Shining Star (A SM Town’s Version of Dream High)

Title : Shining Star (A SM Town’s Version of Dream High)

Author : Mhey ELFSpirit

Cast :

Main

Donghae Super Junior as Lee Dong Hae

Kyuhyun Super Junior as Cho Kyu Hyun

Eunhyuk Super Junior as Kang Eun Hyuk

Yesung Super Junior as Song Ye Sung

IU as Goh Ji Eun

Seohyun SNSD as Park Seo Hyun

Sulli F(X) as Yoon Jin Ri (Yoon Sulli)

Minor : Nichole KARA, Sunny SNSD, and so on.

Genre : Romance, A little bit comedy

Rating : Hmm…Pusing juga nentuin ratingnya. Yoo wess lah!! PG-15 (Psst…Tapi yang di bawah 15 juga halal kok..wkwkwkwk…*wink)

Length : Maybe Novel-Length (Wakakakaka…Jangan kaget dulu readers…Baca aja dulu..Dijamin nagih! Kalo ngak nagih uang kembali….hahahahaha)

Author mencoba untuk membuat versi SM TOWN (mungkin lebih tepat disebut versi SUPER JUNIOR) dari DREAM HIGH 1. Secara author ngefans banget sama DH (Ngak ada yang nanya…!). Author mohon maaf kalo isi cerita tidak sesuai dengan harapan anda (But still, I hope my readers will like this fanfiction..kekekeke…). Ya sudahlah! (Berasa jadi Bondan Perkasa)

HAPPY READING!!!

Kyuhyun POV

      Aku memandang wanita yang berdiri di atas panggung itu. Dia sangat cantik. Suaranya sangat bagus. Dia menyanyi dengan penuh perasaan. Ahh….Lagu itu jadi sangat mempesona karenanya. Wanita itu tersenyum padaku. Senyumnya sangat tulus. Aku sangat menyayanginya. Aku membalas senyuman wanita itu. Tapi, ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba senyuman itu hilang dari wajahnya. Dia berhenti bernyanyi. Wajahnya seketika pucat.

      Umma!! Ada apa denganmu? Apa yang terjadi? Ingin rasanya aku berteriak. Tapi tenggorokanku seperti tercekat. BRUUKK!! Aku melihat ummu-ku jatuh di panggung. Namun kenapa aku tak bisa bergerak? Hanya air mata yang jatuh dari pelupuk mataku. Tanpa sadar aku berteriak,

“UMMA!! WAE GURAE??”

            Aku berlari ke atas panggung sambil menangis. Ummaku tidak bergerak. Matanya tertutup. Apa itu? Busa putih mengalir dari dalam mulutnya. Orang-orang berkerumun di sekitarku. Salah satunya mendekati ummaku. Dia memeriksa tubuh ummaku dan juga pergelangan tangannya. Aku hanya bisa melihat orang itu melakukannya sambil terus menangis. Umma! Apa sebenarnya yang terjadi?

“Kyuhyunie! Wae gurae?” itu pamanku, ia menghampiriku dengan wajah sangat cemas.

“Ahjussie, apa yang terjadi dengannya?” tanya pamanku pada orang itu.

“Chaesunghamnida. Dia sudah meninggal.”

            Apa katanya tadi? Umma…Ummaku sudah meninggal? Anneunde!! Itu tidak mungkin. Meninggal?

“UMMA!! KAJJIEMA!! KAJJIEMA UMMA!!” teriakku.

 

“UMMA!!!” aku berteriak. Tersentak dari tidurku. Keringat membasahi wajah dan bajuku. Fiuuh!! Hanya mimpi. Entah kenapa kejadian 12 tahun lalu itu terputar kembali di otakku. Umma, seandainya saja kau masih di sini, di sampingku. Ketika aku bermimpi buruk kau pasti ada di sampingku, menenangkanku dan membawakan air untukku. Umma! Datanglah! Bawakan air untukku!

Aku menatap berkeliling. Aku masih ada di kamarku. Kamarku yang besar dan mewah. Aku tidak berada di tempat karaoke itu. Syukurlah! Aku turun ke lantai satu rumahku, pergi ke dapur dan mengambil air. Kalau sudah seperti ini, aku tidak akan bisa tidur lagi sampai pagi. Sudah jam berapa ini? Ahh, jam 3 pagi.

Aku memutuskan untuk menonton TV sampai pagi. Sampai appa dan umma turun dari kamar mereka.

“Kyuhyun-ah, kau tidak bisa tidur lagi?” tanya umma, umma angkatku.

“De, umma! Gwenchanayeo!”

“Kalau begitu mandilah dan turun kembali untuk makan.” Kata appa, tentu saja appa angkatku.

“Hyun, apa rencanamu setelah ini?” tanya appa ketika kami semua sudah di meja makan.

Aku tertegun. Benar juga? Apa yang akan aku lakukan? Aku sudah lulus Sekolah Menengah, tapi aku masih tidak tahu apa yang akan aku lakukan.

“Aku…aku juga tidak tahu appa!”

“Jangan seperti ini, Hyun! Ahh! Kau berbakat dalam bidang musik. Bagaimana jika kau….”

“Miyaneheo, umma! Tapi, jebal! Jangan bicarakan hal itu lagi.”

Appa dan umma-ku terdiam. Kenapa mereka menyinggung soal musik lagi? Bukankah mereka sudah tahu kalau aku sangat membenci musik?

