[Freelance Chapter] 0330, Why That Time? 1/4

Title
0330, Why That Time?

Rating
PG-13

Length
Chapter

Author
YunTaeryeo

CAST
Shin Dongho
Shin Soohyun
Kim Eli
Kevin Woo
AJ
Hoon
Lee Kiseop
Lee Hyera (Fictional Character)
Kim Rae Mi (Fictional Character)
Park Ahn Mi (Fictional Character)

DISCLAIMERS!
FF ini original buatan Author, sudah di post di http://woybarnasianpop.wordpress.com/fanfic/

———

I still can’t erase you
Again and again I think of you
I miss you too much
I can’t sleep at night
The raindrops are knocking at my heart’s window
The place that you’ve left
I miss it too much
I can’t sleep at night

Yo, listen up.
This is my tragic story.
Just to break into my heart. Check it.

Dongho POV

“Woiii,” aku kaget mendengar teriakan mereka berdua, Kiseop dan Hoon dua sahabatku yang selalu menemaniku. Mereka berdua mengagetkanku dari belakang saat dalam perjalanan pulang.
“Ah, kalian!”
“Kenapa tidak menunggu kami?” tanya Hoon padaku.
“Aku kira kalian ada urusan jadi aku pulang saja,” jawabku sambil tersenyum.
“Bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu?” sekarang Kiseop yang bertanya dengat raut khawatir.
“Kalian ini kenapa sih, aku bukan akan kecil aku tahu jalan pulang kok!” jawabku sambil menertawai wajah khawatir mereka. Aku betul-betul tidak mengerti, mengapa mereka berdua memperlakukanku seperti anak kecil, bukan hanya mereka tapi Eli hyung, Soohyun hyung, dan teman-temannya juga sama. Eli hyung dan Soohyun hyung adalah kakak kandungku dan kami hanya tinggal bertiga karena orang tua kami sudah lama meninggal. Namun hidup kami tidak sesunyi yang orang lain pikir. Kami dikelilingi sahabat-sahabat yang sangat perhatian pada kami. Aj hyung sahabat Eli hyung yang juga sangat perhatian padaku dan yang selalu menggantikan Eli hyung dan Soohyun hyung menjemputku jika mereka punya urusan yang penting. Kevin hyung sahabat Soohyun hyung yang selalu menemaniku di rumah dan memasakkan makanan untukku jika tidak sibuk, juga Kiseop dan Hoon teman kelas sekaligus sahabat-sahabatku. Aku bahagia memiliki Hyung-hyung dan sahabat-sahabat yang sangat sayang padaku, tapi bagiku ini berlebihan, sekarang umurku sudah tujuh belas tahun aku tidak perlu diperlakukan sampai sebegitunya. Tapi aku hanya tertawa setiap melihat tingkah mereka yang begitu khawatir. Bahkan kadang-kadang aku memutuskan untuk pulang sendiri dan diam-diam meninggalkan Eli hyung atau Soohyun hyung ketika menjemputku.
“Dongho-sshi, kami hanya khawatir padamu,” ucap Hoon yang memecahkan lamunanku.
“Hahaha, baiklah, kalian setiap hari mengatakan itu,” ujarku sambil masih tersenyum lepas pada mereka melihat wajah mereka yang mulai serius. “Aku bisa menjaga diriku, tenang saja! Kajja!” aku menarik mereka berdua dan wajah serius mereka sekarang hilang mungkin aku berhasil meyakinkan mereka kemudian menjitak kepalaku bersamaan.
“Tunggu di sini yah! Aku mau beli minuman untuk kita dulu,” kata Hoon kemudian berjalan ke toko di seberang jalan tempat kami berdiri sekarang.

-Na ajikdo neoreul jiul su eobseo, Jakkujakku niga saenggangna
Niga neomu bogo shipeo, Bamsae hansumdo jal su eobseo
Nae mam changmuneul dudeurineun bitsori-

