[Part 1] Forever with You

Title : Forever with You

Author : Shi Arvioryna

Main Cast :

  • Kim Minja (fiction)
  • Lee Hongki FT Island
  • Choi Jonghun FT Island

Rating : G

Genre : Romance, Friendship, Angst

Disclaim : This story is MINE! Read Yes, Like Yes, Comment Yes! But please No Plagiat! Hargai para author yang bikin FF ya!

Ps : FF ini pernah aku publish di blog pribadiku. tapi maklum ya kalau ceritanya agak aneh! Masih baru di dunia per-FF-an sih! Hehe… Happy reading ^^

¤MINJA POV¤

Aku menyisir rambutku dengan terburu-buru. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.40. Itu berarti 20 menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Aisshh… Kenapa aku bisa bangun kesiangan? Aku juga baru ingat kalau hari ini ada ulangan matematika. Dan aku belum belajar sama sekali. Dasar Kim Minja bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Aku memukul kepalaku sendiri. Sakit sih. Tapi itu memang pantas kuterima. Tiba-tiba ada seseorang yang menggedor pintu kamarku.

“Minja-ah.. ppali! Kita bisa terlambat!” teriak seorang namja dari balik pintu. Aku tau persis pemilik suara ini. Siapa lagi kalau bukan Hongki?! Dia selalu seperti itu, tidak sabaran.

“Ne, sebentar lagi,” teriakku dari dalam kamar. Kali ini aku sedang memakai kaos kaki. Tapi mana sepatuku? Aku mencarinya di seluruh sudut kamar.

“Ppali.. Ppali..!!” teriaknya lagi masih sambil menggedor pintu kamarku.

Aish.. Apa dia tidak bisa diam? Suaranya membuatku pusing. Dasar namja cerewet!

Akhirnya aku menemukan sepatuku di bawah meja. Langsung saja aku memakainya dan buru-buru keluar kamar. Saat kubuka pintu kamar, aku melihat wajah Hongki yang sudah berubah menyeramkan. Aku memasang tampang memelas agar dia mengasihaniku. Habis.. Wajahnya sudah seperti mau memakanku saja. Seerreeeemm!! >_<

“Kajja!” Ia menarik tanganku keras. Pegangan tangannya kuat sekali.

“Yak, Hongki! Lepaskan! Sakit!” pintaku. Tapi seolah tidak punya telinga, ia tidak merespon perkataanku. Cih! Sepertinya lain kali aku harus menggunakan speaker saat bicara dengannya.

Hongki menarikku sampai keluar rumah. “Eomma, aku berangkat dulu!” Aku terpaksa hanya berteriak saat berpamitan dengan eomma-ku. Sedangkan Jonghun yang sedari tadi tenang menunggu kami di ruang tamu, hanya bisa geleng-geleng kepala. Mungkin baginya pemandangan seperti ini sudah biasa ia lihat. Aku dan Hongki memang sering bertengkar. Orang itu selalu saja mengataiku bodoh. Apa dia tidak sadar kalau dirinya juga bodoh?? Hufh..

***

¤JONGHUN POV¤

“Yak, Hongki! Lepaskan! Sakit!” Aku mendengar suara seorang yeoja dari lantai atas. Biar kutebak! Itu pasti suara Minja. Aku sekarang memang berada di rumah Minja, sahabatku. Seperti biasa, aku dan Hongki menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama. Dan seperti biasa pula, gadis itu bangun kesiangan. Dan tak kalah biasa, Hongki selalu marah-marah bila tau kebiasaan buruk Minja ini kambuh. Yang luar biasa, mereka selalu bertengkar karena masalah kecil ini.

Seperti hari ini, saat Hongki tau kalau Minja bangun kesiangan untuk yang kesekian kalinya, ia langsung naik ke lantai atas. Lebih tepatnya ke kamar Minja. Aku, Hongki dan Minja sudah berteman sejak kecil. Jadi keluarga Minja sudah terbiasa denganku dan Hongki. Begitu juga sebaliknya.

