[CHAPTER] From Radio In Love – Streaming 3

(cover by : aquaticshineeworld.wordpress.com)

Title : From Radio In Love

Author : ReeneReenePott

Main Cast : Choi Minho, Bae Suzy

Supporter cast : Kim Jong Hyun, Luna, Choi Siwon, Im Yoona, Dan yang lain (temukan sendiri)

Length : Sequel

Genre : Romance, School Life, Friendships, Family

Streaming 3

Suzy POV

“Dia sudah minta maaf padamu?” tanya Jaekyung eonni tiba-tiba. Aku menoleh bingung.

“Mwo? Minta maaf?”

“Ne,”

“Oh, ne, sudah,” jawabku kikuk.

“Lain kali jangan dimasukkin ke hati ucapannya. Dia memang seperti itu. Keras, dan galak, tapi begitu ia menyadari kesalahannya di pasti minta maaf dan berbicara baik-baik,” jelasnya tenang. Aku melongo. Benarkan itu? Aku ragu apakah pandanganku terhadapnya bisa berubah atau tidak.

“Kurasa, dia tidak seperti tampang orang yang suka minta maaf,” tanggapku sekenanya.

“Kau memang belum mengenalnya lebih jauh,” jawab Jaekyung eonni menerawang.

“Pernah, waktu itu ada seorang penyiar juga. Sepertimu, ia di omeli hingga menangis. Sampi mengundurkan diri dari klub. Menyadari hal itu, ia langsung minta maaf padanya dan berbicara baik-baik,” ceritanya. Aku takjub, sampai mengundurkan diri? Pasti kemarahannya sudah keterlaluan.

“Apakah penyiar itu kembali masuk ke klub radio?’ tanyaku penasaran. Jaekyung eonni terdiam sesaat, lalu tersenyum.

“Dia Jiyoung. Sayangnya, ia sekarang mengkoordinir susunan acara. Ya kan?” apa? Jadi dia Jiyoung? Astaga, aku tidak mengetahui itu.

“Oh, seperti itu.. aku baru tahu…” jawabku kalem. Jaekyung eonni hanya menatapku lembut. Apakah ia sudah bersiap menjadi seorang ibu? Sikapnya penuh wibawa sekali.

__

Aku terus memandang keluar jendela, menghiraukan Miss Joori yang sedari tadi berceloteh tentang Perfect tense dan Question tag atau apalah… aku tidak mengerti. Bengong seperti ini mengasyikkan juga. Memikirkan apa yang telah terjadi, yang akan direncanakan, memikirkan…

Kriiingggggg~~~~

Kriiinggg~~~

“Baiklah, saya rasa sampai disini pertemuan kita… bla.. bla.. blaa…” sepatah dua patah kata terakhirnya semakin samar kudengar, sebab seisi kelas sedang sibuk membereskan buku mereka dan memasukkannya semua ke dalam tas, hendak membawa diri kembali pulang. Aku menoleh, mengembalikan pikiranku ke masa ini, membuyarkan semua imajinasiku.

“Kau bengong ya selama pelajaran?” sergah Luna tiba-tiba ketika aku sedang membereskan bukuku yang berserakan di atas meja.

“Entahlah,” jawabku pelan. Ia menautkan alisnya bingung, lalu tersenyum jail.

“Kau memikirkannya yah?”

“Apa?”

“Minho sunbae,”

“MWO?? Tentu saja tidak!!’ seruku kaget. Dari mana chinguku bisa berpikiran seperti itu?

“Ah, kau mengelak. Wajahmu memerah. Kurasa kau benar-benar memikirkannya,” sahutnya cuek namun cengiran tetap menghiasi wajahnya.

“Ck, Luna, aku benar-benar tidak memikirkannya,” tegasku lugas. Luna menghentikan langkahnya dan berbalik. “Mungkin kau saja yang menyukainya,”

“Astaga, lelucon macam apa itu?” seru Luna sambil membulatkan matanya.

