[Freelance Oneshot] Tears On Road

Title
Tears On Road

Length
Oneshot

Rating
PG-13

Genre
Romance, Sad

Author
Angelinblack

CAST/Main Cast
Elison Kim (U-Kiss)
Sherly (YOU or Readers)

Support Cast
Tiffany Hwang (SNSD)

Disclaimers
FF ini pernah di publish di blog pribadi author, angelinblack.wordpress.com 

Aku menghela nafas kesal sambil menyeret payung besar di tangan kananku. Kutatap pria yang ada dihadapanku. Elison, dia kekasihku, seorang pembalap F1 yang sedang naik daun. Ya, aku tau persis bagaimana perjuangannya selama 5 tahun ini, sampai ia bisa seterkenal sekarang. Aku bertemu dengannya saat ia masih menjadi pembalap ingusan kelas rendah. Memang, aku tidak menyukai balapan seperti, tapi padanya aku tertarik dengan semangat dan kegigihannya. Kuakui pula, ia memang mempesona saat berada di lapangan. Ya, sangat mempesona…

***

            “Tiffany!! Untuk apa kemari?! Ini bising sekali!! Kau tau aku paling benci ini!!!”teriakku pada temanku yang menarikku penuh semangat menuju deretan bangku penonton paling depan sebuah stadion balap di Manchester. Aku benar-benar tidak suka balapan! Suaranya sangat bising! Terlebih, balapan seperti ini menurutku hanya ajang menantang maut yang tidak berguna. Ya, aku sangat tidak menyukainya!

            “Ahh!! Aku ingin menonton sepupuku latihan!! Kau ini, ini masih latihan, tidak sebising pertandingannya nanti! Bangku penonton saja masih sepi!”Tiffany menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepala dan menyipitkan matanya berkonsentrasi pada Arena balapan. “AHH!! Itu dia!!”teriaknya tiba-tiba, ia menunjuk seorang pembalap yang baru turun dari mobil racing dengan Girang. “ELISON!! ELI!!!”teriaknya lebih keras. Kututup telingaku dengan sebelah tangan, suara Tiffany jauh lebih bising dari suara mesin-mesin yang sedang melaju di lapangan.

            “Lihat!! Dia kemari!!!”Tiffany menarikku merapat. Ia menempel di pagar besi batas bangku penonton dan tersenyum senang. Aku menoleh. Pria yang tadi di panggilnya Elison itu berjalan mendekat. Ia membuka kaca helmnya dan melipat tangannya begitu sampai di hadapan kami. Pria itu memiliki postur tubuh tinggi dan kurus yang sangat atletis. Bahu dan lengannya yang berotot tampak sekali dari pakaian balapnya yang sedikit ketat.

            “Sedang apa kau disini??”tanyanya pada Tiffany tanpa sedikitpun menoleh padaku.

            “Hey! Memangnya aku tidak boleh menonton sepupu sendiri latian?! Lagipula hargailah aku!! Aku ini satu-satunya fansmu!!”protes Tiffany kemudian.

            “Kau tidak malu? Yang mendukungku hanya kamu!! Kenapa tidak bergabung dengan fans perempuan lain, mendukung pembalap yang lebih tenar!!”

            “Bodoh!!”Tiffany sedikit merengut, “Kau akan jadi tenar nantinya!!”

            “Aku tau… Hanya butuh beberapa tahun, kan??”

            “Tidak apa-apa…”Tiffany tersenyum lebar. “Ah!!”ia menoleh padaku, “Ini temanku Charlotte…”

            “Oh, Hi…”Elison menoleh padaku dan tersenyum ramah sambil melambaikan tangannya. Aku tersenyum samar, angin yang berhembus kecang membuatku sibuk menyingkirkan rambutku yang menutupi sebagian wajahku.

            “Kau akan latihan lagi??”tanya Tiffany kemudian.

            “Tidak… Mungkin, setelah ini…”Elison menggeleng pelan.

            “Kalau begitu, bisa kau temani temanku ini sebentar? Aku ingin ke toilet…”Tiffany mengerling padaku.

            “Ya..”Elison mengangguk.

            “Oke.. Tunggu sebentar ya…”Tiffany tersenyum padaku dan beranjak pergi.

            Hening. Begitu Tiffany pergi semuanya menjadi hening. Aku tak tau harus berbicara apa pada pria di hadapanku itu, ia juga seperti tidak tertarik denganku. Ya, ini pertama kalinya kami bertemu, tentu saja masih kaku.

