[Chapter 2] Social Science

Author : burninganchovy (@meutiakbachnar) || Title : Social Science || Length : Chapter/Series || Rating : T || Genre : Romance, Friendship, School-Life || Main Casts : Kang Jiyoung, Kang Minhyuk, Jung Jinyoung, Sulli || DISCLAIMER : Sekali lagi, all of casts in this fanfiction are belong to God, their families, and their entertainments. But a whole story in this ff is mine. So, if you want to take this ff, don’t forget to write credit ^^ || Cuap-Cuap Author : Hai, saya author FF ini balik lagi ^^ Apa kabar? Masih adakah yang mau baca FF ini? *agak ragu juga mau ngelanjutin karena cuma dua orang yang komen hehe*. Tapi akhirnya dilanjutin juga chapter keduanya.  Ah iya, mungkin ada yang ngerasa ini terlalu kependekan atau apa, tapi emang udah diplotkan segini sih untuk chapter 2-nya hehe :D Semoga aja ada yang baca dan para reader yang baik hati mau ninggalin jejak di FF ini karna masih amatir banget deh nih FF  ~_~. Oke deh, tanpa banyak basa-basi lagi, HAPPY READING YAA :)

***

[Chapter 2]

Jiyoung dan Sulli menaiki bus yang biasa mereka naiki sepulang sekolah. Pandangan kedua gadis itu tak pernah luput dari sisi kanan-kiri jalan yang dilintasi oleh bus. Keduanya membagi tugas; Jiyoung memperhatikan sisi kanan jalan dan Sulli memperhatikan sisi kirinya—hanya untuk mencari sebuah palang bertuliskan nama jalan tempat rumah Minhyuk berada.

            Jiyoung terus memperhatikan dengan seksama setiap jalan yang dilewati oleh bus. Kini, bus itu tengah berjalan pelan melintasi kawasan Daegu yang tidak begitu jauh dari letak Haknam Senior High School. Karena tak kunjung menemukan apa yang dicarinya, perasaan Jiyoung makin tak karuan. Ada sedikit perasaan menyesal karena ia sudah membuat Minhyuk menunggu lama saat di sekolah tadi. Paling tidak aku harus menemukan rumahnya. Minhyuk sudah rela mengorbankan waktunya untuk mau mengajariku. Tapi aku malah mengabaikan niat baiknya, begitulah ungkap Jiyoung di dalam benaknya.

            “Jiyoung-ah, itu dia!” seru Sulli, tanpa memperdulikan semua pasang mata para penumpang bus yang telah memandanginya keheranan. “Bukankah itu nama jalan tempat rumah Minhyuk?”

            Jiyoung menyipitkan matanya, lalu mengangguk bahagia. Spontan, Jiyoung memeluk sahabatnya itu. “Sulli-ah, kau ini memang sahabat yang paling paling paling baik!! Hei, doakan aku ya, aku takut sekali Minhyuk akan marah padaku karena aku sudah membuatnya menunggu lama tadi. Aku turun sekarang… Ahjussi, bisakah kau memberhentikan busnya? Aku turun disini”

            Jiyoung berjalan cepat melewati semua bangku penumpang, lalu membungkukkan badannya kepada sang sopir—menyiratkan ungkapan terima kasihnya. Setelah turun dari bus, Jiyoung terus melambaikan tangannya kepada Sulli yang masih duduk di bangku paling belakang sampai bus itu berlalu dari hadapannya.

            “Yosh, sekarang aku hanya tinggal mencari yang manakah dari sederetan rumah besar di jalan ini yang merupakan rumah Kang Minhyuk!” seru Jiyoung, penuh semangat. Ia mengeluarkan potongan kertas yang diberikan oleh Minhyuk dari saku jaketnya. “Hmm… nomor rumahnya adalah 20. Let’s go, Kang Jiyoung hwaiting!”

