[Freelance Chapter] Memories 3 of ?

| CHAPTER 1 |
| CHAPTER 2 |

by

Febe Aninda

Sunny POV

Aaaaa molla aku tidak bisa berkata-kata.

(Author : ngomong ga !!! aku ganti nih perannya… | Sunny eonni : arasseo, tapi jujur loh aku deg-deg an…| Author : yang bikin aja deg-deg serr.. udah buruan annyeong *ngabur ke backstage)

Aku sejujurnya sangat ingin berteriak namun, ini rumah orang, bisa-bisa seluruh kaca pecah hanya karena aku berteriak.

“Sun Kyu –ssi annyeong haseyo..” sapa Sungmin sembari duduk di seberang ku. Omo~ entahlah aku benar-benar tidak fokus untuk makan pagi lagi. Bagaimana bisa makan pagi kalau begini ceritanya.

“An..Annyeonghaseyo Sungmin –ssi..” ucapku dengan agak terbata.

Sungmin POV

Hari ini hari pertama Sunny bekerja padaku, aku amat sangat teramat bahagia bisa bertemu dengannya. Anak kecil yang dahulu pernah mengisi hari-hariku. Dan kini ia sedang meng-explore rumahku dan aku tidak tau dia sudah dimana sekarang.

“Hyung…” bisikku pada Changmin yang sedang asik menonton TV.

“Wae ..?” tanya Changmin namun matanya tidak bergeser sedikitpun dari TV.

“Perlukah aku memajang foto-foto masa kecilku dan juga fotoku dan dia waktu kecil..”

“Hajima (jangan) ! Satu-satunya cara adalah membawanya ke Kang Won-do, hanya itu yang bisa mengembalikan memorinya akan kamu, dan kurasa selama ini dia hanya menganggap mu sebagai idolanya…”ucap Changmin dengan santainya.

“Hyung-ah.. kalau jadwalku tidak padat, malam ini juga kubawa dia ke Kang Won-do juga bisa..” ucapku setengah kesal. Michyesseo (kau gila) Changmin hyung ? Kalau dia langsung kubawa ke Kang Won-do bisa langsung minta putus kontrak denganku.

“Itu masalah gampang, aku ini manager mu…”

“Hyung-ah, jangan se enteng begitu berbicara. Kau memang yang membuat jadwalku tapi bukan berarti kau bisa mengubahnya seenak mu saja, yang terpampang di TV kan aku bukan kamu. “sahutku sembari memeluk bantalku.

JEGREK !

Seseorang membuka pintu kamarku perlahan, ah, paling pelayan atau tukang sepatu yang mau membersihkan dan membetulkan sepatuku.Ddaeng, Sunny masuk ke kamarku.

“O Sunny –ssi …” sapa Changmin hyung, sembari berjalan keluar.

“Sunny-a…” sapaku pelan.

Changmin malah keluar dan meninggalkan kami berdua didalam kamar. Hyung, taukah kamu kalau yang ketiga adalaha evil (Kyu : ih ada aku.. Gomawo Author.. | Author : terpaksa, lagian yang aku maksud bukan kamu .. #berantem d backstage)

“Sungmin –ssi, kerjaan aku apa aja yah ?” tanya Sunny sembari mengeluarkan buku catatannya dengan sigap lalu menatapku dengan mata besarnya.

Sunny POV

Kamar Sungmin benar-benar bersih dan sofanya begitu hangat, entahlah mungkin bekas Changmin jadi anget (Changmin : banyak anak nih ntar .. | Author : aminin aja deh. Udah ah pada bawel, duduk sono anteng-anteng, jangan ganggu..)

Aku sejujurnya tidak sanggup menatap mata Lee Sungmin yang imut itu yang sekarang ada dihadapanku.

“Sungmin –ssi, kerjaan aku apa aja yah ?” tanyaku sembari mengeluarkan buku catatanku.

“Gampang..”ucapnya. “Temani saja kemanapun aku pergi ..”sambungnya dengan senyum manis yang tertera pada wajahnya.

