[Freelance Oneshot] Am I Your Girlfriend?

Title
Am I Your Girlfriend?

Author
Dinna Devina
(http://allmyfantasies.wordpress.com)

Length
Oneshot

Genre
Romance

Rating
G

Main Cast(s)
Kim Taeyeon (Girls’ Generation)
Park Jung Soo/Leeteuk (Super Junior)

Support Cast(s)
Lee Donghae (Super Junior)
Im YoonA (Girls’ Generation)

DISCLAIMERS!

Kalau engga suka tokoh/couple yang ada di one-shot ini,   mending engga usah baca deh :)

Don’t be a silent readers! Jangan jadi silent readers ya! Keep comment di cerita ini, dan saya akan semakin semangat menulis^^

Oh ya, sampai akhir bakal pakai sudut pandang author ya~

 

Gadis itu bertopang dagu, menatap salju yang turun dari jendela rumahnya. Dari jendela itu, ia juga dapat melihat banyak pasangan yang saling bergandengan tangan, ia menghela napas. Sudah beberapa hari ini, kekasihnya itu tidak memberikan kabar, melalui pesan singkat maupun telepon.Gadis bernama Kim Taeyeon itu kini menatap layar ponselnya, tak ada tanda ada pesan singkat ataupun telepon.

“Leeteuk-oppa, kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu, hingga melupakanku.” Ujar Taeyeon berbicara pada ponselnya.Seakan-akan ponselnya adalah Leeteuk. Selama ini ia selalu bersabar, untuk tidak mengomel terhadap Leeteuk, ia tak ingin kekanak-kanakan di mata Leeteuk. Tiba-tiba ponselnya bergetar ditengah kegalauannya, membuatnya tersentak dan segera menatap layar ponsel itu.

Leeteuk-oppa is calling…

“Yoboseyo? Oppa?” sahut Taeyeon dengan semangat saking senangnya. Namun, tak terdengar suara lelaki yang dinantinya itu membalas, terdengar suara berisik yang Taeyeon tebak dari kantor Leeteuk. “Oppa?”

“Taeyeon-ah, mianhae, aku tidak mengabarimu beberapa hari lalu. Aku sibuk sekali, kemarin aku harus ke Thailand—“

“Dan oppa tidak mengabariku?” Taeyeon memotong perkataan Leeteuk.Leeteuk terdiam sesaat, tak menyahut pertanyaan Taeyeon. Lalu terdengar suara Leeteuk berkata, ‘Yaya, baiklah, saya mengerti.’

“Taeyeon-ah, mianhaeyo tidak mengabarimu saat aku ke Thailand, karena—yah kau tahu—aku sangat sibuk disana. Dan, aku sebentar lagi ada meeting dengan perusahaan lain. Besok aku ke Jepang, jangan mengkhawatirkanku. I love you.”

            Tut, tut, tut, Taeyeon terdiam. Leeteuk sudah memutuskan sambungan. Hanya begitu? Itu yang ia katakan? Tak ada kata rindu, ataupun mengajaknya kencan?Leeteuk sungguh workaholic. Bahkan kalimat I love you yang diucapkannya tidak terdengar tulus, terburu-buru. Taeyeon melempar ponselnya ke sofa empuk disampingnya.

“Aku harus sabar. Ya, aku harus sabar.Tapi—KESABARAN ORANG ADA BATASNYA!” teriak Taeyeon mengacak-acak rambutnya. Ponselnya kembali bergetar, namun bukan nama Leeteuk lagi yang tertera disana.

Lee Donghae is calling…

“Yoboseyo?” Taeyeon membalas dengan malas-malasan.

“Ya! Taeyeon-ah! Kenapa kau terdengar lesu seperti itu?” balas Donghae dengan riang.Taeyeon menghela napas.

“Seperti biasa, namun memang sedikit menyenangkan, Leeteuk-oppa akhirnya meneleponku setelah aku karatan menunggu kabar darinya—“

“Lalu? Ah, pasti kau sangat senang, bukan sedikit senang.”Donghae begitu terdengar dengan ramah.Membuat Taeyeon tersenyum kecil.

“Awalnya aku sangat senang, tapi dia memang workaholic, dia ke Thailand tidak mengabariku, dan besok dia ke Jepang. Parahnya, ditengah dia meneleponku, dengan terburu-buru mengucapkan I love you karena dia ada meeting dengan—hmm—entahlah perusahaan lain atau kekasih gelapnya.” Taeyeon mencurahkan isi hatinya pada Donghae. Donghae terkekeh diseberang sana.

“Aduh, Taeyeon-ah. Menurutku Leeteuk-hyung orang yang setia, meskipun workaholic nya sangat tinggi. Jangan berkata seperti itu.” Donghae membela Leeteuk.Taeyeon mengeluh tak jelas karena Donghae lebih membela Leeteuk.

“Ah, aniyo, kepercayaanku semakin menipis padanya. Mungkin aku akan memutuskannya?”

“Tidak mungkin, aku tahu kau sangat mencintainya.” Taeyeon mengangguk-ngangguk meski Donghae tak dapat melihatnya.

“Kau benar, pintar. Tapi, aku merasa Leeteuk sama sekali tidak mencintaiku.”

“Taeyeon-ah, andwaeyo.. Kalau Leeteuk-hyung tidak mencintaimu, untuk apa dia menyatakan perasaan dengan satu truk bunga mawar?”

“Yah, bisa saja dia saat itu kerasukan hantu yang mencintaiku,” balas Taeyeon asal. Terdengar suara Donghae tertawa dari sana. “Hahaha, mungkin aku akan menjadi pelawak terhebat di Korea.”

“Tidak, terkadang kau tidak lucu, Taeyeon! Listen me, aku tahu Leeteuk-ssi sangat mencintaimu, jika kau melihat dia bermesraan bersama wanita lain, kau bisa laporkan padaku.”

