[TWOSHOOT] She Belongs With me Because Of her (2.2)

Title       : She Belongs With Me Because of Her

Author  : Reene Reene Pott

Main cast : Choi Minho, Han Min Gi

Supporter Cast : cari sendiri, sama kok kayak yang di Go away…

Rating   : Teenage

Genre    Romance

Length  : Twoshoot

Minho’s POV

Argh. Aku tak bisa konsentrasi di kantor. Ada apa denganku? Apa sebaiknya aku ambil cuti sementara? Mungkin Sulli bisa menggantikanku untuk beberapa hari. Aku ingin berlibur. Haha. Berlibur. Sudah 4 tahun aku tak pernah berlibur, menenangkan diri, atau semacamnya. Aku selalu sibuk. Dan menyibukkan diri.

Kutatap pigura foto di sudut meja kerjaku. Lee Son Hee. Aigoo, gadis itu benar-benar, membuatku gila dan semakin gila walaupun ia sudah pergi. Tapi sepertinya itu sudah mulai terkikis. Ada yeoja lain yang menyelip masuk tanpa ijin. Hah. Yeoja dingin itu, Han Min Gi. Aku tersenyum sendiri mengingatnya. Wajahnya imut, yah, karena ia lebih muda dariku,  masih terlalu polos, menurutku, namun, kurasa ia sedikit mirip dengan Son hee. Cueknya. Dan tatapannya. Mirip sekali, membuatku selalu mengingat Son Hee.

“Oppa,” sapa suara dibelakangku yang membuatku tersentak.

“Ne? Sulli? Waeyo?”  tanyaku bingung. Sulli menatapku bosan.

“Dari tadi sudah kupanggil-panggil, oppa malah bengong. Kesambet nanti,” katanya jengkel. Aku hanya nyengir.

“Memangnya ada apa?” tanyaku. Ia hanyamenatapku penuh pengertian. Ah, dia memang dongsaengku yang paling imut.

“Oppa mau cuti, kan?” katanya to the point. Mataku membulat.

“Darimana kau tau?” tanyaku kaget. Hei, apakah saengiku ini bisa membaca pikiran orang?

“Tadi oppa bilang,” katanya sambil berpangku tangan. “Oppa masih kacau kan? Sudahlah, ga usah maksain diri. Nanti oppanya yang sakit,” katanya perhatian. Sejak kapan ia memperhatikkan oppanya heh?

“Kenapa kau bersikap seperti ini?” tanyaku dengan mata menyipit. Ia hanya tersenyum lebar.

“Oppa, appa mau memegang sebentar perusahaanya ini. Ia memang belum bilang, namun ia ingin memimpin perusahaan ini lagi untuk sementara waktu, lagipula appa tahu perasaan oppa,”

“Heu. Entahlah saeng. Mungkin kau benar, aku harus cuti sementara.” Kataku meyakinkan diri. Ia hanya tersenyum manis.setelah mengangguk sebentar, aku menyambar kunci mobil dan bergegas ke kampus Min Gi. Kenapa yah? Entahlah. Aku hanya merasa tenang bersamanya.

__

Aku melihatnya sedang berbincang dengan beberapa temannya. Ia terlihat.. berbeda. Entah kenapa aku kembali merasakan perasaan ketika aku mencintai Son Hee. Apa yang sudah kulakukan? Apakah aku mulai mencintainya? Aku harap iya.

Aku mengklakson mobil hingga ia menoleh. Aku tersenyum padanya, meski ia tampak sedikit terkejut. Terlihat jelas kedua temannya membulatkan kedua mata mereka begitu melihatku. Aku hanya bisa tersenyum simpul, lalu menghentikan mobilku tepat di sampingnya.

“Mau ikut?” kataku ketika aku sudah menurunkan kaca jendela mobilku. Ia tampak sangat terkejut, begitu pula kedua temannya.

“Mwo? Aku… dan kau? Maksudmu?” tanyanya bertubi-tubi, kentara sekali bahwa ia sangat bingung.

“Aku butuh teman sekarang,” kataku mencari alasan. “Jadi, maukah kau menemaniku?” tanyaku lagi, berharap padanya. Ia tampak berpikir sejenak, namun toh akhirnya mengangguk pelan.

