrine Middleson (OCs-Echa unn)
  • Ahn Jaekyo / Jasmine Ahn (OCs-Ajni unn)
  • Kim Jonghyun SHINee
  • Choi Sooyoung SNSD
  • Ahn Myongri (OCs)

Other cast : Seungri Bigbang, Seo Joo Hyun aka Seohyun SNSD, Kim Richan (OCs), Cho Hoongki (OCs), Kang Eunrin (OCs), Lee Jinki SHINee, and others
Disclaimer : the cover and the story are belong to me as the author. ©Vania_MinKey0923. No plagiarism, if you are, that is mean you are a loser!
Author’s Note : Annyeonghasseoooo!! Mianhae semuanya sudah menunggu lama ini FF. Astaga, ini FF udah keluar dari 3-4 minggu yang lalu, step 4 nya udah keluar 2 minggu lalu sementara di sini belum aku POST!! HYAAA!! MIANHAEEE *caps jebol* aku bener-bener lupa aku author di sini #digampar. Mian, otak lagi stres sih ini, banyak masalah, mood jelek.. arrghh (?) mianhamnida sekali lagi, terus mian juga karena step ini ancur banget ._. oke hope you like this!

***

“Aku tidak membutuhkan waktu untuk langsung mencintaimu, ketika kau menatapku dengan kedua mata indahmu, di saat yang sama aku sadar bahwa hatiku memilihmu…”

***

THE PAIN OF THIS MARRIAGE – STEP 3B : HE IS BACK!

Lelaki itu terduduk di atas lantai dingin dengan wajah lelah dan ekspresi sedih yang teramat sangat. Ia menyandar di sofa dan kemudian menatap dingin kepada pecahan gelas yang tadi sempat mencium tembok sebelum berhamburan begitu saja.

Bahunya naik turun dengan cepat, menandakan bahwa nafasnya terengah, menahan emosi yang sudah kelewat dari batas maksimalnya. Ia mengacak rambutnya frustasi, terlebih saat ingatannya terputar ke saat ia menolak yeoja yang sudah ia tunggu bertahun-tahun itu dengan dingin. Itu bukan maunya. Salahkan wanita bernama Kim Richan yang seakan membisikkan itu di telinganya.

“Hyunra,” bisiknya sedih dan pilu.

Kim Kibum atau yang akrab disapa Key ini sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Tidak dipedulikannya ketukan pintu yang terdengar tidak sabaran. Ia seakan tuli. Tuli secara hati nurani maupun telinganya. Mengingkari perasaan, takdir, dan kenyataan. Mengawali masalah dan memulai kerumitan. Ini keberanian…

“Kibum! Sayang, kau kenapa? Buka pintunya! Umma mau bicara!” teriak orang di balik pintu yang sedang berada di bawah tatapan tajam sepasang mata kucing itu.

“Aku tidak mau lagi menurutimu, Kim Richan,” desisnya sambil berusaha untuk memejamkan mata dan membiarkan Richan terus menggedor pintunya. “Aku bukan anak yang lemah, yang bisa kau kendalikan sembarangan seperti ini.”

***

Jeju Island, 07.45 KST (Next Day)

Matahari sudah tidak lagi malu untuk mengintip di balik horizon. Ia sudah siap menerangi bumi dengan cahaya hangatnya. Dedaunan basah sesekali menitikkan air yang tadi malam telah membasahinya ke atas tanah yang juga basah. Damai sekali.

Keadaan damai itu juga ada di dalam sebuah sweet room yang tampak hening dan sepi. Hanya ada dua orang yang sedang tertidur di atas sebuah kasur empuk dengan wajah damai nan tenang. Seakan tidak ada sekat ‘tak kasat mata’ yang membatasi mereka. Membiarkan diri mereka terbang ke dunia mimpi dalam beberapa jam saja.

Di atas lantai yang dilapisi bludru berwarna coklat tua itu terdapat sebuah kaus gombrang berwarna putih, celana pendek berwarna hitam, kemeja wanita berwarna coklat, rok krem, dan beberapa potong pakaian lainnya. Berantakan sekali.

Ia mulai terusik ketika nyanyian burung-burung kecil di luar sana terdengar begitu merdu di pagi yang cerah ini. Dia berusaha mengadaptasi penglihatannya yang tiba-tiba ‘diserang’ oleh cahaya matahari dari jendela yang tertutup tirai tipis berwarna putih.

“Ngg,” Ia melenguh saat merasakan lelah yang amat sangat melilit tubuhnya. Wanita itu kemudian merasa bahwa gerakannya tidak bebas. Persis seperti pagi cerah di hari sebelumnya. Lagi-lagi ia mendapati sebuah tangan kekar sedang mendekapnya. Astaga, bahkan posisinya lebih dalam daripada yang kemarin.

Sejenak ia terpaku dengan pemandangan di depannya. Seorang pria beralis tebal dengan rahang keras dan leher yang tampak kokoh tengah tidur dengan damai. Mata besarnya itu tertutup dengan damai dan sebuah senyum tipis yang lembut menghiasi bibirnya.

Omona~ tampan sekali. Kenyataan itu mau tidak mau membuat wanita itu memuji dalam hati.

Eh? Kenapa ia bisa berada dalam jarak sedekat ini dengan…

Matanya membulat seketika ketika menyadari sesuatu yang telah terjadi semalam. Sesuatu yang tidak pernah ia sangka dan bayangkan akan terjadi. Sesuatu yang ia ingin lakukan bersama namja yang ia cintai bila sudah menikah. Tapi, tadi malam, ia melakukannya… bersama musuhnya?!

Entah setan apa yang merasuki wanita cantik itu, tangannya tiba-tiba melayang tepat di pipi namja yang masih tertidur tenang itu. Begitu ringan dan penuh kekuatan untuk ukuran seorang yeoja. Seorang shiksin yang bertenaga ‘super’.

Plak!

Mimpi (yang mungkin) indah yang sedang diimpikan oleh namja itu dalam tidurnya tiba-tiba buyar menjadi sebuah mimpi buruk. Pipinya terasa panas dan fantasi liar berkelana dalam pikirannya. Fantasi yang hanya ada di pikiran anak kecil yang sedang gemar nonton film kartun aksi seperti Power Ranger.

“HYAAA~! JANGAN BUNUH AKU, PENYIHIR JAHAT!!” teriak namja itu tiba-tiba dengan mata masih tertutup dan kemudian dengan sendirinya mendorong tubuhnya ke belakang. Sepertinya ia tengah memimpikan penyihir? -_____-“

Bruaaak!

Terdengar bunyi keras ketika namja itu dengan sukses mendarat di lantai dengan satu helai dari dua helai selimut di atas tempat tidur putih itu.

“Aku siap! Aku siap! Aku siap! Ya, ya, ya, aku tahu kotak tertawamu sudah habis, Squidward!” teriak namja itu tidak jelas. Rupanya ia masih berada di setengah alam mimpinya. Tapi, astaga… mimpi macam apa itu?

Hyunra –wanita sadis tadi- langsung menganga melihat peristiwa itu. Tidak ada hasrat untuk tertawa karena ia sedang syok setengah hidup menemukan dirinya di pagi hari bersama musuhnya, dan… tanpa baju?!