“Habis, kau selalu menggodaku dengan si Minho sunbae. Jangan-jangan kau yang menyukainya yah?” cercaku dengan seringaian jahil ia menatapku datar.

“Hei. Kau chinguku. Aku sedikit banyak mengertimu. Dari pandanganmu, aku sudah mengetahui kau mulai menyukainya,”

“MWO? Astaga, itu konyol,”

“Tentu saja tidak, itu tandanya kau masih normal, kalau kau masih menyukai cowok,” jawabnya asal.

“Yaakkk!! Kau kira aku lesbian heuhh??” seruku yang membuatnya nyengir 3 jari.

 “Ngomong-ngomong, aku harus pulang duluan. Bye,” lanjutnya cepat, dan secepat kilat ia sudah menghilang dari pandanganku.

“Ya!! Lunaa!!” teriakku memanggil namanya. Namun hasilnya nihil. Ia sudah menghilang entah kemana. Ck, dasar anak itu.

Dengan kasar aku menyambar tali tasku, memikulnya di punggung dengan kesal, dan melangkah santai keluar. Ayolah Suzy, sekali-sekalilah kau pulang menyendiri. Bukankah kau ingin melanjutkan imajinasimu tadi?

Baiklah, kini pikiranku mulai terisi dengan… apa?? Choi Minho? Tidak tidak tidak, tidak mungkin. Lupakan, lupakan, lupakan. Lebih baik aku fokus pulang. Huufftt~~ sedari tadi Minho sunbae seperti menghindariku, apa yah yang ada di dalam pikirannya?

Heyy.. untuk apa aku me…

“Hei!! Kau pulang sendiri?” sebuah suara berat menghentikan langkahku. Sepertinya bukan aku yang ia maksud, aku mengangkat bahu dan kembali melangkah dengan cuek. Kalau kege-eran, bisa malu!

“Hey!!” suara itu memanggil lagi. Oke, aku heran, siapa sih yang sedang dipanggil olehnya? Aku menengok ke kiri, tidak ada siapa-siapa. Kekanan? Juga sama. Hah.. mungkin hantu. Apa? Hantu?? Huwaa…

Aku baru saja ingin berlari menjauh…

“Ya! Bae Suzy! Kau itu tuli ya?” kali ini aku menoleh. Oke, aku tidak begitu yakin dengan siapa Bae Suzy yang di maksudkannya, tapi ku rasa ia benar-benar memanggil namaku. Karena itu aku berani menoleh. Toh kalaupun salah orang, aku bisa membela diri, kan? Itu juga namaku!

“Ne?” dan seseorang sudah berdiri tepat di sampingku. Weh?? Minho sunbae?? Oh, tepatnya Sunbae Monster ==

“Kau itu tuli, ya?” tanyanya dengan dingin dan kening berkerut. Sudah ciri khasnya.

“Tidak juga,” jawabku sekenanya. Oke, bukan sekenanya, tapi asal o.O

“Sedari tadi di panggil tidak nengok-nengok,” cercanya lagi.

“Lah, mana tahu aku tadi yang sunbae panggil itu aku,” jawabku seterang-terangnya.

“Hahh.. sudahlah. Kau mau ku antar pulang?” katanya yang langsung membuat romaku berdiri. Kejadian beberapa hari lalu yang nyaris membuat nyawaku berkurang 10 tahun kembali terputar di memori otakku.

“ANDWAE!!” jawabku keras sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Udah kayak apaan aja sih…

“Wae??” tanyanya bingung. Aku tetap menggeleng keras.

“AKU SUDAH PERNAH MENGATAKAN, AKU TIDAK MAU LAGI NAIK MOTOR TERKUTUK ITU!!” seruku keras. Bukan keras lagi, tapi bombastis.

“Yak!! Kau mau membuat gendang telingaku pecah, hah? Kalau begitu ku sarankan jika sedang broadcast kau tidak usah memakai pengeras suara, cukup bicara lisan saja,” sahutnya yang langsung membuatku terdiam. “Aku juga ga naik motor kok, aku bawa mobil,” sahutnya lagi. Aku mendengus.