Author POV

      SM ENTERTAIMENT ART SCHOOL. Berdiri tegak dan angkuh di tengah hiruk-pikuk kota Seoul.  Bangunan mewah berwarna putih itu sangat megah. Di dalamnya ratusan orang mondar-mandir dengan pakaian yang bagus dan trendy. Pemuda-pemuda tampan dan gadis-gadis cantik banyak sekali di sana. Benar-benar sekolah yang sempurna. Sekolah yang sangat sempurna bagi orang-orang yang mencintai musik dan dunia hiburan.

Di salah satu ruangan yang bertuliskan SMEnt ART CLASS, kira-kira 30 siswa sedang duduk serius memperhatikan seorang guru yang mengajar di depan kelas. Guru itu menekan tuts pianonya dan memainkan beberapa nada,

“Siapa yang tahu nada apa yang aku mainkan tadi?”

Beberapa murid mengangkat tangannya dan guru tadi menunjuk salah satunya. Gadis itu menjawab dengan benar diikuti dengan tepuk tangan dari teman-temannya. Hal seperti itu terulang beberapa kali sampai ketika sang guru memainkan sederet nada panjang dengan pianonya.

“Kalau yang ini?” tanyanya dengan senyum tersungging di bibirnya.

Tidak ada yang mengangkat tangan. Beberapa siswa sibuk bisik-bisik dengan teman di sampingnya. Ada juga yang berusaha keras memikirkan nada apa yang baru saja dimainkan sang guru.

“Tidak ada yang bisa menjawab?”

“Mudah sekali!” sebuah suara tiba-tiba memecahkan kebigungan itu.

“Ya! Kau Lee Dong Hae! Silahkan!” guru itu menunjuk seorang pria tampan yang duduk dengan tenang di bangkunya.

“A-Cis-B minor-G-Fis-A-G minor-F-G-A-D minor-G minor-Gis-B-A minor-F-G-C-Fis-A minor-Gis. Bagaimana? Apa ada yang salah?” (Maaf kalau salah. Author agak ngak ngerti musik soalnya. Hehehe!)

Guru itu tersentak. Sedangkan murid-murid lain di kelas itu memandang kagum ke arah pemuda tampan itu.

“Wow! Bagaimana bisa ia mengetahui nada sepanjang itu?”

“Dia benar-benar hebat!”

PLOK! PLOK! Guru vocal itu bertepuk tangan, kemudian diikuti oleh murid-murid yang lain. Donghae, pemuda tampan itu tersenyum puas.

Donghae POV

Aku menatap ke sekeliling. Begitu ramai. Mereka semua menatapku. Selalu seperti ini. Setiap aku memutuskan untuk tampil di kantin seni ini, mereka pasti akan datang beramai-ramai hanya untuk melihat penampilanku. Aku memang istimewa. Mereka semua mengagumiku. Terlalu mengagumiku.

Aku meraih gitarku dan meletakkannya di pangkuanku. Suasana yang semula agak berisik, menjadi tenang seketika. Aku memetik senar gitarku. Memainkan intro lagu yang akan kunyanyikan hari ini. Nada-nada indah mengalun. Beberapa gadis menatapku dengan tatapan takjub. Ahh! Sungguh membahagiakan.

Mereka menikmati lagu yang kunyanyikan.

“Waah…Suaranya merdu sekali. Sangat lembut.”

“Permainan gitarnya juga bagus sekali.”

“Dia sangat tampan.”

“Neomu kyeopta…”

Ya. Hidupku sempurna. Aku tampan, aku kaya, aku berbakat, aku disukai semua orang. Apalagi yang kurang dalam hidupku?

Eunhyuk POV

“Pelayan!” seorang pelanggan memanggilku.

“De!”

Dengan tersenyum aku menghampiri pria itu.

“Anda mau pesan apa tuan?”

“Segelas espresso dan waffle.”

“Agishimida! Tunggu sebentar! Akan segera kami siapkan. Permisi.” Kataku ramah.

Yah. Inilah aku. Aku seorang pelayan sebuah restoran masakan barat. Setelah lulus Sekolah Menengah, inilah yang kulakukan. Selain untuk membantu keuangan keluargaku, aku juga ingin menabung untuk mewujudkan cita-citaku.

Teleponku berdering.

“De, Hongki-ah? Wae?”

“Yaa! Eunhyuk-ah, jam berapa sekarang?”

Aku melirik jam tanganku. Ommo! Aku terlambat.

“Miyane, aku terlambat. Camkammanyeo? Sebentar lagi aku akan sampai di sana? Oke?”

Click! Aku menutup telepon.

“Baiklah! Berikutnya adalah peserta dengan nomor urut 52, Jewel Dancer!” MC acara memanggil nama grup kami.

Aku menarik napas. Tenanglah, Eunhyuk! Ini kan performmu yang kesekian kali. Kau sudah sering melakukannya. Kau pasti bisa.

Aku naik ke panggung bersama tiga temanku. Musik mulai diputar. Aku merasakan jantungku berdegup kencang. Mendengar musik yang begitu enerjik, adrenalinku tertantang. Tanpa sadar aku mulai bergerak di atas panggung. Meliuk-liukan badanku mengikuti irama musik yang begitu keren.

Aku tidak melihat penonton. Aku merasa hanya ada akulah di panggung dan musik itu.

