[STEP 5] The Pain of This Marriage

AAA~~ maaf aku ga update2 di sini!! -___-” *panik* ini udah sampe step 6 padahal hehehehe, jadi langsung 2 chapter ya aku publish .___.v #diketok. Author terkena serangan lupa blog tempat di mana author kerja. hehehehe~ mian ya buat kelamaan ini. Semoga masih ada yang nunggu dan ff SOUL diusahakan april aku publish~ gomawo ^^

Title : The Pain of This Marriage – Step 5 [Special step for Minho’s birthday]
Author : Van~MinKey91 aka Vania Lee (@vanflaminkey91)
Genre : AU, romance, friendship, family, angst, sad, life, marriage-life
Rating : PG
Length : chapter / on going [40 MS.Word Pages]
Main cast :

  • Kim Hyunra (OCs)
  • Choi Minho SHINee
  • Kim Kibum / Key SHINee

Support cast :

  • Jung Hyorim (Echa unnie – @_ECHAimnida_)
  • Ahn Jaekyo (Ajni unnie – @aajni537)
  • Kim Jonghyun SHINee
  • Ahn Myongri (OCs)
  • Lee Taemin SHINee

Other cast : Sooyoung, Seohyun SNSD, Kyuhyun SJ, Seungri Bigbang, Kim Richan, Cho Hoongki (OCs), and still hidden….
Disclaimer :  TPTM and its cover are belong to me as the owner of the plot. Don’t copy this without my permission. Because if you do it, it means you are a loser!
Background song(s) :

  • Love Still Goes On – SHINee
  • Hit Me Baby – SHINee
  • Scar – SHINee
  • One For Me – SHINee

WARNING : DON’T BASHING THE CAST(S), PLEASE!!

***

I never know about this “abstract-feeling”.
One month ago, I hate you. But, one month later, I love you.
You like drugs for me. Make me addiction to you~
…and I am sick when I know…
Your heart just for him, not for me.

***

The Pain of This Marriage – STEP 5
“Special Step for Minho’s Birthday : Jealous (II)”

Hyunra menatap riak air Sungai Han dengan pandangan menerawang. Rambutnya berkibaran lembut diterpa dan disentuh angin dingin di tempat itu. Tempat yang selalu menjadi tempat pengaduan Hyunra dan kenangan lamanya.

Tempat ini memiliki kenangan terindah yang tak akan pernah ia lupakan. Dulu, ia bertemu dengan seseorang yang telah menjatuhkan hatinya untuk pertama kali di sini, di tepi Han River.

Matanya menyapu ke suasana di sekitar sambil tak hentinya tersenyum tipis. Bayangan dirinya dan Key sedang berkejaran tampak begitu menyenangkan, ilusi yang menjerumuskan.

“Lihat ikan itu, Jagiya!” Key menunjuk ikan yang ada di dalam air jernih itu, tetapi matanya tertuju pada perempuan yang sedang berlari menghindarinya. Ia tersenyum simpul saat Hyunra berhenti dan berbalik, menghampirinya.

Tepat saat yeoja itu ada di dekatnya, dengan sigap Key melingkarkan tangan kirinya di pinggang kecil Hyunra lalu menarik yeoja itu ke dalam pelukannya.

“Hyaaa! Kau menjebakku, Pervert!” pekik Hyunra sambil memalingkan wajah agar semu merah di pipinya tidak terlihat oleh Key.

Hyunra merasakan sesuatu yang hangat membasahi pipinya. Aku menangis, lagi? batinnya sambil tertawa tanpa suara –menertawakan dirinya sendiri yang terasa menyedihkan dan pilu. Bibirnya sedikit bergetar dan memucat, menahan rasa dingin yang semakin lama semakin menusuk tulang. Langit tampak berwarna oranye keperakan dengan sedikit bias cahaya matahari yang mulai masuk ke dalam peraduannya.

Lampu-lampu benderang yang ada di belakang Hyunra sudah mulai menyala dan membantu Hyunra melihat jelas ke depan.

“Kau tidak pernah pantas untuk anakku. Kau hina dan terbuang, memalukan.” Suara Richan beberapa tahun yang lalu ketika Key membawanya sebagai calon istri ke hadapan orangtuanya terngiang jelas di telinga Hyunra. Dia mengepalkan kedua tangannya. Richan memang sangat menentang hubungan mereka karena alasan sepele.

Dia anak kandung Kim Seul Ah dan Kim Youngseul. Hyunra tidak pernah tahu kenapa Richan membenci kedua orang tuanya, apakah memang mereka pernah saling kenal?

Ia merasa tidak adil karena ia tidak direstui hanya karena masa lalu mereka. Tapi, ia tak bisa menentang.

“Ish,” keluhnya saat ia merasa jari-jari tangannya membeku. Wajar saja, ia tidak memakai syal, sarung tangan dan jaket. Hanya kemeja biasa dan blazer dengan celana panjang saja. Dingin dapat menembus tubuhnya dengan mudah.

Kurasa aku akan hipotermia, bisik hatinya sambil berusaha untuk berdiri, namun sia-sia. Ia jatuh terduduk dan akhirnya hanya bisa pasrah ketika merasa matanya sudah tidak mau membuka lagi. Semuanya gelap sekarang.

Tubuhnya yang lemah terbaring di atas kursi panjang yang ia duduki dengan sisa genangan air mata di sudut matanya.

Seseorang tampak berlari-lari sambil celingukan mencari sesuatu  atau mungkin seseorang. Buntut coatnya berkibaran seiring kakinya berlari. Wajahnya disaput mendung dan sinar kekhawatiran terbaca jelas dari manik-manik matanya.

“Aigo!” Ia memekik kecil melihat sesosok tubuh yang ia kenal terkulai lemas di atas salah satu kursi dari sekian banyak kursi yang tersedia di sana. Ia berlari dan semakin panik melihat yeoja itu. Ia berlutut dan menepuk-nepuk pipi pucat nan dingin yeoja itu.

“Hyunra, Hyunra, Princess-goon…” bisiknya berusaha menyadarkan Hyunra. Percuma, yeoja itu sudah pingsan karena udara yang terlalu ganas ini. Lelaki itu berdiri, lalu sedikit membungkukan badan dan menyelipkan tangannya di sikut lutut dan punggung wanita itu. Digendongnya Hyunra ala Bridal Style menuju ke mobilnya.

Ia menghempaskan dirinya di jok pengemudi sambil menarik nafas. Diliriknya Hyunra yang tampak sangat lemah di jok penumpang di sebelahnya.

Matanya memandang miris, “Apa ini karena Key?” tanyanya tanpa ada yang menjawab. Tangan kanannya terulur untuk mengusap pelan rambut yang terdiri dari banyak helaian rambut itu, lalu ia tancap gas meninggalkan Han River.

***

“Entahlah, Noona. Akhir-akhir ini dia sering melamun. Setiap malam ketika aku terjaga tanpa sengaja, aku melihat dia berdiri di balkon sambil menunduk dan bahunya bergetar. Sesekali ia menyebutkan nama Key….”

“Jadi menurutmu dia merindukan Key?”

Suara percakapan itu samar-samar terdengar olehnya meski tidak sepenuhnya dapat ia tangkap dengan jelas. Tangannya terangkat ringkih menyentuh keningnya. Pusing menyerang saat ia mulai berpikir mengapa ia bisa ada di kamarnya sementara tadi ia..

“Engghh,” erangnya lemas sambil mencoba bangun. Sooyoung yang menyadari itu segera mencegah Hyunra untuk tetap di posisinya.

“Jangan bergerak, kau masih demam. Badanmu panas sekali. Tunggu di sini, biar aku bawakan bubur hangat untukmu.” Tanpa menunggu respon, Sooyoung berdiri dari duduknya dan melesat keluar dari kamar besar nan nyaman itu.

Hyunra mengerjapkan matanya dan menyentuh lagi keningnya. Benar, panas sekali permukaan dahinya. Ia meringis kemudian matanya terpaku pada satu titik. Seorang lelaki tengah berdiri di dekat jendela sambil melipat tangannya di depan dada. Matanya menerawang keluar dengan ekspresi yang datar.

“Minho?”

Minho menoleh dan memamerkan sederet gigi putihnya itu sambil mendekati Hyunra, “Hei. Rupanya kau sudah sadar.”  Hyunra hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Minho. “Kau tahu? Berat sekali tubuhmu itu!”

Senyum Hyunra lenyap dan langsung berubah menjadi ekspresi kesal, orang ini, batinnya sambil menghela nafas. Tidak ada energi untuk bertengkar.

Mereka terdiam, membiarkan suasana menjadi sedikit tegang dan kaku. Hyunra sibuk menatap langit-langit kamar, sementara Minho memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.

“Kau masih menginginkan Key?” Tiba-tiba Minho membuka mulutnya dan perkataan yang baru saja ia lontarkan membuat Hyunra mendongak kepadanya. Minho tersenyum kecut. Dari ekspresi wanita itu, ia tahu Hyunra tertarik dengan topik ini. Topik tentang Key.

“Nde?” Minho mengangkat alis, menunggu perkataan lain keluar dari mulut wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu. “Aish, anhi. Dia masa lalu. Sejak dia hilang tanpa kabar, aku sudah melupakan kisah itu. haha.” Hyunra tertawa kering, disambut tawa sakit dari Minho.

Kau bohong! Ingin sekali Minho mengatakan itu, sayangnya dua kata itu selalu tertahan di tenggorokannya dan tak pernah ia lontarkan.

“Lalu kau menyebut apa kebiasaanmu bangun tengah malam, berdiri di balkon dan menangis menyebut nama Key? Oh, ayolah. Kau sangat mencintainya, ‘kan?”

Hati Hyunra mencelos. Semua yang dikatakan namja itu seratus persen benar. “Aku tidak…” Hyunra masih berusaha mengelak. Egonya terlalu tinggi untuk terlihat lemah di depan mantan musuhnya ini. Tatapan mereka bertemu dan Hyunra merasa seperti dikuliti oleh tatapan tajam itu hingga ia mendesah sedih.

“… oke, aku akui itu. Aku masih menginginkannya. Aku mencintainya, tak peduli seberapa besar rasa benci Richan ahjumma melekat padaku. Aku akan berusaha sampai aku bisa mendapatkan lagi Key.” Hyunra mengangkat bahunya dan kembali bicara. “Juga mencari alasan untuk menceraikanmu.”

Deg!

