Back To Tomorrow

Title: Back To Tomorrow

Author: lightless_star

Genre: Sad, Drama, Romance, Angst

Cast:

  • Kim Myungsoo (INFINITE’s L)
  • Bae Suji / Bae Suzy (Miss A’s Suzy)

Length: Oneshot

Rated: PG

Back To Tomorrow

© lightless_star

xxx

DISCLAIMERS: This just a fiction. It doesn’t happen to the characters in the real life. The characters belong to themselves. I don’t take any financial profit based on this story

Back to Tomorrow (the song) © Homin from tohoshinki

Adapted from: You Just Being In This World MV © Position

WARNING: Alternate universe

xxx


“Myungsoo-oppa, ayo kita kesana!” ucap gadis berambut lurus kecokelatan itu sambil menatap pria yang berdiri disampingnya.

“Mau apa kita kesana, Suzy-ya?” tanggap pria itu sambil menatap balik gadis tadi dan mengerutkan dahi. Gadis disampingnya mengerucutkan bibir.

“Ayo, temani aku saja! Kau pelit sekali,” balasnya cemberut sambil kemudian menarik pergelangan tangan pria itu lalu berlari kecil kearah ujung jalan yang dimaksudnya.

Suzy memperlambat langkah sementara Myungsoo sudah berjalan sejajar dengannya. Namun, kemana semua orang? Kenapa di jalanan yang kanan-kirinya gedung tinggi ini cuma ada mereka berdua?

Mereka hampir sampai dan Myungsoo melihat kesamping. Tak ada lagi orang yang menggenggam tangannya dan berjalan disampingnya. Gadis itu sudah pergi. Tapi, kemana?

“Suzy-ya? Suzy-ya?” ia memanggil-manggil nama gadis itu dengan suara lembut sambil melihat sekeliling. Namun hasilnya nihil. Gadis itu tetap tak muncul atau menyahut panggilannya.

“Suzy-ya!” ia meneriakkan nama itu kali ini, membuat suaranya terdengar sampai jauh dijalanan yang sepi itu. Hanya ada dia sendiri. Tak ada gadis itu lagi.

xxx

Myungsoo membuka mata dan melihat jam yang tergantung manis di dinding ruang tengah rumah kecilnya. Ia tertidur diruang tengah kemarin malam karena terlalu lelah mengurus segala sesuatu untuk proyek kampusnya serta bergelut dengan kertas berisi tablature gitar, dari lagu pertama ciptaannya yang belum ia selesaikan.

Ia mengernyitkan dahi lalu mengucek matanya dan mengangkat kepalanya lalu duduk tegak diatas kursi kembali. Ia tertidur di mejanya kemarin. Ia melihat kedepan, meja itu penuh dengan kertas-kertas hasil pekerjaannya. Myungsoo menggelengkan kepala. Masih banyak yang belum ia selesaikan rupanya. Ia melihat kalender yang tergantung disebelah jam dinding. Deadline-nya tinggal tiga hari lagi, jadi ia harus cepat menyelesaikan semuanya.

“Ck!” Myungsoo mendecak pelan sambil menelusupkan jari-jari diantara rambut hitamnya lalu kemudian mengusap-usap kepalanya sendiri. Ia kembali mengambil satu-persatu kertas itu dan bermaksud membereskannya. Sampai akhirnya ia menemukan kertas berisi tablature gitar dari lagu yang belum ia selesaikan itu. Itu bisa dikerjakan nanti saja karena ia cuma ingin memperdengarkan lagu itu ke Suzy, jadi tidak ada deadline-nya. Proyek kampus masih lebih penting.

Drrt.. Drrt..

Suara getar ponsel mengganggu pekerjaannya.

“Yeoboseyo?” ucapnya dengan suara parau karena baru saja bangun tidur.

“Myungsoo-oppa! Kau dirumah, kan? Aku sebentar lagi kesana, ya,” ucap suara perempuan di seberang telepon. Suara yang sangat dikenali Myungsoo.

“Ne. Aku dirumah,” ucapnya cepat, buru-buru. Ia ingin mengerjakan pekerjaannya lagi.

“Aku kesana, ya? Sebentar lagi aku sampai, kok.” Myungsoo hanya mengangguk pelan, lalu memutar bola matanya. Sebenarnya ia tak ingin diganggu hari ini. Tapi tak mungkin dia melarang Suzy kerumahnya sekarang, apalagi gadis itu bilang kalau dia sudah dekat dari sini.