Kini Jiyoung tengah berdiri di depan sebuah rumah yang terlihat sangat besar dibandingkan seluruh rumah yang ada di sekitar jalan itu. Rumah tingkat dua berwarna putih, memiliki halaman yang luas dan penuh dengan tanaman hijau, juga pagar tinggi kokoh yang mengamankan rumah mewah itu dari kedatangan orang asing. Ketiga hal utama ini membuat Jiyoung terkesan dan sempat berpikir, Apakah benar ini rumah Kang Minhyuk? Di balik sikap pendiamnya itu, ternyata dia anak orang kaya? Ah aniya… bukan anak orang kaya, tetapi anak orang yang sangat kaya? Ah anni…anni… atau mungkin dia anak presiden? Rumahnya persis seperti Gedung White House… Tsk…

            “Hei, apa yang kau lakukan disitu?” tanya seseorang dari balik punggung Jiyoung. Jiyoung membalikkan badannya dan… Kang Minhyuk? Ia mendapati Minhyuk tengah berdiri sambil memegang sepeda. “Kau rupanya?”

            “E-Eh? Nee~ Maaf sudah membuatmu menunggu di sekolah tadi. Aku benar-benar…”

            Minhyuk mendekatkan wajahnya dan mengamati dahi Jiyoung yang tertutupi oleh poni. Tanpa merasa canggung, ia menyingkirkan sederetan poni itu dan menemukan sebuah benjolan di dahi Jiyoung. “Rupanya benar, dahimu terkena bola basket. Ayo masuk” lanjut Minhyuk tanpa banyak basa-basi.

            Mereka berdua berjalan pada sebuah jalan setapak yang memang telah dirancang khusus untuk memperlihatkan salah satu dari sekian aspek mewah rumah ini—yang tak lain adalah rumah Minhyuk. Jiyoung berjalan kaku di belakang Minhyuk yang masih memegangi sepedanya. Ia masih teringat perlakuan Minhyuk barusan dan sesekali membenarkan poninya.

            Tok…tok…tok…

            Minhyuk mengetuk pintu utama rumahnya berkali-kali sampai seorang namja kurus-tinggi keluar. “Aissh, kau lama sekali… Eh, siapa dia, Hyuk?” tanya namja yang merupakan sepupu Minhyuk, namanya Jungshin—Lee Jungshin.

            “Ah, annyeonghaseyeo. Jo-neun Kang Jiyoung imnida. Bangapsseumnida” ucap Jiyoung dengan sopan. “Aku teman sekelas Minhyuk”

            Jungshin mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berbisik pada Minhyuk. “Hei, untuk apa dia kesini? Apa dia itu lebih dari sekedar ‘teman-sekelas’-mu? Atau jangan-jangan… dia yeojachingu-mu, Hyuk?”

            “Anni~! Dia itu partner-ku, kami berdua sama-sama terjebak dalam program studi yang salah. Dia Social, dan aku Science. Kami ingin bertukar program studi, dan untuk beberapa bulan ke depan ini aku dan dia akan sering belajar bersama untuk ujian pertukaran program studi nanti. Ada-ada saja pikiranmu…” balas Minhyuk sambil berjalan memasuki rumahnya.

            “Sampai kapan kau akan berdiri disitu? Ayo masuk” ujar Jungshin kepada Jiyoung.

            Jiyoung pun dengan ragu-ragu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Minhyuk. Dalam waktu sekejap, mata dan mulut Jiyoung sudah terbuka lebar secara bersamaan. Begitu melihat seluruh isi bagian dalam rumah Minhyuk, Jiyoung tak bisa berkata apa-apa lagi. Seluruh furnitur, tata letak barang, desain interior, semuanya benar-benar perfect—seperti istana kerajaan modern!

            “Kau sepertinya suka sekali melamun, ya? Pantas saja kau masuk kelas Social” celetuk Jungshin, sambil melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Jiyoung. “Walaupun disini kami hanya tinggal berdua, kau tak perlu merasa takut karena kami berdua bukan nappeun namja seperti para lelaki yang ada di luaran sana. Bisa kau lihat kan, tulisan di pintu kamarku dan kamar Minhyuk? Bad guy are not allowed to enter this room!” lanjut Jungshin sambil menunjuk ke arah pintu kamarnya dan kamar Minhyuk.