Tangan Minho naik duluan ke atas tempat tidur, disusul dengan kepalanya. Namja itu meringis sejenak saat menyadari bahwa tadi ia mimpi sesuatu yang aneh.Ia mengerjapkan matanya dan kemudian terbuka sempurna, menampilkan kilatan tajam yang terpancar dari matanya. Mata mereka bertemu. Sesaat Hyunra bergidik ngeri saat melihat tatapan tajam yang seperti siap membunuh itu. Ya, sepertinya perang akan berkobar. Lupa kali mereka terhadap apa yang terjadi semalam?

“YAAA~! BABBO! Kenapa kau menamparku sekeras itu?!!” teriak Minho dengan suara khasnya. Hyunra langsung tersadar dari alam lainnya. Ia juga berteriak tidak kalah hebohnya.

“APA?! ENAK SAJA KAU BICARA! Kau pantas mendapatkannya setelah apa yang kau lakukan semalam, dan lagi, kau menyebutku penyihir, ah?!” Hyunra dengan reflek melemparkan bantal yang ada di dekatnya yang langsung ditepis oleh Minho.

“Oya?! Itu juga tidak akan terjadi jika kau menolak! Kemarin kau malah melanjutkannya!” bela Minho sambil menatap jengkel kepada wanita yang telah menjadi istrinya itu. Sontak Hyunra terdiam, memikirkan berbagai diksi yang tepat untuk melawan dan membantah omongan namja di depannya.

Kalau dipikir memang salahnya juga, kenapa ia bisa tidak menolak? AISH!

“AAA~! Sudah! Aku mau mandi dan mencari udara segar! Cepat berbenah~!” Hyunra melilit selimut yang sedari tadi menutupinya dan berjalan melewati tiap pakaian yang berserakan di lantai dengan cepat menuju ke kamar mandi. Minho menggeleng kecil.

