[CHAPTER] From Radio In Love – Streaming 4 (END)

(cover by : aquaticshineeworld.wordpress.com)

Title : From Radio In Love

Author : ReeneReenePott

Main Cast : Choi Minho, Bae Suzy

Supporter cast : Kim Jong Hyun, Luna, Choi Siwon, Im Yoona, Dan yang lain (temukan sendiri)

Length : Sequel

Genre : Romance, School Life, Friendships, Family

A/N: LAST PART ini akan lebih panjang, dan paling panjang dari part-part sebelumnya hehehehe.. karena itu.. ayooo komennya!! ^^

STREAMING 4 – END

Suzy POV

Aku ternyata benar-benar merasakan penyesalan yang sangat terlambat, penyesalan yang sangat dalam. Mungkin baru sekarang aku harus menarik kata-kataku dan menelannya bulat-bulat,  ‘aku tak akan pernah menyukai si Monster sunbae itu’. Nyatanya aku malah baru menyadari kalau aku mulai menyukainya. Heishh…

Mungkin ini juga akibat kecerobohanku, ya, aku memang pantas mendapatkannya. Mungkin aku harus merelakan Luna dengan Minho sunbae? Ya, mungkin itu yang seharusnya kulakukan. Bae Suzy pabo ya!! Dengan tatapan sedih aku menjatuhkan pandanganku ke atas rerumputan yang tersebar di seluruh taman. Membiarkan pikiranku terlepas, namun entah kenapa lama-lama aku merasa ngantuk. Mataku memberat, dan tiba-tiba semuanya menghitam. Kupikir aku akan terjatuh, namun sepertinya ada yang menopangku? Biarlah…

__

Aku berjalan menuju gerbang, cukup stress karena Matematikaku menurun 2 poin. Sambil berjalan tanpa nyawa, pandanganku jatuh ke atas sepatu yang terus melangkah entah kemana. Sedari tadi, Luna hanya diam terus. Aku menanyakan kenapa dia, ia malah hanya tersenyum. Huffttt… benar-benar aneh dia!

Aku mendongak, memastikan agar kepalaku tidak membentur tiang. Namun sudut mataku menangkap sesuatu. Luna? Bersama Jonghyun sunbae?? Lalu Minho sunbae kemana? Aku memiringkan kepalaku sejenak. Benar, itu Luna dan Jonghyun sunbae. Ya kan?

Kini mereka berdua tengah bercanda sambil bersender di motor Jonghyun sunbae. Tunggu, tadi ia dengan Minho sunbae, dan sekarang dengan Jonghyun sunbae? Woahhh… jincha daebak! Dua sunbae sekaligus! Aku memerosotkan bahu. Hah.. aku pusing, aku hanya butuh butuh ketenangan sekarang!!!

Lupakan nilai matematika butut itu, lupakan sikap aneh Luna, dan lupakan si Monster sunbae itu!

Author POV

Yoona terengah-engah ketika ia sudah menapakkan kakinya di lobby Incheon International Airport. Rambutnya yang diikat satu terlihat kusut, sementara ia hanya menggunakan kaus dan jeans panjang. Matanya menjelajah ruangan itu, berharap sosok yang diharapkannya belum masuk ke gate penerbangan.

Ia melangkah lebih ke dalam, mencari namja dengan sosok yang tinggi dan menawan. Matanya liar menjelajahi ruangan yang sangat luas itu, sambil ikut mengambil langkah lebar dan berputar agar pengawasannya lebih sempurna. Ia berlari lagi, dan tiba-tiba ia menubruk seseorang.

“Aigoo, jonsonghamnida,” seru Yoona sambil membungkuk.

“Gwaenchanna,” jawab orang itu. Yoona mendongak, matanya membulat seketika.

“Eh….”

“Kau, Im Yoona, kan?” kata orang itu memastikan. Yoona menelan ludah dengan susah payah. Orang yang di carinya ada tepat dihadapannya.

“Errr…. Ne,”

“Untuk apa kau di sini?” tanya namja itu, yang tak lain tak bukan adalah Choi Siwon. Yoona gelagapan.

“A… aku…” Yoona mengedip-ngedipkan matanya sejenak, lalu menghembuskan napas pelan. “Aku mencari sunbae,” ujar Yoona yang membuat mata Siwon membulat seketika.