“Mianhae, aku..” katanya terputus begitu salah seorang temannya menyahuti,

“Ne, gwaenchanna, kkaja Sooyoungie, annyeong Min Gi..” katanya sambil melambaikan tangan. Yeoja yang disebut Sooyoungpun ikutan tersenyum dan melambaikan tangannya.

“kkaja,” kataku. Ia pun masuk ke dalam mobil sambil menatap kedua chingunya dengan aneh. “Gwaenchanna?” tanyaku.

“oh.. eh… ne..” jawabnya kikuk. Aku hanya tersenyum menaggapi.

“karena kau bersedia menemaniku, jadi kau harus menuruti kemana kita akan pergi,” kataku sambil memutar setir.

“mwoya?” tanyanya kaget.

__

Aku berjalan-jalan dengannya sebentar di mall. Ia sungguh lucu. Terkadang ia bingung, namun tersenyum. Dan senyumannya itulah, sangat mirip dengan senyuman Son Hee. Hangat.

“Annyeong,” katanay melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahku. “Ada apa denganmu? Melamun terus hah? Katanya kau yang memintaku untuk menemanimu,” katanya.

“Kau mau makan?” kataku menghiraukan pertanyaanya. Ia merenyit bingung, namun mengangguk. Kami berdua akhirnya melangkah ke sebuah food court di mall itu. Kami berduapun memesan makanan. Aku melirik yang ia pesan. Kimchi soup dan sekaleng jus. Aku menggeleng.

“Waeyo?” tanyanya heran.

“Son Hee tidak makan itu..” kataku pelan. Ia merenyitkan keningnya. “Son Hee sukanya jjajangmyun dan teh hijau,”

“Maksudmu?”

“Maksudku, kupikir kau akan makan makanan yang sama dengannya,”

“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanyanya menyelidik.

“Karena kau saudaranya, kau akan mirip dan berkelakuan sama dengannya,” kataku terus terang. Ia memandangku tak percaya.

“Mwo?” katanya tertahan.

“Maksudku bukan itu, aku..” sepertinya aku tahu kenapa ia…

“Cukup!” pekiknya. “Aku kecewa padamu. Apakah aku serendah itu dimatamu? Jadi kau mau berteman denganku hanya kerana aku SAUDARAnya Son Hee eonni?” katanya dengan mata mulai memerah. Aku tercekik melihatnya.

“Aniyo..”

“Ku pikir… Kupikir kau orang baik. Kau tahu, aku sempat ragu untuk berteman denganmu, kau tahu? Namuan aku berusaha untuk menerimamu untuk menjadi temanku tetapi  nyatanya?” katanya dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan. “Kau hanya datang padaku untuk pelarian melupakan Son Hee eonni,” katanya dingin. “Kau.. kau tak menghargai usahaku untuk bersikap terbuka padamu. Aku.. aku… kecewa,” katanya meninggalkan makanannya dan langsung beranjak pergi.

Ya Tuhan… aku melakukan kesalahan lagi.

Min Gi POV

Aku berlari keluar dari mall besar itu. Rasa sesak tak tertahan di dadaku. Aku hanya menangis dan menangis. Kenapa ia seperti ini? Ya Tuhan, kenapa aku salah pilih?

Kupikir… kupikir ia tulus mau berteman denganku. Jujur aku terkesan, aku berdebar melihatnya. Aku rasa aku mulai menyukainya. Tapi kenapa? Kenapa ia seperti ini?

Ia hanya menjadikanku pelarian atas dukanya terhadap Son Hee eonni. Ia tidak menganggapku! Ia hanya memperdulikanku hanya karena aku saudaranya! Aku menyesal!

Aku terus berlari, dan mempercepat lariku ketika kudengar suaranya sayup-sayup memangil namaku di belakang. Aku muak melihat wajahmu, muak mendengar suaramu, aku muak!! Apa kau tak mengerti betapa susahnya aku mencoba untuk menerimamu sebagai temanku? Betapa susahnya aku mencoba untuk memperdulikanmu meskipun dulunya aku membencimu?

Aku.. aku rasa aku memang menyesal. Aku sangat sangat menyesal. Ternyata dari awal aku telah melakukan kesalahan. Aku terus berlari samapi ke halte bis, dan kebetulan itu ada bis. Langsung kunaiki. Aku ingin kembali ke apartemenku dan memutuskan hubunganku dengannya.

