[Chapter 1] Social Science

Author : burninganchovy (@meutiakbachnar) || Title : Social Science || Length : Chapter/Series || Rating : T || Genre : Romance, Friendship, School-Life || Main Casts : Kang Jiyoung, Kang Minhyuk, Jung Jinyoung, Sulli || DISCLAIMER : Sekali lagi, all of casts in this fanfiction are belong to God, their families, and their entertainments. But a whole story in this ff is mine. So, if you want to take this ff, don’t forget to write credit ^^ || Cuap-Cuap Author : Yaak, akhirnya chapter awal dari Social-Science ini keluar juga! Adakah yang menunggu FF ini? Hehe, karna udah lama banget nggak ngelanjutin beberapa FF yang udah bejibun *anak kuliahan~*, jadi agak-agak canggung nih buat nulis FF.  Oh ya, dan maaf banget kalo nama cast nya ada yang mirip & sempet ngebuat bingung T.T~ Tapi, buat yang mau komen, kritik, saran, silakan~ biar FF nya makin bagus lagi ^^v

 ~ HAPPY READING ~

[Chapter 1]

“Maaf, itu namamu kan? Kang Jiyoung?” tanya seseorang, membuat Jiyoung menengadahkan kepalanya dengan lemas.

            “Aku sudah tahu…”

            Jiyoung kembali menundukkan kepalanya. “Aku tak bisa masuk ke kelas Science seperti yang kuharapkan. Benar-benar bodoh!”

            Saat itu juga, Jiyoung menangis kencang tanpa mempedulikan lelaki yang ada di sampingnya—yang mungkin sekarang tengah memandanginya heran. Tapi Jiyoung tak peduli. Ia benar-benar putus asa dan sedih. Kesempatannya untuk bisa lebih dekat dan sekelas dengan Jinyoung sudah kandas.

“Hey, kenapa kau malah menangis?” tanya lelaki yang masih setia berdiri di samping Jiyoung. Saat ini, hanya mereka berdua yang masih terdiam di depan papan pengumuman.

            Jiyoung menghapus beberapa tetesan air mata yang sudah terlanjur membasahi kedua belah pipinya. Ia menghela napas, dan memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. “Minhyuk? Rupanya kau, Minhyuk…” ujar Jiyoung yang tidak begitu kaget ketika tahu bahwa lelaki yang persis ada di sebelahnya kini adalah Kang Minhyuk—teman sekelasnya.

            “Kenapa memangnya kalau aku?” balas Minhyuk, yang memang dikenal sebagai murid pendiam di kelas. “Kau berharap namja yang berada disampingmu sekarang adalah Jinyoung? Hm… Sayangnya, ini aku, Kang Minhyuk”

            Bola mata Jiyoung membesar dan mulutnya terbuka lebar. Dengan kedua pipi yang mulai memerah, Jiyoung kembali menundukkan kepalanya untuk menahan rasa malu. “Ah~ kau malah jadi tahu siapa pangeranku di sekolah ini~”

            Minhyuk tertawa pelan. Jiyoung sedikit kaget melihat pemandangan itu. Ia menatap Minhyuk yang masih ada di sebelahnya. Jarang sekali aku melihatnya tertawa, ternyata… seorang Kang Minhyuk yang tak banyak bicara itu masih bisa tertawa juga, gumam Jiyoung di dalam hati. Merasa dirinya dipandangi, Minhyuk pun menoleh ke arah Jiyoung dan menaikkan sebelah alis matanya—seolah bertanya, “Apa ada yang salah denganku?”. Dengan cepat Jiyoung menggelengkan kepalanya. “Em… Kau sendiri masuk apa, Minhyuk? Social? Atau Science?” tanya Jiyoung kemudian, sambil mulai mencari nama Minhyuk di papan pengumuman.