            “Tunggu sebentar, aku akan kesana…”Elison tersenyum ramah dan berlari menuju pintu besi tak jauh di kananku dan masuk ke dalam area bangku penonton. Ia segera menghampiriku dan berdiri di sampingku.

            “Tidak apa-apa masuk area penonton?”tanyaku kemudian.

            “Tidak…”ia menggeleng pelan, “Aku tidak ada fans…”

            “Benarkah? Menurutku kau oke…”ucapku jujur. Ya, laki-laki ini sekilas tampak begitu menawan. Aku berbicara tentang fisiknya. Badan yang tinggi dan atlethis, wajah asia-eropa yang tampan dengan bibir tipis yang sangat manis saat tersenyum. Dengan semua itu, seharusnya ia punya fans walaupun balapannya tidak terlalu bagus.

            “Tidak… Aku bukan apa-apa… Memangnya kau tidak pernah melihat siaran balapan? Aku selalu menjadi juru kunci…”

            “Tidak…”aku menggeleng pelan, “Aku tidak menyukai balapan, sangat tidak suka tepatnya… Aku kemari, karena Tiffany ingin memperkenalkanku pada sepupunya. Tidak kusangka kau seorang pembalap…”jelasku jujur.

            “Jadi, Tiffany??”ia terkekeh pelan. “Lalu, kenapa kau tidak suka balapan? Bukankah balapan itu sangat keren?!”

            Aku mendesis pelan. “Apanya yang keren?! Seperti menghantar nyawa begini, apanya yang keren?!”

            “Kuberitau…”ia tersenyum dan menggandengku duduk di bangku terdekat. “Yang kurasakan saat balapan, aku merasa seperti orang bebas! Merasakan angin, memacu mobil dengan bebas!! Kau tau, seperti semua masalah menguap begitu saja! Menyenangkan, saat mendengar orang lain menyemangatimu… Memintamu berusaha menjadi yang pertama… Ya, begitulah kira-kira yang kurasakan…”

            “Bodoh!”cibirku.

            “Ya…”ia mengangguk pelan. “Rasanya seperti orang bodoh yang nekat… Tapi, aku memang begitu… Aku mencintai balapan ini… Ya, seperti kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta. Kita akan memperjuangkannya sampai akhir…”

            “Begitu?!”

            “Ya…”ia menoleh padaku. “Ngomong-ngomong soal Tiffany, ia sering memperkenalkanmu pada pria-pria??”

            “Ya… Tapi tidak ada yang membuatku tertarik.. Kau tau, seleraku dan dia berbeda jauh.. Kau, bagaimana?”

            “Ya, banyak gadis yang dibawanya kemari… Aku tidak pernah tertarik kau tahu… Tapi kau yang pertama…”

            “Eung?”

            “Aku tertarik padamu…”

***

            “Hai seksi!!”Elison tersenyum lebar.

“Isshhh!!”kupukul payung besar di tanganku ke kakinya. “Sekali lagi kau berkata seperti itu, aku akan pulang!!”ancamku.

“Bukankah kau sudah berjanji tadi malam?? Lagipula, ini pertandingan terakhirku musim ini… Aku hanya ingin kau melihatku bertanding… Sekali saja…”ia memegang kedua tanganku lembut.

“Baiklah…”aku menghela nafas panjang. Aku memang sudah berjanji untuk menontonnya sekali ini saja. Selama ini, aku sama sekali tidak pernah menontonnya balapan, terkadang hanya datang saat latihan saja. Aku memang sangat tidak menyukai hal seperti ini, jadi ia tidak pernah memaksa sebelumnya. Tapi, hari ini ulang tahunnya. Ia memohon semalam padaku dan, entah mengapa, aku luluh begitu saja. Ya, perlakuannya selalu membuatku luluh.

“Aku akan memegang janjiku…”ia membelai rambutku pelan dan mengecup keningku. “Ayo keluar… Tiffany sudah stand by di sebelah mobil…”

“Baiklah..”kubuka payung besar ditanganku dan memayunginya keluar. Ya, hari ini aku dan Tiffany menjadi umbrella girlnya. Tiffany sangat senang, tapi aku tidak. Memakai pakaian seminim ini dan terekspos di depan publik?, itu semua bukan gayaku!

Tiffany menurunkan kacamata capungnya yang besar begitu kami datang, ia sedikit berdecak kesal, mungkin karena sudah menunggu lama di luar. Di sebelah Tiffany, ada coach Eli dan beberapa krunya yang hanya ku kenal sekilas. Walaupun begitu, mereka sangat mengenalku. Tentu saja, aku adalah kekasih anak emas mereka yang sedang naik daun.

