[Freelance Chapter] Fall For You, Noona | Part 2

| CHAPTER 1 |

by

Meutia K.Bachnar

DARI AUTHOR:

Annyeong chingudeul! Terimakasih loh udah baca FFYN (Fall For You Noona) chapter 1 nya ^^ Awalnya sempet desperate banget saking takut ngga ada yang suka sama nih FF, soalnya saya masih amatiran banget. Tapi karena ada yang comment, saya beranikan diri utk ngelanjutin ke Chapter 2~~ Hihi :D

CHAPTER 2 | HYOMIN-NOONA

o0o

“Yoona noona!!”

Yoogeun berteriak histeris ketika mendapati Yoona tengah membuka kedua tangannya lebar-lebar, nggak sabaran ingin memeluk Yoogeun. Dengan terburu-buru, bocah berusia 4 tahun itu berlari dan kemudian menyambut pelukan Yoona.

“Aiiish, kau sudah sebesar ini Yoogeun!!”

Noona, sudah lama aku tak melihatmu!”

Noona-mu ini sibuk Yoogeun-aah” bisik Jonghyun kepada Yoogeun, sambil memamerkan tawa khasnya kepada Yoona. Yoona memukul pelan lengan Jonghyun.

“Jangan dengarkan dia, Yoogeun..” balas Yoona, sambil melirik Jonghyun. “Nah, mana tasmu? Ayo, kita pulang karena Ibumu pasti sudah menunggu”

Jonghyun melirik ke arah Yoona. Ia tersenyum. “Aku salah. Kau bahkan nggak berubah sedikitpun, Yoona” ujarnya dalam hati. “Kau bahkan masih bisa seakrab ini dengan Yoogeun”

Tanpa Jonghyun sadari, ia telah larut dalam lamunannya tentang Yoona—gadis yang selama ini ia sayangi. Seketika lamunan itu buyar begitu saja ketika Yoona terus memanggil Jonghyun sambil melambaikan tangannya. “Kkajaa!! Kau ini kebanyakan melamun”

“Ah… mian…”

            Jonghyun dan Yoona pun mengantarkan Yoogeun pulang kerumahnya. Setelah itu, mereka langsung pergi menyusul Seohyun dan Yonghwa yang mungkin sudah menunggu lama di tempat yang mereka janjikan.

Sesampainya di kedai ddeobbogi, yang ada di Samcheongdong, Jonghyun dan Yoona mendapati Seohyun dan Yonghwa telah menunggu mereka. Seohyun dan Yonghwa duduk di bangku yang berbeda, namun letaknya persis bersebelahan. Dengan cepat, Yoona turun dari motor ceper Jonghyun dan berlari ke arah Seohyun.

“Seohyun-aah!”

Eonniee!!!

Yoona dan Seohyun pun langsung berpelukan melepas rasa rindu diantara keduanya—karena sudah lama nggak melewatkan waktu bersama. Jonghyun tersenyum. Ada sedikit perasaan lega di hatinya setelah melihat keakraban diantara Seohyun dan Yoona masih ada, bahkan nggak berkurang sedikitpun. Ia pun berjalan menuju bangku yang diduduki oleh Yonghwa.

“Kau sudah menunggu lama, Hyung?” tanya Jonghyun, langsung duduk di depan Yonghwa, sambil sesekali melihat Yoona dan Seohyun yang masih sibuk melepas kangen.

“Aniy.. Aku baru saja sampai” jawab Yonghwa sambil meneguk sebuah kaleng minuman bersoda. Kemudian, ia melanjutkan permainan gitarnya.

“Gitarmu?” tanya Jonghyun.

Yonghwa mengangguk sambil menyunggingkan sebuah senyum. “Gitarku sejak SMP, makanya sudah keliatan usang seperti ini… Haha”

“Pantas saja kau bisa bermain gitar dengan begitu baik” puji Jonghyun. “Ah iya, cewek yang disana itu juga temanku. Namanya Seohyun. Aku, Yoona, dan Seohyun sudah bersahabat sejak kecil. Jadi wajar saja sekarang mereka seperti anak kembar yang tak terpisahkan karena sudah lama sekali kami nggak berkumpul bersama seperti sekarang ini” lanjut Jonghyun, sambil menunjuk ke arah Yoona dan Seohyun.

