[CHAPTER] From Radio In Love – Streaming 1

(poster by : Aquaticshineeworld.wordpress.com)

Title : From Radio In Love

Author : ReeneReenePott

Main Cast : Choi Minho, Bae Suzy*imagine if it was you for now*

Supporter cast : Kim Jong Hyun, Luna, Choi Siwon, Im Yoona, Dan yang lain (temukan sendiri)

Length : Sequel

Genre : Romance, School Life, Friendships, Family

Streaming 1

Suzy berlari sekuat-kuatnya menembus kerumunan siswa yang bergerumul di sepanjang lorong ketika istirahat. Napasnya mulai terengah-engah, namun ia tidak boleh menghentikan langkahnya sebelum sampai ke sebuah ruangan yang berisi mahkluk-planet-menyebalkan yang selalu setia dan dengan senang hati akan menghukumnya bila ia telat datang ke ruangan itu.

Tidak salah lagi, ia harus bergegas ke sebuah ruangan klub yang sudah 5 bulan ini ditekuninya, klub radio. Entah kenapa meski chingudeulnya mengoceh sana-sini bahwa ikut klub radio itu membosankan, menyita waktu istirahat dan bla-bla-bla, Suzy tetap saja semangat mengikutinya. Bukan karena ada pemandangan-indah-disana namun karena ia ingin sekali mencoba hal baru. Menjadi penyiar mulai mengisi pikirannya ketika menginjak bulan terakhir di bangku SMP kelas 3.

Memang, menjadi seorang penyiar di klub itu menyita waktu istirahat. Selain ada siaran siang setiap istirahat pertama dan kedua, beberapa saaat sebelum pulang sekolah juga ada siaran singkat. Belum lagi kelasnya yang ada di penghujung bangunan sekolah sedangkan ruang klubnya ada di ujung sekolah yang lainnya, menyebabkan ia kehilangan beberapa kilogram berat badannya karena setiap hari ia harus marathon mengelilingi penjuru sekolah setiap istirahat bila tidak mau mendapat tatapan tajam dari sunbaenya yang gualak amt-amit.

Namun yang diherankan Suzy adalah, meski peminat untuk menjadi penyiar sangat sedikit, namun setiap siaran teras ruangan klub selalu penuh dengan haksaeng yeoja yang matanya lurus dengan seseorang. Yah, Suzy mungkin sedikit bisa memahami ini karena yah, sebagai ketua klub juga sunbae yang berwajah amat-sangat tampan, pastilah ia diidolai haksaeng yeoja satu sekolah.

Suzy bergidik mengingat kenyataan lain yang muncul di pikirannya memikirkan sunbae tersebut. Meski tampang luarnya tuampan sangat dan selalu sopan, lihat saja kalau ada yang terlambat datang, bisa dimarahi dan kata-katanya selalu pedas menghujam hati. Evilnya keluar dan kalau sudah begitu, mungkin hanya troll yang dapat menghentikannya.

“Bae Suzy!!! Terlambat lagi!!” seru sebuah suara yang langsung membuat Suzy memutarkan kedua bola matanya. Baru saja ia melepas kedua sepatunya, orang itu lagi-lagi langsung menceramahinya. Suzy berbalik dan menatap wajah sunbaenya polos.

“Mianhae sunbae, tadi ada tambahan soal kimia,” jawab Suzy pelan.

“Alasan lagi alasan lagi. Kalau semua anggotanya seperti kau mana bisa klub ini maju!” katanya mulai berceramah. “Awas ya kalau terlambat lagi,” katanya keras.

“Ne, sunbae,” kata Suzy malas dan langsung menghampiri Jiyoung yang telah melepaskan headset siarannya. “Sudah berapa lagu Jiyoung-ah?”

“Baru satu lagu. Kkaja, untung saja kau cepat datang jadi aku tidak perlu berceloteh lebih lama lagi,” jawab Jiyoung. Ya, tidak semua anggota klub radio adalah seorang penyiar, ada yang mengurusi suara, ada yang mengorganisir acara, ada yang menjadwal, ada pula yang menilai sekaligus menjadi tutor bagi juniornya.