            “Wah! Daebak! Kau peringkat kedua setelah Jinyoung! Kau juga masuk kelas Science! Betapa beruntungnya kau, Kang Minhyuk!” seru Jiyoung, ketika mendapati nama Minhyuk yang tepat berada di bawah nama pangerannya, Jung Jinyoung.

            “Sebegitu beruntungnyakah, kalau aku bisa masuk ke kelas Science?” tanya Minhyuk, dengan nada datar. “Aku bahkan ingin masuk kelas Social, aku tak punya minat ataupun bakat di kelas Science”

            “MWO?!” Jiyoung sewot setengah mati ketika mendengar ucapan Minhyuk yang seolah-olah merendahkan kelas Science—yang tak lain adalah kelas impiannya. “K-KAU?! Aish, kau ini sombong atau apa?! Kau tahu, diantara sekian ribu murid yang malah menginginkan dirinya untuk masuk kelas Science, malah tidak berhasil. Dan sekarang kau… kau malah memandang rendah kelas Science? Aish…”

            “Aniya… Aku sama sekali tidak merasa sombong atau apa, tapi aku memang lebih tertarik untuk masuk kelas Social. Ng… sebenarnya… aku tak tahu apakah ini ide yang baik atau tidak, tapi sudah dari tadi aku ingin…”

            Minhyuk menggantungkan perkataannya, membuat Jiyoung penasaran.

            “Aku ingin… mengajakmu untuk berganti kelas denganku”

            “MWO?

            Akhirnya Minhyuk menyelesaikan ucapannya dan berhasil membuat perasaan kaget Jiyoung bertambah—bahkan berlipat ganda. Ide Minhyuk barusan memang hal yang lumrah dilakukan oleh beberapa murid di Haknam Senior High School. Tapi, sangat jarang sekali ada murid yang melakukan hal itu—ya, pertukaran murid anatar program studi Social – Science.

            Jadi, setelah diumumkan ke program studi manakah para murid akan melanjutkan tingkat duanya, akan ada tawaran bagi beberapa murid yang ingin menukar program studinya—baik dari kelas Social ke kelas Science ataupun sebaliknya. Namun, pertukaran program studi itu memiliki beberapa persyaratan. Bagi para murid yang ingin menukar program studinya, harus menjalani tes tertulis pada bulan ketiga setelah kegiatan belajar-mengajar tingkat dua resmi dimulai.

Jiyoung mengerutkan dahinya dan masih terus berpikir. Ia mencoba menimbang-nimbang apa yang akan terjadi kalau ia menyetujui tawaran Minhyuk tadi. Kalau ia berhasil masuk ke kelas Science, kesempatan untuk sekelas dengan Jinyoung lebih besar dan tentu saja, kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan pangeran serta pujaan hatinya itu akan semakin besar pula. Tapi… bagaimana dengan tes tertulis yang harus dijalaninya nanti? Apakah ia akan berhasil melewati tes itu?

            Sementara, di sampingnya, Minhyuk terus menunggu jawaban Jiyoung dengan perasaan harap-harap cemas. Minhyuk menggigit bibir bawahnya sambil terus memandangi Jiyoung. “Bagaimana?” tanya Minhyuk.

            Jiyoung tersentak. “Aku… Aku hanya bingung, Minhyuk-ah…”

            “Bingung? Bingung soal apa?”

            “Untuk masuk ke kelas Science memang impianku. Tapi, sekarang aku sudah masuk kelas Social dan… kalau aku ingin menukar program studiku, aku harus menjalani tes…”

            “Lalu? Apa yang kau bingungkan?”

            “Aku hanya takut aku gagal dalam tes itu”

            Melihat ekspresi Jiyoung yang tengah frustasi, Minhyuk pun ikut kewalahan. Kalau Jiyoung tidak berhasil melewati tes untuk menukar program studinya ke kelas Science, itu artinya ia juga tidak akan bisa menukar program studinya ke kelas Social. Sedikit rasa kesal pun muncul di lubuk hati Minhyuk. Sistem pertukaran program studi seperti ini terlalu rumit, keluh Minhyuk.

