[Chapter 5 – END] Rectangle Love

Title
Rectangle Love

Length
Chapter

Rating
PG-13

Genre
Romance, Friendship, Comedy (?)

Author
burninganchovy (@meutiakbachnar)

CAST/Main Cast
– Matsumoto Aya (OCs)

– Personel Super Junior-M as themselves

DISCLAIMER:
All of Super Junior-M’s member are belong to God, their families, and SM-Ent.

This story is mine. Please don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this, please take with full credit. ^^

Cuap-cuap Author

Annyeong! Rectangle Love Next Chapter is coming! Hehe. Yak, dan akhirnya rampung juga loh chapter ini saya edit dan akhirnya saya post deh sekarang. Chapter kali ini mungkin panjang juga, ga beda jauh sama chapter kemaren… jadi, begitu selesai baca siapin obat tetes mata ya biar matanya ga sakit :D Ah iya, komen (kritik/saran) masih diharapkan loh, baik itu komen tentang cerita ff ini atau tentang cover ff ini ^^.  Jadi semoga siapapun pembacanya yang baik hati, abis baca langsung komen. Tanpa banyak bacot lagi…

~ HAPPY READING ~

Previous Chapter :: CHAPTER 1 :: CHAPTER 2 :: CHAPTER 3 :: CHAPTER 4

***

Hangeng tersedak. ”Uhuk-Uhuk… Donghae-ah, untuk apa kau bertanya seperti itu?”

            ”Kenapa kau malah balik bertanya? Tak bisakah kau menjawab pertanyaan sesimpel itu?”

            ”Hyung, apa kau tak sadar Donghae juga menyukai Aya?” ujar Kyuhyun, yang tiba-tiba ikut campur. Mendengar ucapan Kyuhyun, Donghae pun menjitak kepala evil maknae  yang tengah duduk disampingnya itu.

            Hangeng terus berpikir. Apa yang harus aku jawab? Apakah salah jika aku juga menyukai Aya?, tanya Hangeng di dalam hatinya.

            ”Jawab, hyung

            ”Tidak. Aku sama sekali tak terpikir untuk menyukai tipe cewek seperti dia. Aku tidak menyukai Aya” akhirnya Hangeng menjawab pertanyaan Donghae, walaupun dengan sebuah kebohongan. Dan tanpa ia sadari, rupanya semua personel—beserta Aya, tengah menyaksikan perkataan Hangeng barusan. Aya yang baru saja dibuat senang karena bisa melewatkan waktu bersama-sama dengan Hangeng beberapa menit yang lalu, langsung terjatuh–terjatuh begitu saja. Tak kuat menahan kesedihan yang ia rasakan, Aya memilih langsung keluar dari dorm. Kini, suasana dorm berubah menjadi begitu dingin dan sepi. Semua personel bingung dengan ’konflik cinta(?)’ yang ternyata sudah tumbuh lama diantara mereka. Aya yang menyukai Hangeng, Donghae yang menyukai Aya dan selalu ada untuk Aya, begitu juga dengan Hangeng—yang sebenarnya juga menyukai Aya, namun lebih mementingkan persahabatannya dengan Donghae.

            Di tengah kesunyian itu, Donghae dengan cepat berinisiatif untuk mengejar Aya. Hangeng yang mencoba bersikap dingin dan biasa saja, langsung naik ke tempat favoritnya—loteng dorm. Sedangkan personel lainnya, masih berkumpul di meja makan.

            ”Aah, susah juga rupanya punya masalah percintaan” celetuk Henry.

            ”Ternyata benar wanita itu adalah racun dunia” tambah Zhoumi.

            Semua personel mengutarakan pendapatnya masing-masing, kecuali Kyuhyun. Kyuhyun malah memanfaatkan kesempatan ini untuk cepat-cepat menghabiskan semua makanan yang ada di hadapannya. Sampai akhirnya Ryeowook bertanya pendapat Kyuhyun. “Kyuhyun-ah, tumben kau tidak berpendapat”

            “Ng?” ujar Kyuhyun, dengan mulut yang dipenuhi makanan.