“Ayo, kita mulai ke garis start…”Coach Eli yang berasal dari Jerman berjalan menghampiri kami.

“Baiklah, Coach…”Eli mengacungkan jempolnya siap.

“Eung…”aku menahan Eli sesaat. Entah mengapa, aku tidak ingin ia pergi bertanding. Aku tidak siap melihatnya bertanding, aku tidak siap untuk kemungkinan buruk yang bisa terjadi dalam pertandingan seperti ini. Bagiamana kalau itu terjadi hari ini? Bagaimana kalau itu terjadi pada Eli?! Aku ingin sekali tidak memikirkannya, tapi semakin aku mencoba untuk tidak memikirkannya, perasaanku semakin tidak karuan. Ya Tuhan…

“Tenang saja…”Eli tersenyum dan memegang tanganku lembut. “Tidak akan terjadi apa-apa…”

“Eung, kurasa, aku tidak akan sanggup melihatnya…”aku menggeleng pelan.

“Ayolah… Kau sudah berjanji padaku, bukan?”Eli memohon.

“Eung…” aku menatapnya ragu. Sedikit menghela nafas, akhirnya aku mengangguk juga. “Baiklah…”

“Terimakasih…”Eli memelukku erat. “Aku mencintaimu…”ia mencium keningku sekilas dan berlari mengejar coach.

Aku tersenyum, tapi tetap saja perasaanku tidak karuan. Ya Tuhan, berikanlah dia keselamatan…

You shouldn’t be worry…” Tiffany berjalan menghampiriku dan menyenggol bahuku pelan. “Aku selalu menonton setiap kali ia bertanding… Tidak pernah ada hal yang begitu menakutkan… Malah mungkin, kau yang akan mendapatkan kejutan nantinya…”

“Eung??”aku menoleh pada Tiffany yang memasang senyum manisnya padaku. “Apa maksudmu?”

“Rahasia…”ia mengedipkan sebelah matanya meledek.

“Aaahh~ Beritahu aku!!”rengekku.

“Aku sudah berjanji akan tutup mulut…”

“Isshhh!! Ya sudah, aku akan menunggu di dalam saja…”aku pura-pura kesal dan kembali masuk ke dalam garasi team, atau apa namanya itu.

“Kau bilang akan menonton, kenapa masuk ke dalam?!”seru Tiffany.

“Sudahlah, ada monitor di dalam!!”balasku. Aku duduk di samping kru yang sedang sibuk menatap monitor besar yang ada di dalam garasi team. Terkadang, pria itu memainkan headphonenya dan berbicara entah pada siapa.

Sedikit menguap, ku pasang earphone ipod-ku dan ku mainkan musik dengan volume maksimal. Suasana disini telalu bising, aku tidak suka. Aku akan menonton saat lap terakhir saja. Sudah kubilang, bukan? Aku tidak menyukai balapan! Tapi tentu saja, aku berdoa untuk kesuksesan kekasihku itu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya.

***

            “Hei!!! Hei!!!”kurasakan seseorang mengguncang bahuku keras. Kubuka mataku dan kulihat Tiffany berdiri memelototiku.

“Sedang apa kau tidur begini?!!”bentaknya.

“Eh? Apa aku ketiduran? Balapannya sudah berakhir??”

“Belum. Beruntung aku menemukanmu tergeletak disini, aku jadi bisa membangunkanmu tepat waktu!! Ini sudah lap terakhir!!”

“Lap terakhir?!”aku menatap Tiffany kaget. Benarkah? Sudah cepat itukah?!

“Isshhh!! Kau ini!!”desis Tiffany.

“Maaf nona, Elison ingin berbicara dengan anda…”seorang kru berjalan menghampiriku dan menyodorkan headphonenya padaku.

“Eung?”aku menatap Tiffany bingung. Ia hanya tersenyum dan memberiku isyarat untuk memakai headphonenya.

Ragu, ku ambil headphon kru tersebut dan memakainya. Entah mengapa, jantungku berdebar kencang. Ya Tuhan, apa yang akan terjadi? Kenapa Eli memanggilku dari headphone?

“Ha.. Halo??”ucapku ragu.

“Ya. Kau disana??”terdengar suara Eli.

“Bodoh! Kenapa ingin mengobrol denganku di tengah balapan?! Fokus saja!! Kita bisa bicara setelah balapan, oke?!”omelku.

“Aku bertaruh kau tidak menonton balapannya sama sekali!!”

“Aku…”

“Tenang saja, posisiku jauh di depan pembalap kedua. Meskipun mengurangi kecepatanpun, aku akan tetap menang…”ia terkekeh pelan.