“Hah? Kau? Mengendarai mobil? Astaga, benar-benar tidak meyakinkan. Tidak, tidak usah!” sahutku sedikit ketus padanya.

“Yakk! Kau meremehkanku, hah? Aku sudah punya SIM tahu! Dan aku sudah terbukti sebagai pengendara yang paling berhati-hati!” well, apakah orang ini bicara melantur?

“Akan sama saja, kau membawa kendaraan seperti orang kesetanan,”

“Heish, eommamu sudah berkata kalau…”

“Tunggu, darimana kau tahu eommaku? Kau menculiknya ya?” tuduhku seenak udel.

“Ya! Kau itu selalu negative thinking! Tentu saja tidak! Tadi pagi eommaku bilang, kalau aku harus menjemput anaknya teman arisannya, karena teman arisan eommaku itu sedang keluar kota!”

“Ohh..” sahutku lega. Kalau saja eommaku benar-benar di culik olehnya, dia bukan Sunbae Monster lagi, tapi TROLL MONSTER!! (??). “Eh? Tapi eommaku tidak bilang apa-apa?”

“Haish, kau itu banyak bacot banget sih, sudahlah ayo cepat ikut aku!” katanya sambil menarik tanganku kasar. Heii.. orang ini betul-betul memerlukan pendidikan moral dan etika, ckckckck.

“Tapi, aku biasa pulang sendiri,” kataku kalem. Kenapa kalem? Soalnya kalau teriak-teriak, bisa-bisa diomeli lagi. Tanpa kusadari kini aku sudah duduk di salah satu jok mobilnya, dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang. Tunggu aku tidak disihir, kan?

“Hehh, sudah kubilang, aku sudah diminta untuk mengantarmu pulang. Dan, karena aku ini anak penurut—“ well, kata-katanya membuatku mau muntah!”—jadi aku harus melakukan apa yang eomma suruh kepadaku!”

“Hahh.. ya sudahlah, sekarang cepat jalankan mobilnya! Aku mau pulang!” pekikku kecil. Kini ia sudah berada di sampingku, lengkap dengan sabuk pengamannya dan mobilnya pun sudah ia starter. Ia menyeringai. “WHoaaaa….”

Brrruuummmmm….

Astaga, ternyata benar dugaanku. DIA MEMANG MONSTER!

“YA! Bisakah kau pelan sedikit? Jantungku sudah mau copot!!” seruku sambil memegang erat sabuk pengaman yang kupakai.

“Katamu kau ingin cepat?” sahutnya tanpa dosa. Dengan kecepatan seperti ini, ia masih saja memasang ekspresi santai? Aku melirik spidometernya. Mwoo?? 140 m/s? Apakah dia gila?

“TAPI JANGAN SEPERTI INI! HAH! AKU MENYESAL PULANG DENGANMU!” teriakku frustasi.

Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di depan gang rumahku. Dengan napas tersengal, aku melepas sabuk pengaman dan bergegas turun. Aku hanya naik mobil sialan ini selama beberapa menit, namun rasanya sudah seperti berlari marathon sekolah-rumah selama 5 kali! Aku berjalan menelusuri gang, dan sampailah di depan rumahku! Tapi.. sepertinya mahkluk homo sapiens dengan jenis berbeda ini mengikutiku, o.O

“Hei, kau tidak berterimakasih?”

“Saran untukmu, sunbae, kalau memanggil orang itu, tolong dengan sebutkan namanya ya, karena nama orang itu bukan hanya ‘Hei’,” kataku ketus.

“Suzy-ah, kau tidak berterimakasih kepadaku, kah?” tanyanya ulang ketika aku bergegas membuka pintu pagar. Aku mendesah dan menoleh.

“Baiklah. Gamsahamnida sunbae, annyeong,” sahutku cepat. Dan BLAM!! Aku menutup pintu pagar dengan kasar.