“Mwoya? Nan?” tanya Siwon bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Ne,”

“Untuk apa?” tanyanya lagi. Tanpa sadar Yoona menahan napas. Baiklah, kalaupun aku di tolak, kupikir memang harus sekarang. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.

“Nan…. Naega joahae,” kata Yoona pelan sambil menunduk. Siwon melongo. Namun sedetik kemudian ia tersenyum.

“Akhirnya kau mengatakannya juga,” ujarnya yang membuat Yoona tersentak.

“Mwo?” serunya. Siwon hanya tersenyum menenangkan.

“Dongsaengku sudah bilang, Im Yoona. Aku tahu perasaanmu padaku,” kata Siwon sambil menggenggam tangan Yoona. Ia memainkan jari-jari Yona dalam genggamannya, lalu tersenyum menatap Yoona.

“Nado…” balasnya yang langsung membuat wajah Yoona menjadi semerah kepiting rebus. Ia terpaksa harus menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.

“Kalau kau sudah tahu, kenapa kau tidak bilang?” tanya Yoona pelan. Jelas dari tangannya yang bergetar, Siwon merasakan Yoona menggunakan segenap keberaniannya.

“Kalau aku bilang lebih dahulu, aku tidak tahu apakah kau berani memperjuangkan perasaanmu atau tidak,” jawab Siwon lugas. Yoona mendongak menatap Siwon. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Perlahan telapak tangan Sion menyentuh pipinya, mengusapnya dengan lembut. Lalu ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Yoona, dan mengecup bibirnya. Beberapa detik kemudian Siwon melepaskannya, dan menatap Yoona. “Halke,”

“Ne…”

“Aku akan kembali setelah beberapa minggu, oke?” kata Siwon lagi. “Dan setelah itu, maukah kau bertunangan denganku?”

Wajah Yoona benar-benar merah sekarang. Ia hanya mengangguk sambil mengusahakan seulas senyum, meski sedikit sulit karena ia merasa sangatt malu.

__

Keesokan harinya, ketika Suzy memasuki kelas, pertama yang dilihatnya adalah Luna yang tengah membaca ensiklopedi (lagi). Ia menimbang sejenak, dan setelah memastikan dan memantapkan hatinya, ia melangkah mendekati Luna dan menghempaskan tubuhnya di kursi samping Luna.

“Luna-yah…” panggil Suzy pelan. Tanpa melepaskan pandangan dari buku yang tengah di bacanya, Luna hanya bergumam.

“Hm?”

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Suzy lagi. Luna merenyit. Ia merasa aneh, kenapa tiba-tiba Suzy menjadi seperti berhati-heti ketika berbicara? Biasanya ia selalu ceplas-ceplos.

“Boleh, memang mau tanya apa?” balas Luna lagi, lebih santai.

“Kau menyukai Minho sunbae atau Jonghyun sunbae sih?” tanya Suzy yang membuat Luna terpaku. Cepat-cepat ia menolehkan kepalanya menatap Suzy. Bibirnya hanya membuka dan menutup tanpa suara.

“Memangnya ada apa?” tanya Luna. Suzy menggigit bibirnya.

“Kemarin kau…”

“Tolong Suzy, kau jangan salah paham dulu….” Potong Luna sedikit cemas. Suzy menatapnya tak percaya.

“Lalu apa yang harus kucerna, Luna? Kau tahu, aku memang sedikit lancang bila terus menerormu dengan pertanyaan macam itu. Tapi aku hanya ingin tahu ada apa,” balas Suzy. Luna tak menjawab. Suzy menghela napas lagi.

“Baiklah, aku mengakui aku menyukainya, tapi kali ini akan ku serahkan padamu,” kata Suzy pada akhirnya.

“Nugu…?” jawab Luna pelan. Suzy melemparkan pandangan kemana saja.

“Minho sunbae,” jawabnya singkat dan langsung berlri keluar kelas. Luna melongo. Seulas senyum terlukis di bibirnya.

