[Freelance Chapter] Memories 4 of 4 [END]

| CHAPTER 1 |
| CHAPTER 2 |
| CHAPTER 3 |

by

Febe Aninda

Sungmin POV

Aku mulai beres-beres dan membawa semua album fotoku masa kecilku yang setiap halamannya pasti ada muka Sunny dengan berbagai pose. Aku bahkan masih punya foto kecil Sunny yang membawa bunga dan menciumnya tepat didepan kamera, foto itu diambil saat ia berumur 3 tahun.
Aku mengecek ponselku dan mendapati ada satu sms masuk. Sunny. Yap ! SMS jawaban ya yang aku tunggu.

Little Gangwondo –

Annyeonghaseyo Sungmin-ssi, ne. aku akan bersiap untuk ke Gangwon-do, geunyang.. aku akan ke dokter sebentar, dan joisonghabninda kalau nanti aku terlambat sampai dirumah anda. Gamsahabnida..

-Sunny-

“Dokter ? Apa dia sakit ? Sepertinya kemarin masih baik-baik saja..” gumamku sembari kembali memasukkan beberapa potong pakaian. Aku masih yakin kalau akan berhasil menjalankan misiku kali ini.
Tak lama Changmin hyung masuk kedalam kamarku sembari menggotong segalon kecil air putih yang masih nampak baru, dengan kaos polonya aku selalu iri dengan tubuh atletisnya itu.
“Hyung-a… kira-kira berhasil tidak ?” ucapku mendadak pesimis.
“Hwaiting !!” Agak sedikit tidak nyambung antara ucapanku dan responnya. Namun, kuabaikan daripada berbuntut panjang dan air galon itu di buang mentah-mentah buat ngisi air kolam lebih baik aku diam (Author :berani buang, awas ! Changmin masih utang itu belinya .. | Changmin : hush ! dibaca reader entar, eh gantinya kalo udah gajian yaa | Author : *telpon Lee Soo Man)
“Loh ? Si Sunny belum dateng ?” tanya Changmin saat kami masih duduk dan kongkow di halaman depan rumahku. Kukeluarkan ponselku sembari menyodorkan sms yang baru saja Sunny kirim padaku. Changmin hanya mengangguk sekilas sambil mengeluarkan jaketnya, udara Seoul sudah mulai mendingin.

Sunny POV
“Apa kau sedang berusaha mengingat sesuatu ??” tanya Dr. Donghae padaku. Aku mengangguk pelan.
“Apa ?” tanyanya lagi sembari menatap mataku. “Apa itu sesuatu yang penting dan pernah berharga didalammu ?” tanyanya lagi.
“Molla..kemarin aku baru saja bekerja sebagai private secretary untuk artis Lee Sungmin, entah mengapa semenjak mengenalnya bahkan berbicara dengannya, kepalaku terasa sakit, bahkan aku malah bisa melihat kembali keadaan masa kecilku…” ucapku dengan tenang.
Dr. Donghae mengernyitkan alisnya, dahinya berkerut. Dokter muda ini nampak menulis suatu case pada bukunya dan mulai menelpon psikiater di rumah sakit tersebut. Dr. Donghae menyuruhku untuk keluar sebentar sembari dia menge check dan kembali menge check apa yang menjadi duty-nya. 1 jam kemudian seorang suster menyuruhku kembali masuk kedalam.
“Dokter, kalau boleh tau saya ini kenapa ya ? Apa saya harus menjalani pengobatan lagi ? Ataukah luka itu kembali terbuka..?”tanyaku.
“Tidak, so far kamu baik-baik saja, hanya saja…”
“Hanya apa dok ?” tanyaku penasaran. Raut muka Dr. Donghae nampak serius.
“Hipotesa saya, sebelum kecelakaan belasan tahun lalu itu terjadi, kau berusaha untuk melupakan seseorang dan saya asumsikan Lee Sungmin, namun karena kecelakaan itu merusak memorimu jadi kau tidak bisa mengingat apa-apa lagi sekarang. Namun, memori itu kembali lewat peristiwa ini… banyak pasien yang mengalami hal seperti mu. Jangan takut, jika kamu berhasil membawa memorimu kembali, semua juga akan kembali seperti sediakala…” ucap Dr. Donghae sembari tersenyum dan menepuk bahuku.
Maldo andwee, gumamku perlahan. Gangwon-do.. aku teringat sms Sungmin barusan dan mengajaknya ke Gangwon-do. Solma ?