“Baiklah, pembalap yang hebat! Sekarang ada apa memanggilku dari Headphone?!”cibirku.

“Aku mencintaimu…”

“Kenapa tib…”

“Menikahlah denganku…”potongnya.

“A…”. Ya Tuhan, pria ini benar-benar membuatku terkena serangan jantung dengan ucapannya! Apa yang dia katakan barusan?! Ia melamarku?! Benarkah ia melamarku?! Melamarku di balapan terakhirnya ini?! Dasar pria bodoh!! Bagaimana aku tidak bisa begitu mencintainya kalau seperti ini?! Dia benar-benar membuatku ingin menangis. Menangis dan berlari ke dalam pelukannya saat ini juga. Aku, benar-benar… Mencintai pria ini…

“Kalau kau menjawab iya, larilah kepadaku di podium nanti dengan memakai cincin yang kutitipka pada Tiffany, oke?! Aku akan melamarmu di depan seluruh… OHH GOSHHH!!!!”Eli berteriak tiba-tiba sebelum sambungan headphone kami terputus. Aku berteriak-teriak memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban.

Panik,aku dan Tiffany berlari ke depan monitor yang kini ramai dipenuhi orang-orang. Ya Tuhan, aku mohon, aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya.

“ADA APA INI??!!”Tiffany berteriak panik. Ia menarik salah satu kru di dekatnya.

“Ban mobilnya meledak tiba-tiba! Mobilnya jadi tak terkendali!”

“Isssshhh!!!”aku berlari meninggalkan Tiffany ke tepi sirkuit. Dari kejauhan, aku bisa melihat mobil Eli berjalan tak tentu arah dengan kecepatan yang tinggi. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?! Ya Tuha, bagaimana ini?! Aku harus menyelamatkannya!! Harus!!

“BODOH!!!”Tiffany menahanku tepat saat aku akan berlari menyebrangi sirkuit. “Kau mau mati tertabrak, hah?!!”bentaknya.

“Tapi Eli!! Eli!! BAGAIMANA INI TIFFANY?!!! BAGAIMANA??!”balasku. Air mataku mulai bercucuran sangking panik. Tuhan, selamatkanlah dia!! Selamatkanlah dia!!”

“Tenang!! Aku mhon tenang!! Hanya satu ban yang pecah, bisa di kendalikan!! Kau harus per…” Tiffany berhenti berbicara. Kami mendengar suara benturan yang amat kencang.

“Tif…”aku menoleh, lututku lemas. Aku menyaksikannya langsung, langsung di depan kedua mataku sendiri. Mobil Eli menabrak tembok pembatas dan terlempar, terguling ke tengah-tengah sirkuit. Ya Tuhan… YA TUHAN!!!

“ELI!!!”teriakku lagi. Ku kuatkan kakiku untuk berlari mengejar mobilnya ke tengah sirkuit. Tapi, lagi-lagi, ada yang menahanku. Aku menoleh, kali ini buka Tiffany tapi kru-kru team Eli.

“LEPASKAN!!!”teriakku.

“Aku mohon…. Balapan sedang di hentikan…. Tahan dirimu!!!”teriak salah satu kru.

“BAGAIMANA AKU BISA DIAM SAJA, HAH?!!! BAGAIMA….”aku berhenti berteriak. Sesuatu terdengar dari headphoneku, sebuah suara.

“ELI!! ELI!! KAU MASIH DISANA?!! JAWABLAH!! JAWABLAH!!!”teriakku sambil memegangi headphone. Para kru mundur perlahan. Mereka juga seperti menunggu pengharapan dariku, harapan bahwa Eli masih bisa diselamatkan.

“Aku mohon jawablah… Aku mohon….”raungku. Semua yang kudengar hanyalah desah nafas saja.

“Aku mohon Eli… Jangan menjahatiku seperti ini!!!”isakku.

“Lihat, bantuannya datang!!!”salah satu kru menunjuk helikopter yang mendarat di tengah sirkuit bersamaan dengan datangnya tim evakuasi.

Tanpa berfikir panjang, aku langsung berlari ke tengah sirkuit disusul Tiffany yang masih berusaha mencegahku. Apa peduliku?! Balapan sudah di hentikan dan yang berada di dalam mobil yang tergeletak disana adalah kekasihku!! Satu-satu pria yang kucinta, sangat kucinta!! Aku tak pernah bisa bayangkan jika tuhan mengambilnya dariku!! Aku tidak akan pernah rela!! Tidak akan pernah rela!! Tidak!!

