[Chapter 1] True Love

Title : True Love

Author : Shi Arvioryna

Cast in this Chapter :

  • Lee Chaerin (fiction)
  • Woo Sunghyun (Kevin) U-Kiss
  • Kim Kyoungjae (Eli) U-Kiss
  • Lee Sungmin
  • Song Hyeri
  • Park Minna

Rating : G

Genre : Romance, Friendship, Angst

Disclaimer : This story is MINE! Read Yes, Like Yes, Comment Yes! But please No Plagiat! Hargai para author yang bikin FF ya!

Note : Ehm.. Ehm.. Berhubung ini FF pertamaku, jadi maaf banget kalo banyak typo-nya. Trus harap maklum ya kalo ceritanya masih kurang bagus! Happy reading ^^

 ~~~ *** ~~~

Aku duduk termenung menatap langit malam ini. Langit malam yang gelap tanpa kehadiran bulan dan bintang. Langit malam yang tertutup awan mendung – membuat suasana terasa dingin. Begitu dingin sampai menusuk hatiku. Berbagai kenangan terus terlintas di pikiranku. Kenangan saat aku masih bersamanya. Bersama dengan sahabat baikku yang juga merupakan orang yang sangat kucintai. ‘Sunghyun’ itulah namanya.

Tapi semua itu tidak berlangsung lama. Sunghyun memutuskan untuk pindah ke Cheonan – sebuah kota yang sangat jauh dari Seoul. Sejak itulah hubunganku dengan Sunghyun mulai renggang.

Setiap hari aku selalu merindukannya. Aku ingin tau bagaimana kabarnya. Apakah dia baik-baik saja? Hh.. Sayangnya aku tidak bisa menghubunginya. Dia tidak memberi tau nomor telepon atau alamat rumahnya yang baru.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam saat aku tersadar dari lamunanku yang cukup panjang. Aku memutuskan untuk tidur karena besok aku harus sekolah.

Untungnya keesokan paginya aku tidak terlambat bangun. Dan seperti biasa, aku sampai di sekolah jam 8 kurang 10 menit.

“Chaerin-ah, kamu udah ngerjain PR Matematika belum?” tanya Kyoungjae, salah satu teman sekelasku.

“Udah,” jawabku.

“Pinjam dong!” pintanya. Aku mengambil sebuah buku dari dalam tasku dan menyerahkannya pada Kyoungjae.

Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi. Pelajaran pun dimulai. Tapi entah kenapa aku tidak bisa fokus pada pelajaran. Pandangan dan pikiranku hanya terfokus pada satu orang. Kyoungjae.

Sesuatu kembali melintas di pikiranku. Sebuah kenangan saat Kyoungjae memberiku nomor telepon Sunghyun. Ia juga menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkannya.

Saat itu Kyoungjae sedang berlibur ke Cheonan, kampung halamannya. Ia tengah asyik berjalan-jalan di kota yang cukup lama ditinggalkannya itu. Tak taunya ternyata Kyoungjae bertemu dengan Sunghyun. Mereka megobrol sebentar dan saling bertukar nomor telepon. Itulah cerita yang kudengar dari Kyoungjae.

Karena aku sangat merindukan Sunghyun, aku pun segera mengirim pesan padanya dan menanyakan bagaimana kabarnya. Aku sangat senang sekali saat aku menerima balasan darinya. Ternyata dia masih ingat padaku!

Sayangnya semua itu kembali tidak berlangsung lama. Aku memutuskan untuk mengatakan perasaanku padanya. Perasaan cinta yang selama ini aku pendam. Dan aku tak perlu jawaban darinya. Sebab, aku sudah tau jawaban seperti apa yang akan dia berikan.

Dan seperti yang telah aku duga, dia menolakku. Dia juga bilang tidak marah padaku. Aku senang sekali. Apalagi setelah tau dia masih mau berteman denganku. Tapi yang namanya ditolak, tetap saja ditolak. Aku juga merasakan bagaimana sakitnya. Namun, ada sesuatu yang membuatku lebih sakit. Sunghyun mulai menjauhiku. Dia bahkan tidak pernah membalas semua pesanku.