Dengan sigap Suzy mengenakan headsetnya dan melihat susunan acara. Dan begitu lagu pembuka berakhir, suara ramah Suzy mulai berceloteh riang melalui setiap speaker di seluruh penjuru sekolah.

“Annyeong, di sini Suzy, mianhae yaa, agak telat. Biasa lah taambahan soal kimia,” suara riang Suzy membuat seorang sunbaenya menoleh dan tesenyum menatapnya tanpa sepengetahuannya.

Suzy POV

“Sebagai lagu pertama, dengerin nih, lagu yang lagi ngetop di kelas X sekarang, hahaha. Bercanda. Memang lagi ngetrend sekarang, siap-siap nih joget bareng lagu 2PM yang ini…” kataku sambil mengklik pilihan ‘Play’ di winamp siaran. Hands Up. Asik nih buat joget bareng. Angkat kaki ke meja, angkat tangan satu, loncat!!!

Duk!!

Duk!!

Dukk!!!

Ups, nggak sengaja aku jingkrak-jingkrakan di ruang siaran. Aku menoleh memandang Minho sunbae yang mengetuk kaca siaran dengan tatapan protes. Aku nyengir tanpa dosa sambil membungkuk meminta maaf. Bisa kulihat ia menatap kembali ke layar monitornya sambil mengulum senyum. Ah, bodo dah. Aku mengalihkan pandanganku ke arah tumpukan surat yang ada di sudut meja. Ku raih dan kubaca sebentar. Ketika lagu habis aku kembali mengambil alih.

“Seperti biasa, setelah lagu pertama akan dibacakan surat-surat yang dikirim ke kotak surat kami. Surat pertama… Dari Jinki untukkk…. Seung Yeon!! Waw! Aku pernah mendengar couple ini. Langsung aja ke isinya, ‘Seung Yeon-ah, jangan lupa buku catatan matematikaku di atas meja belajarmu!’ Ya! Jinki! Apa kalian sedang belajar bareng? Semoga sukses kalau begitu.

“Yang kedua… Dari Donghae untuk Hara. Isinya… Nde?? ‘tunggu aku nanti malam ya,’ hah?? Apa ini artinya Hae? Yang ketiga… Dari noname lagi. Kenapa orang ini sering mengiirm surat tanpa nama ya? Apa kau pemalu? Hah, biarkan saja. Isinya… ‘Kau cantik hari ini,’ hanya itu? Hah? Noname? Hanya ini? Ya sudah. Sudah tiga surat di bacakan, jadi sekarang giliran.. ouwww.. Pengumuman untuk kelas XI D untuk segara mengumpulkan partitur kepada Lee sonsaengnim. Batas waktu hingga besok pada istirahat kedua. Sunbae-nim, hwaiting!!” aku langsung menyetel lagu kedua dan melepas headset streamingku karena akan diambil alih oleh Hongki.

Aku melangkah keluar ruang streaming dan melangkah mendekati Jaekyung sunbae yang menilaiku.

“Sunbae, bagaimana aku tadi?” tanyaku pada Jaekyung sunbae yang terduduk di luar ruang streaming. Ia menoleh menatapku dan mengangkat kedua jempolnya. Aku tersenyum. Aku mencuri pandang kea rah luar ruang klub lewat jendela. Haksaeng yeoja lagi. Dan jumlahnya bertambah banyak selama 2 minggu terakhir. Hei, untuk apa aku memikirkannya? Membuang-buang waktu saja. Tidak penting mengurusi haksaeng yang tergila-gila pada sunbae monster sepertinya. Aku mendengus kesal.

“Kenapa kau mendengus sepeti itu?” tanya Jaekyung sunbae dengan alis berkerut. Aku tergagap.

“Ani, hanya…”

“Kau, sekali lagi, kalau telat kau akan tahu hukumannya,” suara sunbae monster itu memotong pembicaraan di saat yang tepat. Aku hanya dapat mengangguk lemah tanpa menatap ke arahnya. Dan setelah itu ia pergi. Begitu saja. Menyebalkan! Hah? Apa yang barusan kukatakan? Menyebalkan? Huaaa otakku sudah tidak beres. Dia bukan hanya menyebalkan. Dia sangat sangat SANGAT menyebalkan. Baiklah, untuk apa aklu berceloteh tak jelas seperti ini? Sudahlah, lupakan saja.