“Eomma, aku berangkat dulu!” teriak Minja ketika gadis itu melewatiku. Pasti mereka bertengkar lagi karena kulihat Hongki menarik tangan Minja. Mereka berjalan keluar rumah. Aku berpamitan pada ibu Minja dan segera menyusul mereka.

Sampai di luar, kulihat Hongki sudah melepaskan tangan Minja. “Apa-apaan sih kau ini!” teriak Minja pada Hongki.

“Kau ini yang apa-apaan! Kau ingin membuatku terlambat sekolah ya?!” bentak Hongki.

“Siapa suruh menjemputku?” Minja tak mau kalah.

“Bukannya berterima kasih sudah aku jemput, kau malah marah-marah padaku! Baiklah.. Aku tak akan menjemputmu lagi, TUKANG TIDUR!” Hongki memberi penekanan pada kata ‘Tukang Tidur’ untuk menyindir Minja.

“Tak ada kau juga tak masalah. Masih ada Jonghun yang menjemputku!” Minja menjulurkan lidahny ke arah Hongki.

Hah? Ada apa dengan mereka? Kenapa namaku disebut-sebut? Ck.. Mereka seperti anak kecil saja! Kulihat mereka, Hongki dan Minja saling diam. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mereka. Tuh kan, mereka memang seperti anak kecil! Tadi teriak-teriak, sekarang malah diem-dieman.

Sepanjang perjalanan yang kami lakukan hanya diam. Aku sendiri sedang menikmati suasana pagi yang sangat cerah ini. Aku romantis kan? Haha..

Aku tak peduli dengan kedua sahabatku yang berjalan di depanku ini. Masih tak ada yang bicara. Bahkan sampai di sekolahpun, tetapnya.

“Aku masuk dulu ya,” kataku akhirnya memecah keheningan pagi. Aku kini berdiri di depan kelasku dan bersiap untuk masuk.

“Ne, Jonghun. Sampai bertemu nanti,” balas Minja. Sedangkan Hongki hanya berlalu tanpa membalas ucapanku.

Aku, Minja dan Hongki memang tidak berada di kelas yang sama. Tapi itu tidak mengurangi rasa persahabatan di antara kami. Karena walaupun kami tidak sekelas, kelas kami bersebelahan. Aku di kelas 3-2, Hongki di kelas 3-3, dan Minja di kelas 3-4. Jadi wajar kalau kami masih sering bertemu.

Aku tersenyum pada lalu masuk ke dalam kelas. Keadaan kelas sudah penuh. Hanya ada beberapa kursi yang masih kosong. Aku berjalan ke kersi paling belakang dan berada tepat di samping jendela. Selain untuk mencari kesegaran saat aku jenuh, aku juga dapat melihat gadis itu dari sini.

***

¤HONGKI POV¤

“Hhh…” Aku menghela nafas panjang. Saat ini aku sedang mengikuti pelajaran di dalam kelas. Tapi entah kenapa otakku tak mau konsentrasi. Aku jadi ingat pertengkaranku dengan Minja pagi ini. Cih! Lagi-lagi aku bertengkar dengannya. Kenapa sih aku tidak bisa sehari saja tidak bertengkar dengannya?! Aish.. Tapi gadis itu memang menyebalkan. Apa kebiasaan bangun siangnnya tidak bisa dihilangkah hah? Aku dan Jonghun sering terlambat hanya karena kebiasaannya itu. Bisa saja sih kami tidak menjemputnya. Namun karena kami sudah bersahabat sejak kecil dan karena kebetulan rumah kami bertengga, rasanya tidak tega untuk tidak menjemputnya. Aku jadi berpikir, bagaimana jadinya dia jika aku dan Jonghun tidak menjemputnya? Bisa-bisa dia sering bolos sekolah. Aigoo ~

Aku melirik keluar jendela. Kulihat sekumpulan siswa berada di lapangan dengan memakai seragam olahraga. Tapi tunggu dulu! Bukankah itu Minja? Aku memperhatikan seorang gadis yang tengah bercanda dengan teman-temannya. Ia memiliki rambut sedagu dan wajahnya.. cantik.