Myungsoo menuliskan sesuatu dikertas yang ada didepannya, sesekali keningnya berkerut. Namun kemudian dia melanjutkan pekerjaannya lagi dengan serius. Setidaknya, sampai suara orang yang mengetuk itu kembali menganggunya.

“Annyeong, Myungsoo-oppa!” suara yang muncul diikuti seorang gadis manis yang masuk saat Myungsoo baru saja membuka pintu yang tadi diketuk.

Suzy—gadis itu—berjalan keruang tengah rumah Myungsoo yang berantakan dan duduk di sofa putih gading yang ada disana. Sementara Myungsoo tidak mempedulikannya dan malah duduk sambil menyelesaikan pekerjaannya lagi.

“Rumahmu berantakan sekali, ya,” komentar Suzy sambil melihat sekeliling yang memang berantakan. Kertas berserakan sampai ke lantai, ada gelas kopi yang sudah kosong diatas meja, sampai gitar yang diletakkan sembarangan di sofa tempat dia duduk sekarang. Tapi Myungsoo tetap diam, tak menanggapi komentar itu.

Suzy berjalan kearah Myungsoo dan melihat apa yang dikerjakan kekasihnya itu. Myungsoo masih diam, wajahnya masih memasang ekspresi serius.

“Apa yang sedang kau kerjakan, oppa?” tanya Suzy sambil mencondongkan badannya kearah Myungsoo agar ia bisa melihat apa yang ditulisnya dikertas itu dari tadi.

“Ng? Bukan apa-apa. Cuma proyek kampus,” jawabnya singkat tanpa melihat gadis yang berdiri disampingnya itu. Suzy menundukkan kepala, senyum yang terlengkung diwajahnya sedari tadi sekarang pudar, matanya pun tak lagi memancarkan cerah. Ia merasa mestinya ia tak datang kesini tadi, karena tampaknya sekarang yang ia lakukan cuma akan menganggu Myungsoo yang sedang sibuk.

Suzy mengambil beberapa kertas dimeja dan melihat-lihat. Ia kembali tersenyum kecil saat melihat kertas berisi tablature gitar dari lagu yang dibuat oleh Myungsoo sendiri.

“Wah, ini ciptaanmu, Oppa? Aku ingin cepat mendengarnya!” ucap Suzy dengan nada ceria sambil kembali menatap Myungsoo yang ada disampingnya, tapi tampaknya pemuda itu tidak antusias sama sekali.

“Itu belum selesai,” jawabnya sambil memutar bola matanya malas.

Suzy mengerucutkan bibir tanda tak suka. Ia lalu mengambil cokelat batangan yang ada disaku celana jeans hitam yang ia kenakan. Masih ada dua lagi, jadi dia bermaksud memberikan yang satu pada Myungsoo.

“Myungsoo-oppa, mau cokelat tidak? Kata kakakku, rasa manis itu bisa memunculkan rasa senang juga nantinya. Apa kau mau? Ini. Aku masih punya satu lagi,” ucap gadis itu lagi, masih dengan senyum cerah seperti tadi. Namun tetap tak ditanggapi sama sekali.

“Tidak usah, nanti saja,” ucap Myungsoo dingin sambil menepis tangan kanan yang menyodorkan cokelat tadi, membuat cokelat itu jatuh ke lantai. Suzy menatap kebawah. Binar cerah dimatanya serta senyum manis dibibirnya kembali pudar. Ia mengambil tasnya yang tergeletak di sofa lalu berjalan kearah pintu dan pergi tanpa pamit atau bicara apa-apa pada Myungsoo.

Dan di belakang punggung, Myungsoo dapat mendengar suara pintu yang dibanting keras.

“Suzy-ya!” serunya kuat sambil setengah berlari dan mendapati gadis itu makin mempercepat langkah hendak menjauhinya.

“Mianhae, Suzy-ya! Aku tidak bermaksud begitu!” ia mencengkeram pergelangan tangan kanan gadis itu dan membuat Suzy menatapnya sebentar, namun gadis itu kembali membuang muka dan melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam Myungsoo.

“Aku mau pergi saja!” ucapnya lalu kembali berjalan kedepan sambil menundukkan kepala.

Ciiiit…. Brakk!

“Suzy-ya, Awas!!”  ia berteriak, berteriak sekeras yang ia bisa. Sampai ia bisa rasakan suaranya hampir hilang dan tenggorokannya terasa tercekat. Namun, decit rem mobil yang kemudian diikuti bunyi benturan keras itu tetap terdengar setelahnya.

Myungsoo membelalakkan mata, tak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya.