Aku mengedarkan pandangan keseluruh sudut ruangan. Mungkin ada beberapa haksaeng yang sedang nganggur yang merasa perutnya minta diisi bisa menemaniku ke kantin untuk memenuhi kengininan si cacing di perut. Namun nampaknya sulit karena si Sunbae Monster itu pasti sudah menyuguhi mereka dengan hidangan (?) yang membuat mereka bertahan pada posisinya dan terus bekerja. Malas ke kantin sendiri, aku melangkah keluar ruangan dan berhenti tepat di depan kotak surat yang biasanya menjadi tempat para haksaeng untuk mengirim pesannya. Merek bisa memilih dengan penyiar siapa mereka ingin pesan mereka dibacakan. Aku membuka kotak milikku, dan lagi-lagi, sepucuk surat, ah tidak, sepucuk kertas biru mengisinya. Noname kah?

“Suzy-ah, kau mau ke kantin?” tiba-tiba suara Luna menyapaku dari balik punggung. Aku menoleh dan tersenyum.

“Ah, Luna, kau memang penyelamatku,” desahku sambil menggandeng lengannya menuju kantin. Kalau kalian mengira aku seorang lesbian, kalian salah besar, sayangnya. Luna adalah chingu terdekatku dan ia selalu datang di saat aku membutuhkannya.

“Kau tidak akan kena marah Minho sunbae?” tanyanya saat kami berdua menduduki salah satu meja di kantin. Aku mengangkat bahu.

“Asal aku bisa langsung memesan dan memakannya cepat dan kembali sebelum ia datang, mungkin ia tak akan tahu,” jawabku acuh. Luna menatapku dengan pandangan aneh.

“Waeyo?” tanyaku.

“Kau sudah menemukan siapa si Noname itu?” tanyanya yang membuatku tersedak saat meminum jus.

“Uhuk.. mwo? Noname? Heuh, aku belum bisa menemukannya,” kataku pelan. “Er, Luna, sebaiknya aku kembali,” kataku lagi sambil menyambar roti dan gelas plastik jus yang sedang kupegang. Ia tersenyum.

“Ne, kembalilah..” jawabnya tenang. Aku tersenyum padanya lalu melangkah cepat kembali ke ruang klub.

Sesampainya di ruang klub, aku dikejutkan oleh Jaekyung eonni yang menaruh telunjuknya di bibirnya, menyuruhku diam. Aku terdiam mengikuti instruksinya, dan langsung menyembunyikan gelas jus dan roti yang kubawa. Baru kusadari, Si Sunbae Monster itu tengah menceramahi seorang haksaeng pengurus audio, sepertinya. Meskipun ia tidak membawa penggaris panjang seperti Park sonsaengnim, tetap saja keadaannya yang seperti itu membuat seisi ruangan tak berani membuka mulut. Ia mengedarkan pandangannya, lalu matanya menancap padaku yang membuat jantungku berdebar. Bukan berdebar karena gugup—aku bersumpah tidak akan pernah mengalaminya—tapi takut bila nanti aku akan digantung ditiang bendera dengan terbalik olehnya karena keluar saat siaran.

Glek.

Ya, aku tahu aku salah. Tapi ini jam istirahat,kan? Dan aku belum makan sedari pagi. Tentu saja perutku mendemo minta diisi. Sekarang, siapa yang tidak tahan untuk tidak makan bila lapar? Bila cacing-cacing diperutmu sudah memulai okestra mereka? Ia menatapku dalam sejenak, lalu berkata.

“Sepulang sekolah kau tinggal di sini untuk menyusun rancangan jadwal untuk pensi. Klub radio akan ikut membantu,” katanya singkat lalu berlalu ke luar ruangan. Heuh.. aku baru saja dari Kutub Utara. Dingin sekali. Aku hanya mengangkat bahu, lalu masuk ke dalam dan terduduk di salah satu kursinya. Sedetik kemudian, suasana kembali seperti sebelum aku keluar ke kantin.

Author POV

Suzy masih membawa kertas biru tersebut. Ia belum membacanya, tentu saja, namun sesungguhnya ia senang. Ia tidak tahu surat itu ditujukan kepada siapa, namun ia merasa senang menerimanya. Seperti yang di pesankan Minho tadi, ia tidak beranjak dari tempat duduknya sepulang sekolah. Dan ketika ia mengemasi barangnya, seseorang tengah berdiri di ambang pintu kelasnya.

