Love At The First Sight

Title
Love At The First Sight

Length
Oneshot (4.260 words)

Rating
General

Genre
Romance

Author
Lusy Zanita (@lusyznt)

Main CAST

Cho Kyuhyun

Shin Hyerim (OC)

Support Cast

Tiffany

Taeyeon

Seohyun

Choi Siwon

Lee Donghae

Disclaimers

This story is ©Lusy Zanita 2012, and cast on my story belong to God.

NOT FOR SILENT READERS!

*

The Man Who has Stolen My Heart at The First Sight is You – Lusy Zanita

***


*HYERIM POV*

“Ada apa? Tidak biasanya kau mengajakku keluar saat masih ada jam kuliah?” tanyaku kepada pria yang berada tepat di hadapanku.

“Ada yang ingin aku katakan padamu. Penting.” ucapnya dengan nada dingin, ekspresinya pun datar. Tidak seperti biasanya, perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak.

“Katakan saja.”

“Lebih baik hubungan kita sampai disini saja, Hyerim~ah. Maaf.” katanya singkat.

Jujur aku sangat shock mendengar perkataan yang baru saja terlontar dari bibir tipisnya. Aku sangat bisa menangkap maksud dari perkataannya itu.

“Kau ingin kita putus?” tanyaku dengan suara bergetar.  Tidak ada jawaban darinya.

“A-aku,maksudku ke-kenapa?”

“Aku rasa sudah tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan dari hubungan ini, lebih baik kita jalani hidup masing-masing. Aku sudah lelah dengan semua ini.” ucapnya dingin.

“Apa itu karena dia?”

“Tidak ada hubungan dengannya sama sekali! Dan mulai sekarang kumohon jangan ganggu kehidupanku,  selamat tinggal Hyerim~ah.”

Aku hanya mampu berdiri mematung dan menatap punggungnya yang semakin menjauh dari pandanganku. Aku ingin berteriak tetapi tidak bisa. Lidahku terlalu kelu. Air mataku kini tidak bisa kubendung lagi. Tetes demi tetes mengalir hingga ke ujung lantai. Isakan mulai terdengar dari bibirku. Tidak ada yang kuinginkan selain menghilangkan rasa sakit yang menghujam di hatiku. Rasa sakit yang timbul saat kau memandangi orang yang kau sayangi dan cintai, akhirnya pergi meninggalkanmu dan menghilang dari hidupmu, selamanya.

*

Aku melangkahkan kakiku menyusuri hiruk pikuk jalanan kota Seoul yang ramai sambil menundukan kepala. Tak kuhiraukan derasnya air hujan membasahi sekujur tubuhku yang tidak terlindung oleh payung. Dapat kudengar bisikan orang-orang tentangku, namun apa peduliku? Terserah mereka ingin berbicara apa.

Sekarang yang kurasakan adalah rasa sakit hati sekaligus kecewa yang sangat mendalam. Kenapa? Karena sekitar 30 menit yang lalu Yesung, kekasihku yang sudah lebih dari 5 bulan aku berpacaran dengannya memutuskan hubungan kami tiba-tiba. Alasannya adalah kurangnya komunikasi di antara kami yang terlalu sibuk dengan urusan kuliah masing-masing, dan lagi aku sangat yakin kalau dia telah menyukai gadis lain –Im Yoona- teman kampus yang satu fakultas dengannya. Karena beberapa waktu lalu aku telah melihat dirinya dan juga Yoona sedang berciuman di sudut kantin, bodoh bukan? Memergoki kekasihnya berciuman dengan gadis lain tapi lebih memilih diam, dan justru sekarang menangisi kepergiannya. Sungguh bodoh.

Dan hujan yang sedang mengguyur kota ini sungguh menggambarkan suasana hatiku yang menyedihkan. Setidaknya aku bersyukur hujan dapat menyamarkan air mataku yang terus menganak sungai.

Aku terus melangkah seraya menghiraukan tatapan heran orang-orang di sekitarku. Lima menit kemudian, aku sampai di stasiun kereta yang letaknya cukup dekat dengan kampus. Aku kemudian naik kereta menuju stasiun di daerah tempat tinggalku berada. Sepuluh menit berlalu, aku tiba di stasiun yang kutuju dan segera turun sebelum kereta yang kutumpangi melaju ke stasiun yang berikutnya.