__

Hahhh… aku merebahkan diri di atas kasur tanpa melepas seragamku. Benar katanya, rumah sepi. Eomma dan appa, meninggalkan catatan kecil di kulkas dan berkata mereka ke luar kota bersama Kyungsan, namdongsaengku. Dan, akhirnya aku ngeronda deh di rumah #apadehh

Well, kini saatnya merefleksi diri. Pertama, nilai kimiaku harus ditingkatkan. Ya, meski nilai delapan puluh delapan memang termasuk cukup bagus, namun aku mencintai pelajaran itu, sangaaat! Sembilan pulah lima adalah targetku di ulangan nanti!

Kedua, kegiatan klub semakin seru. Minggu ini aku disuruh untuk belajar dibalik layar, ya, aku nanti akan belajar untuk merekam siaran, dan mengamatinya. Serta menyimpan filenya, sebagai dokumen untuk laporan akhir tahun. Dan… sepertinya… aku… akan duduk di ajari oleh si Sunbae Monster itu, tentu saja! Itukan kegiatannya bila ada siaran!

Oh ya, ngomong-ngomong tentang si Monster, kenapa ia terasa seperti… terus berkeliaran di sekelilingku yah? Sepertinya aku selalu menemukan batang hidungnya yang mancung dan mata belonya yang mengerikan itu di setiap penghujung sekolah. Ia tidak memiliki 5 kembaran, kan? Tapi… tunggu!! Tadi dia memanggilku dengan apa? ‘Suzy-ah’?

Apakah aku tidak salah dengar?

Lalu.. ada sesuatu yang ganjil. Noname! Ya! Dia tidak mengirim lagi hari ini. Dan… astaga!! 2 surat terakhirnya belum kubaca, malah kusembunyikan!! Suzy pabo!! Dengan langkah berdebum aku segera meraih tasku, dan membuka sebuah salah satu sakunya. Dengan cepat aku meraih kedua kertas itu, dan mengeluarkannya.

“Fiuhh…” untung saja masih ada. Kalau tidak, mungkin para pendengar bisa protes kenapa 2 hari ini si noname tidak muncul. Tanganku membuka lipatan kertas itu, dan mataku terbelalak melihat isinya.

Hey,
Noname

Kau dimana?
Noname

Astaga, isinya sangat sangat sangaaaaat membuatku bingung. Apa maksudnya ini? Dia pasti memaksudkan kepada seseorang di dalam kata-kata ini, iya kan? Kalau tidak, berarti dia orang gila dong @_@ Astaga, kalau beneran dia orang gila, berarti selama ini aku menunggu kertas dari orang gila?

Astaga, katakan semua ini tidak benar!!! Penulisnya tidak gila, kan?
Atau aku yang mulai gila?? Arrrgghhhh~~~

Author POV

“Annyeong, agashi,” seorang pelayan dengan senyum ramah menyapa Yoona ketika ia tengah berdiri di ambang pintu café sambil mengedarkan pandangan. Seketika Yoona tersentak, lalu ikut tersenyum. “Ada yang bisa saya bantu?”

Yoona melangkah mendekati ke kasir, dimana pelayan itu menyapanya “Err.. bolehkah aku memesan banana split?” tanyanya pelan. Pelayan itu tersenyum.

“Tentu saja. Anda bisa menunggu di salah satu meja,”

“Gamsahamnida,” sahut Yoona, lalu melangkah menduduki salah satu meja yang ada di dekat kasir tersebut. Dengan tangan bertopang dagu, ia mulai memeriksa jam, lalu mengedarkan pandanganya ke sekelilingnya. Tentu saja, ia mencari sosok itu.

“Ini agashi, silahkan dinikmati,” pelayan tersebut datang dengan mengantar banana split pesanan Yoona. “Apakah agashi mencari seseorang?” tanya pelayan itu ketika pandangan Yona masih mengedar.

“Eh?”

“Agashi datang untuk melihatnya ya?” kata pelayan itu lagi, membuat Yoona sedikit terkejut.