            “YAA KYUHYUUN!! JANGAN KAU HABISKAN MAKANANNYA! KAMI JUGA LAPAR!” teriak semua personel sambil menjitak pelan kepala Kyuhyun.

***

Perkataan Hangeng yang cukup menyakitkan itu tak akan pernah bisa dilupakan Aya. Tapi, ia berusaha untuk tegar dan tetap profesional menjalankan pekerjaannya sebagai asisten manager. Namun, keakraban yang sudah terjalin antara Aya dan personel Super Junior-M tidak sama seperti dulu. Nampak jelas seperti ada pembatas diantara mereka.

            Sudah sekitar dua bulan Aya menjalani pekerjaannya dengan sikap dingin. Kini, tak satupun diantara personel Super Junior-M yang berani mendekati Aya. Bahkan Henry dan Kyuhyun sekalipun—yang biasanya hobi mengusili Aya. Mereka hanya bisa terdiam melihat sikap Aya yang berubah drastis. Aya berubah menjadi lebih pendiam sekarang.

            ”Aya, bereskan kamarku” kata Henry, dengan gaya layaknya seorang bos besar.

            Aya mengangguk dan segera menuruti instruksi dari Henry. ”Yaa~ Aya, kau ini kenapa? Tidak bisakah kau bicara untuk sekedar membalas perkataanku tadi? Aish, sungguh aneh kau dua bulan terakhir ini”. Henry begitu penasaran dengan perubahan sikap Aya. ”Aku sepertinya merindukan Aya yang dulu, yang suka marah-marah, yang gampang diusili, yang bisa dipanggil Aya Ahjuma, yang sifatnya tak pernah sepenurut ini. Siapa kau sekarang, huh?! Kemana Aya yang dulu?”

            Aya tak menjawab, ia memilih untuk bungkam.

            ”Hey, Aya!” teriak Henry. ”Aku ini manusia! Jawab pertanyaanku! Kalau ada yang mau kau ceritakan, ceritakan saja! Jangan seperti ini!”

            Aya terdiam sebentar, kemudian membalikkan badannya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan semua yang ia rasakan kepada Henry. ”Dengar, karena aku bukan siaran televisi. Tak akan ada siaran ulang untuk ini. Kau tahu? Aku sungguh mengidolakan kalian semua…sudah cukup lama. Tapi aku bukan tipikal perempuan yang akan histeris ketika melihat kalian secara langsung. Aku juga bukan seorang perempuan yang tahu semua tentang kalian; mulai dari style rambut kalian, sampai ukuran nomor sepatu kalian, aku tidak tahu. Tapi… sudah sangat lama aku mendambakan jadi seorang manager artis. Aku ingin menjadi manager karena aku ingin tahu bagaimana kehidupan artis yang nampak begitu berat… Sampai akhirnya keberentungan berpihak padaku dan membawaku kesini, menjadi asisten manager kalian semua. Aku tak menyangka aku selalu membuat kalian susah. Bahkan sampai menyukai Hangeng dan membuat hubungan intern kalian sendiri jadi aneh seperti sekarang. Aku menimbulkan banyak masalah untuk kalian. Tapi kalian… kenapa kalian justru yang mem-protect-ku? Padahal…kalian bukanlah asisten managerku, malah aku juga bukan seorang artis. Jadi kupikir… aku lebih baik seperti ini. Menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Aku rasa aku harus lebih tahu diri. Karena semuanya disini terlalu baik padaku. Hmm… Ya, aku harus tahu diri”

            Henry membelalakkan matanya yang sipit. ”Yaa~ Aku sendiri tak pernah merasa terbebani dengan adanya kau disini, Aya. Ah iya, aku baru tahu kau benar-benar menyukai Hangeng… Jadi kau merasa perang dingin antara Donghae dan Hangeng disebabkan oleh kau, Aya?”