Kutatap lurus ke depan dan melihat bahwa hujan masih belum reda. Bahkan hujan semakin deras membasahi Seoul. Aku masih menimbang-nimbang apakah akan pulang dengan kondisi cuaca seperti ini. Jarak antara stasiun dan apartemenku memang tidak terlalu jauh. Hanya butuh berjalan kaki kira-kira 10 menit. Tatapanku kemudian jatuh ke sebuah café kopi yang terletak di sebelah kanan stasiun. Merasa ingin menikmati minuman hangat di tengah derasnya hujan seperti ini, aku kemudian mengurungkan niatku kembali ke apartemen dan memilih berjalan menuju café Blossom –café langgananku-.

*

“Selamat datang!” sambut seorang pelayan wanita saat aku memasuki café ini.

Aku hanya membungkukkan badanku sedikit, kemudian menuju counter minuman dengan langkah perlahan. Tetes demi tetes air mulai membasahi lantai café ini. Namun beberapa pelayan itu tidak menatapku kesal maupun marah melainkan masih tetap tersenyum ramah, mungkin karena aku adalah pelanggan tetap mereka, jadi mereka membiarkanku mengotori lantai café itu.

“Selamat siang Hyerim~ssi-” sapa pelayan wanita yang tadi “Apa kabar?” tanyanya masih dengan senyum di wajahnya.

“Baik Taeyeon~sii.” Kupaksakan senyum tersungging di bibir mungilku.

“Baguslah, apakah pesanannya seperti biasa?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk kecil.

Kemudian aku menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar pesananku, lalu menuju ke tempat duduk favoritku—yang untungnya masih kosong, sebuah sofa yang bersebelahan dengan kaca di pojok café. Sambil menunggu, aku menatap ke arah luar jendela orang-orang yang lalu lalang di jalanan dengan mengenakan jaket tebal dan payung.

Hawa dingin yang berasal dari pendingin ruangan terasa menusuk di kulitku. Di tambah lagi dengan baju basah yang melekat di tubuhku, membuat tubuhku semakin menggigil kedinginan. Aku rasanya tidak sabar lagi ingin segera menyesap minuman hangat pesananku.

Bosan menatap ke arah jendela, tatapanku tanpa sengaja menangkap sesosok tubuh tinggi tegap berseragam pelayan dan kini sedang sibuk mengepel lantai yang tadi kulewati. Aku belum pernah sekalipun melihat pemuda itu selama aku berkunjung ke café  ini. Mungkin pelayan baru –pikirku-. Wajah pemuda itu nampak merengut kesal sembari mengepel lantai dengan keras. Aku menjadi tidak enak hati kepada pemuda itu, mengingat karena dirikulah yang menyebabkannya harus bersusah payah membersihkan genangan air beserta becek yang mengotori lantai. Tanpa sadar aku mulai mengamati fisik pemuda itu.

Tampan. Itulah kesan pertamaku saat melihatnya. Wajah putih dan mulus. Hidungnya yang mancung dan garis rahangnya kokoh. Bibirnya yang sedikit tebal itu kini sedang merengut. Tubuhnya yang tinggi dan tegap cukup terlihat keren dibalik seragam pelayan berwarna merah maroon. Rambut coklat dan ikalnya terlihat sangat cocok di kepalanya. Walaupun wajahnya saat ini menampakkan raut muka cemberut dan kesal, tapi hal itu sama sekali tidak mengurangi ketampanannya. Bahkan, menurutku pemuda itu lebih tampan dari pada mantan kekasihku Yesung, yang terkenal paling keren di fakultasnya. Ketampanan pemuda itu memang tidak bisa di abaikan. Buktinya, bukan hanya diriku saja yang sedang mengawasinya, para pengunjung wanita lainnya, malah dengan terang-terangan mengawasi pemuda itu.

Dari fisiknya yang sempurna, pemuda itu sama sekali tidak cocok untuk menjadi pelayan di café ini, apalagi bertugas membersih-bersihkan lantai seperti yang saat ini di lakukannya. Pemuda itu lebih terlihat seperti anak orang kaya dari pada sebagai pekerja biasa. Penampilan memang bisa terlihat menipu.

Ah tidak! Pemuda itu menoleh padaku, dan parahnya lagi mata kami bertemu. Bodohnya kau Shin Hyerim!! Aku segera mengalihkan pandanganku kearah lain, kemudian menyesap minuman hangatku untuk mengurangi rasa malu. Kudengar derap langkah sepatu mulai mendekatiku, dan yak! Dia sekarang berada tepat dihadapanku, bahkan menundukkan badannya untuk menyamakan tingginya denganku. Entah mengapa tubuhku serasa sulit dan kaku untuk di gerakan.

“Jangan menatapku seperti itu nona, tidak sopan.” ucapnya mulus di telingaku, kurasakan nafasnya berhembus di sekitar leherku. Setelah mengucapkan kalimat itu sempat kulihat dia menyeringai kecil, kemudian pergi ke ruangan yang di khususkan untuk pegawai café itu saja.

