[CHAPTER] From Radio In Love – Streaming 2

(cover by : aquaticshineeworld.wordpress.com)

Title : From Radio In Love

Author : ReeneReenePott

Main Cast : Choi Minho, Bae Suzy

Supporter cast : Kim Jong Hyun, Luna, Choi Siwon, Im Yoona, Dan yang lain (temukan sendiri)

Length : Sequel

Genre : Romance, School Life, Friendships, Family

Streaming 2

 

Minho merenggangkan tubuhnya sejenak, lalu memfokuskan pandangannya ke jam dinding yang menempel di dinding kamar tidurnya. Ia mengucek matanya pelan, dan bergegas bangkit dari posisi tidurnya. Hawa di pagi itu masih dingin menusuk, membuat kesadarannya pulih 100% hanya dalam hitungan menit.

Kepalanya lalu menoleh ke tumpukan kertas di atas meja belajarnya, lalu menghembuskan napas pelan. Sambil mengacak-acak rambutnya, ia beranjak menuju kamar mandi dengan menggantungkan sebuah handuk di pundaknya.

__

“Suzy-ah… ireona..” eomma Suzy mengguncang-guncangkan bahu Suzy yang masih menjelajah alam mimpi.

“Enghhh… Peterpan!! Aku kekurangan Fairydust!!! Mana Tinkerbell?” erang Suzy pelan sambil mengayun-ayunkan tangannya, menggapai-gapai udara kosong. Eommanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha tabah dengan kelakuan anak yeojanya.

“YA!! BAE SUZY IREONA!!!” teriak eommanya, memecah mimpi indah Suzy yang tengah terbang bersama Peterpan dan membuatnya jatuh kembali ke atas kasurnya. Matanya terbuka seketika ketika merasakan ada hawa-hawa sapu lidi di ruangannya.

“YAAA EOMMA AKU SUDAH BANGUNN!!” jeritnya begitu dilihat eommanya tengah mensenjatai dirinya dengan lidi penggebuk kasur ==a

“Kau ini manusia atau kebo sih? Dibangunin susah banget!!” dumel eommanya sambil melangkah keluar kamar. “Palli, ada seseorang yang tengah menunggumu di bawah,” seketika mata Suzy menerjap kaget. Mwo? Menjemputnya?

“Ndeee??”

“Cepat sana mandi!!” eommanya kembali masuk ke kamarnya dengan lidi penggebuk kasur yang masih di pegangnya. Suzy langsung menyambar handuknya dan ngibrit ke kamar mandi.

“Ne!! Ne!! Aku mandi!!”

Beberapa menit kemudian, Suzy melangkah keluar kamarnya dengan pakaian seragam lengkap dan rambut yang diikat rapi. Matanya menjelajah ke seluruh ruang tamu yang sedang di intipnya, heran dengan orang yang—kata eommanya—menunggunya. Teroris kah? Polisi? Penjual anak kecil? Pemerkosa?

“Ayo Suzy!! Sarapanlah!! Temanmu juga sudah ada di sini!!” seru eommanya dari ruang makan. Suzy menerjap, lalu melangkah ke asal suara eommanya itu. Dan seketika matanya terbelalak lebar.

“HAHH?? Untuk apa kau di sini sunbae??” Suzy jelas terkejut. Bagaimana tidak? Sunbaenya—Choi Minho—benar-benar menjemputnya!!

__

“LUNAAAAAA~~~~” suara Suzy yang nyaring memekakkan telinga menyambut suasana kelas pagi itu. Luna yang tengah membaca sebuah ensiklopedi—dia memang sangat rajin membaca—mendongak ketika mendengar namanya disebut.

“Wae?” tanyanya begitu Suzy sudah duduk tepat di depannya dengan napas terengah-engah. Yang pasti, Luna mencium ketidak beresan kali ini.