            “Untuk apa melapor padamu? Kau tidak penting!”

“Aku penting! Aku polisi cinta kalian! Hahaha.”

“Tidak lucu! Kau bukan pelawak!”

“Aku memang bukan pelawak, aku hanya lelaki sederhana yang sangat tampan. Sssh, Taeyeon, aku akan menjemputmu. Aku mengajakmu jalan, aku sudah izin Leeteuk-hyung melalui pesan singkat.”

Taeyeon menghela napas pendek, “Baiklah.” Lalu sambungan diputus oleh Donghae.Taeyeon memandang foto berfigura di meja kecil disampingnya, fotonya bersama Leeteuk saat hari jadian mereka.Taeyeon tersenyum kecil.

“Kali ini, aku masih cukup percaya padamu, oppa.”

***

Taeyeon membuka pintu, dan didapatinya Donghae membawa mawar merah. Taeyeon tertawa kecil, ia sudah terbiasa dengan sikap Donghae itu. Dia memang lelaki yang selalu saja sok romantis pada semua perempuan.Taeyeon menerima bunga mawar itu, menatapnya lekat, Leeteuk biasanya memberikan mawar berwarna putih bukan merah.

“Tak kusangka, kau sudah sebesar ini. Padahal saat pertama kali bertemu denganmu, kau masih sangat kecil, Taeyeon,” ucap Donghae lalu mencubit kedua pipi Taeyeon dengan rasa gemas. “Wajahmu imutmu tak pernah berubah.”

“Kau berkata seperti itu seakan-akan kita sudah lima puluh tahun tidak bertemu.” Balas Taeyeon. Donghae terkekeh, lalu memasang senyum mautnya. Inilah senyuman yang selalu membuat perempuan manapun akan meleleh, tapi tidak untuk Taeyeon. Dia sendiri heran, sepanas apa senyum Donghae sampai semua perempuan itu meleleh?

“Sudahlah, ayo, aku mengajakmu ke suatu tempat.”

Mobil Donghae berhenti di taman penuh anak-anak TK. Taeyeon heran sendiri mengapa Donghae mengajaknya ke tempat ini, Donghae menarik tangannya kedekat sebuah mainan kecil yang biasa dimainkan anak-anak dengan meluncur.

“Apaan sih? Kau menyuruhku memainkan permainan anak TK ini?” Donghae mendorong, menyuruh Taeyeon agar memainkan permainan konyol itu.Namun, akhirnya Taeyeon meluncur juga.

“Awh!” jerit Taeyeon saat ia terjatuh. Donghae tertawa.

“Makanya jangan kebanyakan gaya!” tawa Donghae.Taeyeon bangkit, menoleh menatap kearah Donghae dengan kesal.

“Memangnya aku sepertimu? Jago dalam permainan seperti ini.” Donghae tertawa kecil, entah kenapa, saat bersama gadis lucu itu, ia selalu dapat tertawa. Meski Taeyeon sering bad mood dan terkadang jutek diajak bicara, tapi Donghae tetap tersenyum menghadapinya.

“Baiklah, kita berlomba siapa yang dapat paling cepat memainkan semua permainan ini, yang kalah harus mentraktir ice cream, setuju?” Taeyeon bersedekap, menatap Donghae, lalu tertawa kecil.

“Oke, kalau itu maumu. Asal kau tahu, saat SD aku terkenal paling lincah daripada gadis lain di sekolah!” Taeyeon menyombongkan diri.Donghae tertawa, mengacak-acak rambut Taeyeon.

“Saat SD, dan sekarang kau sudah lulus kuliah, berapa tahun?” ledek Donghae. Taeyeon mencibir. “Satu—dua—tiga!”

Donghae dan Taeyeon memulai perlombaan.Donghae memulai pada beberapa perosotan yang cukup banyak, sedangkan Taeyeon, dengan cepat menduduki satu per satu ayunan yang ada.Kedua tertawa, karena merasa konyol berlomba seperti ini.

“Aku akan mengalahkanmu, Donghae!” seru Taeyeon saat memasuki sebuah terowongan kecil.Donghae mulai menduduki ayunan seperti Taeyeon tadi.

“Jangan merasa menang dulu ya!” balas Donghae.Taeyeon mulai menaiki perosotan yang cukup banyak satu per satu. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya Taeyeon berlari duduk di kursi pojok taman.

“Aku menang! Donghae kalah!” teriaknya.Donghae yang keluar dari terowongan kecil tertawa.Rasanya jantungnya berdetak kencang saat melihat gadis itu tertawa dan kembali ceria.Ia mendekat ke Taeyeon, memukul kepalanya pelan.

“Baiklah, kau mau ice cream rasa apa?”

“Vanila campur coklat!” jawab Taeyeon dengan cepat dan semangat.Donghae heran, gadis ini tidak terlihat lelah setelah memainkan semua permainan anak TK ini tadi. Setelah mengangguk kecil, ia berjalan pergi menuju ahjussi penjual ice cream di seberang jalan. Taeyeon duduk sembari tersenyum kecil, kakinya ia gerakan ke depan dan belakang. Ia menyapu pandangannya.Hingga pandangannya terhenti pada dua makhluk di pojok, lelaki dan perempuan, ia merasa lelaki itu adalah Leeteuk. Dari wajahnya, jelas sekali itu Leeteuk.

“Taeyeon, ini ice cream mu!” Donghae mengejutkannya.

“Ah—eh—iya, gomawo. Donghae, lihat laki-laki itu, yang sama perempuan rambut panjang itu, bukankah itu Leeteuk-oppa?” tanya Taeyeon menunjuk arah yang dimaksud. Donghae menyipitkan mata, sedikit tersentak.