“Oh, dia… maksudku, temanmu yang satu lagi itu…” Yonghwa menanggapi perkataan Jonghyun sambil tertawa kecil. “Dia sepertinya ketakutan melihatku. Soalnya sebelum kau sampai, hanya aku dan dia yang ada disini… Haha…”

“Haha… Dia memang begitu, hyung. Memang selalu parno sendiri ketika harus berduaan dengan cowok yang nggak dikenalnya” bisik Jonghyun kepada Yonghwa. Jonghyun dan Yonghwa pun tertawa bersama.

Mereka berempat larut dalam percakapan masing-masing. Yoona, sedari tadi sibuk menceritakan pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di SNUA kepada Seohyun. Mulai dari cerita tentang kekagumannya akan bangunan SNUA yang begitu besar, sampai cerita dimana ia menabrak seorang senior ceweknya yang jutek. Seohyun—yang mendengarkan semua cerita Yoona—merasa iri dan ingin cepat-cepat lulus SMA, lalu menyusul jejak kedua sahabatnya untuk berkuliah di SNUA. Sedangkan Jonghyun dan Yonghwa nampaknya begitu nyambung ketika membicarakan masalah musik. Bahkan Yonghwa tak sungkan mengajak Jonghyun untuk mengomentari lirik lagu yang tengah dibuatnya.

Beberapa selang waktu kemudian, kedai ddeobbogi itu sudah dipenuhi oleh pelanggan yang terus berdatangan. Kini semua kursi di kedai itu terisi penuh, dan ada seorang pelanggan cewek yang nampak kebingungan harus duduk dimana.

“Jonghyun-aah!” bisik Yoona, sambil menarik lengan baju Jonghyun.

“Ne? Ada apa, Yoong?”

“Itu… Itu… Itu kan eonnie yang jutek tadi!! Ottokee!!”

Yoona menunjuk ke arah pelanggan cewek yang tengah kebingungan tadi. Jonghyun pun mengikuti arah telunjuk Yoona. “Kau bisa bersembunyi di balik badanku, tenang saja Yoong~”

Yoona, yang awalnya duduk terpisah dari bangku yang ditempati oleh Jonghyun dan Yonghwa, langsung pindah kesebelah Jonghyun. Ia berusaha menyembunyikan dirinya di balik badan Jonghyun, saking takutnya kepada senior yang baru saja memarahinya di kampus tadi pagi. Melihat Yoona yang telah berpindah ke sebelah Jonghyun, Seohyun pun jadi bingung. “Eonnie… kenapa kau pindah? A-Aku…”

Tiba-tiba pemilik kedai ddeobbogi datang menghampiri Seohyun. “Nona… Mianhae… Apa kau bisa bergabung saja dengan teman-temanmu di sebelah? Karena masih ada pelanggan yang belum mendapat tempat duduk”

“Kau bisa pindah kesini” ujar Yonghwa yang sudah beranjak dari tempat duduknya, mempersilakan Seohyun untuk duduk di sampingnya. Dengan ragu-ragu, Seohyun pun duduk di sebelah Yonghwa. “Gwenchana? Apa perlu aku berdiri?” tanya Yonghwa, mendapati Seohyun yang merasa risih ketika harus duduk di sebelahnya.

“G-Gwenchana yo..” balas Seohyun, sambil menundukkan wajahnya.

            Pelanggan cewek yang rupanya senior di kampus SNUA itu pun duduk di sebelah bangku yang diduduki oleh Jonghyun, Yoona, Seohyun, dan Yonghwa. Cewek jutek itu nampak berbeda sekarang, pikir Jonghyun di dalam hati. Ya, senior cewek yang kini persis duduk di bangku sebelah itu terlihat lebih lembut. Wajahnya terlihat begitu letih dan pucat. Matanya sembab. Aish… apa-apaan aku ini?! Kenapa aku terus memperhatikan noona disebelah itu?! Ehh..?! A-Aniya… Di-Dia menangis?

            Kini Noona yang duduk di sebelah bangkunya tengah menangis sambil terus memakan semangkuk penuh ddeobbogi di hadapannya. Dan Jonghyun makin tak bisa mengalihkan perhatiannya sampai Noona itu keluar dari kedai.

“Oppa, kau tidak memakan ddeobbogi-mu?” tanya Seohyun kepada Jonghyun.