“Suzy-ya!” ia meneriakkan nama itu sekali lagi, namun yang dipanggil tak lagi bisa menyahut. Perlahan mata hitamnya yang indah itu menutup semakin rapat dan benar-benar tak akan bisa terbuka lagi. Gadis itu sudah pergi.

Dapat ia rasakan ada airmata yang entah sejak kapan mengalir dipipinya, lalu jatuh saat melewati garis rahangnya yang mengeras. Ia bukan orang yang mudah menangis. Tapi, setelah sekian lama dia tak menangis, kali ini ia menangis lagi. Karena gadis itu.

“Suzy-ya…”ucapnya lirih, suaranya parau. Ia ingin mendengar sosok itu balas memanggil namanya dengan nada ceria seperti biasa lalu berlari kearahnya dan memeluknya erat-erat. Tapi, tak ada lagi. Sosok itu tak lagi bisa bersuara kini, tak akan bisa berlari dan memeluknya erat lagi. Ia bahkan hanya diam saja saat orang-orang mulai ramai mengelilinginya.

“Suzy-ya…” sekali lagi dan tetap tak ada jawaban. Gadis itu memang sudah pergi.

xxx

Myungsoo membuka pintu rumahnya lagi sore ini. Keadaannya masih sama saat pertama ia tinggalkan saat ia berlari keluar dan mengejar gadis itu. Masih berantakan. Seperti yang dikatakan Suzy kemarin. Ia berjalan kearah jendela dan menatap keluar. Hujan masih perlahan mengguyur Seoul sore ini. Membuat dinginnya perlahan menjalar lewat jendela yang terbuka dan menelusup ke kulit putih pucat pemuda itu. Ia menundukkan kepala. Suzy selalu bilang kalau dia suka hujan. Dia selalu suka saat Myungsoo menggenggam tangannya yang dingin dan menjalarkan kehangatan, dia selalu suka saat Myungsoo melingkarkan lengan dibahunya dan menyuruhnya sedikit agak menunduk agar dia tidak kebasahan, dan setelah itu dia akan selalu bilang,”Walaupun wajahmu selalu dingin seperti itu, ternyata kau ini baik juga, ya.”

Myungsoo menggelengkan kepalanya cepat. Entah kenapa segala sesuatu tentang Suzy selalu muncul dan mengingatkannya pada gadis itu kembali. Myungsoo mengucek-ucek matanya yang terasa berat. Bukan hanya karena ia menangis saat gadis itu pergi, tapi karena memang belum ia pejamkan dari dua hari yang lalu. Ia berjalan gontai dan duduk di sofa putih gading di ruang tengahnya, dengan tatapan kosong yang menerawang entah kemana.

Ia melihat sekeliling. Diatas meja yang berantakan ada foto berbingkai hitam dimana ia melingkarkan lengannya di bahu seorang gadis berambut panjang kecokelatan yang berwajah cemberut, sementara ia tersenyum lebar hingga mata kecilnya menyipit membentuk garis lengkung. Foto itu diambil sekitar dua tahun yang lalu. Saat mereka sama-sama masih di SMA, saat Myungsoo masih menjadi kakak kelas Suzy. Saat mereka masih bisa bertemu satu sama lain hampir setiap hari, masih bisa memperhatikan satu sama lain saat jam istirahat berlangsung. Tidak seperti saat Myungsoo mulai masuk universitas dan jadi sibuk dengan kuliahnya sehingga mereka jadi tidak terlalu sering bertemu.

Disamping tempatnya duduk, ada jepit rambut Suzy yang mungkin terjatuh dari tasnya dan tertinggal disini saat ia marah dan buru-buru berjalan keluar dua hari yang lalu itu. Pemakaman gadis itu sudah berlalu kemarin, tapi Myungsoo masih bisa merasakan dia hadir disini sekarang. Duduk disampingnya yang sedang sibuk dengan proyek kampusnya, mengoceh tentang berbagai macam hal walaupun ia tahu Myungsoo tidak antusias sama sekali.

Di kalender yang tergantung miring di dinding, ada tanggal yang dilingkarinya dengan tinta merah. Tanggal ulangtahun Suzy. Dia ingat kalau Suzy ulangtahun nanti, dia ingin memperdengarkan lagu yang ia ciptakan itu. Myungsoo menundukkan kepalanya, matanya yang kosong, bibirnya yang kering dan pucat, serta wajahnya yang tampak lelah menunjukkan kalau dia begitu terpukul. Ia bahkan masih memakai jas hitam yang kemarin ia pakai saat menghadiri pemakaman dan belum menggantinya sampai sekarang.