            ”Bukan begitu… Tapi entah kenapa aku selalu merasa bahwa akulah penyebabnya” balas Aya, yang sekarang lebih tenang dan lega.

            ”Kau salah” bantah Henry, membuat Aya mengangkat wajahnya. ”Dulu… Donghae pernah menyukai seorang perempuan. Kau pasti kenal nama ini. Jessica, salah seorang personel SNSD, sebuah girlband yang berada di management sama dengan kami. Mereka berdua sempat dikabarkan dekat, kabar ini bahkan sudah familiar dan tersebar luas. Tapi… kedekatan mereka hanya dianggap sebatas ikatan persahabatan saja oleh Jessica. Jessica bahkan pernah bilang kepada Donghae bahwa ia menyukai Hangeng. Namun rasa suka yang Jessica simpan tak pernah ditanggapi oleh Hangeng yang memang sedikit dingin kepada perempuan. Yaaah, aku rasa Donghae hanya takut perempuan yang ia sukai kini kembali direbut oleh Hangeng. Hmm… tapi jujur, aku melihat Hangeng berbeda saat denganmu, Aya. Ia tak pernah betah ngobrol lama-lama dengan seorang perempuan. Aku rasa Hangeng juga menyukaimu, tapi tak ingin Donghae terluka untuk kedua kalinya. Mungkin ia berbohong saat itu, demi Donghae”

            ”Je-Jessica? Aish, yang benar saja?! Dia berbeda jauh denganku!” ujar Aya.

            “Yaa!! Ini baru Aya yang kukenal!” seru Henry girang, ketika mendengar cara bicara Aya yang khas. “Tapi, menurutku… Kau yang berbeda jauh dengan Jessica. Jessica itu cantik, sexy, lebih lembut”

            “Ah, iya, benar-benar beda denganku. Tapi setidaknya aku cantik juga, kan?”

            Henry tertawa. ”Aish, yang benar saja. Perempuan kasar sepertimu itu sepertinya langka untuk Donghae ataupun Hangeng. Hm… Mungkin itu yang membuat Donghae suka padamu. Begitu juga Hangeng”

            ”Ah, jangan-jangan kau bicara seperti itu karena sebenarnya kau juga menyukaiku?” ujar Aya, ke-PD-an.

            ”YAAAAA! Kau ini, cepat bereskan kamarku!” balas Henry dan berlalu dari kamarnya.

Aya terdiam. Apa benar yang dikatakan Henry barusan? Ah, kenapa jantungku berdetak tak karuan begini… Aduuuh, mukaku sudah memerah lagi!

Ketika selesai membereskan kamar Henry, Aya menuju ke lantai dasar dorm dan mendapati para personel tengah duduk manis di ruang TV bersama bosnya yang tak lain adalah manager Super Junior-M.

            ”Ah, Aya… kau sudah selesai” kata bosnya–Manajer Super Junior-M, sambil menyuruhnya untuk ikut berkumpul. Aya menuruti instruksi bosnya. Ia duduk persis di sebelah Hangeng. ”Jadi begitulah… Hangeng akan berpisah dengan kita mulai minggu depan. Masa kontraknya sudah habis dan dia sudah dilirik oleh management artis lainnya di Taiwan. Hangeng akan bersolo karier. Aku tahu ini berat dan terkesan mendadak, tapi memang beginilah keadaannya sekarang. Walaupun Hangeng tak bersama kalian lagi, ingatlah, tetap saling mendukung satu sama lain. Bagaimanapun juga kalian pernah tergabung dalam Super Junior-M” lanjut Manager Super Junior-M itu dengan serius.

            ”A-Apa?” tanya Aya, yang kaget setelah mendengar pernyataan bosnya. Ia melirik Hangeng yang hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.