“Ti—Tidak mungkin, dia bukan Leeteuk-hyung, Taeyeon.” Jawab Donghae meski sedikit terdengar ragu. Taeyeon terus menatap lelaki itu, ia yakin itu Leeteuk. Tapi, siapa perempuan berambut panjang itu? Akhirnya, Taeyeon bangkit dan berjalan mendekat ke tempat dimana lelaki yang ia tebak adalah Leeteuk itu.

Aku yakin laki-laki itu Leeteuk-oppa, tapi dia bersama siapa?Saat lebih dekat, kini dapat dilihat jelas bahwa itu benar-benar Leeteuk. Leeteuk kekasihnya. Bersama perempuan yang ternyata ia kenal juga, Im Yoona, teman satu kampusnya dulu. Donghae dibelakangnya tampak terkejut, sama terkejutnya dengan Taeyeon.

“Yoona—Yoona tunggu, tapi aku hanya mencintaimu! Daridulu, sampai detik ini, aku hanya mencintaimu.” Ucap Leeteuk menggenggam erat tangan Yoona. Yoona tampak kebingungan, ia tahu Leeteuk adalah namjachingu teman satu kampusnya dulu, Taeyeon.

Perlahan Taeyeon menitikkan air mata, semakin lama semakin deras dan ia menutup mulutnya, supaya tidak terdengar isak tangisnya. Donghae bingung sendiri, tangannya mengepal, bukankah hyung nya itu sudah berjanji akan setia pada Taeyeon?

KREK!

Taeyeon membelalak saat ia tak sengaja menginjak sebuah ranting, pandangan Leeteuk dan Yoona sudah tertuju padanya.

“Taeyeon-ah.” Yoona sangat terkejut, segera melepas genggaman tangan Leeteuk dengan cepat.Leeteuk tampak tak peduli, yang ada dipikirannya sekarang adalah Yoona, Yoona, dan Yoona.Taeyeon segera berlari pergi, hatinya terlalu sakit untuk menghadapi ini.

“Taeyeon-ah!” teriak Donghae.Donghae kini menatap yeoja dan namja yang terdiam itu.Ia menghampiri Leeteuk dan Yoona—saat Taeyeon sudah dipastikan tidak ada. “Hyung! Bukankah hyung sudah berjanji?”

“Tapi aku benar-benar tidak bisa mencintai gadis itu! Dia terlalu cerewet, banyak maunya—argh! Donghae ya, aku benar-benar tidak bisa.” Balas Leeteuk tampak kesal. Donghae berusaha mengatur napasnya, kalau saja lelaki dihadapannya ini bukan kakaknya, sudah pasti ia akan menghantamnya.

Tanpa mereka sadari, Taeyeon masih bersembunyi dibalik pohon.Ia merasa bodoh, orang terbodoh di dunia ini.Tapi memang beginilah kenyataannya, Leeteuk menembaknya karena Donghae yang memintanya.Donghae memang tahu selama ini bahwa Taeyeon menyukai Leeteuk, kakaknya. Dan setelah tragedi kematian ibu Taeyeon, Taeyeon menjadi pemurung setiap hari, karena itu Donghae meminta Leeteuk menembak Taeyeon, agar Taeyeon kembali menjadi Taeyeon yang periang seperti biasa.

“Kenapa semua orang yang kupercaya justru mengecewakanku?” tanya Taeyeon lirih. Wajahnya basah, dan ia segera pergi dari taman yang kini ia anggap mengerikan itu, kembali pulang ke rumahnya.

Di saat Taeyeon benar-benar pergi, perdebatan kakak dan adik itu belum selesai juga.Yoona hanya bagaikan penonton disana, dan sedikit memikirkan Taeyeon, pasti gadis itu terluka.

“Kenapa bukan kau saja yang menembaknya? Bukankah kau mencintai Taeyeon?Kenapa harus aku?” balas Leeteuk mulai emosi. Donghae terdiam. Yoona terkejut mendengar ucapan Leeteuk tadi, jadi, Donghae selama ini mencintai Taeyeon?Padahal, dia begitu mencintai Donghae.

“Eee—Leeteuk-ssi, Donghae-ssi, aku ada urusan lain. Annyeong.” Pamit Yoona tampak gugup. Dengan menutupi mulutnya ia berjalan pergi melewati Leeteuk dan Donghae yang menatapnya.

“Baiklah, aku gagal lagi, dan semua ini karenamu!” marah Leeteuk pada Donghae.Donghae mengangkat bahunya, dengan wajah yang tak ingin disalahkan.

“Apa maksud, hyung? Oke, aku memang salah menyuruh hyung untuk mencintai Taeyeon.Ternyata memang seharusnya aku yang menembaknya.Aku membuat hyung gagal lagi menembak Yoona.Ya, ya, ya, semua SALAHKU!” bentak Donghae menekankan kata ‘salahku’ lalu berjalan pergi meninggalkan Leeteuk.

Di lain tempat, Yoona bersandar pada pohon besar di taman itu, mendongakkan kepala. Perlahan ia menitikkan air mata, dan terisak. Ternyata firasatnya bahwa Donghae mencintai Taeyeon benar.Lelaki itu, lelaki yang membantunya saat terjatuh dari sepeda itu.

            “Awh! Sial, terjatuh lagi,” Keluh Yoona kesal karena ia gagal menaiki sepeda dengan benar. Ia hendak bangkit kembali, namun kakinya terasa sangat sakit.Yoona menggeram kesal. “Mengapa harus terkilir? Argh.”

            Tiba-tiba, muncullah sebuah tangan didepan matanya.Yoona mendongakkan kepala, lelaki itu menatapnya penuh simpati. Dia Donghae.

            “Kakimu terkilir?” tanya Donghae lembut. Yoona terdiam, terlalu terpesona dengan wajah tampan yang dimiliki laki-laki itu. “Hey, kau bisa berbicara?”