Mendadak otakku bekerja, aku seperti pernah mengenal senyuman ini dan kata-kata ini, aku pernah mendengarnya entah dari siapa aku mendengarnya tapi aku yakin seratus persen tentang ini, aku tidak mungkin salah. Siapa orang yang pernah berbicara ini kepadaku. Mendadak kepalaku agak pusing, sepertinya otakku bekerja.

“Sunny –ssi, neon gwenchanha (kau tidak apa-apa) ??” tanyanya sembari mengibaskan tangannya dihadapanku.

“Aaa.. anio .. gwenchanha (I’m Okay) ..”

Sungmin POV

Sepertinya Sunny mulai sedikit demi sedikit ingin mengingat apa yang pernah ia lakukan bersamaku sebelumnya, aku penasaran kenapa Sunny benar-benar tidak bisa mengingatku sama sekali. Aku pun sudah agak lupa dengan awal pertemuan kita, yang pasti aku hanya ingat dialah The Little GangWon-do Sunny yang aku kenal, tetangga sebelah rumah, yang.. yang.. mamanya meninggal.

“Mwo ?! Eomonim ??” gumamku kaget. Aku baru ingat eomonimnya sudah meninggal.

Lalu apa kabar dengan abeonim, abeonim yang selalu mengajakku mencari jangkrik di malam hari serta memancing setiap hari minggu, appaku dan Sunny ui appa. Aku bangkit dari kasurku sembari menekan tuts nomor 2 di ponselku.

“Yeobuseyo ?” ucap suara dari seberang sana. Nampak lelah.

“Omma…”

“Padahal baru kemarin kau menelpon omma, sekangen itukah kau pada eomonim ?” tanya Eomonim. Aku tertawa sekilas menanggapi eomonim

“Eomma, sepertinya Sun Kyu tidak mengenaliku …” ucapku dengan nada agak kecewa dan sedih.

“Sun Kyu .. jadi kau benar-benar menjadikankannya guard mu ? Kalau eomma disana sudah kuketok kepalamu dengan centong nasi … Dia itu uljjang kesayangan eomma, ara ????”  kali ini suara eomonim meninggi. (Sungmin : eomma, salahin authornya … | Auhor : *pasang muka polos)

“Eomonim… bicara nya pelan dikit…” ucapku memelas.

“Lagian kau ini, bikin saya darah tinggi saja… memangnya kamu mau mengharapkan apa ? Mengharapkan ia mengingat mu ??” tanya eomonim kali ini. Aku mengangguk sekilas dan mungkin eomonim merasakan anggukanku.

“Kau tau, Sungmin.. saat kamu memutuskan untuk ikut appa ke Amerika, dia amat sangat sedih.. dan dia berusaha melupakanmu, namun anak umur 7 tahun tidak tau bagaimana cara terbaik melupakan seseorang…”

“Lalu ??” tanyaku penasaran.

“Dia kecelakaan Sungmin-a…” kini eomma berbicara dengan nada terisak. Eomonim memang amat sangat sayang kepada Sunny.

“Mwo ?? Jeongmal (yang benar saja) ?? eotteohkke (bagaimana bisa) ?? kapan ??” tanyaku memburu.

Author’s POV (dream)

Langkah kaki anak itu masih nampak labil dan mulai menaiki anak tangga satu demi satu, dengan permen lolipop yang ada ditangannya, anak kecil itu mulai menaiki tangga dengan hati-hati. Rambutnya yang kecoklatan dibiarkannya terurai, dengan rok kombinasi hitam dan renda putih ia masih tampak manis. Sementara itu dilantai 2, seorang anak laki-laki yang nampak lebih tua darinya berdiri menatap keluar jendela, memandangi para tamu yang mulai datang dan pergi.

“Oppa…” panggil si anak perempuan kecil itu.