            Donghae yang lagi-lagi terbakar cemburu melihat besarnya perhatian Aya kepada Hangeng pun ikut berbicara. ”Ehm… Dan aku sudah memutuskan untuk kembali ke Korea, fokus berakting pada sebuah serial drama. Kemudian aku akan segera ikut wamil”

            ”Hah?” tanya Aya lagi, makin kaget mendengar pernyataan Donghae barusan.

            ”Mungkin ini adalah periode terberat bagi kita. Dan secepatnya, dari pihak SM-Entertainment akan mencari pengganti Hangeng ataupun Donghae. Kabar terakhir yang telah diterima adalah, rencananya posisi Hangeng dan Donghae akan digantikan oleh Sungmin dan Eunhyuk. Ck, betapa sulitnya keadaan kita sekarang ini” tambah sang manager.

            ”A-Aku masih belum bisa mengerti—”

            ”A-Aya” tiba-tiba Hangeng memotong perkataan Aya. ”E… Kau harus bekerja ekstra menghadapi masa-masa sulit ini”

            Hangeng berlalu. Hening. Saat itu juga, semua personel kembali ke kamar mereka masing-masing. Kini hanya tinggal Aya bersama bosnya. ”Aku bisa pastikan mereka telah memilih jalan yang terbaik untuk diri mereka masing-masing dan aku yakin pilihan mereka itu sama sekali tak ada sangkut pautnya denganmu. Kau terus bekerja dengan baik saja. Ah, Aku harus pergi sekarang, Aya” ucap bosnya, yang tak lama kemudian pergi meninggalkan dorm.

            Kini Aya tinggal sendirian di ruang TV. Dengan segala pertanyaan di benaknya. Dengan semua kebingungan yang datang begitu saja. Hatinya terasa sakit. Mengapa mereka harus terpecah seperti ini? Aku harus bicara pada Hangeng!

***

”Sudah kuduga kau disini”

            Hangeng yang tengah menghirup udara segar di loteng dorm membalikkan badannya ketika mendengar suara Aya. ”Kau?”

            ”Kenapa kau harus keluar?”

            ”Kontrakku sudah habis. Dan aku tak bisa menganggur begitu saja setelah masa kontrakku habis nanti”

            ”Kau bohong, kan?”

            ”Untuk apa? Untuk apa aku berbohong?”

            ”Aku sedih melihat kalian seperti ini”

            ”Kau pikir aku tidak?”

            ”Aku bisa meminta manager untuk memperpanjang kontrakmu”

            ”Sudahlah… Kehadiranmu disini justru mengganggu ketenanganku yang benar-benar ingin menyendiri”

            Aya menundukkan kepalanya. Sambil sedikit terisak tangis, ia berkata, ”Kau… jangan lupakan aku ya. Kalau nanti kau sudah terkenal, jangan lupakan aku. Jangan lupakan aku yang pernah mendengar bunyi kentut dan bunyi perutmu yang tengah kelaparan. Aku… mungkin aku akan merindukan orang aneh sepertimu… Ah tidak, aku akan sangat merindukan—”

            Hangeng menepuk pundak Aya. ”Sudahlah, aku tak mungkin melupakanmu, Aya. Kau… Kau yang harus lupakan aku. Ingatlah Donghae, dia penggemar beratmu. Jauh lebih berat dari aku. Dia benar-benar menyukaimu. Perasaannya begitu tulus dan besar untukmu”

            ”YA! Hentikan”

            ”Ehe ehe ehe… Kau begitu menyukaiku-kah?” tanya Hangeng, mencoba bercanda di saat-saat menyedihkan seperti ini.

            ”Tunggu!” seru Aya, sambil mengambil handphone dari saku celananya. ”Coba kau tertawa seperti itu lagi… Akan kurekam suaramu. Mungkin aku tak akan mendengar tawamu yang khas lagi”

            Aya dan Hangeng melewatkan detik-detik terakhir kebersamaan mereka. Setelah sekitar dua bulan mereka tak saling tegur sapa, akhirnya kembali akrab seperti waktu pertama kali bertemu. Di tempat yang sama. Dengan keceriaan yang sama.