            Jiyoung menahan tawanya. ‘Bad guy are not allowed to enter this room?’. Tulisan itu tak meyakinkanku kalau kalian berdua bukan nappeun namja. Tulisan itu malah meyakinkanku kalau kalian tak lain adalah anak mommy yang manja dan lemah, Lee Jungshin dan Kang Minhyuk! Aaah, aku jadi penasaran bagaimana keadaan rumah Jung Jinyoung pangeranku~, gumam Jiyoung di dalam hati.

***

Hari pertama privat itu berjalan cukup lancar. Jiyoung belajar Matematika dan mengerjakan banyak sekali latihan soal yang diberikan oleh Minhyuk. Jam belajar mereka pun tergolong cukup lama—hampir dua jam! Alhasil, Jiyoung pulang agak telat, sekitar jam enam sore.

            Awalnya Minhyuk berniat untuk mengantarkan Jiyoung pulang. Tapi apa yang bisa dipakainya untuk mengantar Jiyoung pulang, sedangkan dia hanya memiliki satu buah sepeda ontel? Jadi, ia membiarkan gadis lugu itu pulang sendirian dengan bus.

            “Hoooaaahhhmm… Hari yang melelahkan” ujar Jiyoung sambil meregangkan kedua lengannya, begitu sampai di kamar. “Andwae! Andwae!! Tak boleh begini! Aku kan ingin masuk kelas Science dan ingin sekelas dengan Jung Jinyoung! Aku harus berusaha!”

            Jiyoung meraih ranselnya dan mengambil sebuah buku tebal yang dipinjamkan oleh Minhyuk. Buku Matematika Untuk Siswa Tingkat I Senior High School—begitulah tulisan yang tertera pada buku tebal itu. Jiyoung membolak-balikkan halaman pada buku itu dan melanjutkan untuk mengerjakan berbagai latihan soal—tanpa mengganti seragam sekolahnya.

            Setelah beberapa menit mengerjakan soal dalam buku itu, Jiyoung sudah bisa merasa sedikit puas. Paling tidak, sekarang ia sudah mengerti betul tentang materi-materi rumit yang tak dimengertinya selama ini—terkait dengan mata pelajaran Matematika yang begitu menyeramkan baginya. Jiyoung beranjak dari meja belajarnya dan bersiap-siap untuk membersihkan badannya.

“Buku ini tebal sekali, Kang Minhyuk benar-benar daebak. Dia bahkan memiliki belasan buku seperti ini…” ujar Jiyoung, dengan handuk yang masih melingkar di leher. Jiyoung baru saja selesai mandi, namun ia memilih untuk melanjutkan mengerjakan soal-soal Matematika supaya kemampuannya jauh lebih terasah (?). Jiyoung membolak-balikkan halaman buku tebal itu dan tiba-tiba mendapati sebuah foto berukuran 3R.

            Ini… Minhyuk? Dengan seorang yeoja? Wah cantiknya~, tanya Jiyoung penasaran. Ya, foto yang tengah diperhatikannya saat ini tak lain adalah foto Minhyuk dengan seorang gadis sebaya dengannya. Namun, Jiyoung sama sekali tak mengenal siapakah gadis cantik yang ada dalam foto itu. Ia membalikkan foto itu dan menemukan sebuah pesan yang tertulis indah dan rapih.

The short goobye that we used to say,

Why does it sound so sad now?

When tears flow down to my cheeks,

I finally realized this was the end.

“Please don’t go… don’t leave me so coldly”

I shouted till my heart aches,

But you said you’re leaving… you’re going to let go of my hands

Then you turned around and left.

Even if I love again and meet someone else

I won’t be able to meet someone like you again,

No matter how much I cry, no matter how much I’ve said it to myself

I still want to see your face… and I hate myself for it.

(Beautiful Woman – Lee KiChan)

Jiyoung terpaku membaca sepenggal lirik lagu yang tak asing baginya. Lagu itu sempat populer karena liriknya yang begitu menyentuh. Ia kembali membalikkan bagian depan foto itu dan memandangi wajah cantik foto seorang gadis yang tengah memeluk Minhyuk dengan penuh kasih sayang. Kang Minhyuk… dibalik sifatnya yang tak banyak bicara memendam begitu banyak rahasia, termasuk kesedihannya tentang yeoja ini. Apa mungkin gadis ini yeojachingunya?, berbagai pertanyaan mulai memenuhi pikiran Jiyoung. Kenapa aku jadi memikirkan…bahkan sampai mengkhawatirkan Minhyuk? Ah anni…anni… ini mungkin hanya rasa simpatik saja, karena aku tahu ditinggalkan oleh seseorang yang paling disayangi itu sangat sedih rasanya. Tapi… apa yang bisa kulakukan?