Awalnya hal itu kuanggap wajar. Mungkin saja Sunghyun sedang sibuk. Lama-kelamaan aku penasaran juga. Aku menanyakannya pada Kyoungjae. Aku sangat terkejut saat tau jawaban darinya. Kyoungjae bilang, Sunghyun sudah mengganti nomor teleponnya. Dan hanya Kyoungjae yang tau. Aku merasa sedih dan juga kecewa. Aku tidak menyangka Sunghyun bisa bersikap seperti itu padaku.

Sebuah tepukan halus membuyarkan lamunanku. Hyeri, teman sebangkuku sekaligus sahabat baikku, yang menepuk pundakku barusan. “Ada apa?” tanyaku.

“Melamun ya?” Aku hanya bisa tersenyum dan kembali melanjutkan pelajaran yang tadi kutinggalkan.

***

“Hhh….” Aku menghela nafas panjang. “Tanggal 14 ya,” ujarku kemudian. 14 Februari. Hari yang selalu diperingati oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta. Hari yang selalu identik dengan warna pink dan makanan yang bernama ‘cokelat’. Ya benar. Hari ini adalah hari valentine, atau yang juga sering disebut dengan hari kasih sayang.

Aku menghela nafas lagi. Sepertinya semangatku untuk bersekolah sudah hilang, seiring dengan detik-detik yang telah berlalu. Tapi aku tetap harus berangkat. Yah.. itupun karena aku tidak punya alasan untuk bolos.

Sampai di sekolah, aku dikejutkan oleh sesuatu. Ada setangkai mawar merah dan sebuah cokelat tergeletak di atas mejaku. Ada juga sepucuk surat di sana. Aku lalu membaca surat itu. Ternyata isinya adalah sebuah puisi. Puisi yang sangat indah. “K,” gumamku setelah aku membaca puisi itu. Tak ada nama pengirim. Yang ada hanya sebuah inisial. Dan aku tidak tau siapa pemilik inisial ‘K’ itu.

Tapi hari ini aku sedang tidak ingin membuat kepalaku pusing dengan hal yang tidak jelas seperti ini. Jadi kupendam rasa penasaranku.

“Dari siapa?” tanya Minna, mengagetkanku. Aku menggelengkan kepala. “Tidak tau,” kataku kemudian.

“Jangan-jangan kamu punya secret admirer ya?” Hyeri tersenyum jahil padaku.

“Ngaco kamu!”

“Tapi kan ada buktinya, rin-ah,” ujar Minna yang sekarang juga ikut tersenyum jahil padaku. Aku menatap kedua sahabatku itu dengan tatapan datar. Aku sedang tidak mood untuk bercanda. “Udahlah! Aku malas mengurus hal seperti ini. Siapapun dia, berarti dia adalah seorang pengecut karena tidak berani menunjukkan dirinya di depanku.”

“Benar juga sih.” Hyeri membenarkan ucapanku.

Malam harinya, aku kembali dikejutkan oleh sesuatu. Kyoungjae datang ke rumahku. Dia mengajakku jalan-jalan. Sebenarnya aku ingin menolak. Tapi kalau aku tolak, aku pasti sendirian. Minna dan Hyeri pasti sedang ber-‘valentine’ ria dengan pacar mereka. Kakakku tercinta juga sedang pergi entah kemana. Jadi aku terpaksa menerima ajakan Kyoungjae.

Kyoungjae membawaku ke sebuah cafe yang terkenal dengan kelezatan es krimnya. “Kamu sering kesini kan?” tanyanya saat kami akan duduk.

Aku hanya bisa tersenyum. Yah.. Aku akui. Aku memang sering kemari. Kadang bersama kakakku, Minna dan Hyeri. Dulu aku juga sering kemari bersama Sunghyun. Tempat ini pun aku mengetahuinya dari Sunghyun. Dia memberitauku kalau ada cafe es krim yang sangat enak. Aku yang suka sekali dengan makanan yang bernama ‘es krim’, langsung tertarik. Sunghyun mengajakku ke tempat ini dan membuktikan kelezatannya.

“Aku tinggal sebentar ya,” pamit Kyoungjae. Aku mengangguk pelan. Kyoungjae lalu pergi meninggalkanku. Dan beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa 2 gelas es krim di tangannya. Salah satunya diberikan padaku.

Suasana menjadi hening. Tak ada suara yang keluar dari mulutku ataupun dari mulutnya. Sebenarnya aku tidak betah kalau hanya diam seperti ini. Tapi aku bingung harus bicara apa. Untungnya di saat-saat genting, Kyoungjae segera membuka mulutnya. Bukan untuk makan, melainkan untuk bicara. “Caherin-ah, sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini sama kamu.”