            Kini, baik Minhyuk ataupun Jiyoung, keduanya terdiam dan terus berpikir; bagaimana caranya tawaran Minhyuk itu bisa terealisasikan dengan baik sehingga mereka berdua bisa masuk ke program studi yang benar-benar mereka inginkan.

            “Aish! Kenapa tak terpikirkan olehku daritadi!” seru Minhyuk, memecah keheningan diantara dirinya dengan Jiyoung.

            Jiyoung menoleh dan menatap Minhyuk. “Maksudmu?”

            “Kau bisa belajar denganku. Otte?”

            “Aaa! Benar! Kau kan pintar! Tapi… aku akan memiliki waktu yang lebih sempit untuk bermain. Iya, kan?”

            “Kau ini. Ya~ Kang Jiyoung, kau mau masuk kelas Science tidak?”

            “Tentu saja aku mau! Hm… baiklah. Mulai saat ini aku akan sangat membutuhkan bantuanmu, Minhyuk sonsaengnim. Hehehe…”

***

Sejak hari itu Jiyoung sudah sepakat untuk menjalani les privat bersama teman sekelas yang awalnya tidak begitu dekat dengannya. Ya, siapa lagi kalau bukan dengan seorang namja bernama Kang Minhyuk. Setelah mereka rundingkan bersama-sama, jadwal privat mereka akan dilakukan secara rutin setiap pulang sekolah di sebuah kelas kosong—tentu saja saat murid lainnya telah pulang.

            “Jiyoung-ah? Kenapa kau pindah kesana?” tanya seorang yeoja yang tak kalah imut dari Jiyoung. Yeoja itu adalah teman baik Jiyoung sejak kecil, namanya Sulli.

            “Sepertinya disini jauh lebih strategis, Sulli-ah” balas Jiyoung yang masih sibuk memindahkan barang-barang bawaannya ke bangku baru.

            Di tengah rasa bingung Sulli, Minhyuk baru saja memasuki kelas dan tanpa basa-basi ia langsung menaruh tas dan kemudian duduk tenang di bangkunya. Jiyoung yang melihat kedatangan ‘guru privatnya’ itu langsung girang sendiri. “Annyeong, Minhyuk-ah!!” seru Jiyoung sambil memamerkan wajah imutnya dan juga melambai-lambaikan tangannya.

            “A-Annyeong?” balas Minhyuk dengan wajah kebingungan. “Kau duduk disini?”

            Dengan semangat yang membara, Jiyoung menganggukkan kepalanya mantap. Anggukkan kepala Jiyoung itu pun diikuti oleh rasa tak percaya Minhyuk. Saking tak percayanya, Minhyuk langsung terbatuk-batuk dan keluar dari kelas. Jiyoung tak mempedulikan Minhyuk yang mungkin keheranan setengah mati melihat sikap anehnya hari ini. Ia terus memasang senyuman lebarnya dan nampak begitu menikmati posisi duduk di hari terakhirnya sebagai murid tingkat pertama Haknam Senior High School—yang persis bersebelahan dengan bangku Minhyuk.

            Sulli terus memandangi Jiyoung. Sesekali ia menyentuh dahi Jiyoung dengan telapak tangannya, memastikan kalau temannya masih dalam keadaan baik-baik saja. “Ya~ Jiyoung-ah, ada apa denganmu hari ini? Kau aneh sekali… Gwenchana?” tanya Sulli, yang duduk pada sebuah bangku di depan bangku Jiyoung.

            “Gwenchana~” balas Jiyoung, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sulli.

            “Dan… sejak kapan kau begitu akrab dengan Kang Minhyuk? Setahuku, Kang Minhyuk itu tidak pernah akrab dengan siapapun di sekolah ini sebelumnya. Ng… Apa jangan-jangan… kau dengan Minhyuk…?”

