[Chapter 1] Rectangle Love

Title
Rectangle Love

Length
Chapter

Rating
PG-13

Genre
Romance, Friendship

Author
burninganchovy (@meutiakbachnar)

CAST/Main Cast
– Matsumoto Aya (OCs)

– Personel Super Junior-M as themselves

Disclaimers
All of Super Junior-M’s member is belong to God, their family, and SM-Ent.

This story is mine. Please don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this, please take with full credit. ^^

Cuap-cuap Author

Annyeong! Sebagai author baru, saya mau nyoba ngepost ff paling pertama yang saya buat. Pernah diposting di blog ini, tapi kali ini saya posting ulang dengan berbagai perubahan. Untuk berbagai kesalahan atau typo, harap dimaafkan yaa. Diharapkan bagi para reader yang udah ngebaca ff ini untuk ngasih komentar ^^ supaya ff saya ini bisa lebih bagus nantinya. Hehe. Happy reading! XD

Semua cerita ini berawal dari sebuah sayembara yang diadakan oleh boyband terkenal bernama Super Junior-M. Sayembara itu diadakan untuk mencari seorang perempuan yang akan dijadikan sebagai asisten manager mereka nantinya. Melihat pengumuman itu, seorang perempuan Jepang bernama Aya–yang memang memiliki obsesi besar untuk menjadi manager artis ternama–langsung memohon-mohon kepada kedua orangtuanya untuk mengikuti sayembara itu.

          “Otousan, Okaasan, anakmu ini kan memang ingiiiiiin sekali jadi manager artis… apalagi untuk artis terkenal se-Asia seperti Super Junior-M” rengek Aya, kepada kedua orangtuanya.

Melihat anak sulung mereka yang begitu teguh berusaha membuat impiannya menjadi nyata, kedua pasangan suami-istri itupun mengizinkan anak mereka untuk pergi ke Taiwan—mengikuti sayembara pencarian asisten manager itu.

          “Oneechan, kalau kau terpilih nanti… err… walaupun aku nggak begitu yakin sih kau akan terpilih~~ Tapi… kalau memang kau terpilih, jangan lupa sebut-sebut namaku ya, supaya aku ikut terkenal juga”

          Aya tak mempedulikan ucapan adik semata-wayangnya itu. Ia langsung memalingkan wajahnya dan memeluk kedua orangtuanya erat. Dan dengan penuh keyakinan, ia merencanakan untuk pergi ke Taiwan seminggu kemudian.

***

Seminggu kemudian, Aya telah sampai di Taiwan. Di Bandara, Aya dan seluruh peserta lain yang datan dari luar negeri telah dijemput oleh pihak penyelenggara sayembara. Seluruh peserta sayembara itu pun dengan segera dibawa ke sebuah gedung tinggi nan mewah untuk mengikuti serangkaian tes saringan sampai akhirnya didapat seorang asisten manager baru untuk para personel Super Junior-M.

Aya tak pernah menyangka bahwa seluruh rangkaian tes saringan itu bisa dilewatinya dengan begitu mudah. Seharian penuh ia harus tetap berada dalam gedung tinggi-mewah itu untuk mengetahui siapakah yang akan lolos ke tes saringan tahap akhir.

“Aya Matsumoto?”

Seseorang tengah memanggil nama lengkap Aya. Spontan, Aya menoleh ke arah sumber suara dan menghampirinya. Seorang lelaki yang nampak lebih tua sepuluh tahun dari Aya itu memberitahukan bahwa Aya lolos ke tes saringan tahap terakhir. “Maji de?” tanya Aya, kepada dirinya sendiri. Setelah berulang kali mencubit pipi dan mengacak-acak rambutnya, Aya yakin benar bahwa ini bukanlah mimpi. Ia memang benar-benar lolos ke tes tahap terakhir. Ini artinya, semakin besar peluang Aya untuk mewujudkan impiannya. Aya pun melompat-lompat kegirangan, bahkan saking senangnya, ia tak sadar telah memeluk beberapa orang yang tak dikenalnya.

Tes tahap terakhir ini adalah tes interview. Ada tiga peserta lagi yang lolos ke tes tahap terakhir ini, dan salah satunya adalah Matsumoto Aya. Ya, Aya. Pada tes interview ini, seluruh peserta akan berbicara santai dengan Manager Super Junior-M mengenai apa saja. Dari berdialog santai itulah, Sang Manager dapat melihat keunikan apa saja yang dimiliki oleh para peserta—yang membuatnya merasa harus merekrut salah satu peserta itu untuk menjadi asistennya kelak.

***

“Ng… Matsumoto… Aya?”