“Ah, iya…”

Keesokan harinya…

Saat itu kampus sudah sepi. Nampaknya sudah banyak mahasiswa yang pulang. Tapi nggak dengan Jonghyun. Ia memilih untuk berlama-lama di loteng yang ada pada lantai tiga kampusnya itu. Disana, ia sibuk belajar memainkan gitar dengan gitar yang dipinjamkan oleh Yonghwa.

Tiba-tiba suara seorang cewek mengusik ketenangan Jonghyun yang tengah serius memainkan gitar.“Yo-Yoboseyo… I-Ini aku Hyomin… Eeeeh? Hallo? Hallo?!”

Nggak sabaran, Jonghyun pun memilih untuk menghampiri cewek itu.  “Yaa~ Aku rasa kau terlalu ribut” ujar Jonghyun, mencolek pundak cewek mungil di hadapannya dengan ujung gitar.

Cewek itu dengan ragu-ragu membalikkan badannya dan siap-siap membungkukkan badannya. “Mian…haey—Eeeh?”

Jonghyun dan cewek itu sama-sama terperanjat. Mereka berdua sudah pernah ketemu sebelumnya. Ya, cewek mungil itu tak lain adalah senior yang memarahi Yoona kemarin. “Ah… kau, Noona?

“K-Kau? Mian… Tapi, kau ini siapa, ya?”

“Hhhh” Jonghyun menghela napas panjang. “Kau bahkan tidak ingat aku? Kau masih cewek yang sama kan? Yang menabrak Yoona, yang jutek itu?”

“Oh, kau rupanya”

“Cuma ‘kau rupanya’? Tumben hari ini Noona lebih bersahabat”

“Yaa~ Apa maksudmu?! Lalu, untuk apa kau jam segini masih ada di tempat sesepi ini?!”

“Kau sendiri, Noona? Ini resmi menjadi tempatku sejak satu jam yang lalu… Kau tiba-tiba datang membawa keributan saat aku sedang konsentrasi bermain gitar” protes Jonghyun, membuat Noona itu terpaku. “Sungguh mengganggu”

“Aiishh, bocah ini. Mahasiswa baru aja udah sebegini sombongnya. Asal kau tau, loteng ini sudah jadi tempatku sebelum kau masuk kesini menjadi mahasiswa baru!” ujar Noona itu, kemudian berlalu meninggalkan Jonghyun sendirian. Tanpa ia sadari, ia meninggalkan sebuah buku kecil berwarna jingga.

Jonghyun yang menyadari kalau cewek mungil tadi telah meninggalkan sebuah buku kecil pun memilih untuk membuka buku itu. Pada halaman pertama buku itu, nampak jelas ada sebuah foto ukuran kecil yang tak lain adalah foto cewek mungil yang ia panggil Noona tadi bersama seorang cowok. “Sepertinya aku sudah tak asing dengan namja satu ini” ujar Jonghyun sambil terus memandangi cowok yang ada di foto itu. “Eh.. Bukankah ini Lee Donghae?”

            Tanpa berlama-lama, Jonghyun mengejar Noona jutek itu. Ia ingin mengembalikan buku kecil itu sekaligus mencari tahu apa hubungannya dengan Lee Donghae, yang tak lain adalah pacar Yoona saat ini.

“YAA~~!! NOONAAAA!!”

Jonghyun mengejar cewek mungil tadi, yang kini ada 100 meter di depannya. “YAAAA~~!” teriaknya lagi, sampai akhirnya Noona jutek itu membalikkan badan.

“Eh?! Ada apa? Kenapa kau mengikutiku?”

“Hm…” balas Jonghyun, terengah-engah karena kecapekan berlari. “Ini… Bukumu ketinggalan”

“Ah, gomawo” ujar Noona itu, mengambil buku kecil kepunyaannya dari tangan Jonghyun. “Ada lagi yang mau kau bicarakan? Kalau tidak, aku mau pulang”

Jonghyun hanya terdiam.

“Baiklah. Annyeong!”

Cewek mungil di hadapan Jonghyun itu melambaikan tangannya sambil terus berjalan meninggalkan Jonghyun yang masih terdiam. Tapi, tiba-tiba…

“Apa kau membawa motor? Atau sepeda?” tanya cewek mungil itu dari kejauhan.

“Mwo?”

“Rumahku jauh. Hehehe.. Bolehkah kau mengantarku?”