“Ck, anak itu…”desah Luna agak kesal. “Benar-benar pabo,”

__

Suzy menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia kena marah lagi oleh Minho. Kali ini karena jadwal yang tertukar. Ia membungkam mulutnya, moodnya memang sedang tidak baik hari ini. Di tambah dengan kekesalannya pada Minho, membuatnya semakin ingin menendang sesuatu. Kalau emosinya tidak ia tahan, bisa-bisa Minho di tonjoknya hingga babak belur.

Ia sendirian lagi. Luna tidak ia temukan di manapun. Dengan napas berat, ia melangkah menelusuri koridor yang ramai karena haksaeng-haksaeng yang sedang beristirahat. Ia tidak memerdulikan itu, karena sekarang tujuannya adalah kelasnya dengan tempat duduk yang siap menjadi tatakan ilernya, karena jelas ia ingin tidur saat ini.

Ketika ia mendongak agar jalannya tidak menabrak salah satu haksaeng atau siapapun, lagi-lagi matanya menangkap sepasang yeoja dan namja yang tengah ebrjalan berdua sambil mengobrol bersama. Ia merenyitkan keningnya. Bukankah itu Luna dan Jonghyun sunbae? Lagi? Suzy mempercepat langkahnya, hendak menghampiri kedua orang itu.

“Luna-yah…” panggilnya ketika ia sudah tepat dibelakang Luna. Yang dipanggil menoleh dan tersenyum.

“Ne?”

“Aku ingin berbicara sebentar padamu,” kata Suzy sambil melirik Jonghyun. Jonghyun memasang tampang bingung, namun ia akhirnya mundur beberapa langkah, sambil tetap memperhatikan dua yeoja di depannya.

“Kau bersama Jonghyun sunbae lagi? Bukankah seharusnya bersama Minho sunbae?” cerca Suzy keras. Luna melongo, lalu terbahak.

“Mwo? Aku? Dengan Minho sunbae? Astaga Suzyyy…”

“Lah?”

“Begini, Suzy-ku sayang. Beberapa waktu lalu, Minho sunbae memanggilku, dan menyuruhku mengikutinya karena,” potong Luna sambil melirik Jonghyun yang ada di belakangnya. “ia disuruh Jonghyun untuk memanggilku,”

“Hah?”

“Ck, lagipula, Suzy. Aklu sudah pernah bilang, kan? Aku tidak suka dengan Minho sunbae. Yang suka kan kau,” balas Luna santai sambil menatap Suzy jahil.

“Kau… tidak sedang bercanda, kan?” kata Suzy akhirnya. Luna mengangguk.

“Lagi pula, Cuma waktu itu aku berbicara dengan Minho sunbae. Tidak mungkin dong aku suka dengannya, pikirlah, Suzy,”

“Jadi aku ini cemburu yang cemburu bodoh? Astaga.. Bae Suzy, kau sudah kehilangan harga dirimu,” cetus Suzy elan kepada dirinya sendiri. Luna terkekeh.

“Tapi, aku puas juga. Akhirnya kau mengatakan bahwa kau menyukai Minho sunbae, ya kan?” mau tak mau Suzy mengangguk malu.

Jonghyun melangkah mendekati kedua yeoja itu, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku. “Hei, kalian, sudah belum?”

“Jadi, Minho sunbae itu hanya membantuku…” kata Luna lagi. Jonghyun menyeringai. Sepertinya ia tahu apa yang sedang dibicarakan oleh kedua yeoja itu.

“Tidak, membantuku agar kau mau pergi bersamaku,” potong Jong Hyun mengoreksi jawaban Luna. Suzy melongo.

“Oh.. ne. mian sudah salah sangka. Aku memang pabo. Hanya begitu saja sudah cemburu,” kata Suzy.  Baiklah, kalian lanjutkan saja pacarannya, mian yah sudah ganggu,” celetuk Suzy lalu kabur secepat kilat.

“Ya!!!! Aku masih pedekate tau! Kami belum jadian!” seru Jonghyun sebal. Pipi Luna bersemu merah, sementara Suzy hanya menunjukkan merhongnya dan kembali ke kelasnya.