“Sialan! Dia mengerjaiku!” aku mengumpat pelan.

Ya ampun, ada apa dengan diriku. Aku sama sekali tidak bisa mengatur degub jantungku. Jantungku mulai berdetak tidak karuan. Hanya dengan di bisiki seperti itu saja, sudah membuatku gelisah tak karuan. Padahal, belum genap sehari aku patah hati, tapi sekarang aku bahkan sudah melupakan luka hatiku. Dan itu di sebabkan oleh pemuda tampan yang bahkan tidak aku kenal, jangankan mengenalnya, tahu namanya saja tidak.

Aku kembali menyesap minuman hangatku sembari menyantap kue coklat sebagai pendamping minuman ini. Rasanya sungguh lezat, memang benar kata orang makanan manis merupakan penyembuh patah hati. Diam-diam sambil masih menyantap makanan yang berada di hadapanku, aku masih mengawasi pemuda tadi yang entah mengapa ehem- membuatku tertarik. Kulihat dia sedang di beritahu oleh pemuda blonde yang tadi mengantarkan pesananku, tetapi yang di beritahu malah mengacuhkannya saja padahal pemuda blonde itu yang kutahu namanya adalah Donghae sangat menggebu-gebu saat berbicara. Aku sedikit tersenyum melihat tingkah pemuda blonde yang mengumpat kesal karena di acuhkan oleh si pemuda yang -ehem- sejak tadi kuperhatikan. Dan entah mengapa sekarang pikiranku hanya terdapat pemuda tadi, tak ada sebersit ingatan ataupun kenangan tentang Yesung.

**

Dua hari berikutnya aku kembali ke café Blossom untuk menghabiskan waktuku hari ini. Awalnya aku berencana akan menonton film bersama Tiffany dan juga Seohyun. Tapi karena Seohyun yang tiba-tiba saja di panggil oleh dosen dan juga Tiffany yang dihampiri oleh kekasihnya yang baru saja pulang dari Jepang, jadilah aku disini menghabiskan waktu liburan seorang diri. Sungguh malang benar nasibku.

Aku masuk ke dalam café yang masih sepi pengunjung, maklum saja ini masih pukul 9 pagi dan café ini baru buka. Hanya dua tiga orang saja yang terlihat memenuhi meja sambari memakan ataupun meminum pesanan mereka.

Taeyeon  langsung menyapaku begitu melihatku masuk dan berdiri dihadapannya. Aku berdiri dengan gugup saat memilih minuman pesananku, bagaimana tidak gugup? Pemuda yang selama dua hari ini memenuhi pikiranku ternyata ada di belakang Taeyeon bersama Donghae dan juga Siwon –si pemilik café ini-. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Tetapi, aku bisa merasakan kalau dirinya sedang menatapku, mata kami lagi-lagi sempat bertemu kalau saja aku tidak langsung menarik arah mataku dan kembali fokus kepada papan menu.

“Kau ingin pesan apa hari ini Hyerim~ssi?” tanya Taeyeon membuyarkan lamunanku.

“Ap-apa? A-aku..aku be-lum tahu.” ucapku malah jadi salah tingkah.

Aku berusaha menahan detak jantungku yang sudah tak karuan. Semoga dia tidak melihat tingkahku yang tidak karuan ini.

“Mau mencoba menu baru kami Hyerim~ssi? Kami sedang promosi, Dark Mocchaccino dengan toping kue Brownies Chocolate irisan strawberry di atasnya.” tawar Taeyeon.

“Ah! Baiklah, aku pesan itu saja.” jawabku cepat kemudian langsung menuju meja favoritku tanpa membiarkan Taeyeon berbicara lagi. Entah dia berpikir aku aneh atau apa tidak masalah, yang terpenting adalah aku bisa mengamankan jantungku agar tidak lompat keluar karena dari tadi terus-terusan berdetak kencang.

Tidak berapa lama kemudian, pelayan yang bernama Donghae itu mengantarkan pesananku. Aku menyesap minuman dingin ini, aah rasanya benar-benar enak! Aku membaca inisial barista yang telah membuat minuman ini. Tentunya bukan barista berinisial DH yang membuatnya. Mungkin saja di antara ketiga barista lainnya, aku berharap inisial KH yang berada di belakang gelas plastik ini adalah inisial dari nama pemuda yang menarik perhatianku itu dan dialah yang membuat minuman ini untukku.