***

Hari perpisahan itu tiba. Hangeng harus meninggalkan Super Junior-M dan Donghae telah memilih kembali ke Korea untuk fokus berakting dan menjalankan wamil. Mereka semua berkumpul di ruang TV, seperti biasanya. Aya yang masih saja termenung di dapur, enggan untuk ikut berkumpul di ruang TV. Ia takut tak bisa mengendalikan emosinya. Ia takut akan menangis di depan semua personel Super Junior-M nantinya.

            ”AYAAA!!” teriak Kyuhyun.

            Dengan lemas, Aya menggerakkan kakinya menuju ruang TV.

            ”Aku pergi duluan” pamit Hangeng, yang memang sudah membuat janji untuk bertemu dengan management-nya yang baru. Ia menghampiri Aya sebentar lalu berbisik, ”Aku akan sangat merindukanmu. Jangan bongkar aib-aibku ya, selama aku tak disini lagi.. Ehe ehe ehe”

            ”Kau…”

            ”Kalau Donghae meninggalkanmu suatu saat nanti, masih ada aku… ehe ehe ehe” lanjut Hangeng, memotong perkataan Aya yang belum sempat diselesaikan.

            Aya tertawa sambil terisak tangis mendengar perkataan terakhir yang keluar dari mulut Hangeng. ”Kau… jaga dirimu baik-baik”

Pagi itu Hangeng resmi berpisah dengan Super Junior-M. Aya yang kini tengah duduk bersama personel lain hanya bisa terdiam. Ia tak berani memandang Donghae. Sejak dua bulan lalu, keakraban diantara mereka seakan lenyap begitu saja—sampai sekarang. Berbeda dengan Aya, Donghae justru terus memandangi Aya. Ia sudah tak tahan harus diam-diaman dengan Aya. ”Aya” panggil Donghae, dengan suaranya yang terdengar parau.

            Aya mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk melihat Donghae.

            ”A-Aku harus pergi sekarang” ujar Donghae, sambil memakai kacamata hitamnya. Donghae malu jika Aya harus melihatnya menangis.

            Aya menahan lengan Donghae dan mengetuk kacamata hitam Donghae pelan. ”Aku tak tahu kau bisa melihatku dengan jelas atau tidak. Tapi, kau harus cepat pulang! Kalau tidak… Kalau tidak aku bisa jadi korban keusilan Henry dan Kyuhyun disini.  Donghae-ssi… terima kasih kebaikanmu selama ini. Aku tak percaya dua orang terdekatku di Super Junior-M harus meninggalkanku pada waktu yang bersamaan. Donghae… apakah kau benar harus pergi juga? Kau… tetap disini atau mati?!”

            ”A-Aku harus menenangkan diriku Aya. Eh, kau tidak mau mengantarku sampai bandara?”

            Aya, masih dengan terisak tangis, akhirnya memilih untuk ikut mengantar Donghae ke bandara. Saat menunggu pesawat yang akan ditumpanginya take off, Donghae masih sempat mengirimkan sms kepada Aya.

Kau… Aku akan melamarmu setelah pulang wamil nanti

Kau harus bisa jadi perempuan yang sebenarnya

Begitu juga aku, aku akan lebih tampan ketika aku pulang nanti

Dah, Aya.

Aya terharu membaca pesan dari Donghae. Ia menangis sesenggukkan sambil sesekali memukul-mukuli lengan Henry dan juga Kyuhyun yang ada di dekatnya. Kemudian, ia membalas  pesan Donghae.

Hati-hati Donghae-ssi.