“Bae Suzy?” tanya orang itu. Suzy menoleh sambil menghembuskan napas, lega karena orang itu bukan Minho. Apa? Untuk apa ia berpikir Minho aka menjemputnya di depan kelas seperti itu? Apakah otaknya terganggu?

“Ne?” jawab Suzy ramah. Orang yang ternyata haksaeng yeoja sekaligus sunbaenya itu melangkah mendekat.

“Aku Im Yoona, bisakah aku minta tolong padamu?” tanyanya to the point. Suzy merenyit bingung.

“Minta tolong apa?” tanya Suzy. Yoona tampak malu-malu.

“Bisakah kau membacakan suratku ini saat siaran?” tanyanya sambil memberikan secarik kertas putih yang sudah dilipat rapi. Suzy menerimanya dengan heran.

“Surat cinta ya?” tebaknya yang sukses membuat Yoona tersentak. Suzy terkekeh. “Pasti sunbae suka dengan seseorang,”

“Ya, kau benar. Tapi sayangnya, orang itu tidak pernah mengetahuiku, dan tidak bersekolah di sini. Tolong ya,” pinta Yoona memelas. Suzy mengangguk. “Gomawo,”

“Cheonmaneyo,”

“Baiklah. Aku harus segera pulang. Annyeong Suzy-ssi,” kata Yoona sambil melambaikan tangannya.

“Ne, annyeong,” Suzy balas melambaikan tangannya. Ia menunduk untuk membuka surat itu, namun sebuah suara mengusiknya.

“Baru menerima sogokan, eh?” seketika Suzy berbalik dan melotot. Hidupnya hancur mulai sat ini. Cepat-cepat ia menyembunyikan surat dari Yoona ke dalam sakuunya.

“Ini bukan sogokan sunbae,” jawab Suzy menceoba tenang. Minho berdecak.

“Sudahlah, kita sudah ditunggu di aula,” katanya sambil menarik tangan Suzy. Suzy terkejut, dan melepaskan tangannya.

“Tunggu, aku ambil tas dulu,” katanya sambil menyambar tasnya yang sudah siap dibawa (?). ketika Suzy hendak menyamai langkahnya dengan langkah Minho, Minho kembali menarik tangannya dan berjalan lebih cepat.

“Kau lambat,”

“Kalau begitu untuk apa mengajakku? Ajak saja Jaekyung sunbae yang kakinya lebih panjang dan jalannya lebih cepat,” balas Suzy asal. Seketika ia membekap mulutnya. Apa yang barusan ia katakan? Kini sunbaenya itu menatapnya dingin.

“ikut aku,” katanya sambil menarik—tidak, lebih tepatnya mencengkeram tangan Suzy dan membawanya ke aula.

“Yaa! Dasar sunbae sinting!!” maki Suzy lagi yang membuat Minho melirik tajam ke arahnya. “Ups, gak sengaja sunbae, ehehehehe..” elakknya sambil nyengir 3 jari.

“Berterimakasihlah karena aku tidak akan mencincangmu kali ini,” jawabnya dingin. Suzy hanya bisa bersyukur dalam hati.

Mereka berduapun sampai di aula, dan semua perwakilan dari klub ditambah anggota OSIS yang ada di sekolah itu telah hadir. Minho tersenyum sopan kepada setiap perwakilan, dan seorang ketua klub yeoja membalas senyuman Minho dengan senyuman centil yang dibuat-buat, membuat Suzy bergidik.

Rapat itu dimulai, Suzy yang duduk di sebelah Minho bingung karena ia sama sekali tidak nyambung dengan percakapan yang dilakukan oleh para anggota rapat, sementara yang ada di dalam otaknya hanyalah ulangan matematikanya yang sedikit menurun dan ulangan Bahasa Inggris yang bahannya membuat ia tercekik.

Sementara Minho dengan elegan bersepakat dengan seluruh anggota rapat dengan sesekali melirik ke arah Suzy yang menatap ketua OSIS itu dengan pandangan bingung. Tentu saja, Minho tahu bahwa sedari tadi Suzy sama sekali tidak nyambung dengan diskusi mereka sama sekali.