Minho sempat terkejut beberapa saat, namun si Poker Face itu kembali memasang ekspresi biasa seperti tadi dan tersenyum kecut, “Kembalilah kepada Key, aku akan membantumu…”

Mata Hyunra membulat, ada rasa senang dan tak percaya, “Jinjja?!”

Minho tersenyum pahit melihat rasa senang itu, “….ne… aku sendiri yang akan membantumu.”

Senyum Hyunra begitu lebar dan Minho merasa, bahwa kali ini ia hancur. Menangkap sinar aneh di mata Minho, Hyunra memudarkan senyumnya.

Namja itu cepat-cepat berpaling, menyembunyikan kecemasannya. Hyunra hendak bicara lagi sebelum Sooyoung masuk dan membawa nampan dengan sup bubur  dan sebuah teh hangat di atasnya.

“Ayo, makanlah.” Hyunra tersenyum dan mengangguk. Sebelum satu suapan masuk ke dalam mulutnya, ia melirik Minho yang tengah berdiri di ambang pintu, menoleh sebentar padanya dan tersenyum sebelum pergi dari sana.

Hyunra tertegun, benarkah apa yang kulihat di matanya tadi?

***

Hari-hari berikutnya dilalui tanpa sesuatu yang istimewa. Key masih selalu berusaha mendekati Hyunra meski yeoja itu belum juga meresponnya. Sekarang Hyunra tengah memanfaatkan waktu istirahat untuk makan.

Ia melangkah sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku coat coklat muda yang ia kenakan. Udara kali ini lebih dingin daripada hari sebelumnya, menyebabkan hidung wanita cantik itu memerah dan sedikit flu. Ia berhenti di tepi trotoar, sepuluh meter dari gedung kantornya –untuk dapat menyebrang jalan.

Matanya sibuk memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang sambil mengawasi apakah jalanan sudah aman atau belum. Ketika dirasanya sudah aman, dia mulai melangkah menyebrangi jalan

Suara bel di atas pintu kafe itu terdengar ketika dua daun pintu yang terbuat dari kaca dan bingkai kayu milik kafe tersebut terdorong ke dalam.

Hyunra berjalan masuk dan melempar senyuman ramah kepada waiter di sana dan mulai menggerakan kedua bola matanya mencari tempat untuknya menikmati makan siang. Senyum terhias indah di wajahnya saat kedua indera penglihatannya itu tertuju pada satu tempat di pojok ruangan.

Sembari menunggu waiter menghampiri, ia duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu pada sikut di atas meja. Senyum tipis terulas di bibir tipisnya ketika mengingat semua masa indahnya bersama Key.

“Ini untukmu, jagiya.” Key tersenyum memikat ketika menunjukkan sebuah kalung yang sangat cantik dengan inisial ‘Duo Kim’ yang terukir kecil nan rapi dan cantik. Hyunra mengangkat wajahnya dan menatap Key dengan kedua mata indahnya.

“I-ini untuk apa?”

Key tidak menjawab, ia tersenyum –kemudian memakaikan kalung itu perlahan di leher jenjang wanita yang sangat ingin dimilikinya itu. Perlahan jari-jarinya menelusup di antara rambut-rambut Hyunra, menyingkapnya lembut sebelum akhirnya memakaikannya.

“Saengil chukkae,” bisik Key lembut. Kedua tangannya memeluk pinggang Hyunra dari belakang. Dagunya menempel di salah satu bahu Hyunra dan mengecup bahu itu lembut –tanpa rasa nafsu sama sekali. Hanya ada rasa cinta dan sayang dalam tiap sentuhannya.

Key sangat menghormati Hyunra sebagai wanita dan tak pernah mau melakukan lebih sebelum ia berhasil mengikat Hyunra dengan ikatan suci pernikahan.

Hyunra tersenyum sambil memejamkan mata, bersyukur kepada Tuhan tentu saja.

Yeoja itu membuka matanya yang ikut terpejam saat membayangkan kenangan indah itu. Rindu membuncah dalam dadanya.

Beberapa menit di dalam kafe tersebut, Hyunra sudah bisa menikmati makanan yang ia sudah pesan. Matanya menatap makanan di hadapannya beberapa lama. Kenapa ia memesan tiramisu ini?

Tiramisu adalah kesukaan Key dan ia spontan memesan itu sementara ia juga memesan es krim? Astaga, apa yang tadi dipikirkannya?

Beberapa saat ia terpaku di sana sesaat, kemudian mengerang pelan dan menghela nafas. Ini menyadarkannya bahwa rasa cinta itu masih ada. Terlampau besar dan dalam untuk dilupakan. Tak mudah dibuang.

Hyunra memejamkan matanya keras, sampai kedua alisnya bertemu dan mengkerut, berusaha membuang rasa galaunya itu. Dia mendongak sambil membuka matanya dan ia terperanjat. Seseorang memasuki kafe tersebut.

Orang itu terlihat tampan dengank kaus berwarna abu-abu yang dilapisi kemeja kotak-kotak berwarna merah yang tidak dikancingkan dipadukan dengan celana jins berwarna biru tua. Ia terlihat tampan dan… seksi?

“Aish,” keluh Hyunra membuang pandangan ke jendela. Ia takut, takut bahwa perasaan ini semakin membludak dan ia tak bisa melupakannya lagi. “Jangan lihat, jangan lihat,” bisiknya memengaruhi dirinya sendiri. Percuma, akhirnya ia menoleh dan hanya bisa pasrah menyadari bahwa dirinya masih menginginkan orang itu.

Terperanjat, itulah yang ia rasakan ketika orang itu sudah berdiri di samping mejanya. Kedua mata itu –mata yang sangat dirindukan Hyunra. Tatapannya masih setajam dan sehangat dulu. Tanpa basa-basi, orang itu duduk di hadapannya dan tersenyum tawar.

“Pergilah, Key,” desis Hyunra berusaha menahan hati dan pikirannya. Pertahanan hatinya seakan luntur saat melihat tatapan yang seakan mengulitinya itu. Hatinya mencelos melihat leher Key. Kalung yang sama seperti miliknya melingkar di sana.

Benarkah Key masih menginginkan hubungan ini?

Hyunra ingin menangis rasanya. Ia benci terjebak dalam keadaan seperti ini. sangat benci.

“Apa kabar, Hyunra?”

Suara itu… astaga –sangat merdu di telinga Hyunra, seakan memberi sentuhan ketenangan di setiap sistem syarafnya. Hyunra menyambar tasnya dan berdiri, hendak berjalan sebelum tangannya digenggam Key erat dan ditarik.

Key sudah berdiri, “Jebal. Aku mau menjelaskan kenapa aku pergi 4 tahun dan menghilang dari kehidupanmu. Perlu kau tahu, aku tersiksa sepertimu. Jebal…” Nada suara Key benar-benar terdengar tulus dan menohok dalam-dalam hati wanita itu.

Hyunra mendesis dan menyeringai tajam, “Cih, sepertiku? Kau pikir aku tersiksa?” Hyunra kemudian tertawa –tawa yang dipaksakan. “Aku bahagia dengan pernikahanku. Titik.” Hyunra mencoba memutar tangannya agar terlepas, tapi percuma. Key terlalu kuat memegangnya. Alhasil ia hanya meringis sambil memandang Key penuh tatapan nyeri.

Key menghela nafas, “Jika kau tidak bisa menerimaku sebagai kekasih,” ujarnya berhenti sebentar, memandang dengan  tatapan sendu. “… terima aku sebagai sahabatmu.”

Tidak bisa berkata apa-apa, akhirnya Hyunra hanya mendengus dan duduk kembali di tempatnya. Ditatapnya kedua mata Key dalam-dalam.

“Kau punya waktu lima menit,” kata Hyunra. “Hanya lima menit sebelum aku berubah pikiran.” Ia menyesap teh herbalnya dan menatap Key dingin, sementara yang ditatap hanya tertawa tanpa suara dan memamerkan kedua lesung pipit manisnya.

“Baik, lima menit.” Key menarik nafas dan ia mulai mengatakan semua alasan, juga perasaan yang ia rasakan empat tahun belakangan ini. Tentang Richan yang sangat ingin menjauhkan dirinya dari Hyunra sampai rasa tidak terima saat tahu Minho menikahi Hyunra.

Cerita itu mampu membuat Hyunra tidak berkedip sama sekali. Otaknya tidak dapat bekerja dengan baik, sementara tangannya berkeringat dingin. Jadi itu ceritanya?

Sayang, Hyunra sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan Key yang tiba-tiba menghilang dan… ah, lupakan.

Hyunra melirik jam tangan putih miliknya yang melingkar di pergelangan tangannya dan berdecak, “Sepuluh menit aku mendengarmu, Tuan Kim. Terima kasih, tapi aku tak bisa kembali kepadamu.”

Sesudah bicara begitu, Hyunra bangkit berdiri. Key cepat-cepat berdiri dan tangannya kembali menarik tangan Hyunra yang sudah mulai berjalan dengan tampang datarnya. Lelaki itu menarik Hyunra ke dalam pelukannya.

Hyunra membeku di dalam pelukan itu. Lidahnya kelu dan hatinya kini dilanda gulana. Ia hanya diam dan membiarkan lelaki itu memeluknya hangat, erat, penuh cinta. Pasrah tentu saja. Tak memedulikan beberapa pasang mata yang melihati mereka.

“Aku tidak akan pernah melupakan semua kenangan tentangmu, Kim Hyunra. Semua sentuhan lembut tanganmu, semua kasih sayangmu. Tidak akan kulupakan.” Suara Key terdengar lembut di telinganya. Hyunra memejamkan matanya erat, berusaha untuk tidak menangis. Sayangnya, ia goyah. Matanya kembali terbuka dengan berat.

…dan air mata Hyunra jatuh saat itu juga.

Di balik kaca tebal nan lebar dan tinggi itu, seseorang berdiri membeku di sana. Hatinya terguncang dan perasaannya tak menentu melihat adegan romantis di depannya itu. Seketika itu juga ia terus mencoba mengendalikan otot di tubuhnya untuk bergerak, percuma. Dia tetap terdiam sambil menatap lurus-lurus pada dua orang yang tengah berpelukan itu. Kedua tangannya mengepal, sarat akan emosi.

Ia sadar, ia tak akan pernah memiliki tempat di hati Kim Hyunra karena di dalam hati yeoja itu hanya ada nama Kim Keybum, saudara tirinya sendiri.