Kembali suasana hening. Akhirnya aku pun mengeluarkan suaraku. “Mengatakan apa?” tanyaku dengan halus.

Kyoungjae mengatur nafasnya. Ia berusaha menenangkan diri. “Aku suka kamu,” ujarnya kemudian. Tiga kata yang membuatku kaget. Benar-benar membuatku kaget. tapi belum sampai kekagetanku hilang, Ia berkata lagi,”Kamu mau jadi pacarku?”

Aku bingung. Memang akhir-akhir ini aku dekat dengan Kyoungjae. Setiap hari kami pasti saling mengirim pesan. Membicarakan hal yang penting sampai yang tidak penting. Dan aku senang bersahabat dengannya. Aku merasa senang diperhatikan olehnya. Tapi aku tidak tau bagaimana perasaanku pada Kyoungjae. Apakah aku menyukainya atau tidak?

Aku menarik nafas dalam-dalam. Sekarang aku sudah memutuskan jawaban apa yang akan aku berikan pada Kyoungjae. “Maaf, aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Yah… Itu masalah hati.”

Sejak hari itu hubunganku dengan Kyoungjae mulai renggang. Aku jadi sering memikirkan dia. Bayang-bayang wajahnya tidak pernah lepas dari ingatanku.

“Jangan-jangan kamu menyukai Kyoungjae?” Aku teringat kata-kata Hyeri saat aku menceritakan masalahku ini. Apa mungkin yang dikatakan Hyeri benar? Tapi semakin aku pikirkan, aku menyadari satu hal. Kyoungjae adalah sahabatku. Selamanya dia adalah sahabatku. Aku tidak pernah menyukainya lebih dari itu. Aku hanya merasa kehilangan, karena orang yang setiap hari bercanda denganku kini menjauh.

Kembali aku melihat langit malam yang malam ini dipenuhi bintang-bintang. Aku menemukan sosok Sunghyun disana, sedang tersenyum padaku. Rasa rinduku seakan terobati. Tapi perasaan cintaku semakin bertambah. Perlahan-lahan kuteteskan air mataku, menangisi semua hal yang telah terjadi. Kenapa jadi seperti ini? Aku tidak ingin dicintai oleh sahabat dari orang yang aku cintai. Aku juga bahkan tidak pernah berharap Sunghyun mencintaiku. Kenapa mereka begitu egois?

“Rin-ah,” panggil ibuku dari luar kamar.

“Ne, eomma. Ada apa?”

“Hyeri dan Minna ada disini. Mereka ingin menemuimu. Cepat sana keluar!”

“Ne.” Aku lalu beranjak dari tempat dudukku dan berjalan keluar kamar. Kulihat keluargaku sedang asyik menonton TV. Tapi tidak kutemukan Sungmin, oppaku, di sana. Kemana ya dia?

Aku berjalan keluar rumah. Disana Hyeri dan Minna sedang menungguku. Aku memperhatikan mereka satu-persatu. Hyeri terlihat cantik mengenakan gaun berwarna kuning. Warna yang menurutku melambangkan keceriaan, sama seperti Hyeri yang selalu ceria. Jarang sekali kulihat dia bersedih, apalagi menangis. Senyumnya tak pernah habis diberikan kepada semua orang. Sementara Minna.. Minna juga tak kalah cantik. Dia mengenakan gaun ungu, warna yang melambangkan keanggunan. Cocok sekali untuk Minna sebab Minna adalah gadis yang anggun dan feminim. Sayangnya sifatnya yang manja tak bisa hilang. Walaupun begitu, dia sangat baik.

Hyeri dan Minna masing-masing memiliki kelebihan. Sedangkan aku? Aku hanya seorang gadis biasa yang tidak punya kelebihan apa pun. Hufh…

“Kamu belum siap-siap Rin-ah?” tanya Minna saat melihatku.

Aku mengerutkan kening tanda bingung. “Siap-siap? Memang kita mau kemana?” Aku balik bertanya.