“Suzy-ya….” ia kembali memanggil nama itu lirih. Mengharap jawaban, walaupun ia tahu sosok itu tak mungkin lagi ada disini.

Ia menyandarkan kepala dan punggungnya ke sandaran sofa. Memejamkan mata, dan tanpa ia sadari airmata itu kembali mengalir dalam diamnya. Sampai akhirnya ia benar-benar jatuh tertidur.

xxx

Drrt… Drrt…

Getar ponsel membuatnya membuka mata kembali lalu berdiri dan mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja. Matanya yang masih setengah terbuka dan terasa berat membuatnya tak bisa melihat siapa nama pemanggil yang membangunkannya dari tidurnya tadi.

“Yeoboseyo?” sapanya pada orang diujung telepon.

“Myungsoo-oppa! Kau dirumah, kan? aku sebentar lagi kesana, ya!” sahut suara yang menjawab diseberang telepon. Sontak membuat Myungsoo membuka matanya kali ini.

Suara ini… Tidak mungkin.

“Suzy-ya? Ini kau?”

“Ne, ini aku! Masa kau tidak tahu?”

“Kau… Bagaimana bisa?”

“Apanya, sih yang ‘bagaimana bisa?’ Kau aneh hari ini, Oppa.”

Myungsoo mengatupkan bibir. Memejamkan mata kembali, ia berusaha meyakinkan dirinya kalau suara yang ia dengar barusan itu cuma halusinasinya saja.

“Ya sudah. Aku akan sampai di sana sebentar lagi,” ucap suara perempuan itu lagi tanpa menunggu Myungsoo bicara, dan sambungan terputus setelah itu.

“Apa aku terlalu memikirkannya sampai-sampai otakku jadi tidak beres begini?” pemuda bergumam pada dirinya sendiri lalu kembali menjatuhkan diri disofa seperti tadi dan memijat-mijat pelipis dengan jari telunjuknya, berusaha menghilangkan pusing di kepalanya.

Setidaknya, beberapa menit sebelum ia mendengar pintu yang diketuk seseorang.

“Annyeong, Myungsoo-oppa!” suara bernada ceria yang muncul diikuti gadis cantik yang masuk setelah Myungso membukakan pintu yang daritadi diketuk.

Baju yang dikenakannya, tatanan rambutnya, cara bicaranya, apa yang dia katakan, semuanya mirip.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

“Suzy-ya….” ucap Myungsoo pelan, tapi gadis itu mendengarnya dan membalikkan badan, berusaha menatap pria yang berdiri dibelakangnya.

“Kau hari ini aneh sekali, ya. Apa ada yang salah dengan otakmu? Kau salah makan? Atau apa? Ditelepon tadi kau heran kenapa aku meneleponmu, lalu barusan kau memanggil namaku seakan-akan ini pertemuan pertama kita sejak 10 tahun. Kau kenapa, sih?” ucap Suzy panjang lebar sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menatap Myungsoo heran.

Tapi yang ditatap malah berjalan pelan kearahnya dengan tangan terjulur kedepan dan kini memegang pundaknya.

“Suzy-ya… Ini benar kau? Aku rindu,” ucapnya pelan kemudian memeluk tubuh gadis itu erat-erat, seakan tak ingin dilepasnya lagi.

Tangan gadis itu perlahan terjulur ke punggungnya dan membalas pelukan tadi kemudian membenamkan kepalanya di ceruk leher Myungsoo,”Ne, Aku juga rindu.”

“Myungsoo-oppa, kenapa kau memakai jas padahal kita sedang di dalam rumah?” ucap gadis itu sambil mengerutkan dahi bingung. Myungsoo melihat kebawah dan sadar kalau pakaiannya masih sama seperti dua hari yang lalu. Ia hanya memasang cengiran kecil diwajahnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Suzy masih memandangnya heran.

“Biar aku ganti baju dulu,” ucapnya lalu berjalan cepat ke kamar dan kembali beberapa menit kemudian setelah mengganti pakaiannya dengan T-shirt biru dan celana jeans yang biasa ia pakai sehari-hari.

“Rumahmu berantakan sekali, ya,” komentar gadis itu sambil duduk di sofa. Ia ingat kalimat ini, dan kemarin ia tak meresponnya sama sekali, membiarkan gadis itu berceloteh sendiri.

“Ya. Belakangan sedang banyak yang harus aku kerjakan, jadi aku belum sempat membersihkannya,” ucapnya gugup, masih tak percaya kalau yang ada didepannya adalah gadis itu.  yang baru saja pergi dua hari yang lalu itu.