Minho POV

Aigoo, Minho pabo! Kenapa aku masih mengingatnya? Son Hee-yah, eotthokke? Aku mulai yakin bahwa aku mulai menyukainya, aku tak ingin kehilangannya. Cukup sudah aku pernah kehilanganmu, itu sudah cukup! Aku tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.

Aku memang sangat pabo. Sangat sangat pabo dan ternyata paboku itu dari dulu bukannya berkurang malah bertambah. Aigoo.. eotthokke??

Aku berlari mengejarnya namun ternyata ia atlit yang handal, jadi ia sudah keburu naik bis. Dengan cepat aku kembali ke parkiran dan menaiki mobilku, menstarternya dan menginjak gasnya dalam-dalam.

Aku mengendarai mobil seperti orang kesetanan. Bis yang dinaiki Min Gi mulai terlihat, dan akupun mempercepat laju mobilku. Dengan tepat aku berhasil membuntuti bis itu. Aku melihatnya turun dari halte, dan dengan langkah gontai ia memasuki gedung apertemennya. Aku langsung memarkirkan mobilku dan ikut menyusulnya.

“Min Gi-yah..” panggilku saat ia sampai di depan pintu lift. Ia menoleh dingin.

“Untuk apa kau kemari? Membujukku untuk dimanfaatkan lagi olehmu?” Tanyanya dingin.

“Min Gi-yah.. mianhae..”

“mianhae?” tanyanya sinis dan tepat sesudah itu pintu lift terbuka dan iapun masuk, meninggalkanku yang hampir frustasi karenanya. Min Gi-yah.. mianhae…

Min Gi POV

Bisakah ia tak usah memperdulikanku lagi? Sesak rasanya di sini. Sekarang aku tahu apa yang dirasakan Son Hee eonni waktu itu. Sesak. Perih. Sakit. Rasanya ingin berteriak. Tidak, berteriak saja tidak cukup. Namun kenapa aku merasakanya? Apakah.. apakah aku mencintainya?? Andwae.. itu tidak mungkin.. aku baru saja mengenalnya dan tak mungkin menyukainya BAHKAN mencintainya secepat itu. Andwae…

Aku membuka pintu apartemenku dengan malas. Dengan langkah diseret aku mendekati sofa dan menjatuhkan diri di situ. Aku tak ingin melakukan apa-apa…

__

Sudah 3 hari berlalu sejak peristiwa itu. Ia selalu menghubungiku, dan selalu datang ke apartemenku meski tak pernah ku gubris kedatangannya. Terkadang kami hanya berada di dalam satu ruangan namun tanpa ada reaksi satu sama lain. Aku sudah lelah.

Dan selama 3 hari itu aku menyibukkan diri dengan skripsiku yang sekarang sudah jadi dan akan ku serahkan. Dengan segelas air putih yang baru kupesan—hingga penjaga kantin bingung karena aku hanya memesan air putih—aku duduk termenung di kantin kampus tanpa pikiran apapun.

“Min Gi-yah.. kau kenapa sih akhir-akhir ini?” Tanya Sunny tiba-tiba yang membuatku langsung tersentak.

“Wae? Aku taka pa-apa,” balasku singkat. Sunny memutarkan kedua bola matanya dan melirik Sooyoung yang tengah memperhatikanku juga.

“Kau jahat sekali Min Gi, kenapa kau tak mau bercerita pada kami?’ Tanya Sooyoung cemberut. “Harusnya kalau kau ada masalah kau bercerita pada kami, kami kan temanmu,” lanjutnya. Aku menoleh.

“Aku…” kataku tertahan. “Aku… aku lelah. Dia ternyata…”

“Dia? Maksudmu Minho? Tanya Sooyoung tiba-tiba dengan suara pelan. Aku mengangguk kecil.

“Dia hanya memanfaatkanku untuk pelarian dukanya atas Son Hee eonni,” kataku terus terang tanpa ekspresi. Namun ternyata kedua temanku itu terlihat heboh.

“Jincha? Omona.. kejam sekali,”

“Dan kau menjadi seperti ini karena kau kecewa karena itu? Apa kau menyukainya?’ Tanya Sunny hati-hati. Aku mengangkat kedua bahuku.

“molla. Sesak rasanya,” kataku sambil menerawang. Sooyoung mendelik.

