[STEP 4] The Pain of This Marriage

Title : The Pain of This Marriage [STEP 4] – Jealous (I)
Author : Vania Lee / Vania_MinKey0923 (@van_alexasntani)
Genre : AU, romance, angst, tragedy, friendship, family, life
Length : chapter
Rating : PG
Main cast :

  • Choi Minho SHINee
  • Kim Hyunra (OCs)
  • Kim Keybum SHINee

Support cast :

  • Jung Hyorim / Cathrine Middleson (Echa unnie)
  • Ahn Jaekyo / Jasmine Ahn (Ajni unnie)
  • Kim Jonghyun SHINee
  • Choi  Sooyoung SNSD
  • Ahn Myongri (OCs)

Other cast : Seungri Bigbang, Seohyun SNSD, Kyuhyun SJ, Changmin DBSK, Kang Eunrin (OCs), Jinki SHINee, Cho Hoongki (OCs), and Kim Richan (OCs)

Disclaimer : this story is belong to me as the author, and the cover too ©Vania_MinKey0923. Don’t copy this without my permission, thank you.

Summary : Pernahkah kamu merasakan sakit di hatimu dan itu karena … cinta?

A/N : Annyeong! Aku lagi gak ada ide, jadi mohon maaf kalau step ini bakal mengecewakan TT.TT oya, kemarin ada yang tanya kenapa marga Key sama Minho beda padahal mereka seayah? Tenang, bakal kejawab kok. Tapi ga akan di step ini. Hohoho~

…dan di sini adegannya kepotong-potong (?) soalnya ini mau jelasin kegalauan tiga tokoh utama kita dan kegajean para tokoh pembantunya (?) XD

…dan sekali lagi, mianhamnida untuk ketelatan publish ini *bow

***

 Cinta kadang bisa membuat dua orang sahabat menjadi dua orang musuh, atau bahkan… sebaliknya?

***

THE PAIN OF THIS MARRIAGE – STEP 4
-JEALOUS-
©2011 Vania_MinKey0923 storyline

Tuk. Tuk . Tuk.

Suara hak sepatu merah tersebut bergema sepanjang lorong yang ia telusuri. Buntut coat panjang berwarna coklat yang ia kenakan melambai-lambai lembut seiring langkah kaki panjangnya. Rambutnya yang tergerai rapi menambah aura kecantikannya. Sesekali ia melempar senyuman kakunya kepada beberapa orang yang mengenalnya.

Orang-orang berlalu lalang di sekitarnya. Matahari memang mulai meninggi, dan kesibukan rumah sakit itu sudah berjalan seperti hari-hari sebelumnya.

Seharusnya wanita itu tidak ada di sini. Namun, ia harus mengantarkan sang putra ke depan pintu gerbang pekerjaan barunya. Mencoba membersihkan pikiran sang putra dari satu nama wanita yang dianggapnya telah meracuni otak putranya.

Wanita itu berdiri di depan sebuah pintu. Ia membaca sejenak nama yang tertera di sana sebelum menoleh ke samping, memberi isyarat kepada seseorang yang sedang berjalan di kejauhan untuk segera cepat menghampirinya.

“Aish, kau lama sekali, Kibum!” tegur wanita itu kesal. Namja yang memakai kemeja berlengan panjang itu hanya menunduk. Seolah-olah ia menuruti perkataan ibunya, seolah-olah ia seorang lelaki lugu yang mudah digertak. Seolah-olah…

Krek…

Wanita itu mulai membuka pintu ruangan tersebut dan ia tersenyum lebar saat seorang wanita lainnya tersenyum seraya berdiri dari duduknya.

“Richan ahjumma,” sapa wanita itu sambil menghampiri wanita ber-coat coklat itu dan membungkuk sebelum akhirnya cipika-cipiki. Di belakang wanita ber-coat itu –Richan-, putranya hanya memandang malas kepada kedua gadis itu. Pikirannya melayang sangat jauh.

“…dan apakah ini yang akan menjadi rekan kerja baruku?” tanya gadis berambut pirang itu sambil tersenyum ramah. Cantik sekali. Ia menyodorkan tangannya yang disambut baik oleh namja itu. “Naneun Jessica Jung imnida dan ini adikku…” Gadis berjas putih yang bernama Jessica itu menunjuk seorang gadis kecil yang sedang duduk manis di sudut ruangan.

“Naneun Kim Kibum imnida, tapi kau bisa memanggilku Key, Noona. Hmm, kau bilang dia adikmu? Kenapa tidak mirip?” tanya namja itu bertubi saat memperhatikan detail wajah gadis cantik berusia sekitar lima tahun itu dengan Jessica yang berdiri di hadapannya. Richan sendiri sedang berjalan menuju ke jendela di ruangan tersebut dan melihat ke luar.

Jessica berjalan ke arah pintu dan menutupnya. Ia berbalik dan tersenyum tipis, “Dia pasienku yang sudah kuanggap seperti adik. Jantungnya bocor dan harapan hidupnya sangat tipis, sukar bagi kami untuk menyelamatkannya.” Wajah gadis itu berubah muram. “Dia sedang diopname, menunggu ada pertolongan yang dapat menyelamatkan nyawanya.”

“Ke mana orang tuanya?”

“Dia tak punya orang tua. Dia yatim piatu. Pengasuh panti asuhannya sering datang ke sini untuk menengoknya. Sekarang gadis ini tanggung jawabku,” balas Jessica sambil berjalan menuju ke mejanya. “Ahjumma, silakan duduk. Key, kau juga.”

Key sedikit terenyuh dengan gadis kecil itu. Matanya terus ingin melihatnya sehingga ia tak fokus saat mendengar penjelasan Jessica. Jessica adalah anak pemilik rumah sakit ini dan khusus anaknya Richan –yang notabene teman orang tua Jessica, Nyonya dan Tuan Jung menyuruh Jessica yang menghandle Key.

Pikiran Key melayang ke beberapa tahun yang lalu di mana ia dan belahan jiwanya pernah bertemu juga seorang anak kecil dengan nasib hampir serupa. Bedanya anak yang ia temui menderita hemophilia. Ia sangat ingat betapa hancurnya hati kekasihnya saat mendengar kabar bahwa anak yang sudah mereka anggap sebagai adik itu meninggal karena irisan kecil.

“Maaf, Key? Apakah kau mendengar?” Jessica menyadari jika pikiran Key melayang entah ke mana. Terbukti saat ia berbicara, Key hanya diam tanpa respon sambil memandangi dengan kosong sebuah pena yang tergeletak di meja Jessica.

“Umm, mian.” Key tersenyum. Mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa dia sedang terluka.

***

“Kau mau pulang?”

Hyunra menoleh ketika lelaki di sebelahnya mulai membuka pembicaraan di antara mereka. Tiga hari telah berlalu sejak peristiwa di mana Key meminta maaf padanya, namun tetap saja Hyunra masih mengingat itu seakan peristiwa tersebut sedang terjadi.

“Pulang ke mana?” tanya Hyunra heran. “Baru saja kita keluar hotel untuk mencari angin dan sekarang kau mengajak pulang?”

Minho menghela nafas, “Babbomu kumat lagi, ya?” desis Minho tanpa nada bercanda sedikitpun. Hyunra mengendikkan bahunya cuek. Melihat itu, Minho berdecak, “Ck, maksudku pulang ke Seoul, Bodoh!”

Hyunra tertawa kecil, tepatnya tawa prihatin, “Kenapa? Kita baru empat hari di sini. Aku suka Jeju.”

“Rasanya kau murung terus sejak tiga hari yang lalu. Apakah kau bisa menikmati liburan kalau terus begini, ah?” tanya Minho ketus. Keduanya sedang menyusuri jalan trotoar dengan santai. Melihati deretan toko yang berjejer di sana.

Hyunra sama sekali tidak menjawab. Ia diam membisu sambil menghela nafasnya panjang-panjang. Rambut panjangnya berkibar lembut diterpa angin pantai yang besar.

“Ya! Kau anggap aku apa, ah?” protes Minho saat beberapa lama ia menunggu respon gadis itu. Hyunra mendelik dan ia menghentak nafasnya kesal sebelum berjalan lebih cepat, mendahului suaminya berjalan.

“YA! YA!” pekik Minho sambil mempercepat langkahnya. Tanpa diketahui olehnya, Hyunra mengukir sebuah senyuman tipis. Yaa~ bisa dikatakan kalau hubungan mereka membaik sejak tinggal bersama. Ternyata Minho tidak seburuk yang Hyunra pikirkan dan begitu juga sebaliknya.

Tanpa memperlambat langkahnya, Hyunra berjalan terus sambil berusaha mati-matian menahan tawanya. Entahlah, ia merasa senang mengerjai lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu.

“Astaga yeoja itu… kenapa dia bisa punya kaki yang panjang?” keluh Minho mengikuti Hyunra yang telah berbelok ke belokan di depannya.