Ia melihat kearah kalender di dinding, tanggal 25 maret. Hari dimana dia datang dua hari yang lalu.

Apa yang sedang terjadi? Ada apa dengan waktunya?

Satu yang dia simpulkan, waktu sedang berputar kembali. Mungkin kedengarannya tidak masuk akal, dan biasanya orang yang selalu mengedepankan logika sepertinya tak akan mungkin mau percaya. Tapi kali ini, ia tak bisa memikirkan kemungkinan lain.

xxx

“Tumben sekali oppa mengajakku kesini,” ujar Suzy kemudian duduk di bangku panjang warna hijau tua di taman tempat mereka berada sekarang.

“Tidak apa-apa. Sudah lama kan kita tidak kesini?” ucap Myungsoo sambil tersenyum kecil dan memandang gadis itu lembut sambil bersandar tegak pada sebuah batang pohon besar yang daunnya meneduhkan sinar matahari yang menyengat siang itu.

“Ne, kita terakhir kesini dulu. Waktu kau akan lulus SMA. Aku ingat dulu kita sering kesini dan kalau kita kesini, kau pasti membawa kameramu karena pasti akan ada saja objek yang kau bidik,” ucap gadis itu sambil menengadahkan kepalanya keatas dan tersenyum.

“Kau masih ingat rupanya, ya. Tapi, dari semua objek yang aku potret, aku paling senang memotretmu,” kali ini ia memuji, mungkin untuk yang terakhir kali.

Karena esok hari mereka mungkin tak akan bertemu lagi.

“Dasar gombal! Tuh kan, pasti ada yang salah dengan otakmu hari ini! Tidak biasanya kau mau memujiku seperti itu,” ucap gadis itu sambil menatap Myungsoo heran, sementara pemuda yang berdiri didepannya hanya tertawa kecil menanggapi.

“Ucapanku yang barusan itu jujur! Memangnya aku tidak pernah memujimu sebelum ini apa?” ucap Myungsoo sambil mencondongkan badannya kearah Suzy dan menatap gadis itu kesal.

Suzy menjulurkan tangan dan mengusap pelan rambut hitam kekasihnya itu,”Wah, wah jangan marah, Oppa. Aku cuma bercanda,” ia menurunkan tangannya lagi dan bertanya pada kekasihnya itu,”Ngomong-ngomong, kamera yang aku berikan padamu dulu itu masih ada tidak? Masih sering kau pakai?”

“Tentu. Tidak mungkin aku tak memakai  barang yang kau berikan,” ucap Myungsoo kemudian mengeluarkan kamera itu dari tas hitam yang ia selempangkan di pundaknya,”Lihat. Aku menjaganya dengan baik, kan?”

“Wah, kukira sudah rusak karena sering kau pakai. Ahaha. Ternyata sampai sekarang Oppa masih sering membawa kamera kemana-mana seperti dulu, ya. Tidak berubah,” tanggap gadis itu senang sambil tersenyum hingga mata hitamnya yang bulat agak menyipit.

Klik!

“Oppa! Apa-apaan sih kau ini? Dasar jahil! Kenapa memotret saat ekspresiku jelek begitu?!” gadis itu berdiri dan memukul pundak pemuda yang berdiri disampingnya tadi, namun yang dipukul hanya tertawa geli.

“Jelek? Kau selalu cantik, Suzy-ya!” goda Myungsoo sekali lagi, membuat pipi gadis itu bersemu merah muda. Ia terdiam sejenak, sebelum kemudian menundukkan kepalanya malu dan memukul pelan pundak Myungsoo lagi hingga pemuda itu kembali terkekeh karena reaksi lucu gadis disampingnya ini.

Dan beberapa menit berselang, saat Suzy sibuk bercerita tentang banyak hal, sementara Myungsoo masih mendengarkan dan sesekali menanggapi ceritanya disertai banyak sekali bunyi ‘Klik’ dari kamera di genggamannya dan itu membuat Suzy merasa agak terganggu.

“Bisakah kau hentikan itu, Oppa? Kau ini, seperti tidak bisa memotretku besok-besok saja!” ucap gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya sebal, membuat Myungsoo gemas melihatnya.

Pemuda itu mengatupkan bibir. Diam.

Detik berikutnya, ia menundukkan kepala. Senyum manis diwajahnya barusan perlahan pudar.

“Bagaimana kalau kita memang tak bisa lagi bertemu besok, Suzy-ya?” bisiknya lirih. Namun gadis itu tak mendengar.

xxx

Jam dipergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul 17:00 dan sekarang mereka berdua sedang berjalan kerumah Myungsoo ditemani gerimis yang perlahan menyelipkan dingin menggantikan terik mentari yang menguasai sejak beberapa jam yang lalu.