Suzy POV

Bullsh*t! Apa-apaan ini? Sonsaengnim ini mau mencekikku atau apa sih? Masa iya aku harus melaksanakan piket umum setiap hari? Aku tahu, ini adalah acara akhir tahun, dan dikerjakan harus dengan sangat-sangat-sangaaat sempurna—kata Lee sonsaengnim. Baiklah. Mungkin yang harus mengalah adalah kegiatan klub. Lihat saja, jadwalnya benturan begini! Sunguh, aku lebih tidak mau kena marah Lee sonsaengnim daripada kena marah sama si Monster.

“Bertabrakan dengan jadwalmu, eh?” Luna tiba-tiba menyeletuk. Aku meliriknya.

“Yep, dan sepertinya aku akan kena oceh lagi,” sahutku sambil bergidik.

“Tenanglah, aku yakin dia tidak akan marah. Ia pasti juga kebagian tugas,” sahutnya tenang. Masalahnya kau tidak pernah bergaul-selama-setahunpenuh-diruangyangsama-danwaktuyangsama-dengannya Luna! Hadehh.. kepalaku rasanya mau pecah…

“Dicoba saja dulu, mungkin ia mengijinkan,” kata Luna lagi. Aku menghembuskan napas berat. “Hey, ngomong-ngomong, bagaimana perkembanganmu dengannya?”

“AISH!! LUNA! BERHENTILAH MEMBICARAKAN ITU!”

“Hehehe.. ne! ne!”

 __

Luna memandangku yakin dari balik pilar. Aku meliriknya, harap-harap cemas, karena 99,9% usahaku sepertinya akan sia-sia. Dengan tangan bergetar aku melangkah masuk ke dalam ruangan klub. Seperti yang kuduga, ia ada di sana, ditempat yang sama, dan mengutak-atik hal yang sama. Oke, semua anggota klub hapal akan kebiasaannya, oke?

“Er… Minho sunbae,” panggilku ragu. Ia tersentak, lalu membalikkan tubuh. Dan—sepertinya—terkejut melihatku.

“Oh, Suzy. Wae?” tanyanya, dengan nada datar sepeti biasa.

“Aku dapat tugas piket untuk seminggu ini. Bisakah aku mengambil cuti seminggu ini, saja?” pintaku sedikit memohon padanya. Oke, ini adalah yang PERTAMA dan TERAKHIR kali aku memohon padanya seperti ini.

Ia menggerak-gerakkan alisnya, dan menatapku tajam. Sementara yang ditatap—yaitu aku, tentu saja—dengan susah payah berusaha menelan air liurku.

“Seminggu saja, otheyo?” kataku lagi, lebih pelan.

“Jadi kau memberikan tugasmu kepada orang lain tanpa bertanggung jawab seperti itu?” balasnya dingin. Aku langsung membeku.

“Aku akan menggantikan sift sore…”

“Tidak usah,” potongnya dingin. Lalu berbalih membelakangiku. “Aku tidak perlu anggota yang tidak bertanggung jawab,” kalian tahu? Mendengarkan kata-katanya saja sudah membuat kepalaku pusing dan hampir panas dingin.

“Lalu… sift sore?”b tanyaku berusaha menahan air mata yang hendak jatuh ini. Yah, memang secara tidak langsung ia ingin mengatakan bahwa ‘kau keluar saja dari klub’ atau ‘kau benar-benar tak berguna’.

“Aku dan Jaekyung yang akan mengisinya,” sahutnya dingin.

“Ne. gamsahamnida sunbae,” jawabku lirih, dan tanpa harapan, melangkah keluar ruangan itu dengan langkah berat. Mungkin ini terakhir kalinya aku menjadi penyiar di sini.

“Ottheyo? Kau diperbolehkan?” tanya Luna semangat. Aku menatapnya lesu.

“Lebih dari itu. Posisiku terancam,” sahutku singkat lalu melangkah tanpa tujuan ke gerbang sekolah.

“Luna-yah!” sebuah suara berat menyapa dari arah ruang kelas XII. Oh, tentu saja. Jonghyun sunbae. Kau datang di saat yang pas sekali.

“Sudah ya, kuharap kencan kalian menyenangkan,” ucapku melantur karena depresi.

Author POV

Seminggu kemudian…

Suzy dan Luna tengah menggotong sebuah tong sampah besar yang berisi beberapa material ‘kotoran’ kelas. Suzy dan Luna sampai heran, setiap hari ada piket kelas, tapi kenapa di akhir tahun selaluu saja sampah menumpuk seperti ini. Kerikil kecil, debu, daun kering, tissue bekas, dan beberapa sobekan kertas.