“Kamu lupa? Kita kan mau ke proomnite. Acaranya dimulai jam 7 lho.” Hyeri mengingatkanku. Kulirik jam di ruang tamu. Pukul 6. Masih ada 1 jam sebelum acaranya dimulai. Dan aku punya banyak waktu untuk ‘berdandan’. Tapi entah kenapa aku tidak berselera ikut pesta itu. Aku ingin di rumah, memandang bintang-bintang malam ini yang sangat bersemangat menampakkan dirinya. Atau aku bisa menulis cerita yang tak kalah indah dengan gemerlapnya bintang. Hobiku memang menulis. Dan sepertinya aku akan mendapatkan banyak inspirasi malam ini. “Aku nggak ikut,” kataku akhirnya.

“Kenapa? Kan asyik…”

“Males. Pengen di rumah aja.”

“Nggak bisa! Kamu harus ikut!” Hyeri ngotot. “Kami udah bela-belain nggak pergi bareng boyfriend kami. Hargai pengorbanan kami dong!”

“Sekali nggak, tetep nggak!” Sifat keras kepalaku keluar juga. Kalau sudah begini, tak ada yang bisa merubah keputusanku. Aku tetap ingin di rumah. Titik.

“Maaf Rin-ah. Terpaksa kami harus melakukan ini,” ujar Minna. Sebenarnya aku bingung dengan maksud ucapannya. Tapi belum hilang rasa bingungku, tiba-tiba Hyeri dan Minna menyergapku dan membawaku ke dalam kamar. Awalnya aku berontak. Namun tenagaku tidak cukup kuat untuk melawan 2 orang. Yah, walaupun semuanya wanita. Akhirnya aku menyerah. Aku pasrah dengan apa yang akan mereka lakukan padaku.

Di dalam kamar, aku didandani habis-habisan oleh mereka. Bukannya aku tidak bisa dandan sendiri (aku bisa kok!), tapi jika kulakukan itu, pasti memakan waktu lama. Jadi Hyeri dan Minna membantuku.

Setengah jam berlalu. Aku telah selesai ‘berdandan’. Kutatap sosok seseorang di cermin. Seorang gadis manis yang terlihat cantik mengenakan gaun panjang berwarna biru. Rambutnya yang panjang dibiarkannya terurai di belakang. Senyumnya melambangkan ketulusan. Tapi sorot matanya memperlihatkan kesedihan. Aku sempat bertanya, siapa gadis ini? Tapi setelah kuperhatikan dengan baik, gadis itu adalah aku. Ternyata gadis itu telah kembali, setelah lama ia menghilang. Lebih tepatnya sejak Sunghyun pergi. Sunghyun adalah semangatku. Kepindahannya 1 tahun yang lalu telah membawa luka di hatiku. Aku berharap luka itu akan sembuh.

Aku tersenyum penuh semangat. Kumulai tekad yang baru, hidup yang baru dan semangat yang baru pula ^_^

“Ramai sekali ya,” kataku ketika aku, Hyeri dan Minna memasuki aula sekolah, tempat dimana acara proomnite berlangsung. Hampir seluruh siswa di sekolahku datang ke acara ini. Bahkan bisa dibilang semuanya.

“Jelas ramai dong Rin. Namanya juga proomnite,” ujar Hyeri dan Minna kompak. Aku manggut-manggut. Kutatap orang-orang di dalam aula. Semua terlihat gembira. Dan aku disini bingung. Apa yang harus kulakukan? Aku baru kali ini ikut acara proomnite. Sebenarnya acara ini rutin diadakan setiap tahun. Dan semua siswa boleh mengikutinya. Tapi pada proomnite pertamaku di sekolah ini, aku tidak bisa ikut. Saat itu aku sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

“Ayo Rin!” Minna menarik tanganku dan membawaku ke tengah aula. Aku bertemu dengan teman-teman sekelasku. Kami hanya bertegur sapa. Setelah itu, kulihat mereka kembali menikmati pestanya.

Awalnya aku menikmati pesta ini bersama Hyeri dan Minna. Namun saat acara dansa berlangsung, aku kembali sendiri. Kedua sahabatku itu sedang asyik berdansa dengan Donghae dan Siwon, pacar mereka.