          Atmosfer ketika Aya memasuki ruang interview itu jauh berbeda dari tes-tes sebelumnya yang mampu ia lewati. Begitu namanya disebutkan oleh seorang pria perlente berusia sekitar empat puluh tahun itu, Aya pun berjalan ke arah pria tersebut.

         “Take your seat, Miss Aya” lanjut pria yang merupakan manager Super Junior-M itu.

          Aya menarik sebuah kursi yang ada di dekatnya, dan memindahkannya ke tempat yang agak jauh dari posisi duduk Sang Manager itu.

Are you okay, Miss? Where will you go? Just sit in front of me… Don’t be that far” ucap Sang Manager, dengan ramah.

          Aya, walaupun kurang mahir berbahasa Inggris, masih bisa mencerna maksud perkataan Sang Manager barusan. Dengan cepat, ia kembali meletakkan kursi ke tempat semula dan duduk.

          ”Hemmm… Where should I start our conversati…

          “Nice weather, Sir… Hehehehe” ujar Aya, memotong pembicaraan Sang Manager.

          “Eh?! Ah… Yaaa, nice weather. So, what topic now?”

          “I-I don’t know

          Setelah beberapa saat menghadapi situasi awkward bersama Sang Manager, akhirnya Aya pun memulai pembicaraan dengan menceritakan kehidupan sehari-harinya sebagai seorang perempuan biasa. Sang Manager nampak mulai tertarik saat Aya menceritakan impiannya untuk menjadi seorang asisten manager.

          Impian Aya untuk menjadi seorang asisten manager itu sudah ia pendam sejak tiga tahun yang lalu. Saat itu Aya masih berumur 14 tahun dan tengah menggilai film-film Korea. Salah satunya adalah film He’s Cool yang diperankan oleh aktor ganteng Song Seung-Hoon dan aktris hebat Jung Da-Bin. Aya sangat menyukai sosok Jung Da-Bin yang selalu nampak ceria, bukan hanya di film itu saja, hampir di seluruh drama yang ia mainkan. Namun, ketika Aya ingin mengetahui sosok Jung Da-Bin yang diidolakannya itu, Aya menemukan satu artikel yang menyatakan bahwa artis idolanya itu telah meninggal bunuh diri karena depresi. Aya mulai berpikir bahwa menjadi seorang pekerja di bidang entertainment itu tidaklah mudah. Akan ada beberapa masalah yang menerpa mereka, bahkan tak jarang sampai karier mereka jatuh dan akibatnya, mereka akan memilih untuk mengakhiri hidupnya begitu saja. Timbul-lah obsesi Aya untuk menjadi seorang manager artis—siapapun artisnya—dimana sang artis bisa mencurahkan segala keluh kesahnya kepada Aya.

Diluar dugaan, percakapan yang awalnya terkesan canggung itu pun berlangsung sangat lama. Aya berkomunikasi dengan ‘bahasa tarzan’ dan sesekali mencoba berbicara dalam Bahasa Inggris. Namun ini bukanlah halangan, Sang Manager yang seakan mengerti kekurangan Aya, memanggil salah seorang staff-nya yang berasal dari Jepang untuk membantunya berbicara dengan Aya.

          “It’s nice to know you, Aya… You’re kind of interesting person!!! It’s very nice hearing your story. Sometimes serious, amazing, but sometimes you can make some joke. So funny hahahaa…” setelah cukup lama berbicara santai, Sang Manager pun mulai tertarik dengan kepribadian Aya yang apa adanya dan sangat unik jika dibandingkan peserta lain. “Okay. This is the last one. Show me your ability in anything… speaking, dancing, hmm anything…”

          Aya berpikir keras. Ia menjungkirbalikkan bola matanya dan memandang ke seluruh pelosok ruangan interview. Setelah lama berpikir, bola matanya membesar dan raut wajahnya menjadi begitu sumringah. Nampaknya, Aya telah menemukan sebuah ide untuk mengakhiri tes interview ini. “Do-do you really want to know my ability?” tanya Aya.

Off course… Why not?!

Okay, Sir. I will show you my ability. But I have to do that outdoor, can I?”

          Sang Manager keheranan ketika mendengar permintaan Aya. Tapi, karena sangat penasaran dengan apa yang akan Aya tunjukkan kepadanya, Sang Manager pun menyetujui permintaan Aya. Ia mengajak seluruh kru keluar dari ruangan interview untuk menyaksikan ’pertunjukkan’ yang akan dilakukan oleh Aya.