“Hmm, kenapa aku bisa melakukannya? Aish, Minho babbo. Bukankah kemarin kau hanya berniat menghiburnya karena…” Namja itu tertegun dan menyadari sesuatu. “Kibum?” bisiknya terperanjat. “Ada hubungan apa mereka…” desisnya sambil menarik nafas panjang. Entahlah, tapi baru saja ia mengkhawatirkan sesuatu dan itu berhubungan dengan Hyunra. What the… ?

~~~

Hyunra PoV

Astaga, namja itu lama sekali sih mandinya. Aku kan sudah lapar. Apa sebaiknya aku turun duluan ke restoran? Hmm, anhiya. Bisa-bisa dia mengomel lagi tepat di telingaku. Aku tidak mau pulang ke Seoul dengan keadaan telinga yang tidak beres karena kontaminasi dari suaranya. Aish, bukannya menghina. Dia itu kalau sudah mengomel bisa lebih cerewet dari umma.

“Choi Minho! Cepatlah sedikit! Aku mau ke restoran!” teriakku dengan tidak sabar sambil memelototi pintu kamar mandi yang tidak bersalah atau bahkan berdosa. Terdengar bunyi gemericik air dari dalam sana yang bisa dipastikan itu suara air yang mengguyur namja gila itu.

“Kau saja duluaaaaan, Cerewet!” Aku mengangguk, lalu berbalik untuk melangkah. Namun, sebelum satu langkah aku menjauh dari pintu berwarna soft brown itu, aku langsung terhenti saat menyadari sesuatu. Tadi ia memanggilku…

“YAAA! CHOI MINHO! SEKALI LAGI KAU MEMANGGILKU BEGITU, MAKA KAU AKAN PULANG DENGAN WAJAH TIDAK TAMPAN LAGI, BODOH!” teriakku membahana. Memenuhi setiap sudut ruangan dengan suara khas milikku. Sedikit banyak aku bersyukur dengan suaraku yang berbeda ini, hahaha.

Aku membulatkan mataku ketika mendengar jawabannya. “Jadi kau menganggapku tampan, Cerewet?” Omo! Sepertinya aku telah salah bicara tadi. Aish, wajahku pasti sudah memerah seperti ubi rebus, eh, maksudku kepiting. Siaaal! Namja gila itu pasti akan besar kepala.

Aish, daripada terlibat dengan pembicaraan yang tak akan ada hentinya itu, aku lebih baik pergi sekarang.

“Terserah!” teriakku sebelum menutup pintu kamar tersebut dan melenggang santai menjauhi ruangan besar nan nyaman itu menuju ke restoran. Selama perjalanan di koridor menuju ke tempat yang menyenangkan untukku –restoran- aku tidak dapat berhenti mengagumi bangunan hotel ini. Bangunannya modern, tetapi memiliki sesuatu khas tersendiri. Cat putihnya begitu halus dan nyaris tanpa cacat. Belum lagi, lampu-lampu bertudung yang menempel di dinding menambah suasana romantis tempat itu.

Wangi kopi dan kue mendominasi restoran itu ketika aku sudah menginjakkan kaki di sana. Aktivitas pagi hari sedang terjadi dan rupanya aku telat. Pasti gara-gara kejadian semalam. Huh, jinjja, aku benar-benar pegal sekarang dan juga agak malu memikirkan apa yang terjadi kemarin malam. Huh, Hyunra, what’s wrong with you? Otakmu tidak beres!

“Mau pesan apa, agasshi?” Seorang pelayan bertanya kepadaku begitu aku mendudukkan bokongku di atas salah satu kursi dari empat kursi yang mengelilingi meja bundar berwarna coklat yang terletak di sudut restoran itu.

Aku mulai membuka lembaran buku menu dan kemudian mulai berpikir tentang makanan untuk si namja aneh itu, “Hmm, apakah soft cake di sini enak?” Pelayan itu mengangguk dan mulai menjelaskan yang lainnya.

“Kami menyediakan berbagai rasa, mulai dari coklat hingga strawberry. Kau bisa memilihnya sebagai dessert, saran saya.”

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan wanita ramah dengan rambut yang dikuncir itu, “Baiklah. Soft cake coklat dua porsi, dua mocchacino, bulgogi satu, dan semangkuk mie ramen.” Entah bagaimana bisa aku memesan makanan untuk si namja itu juga. Memangnya dia peduli padaku? Ah, molla. Aku tak peduli. Kalau ia tak maupun aku akan memakannya untukku sendiri!

“Baiklah, selamat menunggu, agasshi…” Dia berlalu dari hadapanku ketika selesai mencatat pesananku. Meninggalkanku sendirian di sudut ruangan ditemani oleh alunan musik dari desiran ombak yang terdengar begitu menenangkan.

Mataku menjelajahi lautan yang ada di seberang tempat ini. Begitu biru dan bersih. Sungguh, semua ini mengingatkanku kepada kekasihku. Kekasih? Apa pantas aku menyebutnya kekasih setelah perlakuannya kemarin?

“Kau bukan siapa-siapa. Kita sudah selesai sejak dulu.”

Aku memejamkan mataku erat, berusaha menikmati angin laut yang menerpa wajahku sambil terus memerintah sel-sel otakku untuk bekerja menghapus ingatan pahit semalam dan juga rekaman suara khasnya yang sangat kurindukan itu.

Sebelum suasana berubah menjadi lebih menyudutkan lagi, aku bergegas membuka kedua mataku dan merogoh tas kecil yang daritadi menggantung di bahu kananku. Kuambil mp3 putih milikku dan memakai kedua headset-nya di telingaku. Kusetel sebuah lagu favoritku.

Setelah itu aku langsung memalingkan wajahku dan menatap kembali ke pantai yang lebih ramah kepadaku dibandingkan dengan Key. Ya Tuhan, bahkan sampai sekarang aku sulit mempercayai bahwa Key yang kemarin berdiri di depanku berbeda dengan Key yang empat tahun ini kutunggu. But, finally aku sadar bahwa ternyata itu memang Key yang kutunggu empat tahun.

Kurasakan sudut mata kiriku sedikit basah. Aish, jangan lemah, Hyunra. Ke mana dirimu yang dulu kuat dan cuek, ah?

“Kau sudah memesan?”

Aku sedikit terkejut saat mendengar suara seseorang yang berbicara selain suara dari mp3ku ini. Sontak aku menoleh dan kembali terkejut. Minho sudah duduk di depanku dengan tatapan polosnya. Namun, tatapan itu berubah menjadi tatapan heran melihatku. Hei, memang ada apa denganku? Aku memerhatikannya dan menyadari bahwa dia tengah menatap sudut mataku. Astaga, jangan-jangan…

“Kau menangis?”

Damn, ia melihatnya.

“Anhiyo,” bantahku cepat. Segera saja aku mengusap sudut mataku, “Aku kelilipan. Itu saja.” Bagus, bahkan kau menjadi seorang pembohong. Key, kau berhasil merubahku!

Minho terlihat mengerutkan keningnya, namun tidak berkomentar lagi. Namja itu kembali melontarkan pertanyaan yang sama seperti saat ia mengejutkanku tadi.

“Kau sudah memesan?” Aku mengangguk singkat sebagai jawabanku dan segera saja aku menoleh kembali ke samping melihati pantai lagi untuk kesekian kalinya. Menghindari tatapannya yang langsung menusuk ke dalam pupil mataku, menembusnya, dan mengirimkan gambaran betapa tajamnya sepasang mata belo itu ke otakku melalui syaraf mata milikku.

“Kau senang sekali melihati pantai, yah?”

Aku tertegun dan melepaskan headset yang masih setia berada di telingaku dan menatapnya, “Maaf?”

Ia menyunggingkan smirknya dan kembali melontarkan pertanyaan yang hanya sekilas terdengar olehku, “Kau senang melihat pantai?”

“Ne, tentu saja. Aku lahir di sini dan sempat tinggal di sini sebelum aku pindah ke Seoul dan menetap di sana…”

“Bersekolah di sekolah yang sama denganku,” potong Minho tiba-tiba membuatku mendengus mendengarnya. Ya, itulah kenyataannya. Kami terus sekelas dan akhirnya bisa ‘sedekat’ ini. Ya sudahlah, mungkin ini yang digariskan Tuhan -____-

Suasana mendadak berubah jadi awkward ketika keheningan menguasai kami. Bahkan telingaku sendiri dapat menangkap jelas bunyi lonceng indah yang menggema di samudera. Berdesir dan menabrak perlahan lapisan pasir halus nan keras.

“Hmm, namja yang kemarin…” Aku menoleh cepat saat mendengar suaranya. Bukan karena suaranya sebenarnya, tapi lebih kepada topik yang akan ia bicarakan. Tunggu! Sepertinya aku tahu ke mana ia akan membawa topik ini. Aku menahan diriku untuk tidak mengeluarkan emosi apapun. “… apakah dia kekasihmu?” Ia melanjutkan bicaranya. Terdengar ragu, namun cukup dapat kutangkap apa maksud ucapannya. Dia ingin tahu.

“Memangnya kenapa?” Aku menyahut dengan ketus dan dingin.

“Hanya ingin tahu,” balasnya acuh tak acuh. Cih, namja ini…

“Bukan urusanmu,” timpalku dingin, sedingin es. Entah bagaimana caranya aku mengatakan hal itu, padahal aku sama sekali tidak berpikir untuk menjadi lebih galak dari biasanya karena masalah ini.

“Tentu saja urusanku. Kau sudah jadi istriku. But, okaylah. Aku juga tidak begitu peduli. Hanya saja heran apa hubunganmu dengan Kibum.”