Aku semakin yakin dengan penglihatanku. Iya, benar! Itu Kim Minja! Kenapa mereka bisa ada di lapangan saat ini? Dan kenapa juga memakai seragam olahraga? Setauku, siswa kelas 3, seperti aku, Minja dan Jonghun tidak ada olahraga di lapangan. Apalagi ujian sudah dekat. Para guru menyuruh kami untuk konsentrasi belajar.

Minja dan teman-temannya mulai berlari mengelilingi lapangan. Dan kulihat Gaeun Songsaengnim berlari mengikuti siswanya. Ah iya! Aku baru ingat! Guru itu memang aneh. Bila guru lain menyuruh kami untuk konsentrasi pada ujian serta tidak membiarkan kami kelelahan, tapi Gaeun-ssi justru menyuruh kami untuk berolahraga. “Apa kalian tidak bosan belajar? Ayo kita menyegarkan pikiran dengan olahraga,” begitu katanya. Pada akhirnya, olahraga lapangan tetap ada, walaupun hanya dilaksanakan setiap 2 atau 3 minggu sekali. Aku tau karena Gaeun-ssi juga adalah guru olahraga di kelasku.

Aku memperhatikan dengan yeoja yang kini terlihat kelelahan itu. Siapa lagi kalau bukan Minja? Sepertinya dia baru berlari mengelilingi lapangan dua kali. Tapi wajahnya sudah seperti orang mau pingsan. Ckck.. Dia memang tak pernah becus melakukan sesuatu. Sepertinya keahliannya hanya tidur. Haha..

Minja adalah gadis aneh yg membuat perasaanku ikut menjadi aneh. Kuakui, aku merasa nyaman bila bersamanya. Walaupun kami sering bertengkar, tapi aku tidak bisa membencinya. Aku juga tidak bisa marah lama-lama padanya. Dan entah sejak kapan perasaanku padanya mulai berubah. Aku tidak bisa lagi menganggapnya sebagai sahabat. Aku menginginkan lebih dari itu.

***

¤AUTHOR POV¤

Seorang namja terlihat sedang berdiri di depan kelas. Ia memperhatikan seorang yeoja yang masih sibuk menulis di dalam kelas. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Pantas saja suasana sekolah sepi. Para penghuninya pasti sudah berada di rumah masing-masing. Kalau bukan karena ada tambahan pelajaran, kedua orang itu pasti juga sudah berada di rumah. Hem.. Maklumlah. Mereka berada di tahun terakhir mereka di SMA. Jadi pasti sibuk dengan berbagai tambahan pelajaran.

“Minja-ah.. Apa masih lama?” tanya namja itu yang kini bersandar pada dinding. Ia tidak sabar menunggu kegiatan yeoja yang ditunggunya itu.

“Sebentar lagi Jonghun,” jawab Minja. Ia semakin mempercepat kegiatan menulisnya.

Jonghun menatap lekat-lekat wajah Minja. Cantik. Wajah Jonghun sedikit memerah. Ia teringat tadi pagi ia melihat Minja berolahraga. Ia tau Minja memang paling payah untuk urusan yang satu itu. Tapi entahlah, gadis itu berhasil menarik perhatian Jonghun. Menurutnya, Minja terlihat semakin cantik saat olahraga. Setidaknya itu menurut Jonghun.

Jonghun bersiap untuk menghampiri Minja, ketika tiba-tiba ada seseorang yang merangkul bahunya. Tentu saja hal itu membuatnya kaget. Ia menoleh dan mendapati seorang namja yang berdiri tepat di sampingnya sedang memamerkan giginya yang rapi pada Jonghun.