“Kau benar-benar suka padanya?” tanyanya serius. Aku menggeleng.

“Aniyo,” jawabku singkat.

“kau mencintainya?” kali ini Sunny. Aku terpaku.

“A… molla,” kataku ragu. “Ehm.. sudah ya, aku mau menyerahkan skripsi ini,” kataku mengalihkan pebicaraan sambil berlalu pergi.

__

“Min Gi-yah..” sapa seseorang yang suaranya sangat kukenal. Aku mempercepat langkahku menuju pintu lift apertemen. Namun tangannya berhasil meraih tanganku dan di genggamnya.

“Lepaskan aku, Choi Minho,” kataku tajam sambil menyentakkan tanagnku. Namun genggamannya tak kunjung lepas. Aku mendelik tajam padanya.

“Kita harus bicara,” nada dalam suaranya seperti memohon.

“Kurasa tidak ada yang harus kita bicarakan, Choi Minho,” desisku.

“Kenapa kau tak pernah mau mendengarkanku?’ serunya parau. Aku membuang muka.

“Aku tidak suka dengan orang yang suka mempermainkan perasaan orang lain,” kataku tajam sambil melepaskan genggamannya. Dengan pelan tangannya melepaskan tanganku.

“Maksudmu aku?” tanyanya seperti orang bodoh.

“Aku tidak bicara kepada orang lain di sini selain kau, Choi Minho,” kataku lagi yang sukses membuatnya terlonjak. Ya, dia pantas menerimanya. Biar saja bila aku lebih muda darinya, namun ia harus mendapat ganjaran dengan apa yang telah ia perbuat selama ini.

Ia telah dua kali melukai hati wanita. Son Hee eonni dan aku. Betapa bodohnya aku, terjatuh ke dalam perangkapnya itu? Aku berbalik dan melangkah menjauh.

“NE!! KAU BENAR!! AKU MEMANG MEMPERMAINKAN PERASAAN ORANG LAIN. DUA KALI!!” teriaknya yang membuatku menghentikan langkah dan kembali menoleh padanya. “KAU BENAR, AKU NAPPEUN NAMJA! KAU BENAR, AKU JAHAT!!”

Aku hanya menatapnya sinis.

“DAN KAU MEMANG BENAR, AKU TELAH DUA KALI MELUKAI HATI YEOJA YANG KUCINTAI,” teriaknya lagi yang sukses membuatku membeku.

Author POV

Minho menumpahkan semua yang ada di benaknya dengan tatapan tajamnya yang ditujukan kepada Min Gi. Ya, ia tidak bohong bahwa ia telah dua kali melukai hati yeoja yang ia cintai. Lee Son Hee dan Han Min Gi. Entah kenapa pertemuan mereka yang hanya sekejap itu membuahkan perasaan cinta ke dalam benak Minho.

“YEOJA PERTAMA, LEE SON HEE,” lanjutnya keras. “IA KUSAKITI HANYA KARENA EGOKU. HANYA KARENA AKU TAK INGIN IA DIBUNUH OLEH KAKEKKU,” penjelasan Minho yang singkat membuat kedua mata Min Gi mendelik.

“Di… bunuh?” gumamnya dengan mata mulai memanas.

“KEDUA,” Minho menghentikan kata-katanya, menarik napas pelan lalu menatap Min Gi lekat-lekat, “Itu adalah kau. Han Min Gi, yeoja yang kusakiti karena aku masih mengingat Son Hee, dan menganggapmu sebagai dia” lanjut Minho parau. Min Gi kembali mendelik.

“Mwo?” jantung Min Gi mulai berdebar keras ketika Minho melangkah mendekat padanya.

“Saranghae,” kata Minho pelan ketika sudah berada tepat di depan Min Gi. Min Gi mendongak membalas tatapan Minho.

“Aku..” jawab Min Gi terbata sambil menunduk. “Aku.. aku tak tahu, kau membuatku berdebar, kau membuatku slaah tingkah, kau membuatku…”

“Berarti kau juga mencintaiku,” potong Minho yang membuat Min Gi kembali mendongak menatap Minho.

“Ne?” Tanya Min Gi lagi. Spontan Minho menarik Min Gi kedalam dekapannya. Min Gi terkaget, pelukan Minho terasa hangat yang membuat jantungnya berdebar 2 kali lebih keras.