Aku lalu segera mengeluarkan laptop pink kesayanganku dari dalam tas. Kemudian hendak mengecek beberapa email yang masuk. Tapi nihil, kenapa laptop ini tidak mau menyala? Sudah kucoba berulang kali tetap saja tidak mau menyala.

“Kok tidak bisa sih?!” aku mulai panik karena laptop ini tak kunjung menyala. Bagaimana ini? Semua file-file penting dan juga skripsi kuliahku ada disana. Aku mulai frustasi sendiri kalau begini jadinya.

“Hey, kau kenapa?” tiba-tiba sebuah suara berat terdengar tak jauh dari tempatku sekarang.

Aku menoleh ke sumber arah suara tersebut dan rasa kaget langsung memenuhi hatiku saat kulihat pemuda berambut coklat yang sering menghantui pikiranku kini berada di sampingku dan sedang menatapku heran. Wajahnya terlihat lebih tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini. Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Bahkan caranya bernafas dengan benar saja aku lupa.

“Hey!” tegurnya sekali lagi.

“Ah! Ini, anu, emm laptop ku tidak bi-bisa me-me-menyala.” suaraku terdengar sangat gugup. Oh tidak! Kenapa aku harus berbicara terbata-bata seperti itu, sekarang dia pasti mengira diriku aneh.

“Hn, sini biar aku lihat.” ucapnya sembari duduk di sampingku untuk memeriksanya.

Aku berusaha untuk memusatkan pandanganku kearah laptopku. Hanya saja kedua bola mataku tidak mau menuruti apa yang aku perintahkan, tetap saja kembali memandang wajah pemuda di hadapanku ini. Aku diam sambil memperhatikan pemuda itu yang tengah serius memeriksa dan mencari tahu apa yang terjadi pada laptopku. Dari raut wajahnya, ia terlihat sudah ahli dengan masalah seperti ini. Wajahnya yang tengah serius itu malah terlihat semakin tampan dan sukses membuat jantungku semakin berpacu dengan cepat. Semakin lama, detak jantungku semakin bergemuruh. Aku hanya bisa berharap agar detak jantungku ini tidak sampai ke telinganya walaupun aku tahu itu mustahil dengan jarak kami berdua yang hanya beberapa sentimeter.

Pemuda itu membungkuk kebawah meja sebentar lalu kembali lagi. Dia kemudian menatapku dengan pandangan yang tidak dapat di tebak.

“A-anu, itu kenapa?” tanyaku.

“Laptopmu itu tidak rusak, hanya habis baterai dan kau belum memasangkan kabelnya pada stop kontak.” jawabnya sambil menunjukan kabel charger yang belum terpasang di stop kontak.

HAH! Sungguh bodoh kau Shin Hyerim! Kenapa aku bisa lupa kalau semalam baru saja memakainya untuk membuat laporan hingga baterainya habis dan lupa men-charge-nya?! Aku memang tadi sudah memasang kabel charge-nya pada laptopku tapi belum menyambungkannya pada stop kontak. Ahh aku malu sekali!

Aku buru-buru berlutut untuk menutupi rasa maluku, tapi karena saking terburu-burunya kepalaku sampai terbentur meja dan hampir menjatuhkan minuman ke lantai kalau saja pemuda itu tidak menahannya.

“Hey!! Hati-hati! Kau hampir saja membasahi lantai, LAGI.” tegurnya.

“Ma-maaf aku tidak sengaja.” ucapku meminta maaf sambil mengelus kepalaku yang baru saja terbentur, jujur itu sakit sekali.

“Hn, hati-hatilah. Kau itu kikuk sekali.” tuturnya, hei! Kenapa aku mendengar terdapat nada geli di kalimat itu? Pamuda itu lalu berdiri kemudian meninggalkanku sendirian dimeja ini.

Aku menghembuskan nafas lega, nafas yang sedari tadi kutahan. Aku mengutuki diriku yang bertindak bodoh, kikuk dan memalukan di hadapan pemuda itu. Rasanya, aku seperti bukan diriku yang biasanya. Kenapa dia bisa membuatku seperti ini? Mengapa jantungku selalu berdetak cepat setiap kali melihat dirinya?

Sebuah senyum kecil mulai terbentuk di bibirku ketika aku mengingat kejadian sebelumnya. Hari ini memang kulewati dengan sangat memalukan, tetapi setidaknya ia berbicara padaku. Dan aku benar-benar senang.