            “Ah, ne. A—aku baik-baik saja,” Yoona seperti lupa dengan kakinya yang terkilir, dan saat mencoba bangkit, sekali lagi ia terjatuh. “Awh! Ternyata memang terkili,” Donghae tampak terkekeh kecil. Yoona menatapnya. “Ya! Apa yang lucu?”

            “Hahaha, tidak apa-apa,” Donghae membantu Yoona berdiri. Lalu lelaki itu menatap sepeda Yoona yang terjungkir.Donghae menggeleng-gelengkan kepala.Ia menaiki sepeda milik Yoona itu. “Hey!” Donghae memanggil Yoona, Yoona pun menoleh.

            “Ya! Apa kau mau mencuri sepedaku?” tanya Yoona dengan mata membelalak kesal. Donghae menggeleng.

            “Naiklah, dan beritahu aku alamat rumahmu. Dengan kaki terkilir seperti itu, kau takkan dapat menaiki sepeda ini.” Jawab Donghae perhatian.Pipi Yoona perlahan memerah.

            ‘Aku memang tidak dapat menaiki sepeda itu, meski kakiku tidak terkilir.’ Batin Yoona malu mengakui yang sesungguhnya pada Donghae. Donghae kembali berseru padanya, dan akhirnya Yoona menurut saja.

 

“Mengapa aku harus bertemu lelaki itu? Mengapa aku harus mencintainya? Mengapa dia harus mencintai Taeyeon?” tanya Yoona terisak. Yoona menggigit bibir bagian bawah.Terlalu perih untuk mengingat kembali momen-momennya bersama Donghae.

***

Leeteuk duduk di kursi itu lagi, mengacak-acak rambutnya dengan kesal.Ia ingin berteriak detik itu, berteriak sekeras mungkin untuk melempar semua amarahnya.Seketika di pikirannya terngiang wajah Yoona, namun tiba-tiba berubah menjadi wajah Taeyeon yang menangis.Ia menatap layar ponselnya, wallpaper ponselnya, fotonya bersama Taeyeon.Wajah Taeyeon saat itu, benar-benar ceria.Leeteuk pun ingat, foto itu diambil tepat di tempatnya duduk detik itu.

Leeteuk sibuk melihat-lihat berbagai tanaman di taman itu—entah apa yang akan ia lakukan dengan tanaman-tanaman tersebut, sedangkan Taeyeon sibuk memainkan ponsel Leeteuk.

            “Ah, tak ada satupun foto kita di ponsel oppa!” ucap Taeyeon setengah berseru, berharap Leeteuk mendengarnya.Namun, Leeteuk tetap sibuk melihat-lihat tanaman.Taeyeon mendengus kesal. “Oppa! Kemarilah!”

            Leeteuk menghela napas kesal, ia mendekat ke Taeyeon. Taeyeon menggerak-gerakkan tangan dengan arti menyuruhnya cepat-cepat mendekat.Leeteuk duduk di samping Taeyeon.

            “Kita foto bersama!” seru Taeyeon girang.Leeteuk melongo, ternyata gadis itu menyuruhnya cepat-cepat mendekat hanya untuk—berfoto?Taeyeon buru-buru mendekatkan pipinya ke pipi Leeteuk, tangan kanannya mengarahkan kamera ponsel Leeteuk, tangan kirinya membentuk huruf ‘v’. “Say ‘cheese’!” Leeteuk tersenyum kecil.

 

Leeteuk perlahan tertawa kecil mengingat kejadian itu, kini di ponselnya penuh foto mereka berdua.Wajah Taeyeo benar-benar imut dan tersenyum lepas. Sedangkan wajahnya, tersenyum kecil tak ikhlas tanpa gaya. Di hati kecilnya, ia merasa bersalah pada Taeyeon. Ia sendiri menyetujui perjanjiannya dengan Donghae, menjadi kekasih Taeyeon. Tapi, selama momen-momennya bersama Taeyeon, ia belum pernah membuat gadis itu tertawa. Meski Taeyeon memang selalu tersenyum dan tertawa di hadapannya, karena memang gadis itu sangat periang.

“Mengapa aku begitu memikirkan gadis itu?” tanya Leeteuk pada diri sendiri.Tiba-tiba ponselnya bergetar.

From: Taeyeon

Lupakan segalanya, anggap masalah sudah selesai, dan anggap kita tidak pernah berkenalan, Leeteuk-ssi.

 

Leeteuk terkejut mendapat pesan singkat seperti itu dari Taeyeon.Tiba-tiba tangannya dengan cepat menekan tombol hijau, dan menelepon Taeyeon.Namun, tidak diangkat. Leeteuk heran pada dirinya sendiri, mengapa ia menelepon Taeyeon? Dan mengapa rasanya ia tidak ingin Taeyeon mengirimkan pesan singkat seperti itu padanya? Tidak. Dia tidak mungkin menyukai Taeyeon.

***

Taeyeon menangis sejadinya di kamarnya, apalagi setelah mengirimkan pesan singkat yang baginya mengerikan itu pada Leeteuk.Ia menutupi wajah dengan bantal.Ponselnya sejak tadi terus berdering, dan itu telepon dari Donghae.Taeyeon terus mengabaikannya.Karena lama-lama kesal juga mendengar ponselnya itu terus berdering, akhirnya Taeyeon melepas baterai ponselnya.Lalu pergi keluar untuk menyejukkan hati.

Taeyeon menarik napas saat angin bertiup cukup kencang, perlahan ia berusaha tersenyum.

“Ahjumma, bunga melati putih satu,” Ahjumma itu tersenyum ramah pada Taeyeon. Memberikan bunga tersebut, dan Taeyeon memberikan beberapa lembar uangnya. “Gamsahamnida.”