Dengan mantap, Aya keluar dari gedung tinggi-megah itu.  Kemudian, dengan tatapan evil nan liciknya, Aya meminta secara paksa kunci motor seorang lelaki yang tak dikenalnya. ”Give it to me, or you will DIE?” begitulah pinta Aya kepada lelaki bertubuh kurus-tinggi itu. Setelah berhasil mendapatkan kunci motor dengan cara paksa, Aya menaiki sebuah motor gede dan mengendarainya dengan sangat cepat mengitari halaman parkiran gedung tempat ia di-interview. Ketika melewati Sang Manager yang tengah menyaksikannya, ia melambaikan tangannya dan berteriak, ”SIIIRRR!! THIS IS MY ABILITY… COOL, ISN’T IT??? HAHAHAHAHAHAAHHAAAAAA

          Sang Manager hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Aya yang semakin unpredictable itu. Ia benar-benar nggak menyangka seorang perempuan yang tampilan luarnya cukup feminin itu bisa sebegitu ekstrimnya mengendarai motor.

***

Setelah beberapa jam Aya sabar menanti kabar terpilih atau nggaknya sebagai asisten manager, akhirnya ia ditelepon oleh pihak penyelenggara sayembara. Ia diminta untuk datang ke ruangan interview saat itu juga. Aya, yang tadinya sedang asyik mencicipi makanan khas Taiwan yang memang disediakan oleh pihak penyelenggara sayembara, dengan tergesa-gesa berlari menuju ruangan tempat ia di-interview tadi.

          ”Sorry. I am late” ujarnya, begitu memasuki ruangan interview.

          “It’s okay

          Aya merasa bahwa bahunya tengah ditepuk oleh seseorang dan…

          “AAAAAAAAAAAA!!!”

Aya berteriak keras lalu dengan cepat membungkam mulutnya yang masih terbuka lebar dengan kedua tangannya. Kini, ia telah berhadapan langsung dengan para personel Super Junior-M. Dan seorang namja yang baru saja menepuk pundaknya tadi adalah Henry. “I CAN’T BELIEVE IT!! OH MAAAN COME ONNN IS THIS REAAAL?” seru Aya, meyakinkan dirinya sendiri kalau ia benar-benar bertemu tujuh personel Super Junior-M.

          PLAK! Dengan tanpa merasa bersalah, Kyuhyun memukul pelan pipi Aya. “Yaa~ Kau ini ribut sekali”

          “Yaa~ Kyuhyun!!” teriak Donghae, yang kurang suka dengan sikap Kyuhyun tadi. Donghae kemudian membalikkan badannya dan mengulurkan tangannya kepada Aya. “Annyeong… ah, Konbanwa… I’m Dong Hae… congrats for… congrats for… aaaa wait for a minute”, ujar Dong Hae yang kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku celananya untuk melihat kalimat apa yang harus ia ucapkan kepada Aya.

Congrats for being our manager assistant” lanjut Henry, yang memang mahir berbahasa Inggris. “I’m Henry. He’s Dong Hae, Ryeowook, Zhoumi, KyuHyun, Siwon, and Hey, where’s Hangeng?!”

Saat Henry tengah memperkenalkan satu persatu personel Super Junior-M, ia baru menyadari bahwa Hangeng tak bersama mereka disitu. ”Kemana Hangeng?” Henry mengulangi pertanyaannya sekali lagi.

”Mana kutahu” balas Kyuhyun, yang tengah asyik sendiri dalam dunianya.

”Aku disini… ehe ehe ehe” ujar Hangeng yang baru saja datang dengan wajah cengengesan.

Mendengar tawa Hangeng, entah kenapa Aya merasa begitu terpesona dengan kepribadian Hangeng yang sepertinya sangat low profile. Melihat Hangeng yang memasuki ruangan sambil menggaruk-garuk kepalanya, melihat Hangeng yang masih saja menampakkan ekspresi cengengesannya, membuat Aya refleks memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Hi, I’m Aya Matsumoto. Your new manager assistant

“Eeeeh?” Hangeng yang memang nggak ngerti apa yang Aya bicarakan, memasang raut wajah kebingungan dan bertanya-tanya kepada personel Super Junior-M yang lain. “Siapa dia? Apa yang dia bicarakan? Aku sama sekali tak mengerti apa yang dia bicarakan ehe ehe ehe…”

              GUBRAK! Sepertinya dia nggak bisa Bahasa Inggris, sama sekali nggak bisa. Capek deh udah sok cool ngenalin diri, keluh Aya memasang muka cemberut.

Hari itu, Aya telah resmi menjadi asisten manager Super Junior-M. Disini jugalah awal cerita rumit antara kesibukan baru Aya, dan kekaguman Aya terhadap Hangeng. :)

TO BE CONTINUED ~ ~ ~

6 thoughts on “[Chapter 1] Rectangle Love

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s