“CHEERSS!!!” teriakku dan ketiga temanku.

TINGG!! Begitulah bunyi gelas-gelas kami saat beradu. Ekspresi bahagia tak terkira terpancar dari wajah kami. Ya! Kami memenangkan juara pertama dalam kompetensi dance siang tadi. Ahh!! Dan hadiah uangnya, cukup besar! Kami membaginya bertiga dan tak lupa kami sisihkan untuk menyumbang ke gereja. Karena kami menang tentu atas izin Tuhan.

Ahh! Inilah aku. Selain kemampuanku dalam dance, apalagi yang kupunya. Karena itu aku harus berlatih, aku harus sekolah musik. Agar aku bisa bernyanyi. Tak hanya menari seperti tadi.

Seohyun POV

“Seohyun-ah!” seorang pria berwajah imut memanggil namaku. Dia temanku. Namanya Yesung.

Ya. Kami berdua punya banyak kesamaan. Kami berdua sama-sama miskin. Hahaha..Karena itu kami sama-sama tahu bagaimana susahnya kehidupan ini. Kami berdua sama-sama pelayan. Selain menjadi pelayan, pekerjaan apalagi yang bisa dilakukan dua orang anak muda yang baru lulus Sekolah Menengah. Kami berdua sama-sama suka musik. Bahkan kami punya sebuah band kecil yang sering tampil di cafe tempat kami bekerja. Yesung adalah vokalis utama band kami. Suaranya benar-benar bagus. Sedangkan aku, aku pemain piano sekaligus vokalis additional-nya.

Aku tersenyum saat ia menghampiriku.

“Pekerjaanmu sudah selesai?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Miyane, Seohyun-ah! Malam ini sepertinya kau harus tampil sendiri dengan pianomu.”

“Bwo? Wae?”

“Nenekku, hari ini dia sakit lagi. Aku minta maaf. Tapi aku harus menjaganya. Kau bisa kan tampil sendiri?”

Aku menatap Yesung. Dia kelihatan sangat cemas. Ahh! Apa boleh buat. Yesung hanya punya nenek-nya di dunia ini. Dia pasti sangat menyayangi neneknya itu.

“Kurae! Pulanglah! Semoga nenekmu cepat sembuh ya?”

“Gumawo, Seohyun-ah! Aku pulang ya?”

Yesung memegang kedua pundakku dan tersenyum penuh terima kasih padaku.

Aku naik ke atas panggung seorang diri kemudian menghampiri piano yang ada di sana. Aku menatap tamu cafe yang datang malam ini. Cukup banyak. Mereka memberiku tepuk tangan.

Aku menekan tuts piano dan mulai memainkan sebuah lagu sedih. Lagu yang sangat menyayat hati. Aku benar-benar menyukai suara piano. Aku menikmati lagu ini. Sampai akhirnya mataku yang semula menyapu rata ke seluruh penonton tertuju ke sosok seorang pemuda tampan yang duduk sendiri di sudut ruangan. Pemuda itu menatapku dengan tatapan benci. Tangannya yang memegang gelas minuman bergetar. Ada apa dengannya?

Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari pria itu. Ya tuhan! Dia menangis. Pria itu menangis. Ia menutup telinganya. Ada apa ini? Apa permainku begitu buruk sampai ia menutup telinganya? Pria itu bangkit dari duduknya dan berlari keluar. Aku langsung berhenti memainkan pianoku. Aku berdiri dan menatap punggung pria itu yang akhirnya menghilang di balik pintu keluar.

“Ada apa dengannya? Kenapa dia berhenti bernyanyi?” aku mendengar orang-orang heran dengan tindakanku. Ahh! Aku pasti seperti orang gila yang tiba-tiba berhenti bernyanyi. Kuputuskan untuk melanjutkan laguku. Namun aku tetap tak bisa menikmatinya. Pikirkan tertuju pada pria tadi.

Setelah menyelesaikan laguku, aku turun dari panggung dan berlari keluar.

Ke mana dia? Aku tidak menemukannya di sini. Aku pun dengan terburu-buru menuruni tangga yang menuju ke jalan.

“AHHH!!!” kakiku terkilir. Aku pun terjatuh sampai ke dasar tangga. Untunglah aku tak apa-apa. Hanya saja kakiku sakit sekali. Ahh! Kaki kananku sakit sekali.

Tiba-tiba aku melihat punggung pria itu. Ia berjalan perlahan ke arah utara. Aku memaksa diriku untuk bangun. Dengan tertatih-tatih aku mengikuti orang itu. Ia berjalan sampai di sebuah halte bus yang sepi. Jalan ini memang sepi. Jarang ada orang yang lalu lalang di jalan ini. Dia duduk di halte dan melamun.

Aku menghampirinya. Namun sepertinya ia tidak menyadari kehadiranku di sampingnya. Ia terlalu tenggelam dalam lamunannya. Air mata jatuh perlahan menuruni pipinya. Ada apa sebenarnya dengan pria ini?

Aku duduk di sampingnya.

“Cho…Chogiyeo!” kataku takut-takut.

Dia menoleh dan menatapku tajam. Lalu ia berpaling dan menghapus air matanya.

“Gwenchanayeo?” tanyaku lagi.

“Duguseo?” tanyanya dingin.

“Aku….”

“Sedang apa kau di sini?”

“Aku….”

