When The Rain Falls 2

Author  : Park Minhyun

Cast       :

Jung Nara

Choi Minho

Lee Donghae

Genre   : Sad,Romance,Fantasy(?)AU,Mix

Length  : twoshoot

Rating   : G

NB          : This my own plot..Mian kalo typo,apalah,gaje..

Namanya juga manusia kan…ayo donk RCL gitu…T.T

Saya sukanya menghilang trus balik lagi,mirip kunti ya?

#sepakauthor

Yaudah ah,durasi nih..ayo..ayo..ayo(Indonesia Bisa(?))

Happy Reading!

^.^

***

Karena aku telah berjanji…
Berkali-kali aku mencoba untuk tidak menangis. Tapi kali ini…bayangan itu hadir lagi. Mencoba menantang perasaan ini. Namun aku tidak bisa. Sampai hujan reda,aku yakin. Setidaknya sampai hujan reda,perasaan ini hilang. Untuk yang terakhir kali Aku mencoba bertahan. Menangkis segala perasaan sakit yang aku rasakan. Setidaknya untuk kali ini.
***
“Baiklah,kita akhiri rapat siang ini. Gamshahamida untuk partisipasinya. Selamat siang…”Aku merapikan berkas-berkas dan map yang berserakan di depanku. Semua orang beserta investor-investor keluar dari ruang rapat. Rapat kali ini berlangsung sangat sukses. Menyenangkan sekali.
“Kau hebat Nara-ah…”
‘deg!’
Ini lagi! Suara itu! Argh!
“Aish!”Kulempar map-map yang sudah kubereskan tadi. Kulihat sekelilingku,tinggal Donghae yang menatapku khawatir. Cih…apalagi ini..
“Gwaenchanayo Direktur?”Donghae mengambilkan map-map yang berserakan dibawahku. Aku hampir gila! Ini tidak mungkin. Bukan! Justru sangat tidak mungkin.
“Jujur saja padaku Donghae-sshi…apa motifmu bekerja disini.”Aku menatap Donghae sinis. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku. Aigoo…apa dia berpura-pura? Sebenarnya siapa dia sih?
“Aku..motif? Sungguh motifku hanya ingin bekerja disini Direktur… Apa ada yang salah? Apa aku membuatmu tak nyaman? Aku sangat tidak mengerti apa yang terjadi padamu Direktur karena aku?”Donghae meletakan map yang telah ia ambil tadi,”aku rasa ada yang salah denganmu Direktur. Aku pamit..”Donghae menunduk 90 derajat lalu berlalu meninggalkanku.
Aku yang salah?
Ani. Aku yakin suara itu dari Donghae. Tapi…tapi…
Itu bukan suara Donghae. Aku yakin…apa itu? Tuhan…aku benar-benar gila sekarang.
***
Inilah tempatku. Beranda apartemen. Dipojok sini terdapat sebuah ayunan. Rintik hujan mulai turun. Aku tetap disini. Duduk di sebuah ayunan putih menatap lurus gumpalan awan yang menghitam. Hujan turun semakin deras,aku belum beranjak.
“Tuhan! Apakah salahku!”Aku berteriak sangat keras. Kenapa hal ini terulang lagi. Dia…dia…
Aku akan tetap menanti sampai hujan reda. Tapi ia datang dengan cara yang tak aku suka. Apa yang terjadi selama tujuh tahun ini? Aku tahu bahwa ia pergi. Aku yakin ia akan kembali. Bukan,bukan itu yang ku minta. Aku ingin dia…
Benar-benar datang…