“Ya! Kau tidak bisa tidak mengagetkan orang lain hah?!” kata Jonghun setengah berteriak.

Akhirnya Minja selesai juga mencatat. Ia memasukkan buku-bukunya secara asal ke dalam tas dan bergegas menyusul Hongki dan Jonghun yang sedari tadi menunggunya. “Kajja!” ajaknya sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya itu lalu berjalan pulang. Namun belum sampai mereka keluar dari gerbang sekolah, tiba-tiba Minja merasakan sakit pada kepalanya. “Ah.. Kepalaku sakit!” ujarnya menahan sakit. Ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut.

Sontak saja Jonghun dan Hongki khawatir. “Gwencana?” tanya mereka kompak.

Tak berapa lama kemudian, sakit yang dirasakan Minja mulai hilang. “Ne. Gwencana. Udah gak sakit lagi kok,” katanya menenangkan.

“Kau yakin?” tanya Jonghun yang diikuti anggukan kepala oleh Minja. Mereka kini melanjutkan perjalan pulang mereka.

***

Tak terasa 3 bulan telah berlalu. Ujian pun sudah selesai dilaksanakan. Dan kini waktunya untuk bebas. Tapi tunggu dulu. Masih ada seorang yeoja yang sedang sibuk berkutat dengan bukunya. Apa yang dilakukannya? Apa dia sedang belajar? Wajahnya terlihat sangat serius.

Usut punya usut, ternyata yeoja itu sedang tidak belajar, karena ia memang tidak suka belajar. Yang dilakukannya adalah menggambar. Itu adalah kegiatan favoritnya. Dan hasilnya pun tidak jelek. Bahkan bisa dibilang sangat bagus.

Ia sesekali menerawang, menyelami imajinasinya. Dengan lincah tangannya memainkan pensil yang dipengangnya sehingga menghasilkan sebuah bentuk yang indah pada buku di hadapannya. Namun tiba-tiba ia menjatuhkan pensil dan bukunya. Ia ganti memegang kepalanya yang saat ini terasa begitu sakit. Belakangan, sakit kepalanya ini memang sering melandanya. Padahal ia sudah minum obat sakit kepala. Tapi seolah tak mempan, sakitnya justru semakin menjadi-jadi.

“Aduh…” rintihnya. Ia berusaha untuk bertahan. Ia memegangi kepalanya sekuat mungkin. Tapi rasa sakitnya tak kunjung hilang. “Eomma…” panggilnya. “Eomma…” panggilnya lagi dengan suara lebih keras.

Dari luar kamar, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Dan tak lama kemudian, pintu kamar telah terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di sana, di ambang pintu. “Minja, ada apa?” tanya wanita yang merupakan ibu Minja, khawatir.

Wajah Minja memucat. Ia menatap lemah ibunya, yang terlihat semakin khawatir melihat keadaan putrinya. “Kepalaku sakit lagi, eomma! Sakit sekali!” keluhnya.

Ibu Minja mendekat ke arah Minja. Ia mencoba memahami apa yang dirasakan oleh putrinya. “Kita ke rumah sakit ya sayang? Biar dokter memeriksa kamu,” bujuknya.

Minja mengangguk dengan lemah.

***

¤MINJA POV¤

“Dengan berat hati saya katakan bahwa putri anda menderita kanker otak. Dan kanker ini sudah mulai menyebar ke tulang belakangnya.”  Perkataan dokter itu masih jelas di ingatanku. Apalagi saat dokter itu mengatakan bahwa sulit bagiku untuk sembuh dari kanker ini. Ia memperkirakan aku hanya mampu bertahan hidup tidak lebih dari 2 tahun.

Seperti sebuah bom, semua perkataan dokter itu telah menghancurkan duniaku dan keluargaku. Eomma langsung menangis dan memelukku dengan sangat erat. Appa dan adikku juga menangis dan memelukku bergantian. Mereka tidak pernah membayangkan kalau aku akan menderita penyakit seperti ini.