            “Apa?” tanya Jiyoung.

            “Kau dengan Kang Minhyuk… berpacaran?” tanya Sulli, ragu-ragu.

            “Mwo?!” tanya Jiyoung, yang tak percaya Sulli akan berpikiran kalau dirinya dengan Kang Minhyuk berpacaran. “Hahahaha…” Jiyoung pun tertawa terbahak-bahak.

            “Ya~ Sulli-ah, mana mungkin aku bisa menyukai namja lain selain Jung Jinyoung? Semua tipe idealku ada padanya… Bagaimana mungkin aku bisa menyukai namja lain selain dia? Kau ini… seperti baru mengenalku saja, Sulli-ah”

            “Lalu…?”

            “Di hari terakhir kita ada di tingkat pertama ini, aku ingin lebih akrab dengan Kang Minhyuk. Kau tau kenapa? Karena mulai besok, saat kita telah resmi menjadi murid tingkat dua, aku akan menghabiskan banyak waktu dengannya. Ini semua harus kulakukan demi bisa merubah nasibku untuk masuk kelas Science dan pada akhirnya… aku bisa mengenal pangeranku lebih dekat. Aih, aku sudah tak sabar untuk merasakan waktu-waktu indah itu!” jelas Jiyoung, dengan gaya berceritanya yang ekspresif.

Hari ini memang menjadi hari terakhir bagi para murid tingkat pertama di Haknam Senior High School. Pada hari terakhir sebagai murid tingkat pertama, mereka semua diharuskan untuk berkumpul di kelas mereka masing-masing dan mengadakan kerja bakti untuk menyambut para junior baru yang akan menempati kelas mereka nantinya.

            Dan di hari terakhirnya sebagai murid tingkat pertama, Jiyoung tak ingin menyia-nyiakan waktunya. Jiyoung sudah bertekad dalam hatinya untuk mengakrabkan diri dengan ‘guru privat’-nya, Minhyuk. Memang agak sedikit susah untuk mengakrabkan diri dengan Minhyuk, karena Minhyuk memiliki kepribadian yang benar-benar jauh berbeda darinya. Minhyuk merupakan namja yang tak banyak bicara dan sangat tertutup. Bahkan, bisa dibilang, di sekolah ini Minhyuk tidak memiliki satupun teman akrab. Tapi kesulitan yang dihadapi oleh Jiyoung untuk mengakrabkan diri dengan Minhyuk itu bukanlah suatu halangan. Jiyoung benar-benar berterima kasih pada namja pendiam itu, karena ia diberi kesempatan untuk bisa merubah nasib buruknya saat ini.

“Jadi… begitu rupanya…”

            Setelah panjang-lebar menceritakan alasan kenapa Jiyoung ingin lebih akrab dengan Minhyuk, Sulli pun mengerti. Kini, mereka berdua tengah menghabiskan waktu luang setelah melakukan kerja bakti di sekitar lapangan basket sekolah. Lapangan basket ini merupakan tempat favorit mereka berdua. Sulli yang memang menyukai permainan basket, dan juga Jiyoung yang suka melihat Jinyoung bermain basket dari kejauhan. “Nee~ Jadi, Sulli-ah… aku benar-benar minta maaf kalau nantinya aku akan sedikit sibuk…”

            “Ah, aniya… Tidak apa-apa, Jiyoung-ah… Semoga kau berhasil masuk ke kelas Science dan semoga kau bisa lebih dekat dengan Jinyoung ^^”

            Jiyoung pun refleks ingin memeluk sahabatnya itu. Namun, saat kedua tangannya terbuka lebar dan siap memeluk Sulli, sebuah bola besar menghampirinya dan… BUK! Kepala Jiyoung sukses dihantam oleh bola basket berukuran besar itu. Jiyoung pun merasakan kepalanya pusing luar biasa. Pandangannya kabur dan mulai menggelap. Setelah beberapa saat, Jiyoung pun pingsan dan segera dilarikan ke UKS.