“Argh!”Kulemparkan vas bunga di sampingku. Dingin…hujan itu dingin…
-Nara POV_end-
***
“Bagaimana Uisa,apakah ia masih sering check ke rumah sakit?”
“Untuk 5 bulan terakhir sudah tidak. Saya rasa ia sudah bisa dinyatakan sembuh total. Tak ada sesuatu yang mengganggunya bukan?”seorang namja berjas putih dengan kacamatanya mengamati sebuah map ditangannya,
“Iya. Saya rasa begitu. Tapi boleh saya tahu?”tanya seorang yeoja paruh baya,
“ne,silahkan..”
“Secara psikologis…apakah hal yang dialaminya bisa terjadi pada siapapun?”
“Ah..untuk itu. Kasus ini bisa dibilang tidak logis. Karena di dunia psikologi,hal ini tak bisa terjadi dalam waktu jangka panjang. 13 tahun adalah waktu yang sangat panjang bahkan bisa dibilang ini suatu penyakit jiwa. Tapi anehnya,jiwanya baik-baik saja. Jadi mohon pengertiannya,Nyonya. Mungkin ia pernah mengalami suatu trauma atau stress berat.”dokter itu beranjak dari duduknya,”Mohon pantau dia. Karena mungkin saja penyakit itu kembali lagi.”
“Terimakasih Uisa-nim..”
“Ne. Saya pamit dulu..”
“Ne,gamsahahamida…”
***
“Direktur,kau tampak demam. Apakah anda benar baik-baik saja?”Donghae yang sedang menjemput Nara di depan apartemenya terbingung-bingung dengan tampilan Nara yang sebelumnya elegan menjadi berantakan,”Aku baik-baik saja. Aku naik mobil sendiri..”Nara berjalan menuju mobilnya,namun tiba-tiba ia terjatuh
“Direktur-nim…anda sedang sakit..lebih baik anda istirahat untuk hari ini.”Donghae membantu Nara berdiri,”Aku bisa sendiri!”Nara memaksa berdiri dan seketika Nara terjatuh pingsan.
“Direktur!”
***
-Nara POV-
Aku sedang berada di tempat masa kecilku. Tempat favoritku dulu. Ah! Itu pohon Ek ku!
Aku berlari ,ini dia…
N-a-r-a dan M-i-n-h-o ukiran ini masih ada…tak terhapuskan…
“Nara-ah…”aku menengok,mendapati Minho Oppa melambai padaku. Aku tersenyum lalu menghampirinya,”Oppa! Bogoshipoyo!”
“Nado..Nara-ah…”Minho oppa menarik daguku mendekat padanya,”Kau masih mencintaiku bukan?”jarak antara kami hanya tinggal 5 cm lagi,”Tentu saja Minho Oppa…Jeongmal saranghae…”
Jantungku berdegup kencang. Tak berselang lama,bibir kami pun bertemu. Lembut,manis,entah apa yang kurasakan sekarang. Yang jelas sangat sangat senang. Aku membalas ciumannya.
“Nara-ah…”
“Wae?”
“Kau jangan menungguku lagi…”
“Wae Oppa?”
“Karena aku akan selalu disisimu..”
“Gotjimal…Oppa pergi dariku begitu saja..ani,Oppa tak mungkin disisiku secepat ini”
“Aniyo Nara-ah…Aku hanya..”
“Gotjimal…Oppa pasti berbohong…”
“Ani Nara-ah..”
“Bohong..”aku mencoba bertahan dalam posisi ini,menahan tangis yang membuncah di hati. Sakit…sakit sekali…
“Kumohon percayalah…aku tak mungkin pergi. Bukannya kau yang menantiku..”
“Ada yang salah disini Oppa…aku sadar…ada yang salah..”
“Tidak ada yang salah..”
“INI SALAH OPPA!”