“Ne?”

“Ia sudah tak bekerja lagi,” sahut pelayan itu, seakan tahu apa yang ada di pikiran Yoona. Yoona terdiam, lalu tersenyum.

“Gamsahamnida,” sahutnya lalu mulai menyuap es krimnya.

Suzy POV

Aogoo.. aigoo… bagaimana ini? 3 menit lagi aku akan terlambat! Eotthokke? Baiklah, inilah caraku satu satunya. Siap ancang-ancang, dan…

Hyaaa!!!!

Aku menembus setiap kerumunan ang ada di sepanjang koridor sekolah, serta mengimbanginya dengan kekuatan kakiku, ya, lari ngibrit. Sepertinya hanya itu ya yang dibanggakan dari diriku? Ck, sudahlah, yang penting aku harus sampai tepat waktu!! Oh, terimakasih Tuhan, itu dia! Pintu ruangan klub itu sudah nampak, sepertinya aku tidak akan telat meski Cuma semenit kali ini. Yeah!

“Finaly!” desahku lega begitu aku sudah mencopot sepatu di dalam ruangan. Jaekyung eonni menoleh dan tersenyum ke arahku.

“Hey, tumben tidak telat,”

“Ya, karena dia sudah kena marah kemarin, jadi hari ini harus disiplin. Ya kan?” sahut si Monster. Grr… kurang ajar dia!

“Ck, kali ini Jung sonsaengnim tidak memberikan tambahan soal,” tukasku kalem.

“Memangnya biasanya selalu member soal tambahan, kah?” balasnya lagi yang membuatku merinding. Bukan karena takut, tapi karena dingin.

“Iya, kelasku itu termasuk kelas bejat tau,” ujarku pelan. Kalaupun ia mendengar, tak  pa deh. Kalau tidak ya, syukur banget.

“Ck, kau ini,” sahut Jaekyung eonni sambil merapihan berkas-berkas yang ada di tangannya. Berkas apa? Entahlah aku juga kurang tahu.

“Baiklah, aku harus bagaimana?” ujarku kepada si Monster, tapi dengan nada bukan kepadanya. Percayalah, kalau bukan karena Hongki sunbae yang sedang sakit perut atau diare atau apalah, aku tidak sudi di ajar olehnya. Beneran. Bukannya benci, tapi ya… aku kurang yakin aku bisa nyambung dengannya. Ingat tragedi pulang sekolahku? Ingat tragedi rapat OSIS itu?

“Duduk di sini,” sahut si Monster—hey, teryata dia menanggapi ucapanku—sambil menepukkan sebuah kursi yang ada di sampingnya. Aku menurut. Kini kami berdua duduk menghadap ke ruang broadcast dengan sejumlah perangkat dan tombol-tombol aneh yang mungkin bisa membuatmu tercengang.

“Lalu?” tanyaku begitu aku sudah duduk dan memakai headset yang bisa menghubungkanku dengan penyiar di dalam.

“Pegang tombol kuning itu, pegang saja , jangan dipencet, oke? Begitu broadcast dimulai, kau boleh memutar tombol abu-abu itu ke kanan,” instruksinya. Oke, penjelasannya cukup jelas untukku, aku tak menyangka mahkluk planet bisa menginstruksiku dengan jelas.

“Ya,”

“Tombol kuning itu kau pencet begitu lagu diputar, oke? Untuk menon-aktifkan mikrofonnya. Kalau sampai telat pencet, bisa-bisa lagu yang akan diputar terpotong. Kalau mencetnya lebih dahulu, bisa-bisa suara Seungri yang terakhir juga tidak keluar,” jelasnya lagi. Aku mengangguk.

“Baiklah,” sahutku. Kenapa hanya kata itu? Karena aku bingung mau menyahutinya dengan apa lagi. Kalau kalian berada di posisiku, kalian pasti juga akan merasa begitu.