**

Ketiga kalinya aku menginjakkan kaki di café Blossom pasca putus dengan Yesung. Kali ini aku ditemani oleh kedua sahabatku Tiifany dan Seohyun. Mereka sama-sama mengambil jurusan hukum sedangkan diriku sendiri berada difakultas kedokteran. Mereka memintaku untuk menemani mengerjakan tugas kuliah, yang kutahu mereka berdua sedang mengambil semester pendek untuk memperbaiki nilai mereka yang kurang. Sedangkan aku? Hanya tinggal bersantai menikmati liburan tanpa harus mengkhawatirkan satu pun nilai yang jelek.

Kami bertiga memesan minuman dan juga beberapa kue, aku kembali memesan minuman yang sama sebelum ini. Yang di buat oleh barista yang juga membuatku penasaran dengan inisial KH. Sungguh aku tidak akan pernah bosan untuk meminum ini, paduan antara susu dengan coklat juga chochochip sungguh memanjakan lidah.

Aku berusaha untuk tidak menatap atau pun memperhatikan pemuda berambut coklat ikal itu yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya, dan menghindari tatapan-tatapan curiga dari kedua sahabatku. Kalau ketahuan, mereka akan terus menggodaku dan berbuat hal-hal yang akan mempermalukan diriku di hadapan pemuda tampan itu. Tapi tak kupungkiri bahwa ada sedikit rasa kecewa karena dia terlihat sangat serius dengan pekerjaannya, padahal aku ingin sebentar saja dia menolehkan pandangannya kepadaku.

“Hyerim~ah!! Kau kenapa sih?” tanya Tiffany tiba-tiba.

“Tidak apa-apa.” elakku sembari mengeluarkan laptop pink kesayanganku itu lalu menyalakannya, kali ini tidak akan seperti kemarin –lupa mencharge-.

“Tapi wajahmu merah sekali Hyerim~ah. Kau sakit?” kini giliran Seohyun yang bertanya.

“Tidak apa-apa kok, cuma hari ini sedikit panas yah.” ucapku dengan mengibas-ngibaskan tangan seolah benar-benar kepanasan. Tiffany dan Seohyun menatapku heran.

Sekilas kutolehkan arah pandangku kearah meja barista di depan, kulihat pemuda itu sedang memandang kearah meja kami. Dan lagi-lagi mata kami kembali bertemu. Tapi aku segera melengos melihat ke arah lain karena aku tidak ingin dia melihat semburat merah yang pasti sudah bertengger manis di kedua pipiku.

“Ya Shin Hyerim~ ternyata kau…” ujar Tiffany kemudian menatapku dengan pandangan penuh selidik.

Sial! Dia pasti sudah menangkap basah aku yang tadi sempat melihat ke arah pemuda tadi.

“Kau itu bicara apa Fanny~ah?” ucapku pura-pura tidak mengerti.

“Jangan pura-pura bodoh Hyerim~ah, bodoh sungguhan baru tahu rasa.” cibirnya. “Seohyun~ah, kau tadi melihatnya kan?” tanyanya untuk meminta pendapat pada Seohyun.

“Iya, aku tadi melihat. Jangan berbohong Hyerim~ah. Kelihatan loh.” ucap Seohyun.

“Ti-tidak!” sanggahku gugup. Sayangnya, wajahku tidak mampu membohongi kedua sahabatku yang mulai menginterogasiku. “Kata siapa?”

“Heh. Jangan bohong Shin Hyerim!” ujar Tiffany masih memaksa. “Kelihatan tahu. Kau diam-diam mencuri pandang pada barista berambut coklat ikal disana kan?” kata Tiffany sambil menunjuk-nunjuk kearah pemuda itu.

Aku cepat-cepat melirik ke arah pemuda itu dan berharap dia tidak sedang melihat kearah kami. Untungnya, harapanku terkabul. Dia sedang sibuk membuat minuman pesanan pelanggan yang baru datang. Dia bisa tahu nanti kalau kami sedang membicarakannya, jika melihat gerak-gerik Tiffany yang sangat kelihatan ini. Bikin malu saja sahabatku yang satu ini.

“Tidak!” aku berbohong dengan wajah yang sangat malu sekali. Gerak-gerikku ketahuan rupanya. Dasar bodoh! gerutuku pada diriku yang sama sekali tidak bisa menutupi bahasa tubuhku.

“Masih mengelak. Ya sudah, kalau begitu. Padahal dia itu sangat tampan, untukku sajalah.” ujar Tiffany seraya memandang memuja pada pemuda itu.

“Tidak bisa! Kau sudah punya Onew!” jawabku kesal. “Kuadukan pada Onew baru tahu rasa kau!” ancamku marah. Aku sama sekali tidak suka pada pandangan memuja yang di lemparkan sahabatku pada pemuda yang kuincar. Sama sekali tidak suka.