Sedangkan aku sendiri hanya diam. Sejak pulang dari rumah sakit, aku belum mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahku kelu. Aku shock! Pikiranku berkecamuk dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi padaku. Apa aku bisa sembuh? Apa aku memang harus mati?

Tak terasa bulir-bulir air mata mulai membasahi pipiku. Aku menangis, tangisan yang sedari tadi ingin kukeluarkan. Tangisan yang sedari tadi pula aku tahan karena aku tak ingin membuat keluargaku semakin bersedih. Ya Tuhan, apa salahku? Kenapa kau berikan penyakit ini padaku? Aku ingin sembuh Tuhan. Aku ingin kembali ke kehidupanku yang dulu. Bercanda bersama ayah, ibu, adik, Hongki, Jonghun…

Aku tersentak saat menyebutkan nama kedua sahabatku. Bagaimana dengan Hongki dan Jonghun? Mereka pasti akan sedih dan khawatir bila mengetahui penyakit yang kuderita ini. Tidak! Mereka tidak boleh tau. Aku tak mau melihat orang-orang di sekelilingku sedih. Aku harus melarang keluargaku menceritakannya pada orang lain.

Aku menghela nafas panjang. Kuedarkan pandanganku ke seluruh sudut kamar. Terlalu banyak kenangan di kamarku ini. Dari mulai aku sedih, senang, marah, kecewa. Semua pernah aku tumpahkan disini. Air mataku semakin deras mengalir. “Tuhan, aku benar-benar ingin sembuh,” isakku dalam tangisku.

***

Aku menyisir rambutku dengan bersemangat. Kupandangi lekat-lekat pantulan wajahku di cermin. Hmm.. Cantik juga. Kusunggingkan sebuah senyum di bibirku yang semakin meningkatkan pesonaku. Haha.. aku memang narsis berat! ^_^

Hari ini adalah hari wisudaku. Dan aku harus terlihat paling bersemangat. Sejak kejadian dua hari yang lalu tepatnya saat dokter memvoniskuy dengan penyakit yang menurut mereka sangat mematikan ini, aku bertekad kalau aku tak boleh menangis. Hidup ini adalah anugrah terindah dari Tuhan. Jadi aku harus menjalaninya dengan sebaik mungkin. Apapun yang terjadi, aku harus tersenyum. Ya, aku pasti bisa! Hwaiting!

“Minja-ah..” panggil seseorang dari arah luar. Itu pasti suara Hongki, tebakku.

“Ne, chakkaman,” teriakku. Semoga dia mendengar suaraku. Maklum saja, aku berada di kamarku yang ada di lantai dua. Sementara mereka ada di bawah.

Setelah selesai bersiap-siap, aku segera turun menghampiri mereka Hongki. Eh, ternyata ada Jonghun juga. Aku tidak tau kalau Jonghun juga menjemputku. Aku tadi hanya mendengar suara Hongki. Dan wow… penampilan mereka keren sekali. Mereka sama-sama memakai setelan jas hitam. Tanpa dasi tentunya. Dan rambut mereka itu… Omo ~ style terbaru. Mereka terlihan makin keren saja. Aku yakin teman-temanku yang perempuan pada mimisan melihat mereka.

“Kau cantik sekali Minja,” puji Jonghun ketika melihatku. Mwo? Dia bilang apa? Aku cantik? Apa aku tidak salah dengar?

Aku memandangi penampilanku. Saat ini aku hanya mengenakan dress selutut warna putih. Dan aku juga hanya memakai sepatu tanpa hak, karena aku memang tidak suka dengan sepatu jenis itu. Riasan wajahku pun sederhana. Aku memang tidak suka berdandan. “Apa matamu sakit Jonghun-ah?” Aku menatap Jonghun dengan tatapan bingung.

