[TWOSHOOT] She Belongs With Me Beacuse of Her (1.2)

Title       : She Belongs With Me Because of Her

Author  : Reene Reene Pott

Main cast : Choi Minho, Han Min Gi

Supporter Cast : cari sendiri, sama kok kayak yang di Go away…

Rating : Teenage

Genre : Romance

Length : Twoshoot

A/N : Hiyaaaaa!!!! Ini dia sequel dari Go Away!! Uyeeaaaahhh… Ada yang menunggu? Ayolah, pasti ada dong.. *reader: kaga tuh* Ya suda, dari pada dengerin curhatan ga jelas dari author mendingan langsung baca aja… happy reading…

Min Gi POV

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa apertemen. Ini bukan apertemenku, melainkan apertemen Son Hee eonni yang sudah pergi genap 1,5 bulan yang lalu. Ya, aku diminta oleh eommanya Son Hee eonni, jadi aku tinggal di sini saja. Bagaimana aku bisa tahu Son Hee eonni? Tentu saja karena dia adalah kakak sepupuku yang sangat dekat denganku. Tapi, mengapa marga kami berbeda? Yah, jadi ceritanya appanya Son Hee eonni memiliki yeodongsaeng yang merupakan eommaku. Eommaku menikah dengan appaku yang bermarga Han, jadilah aku bermarga Han…

Ya, aku masih mahasiswa tingkat akhir. Usiaku dan Son Hee eonni hanya terpaut 4 tahun, dan kami sering bersama yang menyebabkan kami begitu dekat. Meski aku begitu dekat dengannya beberapa waktu terakhir ini kami sangat jarang berkomunikasi, mengingat eonni masih harus berperang batin setelah pulang ke Seoul terhadap ex-namjachingunya. Memang mustahil untuk dipercaya, mengingat Son Hee eonni adalah orang yang teguh, berpendirian kuat dan sangat bertanggung jawab, namun hatinya sudah terluka terlalu dalam. Itu menjadikannya kaku seperti robot dalam beberapa kondisi.

Aku bisa merasakan lubang menganga besar di hatinya ketika namja tak berperikemanusiaan itu mengatakan kata-kata yang menyakitkan sebelum ia boarding pass. Sesampainya di Paris, kalian tahu, ia seperti mayat. Kulitnya pucat dan dingin. Matanya sembab. Pasti ia menangis habis-habisan di pesawat. Ulah siapa? Namja babo itu. Waktu ia datang ke Paris kebetulan aku juga sedang di sana, liburan kelulusan SMA. Beberapa hari setelah itu aku kembali ke Daegu. Aku tinggal di rumahku sampai eonni kembali dan beberapa minggu setelah itu kecelakaan tragis menimpanya.

Kalian tahu, aku tak akan pernah memaafkan namja yang bernama Choi Minho itu. Aku pernah menemuinya saat pemakaman. Saat itu aku membatin, Son Hee eonni, seleramu terlalu tinggi. Ya, kalian pasti tahu, Choi Minho itu namja yang tampan. Tubuhnya tinggi, matanya besar dan wajahnya sempurna. Aku juga heran bagaimana eonniku itu bisa jatuh cinta dengannya, apakah karena wajahnya? Saat itu, kuingat ia memegang sebuah buku bersampul cokelat. Ia membaca buku itu sambil menangis. Cih, memangnya Minho bisa menangis? Aku baru tahu. Waktu itu tanpa sengaja aku menabraknya. Hah, aku lupa aku mengatakan apa padanya, pikiranku sedang kalut saat itu.

Aku mengerang pelan. Lalu masuk ke dalam kamar Son Hee eonni. Berantakan. Pasti waktu itu ia bangun kesiangan. Lihat, sprei masih kusut, selimut belum ditata, bantal ada di ujung kanan sedangkan guling di ujung kiri. Handuknya masih menggantung di kursi depan meja rias, lemari belum ditutup, dan komik Naruto bertebaran di mejanya. Novel Harry Potter and The Goblet of Fire tebuka di tengah di atas tumpukan komik itu, beberapa map masih ada di atas ranjangnya.