***

December 9, 2011
07.45 KST

Bunyi alarm itu terdengar begitu nyaring dan menyakitkan di kedua telingaku, memaksaku untuk segera membuka kedua mata yang terasa berat ini. Sinar matahari yang hangat menyambutku, seakan mengucapkan ‘selamat pagi’ kepadaku. Secara reflek aku tersenyum merespon sinar matahari yang membelai kulit wajahku.

Aku menggeliat, mengusir rasa lelah yang selalu kita rasakan setiap kita bangun tidur. Oh, thanks, God. Kau masih membiarkan aku hidup dan menikmati nikmat dunia. Menjalani kehidupan sewajarnya.

Kugerakkan kepalaku ke samping meja, tempat alarm sialan itu masih setia berbunyi. Tanganku tergapai untuk mematikan bunyinya yang memekakan telinga sambil berkomat-kamit tak jelas.

“Aku sudah bangun, Babbo…” desisku sambil menekan tombol alarm itu dengan keras dan kembali menghempaskan tubuh di atas empuknya kasur ini.

“Enggh.” Kudengar sebuah erangan kecil yang bersumber dari seseorang yang tenggelam dalam mimpinya yang kini ada di sebelahku. Aku menoleh dan menghela nafas melihat kenyataan ini. Sesuatu yang baru setelah bertahun-tahun hidup sendirian.

Oh, come on, Kim Hyunra. Kau harus segera sadar bahwa ini memang nasibmu. Yeah, ini memang nasib yang menyedihkan. Sepertinya aku harus mulai berpikir untuk menyeret pernikahan ini ke sidang dan memutuskan tali merah itu. Haishh~

Kesibukan yang akan kulalu hari ini membuat otakku mulai mengontrol kendali tubuh yang malas sekali bergerak. Dengan sedikit paksaan, aku menegakkan diri dan menurunkan kedua kakiku hingga dapat menapaki lantai. Dingin yang bersumber dari lantai kayu yang telah halus ini menyelusup ke dalam pori-pori kakiku, memberi sebuah sensasi tenang secara tidak langsung.

“Hmm,” gumamku sambil berdiri dan berdiam diri sebentar menatap ke depan. Baiklah, sekarang waktunya mandi dan menyiapkan sarapan. Mengingat bahwa semua pelayan di rumah ini pulang ke kampung halaman untuk sementara, sedangkan Soo unnie sudah dua hari ini ke Busan untuk urusan bisnis.

Aku berjalan menghampiri lemari, mengambil beberapa stel pakaian yang biasa kupakai untuk bekerja sebelum akhirnya menyambar handuk yang tergantung di dekat lemari. Tak lupa kuambil juga sebuah aroma terapi untuk menyegarkan pikiran.

Time to take a bath….

***

Author’s PoV

Suara gemericik air itu terdengar samar di telinganya ketika ia mulai membuka matanya perlahan. Ia mengerang lagi –yang entah sudah berapa kali ia keluarkan dari pita suaranya. Tangan kirinya meraba bagian tempat tidur di sebelahnya dan menoleh saat menyadari bahwa tidak ada seseorang di sana.

“Rupanya dia yang sedang mandi,” gumamnya dengan mata setengah terpejam. Minho menutup kembali matanya dengan sempurna dan mulai menyusuri lagi alam mimpinya. Ruangan besar itu kembali hening, kecuali bunyi gemericik air dari kamar mandi di dalamnya.

Sesekali terdengar suara burung bercicit, sementara Minho masih terlelap tenang. Tenang sampai seseorang menyerangnya dengan bantal dan lengkingan suara yang sangat keras dan jarang ditemukan itu.

“Yaaaak! CHOI MINHO! Bangun, Bodoh! Hari ini ada rapat penting dengan semua cabang perusahaan~!! Kau mau terlihat buruk sebagai presdir, huh?! BANGUN!!”

Baaaaghhh~!

“Aish!” seru Minho sambil membuka matanya. “Hei, hei, hentikan!” pekik lelaki itu sambil mencoba menangkap bantal itu. Hyunra terus memukulinya dengan cepat sampai akhirnya bantal berwarna biru lembut itu tertangkap juga. Dengan geram, Minho mencabut bantal itu dari genggaman Hyunra dan meletakkannya dengan setengah dibanting.

“Bisa tidak sih tidak mengganggu?” tanya Minho kesal. Ia masih terbaring dan kedua alisnya mengkerut karena kekesalannya. Hyunra belum mengatakan apa-apa, hanya menghujani Minho dengan death-glare miliknya. Sementara itu Minho sendiri tidak memedulikannya dan berbalik memunggungi Hyunra dan… memejamkan mata lagi.

Hyunra benar-benar kesal dan mengepalkan kedua tangannya. Hampir lepas kontrol dan menonjok lelaki itu kalau ingat dia mesti berubah jadi lebih feminin lagi (?)

Karena alasan sepele yang diminta oleh Jonghyun itu –merubah Hyunra jadi feminin, Hyunra jadi susah melakukan karate yang sudah ia kuasai. Ia sangat menyayangi Jonghyun dan tidak mau mengecewakannya, maka ia rela menahan dirinya.

“Minho…” panggil Hyunra lembut tapi sarat dengan pengancaman (?) Bahkan Minho sedikit merinding mendengar suara itu, tapi tak mau bangun. “Minhooo…” panggil Hyunra lagi kali ini dengan smirk. Minho tetap tidak bergeming.

Hyunra melebarkan smirknya dan kemudian berdehem kecil.

“Ha…” bisiknya dengan kilatan nakal di matanya. “…Na…” Smirknya kini menjadi seringai lebar. “… Dul…” Kali ini ia tersenyum dan tangannya sudah ia letakkan di kedua pinggangnya. “…set! CHOI MINHOOO~~!!! Kau harus bangun atau kau akan kukunci di dalam kamar ini dan kukurung kau selama seminggu penuh tanpa makannn!!” teriak Hyunra sangat amat kencang tepat di telinga kanan lelaki itu.

Sesuai dugaannya, Minho langsung beranjak dan mengusap telinganya yang sekarang berdengung –menghambat pendengarannya. Kilatan kesal terlihat jelas di kedua mata itu.

“Kau mau membunuhku, ah?!” pekik Minho tidak terima.

Hyunra tersenyum puas dan tertawa tanpa suara, “Ne! Kau mati malah bagus sebenarnya.” Kalimat yang membuat Minho melotot dengan kekesalan yang.. errr, susah dilukiskan!

Hyunra kemudian berhenti tertawa dan kembali menatap Minho dengan garang, “Cepat mandi. Ini sudah jam delapan. Kalau kau lama, kutinggalkan.” Setelah berkata begitu, Hyunra berbalik dan berjalan memunggungi Minho.

Klek!

Hyunra memutar knop pintu dan keluar sebelum akhirnya menutup pintu dan menghilang di baliknya. Minho melempar selimutnya dengan kesal dan berdiri dengan sekali hentakan. Wajahnya yang tampan itu masih terlihat lelah dan matanya tampak masih mengantuk.

“Ish,” keluhnya sambil mengacak rambut hitamnya. Sempoyongan, ia berjalan menuju kamar mandi. Tapi, langkahnya terhenti saat melewati sebuah kalender yang terpajang manis di dinding. Ditatapnya lekat-lekat sebuah digit angka sambil mengerutkan keningnya.

Ia mengambil ponselnya dan mengecek sesuatu. Matanya yang mengantuk itu tiba-tiba terbuka lebar dan wajahnya tampak cerah.