Sungmin POV
Sudah sekitar 6 jam, kami berada di kereta. Aku dan Sunny, hanya berdua. Tak disangka iapun ternyata membawa banyak peralatan, seperti sandwich, termos es ukuran sedang dan juga tas ransel kecil yang memuat baju-bajunya. Bahkan ia memaksaku membawa bantal supaya bisa tidur didalam kereta. Aku menggeliat bangun dan mendapati Sunny sedang tidur dengan nyenyaknya dengan selimutku. Mukanya terlihat lelah dan masih nampak seperti shock. Aku membuka termos es dan mendapati sebotol Starbucks dingin didalamnya. Kulihat dari jendela, hari hujan.
Kembali kutengok Sunny, ia kini mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya dan mulai duduk dengan tegak, kusodorkan botol starbucks lain yang juga ada di dalam termos es itu.
“Gomawo..”ucapnya parau. Efek bangun tidur yang nampak nyata pada diri Sunny.
“Geunde… kenapa tadi kau ke dokter ? Apa kau sakit ? Mianhae kalau aku harus membawamu ke Gangwon-do.. aku hanya ingin berbagi tempat dan kenangan masa kecilku disana …” ucapku sopan. Dia hanya tersenyum.
“Nan gwenchanha.. “ ucapnya tak kalah sopan.
Kami tiba di Gangwon-do, dan sekilas kulihat mata Sunny nampak berbinar. Ia amat senang dengan udara disini bahkan suasannya. Ya, inilah rumahnya. Aku juga senang melihatnya tersenyum seperti ini.

Sunny POV
AAAAAA jib-e wuatda !! I’m home now. Aku amat sangat senang udara disini, masih bersih, belum terlalu tercemar oleh polusi udara. Namun, sakit kepalaku sepertinya akan meghebati disini. Aku ingat dimana tempatku kecelakaan belasan tahun yang lalu, namun mengapa aku tidak mengenal Sungmin –ssi sama sekali.
Sungmin membawaku kerumah orangtuanya di Gangwon-do, kata nya sih mau menjenguk ibunya yang sekarang sudah pensiun dan hanya mengurus kebun rumahnya yang penuh dengan bunga-bunga. Jamkkaman .. sakit kepalaku menghebat ketika aku melihat suasana dirumah Sungmin, ige mwoya ? Aku seperti mengalami flashback, ya, flashback kehidupan sebelum kecelakaan hampir maut itu terjadi kepadaku.
“Jakkamanyo Sungmin-ssi, aku sakit kepala lagi…” keluhku.
“Gwenchanha….ayo kita masuk dulu…”
“Anio … sakit kepalaku menghebat ketika aku memasuki setiap centi rumah ini.. aku tidak tau kenapa ..” ucapku sembari memegangi kepalaku yang mulai berputar.
Sun Kyu-a…Sun Kyu-a….
Kata-kata itu terngiang ditelingaku, aku mulai menutup telingaku. ANDWEE !!! Ige mwoya ??? Aku benar-benar tidak kuat menghadapi ini.
“Eomma….”
Dan mendadak gelap !

Sungmin POV
Dari luar kamar, kulihat dengan lembut eomonim mengompres dan megusap dahi Sunny pelan dengan air hangat dan sedikit alkhohol untuk membangunkannya. Aku menutup wajahku dengan kedua belah tanganku, ini salahku kenapa aku nekad membawanya kesini, kenapa. Betapa bodohnya aku, harusnya aku menunggu sampai Sunny yang menyadari sendiri, dan kenapa pula aku sampai tidak tau kalau ia pernah kecelakaan.
“Oh kau sudah sadar…” Terdengar suara eomma dari dalam cukup keras, sampai aku mengusap air mata yang telah mengalir di pipi. Akupun masuk sembari melihat keadaannya, dia mengerjapkan matanya yang bulat itu. Lalu, ia menengok kearah eomma.
“Imonim …” ucapnya pelan.
Eomma melihatku dengan tatapan tidak percaya. Uri Sunny bisa mengingat ibuku dan memanggilnya imonim. Eomma mengusap rambut atas Sunny pelan, sekilas kulihat airmata di pipi Sunny, perlahan eomma menyentuh air mata yang ada dipojokan matanya.
“Sunny-a … Kau ingat imonim ?” tanya eomma dengan tatapan penuh haru. Eomonim amat sangat sayang pada Sunny, sudah dianggapnya Sunny sebagai anaknya sendiri. Dengan sayang, dipeluknya Sunny dan dielusnya kepalanya perlahan. Aku hanya bisa diam menyaksikan ini. Aku bersyukur eomonim masih hidup. Sunny meregangkan pelukannya dan menatapku dalam.