Kembali aku menatapnya heran. Dari mana ia tahu nama Key? Bukankah tadi ia bertanya…

“Kenapa kau tahu namanya?” Kulihat ekspresinya yang tampak terkejut dengan omonganku. Ia seperti maling yang tertangkap basah mencuri kulkas. “Kau mengenalnya?” desakku tidak sabaran.

Minho terlihat salah tingkah, ia mengusap bagian belakang lehernya sambil menunduk. Aish, kenapa dengan anak ini?

“Err~ dia… dia anak teman Shinri ahjumma, hehehe…” Aku mengangkat alis ketika melihat ia berbicara. Kenapa aku melihat sinar kebohongan di matanya? Ah, anhi. Kau berhalusinasi Hyunra.  “Jadi, kau mau memberitahuku?”

“Anhi!” balasku tegas. “Aku tidak menganggapmu teman yang dapat kupercaya,” balasku sarkasme.

“Aish, aku kan sudah bilang. Kita berbaikan saja, aku lelah!” protesnya. Ekspresi lelaki itu tampak lucu bahkan memancingku untuk tertawa. Sayangnya, aku sedang tidak ingin tertawa dalam situasi ini.

“Key adalah mantan kekasihku, orang yang kutunggu empat tahun lamanya.” Aku akhirnya membuka mulut tak tega melihat ekpresinya yang memelas seperti seorang anak jalanan yang belum makan dua hari.

“Oh, jadi dia yang waktu itu kau sangka aku?”

“Yang mana?” Aku mengerutkan keningnya.

“Peristiwa yang menyeret kita ke pernikahan yang tidak diinginkan ini,” balasnya tenang dan datar. Aku melongo. Sialan, dia mengingatkanku pada hari terkutuk itu. Hari yang menyeretku masuk ke hubungan yang jauh dengan namja ini.

“Sudahlah jangan mengingatkanku! Dia hanya masa lalu yang kelam.” Kudengar suaraku yang sangat tenang. Entahlah, aku tidak mengerti bagaimana bisa aku berbicara setenang itu?

Kami terdiam sampai akhirnya seorang pelayan yang berbeda dari pelayan yang tadi mencatat pesananku mengantarkan piring-piring berisi makanan pesananku juga minuman beserta dessertnya.

“Kau mau memakan semua ini sendiri?” Aku mendongak dan menatap Minho sambil menggeleng. Ya, meski aku dikenal sebagai shiksin, tapi aku sedang tidak berselera makan. Moodku sedang jelek. Bagaimana bisa ia berpikir aku akan menghabiskan ini semua dalam mood yang jelek?

“Tentu saja tidak, bodoh! Aku memesan juga untukmu. Bagaimanapun aku ini masih punya sisi manusiawi,” balasku datar. Dia terkekeh merespon ucapanku. Huh, dasar menyebalkan.

“Kau memesankan aku ramen? Hei! Kau tau darimana aku suka ramen?” Matanya bersinar nakal saat mengucapkan itu. Ia memamerkan deretan gigi putihnya sembari menatapku dengan tatapan Flaming Charisma-nya yang KATANYA membuat yeoja meleleh.

Kubulatkan kedua mataku sebulat-bulatnya. Apa kata dia? Dia suka ramen? Sungguh, aku memesan itu hanya sesuai kata hatiku, mana kutahu ia menyukai ramen. Omona~

***

Author PoV
Seoul, South Korea

Seungri melepas kacamata yang melekat di wajahnya ketika melihat kehadiran Jonghyun di  apartementnya. Namja itu tampak kurang baik. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan lagi, pandangannya kosong.

Tanpa permisi, Jonghyun langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa coklat milik Seungri. Ia mengusap wajahnya sendiri dengan sekali gerakan dan memandang Seungri frustasi.

“Kau kenapa?” tanya Seungri heran melihat sahabatnya tampak seperti orang stres yang baru keluar dari tempat penyiksaan. Jonghyun menggeleng dan menatap Seungri lama sebelum akhirnya membuka mulutnya. Namun, tidak ada kata yang keluar dari sana. Hanya udara kosong yang keluar dan membuat Jonghyun kembali menutup mulutnya.

“Serius, Jjong! Jangan membuatku takut!” Seungri menggoyang-goyangkan tubuh namja itu dengan kekuatan penuh, membuat Jonghyun bergerak ke kanan dan ke kiri.

“A-aku…” Jonghyun menarik nafas. “Berikan aku air minum!” pintanya masih dengan ekspresi anehnya tadi.

Bertanya-tanya, Seungri berjalan menuju dapurnya dan kembali membawa segelas air minum dingin. Diberikannya benda itu kepada Jonghyun yang langsung meneguknya sampai habis.

“Kau sudah tenang? Bisa ceritakan padaku? Bukankah kau harusnya sedang di kantor milik orang tuamu? Pamanmu tidak marah?”

Jonghyun menatapnya galak, sampai Seungri mengira dia pantas menjadi pemeran utama dalam film bergenre psychology.

“Pelan-pelan dong kalau bertanya!” sambar Jonghyun galak. Sekilas ekspresinya seperti seorang ahjussi yang sedang memarahi keponakannya. Suaranya meninggi dan raut frustasi tampak jelas di wajahnya. Ada apa dengannya? Dia kemarin masih tampak baik. Pikiran macam itulah yang berputar di benak Seungri.

“Aish,” keluh Seungri. “Sudah cepat ceritakan!” Seungri mengibaskan tangannya agar Jonghyun memulai ceritanya.

Jonghyun menarik nafas, “Aku bertemu dengannya…” balas Jonghyun pelan.

Seungri mengerutkan keningnya, “Siapa?”

“Aku bertemu…” Jonghyun meremas rambutnya dengan gusar sambil mengerang frustasi. “Aku bertemu dengannya!”

Dengan cepat, Seungri mengerti apa maksudnya.

“Kau bertemu dengan …” Seungri memiringkan kepalanya sebagai lanjutan dari omongannya yang belum selesai. Jonghyun mengangguk. “Mungkin kau bermimpi, Jjong…” hibur Seungri.

Jonghyun terdiam. Rekaman peristiwa yang baru ia alami terekam jelas di benaknya. Lelaki itu mengangguk, “Sudahlah kalau begitu. Kau benar, aku mungkin bermimpi. Oya, kapan aku bertemu Jaekyo?” tanya Jonghyun. Nada suaranya belum berubah. Masih terdengar seperti orang frustasi. But, ia mencoba berpikir positif.

Seungri mengingat-ngingat, “Sabarlah. Dia bisa bertemu denganmu di akhir bulan. Asal tahu saja, dia bukan hanya penulis. Dia juga wartawati dan…” Namja itu berusaha mengingat ucapan Hyunra kemarin-kemarin. “… guru bantu di panti asuhan, jadi maklumlah. Dia terlalu sibuk. Ngomong-ngomong kau tidak kembali ke kantor?”

Jonghyun terkesiap ketika sadar bahwa ia sudah telat ke kantor untuk latihan selama hampir sejam. Jiyoung ahjussi pasti akan mengulitinya karena ketelatan yang tidak tanggung-tanggung itu. Oleh karenanya, Jonghyun langsung melompat bangun dari sofa dan menepuk pundak Seungri sekilas.

“Aku pergi dulu!” Ia keluar melesat dari sana sembari meninggalkan Seungri yang hanya mampu melongo dibuatnya.

***

Key PoV
Jeju Island, 3 hours later…

Ia bertubuh atletis di usianya yang sudah separuh baya. Rambutnya dicat hitam, menyembunyikan lembaran rambut yang telah memutih. Kumisnya tersusun rapi, menunjukkan wibawanya. Dia ahjussiku. Sedang berdiri di samping umma dengan pandangan mengarah kepadaku.

“… di sana kau akan praktek dan belajar bersama seorang dokter di sana. Namanya Jung Soo Yeon atau kau bisa memanggilnya Jessica. Dia ahli bedah jantung sepertimu. Ya, dia seniormu…”

Entah apa yang mereka bicarakan, aku sama sekali tak mau mendengar omong kosong itu dan tetek bengeknya. Satu yang ada di pikiranku sekarang hanyalah meminta maaf kepada Hyunra atas apa yang kulakukan kemarin.

Hyunra, how are you, Sweety? Maafkan aku. Kalau boleh jujur aku ingin sekali memelukmu kemarin.

…dan pertanyaan yang masih berputar di benakku adalah… kenapa kau bisa di tempat seperti ini bersama Minho? Aku benci memikirkannya, tapi aku merasa kalian sudah memiliki sebuah hubungan yang menghalangiku untuk mendekatimu, Hyunra.ya.

“Kau tidak mendengar kami, Key?” Suara khas umma membuyarkan segala lamunanku.

Aku berdiri sambil menatap sendu kepada mereka, “Ne.” Aku menjawabnya dengan tenang, lalu berbalik dan melangkah meninggalkan mereka. Dapat kudengar jelas perbincangan mereka tepat setelah aku berjalan.

“Sabarlah, Richan.ah. Suatu saat nanti pasti ia dapat melupakan Hyunra.”

Aku menyunggingkan sebuah senyuman sinis mendengar opini ahjussi. Bagaimana bisa ia menyimpulkan hal seperti itu? Tidak, ahjussi. Aku tak akan melupakan yeojaku itu.

Kusambar jaket milikku yang tergeletak manis di sofa ruang tamu. Kaki ini berjalan tenang menuju ke motor yang terparkir manis di halaman rumah ahjussi. Pergi, mungkin dengan pergi menghirup udara segar pantai akan membuatku sedikit tenang dan pikiran yang semrawut ini akan rapi kembali.