Anak lelaki itu berbalik, begitu melihat senyum si anak kecil itu, ia langsung menghambur dan memeluk anak kecil berusia 4 tahun itu. Si anak perempuan masih nampa terdiam sembari menjilat lolipopnya.

“Oppa waegurae…?” tanya anak perempuan itu polos.

“Neon .. bisa-bisanya … kau tetap tersenyum disaat seperti ini…”

“Loh kan eomma akan kembali lagi…”

“ANIO !!! Kau tau !! Eomonimmu tidak akan kembali, dia pergi selamanya !!” pekik anak lelaku itu keras, dan agak menyentak anak perempuan kecil itu. Lolipopnya jatuh.

“EOMMAAAAAAAAA !!!! Aku mau eomma !!! Aku mau eomma !!!!” rengek si anak perempuan itu.

“Ya… stop menangis.. ini tidak akan mengembalikan eomonim mu …”

“Oppa .. neon jinjja nabbeun oppa (kau oppa yang jahat).. eomonim itu pasti akan kembali…” isaknya.

Anak lelaki itu bangkit dan kembali memeluk anak perempuan itu dan mengecup keningnya. “Ikut aku .. mianhae.. aku telah membuatmu menangis…aku tidak akan mengulanginya lagi..”

“Kemana ??”

 

Sunny POV

Mimpi semalam seperti déjà vu bagiku. Aku tidak tau apa mimpi semalam, yang ia tau hanya anak perempuan kecil itu adalah dirinya, lalu siapa anak lelaki itu, aku tau yang meninggal adalah eomma ku, lalu kemana ia membawaku pergi. Andaikan aku bisa tidur lebih lama aku akan kembali melanjutkan mimpiku, entah lewat imajinasiku sendiri atau kembali mimpi itu datang sendiri.

Kemarin Changmin oppa baru saja memberikan ku satu stel cardigan beserta inner dan juga sepasang pump shoes berwarna krem, dan aku harus pakai itu.

Drrtt..drrtt..drrtt

“Hyoyeon –a.. museun mal-iya ??”

“Chukae !!! Akhirnya kau bisa makin dekat dengan Lee Sungmin itu ….”

“Wae ??” tanyaku lagi. Kenapa semua orang yang kenal denganku dari kecil nampak sangat senang kalau aku bisa kembali bersatu dan kembali dekat dengan Sungmin oppa. Isanghaeda.

“Gokjonghajima (jangan kuatir)…akan ada banyak yang kamu akan tau disana..”

“Aku tidak mengerti …” ucapku lalu menutup ponselku dengan kesal. Apa-apaan ini ?

Belum lama aku memasukkan ponselku kini ponselku kembali bergetar, kali ini agak pelan pertanda ada sms yang masuk.

Sungmin Lee –

Hari ini aku mau ke Gangwon-do… siapkan baju, aku akan membawamu juga kesana…

Sungmin –

“Mwo ??? Gangwon-do…? Ngapain dia kesana ? Dan sejak kapan ia tau kalau aku tinggal disana …”gumamku dengan penasaran. Gangwon-do, apa ia juga dari sana.

Tiba-tiba sakit kepala itu kembali menyerang, sakit  nyeri yang amat sangat luar biasa, sepertinya otakku sedang bekerja dan berusaha mengingat sesuatu. Tempat sakitnya persis ditempat aku pernah kecelakaan dahulu. Ada apa ini ? Sekarang baru tanggal 5 dan aku akan check-up di tanggal 15 namun kenapa kepalaku sakit begini.

Aku mengesent sesuatu pada ponselku ke Sungmin dan berusaha membuka mataku yang mulai agak berkunang-kunang. Aku keluar dari rumah kontrakanku sembari menenteng tasku.

To Be Continue

6 thoughts on “[Freelance Chapter] Memories 3 of ?

  1. FF nya bagus! Lanjutin! Akukan sunsun shipper! (?) sebenarnya aku sedang mencari inspiras ff yang normal gitu (Pimpinan di bidang YURI) __(n_n)__

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s