Sekelebat bayangan itu lenyap. Mataku mencoba menangkap sedikit rangsang cahaya dari luar. Sedikit pusing untukku duduk.
“Direktur,kau sudah bangun?”Kulihat samar bayangan Donghae. Ada apa dengan mataku ini? Samar…buram…Hei! Apa-apaan ini?!
“Donghae-ssi…disini gelap,bisa kau nyalakan lampunya?”Aku sedikit meraba pinggir ranjang,”Daritadi sudah dinyalakan Direktur…”
“Gelap…buram…”aku menatap nanar samar bayangan Donghae,”Direktur tidak apa-apa?”
“Buram…”setetes cairan bening dari mataku yang kosong turun. Ani..tidak mungkin…
-Nara POV_end-
***
-Someone POV-
Aku membenci takdir. Kenapa kami selalu ditakdirkan tersiksa. Melihatnya menangis sungguh menyakitkan. Melihat garis hidupnya sangatlah disayangkan. Dia adalah gadis yang sangat baik. Mungkin aku melawan hukum karena telah benar-benar mencintainya. Seandainya cinta itu tak pernah ada. Mungkin aku tak akan pernah bisa tersenyum karenanya.
“Kau benar-benar membuatnya tersiksa,Eliash kau muncul tiba-tiba dan mengira itu aku. Aku yang jadi dicurigai..”
“Dia sedang didalam?”
“Ne,coba kau masuk saja..”
Perlahan aku masuk. Aku menatapnya intens. Tuhan…takdir benar-benar menyakitkan. Aku mencium lembut bibirnya yang dingin. Ia bahkan seperti mayat hidup.
“Jangan menungguku lagi..”Aku pergi begitu saja dari ruangan ini. Kulihat Aiden berada di ambang pintu,”Aiden…sampai kau benar-benar menyukainya,akan kubunuh kau…”gumamku.
***
Chase datang dengan wajah yang sulit kutebak,”Andrew menunggumu..”ia lalu berlalu meninggalkanku. Eh? Ada apa?
“Eliash…ikut aku…”tak kusangka tiba-tiba Bryan mendorongku. Ada apa ini?
“Hei! Kau ini kenapa?”Teriaku,”Kau mencintainya?”
“Lalu apa urusanmu?”
“Sudah kutebak…hilangkan perasaan itu sebelum Andrew yang bertindak,kau tahu? Ini melanggar hukum”
“Persetan dengan hukum-hukum itu…”Aku melepaskan cengkaraman Bryan,”Lalu kau tak tahu apa yang akan terjadi padanya?”Bryan mencengkram lenganku lagi,”Dia akan dibunuh secara perlahan.”Aku mematung. Bryan melonggarkan cengkramannya,”Jika kau mencintainya,maka kau harus menjaganya.”
-Someone POV_end-
***
Nara melepaskan jabatan Direkturnya sementara. Tatapannya kosong. Ia tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas,ia sekarang buta. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba kehilangan indra penglihatannya. Mata cantik itu terus menitikan kristal-kristal bening dari ujungnya,
“Nara-ah…Ada tamu…”Umma Nara menatap cemas anak semata wayangnya itu. Belum selesai dengan urusan ‘jiwanya’,Umma Nara harus memangku kepedihan atas pernyataan’seorang Nara yang buta’. Belum ada donor kornea yang cocok untuknya.
“Annyeong Direktur…”Donghae datang ketempat dimana sekarang Nara berada,pekarangan belakang rumah. Ya,semenjak ia dinyatakan’buta’ oleh dokter,Nara kini tinggal bersama Ummanya di Daegu.
“Aku bukan direktur lagi.”
“Ne,kalau begitu,Annyeong Nara-sshi,aku bawakan beberapa buah-buahan. Kau mau yang mana?”
“Aku tak ingin buah.”
“Kau ingin apa?”