“Baiklah, terimakasih atas kehadiran kalian semua, sehingga rapat ini berjalan dengan baik dan mencapai kesepakatan yang memuaskan. Rapat ditutup, sekian,” si Ketua OSIS, dengan elegan menutup rapat itu yang di sertai dengan tepuk tangan seluruh peserta.

Setelah para nggota OSIS pulang, masih ada beberapa perwakilan klub yang tetap tinggal di aula tersebut. Suzy, yang sedari tadi tidak mengerti apa-apa soal rapat hanya bisa terduduk dengan melipat tangannya, dan tertidur#gakadadosa. Minho meliriknya, lalu membereskan agendanya yang ia gunakan untuk mencatat hal-hal yang penting sepanjang rapat tadi.

“Minho-ssi,” sapa seorang yeoja sambil menepuk bahu Minho pelan. Minho menoleh dan ia mendapati seorang yeoja tersenyum manis ke arahnya.

“Ne?”

“Mau pulang bersama?” tawar yeoja itu. Minho melirik Suzy lalu kembali menatap yeoja itu.

“Mianhae, aku harus mengantar hoobaeku dulu,” tolaknya halus. Yeoja itu langsung menunjukkan ekspresi tidak suka, dan langsung pergi. Minho menoleh menatap Suzy, dan menyenggol lengannya agak keras.

“Ya! Tukang tidur! Ireona!” katanya keras. Suzy mulai membuka dan menerjap-nerjapkan matanya, lalu menguap lebar.

“Sudah selesaikah?” tanyanya pelan, persis seperti orang baru bangun tidur. “Akhirnya..”

“Kau ini, malah tidur sepanjang rapat. Bagaimana kalau nanti klub radio dicap jelek, huh?” ceramah Minho yang disambut dengan Suzy yang tengah merenggangkan tubuhnya.

“Sunbae berisik,” celetuk Suzy pelan namun bisa terekam oleh Minho dengan sangat amat baik.

“Mwoya? Apa yang barusan kau katakan?” tanya Minho setengah berteriak. Suzy hanya menoleh dan menyipitkan matanya.

“Aku mau pulang, annyeong sunbae,” katanya singkat lalu berbalik pulang. Minho mematung sejenak, namun setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia memutuskan utnuk mengikuti Suzy.

Suzy berjalan santai dengan gadget kewajibannyayang sudat terpasang setiap pulang. Sebuah Ipod dan earphone. Kali ini ia memasukkan playlist:

  • SHINee – Lucifer
  • Super Junior – Mr. Simple
  • Super Junior – Bonamana
  • LED Apple – Met By Chance (Boy Meet Girl)

Kenapa? Karena matanya sudah sangat berat jadi ia membutuhkan lagu-lagu yang ngebeat untuk menjaga agar kedua matanya tetap terbuka.

Brummmmm…

Sebuah deru motor tertangkap oleh indera pendengarannya yang tertutup earphone. Ia mengacuhkannya, mungkin orag lewat,

Bruuummmm……

Motor itu kembali berderu. Namun anehnya, kenapa tidak ada motor lewat di sampingnya? Ia rasa ia sudah berjalan dengan benar, yaitu berjalan di sebelah kiri jalan.

Bruuumm….

Derunya terdengar lagi. Kali ini Suzy benar-benar penasaran. Ia menoleh ke kirinya, oh, sudah pasti tidak ada, itu palang besi. Dan begitu menoleh ke kanan, keningya berkerut. Sebuah motor gede(??) berwarna biru donker berjalan menyamai langkahnya. Jadi motor ini yang sedari tadi berbunyi bak kicauan burung itu? Dan ia baru tahu, ada sebuah motor yang jalannya lambat sekali. Apakah bensinnya diganti air kah? Suzy kembali melanjutkan langkahnya.

Brrruuummmm…….

Motor itu berbunyi lagi. Hilang sudah kesabaran Suzy, ia mengalami gangguan saat ingin mendengar musik. Dengan kesal, ia mem-pause playlist di Ipodnya dan mencopot earphonenya dengan kasar.