“Today is December 9!” serunya sambil berbalik dan tersenyum penuh arti. “My and hers birthday,” bisiknya sambil tersenyum-senyum. Sebuah ide bagus telah terlintas di benaknya dan ia benar-benar tak sabar hendak menjalankannya.

~~~

“Sepertinya aku melupakan sesuatu,” gumam Hyunra setelah merapikan letak piring berisi makanan untuk sarapannya dan Minho di atas meja. Ia berkacak pinggang dan terlihat mengerutkan keningnya. “Ah, molla!” Hyunra duduk di kursi yang biasa ia tempati dan kemudian memilih menghidupkan ponselnya.

Wanita itu baru saja merogoh sakunya ketika terdengar derap langkah di belakangnya. Tak lama kemudian Minho sudah duduk di seberang meja makan dan bertatapan dengan Hyunra sambil tersenyum manis sekali. Hyunra menghentikan tangannya yang merogoh saku dan balas menatap Minho bingung.

“Kau kesambet apa?” tanya Hyunra heran. Senyum di wajah Minho mendadak lenyap dan terganti dengan pandangan tak kalah bingung.

“Kau tak ingat ini hari apa?” tanya Minho balik. Hyunra semakin terlihat berpikir.

“Ini hari Jumat, ‘kan?” balas Hyunra polos. Dasar aneh, gerutu Hyunra menyambung dalam hati.

Minho terlihat kesal sekali, namun tidak memperlihatkannya. Ia akan merusak rencananya sendiri jika mengatakannya, “Aish! Benar-benar lupa?” tanya Minho masih penasaran.

Hyunra yang kini kesal, “Ada apa sih?”

“Sudah lupakan saja!” Minho mengibaskan tangannya dan menyambar piring kosong yang ada di hadapannya. Sementara Hyunra masih melihatinya aneh. Yeoja itu menggeleng dan mengikuti jejak Minho –mengambil piringnya dan menyendokkan makanan yang sudah ia sediakan di tengah meja.

***

“Iya, iya! Sudahlah, kalian memang tidak pernah mengerti!”

Klik! Brak!

Yeoja itu memutus sambungan ponselnya dengan kasar dan menutup pintu ruang kerjanya dengan hentakan dan sarat akan kemarahan. Dia menghempaskan dirinya di atas kursi, lalu menaikkan kedua kakinya ke atas meja. Bersandar di kursi sambil memejamkan mata, sementara pikirannya melayang liar tanpa diperintahkan. Nafasnya terengah, seperti habis dikejar hantu.

Tapi, sepertinya ‘marah’ lebih tepat untuk mendeskripsikan perasaannya sekarang ini.

“Damn,” umpatnya lirih. Ia membuka matanya perlahan. Detik itu juga kedua matanya menurunkan uraian cairan bening dengan cepat. Yeoja itu menarik nafas dan kemudian menghapus perlahan air matanya.

Belum reda emosi yang bercampur di dalam dadanya, tiba-tiba ia dikejutkan lagi dengan dering ponselnya. Dengan rasa kesal yang membuncah di dada, ia menyambar ponselnya dan mengklik tombol hijau.

Ia berdeham, menetralkan suaranya.

“Ne, umma?” tanyanya malas sekali. Ia terdiam mendengar dengan sabar apa yang diucapkan ummanya di seberang telepon.

“Umma tidak mau tahu, Hyorim-ah! Aku tidak mau tahu! Kau harus mau kami jodohkan dengan Key. Kau sudah terlalu lama menjomblo! Lihat adikmu, dia bisa menikah lebih dulu daripada kau… pokoknya kau harus …”

“Cukup, umma!” Suara yeoja itu –Hyorim; meninggi saat mendengar ucapan cepat ummanya. Tak lama kemudian ia menarik nafas panjang, “Aku lelah sejak kecil selalu diperalat seperti ini, Umma.” Hyorim berhenti sejenak, menelan salivanya sejenak. “Beri aku waktu, umma. Beri sampai lima bulan saja. Jika dalam waktu tersebut aku belum mendapatkan calon suami…” Hyorim berhenti lagi. “…kau boleh jodohkan aku dengan Key atau siapapun itu.”

Klik! Ia menekan tombol merah dan meletakkan ponselnya. Dipijitnya kecil keningnya sambil mendesah kesal dan emosi.

“Arrrgh!” Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja. Ia sangat membenci posisinya yang tersudutkan seperti ini. Perjodohan? Tch, mendengarnya saja Hyorim sudah mau muntah. Ia tidak tahu siapa Key itu dan seenaknya ummanya hendak menjodohkan mereka?

Langkahi dulu mayatku, desis hatinya dengki.

***

Mobil itu melaju di jalanan Seoul yang sudah ramai dengan kecepatan sedang. Tidak ada yang memulai pembicaraan di antara dua orang itu. Minho menyetir dengan tenang, sementara di sebelahnya, Hyunra tengah asyik berkutat dengan BlackBerry. Tidak memedulikan suasana kaku yang tiba-tiba berada di tengah mereka.

Hyunra terlonjak saat mendapat banyak SMS dan BBM dari teman, Jonghyun, bahkan orang tuanya dengan inti pesan sama.

Happy birthday, Kim Hyunra, ups… maksudku Choi Hyunra! Wish u all the best, Dear :D –Eunrin

Saengil chukkae, Naui Hyunnieee~! Semoga selalu langgeng dengan suamimu, oya dapat kado apa kau dari suamimu, Saengi-ya? –Jonghyun

Jagiyaaa, kekeke aneh sekali aku memanggilmu jagi. Aku masih normal. Oke, Ahn Jaekyo beserta keluarga mengucapkan selamat hari raya … eh maksudku selamat ulang tahun, sayaaaang! Happy-happy ya dengan Minho. Doakan aku bisa meliris novel baru di akhir tahun ini. –Jaekyo

Sayang, selamat ulang tahun, Nak. Tidak terasa 24 tahun berlalu sejak aku melahirkanmu ke dunia. Selamat ulang tahun sekali lagi. Doa umma dan appa menyertaimu dari sini. Fly kiss dari Jepang! –umma dan appa.

Hyunra tersenyum lebar sambil mencoba menahan rasa harunya membaca semua pesan dari teman-temannya terutama pesan dari kedua orang tuanya, “Bogoshippo, umma, appa,” bisiknya pelan sambil melanjutkan membuka dan membaca tiap pesan masuk yang ada tanpa menyadari bahwa lelaki di sebelahnya juga berulang tahun.

Ia terus menggulir scroll ponselnya dan membaca setiap pesan dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Perasaan haru dan bahagia bercampur dalam satu.

Senyum itu mendadak lenyap ketika membaca sebuah pesan dari nomor tak dikenalnya. Dadanya berdesir dan jantungnya berdegup kencang sekali.

From : xxxxxxxxxxxx
Saengil chukkae, Kim Hyunra. Panjang umur dan selalu jadi Hyunra yang bersinar. Aku masih menantimu di sini. Maafkan kesalahanku, kumohon kembalilah padaku. Aku ingin kau menerimaku, aku tahu kau tidak mencintai Minho. Salam cinta dari kekasihmu, Kim Keybum.

“Sedang berkutat dengan ponsel, hmm?” Suara bass Minho menyadarkannya. Hyunra cepat-cepat meng-close pesan yang masih ia renungi baik-baik itu dan menoleh. Minho masih tampak fokus dengan pandangan ke depan.

“Bisa dikatakan begitu, hehe…” Hyunra mesem-mesem. Entah kenapa ia merasa bahwa ulang tahunnya kali ini benar-benar membuat syok. Minho hanya menggeleng kecil kemudian kembali fokus ke depan. Hyunra memasang tatapan kosong ke depan, pikirannya melayang-layang entah kenapa.

“Sudah berapa lama kau mengenal Key?” tanya Minho tiba-tiba. Sukses membuat Hyunra menoleh dan menatap tidak setuju dengan pertanyaan yang dilontarkan namja itu. Sayangnya, meski Minho tahu sedang ditatap seperti itu, dia cuek saja menyetir. “Kau harus terbuka, Sayang.” Lagi-lagi lelaki itu berkata dengan cuek, sangat cuek dan nyaris tidak menampakkan ekspresi apapun.

Kening Hyunra berkerut mencoba mencerna apa maksud ucapan dari lelaki itu. Tapi, ia memilih tidak memedulikannya dan menghela nafas, “Sejak enam tahun yang lalu dan kami berpacaran empat tahun.” Hyunra menelan ludahnya ketika perasaan sakit dan takut itu kembali menyeruak ke dalam pikirannya. “Sudahlah, jangan dibahas lagi. Jebal…”

Ini adalah pertama kalinya Hyunra memohon seperti itu apalagi kepada Minho dan itu sukses membuat Minho terkejut dan tak bicara apa-apa lagi. Sisa perjalanan menuju kantor dilalui mereka dalam diam sampai mobil itu akhirnya berhenti di pelataran parkir kantor Choi Incorporation.

“Kau turunlah duluan, aku hendak menelepon seseorang.” Hyunra menoleh lagi kepada Minho yang baru saja berbicara dan tanpa banyak membalas, Hyunra melepas safety beltnya dan kemudian keluar dari mobil, masuk ke dalam kantor.

Di balik kemudi, Minho tersenyum samar sambil menatap punggung Hyunra yang semakin menjauh. Ia merogoh sakunya dan menekan beberapa digit angka.

“Yobosseyo?”

***

Jaekyo tampak terengah ketika ia berlari-lari sambil membawa sebuah mic diikuti oleh Shindong yang berlari membawa kamera di bahunya.

“Ayo, lebih cepatlah sedikit, Shindong-ah! Kau ini bagaimana? Nanti keburu Lee uisa itu pergi! Kau tahu ‘kan dia itu dokter kandungan yang fenomenal? Bagaimana kalau kita kehilangan sumber lagi!” Jaekyo mengomel dengan frekuensi cepat. Shindong hanya mengangguk, meski peluh keringat telah membanjiri tubuhnya.

Seorang lelaki muda dengan jas putih melekat di tubuhnya tengah berjalan menuju mobilnya, dialah yang menjadi sasaran keduanya sekarang.

“Yaaa! Lee uisa! Lee uisa! Aish.” Jaekyo terduduk di trotoar setelah mobil hitam itu pergi melewatinya begitu saja setelah keluar dari pelataran parkir rumah sakit. “Padahal tadi kesempatan emas untuk mewawancarainya…” keluhnya sambil menyeka dahinya yang penuh butir keringat.

Shindong menghela nafas, “Ya, sudahlah. Lain kali saja kita wawancarai dia. Dia sibuk sekali. Aku heran, dokter Lee Taemin itu benar-benar hebat. Usianya saja di bawah kita.”

Jaekyo tidak merespon, ia sibuk merutuki diri karena tidak bisa mewawancarai dokter kandungan yang masih sangat muda itu, Lee Taemin.

***

Jaekyo berdiri di depan sebuah gedung yang cukup tinggi dengan banyak jendela dan tanaman. Tangannya masih memegang mic, sementara perhatiannya fokus kepada pintu masuk di hadapannya.

Tugas hari ini berat sekali. Sudah harus mewawancarai Taemin yang sangat sibuk, sekarang orang penting di perusahaan milik keluarga Hyunra. Setidaknya ia sudah membuat janji, tidak seperti dengan dokter muda tampan nan modis itu.

Bayangkan, Taemin itu berambut blonde dengan potongan rambut yang keren padahal dia dokter. Bukankah itu modis sekali? Lupakan soal Lee Taemin!

“Bagaimana?” tanya Shindong. “Kau kan sudah buat janji dengan pemimpinnya. Jangan takut, aku menunggu di mobil. Lagipula ini kantor keluarganya Hyunra, ‘kan? Hwaiting, Jaekyo!”

Jaekyo tersenyum ceria dan mengangguk. Ia memantapkan hatinya untuk melangkah dan sejurus kemudian, ia benar-benar melangkah masuk ke dalam kantor yang bergerak dalam bidang kontraktor itu.

Setelah mengatakan maksud dan tujuan ia datang ke sana kepada resepsionis, ia diantar menuju ke ruang bos yang sudah berjanji untuk bertemu dengannya. Seingat Jaekyo, bos itu adalah Kim Jongwook, paman Hyunra. Yeoja itu tersenyum-senyum mengingat bahwa ia akan bisa menulis artikel tentang kesuksesan perusahaan ini tidak lama lagi.

Jaekyo menelusuri sebuah koridor lebar yang terlihat mewah dan elegant sambil sesekali melihat ke samping atau kiri yang berisi banyak karyawan yang sedang berkutat dengan komputer.

“Ini ruangannya, agasshi, saya permisi dulu.” Petugas itu membungkuk dan kemudian berlalu dari sana. Jaekyo membaca tulisan yang tertera di pintu itu dengan mata sedikit membelalak, memastikan namanya, apakah benar ruangan ini ruangan milik Jongwook?

Benar, batinnya memekik senang. Matanya melihat dulu dua pot tanaman yang terletak di dua sisi pintu itu sebelum tersenyum dan mengangkat tangan –mengetuk pintunya.

“Masuk!” Terdengar sebuah suara dari dalam. Jaekyo mengernyitkan keningnya mendengar suara yang berbeda dari Jongwook. Terdengar muda dan kuat.