***

Keesokan harinya, Jiyoung kena hukuman untuk menyapu halaman sekolah karena datang terlambat. Dengan raut wajah cemberut, akhirnya Jiyoung rela menjalani hukuman yang diberikan oleh petugas sekolah dengan rasa harap-harap cemas. Semoga Jung Jinyoung tidak akan melihatku yang sedang dikenai hukuman, ujar Jiyoung dalam hati—penuh pengharapan.

            “Eh?! Kau yang kemarin terkena bola basket itu kan?” tanya seseorang, menghampiri Jiyoung.

            Dengan ragu-ragu Jiyoung mengangkat wajahnya. Strike! Jung Jinyoung tengah berdiri di hadapannya sekarang sambil tersenyum manis. Jantung Jiyoung spontan berdetak dua kali lebih cepat, kakinya gemetaran, dan pipinya memerah seketika. Kenapa dia… ada disini? Aish, ini memalukan!

            “Hei, kau sedang dihukum ya? Kebetulan sekali, aku juga! Hahaha…” lanjut Jinyoung, yang terus berusaha bersikap ramah kepada Jiyoung.

            “E-Eeeh?!” Jiyoung tak percaya dengan ucapan Jinyoung barusan. Matanya langsung tertuju pada sebuah sapu yang tengah dipegang Jinyoung. “K-Kau datang terlambat juga?”

            Jinyoung mengangguk tanpa menghilangkan senyuman manisnya. “Ah iya, aku belum tahu namamu. Kenalkan, aku Jung Jinyoung. Seharusnya hari ini, aku telah resmi menjadi siswa tingkat dua di kelas Science… tapi karena aku datang terlambat, sepertinya peresmianku menjadi siswa tingkat dua harus diundur untuk beberapa menit. Hahaha… Siapa namamu?”

            “Jiyoung. Kang Jiyoung” balas Jiyoung gugup.

            “Wah, nama kita hampir mirip!” seru Jinyoung. “Baiklah, sekarang ayo kita bekerja sama menjalani hukuman untuk menyapu halaman sekolah, ahahaha”

            Jiyoung menatap Jinyoung dalam-dalam. Namja yang begitu sempurna, puji Jiyoung dalam hati. Tampan, ramah, cerdas, kaya, selalu bersemangat, dan ahli di bidang manapun. Betapa beruntungnya aku terlambat datang ke sekolah hari ini!. Masih dengan senyuman merekah, Jiyoung pun menjalani hukumannya dengan perasaan bahagia. Kejadian pagi ini benar-benar tak bisa dilupakannya. Bagaimana tidak? Untuk kedua kalinya, ia bisa mengobrol lama dengan pujaan hatinya. Terlebih lagi, kali ini, ia menjalani hukuman dengan pujaan hatinya itu.

“Kang Jiyoung!”

            Jiyoung menoleh ketika sebuah suara imut memanggilnya. “Hei, Sulli!!” balas Jiyoung yang langsung menghampiri Sulli.

            Saat ini, mereka tengah beristirahat. Jiyoung dan Sulli berada di kelas yang berbeda, walaupun mereka sama-sama masuk dalam kelas Social. Jadi, hanya waktu istirahatlah yang dapat mempertemukan mereka berdua.

            “Hei, kudengar kau dan pangeranmu itu menjalani hukuman bersama ya, tadi pagi?” tanya Sulli, sambil menyenggol lengan sahabatnya.

            Jiyoung merangkul lengan Sulli. “Aiih, Sulli-ah, kau tahu, itu benar-benar kejadian yang tak akan kulupakan! Pangeranku itu jauh lebih sempurna dari yang kupikirkan sebelumnya!!”

            “Wae?! Ayo ceritakan semuanya padaku!”