“Apa aku kelihatan menyedihkan?”

“A….A…Anniyeo!” tentu saja pabbo! Kau begitu terlihat menyedihkan.

Ia berdiri dan pergi meninggalkanku yang terheran-heran. Namun tidak beberapa lama ia berbalik dan menatapku tajam,

“Kau terlalu banyak ikut campur!”

Apa? Dia bilang aku terlalu banyak ikut campur?

“Yaa! Bhusunsurinya? Aku? Aku terlalu banyak ikut campur? Kau! Kaulah yang menghancurkan penampilanku tadi. Kau bertingkah seperti orang gila saat aku sedang menyanyi. Konsentrasiku buyar karena kau.”

“Aku tidak peduli.” Katanya sambil melangkah lagi.

“Yaa! Kau belum bayar!!”

Dia berbalik lagi. “Apa aku tampak seperti orang miskin yang tidak bisa membayar minumanku?”

Aku memperhatikannya. Bajunya bagus. Dia tampak seperti orang kaya. Ahh! Tidak! Dia memang kaya, dan tampan. Ahh! Apa yang aku pikirkan.

“Jadi, kau sudah membayar?”

“Tentu saja! Aku sudah membayar semua minumanku! Karena itu jangan ikuti aku lagi!”

“Chogi!!” aku berlari menghampirinya. Ahh! Kakiku sakit sekali.

“Kakimu? Kenapa?”

“Tidak usah ikut campur. Aku hanya ingin tanya, kenapa kau bertingkah seperti tadi? Apa permainan pianoku terlalu jelek sampai kau menutup telingamu dan keluar dari cafe?”

Dia terkekeh.

“Kenapa ada banyak orang yang suka bermain piano?”

“Bwo?”

“Aku benci piano.”

“Bwo?”

“Aku benci suara piano. Aku benci piano.”

“Wae?”

“Tidak ada alasan untuk itu.”

“Pasti ada!”

“Kenapa kau memaksaku? Kalau begitu kau cari tahu saja alasannya sendiri.”

“Bwo? Baiklah kalau kau memang tidak ingin memberitahuku. Aku heran, kenapa ada orang yang begitu membenci piano seperti kau!”

Aku menyerah. Tidak ada gunanya memaksa orang aneh itu untuk bercerita. Lebih baik aku kembali ke cafe dan minta maaf pada bos.

Kyuhyun POV

Aku termenung di dalam mobilku. Benar-benar gadis yang cerewet. Kenapa dia begitu ingin tahu masalahku?

Mobilku melewati halte bis tadi. Dia. Gadis cerewet itu ada di sana. Duduk sambil bersenandung dan menggoyang-goyangkan kakinya. Aku tersenyum. Benar-benar gadis yang bahagia. Entah mengapa sejenak aku melihatnya mirip….Ahh! Tidak! Mereka sama sekali tidak mirip.

“Yaa! Kau!” panggilku dari dalam mobil.

Ia memperhatikanku lekat-lekat.

“Kau??” tanyanya kaget.

“Kau menunggu siapa?”

“Bukan urusanmu!”

“Apa kau menunggu bis?”

Dia tidak menjawab.

“Naiklah!”

Dia menatapku heran.

“Untuk apa aku naik ke mobilmu?”

“Apa kau tidak ingin tahu mengapa aku membenci piano?”

“Jadi….kau berubah pikiran?”

“Entahlah! Kalau kau tidak mau menerima tumpanganku, ya sudah! Aku pergi!”

“Hey! Camkamman! Baiklah aku ikut. Karena kau aku dimarahi bosku sampai selarut ini dan bis yang ada hanyalah bis tengah malam yang sangat sepi. Jadi kau harus bertanggung jawab dengan memberiku tumpangan.”

“Terserah apalah katamu!”

“Jadi….Kenapa kau membenci piano?” tanyanya lagi. Dia benar-benar gadis yang ingin tahu.

“Karena piano mengingatkanku pada seseorang.”

“Ahh….Yeojachigumu ya?”

Aku menatapnya.

“Ternyata selain cerewet kau juga sok tahu ya?”

“Bwo?”

“Dari mana kau tahu dia itu yeojachiguku?”

“Hanya menebak!” katanya sambil tersenyum. Aigoo! Nameun kyeopta.

“Orang itu sangat menyukai piano. Dia sangat pandai bermain piano. Ia juga yang mengajarkanku bermain piano.”

“Lalu, mengapa kau membenci piano? Aku jadi bigung.”

“Dasar pabbo! Makanya dengar dulu ceritaku. Kau terlalu banyak bertanya.”

“Aishh! Benar-benar pria yang galak!”

Aku menatapnya tajam. Dia malah membalasku dengan senyum menggoda.

“Tapi…orang itu pergi meninggalkanku. Dia pergi tanpa mengucapkan kata selamat tinggal padaku. Dengan tiba-tiba ia pergi. Aku…Padahal aku sangat menyayanginya. Hanya dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini.”

Seohyun POV

Matanya. Dari matanya aku bisa merasakan kesedihan. Ya. Kesedihan. Jadi karena itu dia membenci piano?

“Chaesungeyeo!”

Dia tersenyum tipis.

“Kau tidak perlu minta maaf. Bukan kau yang membuat hidupku seperti ini.”

“Ahh! Kita belum berkenalan. Naneun Park Seo Hyun imnida.”