Taeyeon berjalan, mendekati kuburan ibunya. Perlahan ia meletakkan bunga melati didekat batu nisan itu. Taeyeon duduk disamping kuburan itu, hanya terdengar samar suara orang menyapu daun-daun yang gugur disekitar kuburan.

“Eomma,” Taeyeon menunduk, ia tak ingin menangis di depan ibunya. “Menurut eomma, apa aku harus melupakan Leeteuk-ssi?” tanya Taeyeon menatap kuburan ibunya. Taeyeon menghela napas, “Semenjak eomma pergi, appa selalu bekerja, bekerja, dan bekerja, Taeyeon di rumah sendirian. Awalnya Taeyeon merasa tidak kesepian lagi saat Leeteuk-ssi menjadi kekasihku, tapi itu—tidak benar-benar.” Taeyeon mencurahkan isi hatinya, lalu mulai menangis.

“Aigoo, mianhae eomma, padahal Taeyeon sudah berjanji tidak akan menangis. tapi, Taeyeon kesepian, tidak ada orang yang dapat dipercaya, cuma eomma yang bisa Taeyeon percaya.” Taeyeon mulai terisak, ia sangat cengeng.

“Eomma—jeongmal saranghaeyo.”

***

Esok harinya, Taeyeon mulai merasa sedikit lega. Kini ia berjalan keluar mencari makanan, ia sangat lapar. Sembari berjalan, ia memakai headset dan mendengarkan Motion. Taeyeon tersenyum, lalu mengangkat kedua tangannya.

“Fighting!” teriaknya keras-keras. Saat hendak berlari kecil, ia justru menabrak seseorang. Gadis berambut panjang dan bertubuh tinggi yang membuatnya iri, Yoona. “Yoona?”

“Taeyeon-ah, mau sarapan bersamaku? Aku tahu warung makan enak didekat sini, aku yang bayar.” Taeyeon terdiam, memiringkan kepala dengan wajah cutenya, kemudian tersenyum kearah Yoona.

“Baiklah,” Jawab Taeyeon terdengar riang. Yoona menatapnya heran sekaligus kagum, kemarin saja gadis itu menangis keras, kini? Tertawa keras. “Yoona-ya, ayo!” Yoona membalas senyum Taeyeon, mengangguk.

***

“Whaaaa, kau benar! Makanan disini semuanya enak-enak!” seru Taeyeon riang sembari terus sibuk melahap macaroni scottle nya.Yoona tertawa kecil, melihat wajah lucu Taeyeon yang belepotan.Sungguh, gadis ini sudah lulus kuliah namun tetap saja terlihat seperti gadis yang duduk di bangku SMA.

“Taeyeon, maafkan aku tentang kejadian kemarin ya? aku tidak bermak—“

“Ini bukan salahmu, Yoona. Leeteuk-ssi memang tidak mencintaiku, sedikit pun tidak, dan dia memang mencintaimu.Mau bagaimana lagi?” ucap Taeyeon sangat santai.Yoona telihat sangat heran, segampang itu?

“Lalu hubunganmu dengan Leeteuk-ssi?”

“Putus, jadi ambil saja kalau kau mau, aku sudah melupakannya.” Taeyeon terdengar sedikit marah.Yoona tersenyum kecil, lalu menggeleng-geleng.

“Kau beruntung, Taeyeon. Aku ingin menjadi dirimu,” Ujar Yoona membuat Taeyeon heran. apa yang membuat Yoona ingin menjadi dirinya? Tinggi jelas tinggi Yoona, paras cantik? Taeyeon yakin Yoona yang menang, kulit putih?Bisa saja, ah, tapi tidak mungkin se-sepele itu.Taeyeon hanya menatap Yoona dengan tanda bertanya. “Apa kau tidak sadar?”

“Tentang apa?” tanya Taeyeon polos.

“Ternyata memang kau tidak sadar.” jawab Yoona menggeleng kecil. Taeyeon tetap bingung, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Yoona aku tak mengerti apa-apa,” Keluhnya karena tetap tak mengerti apa maksud Yoona. Yoona hanya tersenyum kecil, membuat Taeyeon sedikit kesal. “Seharusnya kau senang, cintamu tidak bertepuk sebelah tangan sepertiku, itu lebih dari cukup.” Yoona menepuk jidatnya.

“Ya! Kim Taeyeon! Kau mengira aku mencintai Leeteuk-ssi? Aniyo.”

“Lalu siapa?”

“Kau tak perlu tahu.” Taeyeon mendengus kesal. Tapi, hati kecilnya sedikit senang, berarti ada kemungkinan ia akan kembali bersama Leeteuk? Dengan segera Taeyeon menggelengkan kepala, ia harus melupakan namja mengesalkan itu. I will forget you, Park Jungsoo.

***

Yoona berjalan dengan membawa tas kecilnya yang berwarna senada dengan pakaian pink babynya. Langkahnya terhenti, saat ia mendongakkan kepala. Didepan matanya, ia sukses melihat mata indah dari namja itu, Lee Donghae. Jantungnya berdetak kencang, jari-jari tangannya saling menjentik satu sama lain, tanda rasa gugupnya.

Donghae tampak sekilas menatapnya, tanpa sedikit senyum. Sedikitpun. Dan segera mengalihkan pandangan. Yoona tampak sedih, hatinya bagai disayat pisau tajam yang biasanya digunakan ibu rumah tangga untuk memotong daging sapi segar. Sangat sakit. Namun, tetap saja bibirnya berusaha tersenyum, meski air matanya menetes.

“Lee Donghae.” Ucapnya lirih.

***

Taeyeon berjalan pelan menatap jalanan dengan wajah suntuk.Ia tidak bisa melupakan lelaki itu, meski tersenyum selebar apapun, hatinya selalu menangis.Ia mulai berjalan seperti orang mabuk.Secara tiba-tiba seseorang menahan tubuhnya yang nyaris terjatuh, Taeyeon tersadar dari lamunannya, dan segera menoleh ke belakang.Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, apakah ini mimpi?Lelaki itu Park Jungsoo.