“Astaga Luna, kelas ini benar-benar parah..” gerutu Suzy. Tong yang tengah mereka gotong ternyata sudah terisi setengahnya, dan tentu saja membutuhkan tenaga perkasa untuk mengantar tong ini ke tempat penampungan yang ada di sisi lain sekolah. Dan pastinya ini membuat Suzy melongo. Kelas mereka notabene merupakan kelas paling ujung sekolah dan paling reseh, sementara ia harus menggotong ini berdua ke sisi lainnya?

“Yah, ini kan memang sudah tradisi,” sahut Luna kalem. Beberapa haksaeng lain berpenampilan sama seperti mereka. Berkeringat, dengan wajah lelah, dan sama-sama membawa tong sampah dengan 75% isi yang sama. Material yang menumpuk di kelas selama setahun.

Mereka berdua bekerja sama untuk mengangkat biokong tong itu tinggi, dan menumpahkan isinya ke tempat penampungan. Luna merenyit ketika debu terasa mulai memasuki lubang hidungnya.

“Hatchiii!!”

“Ya! Luna! Ini tongnya jadi berat sebelah!” tanpa sadar ternyata Luna melepas pegangannya dari tong, membuat Suzy tersentak kalerna tong itu terbanting ke bawah. Luna mengusap hidungnya sambil nyengir.

“Hehe. Mianhae,”

“Ayo, kita kembali ke kelas lagi!” ajak Suzy yang disambut anggukan dari Luna.

“Akhirnya!!!” desah Luna dan Suzy bersamaan dengan perasaan lega luar biasa. Kini berakhirlah sudah seminggu penuh cobaan, dan kini mereka terkulai lemas di meja masing-masing.

“Annyeong yorobeun, kalian pasti sedang membersihkan kelas, ya kan?”  suara Hongki yang ramah terdengar melalui speaker yang terpasang di ruangan itu. “Pasti kalian sangat lelah. Yah, untuk menghibur sebentar, Minho, apakah aku boleh membawakan beberapa lelucon sekarang?” dan kata-kata itu sukses membuat Suzy terbahak, begitu pula Luna.

“Well, sepertinya aku tidak bisa, Minho sedang menatapku tajam,” dan kali ini tawa Luna mengeras, namun air muka Suzy semakin menunjukkan ekspresi miris.

“Oh ya, ada beberapa surat yang masuk, waduh! Kenapa tiba-tiba ada Noname di sini? Bukankah ia selalu mengirimnya pada Suzy?” tubuh Suzy menegang mendengar nama Noname itu. Apakah si ‘Noname’ mengetahui bahwa ia akan vakum selama seminggu? Ah, seminggu hampir berlalu juga.

“Oke deh, karena surat ini masuk paling pertama, maka akan paling pertama untuk dibacakan. Wow! Isinya cukup mengejutkan. ‘Untuk Suzy yang sedang bersih-bersih kelas, semangat!’ waduh, apa jangan-jangan ada semacam hubungan di antara mereka ya?”

“Well, sepertinya aku bisa menebak siapa Noname itu,” Luna berdeham cukup keras, membuat Suzy merenyit.

“Apaan sih?”

“Tapi kau belum menemukan siapa itu Noname, kan?” kata Luna yang membuat Suzy menggeleng polos.

“Dan… waduh, kok ini dari Kevin? Isinya, ‘Suzy, debunya jangan kau makan ya,’ hahahaha… Suzy, kau sangat laris di sini!”

“Wah, wah, wah, anak ini mau ngajak berantem!” Suzy langsung bangkit dari duduknya, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas.

“Kevin selalu seperti itu, Suzy,” kata Luna sabil berusaha menyembunyikan tawanya yang hampir membludak. “Tapi banyak sekali yang mengirim pesan untukmu,” goda Luna yang membuat Suzy mendelik sebal.

“Diamlah Luna,”

__

Suzy sedang berbincang dengan Luna di kantin ketiak seorang haksaeng yeoja menghampiri mereka. Suzy menoleh, dan sedikit terkejut, lalu tersenyum.