Gadis disebelahnya masih saja tak bosan berceloteh senang tentang berbagai hal. Tentang bagaimana mereka yang masih bisa bertemu waktu sama-sama masih di SMA dulu, bagaimanaia mengingat dulu ia sering diam-diam memperhatikan Myungsoo dari jendela kelasnya dan bersembunyi dibalik pintu kelas tanpa berani menyapa kakak kelasnya itu, bagaimana mereka yang jadi semakin dewasa sekarang, bagaimana resahnya dia saat Myungsoo tidak memberinya kabar sampai beberapa minggu, bagaimana frekuensi pertemuan mereka sekarang yang tak sesering dulu. Sementara Myungsoo hanya diam dan mendengarkan, sambil sesekali tersenyum karena perkataan gadis itu yang ternyata masih ingat semuanya, bahkan hal-hal kecil yang Myungsoo tak ingat lagi.

“Ayo cepat, Myungsoo-oppa! Kalau jalannya lambat begitu, kita akan kebasahan disini. Hujan sebentar lagi akan semakin deras,” ucap gadis itu sambil menggenggam pergelangan tangan Myungsoo kuat dan menyeretnya agar mereka bisa menyeberang jalan. Namun, karena langkahnya yang lambat, cengkeraman tangan itu terlepas dan gadis itu berlari sendiri ketengah jalan yang ramai akan mobil berlalu-lalang.

Ciit…

Myungsoo membelalakkan matanya, menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya akan membuatnya tak bisa bertemu dengan gadis itu lagi.

“Suzy-ya, Awas!!” sontak ia berlari secepat yang ia bisa dan mendorong tubuh gadis itu keras hingga ia terjatuh dipinggir jalan.

Ia tersenyum lembut sekilas. Ia berhasil memperbaiki kesalahannya. Ia masih bisa melihat senyum itu lagi esok.

Oh, mungkin dia salah.

“Myungsoo-oppa!” gadis itu berteriak keras hingga suaranya nyaris hilang, kemudian mata hitamnya berair dan ia terisak pelan sambil menunduk.

Brakk!!

Gadis itu tak sanggup bergerak. Tubuhnya kaku dan semua sendinya seakan mati. Yang ia bisa lakukan hanya menangis dan membiarkan kerumunan orang itu membawa Myungsoo masuk ke dalam ambulance yang segera datang beberapa menit kemudian. Ia memukul-mukulkan tangannya ke jalanan tempat ia terduduk hingga tangannya berdarah.

“Myungsoo-oppa….” ucapnya lirih dengan suaranya yang hampir hilang.

Dan berikutnya, ia mencoba berdiri perlahan dengan kakinya yang lemas dan membuatnya tertatih saat berjalan.

Ia mendekati sosok yang terbujuk kaku itu kemudian. Darah mengalir dari sekujur tubuhnya, apalagi kepalanya. Luka-luka dibadannya terlihat mengerikan. Suzy masih terpaku sementara orang ramai mengerubungi sosok yang terlentang di jalan itu. Ada yang mendesis ngeri, ada yang cuma menonton. Sekujur tubuhnya terasa dingin, mata hitamnya menatap sosok itu miris, isaknya makin terdengar keras disertai bahunya yang bergetar.

Suzy mendekati sosok Myungsoo, dan membuatnya makin takut. Petugas medis dari ambulance yang baru datang langsung mengangkat tubuh Myungsoo. Suzy mencegat salah satu dari mereka.

“Bisakah aku ikut? Dia namjachingu-ku. Dia tak punya keluarga dikota ini,” ucap Suzy dengan tubuhnya yang makin gemetaran. Petugas medis tadi mengangguk dan mengajak gadis itu masuk.

xxx

Suzy masih duduk gemetar dan bersandar dikursi ruang tunggu rumah sakit itu sambil menelusupkan jemarinya di helai-helai rambut kecokelatannya dan memegangi kepalanya. Perasaan gelisah dan takut bercampur jadi satu dalam hatinya. Myungsoo jadi begini karenanya, dan kalau ada sesuatu yang buruk terjadi pada Myungsoo dia akan menyesal seumur hidup.

Sudah dari satu jam yang lalu ia masih duduk sambil menatap kosong ruang tunggu yang tiap sisinya berwarna putih itu, lalu sesekali menatap pintu abu-abu tempat dimana Myungsoo yang tidak sadar dibawa masuk tadi. Ia menunggu dokter itu keluar lalu memberitahunya bagaimana keadaan Myungsoo agar dia tidak gelisah atau ketakutan atau penasaran seperti ini lagi.