Tiffany dan Seohyun kemudian tertawa cekikikan melihat ekspresiku yang marah. Dan kemudian, aku baru sadar kalau ternyata aku sedang di kerjai oleh Tiffany. Bodohnya aku. Akhirnya ketahuan juga. Aku cuma bisa terdiam menatap kakiku yang tiba-tiba terlihat sangat menarik sekarang, dengan semburat merah yang memenuhi wajahku.

“Shin Hyerim, kau sudah ketahuan.” goda Seohyun. Sial! Bahkan Seohyun sekarang juga ikut menggodaku.

Aku membuang muka dari kedua sahabatku ini dan memandang keluar dengan pandangan kesal. Kesal pada dua sahabatku yang sudah menggodaiku habis-habisan.

“Jujur saja pada kami, Hyerim~ah. Kami pasti akan mendukungmu!” ucap Seohyun.

“Iya, siapa tahu kami bisa membantumu?” ujar Tiffany kemudian.

Aku diam dan menimbang-nimbang dalam hati apakah aku harus menceritakan apa yang kurasakan pada pemuda itu kepada kedua sahabatku ini. Kalau Seohyun masih tidak masalah, dia pasti akan mendengarnya dan menyimpannya baik-baik, tetapi kalau Tiffany tidak bisa aku jamin. Bukannya, aku tidak percaya pada sahabatku yang satu ini. Tetapi, dia bisa saja melakukan hal-hal yang akan membuatku malu dihadapan pemuda itu.

Akhirnya, aku memutuskan untuk jujur kepada kedua sahabatku ini. Mereka pasti akan terus menginterogasiku sampai aku mau buka mulut kalau tidak menceritakannya. Lagi pula mereka juga sudah mengetahui kondisiku yang sekarang, bahwa aku bukanlah kekasih dari Yesung lagi yang kebetulan juga adalah sepupu dari Seohyun.

“Aku masih tidak yakin dengan perasaanku ini. Tapi, kalau melihat atau berdekatan dengannya, jantungku pasti berdetak lebih cepat.” jawabku berbisik.

“Kau tertarik padanya,bodoh!” simpul Tiffany enteng.

“Tidak mungkin aku menyukainya. Aku sama sekali belum mengenalnya. Bahkan, namanya pun aku tidak tahu.” ujarku membantah.

“Aku memang pernah mengobrol dengannya, tetapi cuma sekali saja. Itu pun sangat memalukan. Aku sangat kikuk dan terlihat bodoh di depannya. Aku yakin dia menganggapku gadis aneh.” Aku menundukkan kepalaku sedih.

“Ada kemungkinan kau menyukainya, Hyerim~ah. Tapi untuk saat ini, perasaanmu itu masih terlihat seolah kau penasaran padanya. Itu mungkin karena kau sama sekali tidak tahu tentang dirinya.” kata Seohyun. “Lebih baik kau coba mengenalnya. Tidak ada salahnya, kan. Kau nantinya bisa memastikan perasaanmu itu benar-benar menyukainya atau hanya sebatas rasa kagum saja.” lanjut Seohyun terlihat sangat berpengalaman saat menjelaskannya.

Aku terdiam berpikir. Aku sangat ingin mendekati pemuda itu tetapi rasa maluku lebih besar dari pada keinginanku mengenal pemuda itu.

“Dia itu keren loh. Bahkan lebih keren dari Yesung. Siapa tahu dia juga belum punya pacar. Sayang kalau dilewatkan.” Tiffany mencoba menyemangatiku.

“Kalau pun belum, aku yakin dia tidak akan mungkin menyukaiku. Lalu, bagaimana kalau dia sudah punya kekasih?”

“Kalau belum dicoba mana bisa tahu!” kata Tiffany gemas.

“Kalau kau tidak mau bertindak sekarang biar aku saja yang berbicara dengannya. Mumpung dia sedang tidak ada pelanggan.” Tiffany bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekati pemuda itu.

“Ya ampun Fanny, jang—” aku berusaha menghentikannya, tapi Tiffany bergerak lebih cepat dan telah berjalan menjauh. Dan sekarang Tiffany sudah berada tepat didepan pemuda itu.

Seohyun pun tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangkat bahu dan tersenyum kecil menandakan keprihatinan dengan apa yang nanti akan terjadi padaku.

Sekarang aku dapat melihat Tiffany yang sedang berbicara dengan pemuda itu. Aku yakin mereka membicarakan diriku karena Tiffany sesekali menunjukkan telunjuk kanannya ke arahku. Sial! Apa yang dikatakan gadis itu padanya?