Langkah Hyunra terhenti ketika mata indahnya menangkap seorang anak kecil sedang menangis dengan darah yang sangat banyak di tangannya. Orang-orang mulai mengerumuninya, sementara seorang wanita yang dipastikan adalah umma anak itu tampak panik sambil menangis, Ia berusaha menelpon seseorang dan mencari bantuan. Sesekali menyeka darah itu.

Mendadak tubuh Hyunra terasa kaku dan dingin. Kakinya gemetaran. Matanya berkaca-kaca teringat akan seseorang yang ia sayang terenggut karena hal yang sama. Trauma akan penyakit itu membuat yeoja itu sama sekali tak bisa bergerak.

Anak kecil malang tersebut terus menangis karena jari telunjuknya yang sedikit tergores itu tak hentinya mengeluarkan darah.

Minho terkejut melihat anak kecil itu, bagaimanapun ia sangat menyukai anak kecil dan bila ia melihat mereka terluka, pasti ada perasaan ingin menolong. Namja bermata bulat itu lebih terkejut lagi saat mendapati respon istrinya. Wajah Hyunra sangat amat pucat dan tampak sekali tubuhnya bergetar hebat.

“Hyunra? Hyunra?” panggil Minho panik. Ia mengguncang-guncang tubuh yeoja itu sampai Hyunra mulai mendapat kekuatan dan menggerakan lehernya hingga kepalanya berputar. Matanya menatap mata Minho dalam. Minho terperanjat saat menemukan sinar ketakutan yang tampak besar di sana. Sangat besar dan ini pertama kalinya Minho melihat Hyunra terlihat begitu takut.

“M-M-Minho…” sahutnya bergetar dengan suara yang amat pelan dan mungkin hanya dapat didengar kelelawar. Terdengar raung sirine ambulan mendekat dan akhirnya berhenti 10 meter di depan pasangan MinHyun itu.Tepat di lokasi kejadian.

Air mata Hyunra meleleh tepat ketika Minho kembali memusatkan perhatiannya kepada Hyunra. Tanpa pikir panjang, ia menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Jari-jarinya menelusuri punggung yeoja itu dengan lembut, membuat Hyunra merasa nyaman.

“Uljimma,” bisik Minho di telinganya. Hyunra mencoba menenangkan dirinya. Kakinya terasa lemas dan ia hampir jatuh jika saja Minho tidak sedang memeluknya.