“Cho Kyu Hyun imnida.” Ia menjabat tangan kananku sambil tersenyum.

“Ngomong-ngomong di mana rumahmu?” tanyanya.

“Gummoshimida!” kataku.

“De.”

“Hmm….Sampai bertemu lagi.”

“Kau ingin bertemu lagi denganku?” tanyanya dengan senyum mengejek.

“Aishh! Anniyeo. Bertemu lagi atau tidak sama sekali tidak penting bagiku.”

Dia tersenyum mendengar jawabanku. Aku membuka pintu mobilnya dan keluar. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia langsung pergi. Aku hanya bisa melihat bayangan mobilnya yang perlahan menghilang ditelan gelapnya malam. Entah mengapa, aku ingin tersenyum. Ahh! Mengapa aku merasa seperti ini.

Jieun POV

“Hoamm!!!” aku menguap. Ahh! Aku mengantuk.

“Yaa! Goh Ji Eun! Perhatikan ke papan. Jangan tidur saja yang bisa kau lakukan!”

Hahh! Seosangnim mengomeliku lagi. Aku benar-benar bosan. Sudah hampir satu tahun aku ada di kelas admisi SM Entertaiment Art School dan pelajaran yang kudapat hanya itu-itu saja. Kelas admisi atau kuburan SMEnt adalah kelas dasar. Murid dari kelas admisi akan diangkat ke kelas seni jika mereka dianggap mampu. Tapi sayangnya hingga kini aku belum juga diangkat ke kelas seni. Apa salahku? Tentu saja karena mereka menganggap aku tak mampu.

Aku membetulkan letak kacamataku dan kembali berusaha berkonsentrasi ke pelajaran yang sangat membosankan itu.

Ahh! Akhirnya pelajaran selesai dan waktunya istirahat. Seperti biasa tempat favoritku di jam istirahat adalah kantin. Dulu kantin menjadi  favoritku karena aku suka makan. Dulu aku adalah si gembul dari SM Entertaiment. Semua pria di SMEnt mencap aku sebagai boneka babi yang paling tidak menarik di SMEnt. Tentu saja! Lihatlah gadis-gadis itu. Mereka cantik. Tubuh mereka langsing. Rambut mereka halus dan indah. Sedangkan aku. Aku gendut. Aku berkacamata. Dan model rambutku sangat tidak beraturan. Untunglah sekarang aku berhasil menanggalkan image gendut. Ya! Aku melakukan diet ketat. Sejak aku diet, aku tidak pernah lagi makan di sekolah.

Jadi untuk apa aku ke kantin? Semua itu aku lakukan untuk melihat pangeran itu. Pria tampan itu. Dia adalah siswa terbaik di SMEnt. Hampir semua yeoja di SMEnt menyukainya. Termasuk aku. Dia adalah Lee Dong Hae.

Seperti biasa, suara Donghae selalu berhasil melambungkanku. Dia tak hanya tampan, tapi juga berbakat. Namun sayang aku hanya bisa memandang kagum padanya dari jauh. Sedangkan ia, jangankan memandangku, melirikku pun tak pernah. Apalah dayaku, aku hanya seorang gadis buruk rupa yang menyukai pangeran tampan seperti dia.

Aku melangkah sendirian menyusuri koridor sekolah menuju ruang locker siswa. Kenapa sendirian? Karena aku tidak punya teman di sekolah ini. Murid-murid kelas seni mana ada yang mau berteman denganku. Temanku di kelas admisi hanya satu, itupun laki-laki. Ya tuhan! Mudah-mudahan tidak ada anak-anak usil itu di locker.

Ommona! Sepertinya tuhan tidak berpihak padaku. Baru saja aku memasuki ruang locker, aku langsung disambut oleh senyum evil 4 orang anak laki-laki. Dasar anak-anak usil! Aku menarik napas panjang. Apalagi yang mau mereka lakukan padaku?

Dengan was-was aku menghampiri lockerku. Berharap anak-anak nakal itu tidak mengerjaiku lagi. Ahh! Tidak mungkin. Mau apa mereka berlama-lama di sini kalau tidak mau mengerjai aku.

Salah satu dari mereka menghampiri aku. Pria itu menatapku sambil tersenyum nakal.

“Bwoya? Mau apa kalian?” tanyaku memberanikan diri.

“Anniyeo. Aku Cuma ingin….meminjam kacamatamu. Hahahaha!!!” Gawat! Ia merampas kacamataku.

“Kembalikan! Kacamataku! Kembalikan kacamataku! Aku tidak bisa melihat apa-apa! Tolong kembalikan kacamataku.”

Aku berteriak-teriak sambil berjalan tak tentu arah mencari kacamataku. Aku tidak bisa melihat apapun. Yang kulihat hanyalah bayangan suram berwarna putih. Di mana kacamataku? Ku dengar empat anak nakal itu tertawa dengan girang. Mereka pasti senang sekali melihat aku kebigungan mencari kacamataku.

Tiba-tiba, BRUKKK!

“AWWW!!” aku terjatuh dan anehnya sepertinya ada orang di bawahku. Ya. Aku seperti menindih seseorang.

“Yaa! Sedang apa kau! Cepat bangun!” teriak orang di bawahku.

Aku tidak tahu siapa dia, yang jelas itu namja.