            Jiyoung dan Sulli memilih untuk duduk di sebuah bangku kantin. Setelah memesan dua mangkuk ramen, Jiyoung pun dengan ekspresif menceritakan kejadian indah yang dialaminya tadi pagi. Sulli pun mendengarkan cerita sahabatnya dengan serius, dan sesekali tertawa melihat ekspresi Jiyoung yang berubah-ubah.

            “Lalu bagaimana cerita di hari pertamamu belajar bersama Minhyuk?” tanya Sulli lagi.

            Raut wajah Jiyoung berubah seketika. Ia jadi teringat akan selembar foto yang ditemukannya dalam buku Minhyuk. Pikirannya pun sekarang sudah dipenuhi dengan Minhyuk. Berbagai pertanyaan yang sempat memenuhi pikirannya semalam muncul kembali. Sebenarnya, Jiyoung ingin sekali menceritakan itu semua kepada Sulli. Tapi entah kenapa Jiyoung terus memikirkan bagaimana dengan perasaan Minhyuk jika ia menceritakan rahasia Minhyuk kepada orang lain.

            “Kenapa wajahmu tiba-tiba murung, Jiyoung-ah?”

            Jiyoung mengangkat wajahnya, lalu memaksakan sebuah senyuman. “Gwenchana~ Hm… hari pertama… Benar-benar melelahkan tapi aku benar-benar bisa mengerti beberapa materi yang sebelumnya tak kumengerti. Sepertinya jalan untuk meraih impianku masuk kelas Science dan bisa dekat dengan Jung Jinyoung sudah semakin dekat, Sulli-ah! Hahaha”

            Jiyoung dan Sulli pun tertawa bersama. “Eh, bagaimana rumahnya? Aku penasaran sejak kemarin bagaimana keadaan rumah Minhyuk! Bagaimana orangtuanya? Galak-kah? Ramah-kah?”

            Ah benar juga. Kenapa kemarin aku bahkan tak melihat kehadiran kedua orangtua Minhyuk di rumahnya? Dan lagi… Jungshin bilang, mereka hanya tinggal berdua di rumah sebesar itu… Kang Minhyuk, kau benar-benar misterius!. Pertanyaan Sulli barusan menyadarkan Jiyoung akan suatu hal, yaitu Minhyuk tak tinggal bersama kedua orangtuanya. “Kau tahu Sulli-ah…? Rumah Minhyuk itu besaaaar sekali! Dan indah!”, setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Jiyoung menjawab pertanyaan Sulli.

            “Jjinja yo? Berarti Minhyuk adalah anak orang kaya?”

            “Kurasa begitu”

            “Wah, daebaaak~ Di balik pembawaannya yang sederhana itu, rupanya dia adalah anak orang kaya? Dia persis seperti tokoh-tokoh namja pada komik remaja yang sering kubaca—misterius. Benar-benar misterius” ujar Sulli, sambil terus melahap ramennya.

            Ya. Kau benar, Sulli. Kau baru tahu satu dari sekian hal yang tak kau ketahui tentang Kang Minhyuk. Begitupula dengan aku. Kang Minhyuk, dia memang benar-benar misterius. Dan… kenapa aku jadi tertarik untuk mengorek semua rahasianya? Untuk apa aku melakukan ini? Ahhh, aku yakin, ini hanya rasa penasaran sesaat saja.

***

Ini adalah hari kedua Jiyoung belajar bersama Minhyuk. Setelah seluruh murid Haknam Senior High School pulang, Jiyoung mencari-cari sebuah kelas yang dirasanya nyaman untuk dijadikan tempat belajarnya bersama Minhyuk. Setelah beberapa menit, akhirnya Jiyoung menemukan sebuah ruangan yang tak lain adalah kelas Jinyoung, namja pujaan hatinya. Dengan cepat, Jiyoung masuk ke dalam kelas itu dan mencari letak tempat duduk Jinyoung. “Hmm… menurut denah bangku, disamping Jinyoung ada bangku kosong. Semoga tiga bulan ke depan, bangku itu bisa menjadi milikku!” gumam Jiyoung.

            “Disini kau rupanya…”

            Suara seorang namja yang tak lain adalah Minhyuk itu nyaris membuat jantung Jiyoung copot. “Kau ini~ membuatku kaget saja, Kang Minhyuk!” protes Jiyoung, yang langsung menempati bangku Jinyoung.