“Kau bisa terjatuh,” ujar Leeteuk menuntun Taeyeon berjalan. Taeyeon menarik napas, lalu menghela napas perlahan. Mengapa lelaki itu sama sekali tampak tidak merasa bersalah? Ah tunggu, bukannya dia yang mengirim pesan untuk melupakan masalah itu? “Apa maksud pesanmu itu? Mia—“

“Jungsoo-ssi, mianhamnida, aku ada urusan lain.” Taeyeon cepat-cepat berlari kecil, menjauh dari lelaki di masa lalunya.Ya, masa lalu. Masa lalu itu harus ia lupakan sekarang juga. Mulai detik ini.

Benar-benar seperti terasa asing. Bahkan ia memanggilku Jungsoo-ssi, berkata mianhamnida, bukankah itu resmi sekali? Padahal dulu kita sangat dekat. Kim Taeyeon, izinkan aku berbicara sampai selesai. Aku hanya ingin berkata mianhae.

“Hyung, apa yang kau lakukan pada Taeyeon tadi? Kau belum puas membuatnya menangis seharian?” tanya sebuah suara membuat Leeteuk otomatis menoleh. Adiknya itu, Donghae. “Oh, atau jangan-jangan sekarang kau justru menyukainya? Dan berniat meminta maaf? Hyung, kau benar-benar playboy!”

BUK!

Donghae meringis mengelus bibirnya yang berdarah karena pukulan Leeteuk. “Kau mulai main pukul?” tanya Donghae tampak menantang. Leeteuk menatapnya tajam, tangannya mengepal keras. “Jawab saja jujur! Kau mulai merasa bersalah dengan Taeyeon, lalu kau mulai mencintainya, bukan?” Donghae menarik kerah baju Leeteuk sekuat mungkin.

“Bagimana kalau aku jawab—“ Sebelum Leeteuk menyelesaikan. Gadis itu berlari menghampiri kedua, melerai keduanya, menatap mereka berdua bergantian dengan satu alis dinaikkan. Taeyeon, ternyata gadis itu sejak tadi menatap mereka dari kejauhan.

“Apa yang kalian lakukan? Ini tempat umum!” Taeyeon menarik tangan Donghae maupun Leeteuk, kedua lelaki itu masih saling tatap dengan tajam.

Mereka sampai di taman sepi itu, Taeyeon mulai kembali menatap kedua lelaki itu. “Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian bertengkar seperti itu?” tanya Taeyeon dengan nada serius. Leeteuk dan Donghae sama-sama mengatur napas mereka yang tadi menggebu-gebu.

“Karena dia telah mengecewakanmu,” jawab Donghae dengan cepat. Taeyeon tersentak, apa maksud Donghae?

Leeteuk otomatis menarik tangan Taeyeon, “Kau tadi memotong perkataanku, aku ingin meminta maaf padamu, mianhaeyo, mianhaeyo.” Taeyeon terkejut. Jantungnya nyaris berhenti berdetak, tapi ia tetap berusaha mempertahankan wajah datarnya. Donghae segera menarik kerah baju Leeteuk, lalu memukulnya.

BUK!

Leeteuk mengelus pipinya yang membiru.Taeyeon membelalak terkejut.Donghae mengepalkan tangannya, napasnya tak teratur, wajahnya benar-benar mengerikan. Leeteuk bangkit berdiri, Donghae mendorongnya dengan gaya menantang.

“Jungsoo-ssi! Donghae ya! Hentikan!” jerit Taeyeon berusaha melerai namun ia terlalu lemah untuk melakukannya. Leeteuk terjatuh hingga lututnya tergores dan darah, ia meringis kesakitan lirih. Donghae menundukkan kepala dengan tangan masih mengepal.Taeyeon mendekat ke Leeteuk yang terjatuh, membantunya berdiri dengan meletakkan tangan namja itu pada bahunya.

“Taeyeon-ah!” panggil Donghae membuat Taeyeon otomatis menoleh. “Mengapa kau justru menolongnya? Dia sudah melukaimu.” Taeyeon menunduk terdiam untuk berpikir sesaat, di sampingnya Leeteuk terus memandangnya dengan tatapan memohon minta maaf.

“Tapi, Hae, aku sudah berniat melupakan segala masalah itu, memutuskan hubungan dengan Jungsoo-ssi, dan kini kita berteman. Teman harus saling menolong, bukan?” balas Taeyeon dengan polosnya. Leeteuk sedikit lega, meski kini ia mendesah yang terdengar nada kekecewaan. Mungkin ia kecewa karena mendengar memutuskan hubungan dengan Jungsoo-ssi, dan kini kita berteman.

Donghae mendekat ke Taeyeon, menatap gadis itu dengan tatapan tulus. Leeteuk dalam hati tidak suka melihat Donghae seperti akan melakukan hal yang tidak dia inginkan untuk terjadi. Donghae meraih tangan Taeyeon yang tidak membantu Leeteuk untuk berdiri tegap, mengenggamnya begitu erat.

Saranghaeyo, Taeyeon-ah.”

Taeyeon tersentak, begitu juga Leeteuk yang dapat mendengar jelas ucapan lirih Donghae yang terdengar tulus itu.Taeyeon terdiam, tidak kunjung membalasnya, pandangannya seperti kearah Donghae, tapi terlihat kosong.

“Taeyeon-ah, bagaimana denganmu? Kita selama ini selalu bersama dan kita—“

“Donghae-ya, mianhae, selama ini—aku selalu menganggapku seperti adikku sendiri,” ucap Taeyeon lalu menarik napas pelan. “Dan aku sedang tidak ingin memikirkan apa-apa sekarang. Segera pulanglah untuk menenangkan pikiranmu, Hae.” Donghae tertegun, perlahan genggaman tangan itu terlepas. Leeteuk terus menatap keduanya dengan wajah tanpa dosa, kini rasanya ia tidak dapat menahan untuk tersenyum.