Minho tak peduli ketika beberapa pasang mata melihati adegan ‘mesra’ itu, yang ia pikirkan sekarang adalah satu. Hyunra harus merasa nyaman sekarang.

~~~

“Kau mau menceritakannya?” Minho mulai bertanya ketika mereka sudah sepuluh menit dalam diam di sebuah restoran terdekat. Hyunra tidak dapat melanjutkan dulu perjalanannya menyusuri pantai. Ia lemas mendadak.

Hyunra yang daritadi sibuk menenangkan diri sambil menunduk kontan mendongak, “B-baiklah,” balasnya singkat. Ia mulai menarik nafas dan menatap mata Minho dalam-dalam.

“Anak kecil tadi, dia hemophilia, kan?” Ia mulai membuka ceritanya. Minho meneguk secangkir kopinya dan mengangguk singkat. “Aku pernah punya kejadian yang membuatku trauma dan berhubungan dengan penyakit sialan itu.”

Minho tampak terkejut, ia meletakkan cangkirnya di atas meja dan memandangi Hyunra serius, “Lalu?”

“Namanya Lee Taeyoung, dia masih berusia lima tahun ketika luka kecil itu membuatnya harus pergi selamanya dari kehidupan orang tuanya. Tidak ada yang mampu menyelamatkan dia…” Hyunra berhenti sejenak sambil mencoba untuk tidak mengeluarkan air mata. “… dia anak asuhku dan Key. Kami bertemu dia ketika dia terluka di taman kota. Kami membawanya ke rumah sakit. Untunglah saat itu dia tertolong. Kami menyayanginya seperti seorang anak bagi kami dan kau tahu? Cita-cita kami adalah memiliki anak sebaik Taeyoung. Dia cerdas dan sangat penurut. Dia menganggap kami orang tua keduanya.”

Hyunra terhenti. Ia menunduk dan menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Minho tak dapat berbuat apa-apa dan membiarkan wanita di depannya menangis karena mungkin itu akan mengurangi bebannya.

“Apakah cita-cita itu masih menjadi keinginanmu?” tanya Minho perlahan. Hyunra mendongak dengan matanya yang tampak merah itu.

Ia tampak terkejut dan serasa ada yang menendang hatinya saat itu, “N-ne,” balasnya tersendat. Minho tersenyum kecut.

“… bersama Key?” tanyanya lagi, menohok hati Hyunra tepat di sasaran. Hyunra kembali mengangguk. Suasana kembali hening, membiarkan keduanya dikuasai oleh pikiran masing-masing.

Jadi, apakah Key adalah cinta terakhirmu? pikir Minho kecewa. Aish, apa peduliku? Apakah aku harus membantunya kembali dan aku kembali pada Hyorim?

Minho tersentak saat ia teringat akan ucapan Hyorim tiga hari yang lalu melalui telepon.

“Aku tahu kau masih mencintaiku, Minho… pikirkan baik-baik. Aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Aku mencintaimu.”

“Minho?” Suara Hyunra membuyarkan segala pikiran sialan itu dari otaknya. Minho terkesiap dan kemudian mulai tersenyum.

“Ya?”

“Fiuh, kau ini aneh sekali. Oya, kau sendiri… dengan Hyorim, bagaimana bisa putus?” tanya Hyunra mencoba mengetahui penyebab hubungan suaminya dengan Hyorim jadi hancur.

Minho menundukkan kepalanya saat mendengar nama yeoja yang masih disimpan dalam hatinya itu. Cinta, mengapa lagi-lagi mesti perasaan itu yang mengekang dan melukai seseorang, uh?

“Kau mencintainya,” celetuk Hyunra memberikan sebuah pernyataan. Minho langsung mendongak dan menatap Hyunra kaget.

“Apa? Anhiya! Dia sudah melukaiku, asal kau tahu saja.” Minho menatap Hyunra kesal karena pernyataan wanita itu yang sebenarnya sangat dibenarkan olehnya. Ia tahu itu kesalahannya yang besar, mencintai orang yang harus ia benci.

Hyunra –dengan mata masih sembab tertawa miris mendengarnya, “Jangan berbohong. Aku dapat melihat sinar matamu,” timpal Hyunra sambil menghisap jusnya dari sedotan. Minho mengerang pelan dan kemudian terdiam lagi.

Apakah memang aku harus bercerita, pada musuhku?

“Apa kau benar-benar bisa dipercaya?” selidik Minho berusaha mengulur waktu hingga Hyunra lupa dan tidak bertanya soal itu lagi. Hyunra tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.

“Tentu saja, memangnya kau kira aku tukang gosip? Kalau Eunrin, kau boleh mempertanyakan.” Hyunra terkekeh menyadari jika saja Eunrin mendengar, ia pasti sudah dicekik sekarang. Minho mengangguk sekali dan mulai menarik nafas panjang.

“Aku sangat mencintai Hyorim, dia cinta pertamaku. Dia cewek paling keren di kampusnya, kebetulan kampus itu adalah tempat sepupu jauhku berkuliah. Aku bertemu dengannya saat sedang menemui sepupuku itu. Aku mulai bertanya pada sepupuku mengenai kriteria namjanya dan dengan percaya diri, aku langsung menyatakan perasaanku kepadanya. Kau tahu? Dia menerimaku.” Minho menghentikan ceritanya untuk meredam rasa sakit yang kembali meluap dalam dadanya. Tentu saja sakit, apalagi mengingat kenyataan bahwa rasa itu masih ada.

Hyunra mencoba mencerna cerita Minho dengan saksama sambil mengingat rupa Hyorim. Ya, Hyorim memang keren, dilihat dari sisi manapun ia tetap akan keren.

“…kukira ia serius dengan menerima diriku menjadi kekasihnya. Ternyata…” Minho tertawa kering dan tangannya memain-mainkan sendok kecil di hadapannya. “Di belakangku dia sudah berpacaran dengan kakak kelasnya. Sejak itulah aku kecewa padanya dan tanpa pikir panjang langsung memutuskannya. Cih, bahkan Soo noona juga jadi membenci dia. Kau tahu sendiri Soo noona sangat sayang padaku,” lanjut Minho menyudahi ceritanya.

Hyunra mengangguk-angguk dan kemudian menatap lama pada Minho yang sedang menyeruput kopinya lagi sambil memandang pemandangan dari kaca di sampingnya.

“Kenapa kau tidak kembali pada Key?” tanya Minho memalingkan wajahnya dan membuat Hyunra terkesiap saat itu juga.

“Eh, itu…” Hyunra speechless. Ia tak bisa berkata banyak. Astaga, namja ini rupanya benar-benar tidak peka akan perasaan seseorang, ya?

Hyunra PoV

“Eh, itu…” Aku menelan kata-kata yang hendak aku keluarkan tadi. Aish, kenapa dengan aku ini? Kenapa rasanya susah sekali untuk bercerita? Seharusnya sih cerita, kan dia tadi sudah cerita tentang Hyorim. Aduh, aku tidak sudi menceritakan masalah paling pribadi kepadanya. Meski dia suamiku, di mataku dia tetap musuh!

Minho tampak tidak sabar menunggu ceritaku. Aish, anak ini memang menyebalkan. Ah, ya, sudah. Biarkan saja dia bingung. Aku tak mau menjawab.

“Lupakan saja,” balasku dingin. Eh, kenapa bisa aku jadi berubah mood begini? Aih, Key, kau telah merubah semuanya. Ya, Tuhan, apa aku memang masih mencintai lelaki bodoh itu? Aish, bodoh? Tidak.

“Tidak adil sekali,” ketusnya sambil menyandar di kursinya. Aku hanya mendengus. Hei, kalian sudah tahu kan apa masalahku dengan Key? Oke, aku tak akan bercerita lagi kalau begitu. Ini terlalu menyiksa.

Sudah sejam kami duduk di sini dan sepertinya aku sudah mampu berjalan setelah peristiwa yang membuatku trauma itu. Aish, aku benci penyakit hemophilia itu. Benci.

Aku berdiri tanpa babibu dan memilih meninggalkan Minho yang masih terduduk dalam diam di tempatnya. Saat aku sudah memegang pintu restoran tersebut untuk membukanya, aku menoleh dan dia tak beranjak dari sana meski sudah tahu aku pergi. Ah, biarlah. Dia kan sudah dewasa, masa mau aku asuh?

Baru saja aku berjalan beberapa langkah menjauhi restoran tersebut, tiba-tiba seseorang menarik bahuku dan menahanku di tempat.

“Kau tidak boleh pergi tanpaku,” ujarnya membuatku membulatkan mata. Apa katanya? Sejak kapan dia jadi suka mengatur begini o.O

***

Author PoV
27 November 2011

Jam weker di kamarnya terus berbunyi, sedikit mengusiknya yang tengah asyik terbang ke alam mimpi. Yeoja itu kemudian berusaha untuk tetap fokus terhadap tidurnya, namun rupanya si jam itu tidak berhenti menyerah. Ia terus berbunyi sampai membuat kepalanya hampir pecah.

Mendengus, ia mengambil sebuah bantal di dekatnya dan menutupi kepalanya dengan menekan bantal tersebut.

Krrrringgg… krrriiing…

“AISH, JINJJA! Aku masih mau tidur!” teriaknya tidak jelas. Ia bangkit sambil melempar bantal. Matanya tertuju tajam pada jam weker di sebelahnya. “Kau!” Ia menunjuk weker itu dengan telunjuknya.

Tangg~!

Ia memukul keras weker tersebut dan tertawa puas, “Hahaha! Rasakan kau weker jelek! Mengganggu tidurnya seorang macan, ahahahah~” Yeoja itu tertawa tidak jelas sambil kembali berbaring dan menutup matanya lagi –melanjutkan tidurnya yang tertunda.

Tok tok tok tok!

“AISH!” gerutu gadis itu sambil memiringkan tubuhnya, memunggungi pintu kamarnya.

“AHN JAEKYO~! Bangunlah! Kau lupa, ya ada janji dengan salah satu fansmu?” seru suara seorang lelaki di balik pintu tanpa hentinya mengetuk pintu tersebut.

“Dasar orang menyebalkan,” gerutu yeoja itu –Jaekyo, sambil berusaha untuk menulikan pendengarannya dari suara menyebalkan Lee Seung Hyun atau kerap kali disebut Seungri itu.

“JASMINE AHN! Kalau kau tidak bangun juga, aku tidak akan mentraktirmu milkshake lagi selama setahun!”

“MWO?” Jaekyo langsung bangkit dan berdecak kesal memandangi pintu itu dengan tatapan membunuh khasnya. “Dasar tukang nganceeeeem!!” teriak Jaekyo sambil melempar bantal ke arah pintu dan terdengar bunyi ‘buk’ yang sangat keras.

“APA PEDULIKU? Cepat siap-siap atau kau benar-benar akan menyesal! Fansmu ini ganteng tau, gaaaa?! Cepetan!” seru Seungri. Mendengar kata ‘ganteng’, Jaekyo langsung loncat dari kasurnya menuju ke kemar mandi.

“Baiklah, Seungri ahjussi!”

“APA KATAMU?!” balas Seungri dari luar. Jaekyo tidak membalas dan hanya terkekeh pelan mendengar suara Seungri yang memecah keheningan pagi itu.

***

Incheon Airport

Tujuh hari sudah berlalu dari tanggal 20 November. Tanggal yang tak akan pernah ia lupakan. Hari di mana ia menapakkan kaki ke Jeju setelah sekian lama tidak ke pulau indah tersebut dan juga hari di mana pertama kalinya sejak empat tahun yang lalu ia bertemu lagi dengan kekasih hatinya.

Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya sambil sesekali meniupnya, mengurangi rasa dingin yang menusuk sampai ke tulangnya. Seoul bahkan lebih dingin dari Jeju.

Ia berjalan berdampingan dengan lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. Well, tidak begitu jauh juga, sih. Keduanya sama-sama mengenakan coat bernuansa gelap. Berjalan dengan sedikit jarak memisahkan mereka.

“MinHyun couple!” teriak seseorang. Hyunra hafal betul jika itu suara Sooyoung, karena hanya dia yang memanggil keduanya dengan sebutan tadi. Hyunra tersenyum lebar saat sudah dekat dengan wanita jangkung itu. Keduanya berpelukan sebentar dan saling bertukar sapa.

“Apa kabar kau dan suamimu?” tanya Sooyoung sambil merangkul Hyunra seperti adik kandungnya sendiri. Hyunra hanya tersenyum tipis.

“Sesuatu yang pasti, kami membawa oleh-oleh cukup banyak di dalam situ,” balas Minho menunjuk sebuah kopor yang digeret (?) oleh Hyunra. Sooyoung mengikuti arah pandang yang ditujukan Minho dan tersenyum.

“Ada yang ngeborong, nih. Kopornya gemuk banget,” celetuknya sambil berjalan bersama Hyunra menuju ke parkiran. Minho hanya tersenyum kecil melihatnya. Entahlah, tapi ia sangat suka melihat Sooyoung bisa sayang dengan Hyunra seperti layaknya seorang adik.

“Kalian duduk di belakang saja,” ujar Sooyoung sambil membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam.

“Eh? Masa unnie jadi kayak supir?” tanya Hyunra enggan. Sooyoung tertawa kecil.

“Tenang aja, nanti ada Kyuhyun, kok. Lagipula sekali-kali aku memanjakan pengantin baru apa salahnya sih?” balas Sooyoung tenang, sambil menggoda tentu saja. Wajah Hyunra seketika memerah dan ia tak menyadari itu. Ia diam seribu bahasa dan masuk ke kursi di belakang disusul oleh Minho yang hanya diam tak bereaksi.

“Bagaimana? Apakah ada sesuatu yang menarik di sana?” tanya Sooyoung sambil memutar-mutar kemudinya dengan lincah. Minho dan Hyunra berpandangan mendengar hal tersebut.

“Hmm~ tidak ada. Hanya… ya, souvenirnya menarik dan pemandangannya semakin bagus,” balas Minho cepat. Sooyoung mengerutkan alisnya, namun tidak berkomentar lagi.

“Oya, aku lupa memberi tahu. Apa kalian lelah hari ini? Malam nanti akan ada makan malam penting dengan beberapa pemegang saham kita. Ahjussi dan ahjumma termasuk aku akan hadir. Apakah kalian sebagai pasangan pemimpin mau datang atau tidak?” tanya Sooyoung sambil fokus ke jalan.

“Kami tidak lelah,” tukas Hyunra cepat. “Bagaimana dengan kau?” tanya Hyunra sambil menoleh kepada Minho yang juga menoleh. Lelaki itu menaikan kedua bahunya. “Mungkin kami bisa hadir.” Sooyoung mengangguk singkat.

“Oh iya, aku baru tahu ternyata pemegang saham kita juga ada Hyorim, ya?” Suara Sooyoung terdengar begitu sinis di telinga Hyunra maupun Minho. “Kenapa tidak menolak?”

“Eh anu… tapi, kan ini hanya sebatas pekerjaan,” kilah Minho.

“Oya?” selidik Sooyoung.

“Lagian, tadinya Minho tidak tahu bahwa Hyorim.ssi akan menjadi klien kami dan membeli 10% saham,” kata Hyunra sebelum Minho sempat menjawab. Ia melirik Minho yang menatapnya dengan tatapan terima kasih.

Sooyoung tak lagi berkomentar. Ia menepikan mobilnya di dekat sebuah terminal. Di sana berdiri seorang namja yang tampak sedang menunggu sesuatu. Namja itu tersenyum lebar dan mendekati mobil tersebut, masuk ke dalamnya.

“Hei, Nyonya dan Tuan Choi!” sapanya kepada pasangan di belakang, sembari memasang safety belt.

Kyuhyun mencium pipi Sooyoung setelahnya dan sedikit memutar tubuhnya ke belakang, “Kenapa diam? Malu, ya?” goda Kyuhyun dengan evilnya, tanpa memedulikan wajah Hyunra yang terasa panas terbakar.

“Diamlah, kasihan mereka!” seru Sooyoung setengah meledek pasangan Choi yang sedang dalam kondisi terpojok itu. Kyuhyun hanya tertawa-tawa tak jelas sambil berusaha meredam hasrat ‘evil’-nya (?) agar tidak kembali mencuat.

Hyunra melipat tangan di depan dada sambil melihati pemandangan melalui kaca mobil itu. Orang-orang berlalu lalang, sesekali pandangannya dihalangi mobil ataupun motor. Semuanya tampak biasa. Biasa sampai matanya menangkap seseorang yang ganjil sedang berdiri dengan wajah dingin dan tatapan datar. Kedua mata wanita bertopi dan bersyal itu tepat menatap mata Hyunra sampai mobil itu berlalu. Hyunra tertegun. Ia kembali fokus ke depan, namun karena penasaran, ia akhirnya menoleh lagi ke belakang. Wanita itu sudah hilang.

Kenapa aku seperti mengenalnya?

Hyunra mengerutkan keningnya. Berpikir dan berpikir sampai ia terperanjat akan sesuatu, “Ahn Myongri…” bisiknya kalut.

***

Jonghyun menatap kaca dengan ceria sambil merapikan rambutnya dengan sisir. Ia bersenandung kecil ketika menyemprotkan sedikit parfum di leher dan sikut tangannya. Menggerak-gerak kepalanya ke samping kanan kiri sementara matanya fokus pada kaca.

“You’re so handsome, Jjong!” serunya narsis. Senyum lebar terukir di bibirnya. Namja itu meraih ponselnya dan menekan beberapa digit angka yang daritadi miscall padanya.

“Hyunnieee~~ mianhae aku tidak bisa ikut Soo menjemputmu! Aku sedang ada urusan penting nih. Nanti kau juga tahu sendiri. Mwo? Ada yang mau kau bicarakan? Baiklah, besok saja, ya. Malamnya kau sibuk, kan? Dari mana aku tahu? Tadi kau yang bicara… oke, oke, annyeong, saengi! Salam untuk suamimu…” Jonghyun terkekeh pelan setelah memutus sambungan teleponnya dengan Hyunra.

Dengan ceria, ia melangkah keluar flat bekas Hyunra dan mengirim SMS kepada Seungri.

To : SeungHyun Lee
dalam 10 mnt aku akan ada di sana, tunggu aku!

Ia tersenyum sambil memasukkan ponselnya ke saku celana jeans panjangnya.

***

“Hei, Soo! Aku baru tahu kau mempekerjakan Seohyun di perusahaanmu,” ujar Kyuhyun di tengah perjalanan. Empat hari lalu, ketika Kyuhyun bertemu Seohyun, rupanya Sooyoung sedang meeting dan Seohyun hendak ke ruang meeting juga. Tadinya Kyuhyun mau bertanya, tetapi ia lupa dan baru ingat sekarang.

“Ne. Kau kenal, yeobo?” tanya Sooyoung sambil menarik ‘gigi’ si mobilnya. Kyuhyun tersenyum.

“Ne. Dia teman SMA-ku dulu. Salah satu teman dekat,” balas Kyuhyun dengan ceria. Sooyoung hanya mengangguk sambil fokus pada jalanan.

Sementara itu Minho asyik melamun. Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang ia pikirkan, yang pasti wajahnya tampak tegang saat itu juga.

DRRT… DRRT…

Minho terkesiap saat mendengar getaran keras yang berasal dari ponsel Hyunra. Ia menoleh dan hendak mengomeli yeoja itu, namun niatnya diurungkan saat menemukan ekspresi wajah Hyunra yang tampak memucat saat menatap layar ponselnya. Dengan rasa penasaran yang kuat, Minho mencoba mengintip pesan yang masuk ke BB Hyunra yang tidak memakai anti-spy itu.

Ia sendiri juga terkesiap membaca pesannya.

From : Kang Eunrin

Hyunra.ya! Aku bertemu Key di rumah sakit tempat Jinki oppa bekerja! Dia mencegatku dna terus menanyakan di mana aku tinggal. Bagaimana ini?! Cepat balas!

Glek! Hyunra menelan salivanya dengan gugup. Jari-jarinya bergetar ketika menuliskan beberapa pesan itu. Minho sedikit tidak setuju dengan apa yang yeoja itu katakan.

To : Kang Eunrin

Jangan beritahu di mana aku tinggal… a

Belum selesai Hyunra mengetik, Minho merebut ponsel istrinya itu dan menghapus apa yang ditulis Hyunra, menggantinya dengan cepat dan mengirimnya. Ia mengembalikan ponsel itu dengan wajah datar.

“Apa yang kau tulis?” selidik Hyunra panik. Ia segera membuka outboxnya dan terperangah membacanya.

To : Kang Eunrin

Katakan padanya untuk tidak mengejar lagi Kim Hyunra, dia sudah ada yang punya dan katakan juga padanya, jika ia berani lagi, ia harus berhadapan denganku.

-Choi Minho-