Tak mau ambil pusing, yeoja itu segera membuka pintunya dan dapat melihat seseorang duduk menghadap jendela, memunggunginya –di balik meja kayu yang ada di tengah bagian belakang ruangan.

“Nugu?” tanya lelaki itu dan keheranan Jaekyo semakin menjadi tatkala mendengar suara yang serasa asing, namun ia kenal. Tidak kunjung mendapat jawaban, lelaki itu memutar kursinya menghadap Jaekyo dan kali ini keduanya sama-sama terbelalak.

“NEO!!” teriaknya berbarengan sambil saling menunjuk.

Jaekyo berdecak kesal. Hari ini sudah cukup melelahkan dan sekarang ditambah lagi dengan harus bertemu lelaki pembawa masalah itu? What a nice day!

“Mau apa kau di sini, Gadis Menyebalkan?!” bentak lelaki bernama lengkap Kim Jonghyun itu dengan tatapan penuh ancaman.

“Aku sudah janji dengan Jongwook ahjussi dan kenapa kau yang di sini, hah?!” seru Jaekyo kesal sekali. Pegangan di tape recordernya dengan kertas beserta pulpennya sudah mengerat dan mengeras sampai urat-urat di tangannya sedikit terlihat.

Jonghyun tertawa tanpa suara dan memandang Jaekyo dari atas sampai bawah dengan remeh. Jaekyo memakai sebuah kaos berkerah dengan warna pearlescent yang dipadu sebuah rompi biru tua bername-tag : Ahn Jaekyo. Penampilan simple yang ditertawakan Jonghyun, “Cih seharusnya aku yang bertanya begitu. Jongwook ahjussi itu pamanku, Bodoh!”

“YAA! Hentikan memanggil aku bodoh, Dino Head!” ejek Jaekyo sambil menatap emosi kepada Jonghyun.

“Mwo?! Apa yang kau…”

“Ya! Ya! Ada apa dengan kalian, huh? Jjong! Sopan sedikit, dong. Dia ini wartawan yang mau meliput kita, “ kata seseorang menengahi dua manusia yang tak pernah bisa akur itu.  Jaekyo berbalik dan langsung membungkuk.

“Annyeonghasseo, Ahjussi. Mianhamnida,” ucapnya sambil tersenyum.

“Ah, gwenchana.” Jongwook –lelaki atau seseorang tadi tersenyum bijak dan menepuk bahu Jaekyo. “Wawancarailah Jonghyun. Dia bos baru sekarang. Aku ada tamu penting di bawah.” Lelaki itu tersenyum dan mengalihkan pandangan kepada Jonghyun yang duduk dengan kepala miring dan ditahan oleh tangannya yang bertumpu di tangan kursi. “Jawablah setiap pertanyaannya dengan baik, ara?”

“Ne, ne,” sahut Jjong malas sambil memasang tampang jutek.  Sepeninggalan Jongwook, atmosfer di sana kembali memanas. Keduanya sama-sama perang tatapan ganas.

Dengan sangat terpaksa –karena tuntutan tugas, Jaekyo harus mau dan sudi mewawancarai Jonghyun. Namun, lelaki itu seakan mempermainkannya karena memberi jawaban berbelit dan asal.

Jika Jaekyo bertanya A, maka Jonghyun (dengan sengaja) menjawab B. Begitupun sebaliknya. Alhasil wawancata itu berantakan dan Jaekyo menendang udara kosong di depannya.

“AHH, NEO!!” tunjuk Jaekyo. “Bisa tidak sih profesional sedikit, ah?! Aku ada urusan lain dan aku sudah membuang 30 menit waktu berhargaku dengan SIA-SIA!” pekik Jaekyo kesal. Jaekyo berdiri dan berjalan mendekati pintu. Ia berbalik dan membungkuk singkat, “Kamsahamnida, Jjong-ssi!” serunya tidak ikhlas, lalu keluar dari sana.

Jonghyun tersenyum tipis, sangat menyenangkan baginya mengerjai orang lain apalagi gadis ini. ia merasa sedikit berbeda saat mengerjai gadis ini.

Saat sudah memastikan Jaekyo benar-benar pergi dari sana, ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah buku dengan sampul yang terlihat so sweet karena menggambarkan sepasang muda-mudi yang sedang saling merangkul.

Ia tersenyum tipis membaca nama pengarangnya, “Ahn Jaekyo,” bisiknya penuh arti. Tangannya mulai bergerak membuka halaman pertama buku novel tersebut. Tidak dapat dipungkiri, yeoja itu berbakat dalam pembuatan cerita. Sayangnya, saat ia sedang tenggelam dalam cerita, ponselnya bergetar kencang.

Ia merogoh sakunya dan mengangkat alisnya membaca nama ‘Minho Choi’ tertera di layar LCD ponselnya.

“Ne, Minho-ya?” Sedetik kemudian, keduanya terlibat perbincangan serius sampai salah satu dari mereka memutuskan sambungan telepon. Jonghyun tersenyum tipis sambil memandangi layar ponselnya. Ia menggeleng dan kembali membaca buku novel itu -___-“

***

“Jangan lupa, nanti sore aku menjemputmu di kantormu.”

Suara itu terus terngiang di kedua telinganya sampai Hyunra merasa harus pergi ke THT untuk memeriksa keadaan telinganya. Sampai detik ini ia merasa ada sesuatu yang ia lupakan dan ia menyesalkan karena ia tak tahu apa yang ia lupakan itu.

Ia mengalihkan pandangan dari setumpuk  data di hadapannya ke jam dinding yang tertempel manis di atas pintu ruangannya dan Minho. Jam lima lebih lima belas, dan lima belas menit lagi ia akan dijemput oleh Key.

Ia harus memberitahu Minho bahwa ia tak akan ikut dengannya. Tapi, bagaimana? Ia tak mau menyinggung perasaan Minho. Eh, memangnya Minho peduli padanya?

Ia tak akan peduli, ya, tak akan. Hyunra memantapkan hatinya dan kemudian menoleh kepada Minho. Tatapan mereka bertemu dan itu cukup mengagetkan Hyunra karena ternyata Minho sedang memperhatikannya.

Tidak ada ekspresi terkejut yang dipamerkan Minho, ia hanya tersenyum tipis ketika tertangkap basah tengah menatap Hyunra.

“Aku tidak pulang bersamamu.” Satu kalimat itu diucapkan dengan susah payah. Satu kalimat yang juga mampu membuat hati Minho mencelos.

“Wae?” tanya Minho datar, padahal dalam hatinya ia sedikit bersyukur dengan hal ini karena akan mempermudah rencananya.

Hyunra nampak gelagapan dan panik, ia meremas ujung mejanya –mencoba mencari alasan yang masuk akal untuk diberikan kepada suaminya itu.

“Hmmm, eh itu, teman-temanku mengajak kumpul bersama. Tak masalah, ‘kan?” tanya Hyunra sambil tersenyum getir dan menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Minho berikutnya.

Tapi, Minho tidak bertanya lagi dan mengangguk saja. Hyunra diam-diam menarik nafas lega.

***

Hyunra menerjang masuk ke dalam mobil Sport putih itu dan menatap khawatir ke kantornya yang baru sedetik lalu ia tinggalkan. Merasa sudah aman, ia menyenderkan diri di jok dan kedua bahunya menurun.

Key tertawa kecil sambil menyetir.

“Ada yang lucu, hah?” tanya Hyunra tajam. Key tidak menjawab, ia hanya menggeleng –masih dengan sisa tawanya. “Sebenarnya kau mau membawaku ke mana? Kau tak akan menculikku dan memaksa menikahiku ‘kan?”

Pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutnya dan ia menyesal mengatakannya!

Lagi-lagi Key tertawa, kali ini lebih kencang. Namja itu menyeka sudut matanya yang berair karena tangis kecilnya itu, “Hhaahaha, Hyunra… Hyunra…” ujarnya sambil menggeleng dan membelokkan mobil itu di tikungan.

“Idemu bagus dan menginspirasi,” ujar Key yang disambut tatapan sadis Hyunra. Key menoleh sebentar dan tertawa lagi. “Hahaha, aku bercanda. Kau jangan anggap serius, dong.”

Hyunra tidak meladeni perkataan Key. Hubungan di antara mereka sangat renggang sekarang dan itu menciptakan kekakuan yang luar biasa di antara mereka.

Sisa perjalanan mereka tempuh dalam diam sampai akhirnya mobil mewah itu berhenti di dalam sebuah tempat parkir di bawah sebuah gedung yang belum selesai dibangun.  Tempat itu sepi dan pikiran Hyunra mulai negatif.

“Key…” desis Hyunra bergetar. Key malah tertawa, menertawakan ekspresi Hyunra yang terlihat bodoh saat ini. “Kau tak akan macam-macam, ‘kan?” tanya Hyunra dengan tatapan horor. “Jangan bercanda, ini sudah hampir malam dan kau…” Ucapan Hyunra terhenti saat melihat Key keluar dari mobil dan berjalan menuju ke pintu di samping Hyunra.

Ceklek!

Tangannya terulur, bermaksud untuk diambil oleh Hyunra.

“Oh, come on! Ada kejutan yang tak akan kau lupakan. Gedung ini milikku, aku tahu benar semua bagiannya dan preman-preman di sini, yang kau lihat barusan, adalah penjaga tempat ini dan aku membayar mereka.”

Ucapan itu sedikit banyak membuat Hyunra lega dan menyambut uluran tangan Key. Bzzt! Rasanya seperti tersetrum ketika tangannya kembali bergenggaman dengan tangan dingin lelaki ini.

Hyunra pasrah saja saat Key menarik tangannya sambil berlari menuju ke dalam gedung tersebut. Key menekan sebuah saklar dan lantai dasar gedung itu terang benderang. Beberapa orang preman membungkuk hormat padanya dan Key balas membungkuk, begitupun Hyunra yang dipenuhi tanda tanya besar.

“Kau menyeramkan,” desis Hyunra terbata. Key tertawa tanpa suara, namun tak berkomentar. Hyunra dan Key masuk ke koridor yang minim penerangan.

“Aish,” keluh Hyunra saat ia dan Key harus masuk ke lift untuk mencapai tujuan Key. Lift ini berfungsi, hanya lift ini. Entah kenapa Key bisa mau membeli gedung ini dan hanya mengaktifkan satu lift.

“Tutup matamu,” ujar Key tiba-tiba sambil mengikatkan sebuah kain di sekeliling kepala gadis itu, menutup matanya.

“Kyaaa! Apa yang kau-“ Ucapan itu terhenti saat Key memeluknya dan entah kenapa, ia merasa nyaman dengan pelukan itu.

“Kau aman bersamaku,” bisik Key hangat. Tring! Lift terbuka dan Hyunra dapat merasakan angin yang cukup besar menerpa wajahnya dan melayangkan helai rambutnya seperti bendera. Hal yang membuat Hyunra menarik kesimpulan, mereka ada di atas gedung.

Dia mengerjapkan mata saat kain penutup itu dilepas dan memandang takjub pemandangan di depan.

“SAENGIL CHUKKAE!” Byurrr!!

Yeoja itu memejamkan mata, melindungi kedua matanya dari air yang disiramkan tiba-tiba itu. Jinki, Eunrin, Jaekyo, Seungri, Shindong, Hyesang, dan beberapa teman Hyunra ada di sana lengkap dengan sebuah kue tart berukuran besar, minuman, dan beberapa snack.

“Coba lihat itu,” bisik Key membimbing Hyunra untuk mengarahkan pandangan ke kiri dan ia berhasil dibuat takjub dengan ratusan bunga mawar yang membentuk sebuah hati. Di atas bunga-bunga itu, terdapat sebuah buket bunga berisi tiga jenis bunga kesukaan Hyunra. Mawar, lily, dan lavender.

Key berjalan ke tumpukan bunga itu dan mengambil yang telah dirangkai menjadi buket itu. Ia kembali lagi dan berlutut di hadapan Hyunra sambil menyerahkan buket bunga itu.

Hyunra speechless dan merutuk diri karena membiarkan jiwanya terbawa begitu saja.

Teman-teman mereka yang lain tersenyum melihat pemandangan itu –walau di satu sisi mereka kasihan kepada Minho, tapi apa daya?

Toh KeyRa saling mencintai, dan alasan itu yang digunakan Key untuk membujuk mereka membantunya menyiapkan pesta kecil-kecilan ini.

***

MinHyun’s House
At the same time, 18.35 KST

Minho menghambur keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Ia berlari kecil dan melihat seorang lelaki sedang duduk diam di depan rumahnya dan berdiri ketika melihat Minho.

“Mianhae, Hyung aku terlambat. Tadi macet sekali dan…”

Lelaki itu –Jonghyun– mengibaskan tangan memotong ucapan Minho dan tersenyum, “Gwenchana. Ayo cepat sebelum Hyunra datang. Aku membawa kopor, aku akan menginap sehari dua hari di sini. Gwenchana ?”

Minho tersenyum dan mengangguk, “Ne. Ayo.”

Kedua lelaki itu masuk ke dalam rumah sambil sedikit berbincang.

“Oya, kau juga ulang tahun, kan? Saengil chukkae. Kalian memang jodoh, sudah menikah dengan alasan tidak diduga, ulang tahun kalian pun sama. Kekeke~” Jonghyun cengengesan, sementara Minho tersenyum tipis.