“Aku.. pinjem PR fisika, okee?” seru Suzy lalu menyambar buku PR Luna yang kebetulan tergeletak di atas mejanya lalu membalikkan tubuhnya untuk menyalin PR itu ke PRnya. Luna melongo. Hanya itu?

“Astaga, kau tak mengerjakannya?” cerca Luna sambil memandangi punggung Suzy yang tengah asyik menggoreskan rumus dan jawaban.

“Aku sudah berusaha, Luna, tapi karena otakku tidak seperti otakmu, dan kau pasti tidak tega membiarkan temanmu yang malang ini di hukum Jung Sonsaengnim yang terkenal galak…”

“Ya… ya… ya… sudahlah lebih baik kau diam saja dan tulis jawaban itu!” seru Luna kalem, membuat Suzy mengembangkan senyumnya sembari menyontek PR Luna. 10 menit kemudian, dengan girang Suzy menutup buku PRnya dan mengembalikan PR Luna.

“Gomapta Luna-yah, kau memang penyelamatku,” sergah Suzy ceria sambil mencubiti pipi Luna.

“Yakk~ kau ini! Hei, apakah rapat kemarin berjalan lancar?” tanya Luna, membuat raut wajah Suzy yang tadinya sumeringah menjadi seperti muka nenek-nenek—bertekuk-tekuk sebanyak 700 kali.

“Sangat lancar,” jawab Suzy singkat. Melihat perubahan air muka Suzy, Luna menyeringai lalu berusaha menoel bahu Suzy.

“Kau pulang dengan Minho sunbae ya?” goda Luna yang membuat wajah Suzy menjadi memerah. Setengah mati ia berusaha untuk menyembunyikan senyum yang mulai mengembang di bibirnya.

“Yah, begitulah,”

“Pasti banyak yang iri dengamu,” sahutnya kalem.

“Dan kau juga termasuk?”

“Oh, tentu saja tidak. Ada orang lain,” ujarnya pelan, berharap pikiran Suzy saat ini cukup lola sehingga tidak memikirkan yang macam-macam—ia tahu bahwa Suzy memiliki sejuta awang-awang.

“Hah? Berarti kau sedang menyukai seseorang dong?” tanya Suzy kaget. Luna tersentak mendapati tanggapan Suzy yang lantang itu.

“Yaiiikkkk kau jangan keras-keras pabo!”

“Tapi, memangnya benar kau sedang menyukai seseorang, huh?” tanya Suzy pada akhirnya, lebih pelan agar Luna tidak ngamuk.

“Yah, bisa dibilang bgeitu sih, tapi ga tau juga,” jawab Luna santai. Ia kembali membaca ensiklopedi di tangannya.

“Ish, kau ini. Siapa pria itu? Eh, tapi kau menyukai laki-laki, kan?” tanya Suzy was-was.

Pletakkk

“Ya! Aku masih normal pabo!!” sahut Luna jengkel. Temannya satu ini memang lola atau pabo atau goblok sih?

“Aku kan hanya tanyaaaa…” rengek Suzy sambil mengelus-elus bekas jitakan Luna.

Kriiinggg

Kriingggg

“Pelajaran pertama apa yah?” tanya Suzy pada Luna. Luna memutarkan kedua bola matanya kesal.

“Fisika, dan Jung sonsaengnim sudah ada di ambang pintu,” jawab Luna sekenanya.

“Fiuhhh, untung saja aku sudah menyontek PR-mu,”

Suzy POV

Jung sonsaengnim memang kejam! Soal tambahan fisika sebanyak 20 induk soal, belum lagi anak soalnya yang bisa mencapai 3 poin. Astaga, apakah ini takdirku? Kalau aku telat lagi habislah riwayatku! Apakah ini memang hukum karma yah? Selaluuuu saja berada di antara orang-orang galak nan kejam di kehidupan sehari-hari.

Bak Hermes, aku kembali marathon seperti kemarin ke ruang klub, meninggalkan Luna dengan tawaran menggiurkannya untuk pergi ke kantin. Lama-lama aku bisa mati kalau begini!!