“Seungri, kau boleh mulai,” ujar Si Monster kepada Seungri yang sedari tadi sedang memelototi susunan acaranya dengan kening berkerut. Melihatnya membuatku ingin tertawa, hahaha.

“Sudah siap? Baiklah, ready, take, start!” seruku pelan sambil memutar ke kanan tombol abu-abu yang tadi dikatakan oleh Sunbae. Aku selalu suka gaya bicara Seungri, terkadang ia menjedanya dengan unik, membuatku selalu ingat untuk mendengarkannya saat siaran.

Tapi itu bukan berarti aku suka padanya, oke? Dia adalah salah satui sunbaeku dan aku menghormatinya. Apa? Kalian menanyakan bagaimana dengan Minho sunbae? Ah, bukannya tidak mau menghormati, tapi dirinya sendiri tidak mendukung untuk di hormati, jadi untuk apa pula aku terlalu respek padanya? Ya kan?

Author POV

Suzy begitu berkonsentrasi dengan siaran yang sedang dijalaninya. Ya, memang ini pertama kalinya ia tidak memegang sebuah siaran sebagai seorang penyiar, tapi ia cukup antusias mengikutinya. Alisnya agak berkedut begitu Seungri menunjukkan tanda-tanda akan mengalihkan keadaan dengan lagu yang akan diputar, membuat Suzy siaga dengan tombol kuning yang berada di bawah jari telunjuk kirinya. Namun Suzy kerap tersenyum ketika Seungri ternyata tidak ada maksud ke sana.

Tanpa disadarinya, Minho, yang sedari tadi berkonsentrasi juga dengan tombol-tombol dan pengatur yang biasa digunakannya, melirik Suzy dengan hati-hati. Telinganya memang terfokus dengan siaran yang sedang berlangsung, namun terkadang matanya teralih dan tergoda untuk melirik yeoja yang ada di sampingnya. Senyum kecilnya beberapa kali mengembang.

Kini ia kembali melirik Suzy. Dengan semangat, Suzy menekan tombol kuning yang sedari tadi disentuhnya sambil bejaga-jaga.

“Akhirnya,” desah Suzy sambil melepaskan headsetnya. Ia tersenyum puas, ketika Seungri memberikan jempolnya kepada Suzy.

“Kau jangan puas diri dulu, ini masih dasar banget, tahu,” sela Minho, membuat Suzy menoleh dan menatapnya sedikit kesal.

“Arasseo,” balas Suzy pelan. Ia mendongak menatap Minho, dan tentu saja, membuat Minho berdebar. “Apakah aku boleh pergi ke kantin?” tanyanya yang membuat Minho terpaku sejenak.

“Terserah,” sahutnya dingin sambil memalingkan wajahnya.

Suzy POV

Weh, tumben sekali pada istirahat kedua aku tidak ada siaran. Jiyoung baik sekali! Hah.. jadinya bisa bersantai di kantin sambil menikmati kimkimbap ahjumma pemilik kantin yang terkenal enak itu. Bayanganku tentang semangkuk besar berisi nasi campur  hanya untukku membuat air liurku hampir menetes. HANYA UNTUKKU!! Yeahh!!

Dengan semangat aku melangkah menuju kantin. Well, mana Luna? Bukankah ia suka nongkrong di sekitar taman ini yah? Tapi mana batang hidungnya? Apakah ia mempunya urusan lain? Atau sedang mempunyai acara dengan orang lain? Tunggu. Orang lain? Apakah… orang yang ia akui ia sukai itu? Woahh.. Luna-yah, kau cepat juga ternyata! Sesuatu tertangkap sudut mataku, dan itu sangat menarik perhatianku. Seketika kedua kaki berhenti melangkah.

Dan situlah aku melihat mereka. Whoahh… si Monster? Dengan Yoona sunbae? Woahh… HOT NEWS!!! HOT NEWS!!! Kalau saja aku reporter, pasti sudah kuliput mereka secara diam-siam! Apa yah jadinya sekolah bila tahu mereka berduaan seperti itu?