~~~

Ia memandangi hasil jerih payahnya dibantu seorang kakak itu dengan puas sekali. Meja makan mereka kini sudah terhiasi dengan beberapa menu kesukaan Minho dan Hyunra ditambah sebuah blackforest kecil di tengah-tengah.

“Puaskah?” tanya Jonghyun sambil menepuk bahu Minho yang tengah berdiri, melipat tangan di depan dada menatap hasil kerjanya. Minho tersenyum dan menggeleng.

“Tidak. Tunggu sebentar, hyung.” Minho berbalik dan sedikit berlari entah untuk apa. Jonghyun tersenyum dan menggeleng melihat kelakuan brother-in-lawnya itu. Dia tidak menyesal menyerahkan Hyunra ke tangan Minho. Ia rasa Minho orang yang tepat untuk menjaga adiknya.

Minho kembali dengan setangkai mawar merah dan sebuah lilin merah. Ia memasang kedua benda itu di dekat kue dan kini meja makan itu tampak cantik sekali.

“Kau benar-benar daebak, Minho-ya!” puji Jonghyun menepuk bahu Minho salut. Minho tersenyum tipis.

***

“Kau sudah periksa kandunganmu, apakah bermasalah atau tidak? Siapa tahu kau mandul!” Hyunra mengerutkan keningnya, sementara kepalanya terus bergerak ke kanan dan kiri dengan gelisah. Gemerlap kota Seoul di malam hari sebenarnya menarik untuk dilihat, sayangnya ia tidak bisa menikmati itu.

“A-aku… a-aku … bukan istri yang baik untukmu.” Keringat dingin mulai menjalari tubuhnya dan jantungnya berdegup kencang sekali.

“Aku tak mau punya menantu yang tidak bisa memberikan keturunan untuk keponakanku!” Hyunra terus memejamkan mata, sementara mulutnya mulai mengeluarkan suara.

“Anhi, anhi… jebal…” gumamnya lirih. Key yang tengah menyetir itu sontak menoleh dan terperangah melihat keadaan Hyunra. Ketika sudah di lampu merah, ia menepuk pipi Hyunra pelan.

“Bangun, kau mimpi buruk…” kata Key sambil terus menepuk pipinya sesekali mengguncang bahu gadis itu.

“Anhiyaaa…!” seru Hyunra lemah. Keringat mengalir di pelipisnya.

Tidak mau membiarkan Hyunra larut dalam mimpi, Key berseru, “HYUNRA! Bangunlah!” Berhasil. Hyunra membuka matanya cepat dan menoleh ke samping kanan dan kiri. Ia mengernyit saat sinar sorot lampu mobil mengagetkannya. Air mata mengalir begitu saja dari matanya.

“Aigooo, kau kenapa?” Key menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Hyunra tersenyum dan menggeleng, mengatakan bahwa ia baik-baik saja…

***

Hyorim duduk gelisah di tempatnya. Kepalanya terasa sakit luar biasa memikirkan masalahnya sendiri. Perjodohan, broken home, patah hati… aish, apalagi sekarang? Ia menyesal telah meminta waktu yang terlalu singkat dengan ummanya.

Lima bulan, batinnya kesal. Dipijitnya pelipis untuk mengurangi rasa pusing yang menjalar itu. Ia sungguh tidak mau menghadapi perjodohan itu. Ia benci diperalat dan dibandingkan. Dari dulu ia selalu saja dinomorduakan.

Jessica Jung, dia selalu dinomorsatukan oleh keluarganya sendiri. Sedangkan Hyorim, si anak kedua? Dia hanya dibanggakan sebatas ilmu ekonominya. Jessica sangat multitalent padahal Hyorim juga. Hyorim tak berniat menunjukkan bakat-bakatnya itu karena sudah terlanjur sakit hati.

Ia membenci Jessica dan kehidupannya. Tapi ia lebih benci mengakui bahwa dia menyayangi keluarganya. Damn, hidup memang keterlaluan. Satu lagi, ia juga membenci adiknya yang selalu unggul daripadanya.

“Sialan,” umpatnya sambil menyambar ponselnya dan hanya memandanginya kosong tanpa berbuat apa-apa. Semenit lamanya ia tetap begitu sampai akhirnya terlintas sebuah nama yang membuat ia semangat. Tanpa buang waktu, ia mulai menekan digit angka ponsel si orang  itu.

“Hoongki ahjussi, bisa bertemu di kafe XXX? Sekarang. Ne, ne. Ada yang mau kubicarakan. Ne, kamsahamnida…” Hyorim menaruh ponselnya di meja dengan senyum puas tersungging di bibirnya.  Dengan ringan ia melangkah menuju ke kamar mandi dan mulai berbenah untuk membicarakan sesuatu dengan Hoongki. Sesuatu yang akan merubah hidupnya dan beberapa orang yang jadi sasarannya.

***

23.15 KST

Minho melirik jam dinding dengan gusar. Sudah jam segini, tetapi tidak ada tanda-tanda Hyunra akan pulang. Ia meringis melihat mawar yang mulai layu dan masakannya yang sudah kelewat dingin. Ia mendesah pelan karena merasa sedih dan sedikit kecewa. Sedikit? Tidak ! ia kecewa!

Jonghyun hanya melirik Minho dengan iba sambil sesekali kepalanya yang terasa berat itu condong ke depan dan kembali lurus.

Minho tetap melek meski matanya sudah sangat berat. Ia lelah hari ini dan ia sangat ingin tidur sekarang ini. Percuma, akhirnya ia tertidur juga di atas sebuah kursi di halaman depan. Wajahnya nampak sangat lelah.

Udara malam yang semakin dingin menerpa tubuh Minho selama lelaki itu memasuki alam fantasi bawah sadarnya. Wajahnya terlihat sangat polos dengan garis wajah tegas. Jonghyun sendiri sekarang sedang berdiri menyandar di ambang pintu. Ia menatap wajah Minho yang polos dan tidak tega membangunkannya walau ia tahu tidur di luar begini akan membuat Minho masuk angin.

Kau mencintainya, bisik hati Jonghyun sambil menggeleng. Bodoh jika Minho masih mengatakan ia tidak mencintai Hyunra.

Jonghyun sendiri duduk di sofa ruang tamu sambil terus menerus menatap jam dinding. Ia khawatir sekali dengan keadaan adiknya yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Minho mengerjapkan matanya saat dingin-lah yang membangunkannya. Dia melihat ke sekeliling dan menyadari ia tertidur di teras. Hari semakin malam.

“Hyung,” panggil Minho sambil masuk dan menutup pintu. Ia duduk di samping Jonghyun dan menarik nafas panjang. “Ke mana sih dia?” gerutunya berbisik, namun masih dapat terdengar oleh Jonghyun dengan jelas.

Belum sempat Jonghyun menjawab, terdengar suara bel yang membuat Minho langsung berdiri.

“Annyeong!” seru Hyunra sambil tersenyum minta maaf. “Mian aku pulang terlam…”

“Ke mana saja kau?” Suara Minho terdengar begitu dingin dan menusuk. Hyunra tertegun mendengar nada bicara suaminya itu.

“Aku merayakan pesta ulang tahun dengan teman-temanku dan….”

“Bersenang-senang sementara aku menunggumu di sini, hah?” potong Minho dengan nada tinggi. “Mulai sekarang kau hanya boleh bersamaku dan kau tidak boleh pergi semalam ini bersama temanmu!”

Hyunra mengerutkan keningnya,  “See? Kau mulai mengaturku sekarang! Cih, memang kau siapa? Hanya seorang lelaki yang tanpa sengaja menyandang status ‘suami’ di atas sebuah kertas/. Kita tidak saling mencintai dan kau bukan milikku, begitupun sebaliknya!” tukas Hyunra sambil hendak masuk, namun dihadang Minho.