“Jungsoo-ssi, kau masih ada pekerjaan? Biar aku mengantarmu.Donghae, kau juga sebaiknya melanjutkan pekerjaanmu atau kau ingin dipecat?” canda Taeyeon dengan senyum yang mulai mengembang di bibirnya.Donghae perlahan tersenyum kecil, mengacak-acak rambut Taeyeon.

“Kau masih tetap saja pelawak handal. Tolong jaga hyung sebentar ya, Taeyeon-ah,” ujar Donghae.Taeyeon mengangguk riang dengan mengacungkan jempolnya.Donghae mulai berlari pergi dari tempat itu. Taeyeon menghela napas lega saat pertarungan ala drama—yang sering ia lihat di televisi—kini telah selesai.

Namun, buruknya, ia baru sadar bahwa kini ia hanya berdua dengan Park Jungsoo. Ia menatap lelaki itu, lalu tersenyum manis. Leeteuk membalas senyumannya dengan ramah.

“Kau ini kakak Donghae, mengapa begitu kekanakan dihadapan Donghae, huh? Aku jadi seperti kakak pertama yang memiliki dua adik bernama, Leeteuk dan Donghae,” jelas Taeyeon mulai berjalan perlahan menuntun Leeteuk. Leeteuk tertawa kecil, ia mencubit pipi Taeyeon pelan.

“Aku memiliki noona sekecil ini?” ledek Leeteuk tertawa.Taeyeon menggembungkan pipinya.

“Aku jadi malas mengantarmu, kau begitu berat, aaah~” desah Taeyeon bepura-pura kelelahan. Leeteuk mulai merasa ia akan terjatuh.

“Hey! Aduh!” jerit Leeteuk ketakutan.Taeyeon tertawa puas.

“Makanya, jangan nakal sama aku, Oppa—“ Taeyeon tersentak dan segera memukul bibirnya sendiri. Leeteuk melirik Taeyeon, susah untuk menahan senyum bahagianya. “Mianhamnida.” Leeteuk menatap wajah yeoja itu terlihat agak sedih, Leeteuk menghela napas berat.

“Taeyeon-ah,” panggil Leeteuk. Taeyeon membalas dengan gumamaman tak jelas tanpa menoleh kearah Leeteuk. “Aku ingin kau memanggilku dengan Oppa lagi.” Taeyeon kini otomatis menoleh karena benar-benar merasa tak percaya apakah tadi adalah suara dari Leeteuk? Mungkinkah ia bermimpi?

Mwo?”

“Ternyata selama ini aku salah—saranghaeyo, Taeyeon-ah.”

***

BRUK!

Mianhamnida, mianhamnida,” ucap Yoona berkali-kali sembari memungut kertas-kertas yang berserakan itu. Orang yang tak sengaja ia tabrak itu ikut membantunya memungut kertas-kertas yang berceceran di lantai. Yoona otomatis menoleh keatas.Pandangannya terhenti, Donghae ada dihadapannya detik itu.

“Yoona? Kau tak apa-apa, kan?” tanya Donghae membuat Yoona tersadar dari lamunannya. Yoona segera mengangguk datar tanpa ekspresi.Donghae memberikan kertas-kertas itu pada Yoona, Yoona menerimanya.

Ayo, Im Yoona, jangan sia-sia kan kesempatan ini. Beranilah berkata, apapun, sekarang juga! Yoona menggigit bibir bagian bawahnya, Donghae mulai berjalan pergi meninggalkannya, tapi ia segera memanggilnya lagi.

“Donghae-ssi!” seru Yoona dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Donghae menoleh menatapnya dengan isyarat bertanya Ada apa? “Ini jam makan siang, mau makan siang bersama?” Donghae tampak berpikir, ia memutar mata perlahan, lalu mengangguk tersenyum.

Mungkin dengan makan siang bersama Yoona, rasa kesalku bisa hilang.

Mereka berdua kini duduk berhadapan, dengan wajah Donghae yang cuek, dan wajah malu dari Yoona.Donghae melirik Yoona yang tak kunjung melahap makanannya, Donghae menyeruput jus jambunya pelan.

“Cepat makan, kalau kau pandangi terus, mereka bisa kabur,” ledek Donghae membuat Yoona otomatis menatapnya, lalu tertawa kecil.Donghae tersenyum kecil.

“Kau pintar melawak ternyata,” balas Yoona melahap makanannya. Donghae menghela napas panjang.

“Semua itu karena Taeyeon,” sambung Donghae. Yoona tertegun, nyaris tersedak.

“Kau menyukainya?”

“Begitulah, tapi, sayangnya hanya Leeteuk-hyung yang ia sukai,” jawab Donghae menopang dagu. Yoona terdiam sesaat, sebegitu sayangnya Donghae pada Taeyeon? “Mungkin aku akan melupakan, harus begitu.” Yoona terkejut, meski ada rasa senang menggelitiki tubuhnya hingga memaksanya untuk tersenyum.

Mereka kembali larut dalam diam, Donghae sibuk mengacak-acak makanannya, dan Yoona sibuk membalas pesan singkat di ponselnya. Donghae sesekali melirik Yoona karena penasaran apa yang sedang dilakukannya. Yoona melirik Donghae, lalu segera menutup tasnya.Donghae tertawa kecil, Yoona memberengut kesal.

Tiba-tiba pandangan Donghae tertuju pada sebuah notes kecil yang ada di bawah mejanya, ia segera memungutnya karena penasaran. Tanpa basa-basi, ia membukanya tanpa bertanya pada Yoona apakah itu miliknya?