“Aku ingin melihat…”Nara menunduk,”Aku ingin pergi ke suatu tempat,bisa kau mengantarku?”
***
“N-a-r-a dan M-i-n-h-o…”Donghae tertegun melihat sebuah tulisan terpampang di kulit pohon,”Tempat ini masih bagus kah?”Nara menengok mencoba melihat apapun disana walaupun hasilnya nihil.
“Aku rasa dulu dan sekarang masih sama. Nara-sshi…aku tak tahu bagaimana rupanya tempat ini dulu. Mungkin yang sekarang agak lebih indah..”Donghae menatap sekelilingnya. Beberapa lampu taman dan tempat duduk dari batang kayu berjejer di seberang pohon
“Oh…sayang aku tak bisa melihatnya. Eh,Donghae-sshi…bisakah kau mengambilkanku sesuatu?”
“Silahkan.”
“Tolong carikan aku sebuah buku. Mungkin sekarang sudah usang atau mungkin dimakan rayap. Tapi tolong carikan untukku. Letaknya kira-kira 3 meter ke Timur dari pohon ini. Bisa?”Nara tersenyum kecil.
“eh? Tunggu,akan aku carikan.”
“Jangan lama-lama…aku tak suka menunggu…”
“Kenapa?”
“Aku sudah menunggu seseorang begitu lama.”
***
“Nara-sshi…aku sudah mencarinya.”Nara menengok ke sumber suara,”Ada?”
“Tidak ada Nara-sshi…”
“Kau benar-benar mencarinya bukan?”
“Aku sudah berusaha mencarinya Nara-sshi…”
“Didalam tanah Donghae-sshi…”Nara semakin kesal,ia berusaha berdiri dan meraba-raba rerumputan,”Nara-sshi! Aku berani bersumpah buku itu tidak ada!”Donghae menahan Nara yang memaksa mencari buku yang pastinnya takkan bisa ditemukan.
“Ada! Buku itu benar-benar ada! Aku mendapatkan itu darinya! Juga kalung peri!”Nara memberontak,”Sekarang aku tanya,dimana kalung itu!”Tampak matanya dipenuhi amarah,Nara terdiam. Otaknya bekerja keras. Kilasan-kilasan yang hampir membuatnya gila,tidak. Benar-benar gila.
“Ak…aku…”Tiba-tiba Donghae memeluknya,”Menangislah…jika itu membuatmu semakin membaik..”
Tatapannya kosong. Ia ingat,bahkan ia tak tahu dimana kalung itu. Nara meraba lehernya. Bukan,bukan kalung ini. Dimana benda itu?
“Hahahahaha…”Nara tertawa miris,seperdetik kemudian tetesan bening mengalir membasahi lekuk wajahnya yang pucat.”Aku memang gila..”Donghae mempererat pelukannya. Ia ingin melindungi Nara,lebih dari ini.
***
“Bagaimana caraku melindunginya?”
“Kita tidak bisa.”
“Kita tidak. Aku bisa.”
“Kumohon Eliash…hanya karena seorang wanita kau seperti ini.”
“Ya. Aku seperti ini karena wanita itu.”
“Aku tak mengijinkanmu.”
“Aku akan melindunginya tanpa seizinmu,Bryan.”
“Meskipun jiwamu?”
“Asal ia bisa bahagia.”
“Tapi dia akan tetap mati.”
“Lebih baik mati daripada menderita.”
“Kau keras kepala”
“Karena aku mencontoh kau.”
“Sialan..”
***
“Nara-sshi…kau tunggu disini. Aku mau membeli obat untukmu di apotik seberang dulu. Gwaenchana?”Donghae menatap Nara khawatir,sudut bibir Nara tertarik sedikit,”Gwaenchana.”
“Tunggu sebentar,aku akan kembali..”Nara menatap kosong,”Aku benci menunggu.”gumamnya kecil,ia tersenyum miris.
15 menit berlalu,Donghae belum kembali. Nara mulai kesal. Ia mengetuk-ketukan jarinya di atas dashboard mobil. Ia melepas seatbeltnya,Sebuah cahaya menariknya untuk keluar.