“Katakalah,” kata Minho lagi. “Katakan kau juga mencintaiku,” katanya sambil mengelus lembut rambut Min Gi. Perlahan Min Gi melepas pelukan Minho dan menatapnya.

“Na… Nado saranghae,” katanya dengan pipi memerah. Minho menyeringai lebar.

“Mulai sekarang kau janganpanggil aku ‘Choi Minho’ lagi. Kau pikir kau lebih tua dariku huh, memanggilku dengan nama lengkapku? Mulai sekarang panggilah aku oppa,” ujarnya. Min Gi memberengut.

“Itu karena gengsi tau,” katanya sambil emngerucutkan bibirnya. Gemas, Minho langsung meraup bibir Min Gi yang membuat Min Gi kembali sport jantung. Berjuta-juta watt aliran listrik menerjangnya melalui sentuhan Minho. Bingung dengan apa yang akan dilakukannya, ia mulai membalas ciuman Minho.

__

“Ya! Han Min Gi!! Kenapa kau senyum-senyum seperti itu hah? Itu seperti bukan dirimu,” cibir Sooyoung sambil menatap temannya yang sedang dimabuk asmara.

“Aniyo.. aku hanya akan diwisuda minggu depan,” ujar Min Gi santai. Sooyoung mendelik.

“Aku juga kali!” sergah Sunny yang sudah muncul entah dari mana. “Oh, yaolah, pasti ada sesuatu yang telah terjadi padamu,” bujuk Sunny. Min Gi hanya menatap Sunny kalem.

“Aniyo, tak ada kejadian apa-apa,” bantah Min Gi yang semakin membuat kedua temannya tak percaya.

“Jagii~” ucap sebuah suara berat dari balik punggung mereka. Serentak mereka menoleh, dan Min Gi membelalakkan matanya. Sementara Sunny dan Soooyoung melongo tak percaya.

“Ya!” pekik Min Gi tertahan.

“Waeyo?” Tanya Minho—yang ternyata adalah si perusak suasana—memandang Min Gi polos.

“Jangan pasang tampang seperti itu. Kau itu sudah 28 tahun dan kelakuanmu masih seperti anak umur 25 tahun. Dan..”

“Kkaja, kita harus memilih gaun pengantinmu,”  ujar Minho enteng sambil menarik tangan Min Gi.

“Mwo?” pekik Min Gi kaget. Kedua temannya jauh lebih kaget.

“Minggu depan kau sudah lulus. Dan tentu saja, setelah itu kau harus menikah denganku,” balsnya lagi. Min Gi semakin membulatkan matanya.

“Jangan pikir karena kau sudah me—“Min Gi melirik kedua temannya yang masih syok, lalu berkata lagi, “ Sooyoungie, Sunny, aku rasa… hyaa!! Jangan menarikku sembarangan!” pekik Min Gi lagi karena Minho sudah menyeretnya masuk ke dalam mobilnya.

“YANG PENTING KAU BERHUTANG PENJELASAN DAN KARTU UNDANGAN PADA KAMI!” teriak keduanya serentak yang membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh menatap mereka.

__

“Saeng,” ucap Sulli pelan memasuki sebuah kamar pengantin yang serba putih. Di depan meja rias, duduklah seorang yeoja yang cantik dengan gaun pengantinnya, namun wajahnya terlihat gelisah sambil memegang buket bunga.

“Ne?” yeoja yang terduduk itu menoleh dan menatap Sulli. “oh, eonni.”

“Kau tampak sangat cemas. Sudahlah, jangan tegang, semua akan berjalan lancer,” hibur Sulli sambil mengelus bahu Min Gi.

“Aku hanya gugup. Perutku serasa melilit,” keluh Min Gi.

“Jagiyaa..” sapa seseorang membuka pintu ruang rias lagi. Sulli menoleh karena sangat mengenali suara itu.

“Eh? Jae Jin oppa,” gumam Sulli saat melihat namjachingunya melangkah mendekat. Min Gi tersenyum.

“Annyeong jae Jin sunbae,” sapa Min Gi gugup.

“woow… Han Min Gi, kau jangan gugup seperti itu,” goda Jae Jin garing. Sulli hanya meringis.