Aku mengencangkan helm yang kupakai. Setelahnya, kedua tanganku mencengkeram lumayan erat kedua stang motor tersebut. Akan kucari Hyunra. Ia pasti masih di sekitar Jeju.

Brrrmm…

Motor ini mulai meraung ketika kunyalakan mesinnya. Persetan dengan semua ini. Aku sudah lelah dijadikan boneka, dan kini… saatnya Kibum beraksi. Tidak ada lagi Kibum yang selalu berada di bawah kendali Kim Richan. Itu hanya Kibum yang lama.

Kedua roda ini mulai menggelinding kencang membawa beban yang diangkutnya menjauh dari sana, menyisakan debu-debu dan pasir yang berterbangan di belakang. Mengantarkanku untuk melesat menjauhi rumah ahjussi. Kim Hyunra, aku akan membawamu kembali kepadaku.

***

Author PoV

“Key adalah mantan kekasihku. Orang yang sudah kutunggu empat tahun…”

Ucapan itu, entah kenapa terus terngiang di telinga Minho. Berdengung-dengung dan berputar di kepalanya. Dada lelaki itu serasa sesak setiap kali mengingat ucapan itu. Satu lagi yang terpenting, ia tidak mampu mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.

Aish, ada apa denganmu, Minho? pikirnya sambil membawa dua cup milk shake dalam genggaman dua tangannya ke arah pantai di mana Hyunra menunggunya.

Ketika sudah dekat, ia dapat melihat Hyunra tengah berjongkok dengan kepala tertunduk. Tampak fokus pada sesuatu. Penasaran, Minho mendekat dan karena faktor tubuhnya yang tinggi, ia mampu mengintip apa yang menarik perhatian Hyunra.

Pandangannya terpaku di sana. Mata besarnya tidak berkedip sama sekali melihat sebuah gambar yang dilukis Hyunra di atas pasir. Lagi-lagi ia merasakan sesuatu seakan menendang hatinya, membuatnya terasa sakit dan tubuhnya gemetaran.

Sebenarnya aku kenapa? Ah, sudah, lupakan… Minho menggelengkan kepalanya dan kemudian berdehem keras untuk membawa kembali Hyunra kea lam sadarnya. Well, Hyunra memang terlihat seperti tidak ada di dunia ini. Seakan jiwanya terbang sebagian entah ke mana.

Jari-jari lentik itu berhenti melukis. Tetesan air mata yang sedari tadi mengalir deras membuatnya lebih gugup lagi. Hyunra bukan tipe yeoja cengeng, tapi… terlalu banyak kenangan dan cinta yang ditinggalkan oleh Key untuknya. Ia menangis karena ia marah, ia marah karena Key tidak menepati janjinya dan… Hyunra benci sekali orang yang mengingkari janji begitu saja. Tak bertanggung jawab.

Tapi, di sisi lain, Hyunra masih mencintainya. Itulah yang membuat air mata keluar dari matanya. Hatinya terlalu sakit sehingga tak ada cara lain untuk meredakannya, selain menangis.

Hyunra yang membelakangi Minho, berdiri dan menarik nafas keras-keras sampai Minho dapat mendengarnya.

“Haaaah~” Yeoja itu menghapus kasar air matanya dan memejamkan dua indera penglihatannya tersebut sebelum membukanya kembali. Ia membalikkan tubuhnya. Hidungnya merah, begitupun matanya. Jelas sekali ia sehabis menangis.

Minho terperanjat. Hatinya terenyuh dan dalam detik yang sama, ia juga merasakan luka tertoreh di sana. Seakan ia ikut sakit bersama Hyunra.

“Mana minumanku?”

Suara Hyunra menyadarkan keterpakuan Minho. Namja itu langsung menyodorkan salah satu dari dua cup yang ia pegang. Hyunra merebutnya dengan cepat. Yeoja itu menarik sedotannya dan menghisap isinya sambil memalingkan wajah ke arah lain.

Masih tak mau terlihat menyedihkan di depan Minho. Dasar keras kepala.

“Jangan tinggalkan aku, ara?” Key yang sedang merangkulnya berbisik tepat di telinganya membuat Hyunra dapat merasakan nafas Key yang menyapu permukaan kulitnya.

Hyunra tersenyum simpul dan melingkarkan tangannya di  tubuh Key dengan erat, “Ne, asalkan kau juga tidak meninggalkanku.”

Key tidak membalasnya. Namja itu tersenyum sambil mendekap sang gadis dengan erat, seakan tak mau yeoja itu pergi dari dekapannya. Dua insan yang sedang dimabuk asmara itu tetap berpelukan di bawah bias-bias yang timbul dari pancaran hangat sang raja siang yang hendak masuk ke peraduannya. Langit oranye dengan awan-awan hitam keperakan menjadi saksi kemesraan dua manusia itu.

“Aku berjanji akan mendapatkanmu,” bisik Key.

Hyunra memejamkan matanya erat saat mengingat momen romantis itu –sunset yang sangat berkesan untuknya. Lupakan Kim Keybum, kau membencinya. Kau membencinya, Kim Hyunra, bisik hatinya. Ia tersenyum sakit.

Minho yang menyadari bahwa Hyunra sama sekali tidak bersuara mendadak khawatir. Entah bagaimana, tapi perasaan ingin melindungi tumbuh secara alami dari perasaan dan pikirannya.

Hyunra melempar cup yang telah kosong di tangannya ke tempat sampah di dekatnya dan kembali terpaku menatap lautan di depannya.

“Ya! Kenapa kau begini, ah?!” pekik Minho memancing Hyunra. Ia merasa aneh bila tidak rusuh di dekat yeoja itu. Hyunra tak bergeming. Yeoja itu hanya mendengus dan mengusap hidungnya yang berair.

“Hanya karena namja seperti dia kau bisa berubah begini. Ajaib, Princess!” sindir Minho sambil melipat tangan di depan dada. Kaos gombrangnya bergerak lembut dibelai oleh angin pantai. Daun-daun pohon kelapa di sekitar sana melambai-lambai menimbulkan bunyi gesekan daun yang terdengar indah bagi mereka yang mengkhayati.

Sesuai dugaan Minho, yeoja itu merespon. Hyunra mendelik gusar. Ekspresinya tampak menyeramkan. Percayalah, saat itu dia tampak seperti seorang pemarah sejati (?)

“Bisakah kau diam?” tanyanya geram.

Minho menyeringai, Hyunra bisa diajak perang lagi. Itu yang ia inginkan. Childish memang, tapi ia senang melihat Hyunra yang cerewet daripada Hyunra yang pendiam.

“Bweee~!” Minho merong dan segera mengambil langkah seribu saat Hyunra melepas salah satu dari sandal jepit yang ia kenakan dan berancang-ancang untuk melempari Minho.

“YAKKK! CHOI MINHO!!” Hyunra berlari mengejar Minho yang sudah lari menjauh. Tangannya membawa sandal jepitnya. Benar-benar childish dan mengundang perhatian banyak orang.

“Kejar aku kalau bisa, babboooo~! Kau dan aku lebih tinggi siapa, ah?!” teriak Minho dari kejauhan dengan tinggi hati dan sebuah senyum lebar terlukis di wajahnya. Memamerkan deretan gigi putihnya. Kulit-kulit wajahnya tertarik beraturan saat ia tersenyum dan karismanya berkobar-kobar (?)

Lukisan Hyunra –sepasang anak laki dan perempuan dengan tulisan ‘2Kim – Hyunra&Keybum – Forever’ yang tergores di atas pasir itu dengan sekejap terhapus oleh air laut yang naik sampai lukisan tersebut. Mungkin tidak akan ada lagi 2Kim Couple atau KeyRa couple seperti empat tahun yang lalu. Cinta mereka sudah tidak sama lagi.

***

Sooyoung tersenyum membalas setiap sapaan yang ditujukan kepadanya. Yeoja cantik itu berjalan penuh wibawa ke ruangan yang biasanya dipakai oleh Minho. Semuanya tampak hormat kepadanya. Siapa yang tidak mengenal Choi Sooyoung? Seorang multitalent yang cerdas. Apalagi dia kakak Minho yang notabene dirut di sini.

“Unnie!” Sooyoung berhenti saat merasa bahwa panggilan unnie itu untuknya. Ia berbalik dan melihat seorang yeoja berambut hitam menghampirinya. Senyum ramah dan lebar menghiasi wajah cantiknya.

“Hei, Seohyun!”

Seohyun tersenyum lebih lebar lagi, “Tumben sekali unnie datang ke sini. Tapi, tidak bersama Minho? Dia belum datang daritadi…”

Sooyoung tersenyum lebar, “Kau tidak tahu? Minho dan Hyunra kusuruh pergi bulan madu ke Jeju. Mereka akan kembali minggu depan, jadi aku yang menghandle selama itu.” Ia tampak semangat menceritakannya. Senyum lebar Seohyun menghilang perlahan dan berubah jadi senyum tawar.

“Oh, begitukah?” tanyanya lesu.

“Ne. Eh, sepertinya aku harus ke ruanganku dulu. Kembalilah bekerja,” ujar Sooyoung sambil melihat jam tangannya. Seohyun mengangguk dan memandangi Sooyoung yang sudah berjalan menjauhinya.

Ia mendengus, “Hish! Bulan madu?” gerutunya sedih. Yeoja itu kembali ke tempatnya dan tidak menyadari bahwa Changmin memperhatikannya dari tadi. Raut wajahnya tampak sedih dan kecewa.

Mungkin dia bukan untukku…

