[Chapter 2] Rectangle Love

Title
Rectangle Love

Length
Chapter

Rating
PG-13

Genre
Romance, Friendship, Comedy (Tapi gagal T.T)

Author
burninganchovy (@meutiakbachnar)

CAST/Main Cast
– Matsumoto Aya (OCs)

– Personel Super Junior-M as themselves

DISCLAIMERS!
All of Super Junior-M’s members are belong to God, their families, and SM-Ent.

This story is mine. Please don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this, please take with full credit. ^^

Cuap-cuap Author

Di chapter kedua ini saya ngerasa kayak banyak banget ngelakuin kesalahan atau typo. Tapi karena keterbatasan dan juga ke-amatir-an saya, udah mentok deh nggak tau mau diedit gimana lagi. Dan untuk chapter 2, saya ngerasa ceritanya kependekan. Mian T_T. Hmmm… Semoga suka ya, sama chapter kedua ini dan seperti biasa, sangat diharapkan comment-nya supaya makin bagus lagi ff-nya. Happy reading ya readers :)

Buat yang mau baca chapter sebelumnya, klik aja ya link dibawah ini ^^

 :: CHAPTER 1 ::

***

Tepat sudah seminggu Aya menjadi asisten manager Super Junior-M. Aya pun sudah mulai mengikuti seluruh kegiatan tujuh cowok ganteng itu dari jam sepuluh pagi sampai jam sepuluh malam. Ternyata, tugas Aya sebagai asisten manager tidak sesulit yang ia bayangkan. Ia hanya perlu memperhatikan kondisi para personel, serta mengatur perlengkapan mereka—sehingga seluruh personel SUJU-M itu bisa tampil maksimal dimanapun mereka berada.

          ”Aya, bagaimana penampilan kami tadi?” tanya Donghae, setelah selesai latihan koreo bersama personel lainnya. Rupanya Donghae sudah mulai terbiasa menggunakan ‘bahasa tarzan’ untuk berkomunikasi dengan Aya.

          Aya mengacungkan dua jempol sambil memamerkan senyum sumringahnya.

          ”Heh Aya, aku heran kenapa kau bisa terpilih menjadi asisten manager kami” ujar Kyuhyun ketus, sambil melihat Aya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

          Aya terdiam dan memasang wajah kebingungan. Walaupun sudah agak lama menjalani hari-harinya bersama orang Korea dan Taiwan, tapi ia masih merasa sedikit kesulitan dan canggung untuk berkomunikasi dengan kedua bahasa asing tersebut. Melihat Aya seperti itu, Henry langsung menjadi penterjemah dadakan. Ia menerjemahkan apa yang Kyuhyun katakan tadi ke dalam bahasa Inggris. ”He asked, how can you be our manager assistant?

          “Aaah, it’s because… because… Aishh!! Aku nggak mengerti bahasa kalian semua, kalian nggak mengerti bahasaku! Aku bahkan nggak tahu apa yang harus dikatakan sekarang! Aissh…” keluh Aya, yang nggak tau harus berkata apa. Aya memang cepat beradaptasi dengan bahasa asing, tapi hanya sekedar untuk mengerti saja. Kalau disuruh untuk berbicara dalam bahasa asing, (sekali lagi), Aya masih merasa canggung dan sedikit kesulitan untuk melakukannya. Melihat Aya yang teriak-teriak sendiri seperti sekarang, semua personel Super Junior-M langsung mengarahkan pandangan mereka kepada Kyuhyun.

          “Wa-Wae yo?! Ada apa dengan kalian semua? Ada apa, huh?!” tanya Kyuhyun, dengan watadosnya (baca: wajah tanpa dosa).

          “Ini semua karena kau, Kyu! Lihat dia, sudah seperti orang gila saja sekarang ngomel-ngomel sendirian. Dan aku tak tahu apa yang menjadi omelannya sekarang…” balas Henry, sambil menunjuk-nunjuk pipi tembem Kyuhyun.

          “Tapi… Bukan aku yang bertanya!! Ya, kan?!” Kyuhyun mencoba melakukan pembelaan diri.

          ”Tapi kan itu pertanyaanmu, Evil-Kyu!!”

          Aya yang tadinya mengomel sendirian karena merasa putus asa tidak bisa berkomunikasi dengan para artis yang di-asisten-manager-i olehnya itu langsung terdiam ketika melihat semua personel Super Junior-M ribut berdebat tentangnya. ”AAAAA… Kurasa aku bisa stress disini!! Aku tak tahu apa yang kalian bicarakan, begitu juga kalian… kalian tak tahu apa yang aku bicarakan. Tadi kalian baik-baik saja, tiba-tiba sekarang udah ribut! Dan lagi-lagi aku tak tahu apa yang tengah kalian ributkan! Aku nggak menyangka orang seperti kalian bisa bersikap seaneh ini! Kurasa kalian lebih cocok melakukan performance kalian di museum saja, karena kalian bukan artis—tapi manusia langka yang harus dilestarikan” seru Aya panjang-lebar, yang makin nggak mengerti kenapa tiba-tiba terjadi percekcokan diantara ketujuh artisnya itu. Setelah menyelesaikan ucapannya, Aya pun memilih untuk keluar dari ruang koreo. Ia ingin menenangkan diri.