“Chaesunghamnida. Aku tidak bisa bangun. Aku tidak bisa lihat apa-apa. Di mana kacamataku?”

“Hey! Kembalikan kacamatanya sekarang juga!!!”

Seseorang memakaikan kacamataku. Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas. OMMONA!! Aku bisa melihat dengan jelas siapa orang yang aku tindis. Sejenak aku tertegun. OMMONA!! LEE DONG HAE!!! Mataku seperti hendak mau keluar. Aku ada di atas tubuh Lee Dong Hae sekarang.

“Lee….Lee….Lee…Dong…LEE DONG HAE!!!” tanpa kusadari aku berteriak.

“Yaa! Pabbo!! Bangun sekarang juga! Kau menindihku bodoh!”

Donghae POV

Dasar yeoja pabbo! Dia tidak tahu apa kalau dia begitu berat.

“Yaa! Bangun cepat!! Palliwa!!”

Akhirnya dia berdiri juga. Ffiuhh! Yeoja itu menatapku dengan tatapan yang aku tidak tahu artinya. Matanya tak berkedip melihatku.

“Yaa! Kenapa kau menatapku seperti itu hah?”

BRUUUK!! Apalagi ini? Dia pingsan? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?

“Yaa! Kau! Jangan pura-pura ya? Cepat bangun?” aku mendekati tubuh yeoja itu dan menepuk-nepuk pipinya pelan. Tapi dia tidak juga bangun.

“Dia pingsan!” kata salah satu namja yang ada di ruangan itu.

“Bawa dia ke klinik sekolah.” Kata yang lainnya.

“Aku? Niga wae?” ya. Kenapa harus aku yang membawanya?

“Dia pingsan karena melihatmu kan?” kata yang lainnya lagi.

Aisshh! Benar-benar merepotkan. Mau bagaimana lagi. Aku pun akhirnya mengangkat tubuh yeoja itu dan menggendongnya ke UKS. Tepat sekali dugaanku, hal ini benar-benar menjadi pusat perhatian. Yeoja-yeoja lain memandang heran padaku. Aku, Lee Dong Hae, menggendong yeoja jelek seperti dia? Ahh! Apa-apaan ini?

Akhirnya sampai juga di klinik sekolah. Aku membaringkan tubuh yeoja itu di tempat tidur. Aku memandangnya sejenak kemudian melepaskan kacamatanya. Rambutnya berantakan. Aku pun merapikan poni yang mengganggu matanya. Aku tertegun. Cantik juga. Ahh! Lee Dong Hae. Apa yang kau pikirkan?

Jieun POV

Ahh! Kepalaku pusing sekali. Aku berusaha keras membuka mataku. Ahh! Pandanganku berkunang-kunang. Di mana aku? Mana kacamataku?

Seseorang memakaikanku kacamata. Ahh! Aku di klinik sekolah. Tapi, kenapa aku ada di sini?

“Dokter, kenapa aku bisa ada di sini?” tanyaku pada seorang dokter yang sedang menulis di balik mejanya.

“Tadi kau pingsan.” Katanya sambil tersenyum.

“Pingsan?” aku pingsan? Benarkah? Kenapa aku tidak ingat apa-apa.

“Lee Dong Hae, dia yang membawamu ke sini.”

“Bwo? Lee Dong Hae?”

Apa? Donghae yang membawaku ke klinik? Ahh! Aku ingat. Tadi aku jatuh menindih tubuhnya.

Aku tersenyum lebar. Ahh! Benar-benar suatu keberuntungan.

“Dokter, apa benar Donghae yang membawaku ke sini?” tanyaku antusias.

Dokter itu mengangguk.

“YESS!!” aku melonjak kegirangan.

“Gummoshimida. Sesange!! Tuhan!! Terima kasih!!” kataku senang sambil melompat-lompat gembira.

Aku tidak perduli kalau aku sudah mempermalukan diriku sendiri di depan Donghae. Yang jelas hari ini aku berhasil menyentuh Donghae. Menyentuhnya. Ahh! Rasanya aku tidak ingin mandi hari ini.

Sulli POV

“Yaa! Pak Jang! Bukankah aku menyuruhmu untuk menjemputku di salon? Kenapa lama sekali? Sudah lama sekali aku menunggu!”

“Chaesunghamnida, nona. Aku akan segera sampai di sana.”

CLICK! Aku menutup telepon dengan kesal. Dasar supir bodoh! Dia membuatku menunggu lama sekali. Awas saja! Kalau ini terulang terus, akan kupecat dia.

Aku keluar dari salon mewah itu. Bosan juga berlama-lama di dalam. Lebih baik aku berjalan-jalan sebentar.

Ahh!  Teleponku berdering.

“De, Nichkhun-ah? Wae?”

“Sulli-ah, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Malam ini kita makan di cafe biasa ya?”

“Ahh, de. Jam 8 malam ya? Hanya itu?”

“De. Aku sibuk. Aku tutup teleponnya ya?”

“De. Saranghe, Nichkhun-ah!” kataku sambil tersenyum.

“Nado!”

CLICK! Telepon ditutup. Choi Nichkhun. Dia adalah namjachiguku. Sudah 1 tahun kami berpacaran. Dia adalah seorang artis. Ya. Dia adalah member salah satu boys band papan atas. Dia tampan, tinggi, berbakat, dan kaya tentu saja. Kami berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Aku sangat mencintainya.