Aku membereskan map-map, komik-komik dan novel lalu menaruhnya di rak yang ada di samping lemari. Selimutnya kulipat, bantal dan guling kutaruh ditempat yang seharusnya, dan handuknya kugantung. Sudut mataku menangkap computer yang ada di mejanya. Kondisinya mati. Ya, dia memang sangat jarang menyentuh computer kecuali masalah pekerjaan. Aku memandang keseluruhan kamar itu, lalu menutup pintunya. Lebih baik malam ini aku tidur di kamar yang satunya saja.

Aku membuka kamar itu, ugh, berdebu. Terbukti kamar ini tidak pernah dibuka karena penghuninya hanya satu. Kamar ini memang lebih sempit, hanya ada sebuah single bed, lemari kecil dan sebuah meja. Aku menyibakan tirainya, dan membuka jendelanya. Sinar matahari sore menyeruak memasuki kamar itu. Aku melepas sprei, sarung bantal-guling,  serta selimutnya untuk di cuci.

Aku melangkah ke dapur, mencari sapu dan pel, lalu bergerak ke samping untuk memasukkan cucian ke dalam mesin cuci. Aku membersihkan kamar itu, lalu mencari sprei cadangan di lemari Son Hee eonni. Setelah mendapatkannya, kupasang di single bed itu. Ruangan kecil itu kini kesannya lebih bersih dan hidup. Aku menghirup napas sejenak sebelum kembali ke dapur untuk memasak makan malam bagi diriku sendiri.

Aku membuka kulkas. Meski tinggal sendiri, kulkasnya sangat penuh. Aku memilih membuat mi ramen yang praktis, kalau sendiri aku malas memasak yang susah-susah. Baru aku mau menyalakan kompor, seseorang memencet bel.

Ting tong…

Aku merenyit. Siapa yang datang ya? Apa eomma? Entahlah, yang penting kubuka dulu saja pintunya. Aku berlari kecil untuk meraih gagang pintu.

Cklek…

“Annyeonghaseyo…” sapa Nah Ra eonni. Tampak ada beberapa namja berdiri di sebelahnya. Aku kembali merenyit.

“Annyeong eonni, nugu?” tanyaku. Nah Ra eonni hanya tersenyum tipis.

“Mereka rekan kerja Son Hee,” jawabnya pelan. Kemana semangat hidup Nah Ra eonni? Kenapa ia tampak lesu seperti ini?

“Oh, ayo masuk,” kataku mempersilahkan mereka. “Eonni, apa kau masih bersedih? Eonni jangan sedih terus, kalo Son Hee eonni tahu dia pasti juga sedih di sana,” kataku spontan. Yah, aku memang cerewet. Nah Ra eonni hanya tersenyum.

“Aniya. Eonni hanya kecapekan beberapa hari ini,” katanya menenangkanku.

“Jagiya, jangan memaksakan diri,” kata seorang namja merangkul pundak Nah Ra eonni.

“Ini namjachingu eonni?” tanyaku. Nah Ra eonni hanya mengangguk. Namja tadi tampak terkejut.

“Hyun Jae imnida,” katanya buru-buru. “Ini Jae Jin,” katanya lagi sambil menunjuk namja yang lainnya. Aku mengangguk mengerti. Namun tiba-tiba seseorang kembali membunyikan bel. Aku segera melangkah membuka pintu.

Cklek…

Aku mematung. “Neo?” hanya itu yang dapat kuucapkan. Kenapa namja itu ada di sini? Masih beranikah dia? Apa tidak cukup baginya menyakiti Son Hee eonni?

“Annyeong,” sapanya. “Boleh aku ikut bergabung?” tanyanya, lalu tersenyum.