            “Hah?!” Jonghyun tersentak begitu mendengar seorang cewek yang bahkan tak ia kenal minta diantarkan pulang. Tapi berhubung saat itu sudah hampir malam, Jonghyun pun mengiyakan permintaan cewek yang ia kenal dengan sebutan Noona. “Kau tunggu disini. Aku ambil motorku dulu”

Baru kali ini Jonghyun memperbolehkan cewek lain duduk di motor ceper kesayangannya. Selama ini, motor ceper itu hanya ditumpangi oleh tiga cewek; Eommanya, Yoona, dan Seohyun—tiga cewek yang sangat dekat dengannya. Tapi kali ini ia membonceng orang asing, terlebih lagi orang asing itu adalah seorang Noona—seorang cewek yang jauh lebih tua darinya.

“Gwenchana, Noona?” tanya Jonghyun tiba-tiba.

“Nee… Walau gitarmu berat sekali, tapi tak apa… Kau menitipkannya pada orang yang tepat seperti aku”

Jonghyun tersenyum mendengar balasan yang terkesan polos itu.

“Hei, aku belum tahu namamu, bocah” lanjut Noona mungil itu. “Aku Hyomin. Ingat-ingat namaku, siapa tahu kau membutuhkan pertolonganku suatu saat. Aku Mahasiswa Seni Rupa, setahun lebih tua daripada kau”

“Jonghyun imnida”

“Ah iya, aku juga minta maaf kejadian kemarin. Sempat membuat temanmu ketakutan. Hahaha… dia manis sekali. Apa dia yeojachingu-mu? Siapa namanya?”

“Iya… dia memang manis” balas Jonghyun, yang tak sadar akan apa yang diucapkannya barusan. Selang beberapa detik, ia tersadar dan cepat-cepat meralat ucapannya. “Ta-Tapi… dia bukan yeojachingu-ku. Dia sudah punya pacar. A-Aku dan dia sudah berteman sejak kecil”

“Hahaha… Dasar bocah. Sudah jelas kau suka padanya. Yaa~ Kalau kau mau bercerita aku siap mendengarkannya. Aku kan sudah lebih banyak makan asam garam kehidupan” balas Hyomin, dengan nada sedikit mengejek.

“Bukan urusanmu” sanggah Jonghyun, yang tiba-tiba menjadi dingin.

Hyomin merasa bersalah. “Eh, turunkan aku disini saja. Aku biasa jalan kaki”

            Tanpa membalas perkataan Hyomin, Jonghyun langsung memberhentikan motornya. Hyomin turun dari motor ceper itu dan mengembalikan gitar yang ia pegang kepada Jonghyun. Setelah itu, ia membungkukkan badannya dan berbisik pelan, “Gomawo, Jonghyun. Annyeong”. Tanpa basa-basi, Jonghyun langsung membalikkan arah motornya dan meninggalkan Hyomin sendirian di sebuah halte.

Sesampainya Jonghyun di rumah…

“Aku pulang” ucap Jonghyun saat memasuki rumahnya. Saat itu, Eomma dan Appanya tengah menonton di ruang keluarga. Biasanya Jonghyun akan ikut duduk di ruang keluarga bersama kedua orangtuanya, tapi kini… Jonghyun merasa dirinya begitu lelah. Ia pun memutuskan untuk segera masuk ke kamarnya.

Jonghyun membanting badannya sendiri ke tempat tidur. Jendela kamarnya yang belum tertutup seakan mengizinkan angin malam untuk menemaninya. Angin itu menyapu wajah Jonghyun. Ia menghela napas panjang. Tiba-tiba ia teringat akan suatu hal. “Ahh, aku lupa mengembalikan gitar ini kepada Yonghwa-hyung

Dengan segera, ia mengacak-acak isi tasnya untuk mendapatkan handphone. “Eh?” Jonghyun menemukan sesuatu yang aneh di dalam tasnya. “Ini kan… kepunyaan Noona yang bernama Hyomin tadi”

Rupanya buku kecil kepunyaan Hyomin itu tertinggal dalam tas Jonghyun. Entah bagaimana caranya buku itu bisa berada di tasnya. Jonghyun tak ambil pusing soal buku kecil itu. Ia meletakkan buku itu di meja belajar dan kembali mencari handphone-nya untuk menghubungi Yonghwa.