“Yoona sunbae,” sapa Suzy ramah. Yeoja dihadapannya hanya tersenyum. “Ada apa sunbae?” tanya Suzy lagi, yang membuat wajah Yoona lebih berseri lagi.

“Igeo, aku ingin memberikan ini untuk kalian berdua,” kata Yoona sambil mengeluarkan dua buah undangan dengan sampul pink pastel dengan ornamen pita-pita perak. Suzy dan Luna serempak meraihnya, dan membacanya dengan teliti sejenak.

“Woah, kau akan bertunangan dengan Siwon sunbae, yah?” celetuk Luna yang kembali membuat pipi Yoona bersemu merah.

“Hehehe…”

“Wah, chukkae!”

“Jadi, kalian mau datang, kan?” tanya Yoona sekali lagi.

 “Tentu saja,”

“Baiklah. Annyeong~” ujar Yoona sambil melangkah menjauh.

Suzy POV

Oke. Ini pertama dan terakhir kalinya aku mau didandani oleh Luna! Sungguh, aku tak dapat membayangkan seperti apa rupaku sekarang, dengan dress selutut tanpa lengan berwarna coklat muda, dan sebuah sabuk pita putih besar di daerah pinggang. High heel 5 cm berwarna senada yang membuatku cukup sempoyongan. Danrambut yang diikat setengah, serta make up. Waw! Suzy yang dulunya berantakan telah berubah!

“Wah! Kau cantik sekali, Suzy!” seru Luna senang, sementara aku menatapnya takjub. Ia memakai dress selutut dengan lengan off shoulder berwarna biru muda. Tatanan rambut, wajah, serta sepatu, semuanya perfect!

“Kau juga,” balasku pelan.

“Kkaja, Jonghyun sunbae sudah menunggu di depan!” ujar Luna girang sambil menarik lenganku.

“Mwo? Jopnghyun sunbae?” pekikku tak percaya. Luna mengangguk kalem.

“Ne, tenang saja, kau tidak akan menganggu kami kok,”

“Baiklah,” jawabku pasrah dan berjalan mengikutinya.

@the party…

Aku mengerucutkan bibirku kesal. Sepertinya aku benar-benar hanya datang ke sini, menikmati hidangan, lalu pulang. Persis eomma dan appa bila kondangan (??). Alunan musik waltz mengalun, dan aku hanya menatap kosong ke arah pasangan-pasangan yang tengah berdansa dengan anggunnya. Dan tiba-tiba aku menangkap sesosok namja di sudut ruangan. Aku meiringkan kepalaku, dan memsatikan bahwa dia itu… Sunbae Monster. Wah, ia juga di sini?!

Ia melihatku, aku yakin ia melihatku. Tapi kenapa ia memalingkan wajahnya? Haish, masa bodo lah. Kini pandanganku berputar-putar mencari sesosok pasangfan yang telah mengundangku hingga sampai ke tempat ini. Tentu saja Yoona sunbae dan Siwon sunbae. Baru saja aku menemukan sosok mereka, tanganku sudah diseret. Mwoya?

“Kya…” pekikku tertahan dan langsung menoleh cepat. “Waeyo Luna?”

“Ayo kita berdansa!” sahutnya gembira. Aku melongo.

“Kita tidak mungkin berdansa Luna, kalau tidak mau dianggap pasangan aneh,” balasku sedikit bingung.

“Maksudku bukan seperti itu! Lihat ke sana! Minho sedang sendiri! Lebih baik kau berdansa dengannya!” ujarnya cepat. Aku membuatkan mataku.

“Mwoya? Kau gila? Andwae andwae maldo andwae. Sirreo. Aku tidak mau,” tegasku. Luna melengos kesal dan tetap menyeretku. “Luna! Kau gila?!” jeritku.

“Tidak aku tidak gila. Kau saja yang gila,” balasnya cuek.

“Ya! Aku masih waras tau!” sahutku kesal. Luna menatapku seksama lalu berbalik pergi.