~~~

Eunrin tidak tahu harus berbuat apa ketika membaca SMS balasan yang masuk ke ponselnya. Ia tidak menyangka bahwa Minho yang akan membalas pesan itu dan sekarang ia harus menyampaikannya kepada orang yang sedang labil di depannya ini?

“Ngg, K-Key…” panggil Eunrin gugup. Key yang masih menatapnya seakan dia adalah seorang tawanan itu langsung meresponnya.

“Apa jawabannya?” tanya Key dengan datar. Sungguh, ia terlihat menyeramkan sekarang.

“Ngg, a-anu… eh, itu… Hyunra…” Eunrin menghela nafas panjang. “Lebih baik kau sendiri yang membacanya, mungkin kau akan mengerti.” Eunrin menyodorkan ponselnya dan diterima tanpa babibu lagi oleh Key.

Dengan was-was, Eunrin menanti reaksi Key saat membaca pesan itu. Tangannya sampai berkeringat dingin karena ini. Key mendongak dan menarik nafas berat sebelum menyerahkan ponsel itu.

“Terima kasih,” ujarnya pelan. Key berbalik dan berjalan meninggalkan Eunrin di tengah koridor rumah sakit tersebut. Meninggalkan yeoja yang terpaku dengan sikap Key itu.

“Ada apa?” tanya Jinki menghampiri Eunrin. Tampaknya dia menyaksikan semuanya.

“Anhiyo, aku tak tahu.” Eunrin mengendikkan bahunya dan menerawang kepada punggung Key yang semakin menjauh. “Kasian namja itu, aku ingin dia bahagia bersama Hyunra. Tetapi, aku ingin Hyunra dengan Minho saja,” lanjut Eunrin.

Jinki tersenyum dan merangkul bahu calon anaenya lembut, “Serahkan kepada mereka bertiga, aku yakin cinta sejati Hyunra adalah salah satu di antara mereka,” ujar Jinki bijaksana.

“Dari mana kau tahu?”

Jinki hanya tersenyum tipis membalas pertanyaan Eunrin.

***

Key PoV

Tidak, ini tidak boleh terjadi. Apa benar yang membalas SMS Eunrin itu Minho? Choi Minho? Sial, dia mengkhianatiku. Apa dia memang mencintai Hyunra, ah? Asal dia tahu saja, Hyunra milikku bukan miliknya. Aku sudah berjanji pada yeoja itu akan mengikat janji suci dengannya. But, pada kenyataannya? Aish!

Aku berjalan menuju ke ruangan pribadiku sebagai dokter ahli bedah jantung yang baru di sini. Well, jujur saja, sebenarnya aku ingin sekali menjadi seorang chef. Tapi, lagi-lagi pekerjaanku diatur oleh umma. Kapan umma lepas tangan, uh?

Klek!

Aku membuka pintu ruangan tersebut dan mematung di sana sebelum menutup pintu lagi. Ruangan ini begitu sepi, sama seperti hidupku yang terasa sepi sekarang. Tanpa tawa canda Hyunra, aku serasa ingin mati saja. Dia seperti candu bagiku, membuatku kecanduan sampai takut tidak mampu menahan diri lagi.

Arrrgh…

Kuremas gelisah rambutku sambil menghempaskan tubuh ini di sofa. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku merasa begitu jahat telah menyia-nyiakan yeoja itu selama empat tahun. Setelah pertama kali bertemu lagi, aku malah jahat padanya.

“Tuhan, selamatkan hatiku…”

***

Jaekyo PoV

Huaaaaah! Bosan sekali rasanya! Sudah hampir setengah jam aku menunggu di tempat ini bersama si tengil Seungri dan meninggalkan setumpuk pekerjaanku di rumah. Meninggalkan laptopku untuk berhenti menulis. Tapi, katanya sih dia ganteng. Ahahaha, kalau benar, berarti tak sia-sia dong aku menunggu? Kekekekeke~

“Hei, kenapa kau senyum sendiri, ah?” Seungri membuyarkan lamunan indahku. Dasar menyebalkan.