~~~

Klek!

Sooyoung membuka pintu ruangan tersebut dengan sisa senyum keramahannya. Tetapi senyum itu mendadak lenyap saat melihat seorang wanita dengan blazer berwarna coklat sedang duduk di sofa ruangan Minho dengan santai.

“Mau apa kau ke sini?” tanya Sooyoung dingin. Wanita itu menoleh dan tersenyum lebar –sangat lebar. Seakan-akan dia menyambut Sooyoung dengan ramah. Sayangnya Sooyoung menyadari sebuah ‘maksud’ yang tersembunyi di balik senyum itu.

“Hai, unnie~” sapanya tak memedulikan air muka Sooyoung yang menyeramkan. “Aku hanya mencari Minho.” Didengar oleh Sooyoung bahwa suara wanita itu sangat amat santai, seakan dia tidak pernah bersalah kepadanya terutama Minho.

“Minho?” bisik Sooyoung sedikit kaget. “Untuk apa? Mengganggunya? Sadarlah, Hyorim.ssi, kau bukan siapa-siapa lagi untuk adikku dan sebaiknya jauhi dia, karena dia sudah beristri.” Sooyoung berjalan menuju ke meja kerjanya dan meletakkan tasnya setengah dibanting.

Hyorim tersenyum simpul melihatnya, lihat saja, kau kira aku mau menyerah begitu saja?

“Kau yakin? Well, secara hukum dan agama mereka memang sudah menjadi suami istri. Tapi, apakah secara hati, mereka suami istri?” balas Hyorim tenang. Ia berdiri dan memandang Sooyoung dengan santai.

Sooyoung menghentikan aktivitasnya dan menatap Hyorim tajam, “Oh, yeah? Tahu apa kau, ah? Pergilah dari sini dan jangan kembali menginjakkan kakimu di sini!” usir Sooyoung penuh penekanan.

Hyorim menyeringai sinis, “Dia masih mencintaiku,” balas Hyorim tenang dan penuh penekanan. “Tidak dengan Kim Hyunra.” Hyorim berbalik dan berjalan tenang ke pintu. Ekor matanya masih berusaha melihat ke belakang dan senyum licik mengembang di bibirnya.

Ia berhenti ketika sedang memegang handle pintu. Sedikit menolehkan kepalanya, ia mulai berbicara, “Pegang ucapanku, unnie. Sebentar lagi ia akan kembali padaku dan…” Hyorim tersenyum lagi. “…aku tidak mudah menyerah, pegang janjiku ini. Suatu saat kau akan melihat buktinya.” lanjutnya sambil membuka pintu dan keluar begitu saja.

Sooyoung menggeram jengkel atas ulah Hyorim. Yeoja itu menghempaskan tubuhnya ke kursi dan menyandar di sana sembari memegangi keningnya. Sungguh, kepalanya terasa berat sekarang.

~~~

12.15 KST

Seorang namja dengan jas biru tuanya baru saja menghentikan Ferrari Sport putih miliknya di depan sebuah gedung perkantoran. Ia melihat jam tangannya dan kemudian melepas kacamata hitamnya.

Disambarnya sebuket bunga lily putih yang ada di jok di sampingnya dan ia menatap buket bunga itu seraya tersenyum membayangkan wajah yeojanya.

Klek!

Ia keluar setelah membuka pintunya. Dengan langkah percaya diri, dia masuk ke dalam gedung yang tampak elite itu.

“Selamat siang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Resepsionis kantor tersebut menerimanya dengan ramah. Namja itu tersenyum lebar.

“Aku mau bertemu Choi Sooyoung,” balasnya singkat.

“Sudah membuat janji, tuan?”

“Apa menemui calon istri pun harus ada janji?” candanya sekaligus mengeluh. Resepsionis itu tampak terkejut dan segera membungkuk beberapa kali.

“Mianhamnida, mianhamnida, Tuan Kyuhyun,” ujarnya. “Silakan. Dia ada di ruangannya,” lanjut yeoja itu. Kyuhyun tertawa kecil.

“Kamsahamnida.” Lelaki itu berjalan santai menuju ke ruangan calon istrinya. Sesekali membalas senyum orang yang menyapanya. Seorang yeoja di kejauhan tampak mengerutkan kening melihatnya.

“Kyuhyun?” bisiknya tak percaya. Ia berdiri dari kursinya dan mencegat namja itu. “Kau Kyuhyun, kan?” tembaknya.

Kyuhyun mengerutkan alisnya, namun wajahnya kembali cerah  saat menyadari siapa itu, “Hei, Seohyun! Lama tak bertemu, kau semakin cantik saja!”

***

Mobil sewaan itu meluncur dengan kecepatan sedang menyusuri keindahan pulau Jeju. Minho menyetir dengan tenang sementara Hyunra asyik melihati keindahan ini melalui jendela di sampingnya.

Jam sudah menunjukkan pukul tiga belas waktu Korea Selatan. Mereka agak bingung harus berwisata ke mana lagi sekarang.

“Bagaimana kalau pulang ke hotel?” usul Minho sambil menggerakan kemudinya.

Hyunra menoleh kepada Minho, “Bagaimana kalau berburu souvenir lagi? Kemarin malam kan belum banyak, ya, ya?” rajuknya mengeluarkan aegyonya yang sangat lucu itu. Minho menoleh sebentar dan menahan tawanya saat kembali menatap jalanan.

“YA! Memang ada yang lucu, huh?” seru Hyunra.

“Ne. Wajahmu.”

Bletak! Hyunra mendaratkan tangannya di kepala Minho. Lelaki itu meringis sambil memegangi puncak kepalanya dengan tangan kanan.

“Ya! Kenapa kau menjitakku?” protesnya geram.

“Agar kau waras sedikit!” Hyunra merengut.  Bukannya marah, Minho malah tersenyum dan kemudian memutar kemudinya, membawa mobil ini ke salah satu toko.