“Ya! Sudah sana melaju! Asapnya bisa membuat paru-paruku jebol!” pekik Suzy emosi pada si pengendara yang mengenakan helm persis pembalap. Namun si pengendara hanya terdiam dan mematikan mesimnya. Suzy hanya bisa berhenti melangkah dan memandang di pengendara heran. Si pengendara hanya mengisyaratkan Suzy untuk naik ke boncengan lewat dagunya. Namun Suzy tetap menatap bingung. Ia sedang tidak dalam keadaan ingin diculik, kan?

“Ya! Apa kau mau mematung di situ terus hah? Ini sudah sore! Cepat naik!” bentak suara si pengendara pada akhirnya. Suzy menatap si pengendara yang belum melepas helmnya dengan heran.

“Eomma bilang jangan percaya kepada orang tak dikenal,” sahut Suzy spontan. Si pengendara tampak mendengus kesal, lalu membuka helmnya. Mata Suzy membulat seketika.

“MWO?” pekiknya. “Ngapain kau di sini—eh, ngapain sunbae di sini?” tanyanya. Tentu saja ia kaget, kalao orang yang ada di depannya adalah Choi Minho!

“Mengantarmu, pabo,” jawab Minho kalem. “Ppali!” serunya sambil mengisyatratkan dengan dagunya.

“Shirreo,” tolak Suzy. Ia bingung harus berbicara halus atau kasar kepada sunbae yang sering membuat emosinya mencapai ubun-ubun ini, jadi ia berbicara setengah kasar setengah halus (?) padanya. Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju halte bis yang terletak beberapa ratus meter lagi di depannya.

“Ck, kau jangan membantah,” kata Minho dingin lalu turun dari motornya. Ia meraih pinggang Suzy sebelum menjauh dan mendudukkannya di bangku boncengan. “Begitu lebih baik,”

“YAAA~~~” pekik Suzy saat merasakan tubuhnya diangkat dan tiba-tiba sudah berada di atas boncengan.

Bruuuummmm…

Minho segera menstarter motornya dan melaju dengan kecepatan bagai Valentino Rossi (??) menerbangkan Komeng (??).

“YA~~~ SUNBAE GILAAA!” pekik Suzy sepanjang perjalanan. Gengsi sudah ia lupakan, karena demi keselamatan jiwanya, ia lebih memilih memeluk pinggang Minho daripada tidak melakukan apa-apa. Tanpa diketahuinya, seulas senyum terukir di bibir Minho ketika merasakan kedua tangan Suzy melingkari pinggangnya.

Bruuummmmm….

Ngeeeeeeeengggg~~~~~ (author : idih, aku kok persis anak TK yang katro main motor-motoran yah??)

Ckiiittt~~

“Hoshh.. hoshh…. Ya! Sunbae gila! Busyet dah lain kali jangan paksa aku untuk naik motormu yang terkutuk ini!” omel Suzy begitu ia sudah menginjak tanah. Sementara yang diomeli hanya terduduk sambil menstandardkan motornya dan duduk bergaya sok cool.

“Sudah untung aku mau mengantarmu,” sahutnya dingin.

“YA! Siapa juga yang mau?” dumel Suzy lagi. “Auw!” pekik Suzy kemudian setelah jentikan Minho mendarat persis di jidatnya yang tertutup poni.

“Besok ku tunggu di depan gang ini. Kkaja, sana masuk!” ujar Minho pada Suzy, membuatnya melongo. Orang ini sudah bertukar roh dengan eommanya kah??

To Be Continued…

#Ottheyo?? Semoga memuaskan yah!! XD Mian kalo ada typo.. XDD

#Yang udah baca.. gomawo, tapi jangan lupa, KOMEN!! XDD

32 thoughts on “[CHAPTER] From Radio In Love – Streaming 1

  1. Wah daebak ini ceritanya. Dapet banget feel Suzy yang polos sama Minho yang dingin. Udah gitu ada Onew-Seungyeon couple lewat di awal cerita.. b^^d
    Lanjutin author, penasaran siapakah noname itu? Minho-kah~?

  2. I’m new reader…. uwaaa…. aku ga bisa berenti ketawa baca cerita kamu thor…
    kebayang suzy ngomong busyet.. hahaha
    ceritanya seru abis,,, cepet update y chingu… :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s