“Tch,” desah Hyunra mulai marah. “Minggir! Kau bahkan tidak mengucap ulang tahun untuk…”

Ucapan yeoja itu terhenti saat Minho merengkuh kedua pipinya dan melumat bibirnya kasar. Dengan cepat namja itu melepaskan bibirnya dan menatap Hyunra penuh amarah bercampur dengan sebuah rasa lain.

“Berhenti membantahku, Nyonya Choi. Setidaknya kalau kau mau lepas dariku, kau harus kembali pada Key.” Sesudah berkata begitu ia berbalik dan berjalan beberapa langkah sebelum kembali berhentu. “Saengil chukkae, Naeui Anae!!” serunya penuh penekanan sebelum kembali melangkah.

Jonghyun menatap adiknya sedih, “Ikut aku…” Ia menarik lengan Hyunra menuju ke ruang makan. “See? Kau harus merasa menyesal telah sekasar itu padanya. Asal kau tau, dia memasak semua ini sambil menelpon Sooyoung dan bertanya cara membuat ini itu hanya untuk pesta kalian berdua.”

Hyunra mematung di tempatnya berdiri. Di detik yang sama, ia merasa menyesal. Sangat menyesal.

***

Tiga minggu berlalu sejak hari menyedihkan itu dan selama itu pula Minho mendiamkan Hyunra. Suasana kembali seperti saat mereka duduk di bangku sekolah. Seringkali bertengkar dan melempar tatapan sinis. Hanya satu yang berbeda, Minho semakin menyebalkan.

Seperti sore ini ketika mereka sudah bisa pulang.

Hyunra membereskan segala barang-barangnya sambil berdiri. Setelah dirasa semua barangnya sudah masuk ke dalam tasnya, ia beranjak dan meninggalkan tempatnya tanpa bicara pada Minho.

Tangannya sudah memegang knop pintu saat suara bass itu menghentikannya.

“Bawakan ini!” perintahnya melemparkan jasnya dari jauh. Untung Hyunra dapat menangkapnya dengan baik. Ia memandang Minho tajam sampai lelaki itu sudah berdiri di dekatnya.

“Apa maksudmu ini, hah?” tanya Hyunra tajam.

Minho tertawa kering sambil melonggarkan dasinya dan membuka pintu, “Di mana-mana, sekretaris adalah asisten pribadi bos. Kau harus melayani perintah-perintahku, ara? Sudah lakukan saja!”

Damn, sungut Hyunra dalam hati. Minho juga menyuruhnya membawa tas kerjanya.

Ketika sudah sampai di mobil mereka, Hyunra meletakkan barang Minho di jok belakang sebelum membanting pintu mobil itu dan berbalik. Minho yang baru memasukkan separuh badannya ke mobil langsung keluar lagi dan berdecak kesal melihat Hyunra.

“Aw!” pekik Hyunra saat pergelangan tangannya dicengkeram Minho kuat-kuat, membuat ia terpaksa berbalik dan membeku saat mendapati jaraknya dengan Minho yang hanya beberapa senti.

Minho tak memedulikan itu dan menyeret Hyunra kembali ke mobil, membuka pintunya dan mendorong Hyunra ke dalam.

Bruk!!

Ia menutup pintu dengan kasar, tepat di depan wajah Hyunra. Hyunra hanya bisa menekuk wajahnya dan melipat tangan di depan dada.

Minho menyunggingkan smirk penuh  arti sambil mulai melajukan mobilnya ke suatu  tempat.

***

Hyorim PoV

Happy day.

Kalian tahu? Aku akan kencan dengan Minho, setelah sekian lama aku berusaha akhirnya ini datang juga. Aku merapikan rambutku sambil bersenandung kecil. Sedikit kejam karena aku senang dengan pertengkaran suami istri itu.

Jujur, aku tak menyukai Hyunra yang telah mengambil Minho. Lihat saja, hanya tinggal beberapa langkah Minho akan berlutut dan memintaku kembali padanya. Hahaha.

Aku tertawa sampai akhirnya tawa itu terhenti saat melihat seseorang yang biasa kupanggil umma berdiri di ambang pintu melalui cermin di depanku. Tawaku mendadak lenyap. Wanita tua ini… kenapa dia selalu datang?!

“Mau apa umma ke apartmentku?” tanyaku dingin. Aku tahu aku kelewatan, tapi perlakuan umma kepadaku lebih kelewatan.

“Kau bicara apa? Kau anakku, aku pasti akan datang menjenguk.” Cih palsu sekali tingkahnya itu. Aku tertawa remeh sambil melipat tangan di depan dada.

“Sejak kapan umma memedulikanku, huh? Sejak aku sukses?” Aku tertawa lirih. “Sejak kecil, umma hanya membanggakan Jessica dan adikku saja. Tapi, saat aku mendapat predikat juara sekalipun, kau hanya tersenyum datar. Cih!”

Kulihat umma tampak syok, namun dengan cepat menguasai dirinya.

“Itu dulu, Nak. Sekarang umma menyadarimu, meski Sica dan adikmu tetap lebih…”

“CUKUP! Aku muak dengan semua ini. Asal kau tahu, aku membenci umma dan keluarga  yang lain!  Aku benci!!” Aku menyambar tasku dan berjalan cepat meninggalkan umma. Tidak kupedulikan panggilannya. Aku benar-benar muak.

***

Hyunra PoV

Seorang yeoja tersenyum menyambut kedatangan mobil kami. Aku mengerjapkan mataku. Aku tidak salah lihat ‘kan? Bukankah itu Jung Hyorim? Mau apa Minho mengajakku kemari untuk menemuinya?

Tanpa babibu, Minho keluar dari mobil dan dapat kulihat binar bahagia di wajahnya saat berbicara dengan Hyorim. Deg! Aku menyentuh dadaku. Ada rasa sakit yang tak dapat kulukiskan. Dia begitu dingin padaku tapi pada Hyorim…

Tok tok tok

Minho mengetuk kaca mobil di sebelahku dan mengisyaratkan agar aku turun dengan jarinya. Aku segera turun dari sana dan melongo melihat apa yang terjadi di depanku. Minho mempersilakan Hyorim masuk. Kemudian, tanpa menoleh sedikitpun padaku, Minho berjalan ke bagian pengemudi dan masuk. Kudengar mesin dihidupkan. Mataku membulat seketika. Kuketuk keras pintu mobil di sampingnya dan kaca itu menurun perlahan.

“Apa?” tanyanya santai, membuatku ingin menonjoknya.

“Apa maksudmu ini, hah?”

“Belum jelas juga?” Minho tertawa kecil, membuatku semakin merasa marah. “Pulang sendiri. Terima kasih sudah membawakan barangku asisten.”

“Mwo?! Hei!” Saat aku hendak protes, ia sudah tancap gas meninggalkanku di sini. Aku melongo menatap kepergian mobil itu dan kutendang udara dengan kesal.

“DAMN KAU CHOI MINHO!!” teriakku tak memedulikan tatapan orang-orang yang terganggu dengan teriakanku.  Jadi kau benar-benar mau melihat aku menikahi Key, hum? BAIK! Aku terima tantanganmu, Tuan Choi!

***

Author PoV

“Sedang apa di sini?”

Hyunra mendongak dan fokusnya dari mie ramen di depannya teralihkan kepada seseorang yang bertanya dan duduk di sampingnya. Hyunra tersenyum, ternyata itu Eunrin.

Eunrin sudah pasti ada di sana setiap hari Rabu, ia akan setia menunggu Jinki selesai bertugas dan kencan sampai malam.

Kafe yang berseberangan dengan rumah sakit itu masih tampak ramai. Jelas saja, baru jam delapan malam sekarang ini dan daerah itu termasuk daerah ramai di Seoul.

“Yah, aku sedang makan.” Hyunra tertawa garing. Eunrin menaikkan alisnya sambil meneliti keadaan Hyunra yang masih terbalut blazer kerjanya dan rambutnya sedikit berantakan.

“Ada masalah?”

Hyunra menghentikan kegiatan makan memakan ramennya dan menatap Eunrin lama sebelum kembali melanjutkan makannya dengan cuek.

“YAAA! Aku bertanya padamu, babbo!” seru Eunrin sambil berdecak kesal.

“Mollaseo~!” kata Hyunra mengendikkan bahunya cuek, membuat Eunrin semakin frustasi.

“Baik, baik. Lalu kenapa  kau di sini?” Lagi-lagi Hyunra menghentikan aksi makannya, mencerna ucapan Eunrin, dan kembali makan. Eunrin menghela nafas berat, “Mau berbagi?”

Kali ini Hyunra mendongak. Tatapannya sangat sarat akan rasa sakit dan kecewa. Eunrin tertegun melihat mata Hyunra.

“Aku… ada janji dengan dokter Lee Taemin.”

Eunrin mengerutkan kening, terlihat berpikir, “Dokter kandungan itu? Mau apa? Kau hamil?” tanya Eunrin bertubi-tubi. Hyunra menggeleng cepat, membuat tanda tanya memenuhi kepala Eunrin.

“So?” Eunrin menggantungkan ucapannya.

Hyunra mulai menceritakan mimpinya tiga minggu yang lalu, yang terus membuatnya penasaran dan akhirnya mencoba.

“Hahahahaha.” Eunrin tertawa. “Kau pasti bisa hamil, Hyunra-ya! Masa hanya karena mimpi kau bisa menyangka dirimu mandul?”

“Kadang mimpi adalah sinyal peringatan,” ucap Hyunra dingin, membuat Eunrin langsung berhenti dan menatapnya tidak percaya.

“Kau percaya mimpi itu?” Hyunra mengangguk. “Kau percaya kau akan mandul?” Suara Eunrin mengecil dan kali ini ia menggeleng melihat Hyunra mengiyakan praduganya.

***

“Kamsahamnida, uisa!” Hyunra menerima amplop coklat besar itu dan membungkuk.

“Apapun hasilnya, terimalah dengan lapang dada. Itu pesan saya, agasshi.” Suara dokter itu begitu lembut dan menenangkan. Lengkap dengan senyum manisnya yang seakan memberi ketenangan pada siapapun yang melihatnya.

“Ne.” Hyunra berbalik dan kemudian menghilang di balik pintu. Lee Taemin –dokter belia itu tersenyum penuh arti sambil menatap pintu tersebut dan ia meraih ponselnya, mengetikkan sederet kalimat untuk dikirimkan pada seseorang

***

Hyunra memeluk amplop itu sambil menyandar di tembok koridor rumah sakit yang mulai sepi itu. Jantungnya berdebar kencang. Setelah mengendalikan nafasnya yang tak beraturan, dia mulai menyobek amplop itu perlahan/. Dikeluarkannya selembar kertas yang akan menentukan hidupnya sendiri.