“Nikmati malam ini ya,” katanya yang membuatku bingung. Aku celingak-celinguk, haish, sudahlah ini hanya kegilaan Luna yang tidak kesampean…

“Suzy-ah…” sebuah suara membuatku menoleh. Wew. Sesosok tinggi ternyata menghalangi pandanganku. Jangan bilang kalau dia itu…

“Minho sunbae?” tuhkan, mulutku sudah nyeplos duluan. Untung saja tebakanku benar, kalau salah bisa malu tujuh turunan coy!

“Mau berdansa bersama?’ tanyanya sambil mengulurkan tangan. Aku melongo. Aku tidak sedang bermimpi, kan? Mana Minho sunbae yang seperti Monter itu, yang selalu ngoceh tak guna dan selalu melemarkan pandangan dingin?

“Err.. ye.” Jawabku ragu dan menyambut uluran tangannya.

“Kau bisa dansa, kan?’ tanyanya tiba-tiba yang membuatku mengadah menatapnya kaget.

“Mwo?”

“Memalukan kalau kakiku terinjak di saat seperti ini,” balasnya pelan.

“Kalau begitu ngapain kau mengajakku berdansa eoh?” balasku sambil berkacak pinggang. Ia hanya nyengir. What?! Nyengir? Pertama kali aku melihatnya nyengir seperti orang bodoh seperti ini!#plakk. Dan, well, jantungku ternyata tak bisa diajak kompromi.

“Sekali-sekali aku yang di comblangin, biar aku  bisa ngerasaain gimana rasanya dicoblangin, tidak nyomblangin terus,” katanya yang membuatku melongo. Astaga, ternyata dibalik perkerjaannya sebagai ketua klub radio, ternyata dia juga seorang mak comblang? Astaga…

“Hah? Jadi? Luna dan Jonghyun sunbae itu hasil comblangan…”

“Ku,” sambungnya yang membuatku benar-benar shock. Astaga.. aku butuh udara untuk bernapas… “Oh ya, mengenai klub radio, kalau kau vakum lebih dari 2 minggu kau akan kukeluarkan,” ujarnya tiba-tiba menjadi dingin.

“MWOYA?” jeritku tidak terima.

END

 ~<3~<3~<3~

EPILOG

Seminggu sudah berlalu. Namun aku tak kunjung mendapat kabar tentang jadwal siaran. Apakah aku benar-benar akan dikeluarkan kah? Astaga, jangan sampai.. ekskul lainnya tak ada yang menarik untuk diikuti! Aku melangkah menelusuri koridor menuju ke ruang klub, yah sekedar mengecek jadwal siaran. Semoga aku masuk ke dalam jadwal, hehehe

Klek..

“Hongki sunbae?” sapaku.

Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Biasanya yang mendapat jatah siaran sore seperti ini Hongki atau Joon sunbae. Tapi mana mereka? Ah, mungkin mereka sedang membereskan tas mereka dikelas. Aku melangkah keluar menuju ke kotak suratku. Setelah membuka gemboknya, aku tertegun.

Wehh?? Kotak pesanku kok penuh ya?? Padahal seminggu aku tidak masuk. Tanganku meraih tumpukan surat dengan kertas berwarna biru itu. Apakah noname? Ah, aku terlalu banyak berharap. Lebih baik kubaca saja deh…

‘Seminggu terasa lama untukku,’

‘Tanpa sadar, bayanganmu selalu melekat di kaca siaran itu,’

‘Susy-ah, kapan siaran lagi? Aku rindu suara cemprengmu yang menggelegar itu.’

‘Suzy…’

‘Kau memang suka telat, tapi aku harus sekuat tenaga untuk memarahimu.’

‘Boleh aku jujur? Aku suka padamu.’

Apa? Semuanya hanya kalimat seperti ini? Dan tanpa nama pengirim? Siapa sih yang mengirimnya? Membuatku penasaran saja. Kalau Kevin, ah, tidak mungkin. Ia sukanya mengirimiku surat dengan kertas berwarna orange.

“Kau keberatan dengan isinya?” sebuah suara berat mengejutkanku. Aku berjengit dan hampir tak bisa bernapas. Dia?!?!