Orang yang kupandangi hanya tersenyum padaku. Aku semakin bingung dengannya. Aku melirik ke arah Hongki – meminta penjelasan darinya. Mungkin saja dia tau. Tapi percuma. Hongki menatapku dengan ekspresi datar. Ada apa dengan mereka hari ini? Aneh sekali.

Tiba-tiba Jonghun menarik tanganku. “Kajja!” ujarnya sambil menarik lengan Hongki.

“Hoammm….” Aku  mengantuk sekali. Bosan memang jika hanya mendengar orang ceramah. Hampir 2 jam aku di sini – di aula sekolah. Dan yang kulakukan hanya duduk, mendengarkan, tepuk tangan, dan bosaaaann. Tapi untungnya acara ‘ceramah’ itu sudah selesai. Aku senang! Kurasa teman-temanku juga pasti senang. Saatnya acara ‘perpisahan’ yang sebenarnya dimulai. It’s party time! ^_^

Aku berjalan mengelilingi sekolah. Mana Hongki dan Jonghun? Aku tidak melihatnya dari tadi. Saat acara wisuda tadi, aku duduk terpisah dengan mereka. Jadi aku belum bertemu lagi dengan dengan mereka.

Samar-samar aku seperti melihat Jonghun dan Hongki. Aku mendekat ke arah mereka untuk memastikannya. Benar, itu Jonghun dan Hongki. Aku baru saja akan memanggil mereka ketika tiba-tiba aku melihat Dujun-ssi – salah satu guruku berdiri di depan mereka. Akummengurungkan niatku itu dan hanya memperhatikan mereka dari kejauhan.

Aku melihat Dujun-ssi memberikan dua buah amplop yang masing-masing untuk Jonghun dan Hongki. Ekspresi kedua sahabatku itu langsung berubah senang ketika membaca kertas yang ada di dalam amplop itu. Kemudian Dujun-ssi menjabat tangan mereka senang.

Ah.. Dujun-ssi pasti sedang memberi tau kalau Jonghun dan Hongki diterima diCambridge University, salah satu universitas terkenal di Amerika Serikat. Aku tau hal ini karena tadi aku juga sempat bertemu dengan Dujun-ssi. Ia memberi tau hasil dari seleksi masuk di universitas tersebut. dan hasilnya, seperti yang sudah aku perkirakan, aku ditolak. Sementara Jonghun dan Hongki diterima.

“Ah…” Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali. Sial.. Kenapa penyakitku harus kambuh di saat seperti ini! Aku merogoh tas selempang yang sejak tadi kusandang. Aduh, dimana sih obatku? Aku menggeledah seluruh isinya. Dan.. ini dia. Aku menemukan sebuah botol kecil yang di dalamnya berisi puluhan tablet obat. Aku mengambil satu dan segera meminumya. Setelah merasa agak baikan, aku pergi mencari ketenangan. Dimana ya tempat yang sepi? Aku benar-benar butuh suasana tenang sekarang!

Coba tebak dimana aku sekarang? Aku ada di dekat lapangan sepak bola. Keren kan? Aku sudah mencari ke seluruh penjuru sekolah, dan hanya tempat inilah yang paling sepi. Sakit kepala juga sudah mulai berkurang, jadi aku bisa tenang sekarang.

Ddrrtt.. ddrrtt.. Ponselku bergetar. Ada satu pesan masuk.

From: Hongki

Kau dimana?

Kugeletakkan ponselku di sampingku. Rasanya malas sekali membalas pesan darinya. Aku sedang ingin sendiri. Tapi belum ada 5 menit, ada seseorang yang datang. “Ya, Kim Minja! Kenapa kau tidak balas sms ku? Kau tau, aku sudah berkeliling sekolah mencarimu,” ujar Hongki yang tanpa basa-basi langsung memarahiku. Aku mendelik ke arah Hongki. Apa-apaan sih dia ini? Apa dia tidak punya hobi lain selain memarahiku?

“Berisik!”