Sebuah handphone tengah berdering, aku yakin itu bukan handphoneku. “Kiseop-sshi, itu handphonemu, kan?” tanyaku pada Kiseop yang berdiri di sampingku. Aku yakin itu dering handphonenya karena tidak ada orang lain di sini selain kami.
“Oh, ne,” jawabnya singkat kemudian merogoh saku celananya. “Ne, yeoboseo?” Kiseop mengangkat telephonenya dan menyalakan speakernya, itu kebiasaan Kiseop selalu menyalakan speaker ketika menelpon.
“Yeoboseo? Oppa!” jawab seseorang yang kukenali suaranya.
“Ah, Hyera-sshi, waeyo?” tanya Kiseop. Dia Hyera adik Kiseop dan pacar hyungku, Soohyun. Sangat panjang kalau mau menceritakan mengapa mereka bisa pacaran padahal umur mereka berbeda jauh, tapi itulah cinta. Bukan hanya mereka, Kevin hyung sahabat Soohyun hyung juga sama, dia pacaran dengan sahabat Hyera, Kim Rae Mi.
“Oppa, tolong ambilkan kue ulang tahun pesananku yah!” pinta Hyera sopan. ‘Siapa yang ulang tahun?’ tanyaku dalam hati.
“Memang ulang tahun siapa?” pertanyaan Kiseop sama denganku.
“Ah, oppa lupa, besok ulang tahun Soohyun oppa!” jawab Hyera.
“Omo~ tanggal berapa ini?” pekikku tiba-tiba.
“Ah, Dongho oppa juga di sana?” kudengar Hyera menyadari kalau aku di sini. “Ah, Kiseop oppa pasti mengaktifkan speakernya, kan? Dongho oppa, jangan bilang kalau kau lupa besok 11 Maret ulang tahun hyungmu,” tebak Hyera dengan benar.
“Ne, Hyera-sshi,” jawabku malu. “Aku betul-betul tidak ingat, gomawo sudah mengingatkan!”
“Ah, Dongho oppa payah! Masa ulang tahun hyung sendiri lupa,” ucapnya menyidirku tapi aku yakin dia hanya bercanda karena masih bisa kudengar dia tertawa kecil.
“Mianhae!” jawabku singkat.
“Ne, tidak apa-apa, tapi oppa harus di rumah yah malam ini tepat jam 12, jangan lupa ini hanya rahasia kita dan jangan beritahu Soohyun oppa, okay?” Hyera sangat perhatian pada Soohyun hyung, aku senang mereka bersama tapi membayangkan kakak iparku nanti lebih muda dariku itu lucu, hehe.
“Ne, Hyera-sshi!” jawabku singkat tidak ingin membuatnya bicara panjang lebar lagi.
“Oh  iya, aku sudah memberitahu Elli oppa juga tentang ini, jadi jangan menghancurkan rencanaku yah, sepertinya Soohyun oppa lupa kalau besok ulang tahunnya, jadi jangan sampai dia tahu yah!” pintanya sekali lagi.
“Ne, ne, aku mengerti, ngomong-ngomong aku lihat Soohyun hyung hari ini sangat tidak bersemangat berangkat kerja, apa ada masalah?” tanyaku kembali pada Hyera.
“Jinjja-yo?” ujar Hyera kaget. “Aku dari sudah tiga hari belum menelponnya dan mengabaikan semua telepon dan message-nya, untuk mengerjainya, aku merasa bersalah padanya,” jawab Hyera.
“Hahaha, tidak apa, pasti dia akan senang kalau tahu kau sudah mempersiapkan kejutan untuknya,” ucapku mencoba menenangkannya.
“Hehe, gomawo oppa!” balas Hyera. “Kiseop oppa masih di sana kan?”
“Ne, aku masih di sini mendengarkan celotehan kalian dan melupakanku,” sahut Kiseop.
“Hehe, mian oppa! Aku tidak melupakanmu, kau kan oppaku satu-satunya yang paling aku sayangi,” kata Hyera.
“Ne, yah aku akan mengambilkan kuenya untukmu, aku tahu kau bilang begitu supaya aku mau mengambilkannya untukmu, kan?” tanya Kiseop.
“Hehehe, gomawo oppa, tapi aku benar-benar mencintaimu!” ucap Hyera lagi.
“Haha, aku tahu aku hanya bercanda dongsaeng-ah!” balas Kiseop sambil tersenyum lega.