~~~

“Apa ini cocok untuk Jjong oppa?” tanya Hyunra meminta pendapat.Ia merentangkan benda yang dipegangnya tepat di depan wajah Minho. Bisa dikatakan mereka sedikit lebih akur setelah ‘kejadian tadi malam’.

Minho yang sedang asyik melihati koleksi bola basket toko khusus olahraga itu langsung menoleh dan melihati sebuah hoodie abu-abu di tangan Hyunra dengan pandangan menilai.

“Cocok,” balas Minho sambil membayangkan rupa kakak iparnya tersebut lalu mengangguk-angguk. Hyunra juga ikut mengangguk.

“Menurutku juga begitu,” balas Hyunra sambil melipat hoodie tersebut dan bersiap mencari barang yang sekiranya menarik untuk dibawa pulang.

Setelah selesai di toko itu, keduanya berjalan beriringan keluar dari toko dan berjalan kaki mencari toko yang menarik. Keluar masuk beberapa toko. Ada yang dibeli, ada yang hanya dilihati.

Minho dan Hyunra seringkali tertawa ketika membicarakan sesuatu yang lucu. Seakan hubungan mereka sudah terlalu baik. Percayalah, di saat akur begitu, mereka tampak cocok sekali dan membuat banyak orang senang melihat pasangan sempurna itu.

17.37 KST

Langit mulai menghitam perlahan dengan campuran warna oranya kekuningan. Suasana romantis terasa begitu kuat di menit menjelang sunset. Hyunra dan Minho keluar dari sebuah restoran dan berjalan kaki menuju tempat di mana mobil mereka terparkir.

Bruk!

Hyunra menutup pintu bagasi mobil yang telah terisi beberapa kantung belanjaan mereka berdua. Minho sendiri tengah membuka pintu depan. Hyunra tersenyum lebar. Entahlah, ia merasa bahagia saat itu.

Aish, apa aku sudah gila? Kenapa bisa melupakan kesedihan itu hanya dengan ini? Aih~

“Ayo masuk!” seru Minho dari dalam mobil membuyarkan segala pertanyaan yang terekam dalam otaknya dan memecahnya begitu saja.

“Ne!” Hyunra tersadar dari lamunannya dan bergegas berjalan mendekati pintu depan. Sungguh, ia belum pernah merasa sedekat dan serelaks ini bersama Minho.

Klek!

Hyunra menarik pintu mobil tersebut. Namun, ketika kaki kirinya mulai naik ke dalam mobil, seseorang menariknya paksa membuat ia terpaksa mengeluarkan kakinya.

Hyunra terkejut saat si orang asing itu mendekapnya erat –sangat erat. Seakan tak mau melepaskannya. Yeoja itu tertegun. Ia kenal harum tubuh ini…

“K-key…” panggilnya bergetar, mencoba sadar dari mimpi indah ini. Astaga, ia tak mau bangun jika ini memang mimpi. “K-key, l-lepas…”

Key melepas pelukannya dan kemudian menatap kedua bola mata Hyunra dalam, “Mianhae,” bisiknya. “Aku hanya… aku tak mau kau celaka karena umma. Aku bisa menjelaskan ke mana saja aku selama 4 tahun ini asal kau mau bersamaku. Aku mencintaimu dan seperti yang sering kukatakan, kau hanya milikku dan sebaliknya.”

Hyunra tertegun. Matanya berkaca-kaca. Perasaannya campur aduk. Antara bahagia, emosi, sedih, dan lain-lain. Ia tak dapat memungkiri bila ia bahagia karena usaha 4 tahunnya untuk menunggu tidak sia-sia. Tapi…

…bagaimana dengan Minho? Yeoja itu tiba-tiba saja teringat akan lelaki di dalam mobil yang ada di belakangnya. Entah mengapa ia merasa bersalah karena berpelukan dengan orang yang dia cintai. Entah kenapa ia merasa Minho telah membuatnya bimbang.

Hyunra tersadar dan dengan mata yang berkaca, ia mendorong Key menjauh darinya, “Pergi!” desisnya marah. Tangannya mengepal erat, mencoba membuang segala perasaan cintanya untuk sanggup menolak kehadiran Key.

Key menatap tidak percaya kepada Hyunra, “Anhi! Aku mencintaimu, Hyunra! Jebal, jangan begini. Kembalilah bersamaku dan membangun rumah tangga denganku. Kita akan mempunyai anak seperti yang selalu kita impikan dulu. Aku akan menikahimu dengan atau tanpa persetujuan umma…”

Hyunra terhipnotis sejenak, namun kesadarannya kembali dengan cepat. Ia menggeleng dan di detik yang sama, air matanya tumpah ruah, “Semua janji manis itu…” Ucapannya tertahan. “… tidak akan mungkin, Key…” Ia menggeleng setelah mengucapkan kalimatnya. Kalimat yang sebenarnya menyakitkan untuknya.

“Kenapa?” desak Key frustasi. Tidak, kumohon ini mimpi! Tidak… pintanya dalam hati. Ia  tak mau impiannya hancur. Dia mencintai yeoja itu. Apakah Hyunra tidak tahu betapa meletupnya rasa yang ada di dalam dada Key kepadanya? Betapa besar rasa ingin memiliki itu menguasai dirinya, tidakkah ia tahu?

“K-karena…”

“Karena dia sudah menikah,” potong Minho yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Hyunra dengan wajah datar dan dingin. Hyunra tertegun dan menoleh, tatapan keduanya bertemu. Sejenak Hyunra dapat menangkap sebuah kilatan api cemburu dari sepasang mata belo itu. Namun, kilatan itu segera hilang dan berganti menjadi tatapan misterius.

Minho tersenyum kepadanya. Senyum tulus pertamanya untuk Hyunra. Saat itu juga dia merasa mendapatkan kekuatan. Senyum karisma lelaki itu seakan menyulut semangatnya lagi. Ia sadar, ia tidak sendiri sekarang. Minho beralih menatap Key yang berdiri tak percaya dengan mata melotot memandang mereka. Namja tampan itu menatap Key dengan dingin.

“… denganku.”

Key menggertakan giginya dan kedua tangannya mengepal, “Pengkhianat!” pekiknya emosi. “Kau benar-benar pengkhianat, Choi Minho!” Key tidak dapat menerima. Ia kaget karena melihat tatapan Minho yang… entahlah, hanya tunanetra yang tak dapat melihat kilatan ‘itu’.