“Kau bilang apa? Aku berisik?” Sepertinya namja itu sudah naik darah. Tapi aku tidak akan kalah.

“Ne. Waeyo?” ujarku tegas. “Memang kenyataannya seperti itu kan?”

“Cih! Kau ini…”

“”Sudah.. Sudah..! Jangan bertengkar lagi. Aku bosan melihat kalian bertengkar setiap hari,” kata Jonghun menengahi. Namja yang sekarang ini berdiri di samping Hongki memang hampir setiap hari melihat pertengkaranku dengan bocah sialan itu. Cih! Memalukan sekali! Seoarang gadis yang baru resmi lulus dari SMA masih sering bertengkar dengan sahabatnya tanpa alasan jelas!

Jonghun tersenyum ke arahku. Omo ~ manisnya! Aku bangga punya sahabat sekeren Jonghun ^_^

“Kau sedang apa di sini?” tanya Jonghun lembut. Aish.. Bagaimana bisa dia memiliki sifat yang berbeda 180 derajat dengan Hongki?!

“Tidak ada. Aku hanya ingin sendiri. Kenapa kalian kesini? Bukankah pesta perpisahannya belum selesai?”

Tidak ada jawaban dari mereka. Mereka malah memposisikan diri duduk di sebelahku. “Kalian tidak ingin memberitauku sesuatu?” tanyaku lagi. Aku menatap mereka bergantian.

“A.. Apa maksudmu?” Jonghun balik bertanya dengan gugup. Dia melemparkan pandangannya pada Hongki. Dan Hongki membalas dengan tatapan yang tidak aku mengerti maksudnya. Kenapa lagi mereka? Ah.. ara ara. Mereka pasti sudah tau kalau aku tidak diterima di Cambridge University, sedangkan mereka diterima. Dan mereka merasa tidak enak untuk mengatakannya denganku. Ck.. Mereka kira aku masih kecil? Berlebihan sekali!

“Cambridge University… Kalian diterima kan?” aku melirik ke arah Jonghun dan Hongki. Mereka terlihat kaget. Dulu kami memang berencana untuk kuliah di luar negeri dan kalau bisa di universitas yang sama. Tapi tidak semua rencana berjalan mulus kan?

“Kau sudah tau?” tanya Hongki.

“Ne. Kenapa kalian tidak langsung cerita padaku? Ini kan berita bagus.” Aku tersenyum pada mereka.

“Bagaimana bisa kami cerita padamu kalau kau sendiri.. err.. tidak diterima?” Kali ini yang bertanya adalah Jonghun.

“Bodoh! Kalian pikir aku akan frustasi karena tidak diterima? Haha… Tenang saja! Aku tidak akan bunuh diri hanya karena masalah kecil seperti ini. Aku masih sayang nyawaku.” Tiba-tiba aku teringat tentang ‘vonis’ dari dokter mengenai hidupku. Sedih rasanya. Tapi aku pantang menangis di hadapan mereka. Bukankah saat ini suasana sedang bahagia?

“Kau aneh Minja! Kepalamu tidak terbentur kan? Atau kau sedang sakit?” tanya Hongki sambil menempelkan tangannya di keningku.

Aku menepis tangan Hongki. Dasar Hongki bodoh! Aku sudah berusaha ceria di depan mereka. Merusak suasana saja! “Aku tidak apa-apa Lee Hongki. Aku baik-baik saja!”

“Jinja? Kau tidak sedih?” Jonghun menatapku khawatir.

“sedih? Tentu saja. Bohong jika aku bilang kalau aku baik-baik saja. Tapi ya mau gimana lagi? Aku memang tidak lolos. Aku terima saja. Lagipula sejak awal aku suah merasa kalau aku tidak akan lolos seleksi. Aku kan tidak sepintar kalian. Hehe…” Aku menyengir  pada mereka.