“Memang tidak boleh?” tanyaku ketus. Sungguh, lelaki ini ingin aku jitak, atau mau aku sikut juga, sih? Seungri itu sepupu yang buruk >,<

“Ah, tumben Shindong hyung tidak ikut. Biasanya dia akan ikut jika tahu ada sesuatu yang menarik.” Seungri lagi-lagi menyeletuk. Aish, jinjja, mulutnya ingin aku lakban, yak?

“Diamlah kau,” ujarku ketus. “Huh, awas saja jika dia tidak ganteng seperti apa katamu. Kau akan habis, Lee Seung Hyun!” seruku jengkel. Ia terlihat menahan tawanya sambil menyandar di kursi.

“Kau akan naksir padanya, percaya deh.” Oke, aku percaya kata-katamu, awas saja jika bohong. Aku terus komat-kamit di dalam hati. Rasanya menyebalkan juga menunggu seseorang.

“Sabarlah sedikit,” ujar Seungri seakan mengetahui kekesalanku. Aish, benar juga. Dari tadi aku seperti cacing kepanasan saja ._____.

Aku mencoba untuk tidak membalasnya karena pasti akan menyebabkan sebuah keributan di sini. Aish!

Kira-kira, bagaimana rupanya? Aku tersanjung karena fans beratku ini namja. Aku kira namja tidak akan suka dengan bukuku yang kelewat mellow dan bagaimana ya? Hmm~ ya, pokoknya aku tidak menyangka akan dapat fans berat dan itu adalah namja. Kira-kira dia setinggi suaminya Hyunra tidak, ya? Atau setinggi mantannya Hyunra? Atau..  ah, molla. Aku mau lihat mukanya dulu.

“Hei, itu dia!” seru Seungri sambil berteriak. Astaga, sudah berseru, berteriak juga? -____-

“Halo!” Aku tertegun mendengar suara itu. Kenapa rasanya suara itu mirip sekali dengan…

“KAU?!” Seseorang berteriak tepat di depanku sambil menunjukku dengan telunjuknya itu. Aku kontan bangkit berdiri dan menatapnya garang.

“KAU?! KENAPA KAU DI SINI, PENDEK?!” pekikku melihat lelaki pendek itu. Aish, sialan. Apa jangan-jangan dia ….

“Hei! Hei! Hei! Sudahlah, hentikan. Kalian sudah saling kenal? Jjong, ini Ahn Jaekyo, dan Jaekyo, ini Jjong yang fans beratmu itu.”

APA?! Aku membulatkan mataku dan mencoba menahan tawaku. Jadi, si pendek ini yang menjadi fansku. Oahahahaha, lihatkan aku jauh lebih hebat darinya.

“Jadi Ahn Jaekyo, idolaku itu adalah KAU?!” teriaknya penuh penekanan. Agaknya dia tidak begitu mempedulikan beberapa pasang mata yang terganggu dengan suara tingginya. Aigo, pantas saja adiknya memiliki suara setinggi ini. Rupanya si pendek ini juga memiliki suara yang tinggi.

Kulirik Seungri yang tampak sedang menggaruk kepalanya bingung. Ahahaha, ini LUCU SEKALI!

***

Author PoV
17.55 KST

“Bangun, Kim Hyunra.”

Dia mendengar sebuah bisikan lembut di telinganya ketika kesadarannya satu persatu mulai menghampiri raganya. Ia mengerjapkan matanya sebentar dan kemudian mulai membukanya perlahan. Syok, itulah perasaan pertama yang ia rasakan saat matanya bertemu sepasang mata belo yang sedang melihatinya.

Minho menjauhkan wajahnya ketika berhasil membangunkan Hyunra yang sudah tidur kurang lebih tiga jam itu.

“Cepat bersiap, makan malam akan berlangsung sejam lagi.” Tanpa menunggu jawaban, Minho berbalik dan berjalan meninggalkan Hyunra sampai akhirnya menghilang di balik pintu. Hyunra memandangi lelaki itu sampai hilang dan sensasi yang aneh menjalari tubuhnya saat itu juga.

Ia merasa kasihan terhadap Minho yang sudah ditinggal mati kedua orang tuanya dan selalu mengalami dilema karena Hyorim. Aish.

Yeoja cantik itu bangkit. Ia menapakkan kaki kirinya terlebih dulu di atas lantai, baru disusul oleh kaki kanannya. Dia berjalan menuju ke kamar mandi dengan langkah sempoyongan.

Tidak butuh waktu yang lama bagi Hyunra untuk tampil cantik. Sebenarnya ia tak begitu suka memakai gaun, tapi kata Sooyoung, tema makan malam hari itu adalah ‘anggun dan gagah’. Di mana yang anggun itu harus (meski tidak begitu wajib) memakai gaun dan yang gagah itu biasanya setelan jas dan kemeja. Aneh memang, dikiranya acara ulang tahun apa, pakai tema segala? Tapi, ya sudahlah. Perusahaan keluarga suaminya memang agak unik.

Hyunra memandang dirinya di cermin –yang kini sudah memakai sebuah tube dress berwarna krem yang soft sepanjang 15 cm di bawah lutut. Rambutnya ia ikat kuncir biasa dan hanya menyisakan beberapa anak rambut di depannya yang ia buat menjadi keriting. Sentuhan blush on menyapu lembut kedua pipinya, sementara bibirnya dipoles oleh lipbalm. Untuk aksesoris, sebuah kalung berinisial 2Kim selalu setia ia gunakan.

Tangannya menyentuh kalung itu dan serasa ada aura aneh ketika ia menyentuhnya. Aura canggung atau entahlah…

Sebuah kain tipis berwarna senada –hanya sedikit lebih gelap, yang menyerupai syal menempel di kedua bahunya yang bidang.

Cantik. Kata itulah yang akan pertama kali keluar dari mulut siapapun yang melihatnya. Dia memang istimewa. Dia memang unik dan itulah yang menjerat Key ke dalam perangkap hatinya.

Hyunra PoV

Risih? Tentu saja! Asalkan kalian tahu, ya, terakhir kali aku memakai gaun seperti ini itu ketika  aku SMA kelas satu di acara Valentine di sekolah. Tahun-tahun berikutnya aku memilih memakai kemeja atau apalah yang masih tampak anggun ketimbang gaun.

“Hyunra, apakah kau sudah selesai?”

Aku menoleh ke arah pintu dan langsung mengenal siapa yang memanggilku. Tumben si Minho tidak memanggilku dengan deretan ‘pujian’-nya atau mungkin kasarnya adalah ejekan? Ah, molla!

“Ne, ne!” sahutku malas. Kelima jari tanganku menyambar sebuah tas genggam berukuran kecil dengan warna metalik. Aku menarik handle pintu tersebut dan sedikit mundur saat melihat betapa dekatnya posisi Minho di depanku. Tangannya terhenti di udara, sepertinya ketika aku menarik pintu ia hendak mengetuk.

Beberapa saat kami berpandangan. Hei, dia kenapa? Kenapa mematung begitu coba? -_____-“

“Halooo?” ujarku sambil melambai di depannya. Ia mengerjap sebentar dan menggeleng-geleng lalu memasang tampang dinginnya, mengganti tampang bodoh yang tadi terlihat sangat jelas itu.

“Ehem,” ia berdeham sambil mengusap hidungnya dengan gerakan gugup. Hei, ada yang salah ya? “Ayo cepat. Ahjussi dan ahjumma sudah menunggu, begitupun noona.” Ia berbalik dan berjalan cepat menjauhiku. Aneh sekali dia itu.

Oke, kuakui. Dia tampak tampan dengan setelan kemeja putih bermotif garis-garis biru kecil yang tipis dengan perpaduan jas putihnya. Kuakui, aku hampir mimisan/ Eh? Apa yang kukatakan? Aish! Aku sudah dipelet olehnya…

Aku mulai melangkah menuju ruang tengah dan bingo! Kutemukan dua ‘mertua’ku tengah menunggu sambil duduk diam. Ahjussi memasang wajah bete bin sangarnya, terlebih saat melihatku. Aku tidak mengerti sampai sekarang, kenapa dia begitu membenciku? Memang dosa apa aku kepadanya?

“Aigoooo~! Neomu yeoppo!” puji Soo unnie sambil berdiri dan menghampiriku. Memegang kedua bahuku dan memutar-mutar tubuhku seolah-olah dia adalah desaigner yang sedang melihati karyanya dengan puas. “Sungguh, kau cantik sekali! Betul, ahjumma?”

Shinri ahjumma mengangguk menyetujui perkataan Soo unnie. Oh, God… aku melirik Hoongki ahjussi yang tetap teguh dengan pendiriannya –memasang wajah tidak bersahabat yang membuatku risih.

“Sudah, cepat kita berangkat. Untuk apa mengurusi gadis tidak penting itu?”