            Selama Jiyoung pingsan dan terbaring di sebuah tempat tidur yang ada di ruang UKS itu, Sulli terus dilanda kepanikan dan terus mendekatkan bau-bauan ke hidung Jiyoung—dengan harapan Jiyoung akan segera sadar dari fase pingsannya itu. Setelah berulang kali Sulli melakukan hal itu, perlahan mata Jiyoung pun terbuka. Walau pandangannya masih sedikit kabur, tapi Jiyoung tahu kalau yang tengah memanggil-manggil namanya sekarang adalah Sulli.

            “Jiyoung-ah! Apa kau masih pusing, oh?” tanya Sulli.

            “Aku baik-baik saja Sulli-ah, tapi errghh… kepalaku masih pusing. Dasar bola basket sialan itu. Seenaknya saja menghantam kepalaku ini. Kalau aku makin bodoh nanti, bagaimana? Hhh..” balas Jiyoung, polos.

            “Mianhamnida

            Tiba-tiba suara seorang namja terdengar di telinga Jiyoung. Arah suara itu sepertinya sangat dekat dengannya. Jiyoung pun menolehkan kepalanya ke kanan dan mendapati seorang Jung Jinyoung tengah tertunduk menyesal karena telah membuat Jiyoung pingsan barusan.

            “Mianhamnida” sekali lagi, Jinyoung mengulangi ucapan maafnya.

            Jiyoung yang tak percaya bahwa ia bisa sedekat itu dengan Jinyoung, langsung menoleh ke arah Sulli dan dengan menggunakan bahasa isyarat bertanya, “Sulli-ah, sejak kapan dia disini?”. Sulli tertawa geli melihat reaksi Jiyoung. Jelas terlihat bahwa Jiyoung saat ini tengah salah tingkah. Sulli pun membalas ucapan tersirat Jiyoung tadi dengan bahasa isyarat, “Kau ini… jawab dulu permintaan maafnya sana!

            Jiyoung mengangguk. Benar, aku tak boleh melewatkan kesempatan emas untuk bisa berbicara langsung dengan bintang sekolah sekaligus pangeran dan pujaan hatiku!, ujar Jiyoung yang kembali menatap Jinyoung di samping kanannya.

            “A-Aniya… Tidak apa-apa”

            “Jeongmal yo? Aku sempat khawatir karena tadi kau sempat kesal kan, dengan bola basket yang mengenai kepalamu tadi? Itu bola basket yang kulempar… Aku sedang tidak fokus tadi. Mianhamnida” kata Jinyoung, sambil melihat tepat ke mata Jiyoung.

            Jiyoung mengalihkan pandangannya. “Ti-Tidak apa-apa. Hahaha…”

            Mendengar ucapan Jiyoung barusan, Jinyoung pun merasa sedikit lega. Ia beranjak dari posisi duduknya dan dengan gaya supelnya, ia mengacak-acak rambut Jiyoung. “Semoga cepat sembuh. Ah, aku harus segera pergi. Bye!”

            Setelah Jinyoung berlalu meninggalkan ruang UKS, Jiyoung malah terdiam dan terpaku. Sekujur tubuhnya merinding, terutama bagian kepalanya. Melihat Jiyoung seperti ini, Sulli pun langsung melambai-lambaikan tangannya persis di depan wajah Jiyoung. “Jiyoung… Jiyoung? Halooo”

            “Ah” Jiyoung pun akhirnya sadar dari lamunan indahnya tentang Jinyoung. “Sulli-ah, cubit pipiku! Ayo… ppali

            Sulli dengan keras mencubit pipi sahabatnya yang tembem itu. Jiyoung pun merintih kesakitan dan mengeluarkan aksi protes kepada Sulli. “Aish, kau terlalu keras mencubitku, Sulli”

            “Sengaja, biar kau cepat sadar kalau sekarang kita sudah bisa pulang, Jiyoung”

            “Hah? Memangnya sudah jam berapa sekarang?” tanya Jiyoung.