“Mian… mian…” kataku saat menembus kerumunan siswa yang menghalangi jalan. Aku-harus-secepatnya-sampai-di-sana-kalau-tidak-mau-di-bunuh!

Kini mataku menangkap batang hidung si Monster Sunbae yang tengah berjalan santai sambil membawa beberapa berkas, tepat beberapa langkah dari arah jam 2. Semoga aku sampai lebih dulu dari padanya…

Syuuutt

Duakkkk

Oh.. oh… ada yang menyangkut di kakiku. Dan aku yakin, aku pasti tersandung dan menabrak seseorang.

Brakkkk

“AUWWW…” pekikku ketika terasa pinggangku membentur lantai. Sepertinya, aku menindih dada sesorang. Aku menoleh, lalu terkejut. Bukan hanya sekadar terkejut biasa kawan, tapi sangat-sangat terkejut!!

“Bisakah kau berdiri? Tubuhmu berat,” katanya yang membuatku menelan ludah.

“Err… Ne..” sahutku pelan dan langsung berdiri. Bisa kurasakan tulang pinggulku berbunyi ketika aku berdiri. Shh, sakit sekali. Aku kembali menatap sunbae di depanku itu. Tumben, dia tidak marah? Kini ia tengah berusaha membereskan berkas-berkas yang berhamburan. Setelah selesai dengan kegiatannya, ia ikut berdiri dan menatapku.

“Pinggangmu sakit?” tanyanya  yang membuatku melongo. Apakah dia menjelma menjadi seorang petugas UKS?

“Aniyo…” jawabku pelan.

“Kalau tidak, cepat ke ruangan klub!” semburnya yang membuatku kembali ngibrit ke arah ruangan yang sedari tadi menjadi tujuanku.

Ah, itu dia! Dan tanpa tedeng aling-aling, aku melepas sepatu dan masuk ke dalam ruangan itu. Jaekyung sunbae tengah siaran, karena sesudahnya giliranku. Aku membaca sebuah surat di tanganku, untuk yang kesekian kalinya. Kata-katanya dewasa, aku sangat suka membacanya. Kira-kira untuk siapa yah?

“Hei, Suzy, ayo, beberapa saat lagi Jaekyung sunbae selesai,” Hongki menyenggol bahuku sehingga membuatku menoleh menatapnya. Aku hanya mengangguk dan langsung menstandby-kan diri dengan duduk di samping Jaekyung eonni. Begitu lagu selesai, aku langsung mengenakan headset streamingku dan membuka acara.

“Annyeong, di sini Suzy, bagaimana hari kalian? Aku harap kalian baik-baik saja. Cuaca hari ini sedikit dingin dan mendung, aku pikir berbahagialah bagi kalian yang sedang memutihkan kulit, hahahaha. Baiklah, apakah kalian ingin curhat atau mengirimkan pesan singkat kepada seseorang? Kami dapat membantu. Silahkan mengirim ke kotak surat kami, dan kami yakin akan kami siarkan.

“Kita mulai ya, surat pertama, dari… Kim Jong Hyun! Bukankah dia salah seorang siswa kelas XII? Ini baru pertama kalinya aku melihat namanya dalam surat ini. Pasti surat pertama sunbae ya? Isinya… ‘Hei, kau cantik, bisakah kau melihatku?’ Dan ini ditujukan kepada… tidak ada? Hei, sunbae, kau membuat kami sangat penasaran! Tapi karena itu mungkin privasi, yah, tak apa deh.