Tercekat, aku hanya dapat memandangi punggung Hoongki ahjussi yang kini sudah menjauh. Sakit sekali dikatakan begitu.

Soo unnie merangkulku, “Abaikan saja dia. Kami masih bersamamu.” Aku tersenyum pada wanita baik itu. Dia baik sekali >.<

~~~

Aku dan Minho berangkat dengan mobil Minho, sementara Soo unnie, Shinri ahjumma dan Hoongki ahjussi pergi dengan mobil Soo unnie. Aku melihati mobil Soo unnie yang telah menjauh dari rumah ini, sementara aku dan Minho belum berangkat. Yeah, tepatnya karena aku yang tak kunjung masuk ke dalam mobil.

Minho membuka kaca mobilnya, “Ayo! Kau mau telat? Aku direkturnya, kita harus datang on time.”

“KITA?” desisku kesal. “Kenapa tidak kau saja? Aku malas ke sana. Hoongki ahjussi kan tidak menginginkan kehadiranku,” balasku sewot. Eh, memang peduli apa aku terhadap lelaki tua menyebalkan itu?

Aku mundur saat Minho membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana. Kudengar ia mendumel tidak jelas sambil berjalan menuju pintu di sebelah kursi penumpang yang harusnya kududuki sekarang. Dibukanya pintu mobil itu dan ia kembali berjalan ke arahku tanpa menutup pintu itu.

Kupalingkan wajahku, pura-pura tidak peduli. Tidak sampai aku merasa kakiku tidak menapak di tanah dan tubuhku serasa melayang. Aku tertegun keras dan menoleh.

“Kyaaa!” pekikku saat menyadari Minho menggendongku dengan bridal style menuju ke bagian penumpang yang pintu mobilnya sudah dibuka terlebih dahulu itu. “Turunkan aku! Kau ini apa-apaan?!” hardikku sambil meronta.

Dia memasang wajah datar, namun aku dapat menangkap sinar nakal di matanya. Shit, dia mengerjaiku.

Buk! Aku terhempas di jok penumpang itu dan menoleh dengan cepat. Aku tertegun (lagi) saat melihat jarak wajah kami yang begitu dekat. Dapat kurasakan nafasnya yang menderu menyapu leherku. Aish, aku lupa posisinya masih dekat begini, kenapa aku menoleh? AAA Hyunra bodoh >///<

Ia berbisik, sangat dekat, sampai aku bergidik dibuatnya.

“Jangan macam-macam, Miss Kim… atau harus kupanggil Miss Choi? Jika memanggil Miss Kim, rasanya kau sudah menjadi milik Kibum.” Suaranya terdengar dewasa di telingaku. Aish~

Ia menyeringai dan menjauhkan wajahnya dari hadapanku, lalu menutup pintunya dengan cepat. Tuhan, apa yang Kau rencanakan untukku? Kenapa sekarang aku jadi begitu suka dengan cara pervertnya itu? AAA! Berpikir apa kau, Hyunra?

***

Author PoV

Jaekyo sedang sibuk menarikan jarinya di atas keyboard laptopnya. Namun, seringkali ia memencet tombol ‘backspace’ dan berulang kali pula ia mengganti beberapa kalimat yang ia tulis dengan kalimat baru. Sungguh, ia kena tabestry syndrome sekarang! Alasannya kenapa itu sangat konyol baginya.

“Arrgh!” Konsentrasinya pecah saat ia merasa sudah lebih dari ratusan kali ia menghapus dan mengetik di paragraf yang sama tanpa maju ke halaman berikutnya. Waktu sudah dua jam berlalu, biasanya ia akan mendapat lima sampai sepuluh halaman, tapi ini… satu halaman saja belum.

“Ini karena si pendek itu,” dumelnya sambil menutup laptopnya dengan kasar dan berjalan menuju ke laci berkas-berkasnya. Mengeluarkan beberapa artikel majalah tempat ia bekerja untuk dipelajari. Ya, dia mengumpulkan hasil buruannya sebagai wartawati  dan mencari kekurangan beritanya.

“Aaaah! Sama saja!” pekiknya frustasi, sambil melempar berkas-berkas itu ke sembarang arah dan membanting tubuhnya di atas surga empuk yang menjerat. Kasur.

Sejak mengetahui Jonghyun adalah fansnya, dia tidak dapat berkonsentrasi. Rasa yang aneh menjalari tubuhnya. Padahal apa yang menarik perhatiannya? Kesan awal bertemu saja sudah minus untuk Jaekyo. Baginya Jonghyun hanya tukang cari masalah.

“Ya, dia pengganggu… ya, dia pencari masalah…” gumam Jaekyo komat-kamit tidak jelas. Berusaha mencari ilham.

But, ada sesuatu yang berbeda kini. Ia sedikit banyak merasa kagum juga padanya karena Seungri bercerita banyak tentang sisi positif Jonghyun. Jaekyo terdiam dan lama-lama bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.

“…tapi, dia perhatian dan…” Ia cekikikan sendiri. “…dia ganteng!”

***

Gedung kantor yang pada dasarnya sudah mewah itu kini disulap jadi semakin mewah. Hyunra terpaku karenanya. Sebenarnya, ia sudah biasa dengan hal begini. Seringkali ia mendatangi pesta besar perusahaan keluarganya. Hanya saja yang berbeda, ini romantis…

Hyunra mengernyitkan dahinya ketika Minho menyodorkan sikutnya untuk disambut oleh Hyunra saat yeoja itu baru menutup pintu mobil.

“Kau mau kelihatan tidak akur di depan semua rekan bisnisku, dan mempermalukanku? Tidak akan kubiarkan,” ujar Minho seakan bisa membaca pikiran Hyunra. Dengan ragu plus malas berdebat, ia perlahan memasukan tangannya di antara lubang yang tercipta antara sikut dan pinggang Minho, lalu menggandengnya. Percaya atau tidak, Minho terlihat berbahagia saat itu.

Wajah tampannya sangat cocok dipasangkan dengan Hyunra yang cantik. Rupanya Sooyoung, Shinri dan Hoongki sudah berdiri di depan pintu gedung kantor menunggu mereka. Sooyoung dan Shinri tersenyum melihat adegan ‘mesra’ itu, berbeda dengan Hoongki yang menekuk wajahnya dan berlalu ke dalam.

Beberapa pasang mata tamu yang baru datang tampak senang melihat mereka. Siapa yang tak senang melihat pasangan ‘penyegar mata’ itu? Bahkan saat memasuki aula besar yang biasanya digunakan untuk meeting besar, pasangan ini menjadi perhatian.

Seohyun yang sedang tertawa bersama rekan kerjanya menyadari kehadiran bosnya itu dan tawanya berangsur hilang.

Minho dan Hyunra melempar senyum manis mereka kepada setiap orang yang berpapasan. Beberapa ada yang membungkuk hormat pada mereka. Sooyoung dan Shinri sudah bergabung dengan beberapa relasi, sedangkan Hoongki hanya memasang wajah ramah yang palsu.

Senyum di bibir Minho perlahan memudar saat seorang wanita bergaun merah marun melewatinya dengan tatapan penuh arti dan senyum tipis.

Namja itu tak dapat tersenyum lagi saat sedetik kemudian telah berlalu.

Hyorim, panggilnya dalam hati.

~~~

Hyorim PoV

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruang aula besar di lantai teratas gedung kantor ini. Tentu saja untuk mencari Minho. Tapi, sial. Aku tidak menemukannya. Mungkinkah ia belum pulang dari bulan madunya bersama wanita sialan itu?

Aish, molla.

“Jung Hyorim, kau tampak cantik dengan gaun selutut berwarna merah marun dan bertali kecil itu!” seru seseorang memuji penampilanku. Aku cantik, ya, aku tahu itu. Aku sombong? Mungkin juga iya, mungkin juga tidak. Aku apa adanya dan aku sederhana. Mungkin kalian tak akan percaya. But, itulah diriku yang sebenarnya. Seorang penyendiri yang tidak suka menyerah.

Jika aku jahat di mata kalian, aku hanya melakukan apa yang menjadi tugasku. Membalas sakit hatiku. Masalahnya sih sepele, tapi bukanlah Jung Hyorim kalau tidak dapat mendapatkan apa yang kuinginkan :D

“Hei, lihat istri dirut itu! Dia lebih cantik dari kau jika tersenyum!” Aku mendelik gusar kepada sahabat cerewetku yang daritadi tidak berhenti mengoceh. Aish, jinjja, memang dia pengamat busana, apa -____-“

“Aku benci dibandingkan,” desisku. Kurasa ia menyadarinya dan langsung minta maaf.

“Maaf, bukan… bukan maksudku mengatakan itu. Aku hanya mau melihatmu sering tersenyum, itu saja.” Aku menatap matanya lekat dan menarik nafas saat tidak menangkap sinar kebohongan di matanya.