Pada awalnya pemuda itu menatap Tiffany dengan ekspresi datar. Namun, setelah ia mendengar apa yang dikatakan Tiffany, pemuda itu segera menatapku dan melemparkan senyum oh seringai khasnya kepadaku.

Kutundukkan kepalaku perlahan menatap lantai. Rasa malu mulai melanda diriku setelah pemuda itu menatapku. Rasa panas menjalar ke seluruh wajahku. Aku tidak mungkin berani lagi menatap wajahnya langsung jika sudah seperti ini. Ingin rasanya aku bisa mengecilkan tubuhku dan menghilang dari tempat ini. Sahabatku itu benar-benar berhasil membuatku kehilangan muka di hadapannya.

**

Sejak kejadian nekat Tiffany menghampiri pemuda itu, aku semakin canggung untuk datang ke café ini. Kalaupun aku datang ke sini, aku sama sekali tidak pernah tinggal lama-lama. Aku hanya akan membeli minuman kesukaanku dan kemudian melenggang pergi meninggalkan tempat itu. Aku juga bahkan tidak lagi mencuri pandang ke arah pemuda itu dan berusaha menghindarinya ketika ia mencoba mendekatiku. Aku memang sengaja melakukannya agar ia tidak berpikir aku datang ke sini hanya untuk bertemu dengannya. Memang aku terlihat seperti pengecut, tetapi lebih baik dari pada harus mempermalukan diriku kembali di hadapannya.

Di lain pihak, setiap kali aku datang membeli minuman kesayanganku, minumanku akan selalu dibuatkan oleh barista favoritku. Entah kebetulan atau tidak, Dark Mocchaccino yang kunikmati akan selalu dibuatkan oleh barista berinisial KH itu. Aku benar-benar semakin penasaran pada orang ini.

Beberapa hari berikutnya, setelah aku baru pulang dari bekerja part-time di rumah sakit Universitasku, Tiffany memintaku untuk membawakannya Cappuccino saat aku pulang ke apartemen. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 9 malam dan aku segera buru-buru menuju café Blossom sebelum tutup.

“Maaf Hyerim~ssi tapi kami sudah tutup.” kata Taeyeon ketika aku tiba di hadapannya.

Aku melihat sekeliling dan memang benar café telah di tutup dan para pegawai tengah membersih-bersihkan ruangan itu.

“Aku pesan satu Hot Cappuccino saja. Aku mohooonn?” bujukku dengan nafas yang terengah-engah.

“Maafkan aku, tapi kami sudah tu-”

“Tunggu Taeyeon, biarkanlah dia.” suara berat di belakang Taeyeon menghentikan kata-katanya. Aku melirik sejenak ke belakang dan melihat pria yang wajahnya hampir mirip dengan pemuda yang diam-diam kusukai, datang menghampiri kami. Perbedaannya, pria itu memiliki rambut hitam legam dan juga yang satu ini kurasa lebih tampan.

“Terima kasih. Maaf merepotkanmu Siwon~ssi.” kataku sambil membungkuk padanya.

“Tidak apa. Kau adalah pelanggan tetap kami. Sudah sepantasnya kau di layani lebih istimewa.” jawabnya sambil tersenyum menunjukan kedua lesung pipinya. “Silahkan menunggu.”

Aku segera membayar pesananku dan duduk menunggu di meja yang terdekat.

“Nona, pesananmu sudah selesai!” suara yang kurasa itu adalah milik Siwon memanggilku.

“Baik.” jawabku. Siwon kemudian menyodorkan padaku dua gelas minuman.

“Maaf, tapi saya hanya memesan satu Hot Cappuccino saja.” kataku heran melihat dua gelas minuman ini.

“Ini Hot Cappuccino pesananmu-” ujarnya menyodorkan minuman di tangan kirinya.

“Dan ini Dark Mocchaccino spesial dari kami untuk pelanggan setia kami.” Siwon menyodorkan minuman di tangan kanannya.

“Terima kasih banyak!” jawabku tersenyum senang menerima dua minuman itu. Aku melihat sekilas di belakang minumanku yang tertulis inisial KH. Melihat inisial itu, aku memberanikan diri bertanya.

“Bolehkah aku tahu barista mana yang membuatkan minuman ini?” tanyaku mengangkat minuman milikku.

“Hm.. Aku tidak bisa mengatakannya padamu.” ucapnyanya sambil tersenyum kecil.

“Tapi, aku hanya bisa memberitahukanmu kalau dia itu diam-diam sangat mengagumimu.” lanjutnya lagi dengan suara yang sengaja diperbesar. Jawabannya itu sukses membuatku merona merah.

PRAANGG!! suara gelas yang pecah terdengar dari belakang.