“Yoboseoyo… Ahh, Hyung… Maaf, aku lupa mengembalikan gitarmu. Apa perlu aku ke rumahmu? Kau bisa memberikan alamatmu… Eh… benar, tak apa? Baiklah, jeongmal kamsahae, hyung

Fiuuuuh. Jonghyun menghembuskan nafas. Kemudian ia beranjak ke meja belajarnya dan memandangi buku kecil kepunyaan Hyomin. “Yaa~ Apa yang harus kulakukan dengan buku ini? Aku bahkan lupa menanyakan hubungan Noona itu dengan Lee Donghae” tanyanya, kepada benda mati itu. Tiba-tiba ia teringat akan sikapnya yang terkesan nggak sopan kepada Hyomin tadi sore. “Hhh… Bukan salahku sepenuhnya. Noona itu terlalu ikut campur mengenai hal yang sifatnya begitu pribadi bagiku”

Jonghyun pun membuka lembar demi lembar buku kecil itu. Ia nampak serius membaca tiap tulisan yang ada di buku itu.

September 2006

Miris sekali. Di hari ini, padahal bertepatan dengan tiga tahun sudah lamanya persahabatanku dengan dia. Tapi… dia mengatakan padaku kalau dia sudah menyukai seorang gadis. Dia bahkan tak mengenalkanku dengan gadis pujaannya itu. Ah… Seandainya kau tahu, Lee Donghae.

Hyomin.

Januari 2007

Aku berhasil mengungkapkan perasaanku padanya. Dia tak berkata apa-apa. Ottoke?! Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku salah? Apakah aku egois?

Hyomin.

Januari 2007

Sehari setelah aku mengungkapkan perasaanku padanya, dia menjauhiku. Dia bahkan bersikap seolah tak pernah mengenalku.

Sebentar lagi kami akan berpisah. Kami akan beranjak menjadi seorang mahasiswa. Begitu tahu aku memilih SNUA, ia langsung merubah pilihannya. Aku bahkan tak tahu ia akan melanjutkan kuliah kemana. Padahal dulu, kita berjanji untuk sama-sama melanjutkan kuliah ke SNUA.

Hyomin.

Agustus 2010

Sudah lama aku tak mengisi buku kecil ini.

Aku mencoba menyibukkan diri… berkonsentrasi pada semua hal yang berkaitan dengan kegiatan perkuliahanku. Aku juga bekerja paruh waktu di Perpustakaan Kampus. Aku lebih baik sekarang. Aku sudah bisa melupakan dia, walau belum sepenuhnya. Tapi kenapa harus tiba-tiba datang seorang teman SMA-ku memberi tahu keberadaan dia sekarang. Bahkan, temanku itu memberikan nomor telepon Lee Donghae kepadaku. Apa yang harus kuperbuat saat ini?!

Hyomin.

Jonghyun tertegun menatapi curahan hati Hyomin paling akhir yang tertulis di buku kecil berwarna jingga itu. Ia mengerti sekarang seperti apa hubungan Hyomin dengan Lee Donghae. “Cih, dia sok kuat sekali. Dia sok ingin mendengarkan ceritaku yang persis seperti ceritanya” ujar Jonghyun. Ia pun berniat untuk mengembalikan buku itu kepada pemiliknya besok.

“Waah, daebak! Kau benar-benar mengalami kemajuan pesat, Jonghyun” puji Yonghwa ketika mendengarkan Jonghyun memainkan gitar.

“Ini berkat kau juga, hyung” balas Jonghyun, menyunggingkan chic-smile nya kepada Yonghwa. “Gomawo untuk pinjaman gitarmu beberapa hari ini… Benar-benar membantu”

“Aih, kau ini. Menganggapku seperti orangtua saja. Bahasamu terlalu formal, hahaha” balas Yonghwa. “Kau sudah tahu, sistem Ujian Tengah Semester yang akan dilaksanakan bulan depan?”

“Mwo? Cepat sekali? Memang… bagaimana sistemnya? Apa Lee Dong-Wook songsaengnim sudah mengumumkannya?”

Yonghwa mengangguk. “Nee. Dong-wook songsaengnim bilang, setiap mahasiswa wajib untuk meng-cover sebuah lagu beraliran Rock dengan arransemen lagu yang harus diubah. Katanya, kalau penampilan kita jauh lebih baik dari penyanyi aslinya, kita akan mendapatkan poin plus yang akan mempermudahkan kita untuk mendapatkan nilai bagus di Ujian Akhir Semester nanti”

“Bagaimana kalau kita satu kelompok, hyung?” ajak Jonghyun.