Ia berjalan pelan keluar dari mobil. Kaki-kakinya menuntun untuk mengikuti cahaya itu. Ia tersenyum.
Di seberang,Donghae bersiap menyebrang,tak sengaja melihat sosok Nara yang sedang menyebrang. Kepanikannya bertambah ketika mendapati sebuah mobil hitam kecepatan tinggi yang melaju ke arahnya.
“NARA!!”
‘ckkiiiiiiiiitt…’
‘bruuk!’
***
Donghae menelungkupkan wajahnya diantara lutut. Detik-detik ini sangat menegangkan. Hyebin,ibu Nara sedari tadi terus menangis dan berdo’a. Pintu ICU terbuka,tampak seorang namja dengan masker dan baju operasinya keluar,
“Bagaimana Uisa?”Donghae mengangkat kepalanya mendengar suara Nara Umma yang parau,
“Uisa! Apakah Nara baik-baik saja?”Donghae langsung menarik-narik baju sang dokter,tampak sekali Donghae sedang khawatir. Sang dokter hanya mengangguk lemah,”Syukurlah ia sudah melewati masa kritis. Benturannya cukup keras. Mata sebelah kanannya tertusuk pecahan kaca mobil.”mendengar hal itu,Donghae dan Hyebin hanya menatap nanar sang dokter.
“Oh ya,untuk korban prianya ia selamat. Namun belum sadar. Ia ada di ruang inap sebelah. Maaf,apakah anda ibu yeoja tadi?”
“Ne,saya uisa-nim..”
“Bisa ikut saya ke ruangan sebentar.”
Sang dokter dan Hyebin berlalu meninggalkan Donghae. Donghae berjalan mendekati ruang ICU. Seorang yeoja dengan bantuan alat-alat penopang nyawa tergeletak lemah. Donghae mengintip dari luar jendela. Tetesan air matanya mengalir,”Kenapa harus kau…wae? Kenapa kau mendapatkan penderitaan ini? Kenapa? Kenapa aku begitu mencintaimu…”
***
-Donghae POV-
Aku tak percaya apa yang terjadi. Aku harap ini hanya mimpi. Mimpi ini akan berakhir. Aku akan terbangun dan mendapati Nara terlelap disampingku. Aku harap ini mimpi
Tapi ini bukan mimpi…
Segalanya nyata. Bahkan yang kulihat saat ini nyata. Apa yang direncanakannya? Ia benar-benar gila.
“Sialan…kau membuatnya menderita sejauh ini…”aku tersenyum kecut. Wajah malaikatnya menurutku bagaikan setan. Ingin kubunuh dia sekarang juga,tapi aku tak bisa.
Kami adalah sahabat.
Gemuruh ini terus memburu di dadaku. Aku..aku…aku bingung harus bagaimana. Lebih singkatnya,aku menghancurkan kedua orang yang aku sayangi. Mereka harus menderita karenaku. Ani,bukan salahku. Tapi salah takdir yang mempertemukan mereka dan aku. Takdir kenapa aku harus menjadi makhluk ini.
“Kenapa kau bisa menjadi manusia huh? Kau gila! Michesseo!”kutendang ranjang putih ini. Meski tak bergeming,ingin aku pukul wajahnya sekarang,”brengsek kau ini!”aku duduk di kursi sebelahnya,”Angin apa yang membuatmu menjadi begini? Apa kau bosan hidup!”aku berceloteh tak jelas. “Kau…kau…berani-beraninya membuat dirinya menderita! Lihatlah! Ya! Ireona! Ia harus buta karenamu! Dia harus kehilangan matanya karenamu! Itu semua karenamu brengsek!”Amarahku tak dapat kubendung lagi.
“Kau…benar-benar namja terbodoh yang pernah kutahu..”suaraku melirih,
“Kau sama bodohnya…”aku mendongak,si bodoh ini tersenyum,kutinju perutnya
‘bugh!’
“Ya!”