***

Aya naik ke loteng dorm. Ia ingin sekali berteriak sepuasnya di atas sana. Tapi, niat itu harus ia urungkan begitu saja saat melihat Hangeng tengah belajar koreo seorang diri. Akhirnya, Aya pun memilih untuk memperhatikan Hangeng yang makin membuatnya terpesona.

          DUUUUTTT… Di tengah keren-kerennya gaya koreo yang tengah Hangeng  lakukan, terdengar sebuah suara kentut yang cukup keras. “Ah, sial. Aku kentut lagi. Sepertinya terlalu banyak latihan disini membuatku masuk angin”. DUUUUTTT. Rupanya Hangeng yang baru saja buang angin alias kentut. Sudah dua kali ia kentut, dan tanpa sepengetahuannya, Aya menyaksikannya.

          Aya tertawa sendiri. Ia tertawa sambil menutup mulut dan hidungnya sekaligus; menutup mulut supaya nggak ketahuan oleh Hangeng kalau sudah sejak tadi Aya memperhatikannya dan juga menutup hidung,  karena memang sudah takdirnya kentut itu berbau—dan baunya nggak mengenakan. Rupanya artis juga sangat manusiawi, mereka juga sempat kentut! Hahaha, pikir Aya sambil menahan gelak tawanya.

          “KA-KAUUUUU?!!”

          Aya terperanjat begitu Hangeng membalikkan badan dan mendapati bahwa dirinya tengah diperhatikan oleh asisten manager barunya itu. Dengan sedikit malu-malu Hangeng memberanikan diri bertanya dengan ‘bahasa tarzan’. “Apa kau sudah lama disini?”.

          Aya mengangguk polos.

          Lagi. Dengan ‘bahasa tarzan’, Hangeng bertanya lagi. ”Apa kau melihat atau bahkan mendengar aku kentut?”

          Aya tak bisa menahan gelak tawanya—yang sudah ia pendam sedari tadi— lagi. Ia pun tertawa terbahak-bahak, bahkan hampir meneteskan air mata. ”Haik. Aku baru saja melihat serta mendengar kau kentut Han Gege! Itu suatu keajaiban buatku, karena aku bisa melihat dan juga mendengar seorang artis kentut… Hahahaha kau ini lucu sekali, Han Gege!! Kimi wa tottemo sugoi… hahaha” seru Aya sambil sesekali menonjok lengan Hangeng.

          Eh? Ada apa dengannya? Kenapa ia tertawa begitu kuat seperti ini? Bahkan sampai memukul-mukul lenganku? Ckckck… perempuan ini, luarnya saja terlihat begitu feminin. Tak kusangka dia punya tenaga kuat untuk memukulku. Aish… apa dia tak sadar kalau dia kuat sekali memukuli lenganku? Aish, hentikan~, ujar Hangeng di dalam hati sambil menatap Aya yang tengah asyik memukuli lengannya sambil tertawa terbahak-bahak.

          Aya menjelaskan sekali lagi bahwa ia melihat serta mendengar Hangeng kentut barusan dengan ‘bahasa tarzan’. Setelah Hangeng mulai mengerti, ia pun memasang tampang cengengesannya (lagi) sambil sesekali memperbunyikan suara tawa khasnya, “Ehe ehe ehe…”

          ”Aya… Aku tahu pasti kau pasti sulit menyesuaikan diri dengan kehidupanmu sekarang yang sudah menjadi assistant manager kami, Super Junior-M. Aku tahu kau nggak begitu mahir berkomunikasi dengan aku dan juga teman-temanku. Tapi… kau jangan takut. Aku pernah sepertimu, aku pernah mengalami situasi sulit sepertimu. Saat aku bersama Super Junior, akulah satu-satunya personel yang berasal bukan dari Korea…”

          “Aku terkadang nggak mengerti apa yang mereka katakan, tertawakan, atau apa yang mereka tangisi. Tapi, jangan pernah terlintas dalam pikiranmu untuk menyerah. Aku yakin, orang seaneh aku ini saja pada akhirnya bisa mengerti bahasa Korea. Apalagi kamu… yang begitu unik dan cukup bersahabat, yang dipilih langsung oleh Manager untuk merawat kami. Ehe ehe ehe…” ucap Hangeng tiba-tiba, entah kenapa begitu bijaksana memberikan petuah kepada Aya yang kini duduk disampingnya.