Kreeet…

Pintu dibuka dan orang yang memakai seragam dokter berwarna putih keluar dengan tatapan sendu. Membuat Suzy makin khawatir.

Ia lalu bangkit dengan buru-buru dari kursi dan menghampiri dokter tersebut sambil mengguncang-guncang bahunya, terus bertanya soal Myungsoo.

“Myungsoo-oppa bagaimana? Dia baik-baik saja, kan? tidak akan kenapa-kenapa, kan?” ucapnya dengan suara keras membuat semua orang yang ada disana memperhatikannya.

“—-Maaf.”

“Myungsoo-oppa kenapa, dok?! Kenapa?” ia merasakan perasaan tak enak karena ucapan yang barusan.

“Kami semua sudah berusaha, tapi dia tidak tertolong lagi. Dia terlalu banyak kehabisan darah, apalagi di perjalanan tadi. Kami turut berduka cita, Nona,” ucap dokter tersebut sambil mengusap-usap bahu Suzy yang sekarang menundukkan kepala.

Sepasang mata hitam yang biasa berbinar cerah itu membentuk kubangan air mata lagi. Ia berharap kalau ini cuma candaan Myungsoo saja. Ia menyuruh dokter untuk bilang kalau dia sudah meninggal, lalu beberapa detik lagi ia akan keluar dari ruangan Instalasi Gawat Darurat itu lalu memeluk Suzy dan terpingkal-pingkal sambil berkata,”Kenapa kau menangis, pabo? Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian! Dasar, kau memang mudah dikerjai!”

Suzy masuk kedalam ruangan dingin bercat putih itu. Myungsoo terbaring disana. Wajahnya pucat, dan tangannya dingin saat gadis itu menggenggamnya. Padahal tadi di ambulans, tangan itu masih terasa hangat. Tanpa ia sadari, ada airmata mengalir dari sudut matanya yang sewarna dengan mata terpejam pemuda di hadapannya itu, berlawanan dengan apa yang terpancar didalamnya. Tubuh gadis itu makin gemetar, ia memejamkan mata dan suara jeritan serta decitan rem itu kembali terdengar oleh telinganya.

Salah seorang petugas rumah sakit datang dan memberinya minum, tapi ia malah menggemeletukkan giginya di cangkir keramik rumah sakit. Ingin sekali rasanya ia berteriak sekarang, tapi tidak mungkin karena ini masih di rumah sakit dan ruangan ini tidak kedap suara. Suzy menggenggam tangan Myungsoo makin erat, seakan tak mau melepasnya dan membiarkan dingin telapak tangan itu juga menjalar di tubuhnya yang masih gemetar. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Myungsoo, ingin menatapnya untuk yang terakhir kali. Ia mengusap rambut hitam pekat pria itu, masih terasa lembut. Mata itu, sekarang tertutup. Padahal biasanya selalu memperhatikan apa pun yang ia lakukan, sampai kadang ia merasa terganggu. Bibir itu, sekarang tampat pucat dan hanya terkatup. Padahal biasanya selalu bisa memberikan seulas senyum yang mampu menelusupkan tenang dihatinya.

Ia makin terisak. Sorot matanya yang tampak kelam masih tak kunjung melepas penglihatan dari sosok yang terbaring lemah di depannya.

Myungsoo-nya telah pergi. Untuk selamanya.

xxx

Suzy melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah kecil yang dalamnya berantakan karena sudah lama tak dibersihkan penghuninya itu. Ia mendapatkan kunci rumah ini dari tas Myungsoo yang kemarin terjatuh dan ditemukan salah satu petugas medis dari ambulance yang kemarin menolongnya dan kemudian membawa tas itu ke rumah sakit.

Ia memandang sekeliling. Tiap sudut ruangan yang ditinggali Myungsoo ini selalu membuat sosok itu muncul lagi dalam pikirannya. Tanpa sadar, membuat airmata itu kembali mengalir pelan di pipinya lalu jatuh membasahi lantai tempat ia berpijak sekarang.

Di dinding masih ada foto dia dan pria itu, dimeja masih ada kertas-kertas berserakan dengan tulisan tangan acak-acakan pria itu diatasnya, disofa masih ada gitar yang diletakkan sembarangan setelah dimainkan dan ada buku yang berserakan dilantai dan pembatasnya terjulur keluar—belum selesai dibaca oleh Myungsoo.