Srek…

Nafasnya memburu dan keringat dingin membanjiri keningnya. Ia terus menyebut Tuhan sambil mulai membaca dengan teliti.

Suasana sedingin ini tidak mampu membuatnya tenang, malah ia semakin gugup.

Tapi, pertanyaannya terjawab sudah saat ia membaca sebuah kalimat bercetak tebal di paling bawah. Tangannya bergetar dan akhirnya melemas. Kertas itu jatuh begitu saja dari genggamannya, seiring tetesan air mata yang tiba-tiba sudah keluar dari kedua matanya.

Ia kecewa dengan hasil tes ini. Tangannya menyentuh bagian perutnya sambil menatap bagian tubuhnya yang satu itu dengan uraian air mata.

Perlahan tapi pasti, ia mulai terjatuh dan terduduk di lantai –masih memegang perutnya.

Kandas sudah impiannya untuk dapat merasakan kehidupan baru berkembang dalam tubuhnya dan lahir ke dunia untuk dirawat. Sekejam itukah takdir? Mengapa ia tak diijinkan menjaga seorang bayi mungil ke dunia ini?

Aku tidak bisa memiliki anak? Tidak bisa merasakan detak jantungnya, mengalami masa mengidam, dan… dan… tidak bisa memiliki keturunan? Aku cacat… ujar batinnya sambil tertawa tanpa suara seiring aliran air matanya yang semakin deras.

***

Minho menelungkupkan kepala di atas meja bar. Kepalanya berat sekali, tapi tak ada niat untuk berhenti meneguk soju itu. Sedetik kemudian ia sudah mendongak –dengan gerakan lambat dan sedikit erangan; untuk memesan soju sebotol lagi.

Hyorim menyeruak dari kerumunan yang sedang asyik dengan surga dunia itu dan merebut botol soju yang baru akan dipegang Minho.

“Kau sudah mabuk!” Hyorim memperingatkan. Minho menatap tak suka dan mencoba merebut lagi botol soju itu, tapi percuma. Hyorim menjauhkan botol itu dan menatapnya kesal.

“CHOI MINHO!” bentaknya meski tetap tak terdengar karena bisingnya tempat itu.

Minho nyengir kuda tanpa benar-benar mendengar bentakan itu. Dia mengangkat kedua tangannya dan menangkup pipi Hyorim.

“Wajahmu jadi banyak, Cantik.” Suara Minho terdengar menggoda dan tanpa diduga-duga, Minho mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir yeoja itu. Melumatnya ganas, membuat Hyorim membatu seketika.

Hyorim tak membalas ciuman itu. Ia hanya diam saat Minho seakan hendak menghabiskan bibir tipisnya tanpa sisa.

Minho akhirnya menjauhkan wajahnya dan tertawa-tawa tidak jelas.

Shit, keluh Hyorim dalam hati.

“Hyunra-ya… kenapa kau begitu judes?” Hyorim membelalakan matanya. Apa yang dikatakan lelaki ini tadi? HYUNRA?!

“Minho! Aku Hyorim, bukan si tengik itu!” seru Hyorim gusar. Ia tak mau untuk ke sekian kalinya selalu tersisihkan. Ia tak akan membiarkannya.

Minho masih tertawa, “Hahaha lucu sekali kau, Hyunra-ya…” Minho kembali merengkuh pipi Hyorim, hendak menciumnya lagi sebelum Hyorim bertindak.

Plak!

Satu tamparan mulus mendarat di pipi Minho. Namja yang tersentak itu tiba-tiba menyenggol sebuah gelas dan menjatuhkannya. Sayang kegaduhan itu tidak membuat musik-musik berhenti.

“Aish!” Minho meringis saat melihat jari teiunjuknya berdarah tertusuk pecahan gelas yang terkena padanya. Namun, ia tertegun saat memperhatikan lukanya sendiri. Perasaan tidak enak menyelimutinya.

“Hyunra…” bisiknya menyebutkan nama itu. Entah kenapa, sekarang ia merasa Hyunra dalam bahaya.

***

Tidak ada taksi malam itu dan Hyunra terpaksa berjalan kaki menuju ke terminal bis terdekat. Ia tampak kacau dengan rambut sedikit berantakan, mata sembab dan langkah terseok-seok. Ia tak menyangka hidupnya mendadak hancur begini.

Pertama, di saat ia mulai menerima pernikahan itu, tiba-tiba saja Minho berubah menyebalkan dan memaksanya kembali pada Key –luka lamanya. Kedua, Hoongki ahjussi sekarang mulai sering menerornya.

…dan ketiga? Dia mandul, dia tak bisa hamil dan dia yakin Minho akan membencinya karena Minho sangat mengharapkan seorang anak –setidaknya itu yang ia intip dari diary Minho secara diam-diam.

Tidak akan ada yang mau memperistrinya dan mengakuinya karena ia tak bisa memiliki anak. Kurang “bahagia”kah hidupnya? Ia tak tahu kenapa cobaan senang sekali mendatanginya.

Semua rencana nama anak yang selalu Hyunra pikirkan sejak dia masih kecil kini terpaksa harus ia relakan untuk menjadi imajinasi dan ilusinya. Ia harus melampiaskan hidupnya ke satu hal asal dia lupa dengan masalah ini.

Hyunra berdiri di tepi jalan sambil menarik nafas panjang dan melangkah untuk menyebrangi jalanan yang sepi ini untuk mencapai terminal bus sepuluh meter di seberangnya. Hanya terlihat beberapa orang yang sedang menunggu bis.

Yeoja itu berjalan lamban, seakan rohnya hilang sebagian dan jiwanya kosong. Ia terlalu syok sampai syaraf tubuhnya ikut melemas begitupun ototnya.

Tring..

Tiba-tiba kalungnya terlepas begitu saja dan jatuh di tengah jalan. Merasa tidak peduli dengan posisinya di tengah jalan, ia membungkuk dan memungut kalung itu.

Saat tangannya terulur mengambil kalung itu, sebuah sinar menyilaukan datang membesar dari arah kanan. Hyunra yang sudah menegakkan tubuhnya tertegun dan menoleh. Orang-orang sudah berteriakan, sementara kaki Hyunra serasa dipaku saat melihat sebuah truk melaju kencang dan dalam beberapa detik akan menghantam tubuhnya.

“Shit,” umpatnya karena ia tak dapat bergerak.

Semua terjadi dengan cepat. Hyunra merasakan tubuhnya seakan melayang dengan ringan. Yeoja itu tidak tahu bagaimana peristiwanya, yang ia tahu kini ia terkapar di tepi jalan dengan darah di kepalanya. Tangan kirinya menggenggam kalung itu erat sekali. Tubuhnya terasa remuk dan sakit.

Ia hanya sempat berpikir bahwa ada yang memeluknya –yang mungkin saja malaikat?

“Minho, saranghae…” bisiknya. Ia tersenyum melihat bayangan orang berlarian ke arahnya dan itulah senyum terakhirnya sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

To be continued

***

TEASER for TPTM STEP 6 – Goodbye

Minho menangis kencang sambil berteriak penuh rasa putus asa. Ia tidak menyangka akan sesakit ini kehilangan orang yang ia sayangi. Ia mengepalkan tangannya dan meninju udara dengan gusar.

***

Jonghyun menatap nanar tubuh wanita yang ia sayang itu terkapar di atas ranjang rumah sakit. Ia tersenyum kecut mengingat bahwa wanita itu tidak akan pernah tersenyum lagi padanya. Tubuhnya telah dingin  dan kaku…

***

Jaekyo berdiri di samping gundukan tanah itu sambil menahan isak tangisnya. Ia membaca nama yang tertulis di batu nisan itu sambil terus menangis. Ia tak menyangka bahwa perpisahan akan sesakit ini.

Jonghyun tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan, dan mereka menangis bersama.

***

“Aku dan Key, kami sudah kembali.”

“Tandatangani surat ini dan kita selesai.”

“Kenapa kau menghindariku, teruss?!”

“Aku mencintaimu…”

“Bastard! Jauhi dia, jangan sentuh dia sekali lagi atau kau mati di tanganku. Kim Keybum!”

“Hentikan, Choi Minho! Kau bodoh! Aku membencimu, cankam itu!”

“Kartu AS ada padaku…”

So, what happen again with them? What about Hyunra? Can she save from that accident? It’ll be reveal In the next step! Kamsa :D

26 thoughts on “[STEP 5] The Pain of This Marriage

  1. ergh,,agak lupa ama cerita sblumnya..jadi agak bingung jg pas bca..
    but,,overall daebak!!!#plak/bhsa ap’n tuh
    minhyun g’bleh psah donk…
    tu yg nylmtin hyunra cp???
    ANDWE!!!!!!!!!!!!
    q gkn trima klo minhyun pisah…#demo smbil bwa banner
    pw’y sma am yg pernah qm ksih kq tu kn cingu??

  2. aihhh minhonya nyebelin lah, kenapa harus bales dendam ke hyunra! Dan hyunranya jg nyebelin knp harus ngebentak minho!
    Pilih dong salah satu key atau minho, hyorim atau hyunra! (?) Ekekkekekekekeke
    Hohohoho baguss eonniiiiie! Kereeeeen! Daebakkkk (Y)

  3. Minta pwnya buat yg step 5 donk??! *penasaran bgt! uda baca marathon dari tadi, eh taunya yg ke-6 diproteksi T.T :))

  4. eonni,, tweet ku ngga bisa di buka,,
    ad cra lain ngga buat dpet PW step-6??
    penasaran banget eonni,, jebal.. *bow…

  5. gw mau’a Hyunra aam Minho yg lain k’laut aja !!!!!!!!!!!!!!!! esmosi gw baca’a ckckckckck trus Hyunra mati ngga kan boong dong tega bener nih author’a !!!!!!!!!!!! plus saia butuh password buat part 6 man ???? mention gw belom d’baca yah otthoke !!!!!!!!!!!!

  6. thooor-___-
    gue udah hampir setahun nungguin part 6 nya keluar-_- SETAHUN thor!gue GARING thor nungguinnye-_-
    lanjutin dong thor!!
    udah terlanjur nangis2 eh waktu nyari part selanjutnya malah gak ada-_- thor LANJUTIN !!!!!

  7. Udh 2 TAHUN ak nunggu lanjutan FF SOUL! #Bikinpenasaransampemaumatikayariyoung!
    Kalo udh tamat di blog author, bleh mnta alamat blognya?

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s