Deg…

Andwae, Min Gi, jangan terjebak lagi. Kau sudah tahu apa yang telah dilakukannya pada Son Hee eonni, karena itu jangan terpikat olehnya. Aku mendongak membalas menatapnya.

“Kau masih berani datang kesini?” jawabku sinis.

“Nah Ra yang mengundangku,” jawabnya santai lalu melenggang masuk ke dalam apertemen. Namja ini, jangan mentang-mentang ia lebih tua atau dia yang paling… agh..

“Hei, sebenarnya siapa tuan rumah di sini? Jangan sembarangan masuk,” tegurku dingin. Minho hanya melirikku sekilas lalu duduk di sofa. Terpaksa aku pun menutup pintu dan kembali ke meja makan.

“Tak apalah, Min Gi-yah, kau tahu, ia sangat kesepian,” kata Nah Ra eonni.

“Bukankah ia memiliki adik?” tanyaku menyelidik. Nah Ra eonni hanya memutarkan kedua matanya.

“Ne, tapi adiknya sedang di pedekate,” jawab Nah Ra eonni menatap namja yang bernama Jae Jin itu. Seketika wajah namja itu berubah menjadi merah semerah tomat. Aku mendesah keras.

“Ne, baiklah, kau, Choi Minho, kau boleh bergabung dengan kami,” kataku agak keras. Namja itu—ya ya, kutahu namanya Minho—langsung tersenyum sumringah dan bergabung di meja makan. Aku hanya menatapnya sebal. Bagaimana tidak? Dia duduk tepat disebelahku!

“Jadi, kita makan apa?” tanyanya polos. Aku memiringkan kepalaku. Aku jadi tidak yakin ada namja berumur 28 tahun yang bisa sepolos ini.

“Aku belum masak, pabo,” jawabku. Ia nampak terkejut.

“Jadi kita masak bersama nih?” lanjutnya.

“Ehm, Min Gi-ssi, tiba-tiba aku ada urusan, aku pulang duluan yah,” namja yang bernama Jae Jin itu beranjak keluar. “Gamsahamnida,” katanya sebelum menutup pintu. Aku hanya bengong.

“Jagi… katanya mau main?” tiba-tiba Hyun Jae… sunbae—aku bingung harus memanggilnya apa—menarik-narik tangan Nah Ra eonni. Persis anak kecil.

“Nee… ayo kita pergi,” jawab Nah Ra eonni menyetujui. Loh… loh?? “Min Gi-yah, eonni pergi dulu, kalian yang rukun-rukun yah..” katanya lalu beranjak pergi dengan Hyun Jae sunbae. Jadi di sini hanya ada kami berdua sekarang. Aku dan Minho. Sungguh menyebalkan.

“Kau mau masak apa?” Tanya mahkluk menyebalkan ini—Minho, maksudku—sambil melihat-lihat isi kulkas. “Bagaimana dengan kimchi soup saja?” lanjutnya.

“Haaah, terserah kau sajalah,” jawabku.

Author POV

Minho tak bisa berhenti tersenyum melihat Min Gi mendumel beberapa kali ketika mereka memasak bersama. Ya, ada yang aneh menurut Minho. Ia selalu ingin di dekat yeoja itu, membuatnya sebal, yang juga membuatnya berdebar untuk kedua kalinya. Ya, kedua kalinya setelah Son Hee.

“Ya! Kau taruh dimana bubuk cabe itu? Aissh, jangan taruh kembali ke lemari! Aku masih membutuhkannya!” pekik Min Gi pada Minho dengan tangan berkacak pinggang. Matanya menatap sebal ke arah Minho. Minho hanya terkekeh.

“Tidak kukembalikan kok, nih,” jawabnya enteng sambil memberikan sebotol bubuk cabe ke tangan Min Gi. Ia terus menerus menatap punggung Min Gi yang sedang memasak. Senyum lebar terukir di bibirnya.

