Run

Title: Run

Author: Lightless Star aka Jung Jinra

Cast:

  • Jang Dongwoo (INFINITE’s Dongwoo)
  • Park Jinhyo (Original Character)

Length: Ficlet (671 words)

Rated: General

Genre: friendship, (a little bit) fluff

Run

© Lightless Star

xxx 

DISCLAIMERS: Jang Dongwoo belongs to himself and god, but the OC is mine

WARNING: pointless, Alternate Universe

.

.
Aku tak bisa berjalan seperti orang kebanyakan. Setiap langkah yang aku lalui selalu ditemani dengan sebuah kruk untuk menyanggah tubuhku yang tak seimbang.

Aku terlahir dengan sepasang kaki seperti orang kebanyakan. Tapi kemudian aku terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil yang menewaskan kedua orangtuaku saat usiaku sembilan tahun. Aku selamat, namun berkaki satu. Aku menangis setiap malam sejak kejadian itu. Seluruh hidupku terasa sia-sia. Masa kecilku suram tanpa dihias ceria.

Setidaknya, sampai dia hadir. Dia yang tanpa segan mau mengajakku berkenalan saat aku baru pindah kerumah bibiku karena orangtuaku sudah meninggal. Selama ini tidak pernah ada satupun anak yang mau berteman dengan aku yang jalan saja tidak bisa. Tapi, Jang Dongwoo berbeda. Dia tidak pernah mempermasalahkan itu. Dia selalu mau tersenyum dengan tulus padaku. Dia selalu mau berjalan lebih pelan saat dia melangkah disampingku. Dia selalu mau tertawa kalau mendengar leluconku yang aku rasa tidak lucu. Dia selalu mau mengulurkan tangannya untuk menuntunku. Dia tidak pernah memperlakukanku seperti orang cacat yang mesti dikasihani, tapi dia memperlakukan aku sebagai sahabat baik yang mesti dipahami.

Sikapnya optimis dan periang, semua orang mau menjadi temannya. Tapi, kenapa aku yang cacat ini mesti dia anggap sahabatnya yang paling baik?

“Soalnya kamu itu spesial, Jinhyo.”

Dan saat aku bertanya kenapa, ia hanya mengedikkan bahu lalu tersenyum sambil merangkul pundakku.

Namun terkadang, aku kesal pada Dongwoo.

Kalau terburu-buru, jalannya cepat sekali dan kadang dia berlari lalu aku akan tertinggal dibelakangnya, berjalan tertatih bersama tongkat penyangga dibawah lenganku.

Seumur hidup, aku tak pernah berlari.

Tapi sekarang…

“Ya! Dasar anak nakal! Apa yang kalian lakukan pada kaca jendelaku, hah?!” suara berat itu membuat aku dan Dongwoo menolehkan kepala kesamping dan mendapati seorang pria paruh baya sedang menatap kami dengan marah lewat kaca jendela rumahnya yang pecah karena bola yang ditendang Dongwoo tadi.

Mata hitamnya membulat kaget,”Maafkan aku, Ahjusshi!” teriaknya. Namun pria itu jelas-jelas tak akan memaafkan ulahnya.

“Ah, Jinhyo… Bagaimana ini?” katanya sambil menatapku panik.

“Lagipula salahmu sendiri, sih tadi nendangnya terlalu keras!” aku menatapnya datar dan wajahnya nampak makin gelisah.

“Kau tidak bisa membantu sahabatmu ini memang!” katanya kesal sambil memalingkan muka lalu terdiam sebentar dan omelan Ahjusshi yang tadi itu makin panjang saja.

“Kesini kau, dasar anak nakal!”

Dongwoo menegakkan kepalanya lalu menatapku lagi, tatapannya makin nampak panik.

“Jinhyo, kau pernah bilang kan kalau kau ingin sekali bisa berlari?” tanyanya aneh. Aku hanya mengangguk sambil menatapnya heran.

Ia tersenyum lebar, lalu membalikkan tubuhnya dan dengan sigap menaikkanku keatas punggungnya.

“Dadah, Ahjusshi!”

Ucapnya lalu berlari cepat meninggalkan pria yang tadi dengan menggendongku di punggungnya.

Ternyata begini rasanya berlari.

Aku memejamkan mata. Aku bisa merasakan semilir angin yang membelai lembut wajahku dan memainkan ujung-ujung rambut hitamku yang bergelombang. Saat aku membuka mata, aku melihat seakan-akan jalan kecil dibawah kami bergerak-gerak, pohon-pohon disampingku juga begitu. Aku juga bisa merasakan tubuhku yang terguncang-guncang dalam gendongannya. Aku memeluk tubuhnya agar aku tidak jatuh, rasanya nyaman sekali. Aku ingin menyandarkan kepalaku dan membiarkan rambut hitamnya tersentuh kulitku, tapi aku sedang memerhatikan pemandangan dihadapanku. Aku bisa merasakan napasnya yang tersengal-sengal, namun aku tahu sekarang Dongwoo pasti sedang tersenyum walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya.

Langkahnya terhenti. Ia lalu merendahkan tubuhnya, mengisyaratkan agar aku lekas turun. Napasnya masih tersengal-sengal, namun bibirnya ia coba untuk menyunggingkan senyuman yang hangat seperti biasa.

“Terima kasih, ya!” ucapku senang sambil tersenyum padanya setelah membenarkan letak kruk-ku.

Ia tertawa kecil,”Bagaimana rasanya berlari?”

“Menyenangkan sekali!”

ia kembali tertawa kecil, matanya yang menyipit memancarkan cerah. Dia suka sekali membuatku tersenyum. Karena dia pernah bilang kalau aku merasa senang maka dia akan merasakan hal yang serupa.

Sebenarnya, bukan cuma berlarinya saja yang menyenangkan karena aku memang seumur hidup tak pernah berlari. Tapi karena aku juga menyukai bagaimana tanganku melingkar di ceruk lehernya. Bagaimana tubuhku terguncang saat berada dalam gendongannya. Bagaimana deru napasnya saat itu. Bagaimana senyum diwajahnya yang tak pernah lepas dan selalu aku suka. Bagaimana dia dengan senang hati mau menjadi kakiku, yang membuat aku bisa berlari.

“Baiklah, kapan-kapan kita lari sama-sama lagi, Jinhyo.”

Dan sebuah senyuman kecil disertai anggukan senang dariku menanggapinya.

Jadi… Aku boleh merasakannya lagi, kan?

-fin-

3 thoughts on “Run

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s