Tanpa basa-basi, aku meninggalkannya menuju pasangan pengantin baru itu, Kulempar sebuah senyuman penuh arti pada Minho. Saat ia sudah jauh di belakangku, aku berbalik dan tersenyum puas saat melihat Minho tampak rapuh. Cih, ini baru awal, Choi Minho.

~~~

Author PoV

Pesta makan malam itu ternyata untuk merayakan pernikahan Minho dan Hyunra. Resepsi mereka hanya dihadiri kerabat dekat dan teman saja, tidak untuk rekan bisnis kecuali yang sudah akrab. Ini ide Sooyoung karena mempelai sendiri sebenarnya hanya mau mengundang teman dan kerabat, seperti yang sudah dilakukan minggu lalu. But, Sooyoung tidak peduli. Ia terlalu bahagia Minho menikahi Hyunra hingga ingin menyampaikannya ke dunia luar.

“… kita akan menikmati musik untuk menemani tuan dan nyonya sekalian. Ada yang mau berdansa? Jangan sungkan untuk berdiri dan berdansa! Enjoy dengan My Heart Will Go On!” seru Yesung –MC acara tersebut sambil turun ke bawah.

Lagu romantis dari Celine Dion mengalun lembut di sana. Lee Ji Eun –penyanyi yang menjadi pengisi acara itu menyanyi dengan sempurna.

Minho dan Hyunra yang semeja dengan Sooyoung, Kyuhyun –yang juga klien perusahaan itu, Seohyun dan Changmin tampak menikmati suasana romantis tersebut.

Entah apa yang merasuki pikiran Minho hingga namja itu berdiri dan menyodorkan tangan kanannya seolah-olah dia seorang pangeran kepada Hyunra. Hyunra mengernyitkan dahinya bingung.

“Dance with me, please…” bisik Minho terdengar bagai keajaiban di telinga Hyunra.

“K-kau…” Hyunra tak dapat berbicara lagi. Ada apa dengan otak Minho, ah?!

“Terima saja,” celetuk Sooyoung sambil berdiri menyambut uluran tangan Kyuhyun yang ternyata sudah berdiri juga. Dua orang itu berjalan ke tengah dan mulai berdansa, mengikuti alunan lembut lagu itu.

Hyunra akhirnya menggenggam tangan Minho dan berdiri. Berjalan ke tengah bersama lelaki berstatus ‘suami’ itu. Minho melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Hyunra sementara tangan kanannya menggenggam lembut tangan Hyunra.

Dengan canggung, Hyunra meletakkan tangan kanannya di bahu Minho dan membiarkan tangan kirinya diremas oleh tangan Minho. Membiarkan dirinya jatuh oleh pesona tatapan mata belo yang tahan menatapnya lama.

Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on…

Minho memejamkan matanya menikmati alunan musik, terlebih menikmati sentuhan kulit Hyunra dan sensasi ‘gugup’ yang membuncah di dadanya. Hyunra juga ikut menikmati alunan musik itu, tak memedulikan tatapan kagum orang-orang terutama karyawan mereka yang sudah sering melihat mereka bertengkar. Kini mereka menatap takjub kemesraan yang tercipta tanpa sengaja itu.

“Kau mau berdansa?” Changmin menoleh pada Seohyun yang langsung membelalak.

“Mwo? Apa katamu? Anhiya!” tolak Seohyun, mencoba menutupi rasa ingin berdansa itu.

“Oh, ayolah. Kau kan temanku…” Akhirnya setelah Changmin membujuk beberapa kali, Seohyun pun bergabung dengan beberapa pasangan lain yang mengikuti jejak dua pasangan pertama berdansa.

Hyorim mengepalkan tangannya kuat. Sungguh, ia tak suka pemandangan ini. Ia menyesal melepaskan Minho karena ia baru menyadari bahwa sesungguhnya ia juga mencintai lelaki itu.

Hyorim berjalan menghampiri salah satu meja di mana di sana duduklah Hoongki, Shinri dan beberapa teman mereka. Hyorim membungkuk sopan dan duduk di samping Hoongki yang menyambutnya hangat. Hoongki memang lebih setuju Minho dengan Hyorim ketimbang Hyunra. Entahlah.

Shinri tersenyum tipis, ia tak suka dengan gadis itu. Hyorim menyeringai penuh arti saat melihat tatapan benci berkobar dari mata Hoongki tepat di titik di mana pasangan Tom Jerry itu berdansa.

Ia mendekat ke telinga Hoongki dan berbisik, “Ahjussi, kita punya kesamaan. Bagaimana jika kita bekerja sama?”

***

Mereka membuka kedua mata mereka bersamaan dan saling tatap satu sama lain. Saat itulah pesona Minho benar-benar memikat Hyunra. Keduanya seakan sepasang kekasih yang saling mencintai. Atau memang?

Harus kuakui, kau memang cantik, bisik hati terdalam Minho sambil terus menggerakan tubuh sesuai irama musik yang melantun di ruangan itu.

Tuhan, kenapa tubuhku ini bisa mengikuti dansa dengannya? Ada apa denganku? Hyunra terus berbicara dalam hati. Matanya tidak dapat terpalingkan dari pandangan tajam itu. Matanya serasa dipaku untuk terus menatap kedua mata dengan pancaran karismanya yang memesona.

Hyunra PoV

Tuhan, apa yang Kau lakukan pada hamba? Hamba merasa mengkhianati Kibum…

Yeah, memang begitulah yang kurasakan mengingat bagaimana aku menolaknya dan kini justru berdansa dengan lelaki yang selama ini selalu bertengkar denganku, besar maupun kecil masalahnya.

Ingin aku menghindari tatapan tajamnya yang serasa menusuk jantung  itu. Jinjja, apakah ia punya sihir? Kenapa mataku tak bisa berpaling, ah? Kakiku sudah gemetaran karena tatapan tajam nan lembutnya itu.

Eh, eh, eh…

Ini perasaanku saja atau memang wajahnya semakin mendekat denganku? AAA! TIDAK! Dia benar-benar mendekatkan wajahnya padaku. Aku harus berpaling, berpaling, berpa– ah tidak bisa! Bagaimana ini?! Astaga wajahnya tampan juga, ya. EH?!! Kenapa sih aku ini…

Aku hanya bisa diam. Diam? Tidak juga karena aku merasa bahwa aku juga mendekatkan wajahku. YA!! KENAPA JADI BEGINI?!

Aku dapat merasakan deru nafasnya menyapu wajahku.

Love was when I loved you
One true time I hold to
In my life we’ll always go on

“Hyunra, Shinri eomonim memanggilmu.” Terdengar suara yang jauh dari nada ramah dan terdengar dingin di telingaku itu membuyarkan segalanya dan otomatis kami menjauh. Aku melirik Minho yang tampak salah tingkah dan kembali menatap Hyorim yang baru saja berkata.

“Jinjja?” Hyorim mengangguk dan aku langsung pergi tanpa memedulikan panggilan Minho. Lumayan, aku bisa menyembunyikan wajahku yang pasti memerah. Rasanya panas sekali di sini.

You’re here, there’s nothing I fear,
And I know that my heart will go on
We’ll stay forever this way
You are safe in my heart
And my heart will go on and on

~~~

Sesak, entah kenapa hati ini terasa tertusuk sembilu. Lebih sakit daripada saat aku didorong oleh Key hingga hujan membasahi tubuhku. Kenapa aku ini? Musik sudah berganti lagi menjadi lagu romantis lainnya dan sesuatu yang tak dapat kuterima adalah…

Minho dan Hyorim, berdansa? Kenapa mereka melakukan itu? Aish! Apa peduliku? Aku berusaha diam dan duduk kembali di meja kami. Memandang curiga pada Hyorim karena Shinri ahjumma sama sekali tak memanggilku. Dasar pembohong, itu yang aku gerutukan tadi.

Aku berdiam di meja sendirian. Soo unnie dan Kyu oppa masih berdansa, begitupun Changmin dan Seohyun. Hanya aku yang diam di sini. Baiklah, lebih baik makan. Ya! Makan akan membereskan pikiran kusutku.

Semua orang larut dalam pesta ini. Semua, kecuali aku yang hanya bisa menusuk-nusuk steak di depanku dengan ganas.

Tuk tuk tuk, tanggg!

Terakhir aku setengah membanting garpu itu, berharap Minho menoleh sedikit saja padaku. Tapi, kenyataannya tidak ! Ia tak memedulikan aku di sini! Aish~ ada apa dengan dirimu, Hyunra.ya? Kenapa kau jealous? Hah, jealous? ANHI! Aku biasa saja kok…

ChangSeo dan KyuSoo, kedua pasangan itu tenggelam dalam dunia mereka tanpa memedulikanku. Kejam! Aku sendirian di sini, sementara suamiku sendiri berdansa dengan mantan pacarnya Ku berikan bold, underline, dan italic untuk itu. AISH!

Aku menunduk, melakukan eye contact dengan steak di depanku. Bodoh! Bahkan dengan Key saja aku tidak seperti ini. Aku kenapa >///<

Aku kembali mendongak dan…

Deg!

Mereka.. berpelukan di depanku? Darahku berdesir dan mendidih. Bagaimanapun dia suamiku! Tidak ada yang boleh seperti itu dengannya kecuali aku! Aku… aish! Lupakan, aku mau pergi saja.