“Tada, sudah jadi,” seru Min Gi sambil meletakkkan panic kecil berisi sup kimchi ke atas meja, membuat Minho tersadar dari lamunannya. Ia mengambil sendok dan mencicipi sup itu.

“Hmm… massita,” gumamnya. Lalu menyendok lagi.

“Ya! Kau ini, cuci tangan dulu!” sergah Min Gi. Minho mendumel dalam hati, kenapa yeoja itu persis eommanya? Namun akhirnya ia beranjak ke wastafel juga dan mencuci tangannya. Min Gi melepas celemeknya dan menyiapkan nasi untuk mereka berdua.

“Min Gi-yah, kenapa nasiku sedikit sekali?” protes Minho setelah kembali dari wastafel. Min Gi meliriknya tajam.

“Ya! Ini sudah banyak tahu!” balasnya.

“Tapi kurang banyak untukku,” balas Minho lagi.

“Haahh, ya sudah, kalau kurang silahkan tambah sendiri!” dengus Min Gi dan mulai melahap makanannya.

Mereka makan dalam diam. Tak ada yang berani membuka pembicaraan, yang terdengar hanyalah denting garpu dan gelas. Setelah selesai makan, Minho membantu Min Gi mencuci piring. Awalnya Min Gi menolak, namun ia di paksa Minho jadi mau-tak mau mereka mencuci piring berdua. Min Gi berusaha sesantai mungkin, karena dengan jarak sedekat itu ia bisa mencium bau parfum Minho, dan beberapa kali tangannya dan tangan Minho bersentuhan. Ia tak bisa meredakan debaran jantungnya sendiri, ia jadi mulai berpikir, apakah ini yang dirasakan Son Hee? Apakah Son Hee yang menghendaki agar hal ini terjadi?

“Hei, cuciannya sudah selesai tuh,” suara berat Minho manyadarkan Min Gi dari lamunannya.

“Oh, yeah, eh, gomawo,” jawabnya kikuk.

“Haaah… aku bosan,” kata Minho. Ia berjalan menuju sofa dan menghidupkan televisi. “Hei! Filmnya bagus nih! Ayo sini!” seru Minho, menepuk-nepukkan sofa di sebelahnya, menyuruh Min Gi duduk di situ. Kebetulan Min Gi juga suka film itu, jadi tanpa ragu ia duduk di samping Minho. Seekor naga berwarna biru safir muncul di layar.

“Eragon? Hoaaa… aku suka film ini!” gumam Min Gi. Matanya terus memperhatikan film yang ditontonnya.

“Hah? Naganya Shade kok aneh gitu? Ih, jelek banget,” celetuk Min Gi. Tiba-tiba ia merasakan pundaknya memberat dan desah nafas pelan menerpa lehernya. Ia menoleh seketika, dan kedua matanya langsung membulat mendapati Minho tertidur di pundaknya. Ia celingukan, bingung harus melakukan apa, namun ia tak mau terus menerus dalam kondisi seperti itu, jantungnya berdebar keras membuat ia tak bisa tenang. Ia memandangi wajah close up Minho yang sedang tidur. Sontak wajahnya memerah.

“Aigoo, kenapa aku ini?’ gumamnya. Akhirnya ia memindahkan kepala Minho dari pundaknya dan menidurkannya di sofa. Ia ingin membangunkannya, namun, ia tak tega melihat wajah Minho yang sepertinya kecapekan *author: gitu doang capek?*. ia beranjak ke kamar Son Hee, mengambil selimut dan menyelimuti Minho yang tengah tertidur. Lalu ia melirik jam “Woah, sudah jam segini rupanya,”

Akhirnya Min Gi pun mematikan televisi dan masuk ke kamarnya.

Minho POV

Aku merasakan ada yang menyenggol-nyenggol lenganku.