“Dan surat kedua, astaga. Aku sangat sering melihat nama ini. Lee Jinki! Kepada Seungyeon, ‘Hei, bukankah kau berlibur ke Malibu? Kenapa tidak membawa oleh-oleh hah? Tapi ta ada, setidaknya kau pulang…’ hei sunbae!! Apakah ini sebuah tanda? Ah, aku sangat berharap! Sudahlah, kita lanjut ke surat ketiga yah,

“Dari Im Yoona, dan tidak ada tujuannya. Tapi aku yakin pasti seseorang diluar sana, ya kan sunbae? Isinya, ‘Kau bodoh! Aku selalu melihatmu namun kau tak pernah melihatku. Kau bodoh! Kau membuatku merasa sesak setiap menatapmu. Tapi untuk apa aku marah seperti ini? Toh kau tak pernah mengenalku. Ya kan? Aku seperti… angin lalu bagimu. Bisakah kau melihatku, sekali saja?’ Ah, sunbae, suratnya sangat manis! Hwaiting! Semoga kau mendapatkannya!

“Oh ya, karena kemarin ada yang ngerequest kalau jadwalnya di tambah dengan pembacaan Ramalan Bintang. Tadi Jaekung sunbae sudah membacakan yang Sagitarius dan Gemini kan? Oke deh, aku bacakan lagi 2 bintang! Virgo! Kamu punya kecenderungan untuk boros bulan ini, jadi berhati-hatilah. Buatlah perencanaan keuangan dengan matang. Kamu juga perlu lebih focus kepada pelajaran sekolah karena kamu juga yang akan menuai hasilnya, oke!

“bagi Taurus, Bulan ini bulan yang menyenangkan. Rencana yang dibuat berjalan lancar. Komunikasi amat penting saat ini, jadi jangan samapi salah ucap, ya. Dan, karena bulan lalu kamu sudah bekerja keras, kali ini kamu tinggal memetik hasilnya. Nilai-nilaimu OK! Sekian deh yang bisa disampaikan saat ini. Sebagai penutup, dengerin nih, lagu yang lagi nge hits di kalangan anak kelas X A. hehe, enggak juga sih, tapi laginya asik loh! Siap-siap buat jingkrak-jingkrakan bareng Super Junior – Mr. Simple ini nih!”

Dengan desahan panjang, aku melepaskan headsetku dan melangkah keluar ruang rekaman. Aku melirik sejenak ke jadwal siaran yang terpasang di dinding, berharap aku tidak siaran lagi karena aku mau mengerjakan PR Jung sonsaengnim tadi. Memang sih, harusnya dikerjakan di rumah tapi.. ah, di rumah aku ingin bermalas ria, hehe.

“Hiks… tapi dia punya kesempatan lebih!” suara siapa itu? Aku melongok keluar ruang klub. Oh, ada beberapa haksaeng yeoja bergerumul di depan. Dan salah satunya tengah menangis. Kenapa yah?

“Aku gak rela kalo dia harus selalu bersama Minho sunbae di ruangan itu!” pekiknya lagi sambil mengeluarkan ingusnya. Aku bergidik. Astaga, ternyata itu masalahnya.

Dia cemburu dengan Jaekyung eonni ! Astaga, sudah berapa kali ada kasus seperti ini hah? Meski mereka dekat, tapi mereka memang hanya berteman. Hanya dekat saja. Jaekyung eonni kan sudah pacaran dengan Taecyon sunbae yang sudah kuliah, untuk apa ia berselingkuh dengan Minho? Ayolah kawan, kau hanya iri karena kau tidak lulus ujian broadcast tahun lalu! Hehehehe…

Tatapanku jatuh pada sosok tinggi yang sedang berbincang dengan kawan-kawannya itu. Siapa lagi kalau bukan si Sunbae Monster itu. Yang setiap hari kerjaannya selalu lirik sana-sini, kalau tidak ada yang bekerja bisa dihukum. Ck, di luar saja dia sopan, padahal? Huaaaa aku tidak bisa membayangkannya. Kenapa sih dia harus jadi sunbaeku?

“Hei, kalau kau mau keluar ya keluar, kalau mau masuk ya masuk. Jangan setengah-setengah gitu, ACnya percuma,” sebuah suara dingin menegur dari depanku. Weh, kok bisa dia sudah berada di depanku? Sihirkah?