          Aya yang menyaksikan Hangeng bicara, kemudian berpikir keras—mencoba memahami apa yang dikatakan Hangeng padanya. Apa yang dia bicarakan? Apa dia menyuruhku untuk tutup mulut kalau dia barusan kentut dua kali? Kenapa raut wajahnya nampak begitu serius, ya?

          ”Aku tak tahu apakah kau akan mengerti perkataanku atau tidak. Tapi jujur, aku kurang mahir berkomunikasi dalam ‘bahasa tarzan’. Ehe ehe ehe… Jadi, Aya, FIGHTING!!” lanjut Hangeng.

          Aya mengangguk-anggukkan kepalanya nggak jelas. Ia bahagia, walaupun ia hanya bisa menangkap satu kalimat dari sekian kalimat yang keluar dari mulut Hangeng. Ya, Aya hanya tahu bahwa Hangeng memberinya semangat dengan mengucapkan kata ’FIGHTING’, entah untuk apapun itu. Aya pun tersenyum dan membalas perkataan Hangeng, ”Kau tenang saja Han Gege, aku tak akan membocorkan rahasia kalau kau kentut kepada orang lain. Jadi kau tak perlu memberiku petuah atau mewanti-wanti aku untuk tutup mulut. Aku ini bisa menjaga rahasia, kok ^^” balas Aya, sama sekali nggak nyambung dengan perkataan panjang lebar dari Hangeng tadi.

          Tapi percakapan nggak nyambung diantara mereka itu tak menjadi penghalang bagi rasa kagum Aya kepada Hangeng. Aya bahkan semakin kagum pada Hangeng—yang menurutnya, beda dengan artis lain. Hangeng sangat lucu, dan juga apa adanya.

***

”Aisshh… rupanya kau ngomel panjang-lebar tadi karena ingin berduaan dengan Hangeng” ujar Kyuhyun saat mendapati Hangeng dan Aya tengah duduk di atas loteng berdua. Mendengar perkataan Kyuhyun, Aya dan Hangeng pun nampak kikuk.

Kyuhyun memainkan kedua alis matanya, lalu memamerkan senyuman evil-nya kepada Aya. Sementara personel lain, menggoda Hangeng. Terkecuali Donghae, yang hanya terdiam dengan muka cemberut.

          ”Hey man! Doushite, Oppa? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Aya, heran melihat ekspresi Donghae yang berbeda dengan ekspresi personel lain.

          Dengan senyuman hangat Dong Hae menjawab, ”Daijobu

         Rupanya Donghae sudah bisa sedikit demi sedikit mengucapkan kalimat sederhana dalam bahasa Jepang. Mendengar Donghae mengucapkan kalimat dalam bahasa Jepang, Aya menjadi kegirangan. Ia memukul-mukuli lengan Donghae dan berteriak, ”HEY SEMUAAA… HE’S MY FIRST FRIEND HEREEE… LISTEN!! HE SPEAKS JAPANESE VERY WELL!!

          Donghae yang melihat kepolosan yeoja aneh (tapi unik) bernama Aya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Donghae memang sudah lama menyimpan rasa kagum terhadap sosok Aya yang sangat unik itu. Ia mulai tertarik pada Aya sejak melihat Aya menaiki motor gede dan mengendarai motor itu dengan ugal-ugalan—sangat extreme, di hari saat Aya diinterview untuk menjadi asisten manager Super Junior-M. Donghae memang sangat antusias untuk menyambut kedatangan seorang asisten manager sebagai keluarga baru bagi Super Junior-M. Oleh karena itu, Donghae merupakan satu-satunya personel yang menyaksikan secara langsung seluruh rangkaian kegiatan saat sayembara pencarian asisten manager itu dilaksanakan.

***

Sejak hari dimana Aya mengumumkan bahwa Donghae adalah teman pertamanya, apa yang akan terjadi pada perasaan Aya? Apakah Aya sudah mulai tertarik dengan Donghae? Bagaimana perasaannya terhadap Hangeng? Dan bagaimana hari-hari Aya yang lambat-laun akan mulai terbiasa untuk berkomunikasi dengan para personel Super Junior-M?

~ TO BE CONTINUED ^^~ 

17 thoughts on “[Chapter 2] Rectangle Love

    • Iya, bener, saya sendiri aja ngerasa ini chapter singkat banget.. mian T.T
      akan diusahakan lebih baik lagi :D
      makasi ya, udah mau baca ^^ nantikan kelanjutannya~ kekeke~

    • oke oke ^^
      lagi tahap menuju rampung nih chapter tiganya, lagi edit covernya dlu.. yang sabar yaa hehehe. makasih udh baca dan mampir :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s