“Minho-ssi, ireona,” kata sebuah suara. Tanganku terus disenggol-senggol. Aku perlahan membuka kedua mataku yang masih berat. “Jadi semalaman kau menginap di sini? Aigoo,” lanjut suara yeoja itu. “Lebih baik kau cepat pulang sebelum keluargamu mencarimu,” katanya lagi lalu berjalan meninggalkanku.

Han Min Gi. Yeoja yang pernah menyindirku. Memangnya aku tidak ingat? Dia yang mengatakan hal-hal sinis sewaktu aku pulang dari pemakaman Son Hee. Aku baru mengetahui namanya kemarin karena Nah Ra baru menceritakanya padaku kemarin. Namun entah kenapa, aku merasa nyaman dengan yeoja ini. Apakah Son Hee mengirimkannya untukku? Atau karena ia kerabat Son Hee? Aiisssh.. aku sama sekali tak bisa menyingkirkan Son Hee dari pikiranku. Apalagi saat ia koma di rumah sakit. Hatiku hancur. Di sini sakit sekali, bertambah sakit, sakit dan semakin sakit.

Aku ingin meraung, namun aku tak bisa. Ingin menangis, namun air mataku tak kunjung keluar. Aku ingin melampiaskan rasa sakitku itu namun aku bingung harus bagaimana. Dekat dengan Min Gi seperti penyejuk. Aku dapat melupakan masalah-masalahku sejenak.

Dan juga berdebar. Ya, berdebar untuk kedua kalinya. Aku mendudukkan diri di sofa sambil mengucek-ucek mataku, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.

“Minho-ssi, apa kau bawa mobil?” suaranya mengagetkanku.

“Ne, memang kenapa?”

“Kau sarapan dulu. Setelah itu pulanglah, kau sudah semalaman di apartemenku,” lanjutnya tanpa menatapku. Hei, bukankah dia lebih muda dariku? Harusnya dia memanggilku oppa kan? Tapi, sepertinya dia tak akan melakukan hal itu.

“Ne,” jawabku menurut. Ya, semalaman aku tidak pulang. Rumahku kosong, Hara sudah pindah ke rumah Wooyoung. Lina juga dibawanya. Rumahku sepi, Sulli ada di rumah appa. Masa aku mau tinggal di rumah sebesar itu sendiri? Ah, sudahlah. Mungkin dia juga belum terlalu menerimaku sebagai chingunya.

Selesai sarapan kulihat ia sudah bersiap-siap ke kampus. Omo, kenapa ia jadi begitu cantik? Yah, walaupun ia tidak mengenakan higheels atau dress, ia tetap cantik.

“Minho-ssi? Wae?” tanyanya bingung. Aku menyadarkan diri dari lamunanku lalu menatapnya.

“Boleh kuantar?’ tawarku.

“Ani, tidak usah. Aku bisa naik bus,” tolaknya. Ayolah, sekali-kali aku ingin lihat kampusmu.

“Ah, sudahlah kuantar saja, lagian sebagai tanda terimakasih untuk makan malam kemarin—“  kurasa itu kurang masuk akal, ”—dan segalanya hingga sarapan,” jawabku lancar. Ia tampak berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk. Aku tersenyum senang padanya. “Kkaja,”

Aku terus menerus melirik yeoja disampingku ini. Haaah, mungkin ia sedikit benci, akh, tidak, sangat benci terhadapku. Aku tak bisa menyalahkannya. Ia terus menatap ke luar jendela. Suasananya jadi begitu canggung, aku tidak suka.

“Min Gi-ssi,” sapaku. Ia menoleh.

“Wae?”

“Hmm.. kampusmu dimana? Aku tidak tahu,” kataku polos. Pabo!!!

“Oh. Di Konkuk. Kau tahu tempatnya?” ia berbalik menanyaiku. Aku tersenyum tipis.

“Dulu aku kuliah juga disitu,” jawabku. Ia hanya membulatkan bibirnya lalu kembali memandang keluar jendela. “Sudah sampai,” kataku menyadarkannya dri lamunannya. Ia tersentak.