Aku berjalan menuju taman sekolah. Disana aku duduk di sebuah kursi. Kutatap bintang-bintang di langit yang masih sama seperti saat aku melihatnya tadi. Sekelebat kenangan muncul di pikiranku. Ya, Sunghyun lah kenangan itu. Walaupun 1 tahun telah berlalu, entah kenapa bayangan Sunghyun selalu hadir dalam pikiranku. Bahkan dia juga sering datang dalam mimpiku. Benar kata orang, cinta pertama memang sulit dilupakan. Dan Sunghyun adalah cinta pertamaku. First love ku…

Aku ingin sekali meneteskan air mataku agar semua kesedihanku hilang. Tapi aku tak mau lagi angin malam melihatku bersedih. Aku juga tak mau bintang-bintang menghiburku untuk yang kesekian kalinya. Ingin sekali kuakhiri penantianku ini. Sayangnya aku belum bisa melakukan itu. Ada satu hal yang terus mengganjal pikiranku. Membuatku sering tidak bisa tidur. Aku ingin berteman lagi dengan Sunghyun. Aku ingin Sunghyun melupakan semua hal yang telah terjadi dan memulai kembali persahabatan denganku.

Jujur aku akui. Perasaan cintaku pada Sunghyun sangat kuat. Tapi aku rela melupakan perasaanku itu, asalkan Sunghyun mau berteman denganku. Aku ingin kembali bersahabat dengan Sunghyun dan Kyoungjae tanpa hadirnya cinta. Namun, dua sahabtku kini menjauh. Aku merasa sangat kehilangan.

Di tengah lamunanku, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang. Jelas sekali itu adalah suara permepuan dan laki-laki. Karena penasaran, aku mencari asal suara itu. Di balik pohon tak jauh dari tempatku duduk, aku melihat sepasang laki-laki dan perempuan sedang berbicara. Sepertinya terjadi pertengkaran mulut di antara mereka. Itu terlihat dari perilaku si laki-laki yang berusaha menenangkan si perempuan. Dan bukan nermaksud menguping, aku mendengar perkataan mereka.

“Yuri-ah dengarkan aku dulu! Aku sayang sekali sama kamu. Kamu harus percaya,” Si laki-laki berusaha meyakinkan si perempuan yang merupakan kekasihnya itu. Rayuan gombal, pikirku.

“Percaya?? Kamu tau, kamu sudah menghianati kepercayaanku. Dan aku nggak bisa lagi percaya sama kamu. Aku tetap ingin putus.” Si perempuan tetap bersikukuh pada keputusannya.

“Please Yuri-ah… Jangan putus dari aku!”

“Nggak bisa!”Perempuan yang mungkin bernama Yuri itu pun  pergi. Meninggalkan si laki-laki sendirian di sana. Aku kasihan pada laki-laki itu. Aku yakin dia pasti sedang sedih. Aku memutuskan untuk menghiburnya. Tapi sebelum rencanaku itu kulakukan, laki-laki itu melihatku dan menemukanku yang sedang bersembunyi di balik pohon.

Laki-laki itu perlahan mendekatiku. Jantung berdegup kencang. Aku bingung. Apa tidak tau apa yang akan dilakukannya. Apalagi saat laki-laki itu semakin dekat sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Laki-laki itu bertubuh tinggi dan berkulit putih. Wajahnya lucu… Sekilas dia mirip dengan Sunghyun. Tapi semakin diperhatina, ternyata jauh berbeda. Laki-laki itu lebih… manis >_<

“Dasar tukang nguping!” katanya saat ia sampai di depanku. Hatiku mulai panas. Tapi kucoba untuk menahannya. Aku tidak ingin ada pertengkaran. “Tukang nguping? Siapa maksud kamu?” ujarku berlagak tak tau. Padalah aku tau pasti yang dimaksud adalah aku.

“Kamu tuh bodoh atau pura-pura bodoh sih? Jelas kamu lah yang aku maksud.” Laki-laki itu berkata dengan sedikit kasar.

Aku tidak bisa lagi menahan amarahku. Kutatap tajam mata laki-laki itu.”Buat apa aku menguping! Nggak ada untungnya buatku.”

“Terserah! Itu kan urusan kamu. Bukan urusanku.” Setelah mengatakan itu, dia pergi.

“Urrgghh…! Dasar laki-laki aneh! Abnormal!” keluhku. Aku benar-benar kesal dengan laki-laki itu. Aku menyesal sempat merasa kasihan padanya. Apalagi aku juga sempat merasa kagum. Orang itu memang manis. Sayangnya sifatnya tak semanis wajahnya.

***

To be Continued

Gimana ceritanya? Bagus kah? Atau jelek kah? Oya, FF ini juga aku publish di blog pribadiku. Jangan lupa comment-nya ditunggu ya!! :)

13 thoughts on “[Chapter 1] True Love

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s