Kalau kau memang lebih tampan nantinya, mungkin aku akan berubah pikiran, hehehe :’)

***

DUA TAHUN KEMUDIAN

Aya telah melewati masa-masa tersulit Super Junior-M tanpa Hangeng dan Donghae. Namun siapa sangka, Sungmin dan Eunhyuk—sebagai pengganti Hangeng dan Donghae, justru bisa membuat dorm kembali ceria lagi. Super Junior-M bahkan jauh lebih terkenal dari sebelumnya. Begitu juga dengan Hangeng, yang semakin tenar karena debut solo album pertamanya laris di pasaran. Dan Donghae, yang awalnya pesimis bisa betah dalam suasana wamil yang terkesan berat, justru bisa menjalankan wamil dengan lancar.

            Tak terasa, dua tahun telah berlalu. Waktu memang berjalan begitu cepat. Aya masih seperti yang dulu. Tomboy dan urakan. Dan di pagi hari yang indah kali ini, Aya bersama partner barunya, Eunhyuk, baru saja siap berbelanja dari market.

            ”Sudah semuanya dibeli kan, Baka?” tanya Aya.

            ”Udah, Nona Babo” balas Eunhyuk.

            ”Ayo naik. Ppali” kata Aya, mempersilakan Eunhyuk duduk di motor gede baru miliknya itu. Eunhyuk dengan ragu-ragu menaiki motor itu.

            ”Seumur hidup, aku belum pernah dibonceng oleh seorang yeoja

            ”Ah, hampir saja lupa. Naik motor ini ada peraturan yang harus dipatuhi. Pertama, jangan sampai tanganmu memegangku. Cukup bertahan dengan pegangan di belakangmu itu. Oke?”

            ”O-Oke deh…” balas Eunhyuk, yang sudah memegang pegangan di belakangnya. Setelah berhitung mundur, Aya mulai mengendarai motor gede itu dengan style-nya sendiri: ekstrim dan ugal-ugalan. Eunhyuk. yang baru pertama kalinya dibonceng oleh Aya, hanya bisa komat-kamit di dalam hati—berharap ia akan baik-baik saja selama dibonceng oleh partnernya itu.

Sesampainya di dorm, Eunhyuk buru-buru ke kamar mandi. Ia ingin muntah karena tak biasa menaiki motor yang sedang dikendarai dalam keadaan ugal-ugalan. Sedangkan Aya langsung membawa barang belanjaan ke dapur dan mulai memasak.

            Namun tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Karena Eunhyuk masih muntah di kamar mandi, akhirnya Aya bergegas membukakan pintu dorm. “Oh?” Aya bingung ketika di hadapannya ada buket bunga yang besar sekali. Buket bunga itu dipenuhi oleh bunga mawar berwarna putih.

            ”Kau masih mengingatku?”

            Seorang lelaki berkacamata hitam besar dan berpakaian begitu rapi itu memberikan buket bunga tersebut kepada Aya. Kini, mata Aya sudah berkaca-kaca.

            ”Ah… apa kau sudah lupa? Jangan-jangan… Kau sudah lupa padaku?”

            Aya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tetap menahan air matanya untuk tidak jatuh.

            ”Babo! Aku tahu siapa kau. Kau Donghae!” ujar Aya, sambil memukuli lengan lelaki di hadapannya–yang tak lain adalah Lee Donghae.

            ”Kau sama tak berubah, Aya.. Kau bahkan masih suka memukul lengan orang seperti ini. Sepertinya aku tak jadi melamarmu hari ini… kau belum benar-benar jadi seorang perempuan” balas Donghae.

            ”Untuk apa melamarku, kau juga tak bertambah tampan!”

            ”Kalau begitu kita adil. Jadi, aku akan tetap melamarmu”

            Aya dan Donghae pun tertawa berbarengan. Tak lama kemudian, Donghae memberikan sebuah cincin kepada Aya. Dan mulai menyanyikan salah satu lagu Super Junior yang berjudul Marry You.