“Oh, gomawo,” katanya. Secepat kilat ia membuka pintu, namun kutahan tangannya.

“Boleh kujemput lagi?” tanyaku berharap.

“Andwae,” jawabnya cepat. “Maksudku, aku bisa pulang sendiri. Eum, tolong jangan jemput aku. Aku tidak mau merepotkanmu,” katanya mencari alasan. “Lagipula, kau harus bekerja,” sambungnya lagi.

“Aku tidak repot samasekali,” tukasku penuh harap.

“Mianhae,” jawabnya melepas genggamanku lalu pergi menjauh. Sesulit itukah kau untuk menerimaku?

Min Gi POV

Apa sih maksudnya? Jangan bilang ia ingin mendekatiku. Andwae, kami hanya cukup saling mengenal saja. Aku tak ingin lebih. Karena, jujur saja, aku bersamanya sama seperti mengkhianati Son Hee eonni. Apa yang harus kulakukan?

Aku melangkah memasuki gedung fakultasku.baru berjalan beberapa langkah, aku sudah dikejutkan oleh kedatangan teman-temanku yang tidak tahu waktu dan tempat.

“DUAARRR”

“ASTAGA!” pekikku. Lalu menoleh ke belakang. Wajahku langsung berubah kesal mendapati Sooyoung dan Sunny yang sedang nyengir kuda. “kalian memang tak pernah berubah,” dengusku cemberut. Sooyoung menyikutku.

“Ya! Begitu saja sudah marah. Lagipula, tidak bagus pagi-pagi dengan wajah ditekuk gitu,” katanya. Aku masih mengerucutkan bibirku.

“Ya! Kau sudah tak pantas untuk cemberut seperti itu pabo! Usiamu sudah 24 tahun!” celoteh Sunny.

“Ne, ne, terserah kalian deh,” jawabku akhirnya.

“Min Gi-yah, tadi aku lihat kau diantar seseorang,” celetuk Sunny tiba-tiba.

Deg…

“Darimana kau tahu?”

“Aku tak sengaja melihatmu turun dari sebuah mobil,” jawabnya entang. “Siapa yang mengantarmu?”

“A.. Aniya,” jawabku tergagap.

“Jangan pernah membantah, Han Min Gi, karena aku melihat siapa namja itu,” ancam Sooyoung. Aku mendelik.

“Kau tahu? Aigoo, Sooyoungie,”

“Dia si Choi Minho itu, kan?” lanjutnya penuh kemenangan. “Jadi kenapa kau bisa diantar olehnya? Kau harus menceritakan hal ini kepada kami, Han Min Gi, atau kami akan mencekikmu,”

“Ne, dan sekarang kau harus kami sidang,” ucap Sunny sambil menyeretku memasuki kantin sekolah.

“Ya! Ini terlalu ramai Sunny!” pekikku tertahan. Hampir seluruh siswa mengisi setiap meja. “Bisakah kita bicara ditempat lain?”

“Err.. Geurae. Kita ke atap,” balas Sunny singkat. Sooyoung menarikku lagi. Aigoo, kedua temanku ini… ckckck.

“Jadi, ceritakan secara detail,” tuding Sooyoung langsung setelah kami bertiga telah sampai di atap sekolah. “Ya! Han Min Gi! Kau tahu siapa yang telah mengantarmu? Choi Minho! Direktur perusahaan Choi’s Line!! Aigoo, dia adalah idola para remaja perempuan! Bahkan yang berusia sepantaran kita!”

Aku memutar kedua bola mataku. “Aku dan dia hanya berteman, oke?”

“Kau tahu, kisahnya dengan mantan pacarnya terungkap jelas di seluruh tabloid, bagaimana ia dinikahkan secara paksa, lalu mengadopsi anak, dan segala macam, sampai pacar lamanya yang meninggal..”