Sunny POV
Aku melepaskan pelukanku pada orang yang telah dekat padaku sejak aku kecil ini, ternyat aku tadi pingsan, namun setelah pingsan aku menemukan banyak sekali hal dalam mimpiku. Semu cerita masa kecilku, semua memori dan memori yang dulu pecah kini mulai terpasang kembali satu per satu. Sekalipun tak sempurna, aku masih bisa mengingat siapa Sungmin dan siapa Eomonim yang sekarang mengelus perlahan rambutku ini. Kuulurkan tanganku pada Sungmin yang berdiri didepan tempat tidur saat ini. Sungmin meraih tanganku.
“Neon, hobak sonyeon (pumpkin boy)…”ucapku pelan.
Sungmin mendekatiku sembari tersenyum, kurasakan ciuman hangat Sungmin pada jidatku sesaat setelah aku mengucapkan kata pertamaku padanya. Perlahan, eomonim membantuku bangkit, namun Sungmin malah menggendongku di punggungnya.
“Orenmanida…”ucap Sungmin saat ia menuruni tangga satu per satu.
“Ne ?”
“Kau sudah lupa ternyata ..” sahut Sungmin sambil tertawa. Saat ini kami sedang duduk di ayunan di taman belakang. Kugosok kedua tanganku karena dingin.
“Chubda (dingin?) ?” Aku mengangguk sekilas. Sungmin melepas jaketnya lalu meletakkan pada pundakku.
“Aa gomawo ..” ucapku sembari membetulkan letak jaket itu.
“Mianhanda..”
“Ne ?” seruku kaget. Ditengah hal yang seperti ini ia mngucapkan Mianhanda. Waeyo ?

Sungmin POV
“Mianhanda..” ucapku sembari menatap lurus kedepan kearah kolam ikan kecil yang kini masih tampak terawat padahal sudah dibangun sebelum aku lahir.
“Ne ?” kali ini Sunny malah balik bertanya. Tatapan matanya menunjukkan kalau ia bingung mengapa aku meminta maaf padanya disaat seperti ini.
“Karena aku ga bisa tepatin janji, karena aku ga bisa datang ke pemakaman abeoji dan … jeottemune kau mengalami kecelakaan hebat itu…” Sunny tersenyum kecil mendengar pengakuanku. Bahkan aku masih bisa mendengar tawa kecilnya.
“Dwesseo… jangan pernah ungkit lagi ..”sahut Sunny sebelum aku melanjutkan perkataanku. Aku menengok sekilas, Sunny menatap lurus kedepan sembari menguraikan senyum manisnya.
“Justru aku malah bersyukur .. neottemune, aku memang kecelakaan, tapi kalau aku ga kecelakaan belum tentu aku masih bisa memaafkan mu sekarang… kalau aku tidak kecelakaan aku bisa tidak bekerja dan kalau aku tidak kecelakaan mungkin aku masih di GangWon-do dan akan tetap menjadi anak peternak.” Ucapnya sembari membalas tatapan mataku.
“Sungmin –ssi…gomapta ..” chu ~ dia mencium pipiku sekalipun sekilas.
“Sunny –ssi .. aku … aku ga bakal ngelakuin perbuatan yang kayak dulu lagi. Aku ga bakal ninggalin kamu lagi..”ujarku sembari memegang kedua bahunya. Sunny mengeluarkan jari kelingkingnya.
“Yakso ..” ucap kami hampir bersamaan.
Aku menarik Sunny dalam pelukanku. “Aigooo, uri Sun Kyu … finally I found you..” Kusandarkan kepala Sunny pada bahuku.

EPILOG

“Kemana ?”tanya sang gadis kecil di tengah isakan tangisnya yang mereda.
“Ikut saja kemanapun aku pergi …”
Anak lelaki kecil itu menggendong si anak perempuan kecil di punggungnya, dengan perlahan dan hati-hati ia menuruni tiap deret anak tangga yang ada dirumahnya. Sementara sang ayah dari anak  lelaki itu masih menepuk pundak si ayah dari anak perempuan kecil itu. Mereka tiba di taman belakang dan si anak lelaki mendudukkan anak itu tepat di ayunan berwarna putih itu.
“Eomma … eommaa …” isak sang gadis kecil itu saat melihat appanya membawa foto besar.
“Sun Kyu-ya .. uljima ..” ucap sang anak lelaki sembari mengusap air mata pada mata gadis kecil bernama Sun Kyu itu.
“Sunny …”
“Mwohaseyo ?” tanya sang gadis sembari memainkan menggosok matanya yang gatal.
“Dangsin ireumeun Sunny ibnida …”
“Waeyo ?”
“Kau seperti matahari kecil bagiku… geunde matahri itu sedang menangis… geurasseo aku ga mau matahariku menangis. Kata Sungmin eomonim Sun Kyu seperti malaikat, malaikat itu tidak boleh menangis…”ucap Sungmin sembari duduk disebelah anak kecil itu. Chu ~ Sebuah ciuman mendarat di dahi gadis kecil itu.
“Kau tidak akan sendirian… aku akan selalu bersamamu…” ucap Sungmin sambil mengapitkan tangan Sunny di lengannya. Sunny menyandarkan kepalanya pada bahu Sungmin perlahan.

-THE END-

2 thoughts on “[Freelance Chapter] Memories 4 of 4 [END]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s