“Kkaja, acaramu akan segera dimulai,” ajak Sulli yang membuat jantung Min Gi berdebar semakin keras.

“ne..” jawab Min Gi parau.

__

Upacara pemberkatan pernikahan berlangsung lancar. Minho tersenyum setiap ia menatap mata istrinya. Sementara Min Gi harus mengatur napas sedemikian rupa agar degup jantungnya mau mereda. Kini mereka berdua sudah ada di depan gereja, dengan posisi membelakangi para tamu.

Segerombolan yeoja yang rata-rata sedang dalam status ‘pacaran’ mengerubungi tempat di belakang Minho dan Min Gi.

“Hana… dul… set…”

Tuing….

“Kyaa~~” jeritan para yeoja membahana. Min Gi langsung berbalik untuk melihat siapa yeoja yang akan mendapat buket bunga dari lemparanya. Dan ia terbelalak.

Sulli dan Nah Ra sama-sama memegangi buketnya. Min Gi melirik Hyun Jae, sedangkan Minho melirik Jae Jin.

“Yeobo-yaa.. sepertinya akan ada dua pasangan yang akan segera menyusul,” bisik Minho di telinga Min Gi yang membuat Min Gi terkekeh.

__

Larut malam mobil pengantin berwarna silver itu baru sampai ke sebuah rumah bergaya minimalis. Kedua penumpangnya berbegas turun, ingin beristirahat selama seharian berpesta.

“Jagi, ini rumahmu?” Tanya Min Gi kagum. Minho menoleh dan tersenyum.

“ne,” jawabnya lembut sambil mengajak istrinya turun.

Mereka berdua turun dari mobil dan langsung memasuki kamar pengantin mereka.

“Apakah semua barangku…”

“ne, sudah kupindahkan ke sini,” jawab Minho sambil menatap istrinya lembut. Min Gi hanya mengangguk. “Kau mau mandi dulu?” tawar Minho yang di sambut anggukan oleh Min Gi.

Mereka berdua mandi dengan bergiliran, dan setelah Min Gi selesai mandi dan membersihkan wajah ia merebahkan diri di ranjang dengan jantung berdegup keras. Omo, ini pertama kalinya aku sekamar dengannya, aigoo apa yang harus kulakukan? Batinnya. Karena sudah kelelahan, ia pun tertidur sendiri.

Minho selesai mandi dan mengeringkan rambutnya, terkekeh melihat anaenya yang sudah pulas tertidur. Ia juga merebahkan diri di samping anaenya, menatap wajah close upnya sebentar sambil bergumam, “Akhirnya aku bisa memilikimu,”

Dengan lembut ia menyelimuti anaenya dan ikut tertidur sambil memeluk tubuh anaenya. Pada saat tengah malam…

Min Gi mulai terjaga. Ia merasa geli ketika nafas Minho berderu mengenai wajahnya. Etnah apa yang ia lakukan, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Minho lalu menempelkan bibirnya ke bibir Minho. Belum puas, ia mulai melumatnya hingga membuat Minho terjaga dan ikut bermain dengannya. Suasana mulai memanas, kini Minho mulai menciumi leher Min Gi dan membuat beberapa kiss mark di sana. Tak mau kalah, tangan Min Gi juga tak pernah diam.

“Mau kulanjutkan?” desah Minho dengan napas berderu. Tanpa menjawab, Min Gi melumat lagi bibir Minho yang mengisyaratkan ‘iya’ baginya. Minho menyeringai, dan malam itu hanya milik mereka berdua.

 

FIN

 

Hiyaaaaaaaaaaaaa untunglah tidak sampai NC!!!!!!!!!!!! Baru PG!!!!!!!huahhh.. panas… panassss….. reader.. panas gaa?? Author memang di bawah umur, karena itu belum berani buat NC. Semoga suka yah… hehehehe…

Ini adalah sequel dari Go Away.. habis author emang ga rela akhirnya sad end. Jadilah sequel ini dibuat untuk menghibur yang kemaren baca Go Away part 5 2.2 katanya sampe nangis tengah malem.. *lirik* hehehe… gomawooo buat yang udah setia selalu membaca, komen bahkan yang ngelike ini…

RCL-nyaa.. gomawooo~~ *bow*

6 thoughts on “[TWOSHOOT] She Belongs With me Because Of her (2.2)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s