“Masuklah,” bisik Minho lembut kepada Hyunra yang masih mematung. Entah apa yang menghipnotis gadis itu karena ia tak membantah dan menuruti orang yang paling ia benci, bukan orang yang ia cintai. Padahal, ini yang ia impikan. Melihat Key datang menepati janjinya. Tapi, kenapa saat itu terjadi ia justru tak dapat menerimanya?

Minho menatap Key, “Aku akan menjaganya karena kau tidak mampu menjaganya,” balas Minho dingin.Namja jangkung itu berbalik dan berjalan menuju ke bagian pengemudi. Key tertegun. Tubuhnya terasa sangat kaku dan tegang. Ia tersadar ketika mesin mobil di depannya dinyalakan.

Ia mengetuk-ngetuk kaca mobil di samping Hyunra, “Buka, jagiya! Bukaaa! Baiklah! Aku akan tetap mengejarmu karena aku yakin kau masih mencintaiku! Sampai bertemu di Seoul, jagi…” Key berbicara ketika mobil itu bergerak perlahan hingga akhirnya meluncur jauh. Key tersenyum kecut memandangi kepergian “calon istrinya” itu. Air mata meluncur di sudut mata tajamnya.

“Saranghae,” bisiknya.

***

Minho PoV
22.50 KST

Sungguh aku tak menyangka akan begini jadinya. Melawan kakak seayahku bukanlah hal yang mudah. Kami saling menyayangi sebagai kakak dan adik meski kami hanya sama ayahnya. Tetapi itu dulu, sebelum Key hyung berubah. Ia menjadi lebih sentimental dan kata temannya ia iri padaku yang bisa lebih bebas daripada dia yang hidup di bawah pengaruh Richan ahjumma, istri pertama appa. Tapi, aku tidak tahu.

Soo noona juga kakakku, ia kakak seibuku. Richan ahjumma dan appa bercerai saat Key hyung berusia tiga tahun. Setahun kemudian, appa menikahi umma yang saat itu sudah memiliki Soo noona. Itulah cerita yang kutahu, sayangnya Key hyung menganggap aku SAUDARA TIRI walau kami sedarah.

Ah molla. Aku sekarang benar-benar marah padanya karena perlakuannya kepada Hyunra. Hei, kenapa aku ini? Kenapa aku jadi begitu peduli padanya?

Aku membuka pintu kamar mandi dan berjalan menuju ke tempat tidur. Aku mendapati Hyunra tengah terduduk membelakangiku di tepi ranjang. Kenapa gadis itu belum tidur? Tidakkah ia lelah dengan hari ini? Aku melihat jam dinding.

“Kau belum tidur?” tanyaku. Ia berbalik dan tersenyum tawar. Raut kesedihan jelas terpancar di wajahnya. Oh, God, ijinkan aku menghapus kesedihan itu dari wajahnya. Percaya atau tidak, mungkin naluri sebagai suami sudah keluar dari dalam diriku. Aish, bicara apa kau?

“Tidak ngantuk?” tanyaku dengan bodohnya. Hyunra hanya menggeleng kepadaku. Ia merebahkan tubuhnya dan memandang langit dengan kosong. Apa ia syok dengan pertemuannya dengan Key hyung tadi?

“Aku tidak akan bisa tidur kalau pikiranku penuh olehnya…” balas Hyunra dengan tatapan kosong. Sepertinya ia tidak sadar bicara begitu. Tapi, entahlah. Hatiku serasa sakit mendengarnya.

Aku membalas tatapannya dengan senyuman. Entah setan apa yang merasukiku, aku menarik selimut dan menyelimutinya. Kulihat ia menatapku bingung, melihatiku seakan aku alien yang turun dari langit.

“Kau harus tidur. Masalah akan selesai jika pikiranmu jernih dan pikiran jernih datang setelah tidur,” ujarku berhipotesa. Ya, itu yang terjadi padaku. Dengan tidur, masalah akan cepat selesai karena setelah bangun pikiran akan segar dan cepat mencerna masalah.

Ia tersenyum dan mengangguk. Gosh, kenapa ia terlihat cantik sekarang? Rambut panjangnya yang menutupi mata kanannya, tercium harum. Mata kirinya menatapku dengan pandangan teduh. God, Kau apakan hamba sampai bisa begini?

Aku membalas senyumnya dan meraih bantal sebelum berjalan menuju ke sofa. Namun, sebelum aku bergerak, kurasakan ia menarik tanganku dan menatapku. Astaga, jantung ini berdebar tak karuan.

“Gomawo, Minho.ssi…” Aku mengerutkan keningku. “… gomawo untuk hari ini. Selamat malam.” Ia melepas genggaman yang baru saja aku nikmati dan berbalik memunggungiku. Aku tersenyum dan kemudian mendekati pipinya.

Chu~

Kukecup pelan pipi halusnya dan berlalu menuju ke sofa. Kuletakkan bantal itu di sana, lalu aku berbaring. Namun, saat aku akan memejamkan mataku, kudengar ponselku berbunyi. Segera saja aku menyambarnya dan tertegun melihat nama yang tertera di sana.

Aku bangkit berdiri dan berjalan, membuka jendela yang menyambung langsung dengan balkon. Aku tak mau Hyunra mendengar percakapanku. Entah kenapa aku takut terlihat seperti berselingkuh?

“Yobosseyo, Hyorim?” tanyaku sedingin mungkin. Tidak dapat dipungkiri, rasa ini masih ada walau tidak sekuat dulu. Suara lembutnya masih kurindukan sampai sekarang. Sudah! Aku harus mencoba melupakannya setelah semua pengkhianatan yang telah ia lakukan padaku.

“Yobosseyo, apakah kau sudah memutuskan? Sudah kau pertimbangkan tawaranku kemarin?” Kudengar ia berbicara dengan nada yang tertenang dan kalem. Tidak ada nada gentar dalam suaranya. Shit, bagaimana bisa aku terhipnotis sekarang.

Aku  menyadari sesuatu dari ucapannya dan mataku melotot. Damn, aku melupakan sesuatu…

Choose one : TBC or END?

***

Teaser For Step 4 – Jealous
“Hei, Soo! Aku baru tahu kau mempekerjakan Seohyun di sini.”
“Aku tahu kau masih mencintaiku, Minho!”
“Eh, itu…”
“Jadi Ahn Jaekyo, idolaku itu adalah KAU?!!”
“Aku bertemu dia, Jjong oppa…”
“Kembalilah kepada Key, aku akan membantumu..”
“Tuhan, selamatkan hatiku.”
“Aku dan Key, kami sudah kembali.”
“Naneun Jessica Jung imnida dan ini adikku…”
“Ahjussi, kita punya kesamaan. Bagaimana kalau kita bekerja sama?”
*NOTE : TEASER INI BARU RENCANA SAJA!

12 thoughts on “[STEP 3B] The Pain of This Marriage

  1. makin seru badai abis thor ceritanyaa.
    Ttep berpegang pd omonganku yg kmrn, lanjuutt juttt juttt sampe ending thor!! Jgan lama” hehehehehe.
    Part ini sedih bgt T.T

  2. minho udh mulai membuka hati,, jangan dulu ,, biar tambah greget ,, hahahah
    seohyun ngapain ketemu kyuhyun,, ntar pindah hati lagi,,
    key kasihan loh,, dia kan begitu gra2 mamahnyaaaa

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s