            “Jam lima sore, Jiyoung sahabatku~”

            “Aish, itu berarti… jadwal privatku dengan Minhyuk sudah berlalu dan aku malah diam disini?! Sulli, ayo kita ke kelas, siapa tahu Minhyuk masih ada di kelas” ujar Jiyoung, yang baru sadar kalau sejak hari ini ia sudah memiliki jadwal baru untuk les privat dengan Minhyuk.

***

“Hosh… Hosh…”

            “Kelas sudah kosong, Jiyoung-ah” kata Sulli, yang lebih dulu sampai di kelas. Jiyoung yang baru saja sampai, langsung memasuki kelas dan mendapati secarik potongan kertas ada di bangkunya.

Aku sudah mencari kelas untuk tempat kau privat,

Aku juga sudah mencari kau kemana-mana, tapi katanya kau pingsan.

Kalau kau masih ingin privat, ke rumahku saja.

Aku bosan berlama-lama disini.

Di sini sudah kucantumkan alamat rumahku.

– Minhyuk –

            “Mwo?” Jiyoung tak bisa menahan rasa tak percayanya setelah membaca pesan singkat dari Minhyuk. Sulli yang penasaran dengan isi pesan itu pun menghampiri Jiyoung.

            “Aaah~ Mana mungkin seorang yeoja bertamu ke rumah seorang namja” ujar Sulli.

            “Iya, mana mungkin~”

            “Tapi, Jiyoung-ah, kau kan ingin privat… Tak apa-apa, ini semua kan demi keinginanmu juga. Apa aku perlu ikut bersamamu mencari rumah Minhyuk?”

            “Tak apa, Sulli. Kau pasti sudah capek seharian ini. Biar aku saja yang pergi, akan aneh rasanya kalau Minhyuk mendapatimu ikut bersamaku ke rumahnya. Ia akan berpikiran kalau aku membuka rahasia diantara aku dengannya” balas Jiyoung.

            “Baiklah… kalau begitu, kita sama-sama naik bus saja. Nanti kau sendirian yang mencari rumah Minhyuk. Tapi kalau kau benar-benar tidak tahu harus kemana, telepon aku ya!”

            “Nee~ Sulli… Kau memang temanku yang paling baik! ^^”

***

~ To be continued to Chapter Two ~

26 thoughts on “[Chapter 1] Social Science

    • Ahaaha, iya tebakan nya bener eon, nanti deh aku kasih gambar CD EAR FUN buat hadiahnya kekeke~ :p *gambar nya aja loh yaaa*

      • Ige Mwoyaaaaa.. adehhhhhh,, gak mauuu.. **merengek ke Jhonghyun** #dapettatapanmaut

        Jjong, liat kelakuan istrimu.. Aissssshh.. Ehh gimana kalo kita bikin FF duet tentang Fangirling kita??
        mau tak?? jadi castnya aku kamu jhong, si yong ma buinnye, pokok all CNBLUE dehh..

  1. Ehehe.. Tp tetep Jonghyun deng :p *ga konsisten*
    Hemm.. Aku mulai agak kosong baru hr Kamis eon, bisa kan hr Kamis? Yuk kita duet lg :) tp eon, WhatsApp aku skrg udh dhapus jd g bs berkomunikasi via WhatsApp lg T,T

  2. iiiiiiiiiiiiiihhhh…bagus thor.. tp msih agak bingung ma karakter minhyuk disini. dia dijabarkan mpy karakter yg dingin, tp aq bacanya kurang kena coldish-nya.. tp overall keren.,, oke ^^ lanjut ke chapter 2.

    • waah, terimakasih komennya ^^
      mian~ ini baru buka wp lagi -__-
      hehehe, oke deh, entar aku coba kuatin karakter minhyuk lg ^^ sekali lg gomawo ya :D

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s