Baiklah, sekarang aku sangat terkejut. Sangat sangat sangat sangat terkejut. Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Semuanya sangat mendadak. Benarkah ini semua? Bukan mimpi kan? Astaga, jantungku sudah meggedor-gedor rongga dadaku. Kumohon, kalau ini mimpi, cepat sadarkan aku…

“Mianhae…” ujarnya lagi. Aku tetap mematung. Sungguh, untuk mebgucapkan satu kata saja terasa sangat berat bagiku. “Kau memang sering kumarahi, namun bukan berarti aku membencimu. Kau sebenarnya bagus, hanya saja aku bingung bagaimana harus berbuat di hadapanmu,” ujarnya lagi.

“A…” sepertinya hanya itu kata yang mampu keluar dari mulutku. Astaga…

“Dan kupikir surat-surat itu mewakili apa yang kurasakan terhadapmu,” katanya lagi. Aku menoleh menatapnya cepat.

“Noname itu kau ya?” Entah dari mana kau mendapat keberanian untuk mengatakan itu. Yang penting sekarang aku sudah bertanya!

“Ne,” jawabnya yang membuat perutku serasa ditonjok. Mual. Pusing.

“Oh…”

“Saranghae..” ujarnya tiba-tiba dan melangkah mendekatiku. Tangannya terulur menggenggam tangaku. Dan akunya sendiri panas dingin.

“Nado…” jawabku pelan sambil menunduk. Bisa kutangkap seulas senyum di bibirnya, dan ketika aku mengadah kembali menatapnya, sesuatu yang lembab sudah mencapai bibirku.

Dan aku seperti disengat listrik sekarang.

END

Akhirnyaaaahhh ini FF nista kelar hohoho… Mianhae yah, kalo misalnya banyak typo ato ending kurang memuaskan. Ini bikinnya emang ngebet dan sedikit dipaksain jadi kurang gereget gimanaaa gitu #plakkk. Mianhaeyoooo….. *bow* aku kasih penawaran deh. Mau dibuat epilognya gak??? Kalo mau kubuatin deh, untuk gantiin ending yang ini… Ottheyo?? Tapi kalo kalian sudah puas yah… Terserah deh… XD
Gamsahamnida yang udah komen di sepanjang FF ini. Jongmal gomawoyoooo….. Abow bow bow*

Komen kalian… Aku butuhkan sangat!! XD

38 thoughts on “[CHAPTER] From Radio In Love – Streaming 4 (END)

  1. Waaa daebak!!
    Aku blm smpet baca yg ke3, baru baca hr ini smpe last partnya. Jd mian~ klo ga komen d part3.
    Hahaha, lucuuu, Minho ternyata mak comblang XD ending yg memuaskan kok author, manis bgt *emg gula*.. Tp klo author mau buat epilognya, buat aja.. Pasti ga kalah seru. Sekali lg deh, DAEBAK!!! :)

    • Ehehe.. ne.. gwaenchanaaa~~ XDD
      Iyah, aku juga bingung, kok jadinya kayak gini, huehehehe #plakk
      jinchayo?? gomawoyooooo…
      Ne, epilognya lagi dibikin. tunggu yaa ^^
      gomawoo XD

  2. lho?ngebet?dipaksain?
    ngga!!sama sekali ngga thor!! its great :D
    ceritanya greger]t banget, aku suka sama alur ceritanya yang ngalun dan gaya bahasanya yang bikin aku cekikikan, aku suka karakternya yg kuat,, top markotop!!
    bikin ff lg ttg suzy y thor,, klo bisa sama taeminn,,hhe

  3. Baru nemu blog ini dan langsung jatuh cintaa~~~~~

    paling suka cerita ini! ceritanya sederhana, alurnya juga. tapi ada sesuatu yang menarik dalam cerita ini dan saya suka sekaliiiiiii~~~~~~~~~

    TOP BEGETE untuk yang buat cerita ini. Buat yang lebih bagus lagi yaaaa. Terutama perannya MINZY hehe

    Kamsamhamnida

  4. Ohh, jdi si noname itu minho toh.. Suka, happy ending..
    Daebak cingu-aa..
    Suka bgt, seru!
    Sering2 bikin ff yg main cast ny suzy ya..

  5. yg paling konyol typo yg “ketiak” ampe sempet gw baca 3 kali t’nyata mksd’a ketika lol overall gw sukaaaaaaaaaaaaaaaa emang gitu ciri2 cowo suka ama kita kkkyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s