Wish list:

–          Jungsoo-ssi tidak lagi mengejarku

–          Jungsoo-ssi bisa mencintai Taeyeon-ah

–          Keluargaku sehat semua, pekerjaan lancar

–          Lagu terakhir ini bisa sukses

Sepertinya ini milik Yoona. Isi notes itu adalah berbagai macam hal, ada rencana-rencana, wish list, dan suatu rahasia yang membuat Donghae membelalak terkejut.

Saranghaeyo, Lee Donghae-ssi.

Yoona melirik Donghae, apa yang sedang dilakukan lelaki itu? Mengapa wajahnya kini tampak terkejut?Donghae menatapnya seketika, membuat dirinya salah tingkah sendiri.

“Yoona, ini milikmu?” tanya Donghae menunjukkan notes kecil berwarna oranye kecokelatan soft. Yoona membelalak terkejut.

“Kau membaca semua isinya?” tanya Yoona balik. Donghae terdiam tak menjawab, keduanya saling bertatapan dengan serius. “Kau membaca semua isinya, Donghae-ssi?” tanya Yoona mengulanginya lagi.

“Aku—hanya membaca bagian belakang,” jawab Donghae. Wajah Yoona memerah, ia hafal benar halaman terakhir itu adalah rahasia terbesar yang ia tidak ingin seorang pun tahu. Tapi, ternyata orang yang bersangkutan justru mengetahuinya. Donghae sudah tahu bahwa ia menyukainya.

“Dong—Donghae-ssi,” ucap Yoona pelan. Bibirnya seakan-akan susah digerakkan untuk berbicara dan mencari alasan yang masuk akal supaya Donghae tidak mempedulikan rahasianya itu.

“Yoona, kau menyukaiku?” tanya Donghae serius. Yoona memejamkan matanya, ia menggigit bibir bagian bawah dengan kuat, digenggam tangannya dengan erat hingga terasa sakit. Donghae masih menanti jawabannya.

“Aaa—eee—Donghae—“

“Yoona, maukah kau membantuku?” tanya Donghae lagi kini membuat Yoona bingung. Apa maksudnya? Membantu apa? Yoona hanya terdiam melongo menatap Donghae, mengisyaratkan bahwa ia ingin pertanyaan yang lebih jelas.

“Apa maksudmu?”

“Yoona, maukah kau membantuku untuk mencintaimu?”

***

Taeyeon terdiam, masih tak percaya apa yang diucapkan Leeteuk. Apakah ia masih dapat percaya dengan lelaki yang sudah lama ia percaya tapi mengkhianatinya itu? Apa bisa?

“Aku tidak yakin dengan ucapanmu.”

“Aku serius, aku mencintaimu, saranghamnida, saranghaeyo,” ucap Leeteuk menggenggam tangan Taeyeon, mereka masih dalam posisi Taeyeon menuntun Leeteuk, membuat posisi ini masuk ke dalam list the awkward moments. “Kau mau memberiku kesempatan, Taeyeon-ah? Give me chance.”

Taeyeon terdiam, ia terus menuntun Leeteuk berjalan sampai ke ruang kantornya, kini mereka berdua di dalam ruangan Leeteuk. Dengan Taeyeon yang masih tampak berpikir, dan Leeteuk yang menatap penuh harap.

“Taeyeon-ah, jawab aku,” pinta Leeteuk serius. Taeyeon terdiam.

“Bagaimana cara untuk menjawabnya?” tanya Taeyeon polos. Leeteuk menghela napas berusaha sabar. “Jawab aku, bagaimana cara menjawabnya, Oppa?” Leeteuk tersentak, ia menatap Taeyeon dalam-dalam. Taeyeon yang kini tersenyum nakal kearahnya.

“Taeyeon-ah,” ucapnya begitu gemas dengan Taeyeon. Taeyeon tertawa kecil. “Kau sudah bisa menjawabnya, chagiya.”

***

Yoona menggelengkan kepalanya tak yakin bahwa yang ada dihadapannya adalah Donghae. Ia menepuk pelan pipinya, Donghae menatapnya dengan satu alis yang naik.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Donghae.

“Apakah aku bermimpi?” tanya Yoona balik. Donghae tertawa kecil.

“Tidak, bantu aku untuk mencintaimu, Yoona.” Senyum perlahan tersungging di bibir Yoona, terlihat sangat manis.

            “Dengan senang hati.”

THE END

35 thoughts on “[Freelance Oneshot] Am I Your Girlfriend?

  1. Dinaaaa baguuuusss bikin lagi dong yg one shot tp ceritanya mereka udh nikah gtdeeeeh :3 ah kamu pinter bgt bikin ff nyaaa suka sukaaa ><

  2. kalo taeteuknya di mix sama haesica mungkin bakal lebih bagus thor. Aku gasuka yoonhae, jd bacanya lompat2 deem -_-
    cuma taeteuk nya doang kkk.
    Over all keren kok.. Bikin taeteuk lagi yaa

  3. whoa ffnya bagus chingu! buat lagi dong!
    hehehe
    oiya, saya promosi nih, dicari author baru untuk taeteukfanfic.wordpress.com
    Bisa dibaca syaratnya di blog tsb. GOMAWO!!

  4. yeaaaaahhhh YoonHae TaeTeuk. Udah kaget aja kalo ahirnya bakalan YoonTeuk sama TaeHae.wkwk :D
    tapi bingung yg TaeTeuk, yg bilang “kau sudah bisa menjawabnya chagiya” itu yg bilang siapa ?

  5. huuaaaaahhh. . FFnya keren.. aku sukaa banget.. trnyta author pyro juga yah?? aku juga.. xixixixi.. lain kli bwt ff yoonhae yah thoorr.. aku ska bca FF yg berbau (?) yoonhae. biasalah.. yoonha shipper tingkat akut.. xixixi.. NO BASH!!

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s