“Gomawo, oppa! Annyeong haseyo Kiseop oppa, Dongho oppa!” ucap Hyera singkat dan telepon pun terputus. Kiseop memasukkan kembali handphonenya ke saku.
“Tokonya tepat di sebrang sana! Ngomong-ngomong Hoon mana?” tanya Kiseop padaku yang jelas dari tadi bersamanya dan tidak mungkin tahu Hoon dimana.
“Molla!” jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.
“Sebaiknya aku ambil sekarang kuenya, apa kau mau ikut aku?” tanya Kiseop padaku lagi.
“Aku tunggu di sini sajalah!” jawabku. Kiseop mulai menyeberang menuju toko kue yang berdekatan dengan toko minuman yang Hoon datangi.
Kulihat Kiseop sudah memasuki tokoh itu, kulirik jam di tanganku dan ini sudah pukul 03:20 sore. “Apa? Sepuluh menit lagi!” Aku lupa kalau gadis itu sebentar lagi pasti di sana. Aku berlari ke tempat itu, terminal bus. Aku selalu melihat gadis itu di sana, dia menarik perhatianku sejak pertama melihatnya, hampir setiap hari aku menunggu di terminal itu hanya untuk melihatnya namun sampai sekarang aku belum tahu nama gadis itu.
Sekarang aku sampai di terminal itu, kulihat gadis itu sudah berdiri di sana. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, aku hanya berdiri diam tidak jauh darinya. Tiba-tiba hujan turun, kami kemudian berlari ke depan sebuah restoran kecil  untuk berteduh. Dia berusaha mengeringkan rambutnya yang basah dengan tangannya, dia begitu kesulitan karena tidak mempunyai handuk. Aku mengeluarkan handuk yang tidak sempat aku pakai tadi kerena latihan basketnya di-cancel. Aku menyodorkan handuk itu ke hadapannya dengan hati-hati. Pelan-pelan dia mulai berbalik ke arahku dan aku hanya tersenyum, dia membalas senyumanku dengan senyumannya yang begitu indah, senyuman yang membuatku rela berlari ke terminal meninggalkan sahabat-sahabatku dan juga hyung-hyung hanya untuk melihatnya.
“Gomawo,” ucapnya singkat masih dengan senyuman yang terukir di wajahnya lalu mengambil handuk yang aku sodorkan.
“Ne,” balasku, aku rasa wajahku mulai salah tingkah sekarang, namun aku berusaha menyembunyikannya. “Shin Dongho imnida!” ucapku sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman dengannya.
“Park Ahn Mi imnida!” gadis itu menjabat tanganku, akhirnya sekarang aku tahu namanya.
“Ahn Mi-sshi, kau mau masuk ke dalam dulu? hujannya masih deras,” tanyaku pada gadis itu sambil mengulurkan tanganku untuk merasakan hujan lalu menatap ke langit yang masih menurunkan titik-titik airnya.
“Ne,” jawabnya.
“Kajja!” Aku menarik tangannya masuk ke dalam restoran.
Kami sekarang duduk berdua menghadap jendela sambil menatap hujan yang semakin deras. Aku kehilangan kata-kata sangking senangnya. Kulihat jendela di hadapanku yang agak berembun kemudian kugambar hati yang melambangkan perasaan senangku sekarang pada jendela itu dengan jari telunjukku. Tiba-tiba dia berbalik ke arahku dan dengan segera aku menghapus gambar itu.
“Dongho-sshi, gomawoyo!” ucapnya sekali lagi tersenyum lalu mencicipi kopi hangat yang sudah kami pesan.
“Hehe,” aku hanya tersenyum salah tingkah. Kami mengobrol banyak, mulai dari hal biasa sampai hal yang tidak biasa. *kyk lgunya K’Vidi….hahaha*
“Sepertinya hujan sudah reda, aku pulang dulu yah!” ucap Ahn Mi.
“Ne,” Ahn Mi memasang sepatunya lalu pergi. “Annyeong!”