            “Kenapa? Kau takut kalau yang datang adalah Jung Jinyoung pangeranmu? Haha…” ejek Minhyuk, sambil menyibukkan dirinya dengan membolak-balikkan halaman buku Fisika di tangannya. “Tapi lagi-lagi… Sayangnya, aku ini bukan Jung Jinyoung. Aku ini Kang Minhyuk”

            “Semakin lama aku jadi semakin sering melihatmu tertawa” ujar Jiyoung.

            “Memang kenapa kalau aku sering tertawa?” tanya Minhyuk, sambil mendelik sinis.

            “Anni… Dengan itu, aku tahu kalau kau masih normal. Kukira, selama ini kau mengidap kelainan yang membuatmu terus memasang ekspresi datar” balas Jiyoung, membuat Minhyuk gemas dengan tingkah laku polosnya. Minhyuk menjitak pelan kepala Jiyoung dengan buku Fisika yang dipegangnya.

            “Ya!! Kepalaku masih benjol!” protes Jiyoung, membuat Minhyuk tertawa lagi.

            Sepertinya lebih nyaman kalau aku melihatmu begini, Minhyuk. Tertawalah… entah kenapa itu sangat membuatku nyaman, ujar Jiyoung sambil tersenyum menatap Minhyuk.

            “Lihat apa kau? Cepat kerjakan soal-soal yang sudah kutandai di buku itu” ucap Minhyuk, yang sadar bahwa dirinya tengah diperhatikan oleh Jiyoung.

            “Baiklah Minhyuk-sonsaengnim… Kang Jiyoung hwaiting!!

To Be Continued ~

22 thoughts on “[Chapter 2] Social Science

    • Waah, sama eon, aku juga udh lama menghilang dr peredaran (?) hahaha…
      Gimana eon chapter 2 ini? Udh lama bgt ga nulis FF hikss.. #curhat

        • Eheheheee assiiiik, makasih eon kritik-sarannya :)

          Eh tp iya sih agak2 mirip sama drama KHJ tp versi Jepangnya, krn aku belom ntn yg KHJ maenin *out-of-date banget* hehee :)
          gomawo eonniii :D

                  • Iyaaaaaaa tadi nunggu in ituu~ sekalian ma AOD nya unnie SJ tayang.. kekkeke~

                    Ebusedd aku gak mau ma mereka pada BRONDONG euy.. lagian aku tiap hari ketemu mereka, bosenn **disini saya sebagai Seoniy adik dari JYH, :P** Aku maunya ma Jonnie ^^

                    Nyari jonie, di tendang Hongki..
                    “Kyaaa, kau mau mati hah?”
                    “Kau mau kemana gadis jelek?” tanya Hongki
                    “Wae? knapa mau tau urusan orang sih cihh” lalu pergi meningalkan FNC buildng. ***jadi ber FF ria disini**

                    • Hihi aduh eonnie itu mah beneran deh si Jonghyun sama Minhyuk sama Jungshin sama Yonghwa keren maksimal *.*

                      Oh iya, aku belom nyelam(?) di blog SJ eonni lebih lanjut.. Pengen juga ah kalo koneksi inetnya udah agak mendingan =,= hehehehehh

  1. waduuh udah pada bawa-bawa golok semua ini..
    makasih :) makasih banyak banyaaaaak yang udah baca, akan diusahakan chapter selanjutnya dipost minggu ini ^^

  2. awalnya sempet mikir yg aneh2 pas jiyoung ke rumah minhyuk #plak, ternyata ga da apa2..curiga nie ama cewek difoto bakalan si seohyun… chapter 3 semga cepet publish.. buat author semangat!!!^^

    • eheheh
      emang dikirain si jiyoung mau ngapain ke rmh minhyuk chingu? hehehe hayooo~
      sipp, doain aja ya semoga msh sempet berimajinasi soal cute couple satu ini ^^
      gomawo udh baca ya :D

  3. seru banget thor!! ^^
    penasaran deh
    siapa yang ada di foto sama minhyuk?
    banyak spekulasi tapi kayaknya gak mungkin semua haha

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s