Suzy mendudukkan diri di sofa putih gading ruang tengah itu, kemudian menundukkan kepala. Membuat rambut panjangnya menutupi ekspresi menyedihkan diwajahnya.

“Myungsoo-oppa….” ia membisikkan nama itu lirih sekali lagi. Berharap pria itu datang dan memeluknya dari belakang kemudian akan tersenyum padanya.

Tapi, tidak mungkin lagi. Karena sosok itu tak akan kembali lagi.

Gadis itu menegakkan kepalanya dan perlahan berdiri serta melangkah tertatih bermaksud ingin sedikit membereskan ruangan ini. Sampai kemudian ia berhenti di depan DVD player dekat televisi dan menemukan keping DVD dengan namanya tertulis disana.

Ia menekan tombol di DVD player itu dan memasukkan kepingan DVD yang ia temukan tadi lalu menyalakan televisi.

“Halo, Suzy-ya! Saat kau menonton ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi disini,” suara yang muncul bersamaan dengan Myungsoo dengan senyum khasnya ditampilkan di layar kaca.

“Kau ingat, kan kalau aku ingin sekali melanjutkan kuliahku diluar negeri nanti? Aku tahu, kok kalau itu masih beberapa bulan lagi. Tapi, apa salahnya kalau aku merekamnya sekarang? Siapa tahu aku tidak sempat lagi merekamnya besok-besok,” ia tampak menundukkan kepala kemudian menegakkannya lagi dan tetap tersenyum ke kamera.

“Aku merekam ini supaya kalau kau rindu padaku, kau bisa melihatnya.”

Gadis itu tak tersenyum.

“Maaf kalau aku tak bisa menemanimu lagi disana, ya,” senyum diwajahnya hilang, tatapannya sendu. Membuat isak tangis gadis itu makin keras.

“Tapi tenang. Aku pasti akan kembali, kok.”

“Kau tak akan kembali, Oppa. Kau tak akan kembali,” ia menggelengkan kepalanya pelan, masih membiarkan airmata itu membasahi wajahnya yang terlihat kusut.

Ia tak akan mendengar suara pria itu lagi. Ia tak akan pernah bisa melihat sorot mata tajam yang biasanya dingin tapi juga bisa menatapnya lembut sewaktu-waktu itu lagi. Ia tak akan bisa melihat sosok itu tersenyum padanya dan mengatakan hal-hal yang menenangkannya saat ia butuh. Ia tak akan bisa lagi memeluk tubuh itu dan mencari kehangatan saat ia membenamkan kepalanya di ceruk leher pria itu.

Tak akan pernah ada lagi orang yang selalu bisa menyelipkan cahaya diantara sepi hari-harinya.

Tak akan ada lagi. Sosok itu telah pergi, selamanya.

“Tapi ingat, ya Suzy-ya….”

Gadis itu kembali menegakkan kepalanya, menunggu kata-kata selanjutnya yang diucapkan pria itu di layar kaca.

“Kau harus berjanji untuk tetap tersenyum, walau aku tak ada disampingmu.”

Seulas senyum kecil ia paksakan untuk terlengkung di bibirnya, mengiringi airmatanya yang belum berhenti.

-FIN-

author’s note:

udah lama ga posting sesuatu disini :B

dan begitu balik malah nge post fic gak jelas begini ~_~ maaf ya. abisnya saya lagi WB akut, sih. kan kalo mau nyembuhin WB itu mesti nulis. maafkan fic jelek ini ya buat fans nya Myungsoo atau Suzy. maafkan orang penderita Writer’s Block yang lagi ngambekan sama imajinasinya sendiri ini -_-

fic ini ditulis sehari sebelum saya UAS. buat ngilangin stress ceritanya. dan saya ga bakal nge post apa apa lagi (kayaknya) sampai selesai UN. yaitu bulan depan. YEAAAAY BULAN DEPAN DAN INI SEMUA AKAN BERAKHIR! YEAH!

doain ujian berantai saya ini lancar semua yaaaa. ^^

mind to leave comment or like?

thanks for reading :)

23 thoughts on “Back To Tomorrow

  1. huweee~~ sumpah… sediiih… T^T
    Jujur aja, pas baca FF ini q nangis. hehehe…
    untungnya pas q baca q lagi sendirian… kalo gk, kan malu… hehehe…
    Great Job Chingu! :”D

  2. Waaaa…. Ni FF sukses bikin gue nangis~

    Myungsoo oppa!! Tanggung jawab! Kau sudah membuatku menangis tersedu – sedu #abaikan

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s