“Cukup!” pekikku. “Aku tak mau mendengar hal-hal menyakitkan tentang Son Hee eonni. Dia sudah cukup tertekan,”

“Mwo? Kau mengenal mantan pacar Choi Minho?” Tanya Sunny. Aku menatapnya tajam.

“Aku adik sepupunya,” kataku sambil menekankan telapak tanganku di dada dan menekan setiap kata. “Dan aku lihat sendiri bagaimana kondisinya 4 tahun lalu,”

“Jinja, aku tak menyangka,” desah Sooyoung perlahan. Sunny melongo.

“Kau tak pernah menceritakannya pada kami?” Tanya Sunny marah.

“Tentu saja! Aku takut, kalian berpikir macam-macam tentang eonniku sewaktu kalian memuja-muja Choi Minho bagai dewa,” balasku. Sunny ngenyir kuda. “Yah pokoknya, ceritanya tadi malam dia dan teman-teman Son Hee eonni makan malam di apertemenku, pada awalnya, namun karena pada sibuk semua jadi hanya tinggal aku dan si Minho,” ceritaku singkat. “Lalu ia ketiduran ketika sedang nonton film di sofa ruang tamu. Ya sudah, kubiarkan saja, toh besok paginya dia juga pulang,” .

“Jincayo, beruntung sekali kau Min Gi! Aku iri!” pekik Sunny.

“Aniyo, kalau kau sudah pernah bertemu denganya kau akan  menyesal. Dia menyebalkan,”

“Jincha? Ayolah Min Gi, apakah ia baik? Pengertian padamu? Akrab?”

“Sudah kubilang ia menyebalkan. Kalian masih tidak mengerti?”

“Ya! Min Gi! Teganya kau menjelek-jelekkan bias kami,” ucap Sooyoung tidak terima.

“Aku tak peduli, karena sekarang aku sedang mencari lowongan pekerjaan,” jawabku sambil beranjak dari situ.

“Mwo? Lowongan pekerjaan?” Tanya Sunny.

“Setelah lulus nanti aku tak mungkin menjadi pengangguran, kan?” tanyaku. “Lagipula, skripsiku hampir jadi,” lanjutku.

“Memangnya kau mau mencari pekerjaan yang seperti apa?” Tanya Sooyoung. Aku meliriknya sementara kakiku terus melangkah menuruni tangga.

“Yang sesuai dengan bakatku,” jawabku singkat.

“Contohnya?”

“Mungkin, asisten perancang busana? Aku dan eonniku tak beda jauh soal bakat,” jawabku.

“Memang eonnimu bekerja sebagai apa?”

“Dia seorang perancang logo, atau tepatnya, desain grafis,” jawabku lalu mengambil ponsel dari dalam tas yang kubawa. “Minta lagu,”

“Lagu apa?” Tanya Sooyoung yang juga sudah menyiapkan ponselnya.

“Westlife,” jawabku singkat. “Yang apa aja deh,”

“Tapi kan kau sudah punya semuanya, Han Min Gi,” ujar Sooyoung heran. “Kalo mau, nih lagunya Avril Lavinge, keren juga kok! Hitung-hitung naikin mood kamu,”

“Ya sudah deh,” kataku lalu menekan tombol ‘Yes’ ketika tampilan sambungan Bluetooth muncul di layar ponselku. Sambil menunggu, kami bertiga berjalan perlahan menuju kelas.

TBC

Ada yang agak gak nyambung?? Yaa.. soalnya ini adalah Sequel dari Go Away. Mending baca itu dulu baru baca ini deh.. ehehehehe…

Yang udah baca, Komen yah!! Gomawoo.. XDD

6 thoughts on “[TWOSHOOT] She Belongs With Me Beacuse of Her (1.2)

  1. annyeong..maaf langsung baca ini..aku penasaran..hehe..
    Tp ff ini jg ngejelasin ttg hubungan minho n son hee sblmnya..jd aku ngerti..
    Aku suka karakter mingi..
    Ff ini jg menarik..^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s