I swear guhjitmal shiruh uishimshiruh
Saranghaneun naui gongju Stay with me… Stay with me,
Aya”

            Tiba-tiba saja, seluruh personel Super Junior-M ikut menyanyikan sisa lagu Marry You. Aya speechless. Sampai lagu tersebut sudah habis dinyanyikan, Aya masih terdiam. Ini jelas membuat Donghae sedikit kesal. ” Kenapa kau tak bicara?”

            ”Aku harus bicara apa?”

            ”Bicara apa saja… Kau kan bisa saja bilang ’Donghae-ssi, kau romantis sekali’ atau ’Donghae-ssi kau membuatku terharu’ atau ’Donghae-ssi… I will stay with you forever’. Pokonya kau jangan diam saja! Aku kan takut kau menolakku”

            “Tapi aku malu!! Aku bukan tipe perempuan yang bisa bicara semanis itu…hhhh”

            “Kau ini… Bilang salah satu kalimat yang aku ucapkan tadi atau mati?!”

            “MWO?! Kenapa aku harus menuruti permintaanmu yang aneh itu? Aish~”

            Melihat Aya dan Donghae yang malah berantem seperti anak kecil, semua personel Super Junior-M kecewa dan kembali masuk ke dorm. ”Yuk ah… kita balik ke dorm aja. Capek juga terus melihat sepasang kekasih yang tak pernah bisa romantis” ajak Eunhyuk, kepada personel lain.

***

Semua cerita akhirnya berakhir disini. Ya, disini—disaat Donghae memenuhi janjinya untuk melamar Aya. Aya, yang dua tahun terakhir ini selalu mencoba melupakan Hangeng dan mencoba menerima kehadiran Donghae di dalam hatinya, akhirnya berhasil. Dua bulan lagi, Aya dan Donghae akan melangsungkan pernikahan. Mendengar berita bahagia ini, semua terlihat begitu senang, apalagi keluarga Aya. Bagaimana dengan personel Super Junior-M lainnya? Semua personel tentu saja iri, terutama Eunhyuk—yang merupakan sahabat dekat Donghae. Eunhyuk, dengan sedikit memaksa, meminta Aya untuk memperkenalkan dirinya dengan temannya supaya bisa menyusul jejak Donghae.

~ END ~

Otte? Apakah ending cerita nya sesuai dengan keinginan kalian? Hehe.. mian~ kalau masih banyak kekurangan dari semua cerita di ff Rectangle Love ini. Ah iya, ini kan ff yg udah lama banget saya pelihara di laptop, dan sebenernya udah dibuat sekuel dari ff ini dengan main cast -nya Eunhyuk. Kira-kira ada yang mau baca nggak sekuelnya? Yang mau, comment aja ya. Tapi kalo gak mau juga gak apa-apa *desperate*. Akhir kata, makasih yg udah baca ff ancur dengan judul Rectangle Love ini dari part awal sampe akhir! :) Cheers!

12 thoughts on “[Chapter 5 – END] Rectangle Love

  1. Emm. Klo Blh ngasih saran poster yg lbh bagus sich yg wkt tu.
    Truz klo aku baca cerita ini dr awal aku mah lbh suka aya ma hangeng.
    Donghae menurutku asal potong jalan j, menyebalkan.
    Tp aku suka ma Alurnya

    • poster lbh bagus yang wktu itu yg mana chingu? yg chapter brp? *penasaran*
      soalnya biar bisa dijadiin referensi buat ff sekuelnya entar^^

      hehe..iya juga sih.. sebenernya ff ini direquest sm tmn aku, jd aku buat based on her true story dan pas aku ngasih liat ff ini dia kepengennya ‘happy ending sama donghae’. jadi deh~ dibuat kaya gini ^^ mian kalo mengecewakan~

      gomawo ya komennya membangun banget :)

  2. bagus, sesuai keinginan q, soal’a q juga mau’a si Aya sama Donghae…. ^^
    q mw baca sequel-nya dong, soal’a, kalo ttg si Eunhyuk Sung Go Kong psti bagus…. ^^ xD

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s