“Sialan! Bodoh!Brengsek!”aku memukulinya dengan bantal,”tak cukup puas kau membuat dirinya menderita!”
“Ya! Kalau ia tak kutolong,ia bisa mati!”aku berhenti memukulnya,”kalau bukan karena kau,ia takkan kehilangan matanya dan buta!”aku terdiam,aku sedikit kaget ketika dia mencabut selang infusnya,”Mau kemana kau!”aku panik.”Tinggal 24 jam lagi…”ia tersenyum aneh padaku.
“Apa maksudmu?”aku mulai curiga dengan semua ini,”Dan bagaimana caramu bisa menjadi manusia?”aku mendekat,Eliash menatapku sedih,”Jika sampai 24 jam lagi aku belum menemuimu,kau boleh membunuhku.”
“Aku tak bisa percaya kata-katamu.”aku menatapnya dingin. Apa yang ia katakan tadi? 24 jam? Jadi manusia? Apa ini?
“Jangan berkata seperti itu. Di dunia ini sudah tidak ada yang mempercayaiku. Bahkan Nara sendiri sudah membenciku. Jangan membuatku semakin sedih.”Ia berlalu,”Percayakan aku. Aku akan membalas penderitaannya.”
Aku menatap nanar kepergiannya,”kupegang kata-katamu.”gumamku
***
“Nara-sshi! Kau sudah baikan?”aku berjalan pelan sambil menjinjing keranjang buah,Nara hanya terdiam. Aku tahu,ia pasti belum baikan. Sama sekali belum.
“Makanlah…aku bawakan beberapa buah. Bukannya nanti kau akan operasi? Makanlah yang banyak.”Aku mengambil semangkuk bubur yang mulai dingin lalu menyuapinya. Nara menggeleng. Aku mendesah pelan,”Bisakah kau menjadi Nara yang biasanya? Yang bijaksana,elegant dan perfectsionist?”
“Donghae-sshi…aku bukanlah seperti itu. Tidak sama sekali. Aku kekanak-kanakan,aku ceroboh,gegabah,cengeng,dan tidak sempurna.”ia menunduk,”sudah Nara! Aku bosan melihatmu seperti ini.”aku meletakan mangkuk bubur di meja sebelah. Ingin aku marah. Tapi entah aku harus marah kepada siapa.
“Donghae-sshi…bisakah kau turunkan nada bicaramu itu. Bahkan kau memanggil namaku informal. Meski aku tak bisa melihat,aku tahu…kau memuakkan.”
Aku terdiam. Gaya bicaranya berubah. Ia seperti…ehm…risih denganku. Ada yang aneh padanya,”Nara-sshi…”aku mencoba memegang tangannya,namun ditangkisnya.
“Kau menyukaiku.”
***
“Donghae-sshi…pasien bernama Eliash Choi kabur tadi pagi,bisa anda urus administrasinya,oh ya menurut suster yang ada sebelum ia kabur,anda menemuinya?”
“Aku tahu ia kabur.”
“Ah,boleh tahu kenapa? Ia belum sehat benar.”
“Maaf,aku tak bisa mengatakannya. Yang jelas ia sudah sehat kok. Biar saya yang urus administrasinya. Dan…”aku memutus perkataanku,”Tolong rahasiakan ini dari keluarga maupun pasien atas nama Jung Nara. Akan kubayar berapapun untuk menjaga ini.”Aku mengeluarkan check di saku jasku. Suster itu mengangguk. Aku lalu kembali mengurus beberapa administrasi.
-Donghae POV_end-
***
“Kau benar-benar keterlaluan!”seorang namja dengan hoodie hitam meluapkan semua amarahnya. Sorot matanya yang tajam,atmosfer awkward menyelubunginya.
“Aku tahu.”namja didepannya menghirup udara dalam,”Sudah aku putuskan.”
“Jangan katakan…”
“Aku akan…”
“Jangan katakan!”
‘bugh!’
Sebuah tinjuan melayang membentur perut namja dengan cardigan coklatnya,”Kenapa kau terus keras kepala!”
“Pukul aku…”