Segera kusambar tasku dan aku berdiri, berbalik, dan menjauhkan diriku dari sana. Tidak memedulikan beberapa pasang mata menatapku.

“Hyunraaa!” Soo unnie memanggil, aku tak menggubris. Aku harus menata hatiku, Unn. Mianhae…

***

Minho PoV

Aku lupa mengapa aku bisa berdansa dengan Hyorim. Rasanya tadi aku berdansa bersama istriku. Ah, kenapa kau Minho? Bukankah kau masih menginginkan Hyorim? Aish, mengingat apa yang pernah ia lakukan saja membuatku sakit…

“Minho,” panggilnya lembut.

“N-ne?” Sial, kenapa aku jadi gugup?

“Aku benar-benar minta maaf, Minho.ya…” ujarnya menunduk. Entah setan apa yang merasukiku, aku mengangkat dagunya dan menatapnya dalam.

“Mungkin kau sudah melukaiku, tapi aku memaafkanmu…” Ha? Kenapa aku bisa bilang begitu?! >,<

“Gomawo,” bisiknya tersenyum memikat. Senyum inilah yang pertama kali membuatku jatuh cinta padanya. Ia memelukku dan aku balas memeluknya. Sudah lama aku merindukan pelukannya, namun entah kenapa hati ini rasanya tidak enak? Kenapa?

Aku memeluknya erat –sangat  erat sampai mataku menangkap sesosok wanita yang berdiri dari mejanya dan berjalan cepat menjauhi tempat ini.

“Hyunra!” Soo noona meneriaki nama Hyunra. Aku melepas pelukan kami dengan cepat, mengabaikan teriakan Hyorim. Tak kupedulikan ocehan Soo noona yang mengejarku hingga akhirnya ia sendiri tidak mengejar aku lagi.

Mianhae, Hyunra… mianhae…

***

Author PoV

“Hyunra! Tunggu! Kim Hyunraaa!” Minho berlari sambil mengejar wanita yang ada di depannya. Wanita yang baru saja ia ‘sakiti’.

Hyunra tak menggubrisnya. Ia terus berlari dan berlari sampai akhirnya sebuah tangan mencengkeram tangannya erat dan membalikkan tubuh wanita itu.

“Aish, sakit, Choi Minho! Lepaskan!” pekik Hyunra jengkel.

“Anhi, sampai kau memaafkanku! Maaf karena tadi…” Suara Minho mengecil.

“Hahahah! Aku tak marah karena itu, aku hanya kesal dikacangin begitu,” kilah Hyunra tertawa garing. Sangat garing sampai terdengar nada sakit di sana.

Minho tak bicara lagi, ia menggenggam tangan Hyunra erat dan menariknya keluar dari gedung itu, meninggalkan pesta.

“Hei, hei! Aku mau pulang sendiri! Kau kan bosnya, lalu bagaimana pesta itu?” protes Hyunra di parkiran dengan nada tidak terima. Minho tak menjawab dan sedikit menghempas tubuh yeoja itu sampai menyandar di mobil mereka. Ia mengunci Hyunra di antara kedua tangannya yang menempel tepat di kanan dan kiri samping kepala Hyunra. Bibir Hyunra terkunci rapat melihat sinar ‘amarah’ bercampur sinar lain di mata Minho.

“Aku hanya mau kau memaafkanku, itu saja.” Suara Minho melembut. Degup jantung Hyunra bertambah keras mendengar suara suaminya itu. Ada suatu gejolak yang tidak pernah ia rasakan, bahkan kepada Key, cinta pertamanya,

Tidak ada jawaban dari Hyunra dan ekspresi pucat wanita itu, Minho membebaskan Hyunra dan membuka pintu mobil. Menyuruh Hyunra masuk ke dalamnya.

“Kita mau ke mana?” tanya Hyunra polos saat Minho sedang menstarter mobilnya.

Minho menoleh dan smirk mengembang di bibirnya, “Ke tempat yang bisa membuatmu bertemu bintang…” Mobil itu mulai melaju menyusuri jalanan malam kota Seoul menuju suatu tempat.

***

Tempat itu terasa asing bagi Hyunra, namun sangat indah meski sangat sepi. Di pinggir jalan dan juga lapangan rumput yang luas sekali. Hyunra mengerutkan keningnya karena heran, kenapa Minho menghentikan mobilnya? Bukankah ini pinggiran kota?

“Turunlah,” ujar Minho melepas safety beltnya. Hyunra keluar dari mobil dan memandang takjub langit malam bertabur bintang yang sangat jelas terlihat dari sini.

“Ini tempatku dulu saat aku sedang galau dan banyak masalah. Pinggiran kota Seoul yang tidak ramai dan sunyi,” jelas Minho sambil memandu Hyunra. Ia mengajak Hyunra duduk di sebuah batu besar dan mengajaknya menikmati angin malam.

Hening menyergap mereka. Hyunra memejamkan matanya, menikmati sapuan angin dan nyanyian merdu gesekan rumput di telinganya.

Minho menoleh dan tersenyum tipis melihat yeoja itu tengah menikmati tempat ini. Dia terkesiap saat melihat bibir Hyunra sedikit pucat dan bergetar. Dengan inisiatifnya, ia melepas jasnya dan memakaikannya perlahan di bahu Hyunra.

Yeoja itu membuka matanya dan bersamaan dengan itu, air mata meleleh di sudut matanya.

“Gomawo,” bisik Hyunra tersenyum kecut dan kemudian menunduk. Menghapus air matanya yang semakin deras mengalir. “Aku merindukan orang tuaku, maaf.”

Minho tidak berkomentar, ia raih dagu yeoja itu dan mengangkat wajahnya agar dapat menatap kedua matanya langsung. Ibu jarinya menghapus perlahan air mata yang tak hentinya mengalir itu. jarinya menelusuri pipi halus istrinya dan detik itu juga ia merasa beruntung menikahi Hyunra.

Didekatinya wajah cantik itu perlahan, Hyunra memejamkan matanya –mengikuti hati nuraninya.

Chu~

Hyunra merasakan itu. Ciuman hangat di keningnya. Ia membuka matanya dan memandang kedua mata Minho.

“Kau memaafkanku?” tanya lelaki itu. Hyunra mengangguk. “Kau mau berdamai?” Minho menyodorkan kelingkingnya. Hyunra melihati kelingking Minho dan tertawa tanpa suara. Dikaitkannya kelingkingnya dengan kelingking Minho.

“Aku berjanji…”

“Berjanjilah untuk tetap tersenyum saat masalah menghadangmu,” kata Minho penuh nasihat. “Aku tak mau melihat wajah sedihmu. Aku berjanji akan menjadi penjagamu…”

Choose one : TBC or END?

***

Teaser for step 5A – jealous (II)

“Kembalilah pada Key, aku akan membantumu…”
“Aku dan Key, kami sudah kembali.”
“MINHO! Kenapa kau membiarkan istrimu dengan mantannya dan kau dengan… Hyorim?! Sampai kapanpun noona tidak setuju!”
“Kau cemburu?”
“Kau sudah periksa kandunganmu, apakah bermasalah atau tidak? Siapa tahu kau mandul!”
“A-aku… a-aku … bukan istri yang baik untukmu.”
“Aku tak mau punya menantu yang tidak bisa memberikan keturunan untuk keponakanku!”
“Ceraikan dia, secepatnya!”
“T-tidak, pasti ada yang salah!”

What happen with them? It’ll be reveal in the next step! Don’t miss it! :p

@@@

See you in the next step! Don’t miss it o-KEY? :D

31 thoughts on “[STEP 4] The Pain of This Marriage

  1. annyeong, i’m new reader. i like this ff so much. ide ceritanya bagus banget n cara nulisnya jg bgus. jgn lama dilanjutin ya.. oh ya, ff ini ga coba dikirim buat dipublish d wp shiningstory (SF3SI)? kn main castnya SHINee *promote* hehe

  2. wahhh Vania
    mian baru bisa baca sekarang >.<
    Part ini berasa banget sih romantisnya Minho sama Hyunra
    huwaaa ngiri deh jadinya :p
    Akhirnya muncul lagi wanita misteriusnya
    hahhaa
    aku ampe lupa kalo masih ada wanita misterius
    abisnya di part 3b ga disebut2 gtu
    hehehe

    lanjut
    seru nih
    hwaitingg!

  3. annyeong,aq udh bca dri prolog-part yg nhe,tp bru coment d part nhe gG mslh y..
    lanjutin chingu…
    cerita.a mkin seru jha,secepat.a chingu…saya liat tanggal d terbitkan.a ff nhe it tgl 11 desember 2011,skrng jha udh 2012 chingu,,,rasa” sya lama amet y klanjutan.a???
    Please d lanjutinkan part selanjut.a dg waktu yg cepat…

  4. kelanjutan next part to be continue;a manaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ?????? #garak2dinding
    batuh ASAP lanjutan’a thor jebal !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s