Tunggu, apakah Yoona sunbae benar-benar menyukai Minho? Jadi surat yang waktu itu untuk Minho dong? Tapi katanya orang itu tidak bersekolah di sini. Tapi bisa saja ia membohongiku, supaya tidak ketahuan. Atau mereka hanya berteman, dan kebetulan Minho tahu namja yang disukai oleh Yoona sunbae. Astaga, aku sudah mulai melantur lagi.
Iseng-iseng, aku melangkah mendekat ke tembok. Tepatnya di belakang tempat sampah. Semoga ini posisi yang strategis, aku ingin mendengar perbincangan seru mereka, hihihi…

“Jinchayo? Dia benar-benar akan pergi ke Amerika?” suara Yoona sunbae terdengar cemas.

“Ne, itulah keputusan bulatnya. Kau sih, tidak menyatakan perasaanmu secara langsung padanya. Jadinya dia meninggalkan negara ini tanpa menetahui perasaannya telah terbalaskan,” jawab si Monster tenang. Yoona sunbae hanya menunduk. Mereka membicarakan apa sih? Aku bingung.

“Kau mau kubantu menyatakan perasaan pada hyung?”

“Mwo?”

Waduh! Jangan-jangan ini Choi Siwon! Kalau kuhubung-hubungkan, Siwon sunbae memang siswa yang paling bersinar sebelum Minho. Ia memang kakak dari Minho, tapi yang kuherankan adalah sifat keduanya yang saling bertolak belakang, Siwon sunbae bijak sana dan lebih lembut, sementara si Monster itu keras dan sangat disiplin.

“Hey!! Suzy! Kau seperti penguntit!’ seseorang berseru dan menepuk bahuku keras. Aku melotot sambil menoleh cepat, mendapati Luna dengan wajah cerianya menatapku tanpa bersalah. Haduh sayangku Luna…

“Kyaa… cepat pergi dari sini!!” aku langsung menarik tangan Luna dan memaksanya ngibrit mengikutiku ketika kurasakan kedua orang yang sedari tadi kukupingi menoleh ke asal suara yang membuat diskusi seru mereka terganggu.

“Kita mau kemana?’ tanya Luna saat kami sudah berada cukup jauh dari tempat berbahaya itu.

“Kita ke kantin, oke?” sahutku semangat sambil menatapnya. Ia tersenyum.

“Baiklah,”

Beberapa menit kemudian kami sudah duduk manis di sebuah meja dengan hidangan masing-masing. Aku sudah menyiapkan sebuah sendok besar dan sumpit, tapi sedari tadi Luna belum menyentuh makanannya.

Aku mengikuti arah pandang Luna. Lurus kepada seseorang, dan itu, Minho sunbae? Apakah ia menyukainya? Tapi waktu itu… ia menyangkal? Aku memperhatikan Minho sunbae, tiba-tiba ia bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke meja kami. Hah?
Sesampainya di  meja kami, ia menatap Luna, lalu menggerakkan dagunya, mengisyaratkan agar Luna ikut dengannya. Dan Luna menurut.

“Mianhae, Suzy-ah, aku pergi dulu…”

“Mwoya?”

“Mianhae…” katanya sambil cepat-cepat beranjak dari kursi yang didudukinya.

“Hey…” aku berusaha memanggil Luna, meminta penjelasan darinya. Tapi ia menghiraukanku, dan terus berjalan. Oke, apakah anak ini mau makanannya kuhabiskan, eoh?

Tapi…

Hei, kenapa terasa sesak disini? Seperti aku tak suka melihat mereka berdua bersama.

Yakh.. aku sudah gila!

Sudahlah, lebih baik aku makan dengan tenang saja!

To Be Continued…

#ottheyo?? ini sudah mau menjelang part-part terakhir.. XDDD MIan yah kalo banyak typo, cerita gaje, aneh semacemnya.. *bow*

#Yang sudah baca.. ayooo komen!! XDD

28 thoughts on “[CHAPTER] From Radio In Love – Streaming 3

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s