“Ya! Jangan bilang seperti itu! Kami tidak sepintar yang kau bayangkan. Kami hanya beruntung saja,” bentak Hongki. Aku hanya tersenyum. Mereka selalu seperti ini setiap aku membandingkan kemampuan otakku dengan mereka. Walaupun mereka sering mengataiku bodoh (aku tau kalau hanya bercanda), tapi mereka tidak suka bila aku mengataiku diriku sendiri bodoh atau paling tidak pintar diantara mereka. Lucu sekali! ^_^

“Kami bisa membatalkannya bila kau minta. Kita bisa kuliah sama-sama di Korea. Tidak perlu jauh-jauh ke Amerika,” kata Jonghun yang sontak saja membuatku kaget.

“Eh? Wae? Aku tidak meminta kalian untuk membatalkannya kok.” Aku menatap Jonghun dengan heran.

“Apa ku tidak sedih berpisah dengan kami? Kita akan lama tidak bertemu lho,” goda Hongki.

“Ani. Aku tidak akan sedih. Aku justru senang jika kalian bisa meraih keinginan kalian. Jadi jangan pikirkan aku! Aku juga akan meraih keinginanku disini, sama seperti kalian.”

“Kau yakin?”

“Sangat yakin!” jawabku mantap.

Jonghun menghela nafas panjang. Ia melirik ke arah Hongki. Mereka berkomunikasi lewat mata lagi (?).

“Kalian ini kenapa sih?” tanyaku curiga pada kedua sahabatku yang sedari pagi memang sudah bertingkah aneh. Mereka kemudian menatapku dengan serius sekali.

“Minja-ah, ada yang ingin kami sampaikan padamu. Tapi janji. Kau jangan marah ya!” ujar Jonghun.

Aku mengerutkan kening. Aku semakin curiga dengan mereka. “Katakan saja! Tidak usah berbelit-belit seperti itu!” desakku. Rasa penasaranku sudah mencapai level tertinggi karena tidak biasanya mereka se-serius ini.

“Baiklah. Kau sudah janji tidak akan marah.” Hongki terdiam sejenak. “Sebenarnya sudah lama kami menyukaimu,” lanjutnya.

“Hanya itu? Aku pikir kalian akan bilang apa. Kalian tenang saja. Aku juga menyukai kalian kok.”

Jonghun dan Hongki saling berpandangan. Sepertinya mereka bingung dengan ucapanku. Mereka adalah sahabatku, jadi wajar kalau aku menyukai mereka. Aku benar kan?

“Ini lebih dari yang kau kira Minja. Kami menyukaimu lebih dari sahabat. Kami.. mm.. mencintaimu,” kata Jonghun ragu-ragu.

Ooohh… jadi kalian mencintaiku..

1 detik…

2 detik…

Mwo? Aku tidak salah dengar kan? Barusan dia bilang kalau mereka mencintaiku. Aish.. Mereka pasti sedang menjahiliku. Tidak akan bisa! “Jangan bercanda seperti itu, Jonghun-ah! Tidak lucu!”

“Kami tidak sedang bercanda Kim Minja! Kami serius.” Hongki berusaha meyakinkanku.

“Mwo?” Emosiku langsung naik seketika. “Apa kalian sudah gila bicara seperti itu padaku?! Kalian bilang kalian mencintaiku?! Cih! Norak sekali!”

“Bukan begitu. Kami hanya ingin kau tau perasaan kami,” ujar Jonghun membela diri.

“Lalu apa? Berharap aku akan memilih salah satu di antara kalian? Jangan harap! Kalian pikir apa arti persahabatan kita? Jika berakhir seperti ini, lebih baik aku tidak pernah bertemu dan bersahabat dengan kalian!” Aku pergi meninggalkan Jognhun dan Hongki yang masih terdiam di tempatnya. Aku tidak bisa lagi menahan emosiku. Bagaimana bisa mereka berkata begitu?”

***

To be Continued

Comment-nya aku tunggu ya readers!! ^^

8 thoughts on “[Part 1] Forever with You

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s