Eli POV

“Bagaimana menurutmu kalau desain covernya begini?” tanyaku pada Aj sambil memperlihatkan laptop yang menampilkan desain cover majalah kami untuk edisi berikutnya. Aj adalah rekan kerjaku di perusahaan percetakan majalah sekaligus sahabatku. Kami berada di restoran ini untuk makan siang yang tertunda gara-gara banyaknya pekerjaan.
“Itu bagus! Tapi, sepertinya tulisan yang di sebelah sini tidak usah terlalu besar,” saran Aj yang kubalas dengan anggukan.
“Wah, di luar hujan, kita tidak mungkin kembali sekarang,” ujarku ketika melihat ke luar jendela yang ternyata di luar sedang hujan.
“Kita tunggu saja sampai reda sambil membahas topik majalah untuk edisi berikutnya,” kata Aj. Sekarang padanganku tertuju pada seorang siswa menengah atas yang baru masuk ke restoran ini dengan pakaian basah yang sepertinya ku kenali.
“Eli-sshi, ada apa?” tanya Aj yang melihatku melamun.
“Ah, aniya!” ujarku singkat lalu kembali menatap ke arah laptop.

-Why did we fight urin wae iraenneunde
Did you lose the sight urin saranghaenneunde
Naega wae i sungan meomchwo inneunde
Baboya naega piryohan geon baro neoya-

Kulirik handphoneku yang tengah berdering lalu kuangkat telepon itu. “Yeoboseyo?”
“Yeoboseyo, Eli-sshi, apa kau di rumah?” tanya orang yang menelponku.
“Ani, aku sedang makan siang sekarang!” jawabku.
“Tadi, Kiseop-sshi menelponku dan dia bilang Dongho menghilang,” jelasnya panik.
“Aigo, jinjjayo?” tanyaku ikut panik. “Aku tadi ada urusan jadi kusuruh Kiseop dan Hoon menemani Dongho pulang.”
“Iya, tadi memang Dongho bersama Kiseop dan Hoon tapi saat mereka pergi membeli sesuatu di seberang jalan dan kembali, Dongho sudah menghilang,” jelas Soohyun hyung.
“Aku akan mencarinya, annyeong!” ucapku sambil menutup telepon.
“Ada apa?” tanya Aj melihatku panik setelah menerima telpon.
“Dongho menghilang,” jawabku singkat.
“Jinjjayo?” ujar Aj ikut kaget.
“Ne.”
“Eli, bukankah itu Dongho?” tanya Aj sambil menunjuk siswa menengah atas yang sedang duduk sendiri di depan jendela restoran.
“Ne, itu Dongho, tapi bicara sama siapa dia? Aigo, sepertinya dia kambuh lagi,” ujarku. Aj menepuk pundakku seakan menyabarkanku. Aku terus saja memandangi Dongho yang tengah asyik mengobrol sendiri ditemani dua cangkir kopi. Tidak lama kemudian dia melambaikan tangannya seakan-akan berpisah dengan seseorang lalu tersenyum malu. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
“Dongho-sshi!” panggilku dan Dongho pun berbalik.
“Ah, hyung, sedang apa di sini?” tanyanya balik.
“Seharusnya aku yang tanya, kau tidak pulang?” tanyaku lagi.
“Aku habis ketemu sama teman baruku di sini, dia baru saja pulang semenit yang lalu,” jawab Dongho sambil tersenyum-senyum bahagia.
“Park Ahn Mi?” tebakku.
“Hah, bagaimana hyung tahu? Apa kau melihatnya tadi dan kau mengenalnya?” tanya Dongho betul-betul kaget.
Aku menepuk bahunya dan mengajaknya pulang, ini kesekian kalinya dia menceritakan kejadian ini padaku. Aku dan AJ sudah sejam lebih di sini dan kami sama sekali tidak melihat siapa pun bersama Dongho, ‘Dia berimajinasi lagi!’ ucapku dalam hati.
“Hyung kenapa sih? Jawab aku! Apa hyung kenal gadis itu?” Sekarang Dongho mengguncang-guncangkan bahuku.
“Cukup Shin Dongho!” tanpa sadar aku berteriak padanya. Aj segera menenangkanku. “Sadarlah! Jangan begini terus, terima kenyataan, kau tidak boleh selemah ini!” aku tak dapat berfikir lagi melihatnya bersikap seakan-akan Ahn Mi itu masih hidup, Ahn Mi adalah cinta pertama Dongho yang meninggal satu bulan lalu dan sekarang hanyalah gadis khayalannya.
“Park Ahn Min!” Dongho kembali duduk di kursinya lalu tertawa dan sesaat kemudian menenggelamkan kepalanya ke dalam kedua belah tangannya di meja lalu mengacak rambutnya dan menagis.
“Mianhae, Dongho!” ucapku sambil mengelus punggung Dongho dan menangkis tanganku dengan tangan kirinya. Dia lalu melipat kedua tangannya di meja lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya.
“Ahn Mi-yah!” pekik Dongho tiba-tiba sambil memukul meja. Aku dan Aj mencoba menenangkannya, sekarang pandangan orang-orang dalam restoran ini mengarah pada kami.
“Sudahlah, ayo kita pulang!” ajak Aj sambil menggenggam bahu Dongho erat. Aku, Aj, dan Dongho masuk ke mobil milik Aj dan segera pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, aku melihat wajah Dongho yang duduk di belakang begitu sedih melalui cermin di mobil Aj, aku hanya menggeleng dan menahan amarahku. Aj menepuk pundakku dan menggelengkan kepalanya pertanda aku harus membiarkannya tenang, aku sama sekali tidak tenang melihatnya seperti ini.

TO BE CONTINUE…

2 thoughts on “[Freelance Chapter] 0330, Why That Time? 1/4

  1. omo.. jadi park ahn mi itu cnta prtma dongho yg ud mnggl ? ckck…
    ksian dongho.. dy smpe brkhyal ktmu sm gdis itu :-( sabar ne oppa…

    utk author.. sneng bngt ad ff dgn cast u-kiss :-):-)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s