***

            Sudah satu jam aku berdiri disini, pemakaman sudah berakhir. Semua orang sudah pulang, yang tersisa hanya aku dan Tiffany disini. Kurasakan kakiku gemetaran. Sakit yang sudah kutahan sejak prosesi pemakaman dimulai, kini tak terbendung lagi. Aku terjatuh di atas rerumputan kecil disekitar makan Eli. Sakit… Bayang-bayang itu masih bermain jelas dalam pikiranku… Kejadian itu terus berputar seperti klise yang berkesinanmbungan… Sakit… Rasanya seperti ribuan anah panah menancap di seluruh tubuhmu… Perih dan sakit…

“Aku harus bagaimana??”bisikku pelan. “Aku harus bagaimana tanpamu??”

“Sherly…”Tiffany memelukku dari belakang.

“Katakan… “isakku. “Katakan, apa yang harus kulakukan jika kau tidak ada di sampingku?!! Katakan, Elison!! KATAKAN!!!”raungku. Kurasakan Tiffany mengencangkan pelukkannya di bahuku.

“Aku selalu menahannya, menahan untuk tidak melarangnya balapan… Sudah kubilang aku tidak menyukainya, balapan itu…”kugenggam tangan Tiffany perlahan.

“Iya… Aku tau… Sudahlah…”Tiffany mengelus punggungku pelan.

“Sekarang bagaimana Tiffany?? Bagaimana denganku?? Apa yang harus kulakukan??”raungku lagi.

“Sudahlah, kau tenangkan diri dulu… Tenangkanlah dirimu… Relakanlah dia, aku mohon…”

“Kau kejam, Eli!! Kau kejam!!! Padahal aku sudah membayangkan akan hidup bersamamu lebih lama!! Aku sudah membayangkan akan menjalani hidup bahagia denganmu, menikah denganmu!! Tapi sekarang kau pergi begitu saja!! Bagaimana kau akan mempertanggung jawabkan itu semua padaku, hah?!”

“Sudahlah Sherly!!! Sudahlah!!! Aku mohon!!”Tiffany memutar tubuhku dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku frustasi, aku bingung, apa yang harus kulakukan setelah ini?!

“Aku tau rasanya… Pasti sangat sakit, bukan?”. Tidak, kau sama sekali tidak tau bagaimana rasanya.

“Tapi menangis tidak akan bisa mengembalikan semuanya, itu hanya akan tambah menyakiti dirimu sendiri…”. Lalu menurutmu, apa yang harus kulakukan, eung?

“Pulang dan istirahatlah… Kau harus menenangkan pikiranmu… Aku mohon…”Tiffany menatapku dengan pandangan mengiba.

“Baiklah,”aku mengangguk pelan. “Kau pergilah duluan, ada yang ingin kusampaikan pada Eli…”

“Benarkah kau akan pulang?”tanya Tiffany ragu.

“Ya… Kau pergilah ke mobil lebih dulu…”

Sedikit ragu, akhirnya Tiffany beranjak pergi meninggalkanku. Aku menarik nafas dalam-dalam. Semakin aku menariknya, semuanya semakin terasa sakit. Perlahan kutatap pusara emas dihadapanku. Banyak bunga diletakkan sebagai tanda penghormatan terakhir di atasnya. Mereka tidak tau Eli, bahkan kata-kata perpisahan yang di katakan orang-orang sama sekali tidak menggambarkan dirinya. Gagah, berani, anak emas… Semua hanyalah karangan mereka semata.

“Kau adalah pria terbodoh yang pernah kukenal. Mereka bilang kau berani, tapi aku tau kau punya ketakutan tersendiri… Bagiku kau hanyalah seorang berandalan yang nekat! Mereka bilang kau disiplin, tapi aku tau bagaimana sangat malas dan manjanya dirimu! Kau… Adalah pria bodoh yang tak pernah berfikir jika ingin melakukan sesuatu… Jika kau ingin kau lakukan, jika tidak, kau bahkan tidak peduli sama sekali! Kau merasa kau sangat tampan dan banyak yang menyukaimu. Tidak, yang menyukaimu seperti ini hanyalah aku.. Ya, hanya orang bodoh yang bisa menyukai setiap keburukanmu itu… Dan orang itu adalah aku… Wanita bodoh yang bisa mencintai pria sepertimu…”, aku menghela nafas panjang, air mataku kembali terjatuh, “Kata-kata terakhirku… Berbahagialah disana, apapun yang sedang kau lakukan… Kami disini akan selalu mengenangmu… Ya, kami… Aku dan anak kita ini…”

THE END

2 thoughts on “[Freelance Oneshot] Tears On Road

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s