“Eh, mian sunbae,” kataku dan langsung menempatkan diri keluar. Ia hanya melirik dingin lalu bergegas masuk. Huftt~

“Hei, kau! Hoobae!” aku rasa ini suara yang menangis tadi deh. Aku menoleh dan… memang benar! Ia sudah berdiri menatapku sambil menyilangkan tangannya. Aku celingak-celinguk, ragu bahwa ia memanggil orang yang ada di samping atau belakangku. Hei, tidak ada siapa-siapa. Aku menunjuk diriku sendiri sambil memasang tampang bingung. “Tentu saja kau!” serunya sambil menghentakkan kakinya. Gak usah marah-marah kenapa sih?!

“Ne?” tanyaku malas.

“Kau, kau mencoba menarik perhatian Minho sunbae ya?” astaga, apakah kupingku perlu dibersihkan?

“Hah?”

“Kau ngaku saja deh, kau itu masih tidak ada apa-apanya dibanding dengan Jaekyung sunbae, jadi lebih baik kau mundur,” heii.. orang ini sedang mengigau sambil berdiri ya?

“Apaan? Siapa juga yang mau menarik perhatian si Monster itu…”

“Kau gak sopan sekali sih?!”

“Lah, suka-suka aku dong?” balasku kesal. Iya, aku ga bakalan mau sopan kalo di depan orang macam dia ini.

“Ckck, ku ingatkan ya…”

“Dengar baik-baik ya, sunbaeku yang rada-rada,”aku bisa melihat wajahnya mulai memerah karena marah, ehehehe “Aku sama sekali dan tidak pernah berpikir untuk mendekatinya, boro-boro mendekatinya, berada di dekatnya aja sudah seperti di Kutub Utara. Dan, asal sunbae tau saja, anjing bulldog appaku berjuta-juta kali lebih menarik di banding Minho sunbae itu,” potongku. Ya, aku mungkin menjadi haksaeng paling bejat sekarang. Tak apalah, kan untuk membela diri.

Aku melangkah menjauh dengan cepat, malas berurusan lebih lanjut dengan sunbae aneh seperti itu. Yang ada malah tensi naik hingga aku mendapat tekanan darah tinggi. Aku berjalan menuju ke ruang klub lagi, ada yang ingin kutanyakan pada Hongki. Tapi yang kutemukan adalah pemandangan mengerikan yang pesti membuat seluruh anggota klub takut untuk mengalaminya.

“Apakah kau pengurus taman lawang? Gaya bicaramu jelek sekali,” sembur Minho sunbae dinginkepada seorang penyiar lainnya. Tapi… kurasa bukan sunbae lagi, tapi Monster. Sekarang, suhu ruangan berubah drastis.

“Mianhamnida, akan saya perbaiki lagi,”

“Lihat saja, kalau gaya bicaramu tetap lebay seperti itu, dengan senang hati saya akan menukarkan jadwal siaranmu,” balas si Monster yang membuat korbannya memucat. Tentu saja, diakan tidak mempunyai waktu lagi, dan kalau sampai tidak bisa siaran, pasti akan dikeluarkan dari klub. Sesaat kemudian ia keluar dari ruangan, dan Jaekyung eonni menerobos masuk.

“Sudahlah Rin-ah, jangan diambil hati ya, Cuma perbaiki sedikittt saja. Ayo, kita ke kantin,” yah, memang Jaekyung eonni itu seperti malaikat. Dia baik sekali.

__

“Itulah kecerobohanmu, sudah dibilang beratus-ratus kali jangan tekan tombol yang itu!!” katanya keras yang membuat bulu kudukku berdiri. Mata seisi ruangan terpaku pada kami berdua, yang berdiri berhadapan bagai polisi yang sedang menghukum narapidana.

“Mianhae,” kataku pelan.