Aku berjalan sambil tersenyum. Ahh! Senangnya! Malam ini aku akan bertemu dengan Nichkhun. Sudah satu minggu kami tidak bertemu karena dia sangat sibuk dengan jadwal boys band-nya. Aku sangat rindu padanya.

Tiba-tiba, CROOOT!!! Apa ini? Baju dan rambutku basah. Aku menoleh ke samping dan melihat seorang pria bersepeda lewat di sampingku. TIDAK!! Pengendara sepeda itu melewati air tergenang yang ada di jalan. Tadi memang sempat turun hujan sangat lebat. Dan sialnya air tergenang yang kotor dan bau itu mengenai baju dan rambutku. ANDWEEE!!!

“YAA!! KAU!! KAU YANG MEMBAWA SEPEDA!! BERHENTI!!” teriakku.

Bagus. Dia mendengarku. Namja itu menoleh.

“Aku?” tanyanya padaku.

Dasar pabbo! Tentu saja kau. Siapa lagi yang bawa sepeda selain kau?

“Ya. Kau.” Aku berjalan menghampirinya dengan tatapan marah.

“Apa aku mengenalmu?” ia menatapku dengan tatapan heran.

“Yaa! Tentu saja tidak, pabbo!”

“Lalu, kenapa kau memanggilku?”

“Kau lihat ini?” aku menunjuk bajuku yang basah.

“Aku tidak mengerti. Bajumu basah. Apa hubungannya dengan aku?”

“Kau yang membuat bajuku basah, bodoh! Kau! Kau dengan sepeda jelekmu itu membuat baju dan rambutku basah.” Kataku sambil menunjuk genangan air yang tadi dilewatinya.

“Ahh! Chaesungeyeo! Jeongmal chaesunghamnida. Aku…aku benar-benar tidak sengaja.” Ia membungkuk minta maaf padaku.

“Hanya minta maaf?”

“Lalu, kau mau aku melakukan apa?”

Benar juga! Apa yang harus ia lakukan? Ahh! Tidak. Kau tidak boleh mengalah begitu saja, Sulli-ah!

“Ganti bajuku yang basah ini. Bajuku ini sangat mahal dan sensitif. Kau sudah mengotorinya dengan air kotor itu.”

Namja itu tertawa. Kenapa dia tertawa? Apa ada yang lucu? Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mau apa dia? Aku pun memundurkan wajahku agar tidak terlalu dekat dengan wajahnya.

“Apa aku tampak seperti orang kaya yang bisa menghambur-hamburkan uangku hanya untuk mengganti bajumu yang mahal itu? Kau tahu! Untuk membeli bajuku sendiri saja, aku harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Lalu pertanyaannya, bagaimana bisa aku mengganti bajumu? Apa ucapan permintaan maaf saja tidak cukup bagimu? Kalau kau memang orang kaya, kehilangan satu baju saja tidak akan artinya bagimu. Aku benar bukan?”

Aku terdiam. Kata-katanya benar. Begitu selesai menyampaikan kuliah singkatnya, namja bersepeda itu mengayuh sepedanya lagi dan pergi. Aku menatap punggungnya yang perlahan menjauh.

“Sepertinya aku sudah keterlaluan tadi.”

Eunhyuk POV

Seperti biasa, malam ini aku bekerja di cafe lagi. Ahh! Bukannya itu member boys band yang terkenal itu. Choi Nichkhun. Namja yang terkenal itu duduk sendiri di sudut cafe. Ahh. Senangnya jadi artis. Di tengah keramaian seperti ini, dia terlihat bersinar. Semua orang memperhatikannya. Beberapa fans menghampirinya dan meminta tanda tangan atau foto dengannya. Namun yeoja-yeoja itu langsung pergi begitu seorang yeoja cantik menghampirinya dan duduk di depannya.

Ommo! Bukankah yeoja itu yeoja yang tadi siang aku temui di jalan. Yeoja yang marah-marah karena bajunya basah. OMMONA! Jadi dia adalah Yoon Sulli, yeojachigu Choi Nichkhun. Beberapa bulan yang lalu, dengan terang-terangan Nichkhun mengumumkan hubungannya dengan Sulli, putri pemilik SM Entertaiment. Agensi artis terbesar di Korea.

Ahh! Benar-benar pasangan yang serasi. Yang satu tampan, yang satu cantik. Bagaikan Pangeran Berkuda dan Putri Kerajaan.

Setengah jam sudah aku memperhatikan kedua orang itu makan. Tiba-tiba aku melihat ekspresi Sulli berubah. Yeoja itu yang tadinya ceria dan penuh senyum kini terlihat sedih. Ada apa dengannya? Ommona! Nichkhun berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan Sulli sendirian di sana. Aku melihat punggung yeoja itu bergoncang. Sepertinya dia menangis. Ahh! Apa-apaan aku ini? Kenapa aku jadi ikut campur begini.

Jam 12 malam, jam kerjaku sudah habis. Waktunya pulang. Setelah mengganti seragamku dengan baju biasa aku bergegas meninggalkan cafe. Namun langkahku terhenti ketika melihat Sulli masih ada di sana. Ia masih duduk di tempatnya sambil melamun. Apa dia tidak mau pulang? Ini sudah malam. Ahh! Kenapa aku jadi mencemaskannya.