“Brengsek!”sebuah pukulan mendarat di pipi namja tadi,cairan pekat anyir menghiasi ujung bibirnya,”Bahkan sekarang kau bisa berdarah! Merasakan sakit,merasakan panas,dingin,bernafas,detak jantung! Tapi semuanya kau korbankan demi yeoja itu! Hanya demi yeoja itu!”
“Kau iri? KAU IRI PADAKU KAN!”namja hoodie hitam tersenyum sinis,”kau fikir? KAU FIKIR AKU TIDAK IRI?!”namja hoodie hitam menarik kerah namja tadi,”Kau fikir mencintai seseorang aku tidak iri?”suaranya melirih,”Terserah padamu,Eliash…aku dan Aiden sudah mencoba menahanmu. Aku sudah tak peduli lagi.”namja hoodie hitam meninggalkannya. Setitik demi titik air mengguyur tanah. Di balik gang sempit itu,sepasang kaki meringkuk,”Maaf…ma..maafkan aku…”isak tanpa suara,senada dengan suara hujan yang semakin deras. Tak ada satupun mata yang melihatnya,bukan. Bukan melihatnya,tapi tak ada yang memperdulikannya. Tidak ada satupun yang perduli. Kini ia tinggal sendiri. Tinggal menanti habis hujan yang tak tahu kapan berakhirnya.
***
“Nae aegi…kau tenang saja. Sudah ada donor mata ternyata cocok untukmu. Kau sebentar lagi bisa melihat. Melihat umma…melihat karyawan-karyawan…mendapatkan nampyeon..anak…”yeoja paruh baya menitikan air mata. Yeoja yang dipeluknya tersenyum kecil,”Uljima umma…aku baik-baik saja. Selama ada umma disini,Nara akan selalu baik-baik saja.”
“Tapi kau tak tampak baik-baik saja sayang…”Hyebin mengelus rambut anak semata wayangnya lembut,matanya yang sembab dan teduh menghiasi paras ayunya meskipun termakan usia.
“Gwaenchana…”mata Nara yang kosong,namun masih bisa tersenyum. Ia merasa 2 hari yang lalu adalah mimpi. Mimpi buruk tetapi sulit dilupakan. Mimpi manis yang pahit.
***
-Nara POV-
“Gwaenchana…”aku melepas pelukan Umma. Rasanya ingin menangis namun kucoba untuk tersenyum. Sial,gara-gara efek benturan 2 hari yang lalu aku jadi lupa. Yah,setidaknya tak begitu lupa. Ugh…aku melihat sebuah cahaya,siluet namja lalu..semuanya menghilang,bau anyir,dipeluk?
Dipeluk? Nugu?
“Umma…aku boleh tanya?”
“Tanya apa sayang?”
“Saat aku kecelakaan,ada yang menolongku?”
“Menolong? Donghae yang menolongmu?”
Aku berusaha mengingat kilas balik kejadian kemarin. Meski aku tak bisa melihat,aku hanya merasa terpental sambil dipeluk. Hanya bau darah,itu saja. Aku tak merasakan sakit apapun. Sosok itu bukan Donghae,ia pasti baik-baik saja. Bukan Donghae yang aku rasa. Bukan dia!
“Umma…”aku menangis,firasatku benar. Ada yang salah pada diriku. Atau ada yang merahasiakan sesuatu tentang pribadiku? Aku tak tahu. Aku…benar-benar tak tahu.
-Nara POV_end-
***
-Author POV-
Dentingan alat-alat stainless steril dengan bau khas obat-obatan beradu. Beberapa orang dengan harap-harap cemas mengerjakannya. Masker dan baju hijau muda yang harus steril benar dikenakan mereka. Suara pendeteksi jantung dengan kecepatan konstannya. Seorang yeoja yang terlelap dalam mimpinya berbaring. Semua berjalan lancar. Sang Dokter beserta beberapa asisten mengangkat sudut bibirnya. Perban yang membalut mata usai sudah.