“Kau itu, sudah ceroboh, suka sekali telat, ngomong asal ceplas-ceplos…”

“Minho! Sudahlah, semua orang pasti berbuat salah. Lagipula, dulu kau malah hampir membuat stereo di pojok itu meledak kan? Dia masih pemula, pastilah ada kesalahan,” bela jaekyung eonni, penyelamatku. Tapi tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain menunduk.

“Tapi, dia juga suka sekali telat!” Monster itu masih mempertahankan pendapatnya. Ya, aku tahu aku suka telat, dan itu semua memang salahku.

“Memangnya dulu kau tidak pernah telat? Hei, yang penting dia memiliki alasan kan? Dia tidak telat karena ngegossip atau makan siang! Ingat, kelasnya ada di penghujung sekolah ini!” sembur Jaekyung eonni lagi. Aku semakin merasa bersalah. Rasanya ingin menangis. Huaaa…

“Hanya sekali!! Tapi dia?? Hampir setiap siaran selalu telat!!” balasnya lagi. Pandanganku mengabur. Aku tidak tahan lagi!!

Brakkk

Aku berlari keluar dari ruangan klub. Kemana saja asal sekarang tidak bertemu dengan Monster itu!!! Tiba-tiba langkahku terhenti, ketika aku sudah merasa berlari cukup jauh dan sudut mataku menangkap sebuah bangku panjang di antara semak-semak. Aku menghempaskan diri duduk di sana.

Heuh, dia memang menyebalkan. Aku salah kalau berpendapat ia berubah menjadi sedikit lebih baik padaku, karena waktu itu ia pernah berniat untuk mengantarku pulang. Sikapnya masih sama, dan belakangan ini makin keras. Seperti hanya Jae Kyung sunbae yang benar, tentu saja karena mereka berdua sama-sama senior. Duduk di taman belakang sekolah seperti ini dan menyendiri, ternyata tridak terlalu buruk. Rasanya nyaman…

“Kau marah?” tanya sebuah suara yang familier di gendang telingaku. Aku menoleh, dan, benar saja. Sosok yang sedari tadi terus-terusan memancing emosiku tengah duduk di sampingku. Malas menjawab, aku hanya terdiam, tak menanggapi ucapannya.

“Hei, apakah itu sikap yang pantas dari hoobae kepada sunbaenya?” katanya lagi. Bisakah ia tidak membuat kekesalanku kepadanya semakin memuncak? Yah, meskipun sekarang aku bingung kenapa aku kesal padanya.

“Ck, aku traktir kau makan eskrim,” ajaknya sambil meraih pergelangan tanganku. Aku menepisnya halus.

“Tinggalkan aku sendiri,”

“Hei, tidak boleh begitu. Jarang-jarang loh aku mau mentraktir es krim,” katanya lagi sambil benar-benar menarik tanganku hingga melangkah mengikutinya.

Dia mengajakku ke luar pagar, kebetulan seorang tukang es krim lewat. Ia membeli dua es krim, vanilla dan coklat. Tunggu, tiba-tiba ia menjadi baik begini tulus, kan? Tidak ada maksud tertentu? Jangan-jangan ia akan memberitahukanku kalau aku dikeluarkan dari klub! Huaaa mampus aku!

“Igeo,” ia menyodorkan es krim vanilla itu. Dengan ragu aku meraihnya, enggan untuk langsung melahapnya. “Tenang saja, tidak ada racun tikus kok,” lanjutnya cuek.

“Apakah, kau memiliki maksud tertentu?” tanyaku tiba-tiba.

“Nde?” ia menghentikan aksi makannya, lalu menatapku bingung.

“Kau membelikanku eskrim, berbicara dengan santai tanpa urat padaku, kau tidak akan mengeluarkanku dari klub kan?” tanyaku sangsi. Seketika ia terbahak keras.

“Hahahaha… Untuk apa aku mengeluarkanmu dari klub?”