Aku menghampirinya. Namun sepertinya ia tidak melihat kedatanganku. Aku melihat air mata jatuh dari mata indahnya. Ahh! Dasar cengeng. Kenapa dia menangis di cafe seperti ini. Dasar tidak tahu malu.

Aku merogoh kantung celanaku dan mengeluarkan sebuah sapu tangan kemudian menyondorkannya kepada Sulli. Yeoja itu menatap sapu tanganku.

“Pakailah! Untuk menghapus air matamu.”

Yeoja itu menatapku.

“Kau? Mau apa kau di sini? Kau mengikutiku sampai di sini?” tanyanya. Dasar bodoh!

“Yaa! Jangan GR kau. Aku bekerja di sini.”

Dia tertunduk.

“Aku melihatmu menangis sendiri di sini. Jadi aku berikan sapu tangan ini. Tapi kalau kau tak mau memakainya, ya sudah. Aku pergi.”

Dengan cepat ia menyambar sapu tanganku. Ia menutup wajahnya dengan sapu tanganku dan mulai menangis dengan keras.

“Yaa! Kau ini kenapa sebenarnya? Uljhiman. Jangan menangis seperti itu. Orang-orang akan salah paham padaku nantinya.”

Sulli. Yeoja cengeng yang tidak tahu diri. Tadi siang dia memarahiku, sekarang dia menangis di hadapanku dan memintaku untuk mengantarnya pulang. Sekarang dia ada di belakangku. Duduk manis di sepedaku.

“Jadi, Nichkhun memutuskanmu?”

Dia diam.

“Hahahahaha…..”

PLOKK!! Dia memukul punggungku. Aww!! Sakit juga. Walaupun kecil dan kurus, tenaganya besar juga.

“Jangan tertawa kau! Kendalikan saja sepedamu dengan benar. Aku tidak mau jatuh denganmu.”

“Baik tuan putri. Tapi, kau benar-benar kasihan ya? Nichkhun memutuskanmu karena ia suka pada Sohee Wonder Girls. Hahaha…Tentu saja! Sohee jauh lebih cantik darimu!”

“TURUNKAN AKU!!” teriaknya.

“Bwo? Kau mau turun? Turunlah! Dan pulanglah sendiri.” Kataku menghentikan sepedaku.

“Aku….Kenapa kau mengatakan Sohee lebih cantik dari aku? Aku lebih cantik dari Sohee. Bahkan aku terlalu cantik untuk Nichkhun. Dia sama sekali tidak pantas denganku! Kau mengerti?”

Ahh! Benar-benar yeoja sombong.

“Ahh! Kurae. Terserah kaulah. Yang penting hatimu senang dan tidak menangis lagi. Kau terlihat sangat jelek saat kau menangis. Cepat naik. Aku harus buru-buru mengantarmu dan pulang ke rumah.”

Dasar cengeng. Dia benar-benar gadis yang manja. Bagaimana bisa dia menyuruhku mengantarnya? Dia pikir aku temannya? Aku kan baru saja mengenalnya. Tapi, kenapa aku menurutinya begitu saja? Ahh…Benar-benar malam yang aneh.

TO BE CONTINUED………….

Pertama-tama author mau berterima kasih kepada Tuhan karena…(apa-apaan ini?Pidato wisuda)…CUT! CUT!

Auhtor mau say thank you buat saeng NUKE OKTAVIARINI. Karena tanpanya FF ini ngak akan pernah bisa di-posting. Makasih buat COVER-nya yang awesome dan makasih juga karena udah mau posting FF ini (Ketahuan deh kalo cuman nitip).

Kedua author mau terima kasih sama readers yang udah mau baca FF yang KEPANJANGAN ini (#bow…Miyaneheo kalo kepanjangan)..

Oh ya…Jangan lupa peraturan utama FF ya (Read, Comment, or Like)

Gamsa~~~

37 thoughts on “Shining Star (A SM Town’s Version of Dream High)

    • Ne…Gamsa udah suka *wink*
      Uhh…ohh…ngak ada chingu…
      Ini semua hanya fiktif belaka…hahahaha

      note : Ini author..cuman ganti username

    • Hahahaha…Iya chingu…
      Author akuin castnya bejibun…hehehehe…
      Tapi kalo udah baca part selanjutnya pasti ngak bakal bingung lagi…
      #promosi

      author

  1. Annyeon chingu! Shining star bagus!!! Daebakk!!! Lanjutiin!! Penasaran ama seohyun sama kyuhyunnya. Ama jieun ama donghae! Daebakk dah! Aku berasa jadi cast cewek yang ada di ffnya ehehe :D. Jan lama lama post part 2 nya yaa!! >< Hwaiting nulis lanjutannya ya! Maap aku kepanjangan komennya karena semangan bangeet!

    • Hehehehe…Miyan baru bles commentnya chingu…

      Gumawo banget udah RCL chingu..
      Ne..Author juga jadi berapi-api nih ngelanjutinnya soalnya readernya pada suka #Geer

  2. Annyeon chingu! Shining star bagus!!! Daebakk!!! Lanjutiin!! Penasaran ama seohyun sama kyuhyunnya. Ama jieun ama donghae! Daebakk dah! Aku berasa jadi cast cewek yang ada di ffnya ehehe :D. Jan lama lama post part 2 nya yaa!! >< Hwaiting nulis lanjutannya ya! Maap aku kepanjangan komennya karena semangat bangeet!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s