“YA KYUHYUN~AH!! HATI-HATI!” teriak seseorang dengan suara yang memekakkan telinga.

“Donghae~ya, jangan berteriak! Dan kau Kyuhyun~ah gajimu kupotong!” kata Siwon seraya menoleh kepada dua pria yang sibuk membersihkan pecahan gelas di belakangnya. Aku melirik sekilas ke arah pemuda yang membuat perasaanku tidak menentu. Wajahnya nampak cemberut dan kesal, namun semburat merah terlukis jelas wajahnya.

“Dasar hyung bodoh!” suara berat yang terdengar pelan dari bibirnya masih bisa kudengar.

“Maafkan kami atas keributan ini.” kata Siwon kembali menatapku sambil tersenyum simpul.

“Ah! Tidak apa-apa.” jawabku tersenyum maklum. “Oh iya. Tolong katakan pada orang yang membuatkan ini, terima kasih banyak. Aku suka sekali!” ucapku sambil tersenyum.

“Akan kusampaikan-” ujarnya. “Hati-hati di jalan.”

Aku melangkah meninggalkan café dan berjalan di temani lampu-lampu jalan yang menyinari langkahku. Entah mengapa ada perasaan bahagia yang mulai menyinari hatiku dan aku menjadi tidak sabar ingin kembali ke café itu lagi.

**

Beberapa hari selanjutnya, tepatnya di hari Minggu pagi, aku melangkah menyusuri jalanan Seoul yang cukup lengang. Sesekali kusenandungkan lagu yang sedang kudengar dari Ipod-ku. Cuaca pagi yang sangat cerah ini benar-benar cocok untuk berjalan-jalan maupun berolahraga.

Sambil menenteng tas yang berisi laptop, aku berjalan menuju café yang biasanya kukunjungi. Aku masuk seperti biasa, memesan minuman favoritku, dan duduk ditempat yang seperti biasa. Aku duduk sambil memandang beberapa orang-orang yang sedang bersepeda di jalanan yang sepi, menunggu minuman Dark Mochaccino-ku selesai.

“Ini pesananmu.” suara berat menghentikan aktifitasku. Mataku membelalak tidak percaya. Pemuda yang telah membuat degup jantungku berdetak tidak karuan, kini berdiri di sampingku dan menaruh minumanku di meja. Wajahnya terlihat dingin, namun sorot matanya memandangku dengan lembut.

“Bisakah aku meminta tolong untuk mengisi quisioner café kami?” tanyanya sembari menyerahkan selembar kertas dan pulpen padaku.

“Eh? Te-tentu saja.” jawabku gugup sambil terus memandangnya. Rasanya tidak kuasa untuk menarik pandanganku dari wajahnya.

Dia kemudian pergi meninggalkan mejaku.

Tanpa pikir panjang, aku mulai mengisi pertanyaan yang ada di kertas itu. Nama, alamat rumah, nomor telepon, pekerjaan, dan semua pertanyaan yang di tanyakan kujawab dengan tidak ragu-ragu. Sebenarnya, jika di baca baik-baik, quisioner ini lebih banyak menanyakan seluruh data pribadiku dan sama sekali tidak menanyakan tanggapanku terhadap layanan café ini. Namun, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya dan memilih mengisinya saja.

“Sudah selesai?” pemuda itu kini tiba-tiba berdiri di sampingku.

“Ya. Ini, silahkan.” aku menyerahkan kertas itu.

“Baik. Terimakasih.” Ia mengambilnya dan pergi meninggalkanku. Aku tanpa sadar memandang punggungnya yang kini berjalan menjauh.

Kutarik kembali pandanganku dan menemukan sebuah lipatan kertas kecil di hadapanku. Aku membukanya perlahan-lahan dan membaca tulisan yang ada di dalamnya. Kulirik jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 09.50. Kulipat kembali kertas itu dan kumasukkan ke dalam tasku.

Jam 10. Depan stasiun kereta. Tunggu aku disana.

KyuHyun

Kedua sudut bibirku kini tertarik membentuk sebuah senyuman. Kali ini aku sungguh berterimakasih pada Tiffany.

Aku bergegas bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu. Kubuka pintu dengan lebar dan berjalan keluar. Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kini, aku siap menyambut kesempatan yang baru. Pemuda yang telah mencuri hatiku, kini aku akan terus menatapmu.

~The End~

 

12 thoughts on “Love At The First Sight

  1. Daebak!! Aku suka!!
    Aku juga bakal suka kalo ada pelayan cafe seganteng kyu Ơ̴̴͡.̮Ơ̴̴̴͡
    Bikin sequelnya dongg :D ditunggu

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s