“Ngg… kupikir…”

“Tidak kok, aku hanya ingin minta maaf,” katanya pelan. Aku menoleh sambil menautkan alisku. Hah? Seorang Choi Minho minta maaf? Berbeda sekali dengan biasanya. Apakah ia kerasukan peri baik atau apa ya?

“Untuk?”

“Tadi. Aku terlalu keras pada hoobae. Mianhae,” jawabannya membuatku menunduk. Hah, soal itu.

“Aku Cuma kesal saja. Habis kau memang benar-benar monster.” Sahutku kalem. Ia mendelikkan matanya yang sudah belo itu, sambil menatapku aneh.

“Mwo? Monster?”

“Ya, kau seperti Monster. Marah-marah melulu,” sahutku lagi. Sepertinya kini ia benar-benar salah tingkah.

“Aku… sering diperlakukan keras oleh orangtuaku, apalagi soal kepemimpinan,” katanya pelan.

Tunggu. Apakah sekarang aku sedang berbicara dengan Choi Minho? Waw, ternyata dia bisa diajak bicara tenang juga. Dan sebenarnya dia baik. Heii.. apa yang ada di otakku heu??? Lupakan!!

Author POV

Sore itu masih didominasi dengan awan yang mulai kemerahan. Angin berhembus sepoi-sepoi, dengan suasana sunyi dan tenang. Seorang yeoja dengan santai berjalan perlahan dengan rambut digerai, membuatnya tampak cantik. Ya, yeoja itu adalah Yoona.

Yoona kembali menghentikan langkahnya di depan sebuah café. Pandangannya kembali jatuh pada seorang yang bertubuh tinggi dan tegap, dan tengah memakai pakaian pelayan. Senyumnya mengembang, namun ia tak pernah beranjak dari tempatnya berdiri.

Ia bukannya menyukai seorang pelayan—tapi dia memang pleyan!—tapi ia mencintainya. Pelayan yang tengah membereskan sebuah meja itu sebenarnya seorang anak dari keluarga kaya—dan Yoona tak pernah memusingkan soal itu—dan yang dikagumi Yoona adalah keinginan bekerja kerasnya. Membuatnya semakin jatuh cinta pada si pelayan tersebut.

Dengan langkah pasti, ia melangkah memasuki café itu sambil mengedarkan pandangannya. Setelah menemukan tempat duduk yang cocok, seorag pelayan mendatanginya.

“Mau pesan apa, aggashi?”

“Aku ingin strawberry cheesecake, dan segelas teh,” sahut Yoona sopan. Setelah pelayan tersebut menctat pesanannya dan pergi, sudut mata Yoona kembali mencari sosok yang dicintainya. “Huufftt.. entah sampai kapan aku harus seperti ini,”

Ia jelas menyukainya, tapi sayangnya ia takut untu menyatakannya. Ia hanya memandangnya dari jauh, mengamatinya, memperhatikan kesehariannya.

__

“Luna-yah, bolehkah aku minta pendapatmu?” Suzy berkata tiba-tiba di pergantian pelajaran. Luna menoleh bingung.

“Mwo?”

“Jadi begini…”Suzy memulai ceritanya. Segalanya ia ceritakan, dimulai ketika ia diantar pulang oleh sunbaenya itu, lalu di jemput pula keesokan harinya, belum lagi masalah es krim yang pernah dibelikannya. Luna terduduk dan mendengarkan penuh perhatian.

“Mungkin kau menyukainya, Suzy,” kata Luna tiba-tiba ketika Suzy selesai menceritakan kisahnya tentang perasaannya kepada sunbae yang dianggapnya Monster itu beberapa menit kemudian.

“A… apa? Tidak mungkin…”

To Be Continued…

Otteyo?? Tambah gaje kah?? T.T Mian…

Yang sudah baca.. tinggalkan jejaknya yo!! ^o^

26 thoughts on “[CHAPTER] From Radio In Love – Streaming 2

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s