“Operasinya berjalan lancar.”2 pasang mata mendengarnya haru. Yeoja paruh baya bahkan bersujud syukur. Namja dengan jas hitamnya menatap sang dokter bahagia.
“Ia masih kritis,namun sudah baikan.Biarkan ia beristirahat dulu. Berbahagialah,sebentar lagi ia bisa melihat wajah kalian.”
“Terimakasih,Uisa-nim!”
“Sama-sama. Berterimakasihlah juga pada pendonor.”dokter itu berlalu,meninggalkan seberkas kepiluan di hati namja tersebut.
***
-Donghae POV-
“Uisa-nim…maaf boleh aku tahu?”aku agak terengah menyusul dokter yang sudah jauh,ia berbalik.
“Silahkan…”
“Siapa pendonor itu?”aku agak penasaran. Bukan penasaran,hanya saja…aku takut firasatku benar.
“Maaf,aku tak bisa mengatakannya. Ini pesan terakhir sang pendonor.”
“Kumohon.”
“Aku tak bisa.”
“Apa ia menitipkan sesuatu?”
“Ah,ye.”
Aku mengikuti namja dengan jas putih ini menuju ruangannya. Aku hanya berdiri di ambang pintu. Ia memberikanku sebuah kotak,”Apa ini?”
“Entahlah,di sini juga dititipkan surat. Maaf,aku ada urusan jadi tak bisa menemanimu.”
“Eh,gamshahamida Uisa”
“Ne.”
Aku sedikit gemetar membuka surat ini. Mataku membulat,tidak mungkin…
-Donghae POV_end-
***
2 years later…
-Nara POV-
“Chukkae Nara-ah!”aku tersenyum sambil memeluk Vict di depanku. Ia memberiku sebuket lili putih. “Kau mendahuluiku!”
“Kau dengan Nickhun sana!”
“Aku belum dilamar kok!”
“Kau saja yang melamar!”ia melotot padaku. Aku tertawa. Senang sekali tertawa lepas di hari bahagia ini,”Direktur-nim…chukkae! Kau cantik sekali!”kulihat sekretaris Hayoung dengan dress ungunya,”Gomawo…”
“Nae aegi,apa kau gugup ?”aku tersenyum lembut pada Umma. Sayang sekali,tak ada Appa disini. Aku harap Appa bisa melihatku bahagia dari Atas Sana.
“Ani. Selama ada Umma aku tidak akan gugup.”Aku mengenggam erat tangan Umma,”Lihat. Betapa cantiknya anak Umma.”
Aku memandang cermin besar di depanku. Aku harap ini bukan mimpi. Aku sudah banyak melalui mimpi buruk selama hidupku,”Nara-sshi,kau siap ?”aku berbalik lalu mengangguk kecil.
Setidaknya hujan turun hari ini. Aku bisa berdiri tegak dengan senyuman. Hujan datang di hari bahagiaku. Hari-hari yang akan kuisi dengan senyum bukan tangisan. Hari-hari yang akan kuisi dengannya. Bukan dengan bayang-bayangnya.
..::END::..

HWAAHAHAHAHAHAHAHAHAHA
*Ajeb2*
Akhirnya end juga…NEED COMMENT PLEASE
Kalo gag bisa komen disini,bisa koment di:
My tweet : @fiakpop97
Or E-mail: parkminhyun@ymail.com
FB : Alifia Rahayu Lestari
DON’T be a Siders,OK!

 

GOMAWO! XD

6 thoughts on “When The Rain Falls 2

  1. Aku reader baru disini author ..
    Wah, ceritanya seru ..
    Tapi itu jadinya endingnya dia sama siapa?
    Qo gak disebutin namanya?
    Maaf ya readernya agak lola,hehehe

  2. thorr,, ini bener2 menguras perasaan., nara sama donghae kah?? sama donghae aja lah ya?? si Minho bwt driQu .. bwehehehe#PLAKKKKK *DiGaplokNaraAuthorJamaah*
    sprti previous next : DAEBAKK! :-)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s