“Itu yang baru mau kukatakan… Hahaha”

Setiap mahasiswa di SNUA sudah sibuk mempersiapkan kemampuan yang telah ia pelajari beberapa minggu ini untuk menghadapi Ujian Tengah Semester bulan depan. Sistem Ujian Tengah Semester tiap jurusan berbeda-beda, tergantung dosen utamanya. Seperti Jonghyun dan Yonghwa yang merupakan mahasiswa jurusan Seni Musik, mereka hanya perlu menyanyikan ulang sebuah lagu beraliran Rock dengan arransemen baru. Walau terdengar mudah, ini tetaplah menjadi suatu hal yang sulit dan pantas untuk dijadikan tantangan karena tiap mahasiswa harus menyanyikan lagu itu dengan gayanya sendiri.

“Jadi, bagaimana dengan sistem Ujian Tengah Semestermu, Yoona?” tanya Jonghyun ketika menikmati waktu istirahat di kantin bersama Yoona.

“Hhmmm” Yoona menghembuskan napas pelan. “Kami diharuskan untuk menguasai suatu peran yang ada dalam skenario Shakespear. Romeo dan Juliet itu loh… Tapi kami harus menguasai peran itu dengan total, kami akan membawakannya dalam gaya baru… kami akan mengubah nuansa Romeo dan Juliet yang terkesan kaku itu menjadi sebuah drama musikal yang atraktif”

“Aku sama sekali nggak mengerti, hahah—“

Tiba-tiba Jonghyun terdiam begitu mendapati Hyomin tengah membeli roti di kantin. Sudah lama Jonghyun tak melihat Hyomin. Jonghyun pun mengacak isi tasnya, memastikan kalau ia masih menyimpan buku kecil kepunyaan Hyomin.

“Jonghyun? Ada apa?” tanya Yoona.

“Aniy…” balas Jonghyun, sambil memperhatikan sekitarnya. Hyomin sudah tak ada lagi di kantin. “Aku ada keperluan sebentar. Aku duluan, Yoong~”

Jonghyun mencari Hyomin kemana-mana, tapi nggak ada tanda-tanda keberadaan Hyomin. Jonghyun sudah pergi ke seluruh ruang kuliah mahasiswa jurusan Seni Rupa, tapi ia tetap nggak menemukan Hyomin. Tiba-tiba Jonghyun teringat akan suatu hal. Ia pun makin mempercepat langkah kakinya.

“I-Ini… Hosh hosh hosh”

“Jo-Jonghyun? Kenapa kau?” tanya Hyomin ketika mendapati Jonghyun berdiri lemas di hadapannya.

“Ini bukumu… Hah… Kemana saja kau, Noona? Untung aku sempat membaca bukumu dan tau kalau kau kerja sambilan di Perpustakaan Kampus”

“Eh?!” balas Hyomin kebingungan. “Ja-Jadi kau membacanya?”

Jonghyun mengangguk pelan. Ia terduduk lemah di samping Hyomin yang tengah merapikan rak buku. Tiba-tiba Hyomin memukul kepala hoobaenya itu dengan buku tebal yang dipegangnya sekarang. “Siapa suruh kau membacanya, hah?! Siapa?!”

“Aisssh jjinja!! Yaa~ Kalau aku tak membacanya, bagaimana aku bisa mengembalikannya padamu?!” ujar Jonghyun, sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja dipukul oleh Hyomin. “Tenang… aku nggak akan membocorkan rahasiamu, Noona. Ki-Kita… memiliki alur cerita patah hati yang sama… Persis sama”

“Maksudmu?”

“Lee Donghae adalah pacar Yoona sekarang”

“Yoona temanmu itu?”

            “Nee”

TO BE CONTINUE

3 thoughts on “[Freelance Chapter] Fall For You, Noona | Part 2

    • Waah, gomawo sudah membaca :)
      Kelanjutannya ya? Berhubung saya sudah beralih menjadi author tetap *plak*, jadi masih bingung gimana nih sistem ngepost-nya. *kok malah curhat yak -_-*
      Hehe..
      Tapi kalo udah ngerti sistem ngepostnya nanti, pasti langsung dipost kok chapter selanjutnya ^^ sabar ya chingu..

  1. ini udah dilanjut belum?=)) alu belum search lagi *padahal tinggal search* #plak
    aku pernah baca cerita ini sebelumnya tapi dimana ya… author nge post ff ini di mana aja?

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s