Fall For You, Noona | Part 3

| CHAPTER 1 | CHAPTER 2 |

by

burninganchovy (@meutiakbachnar)

 

Cuap-Cuap Author:

Annyeonghaseyeo! Apa kabar? Here I am, sekarang saya mau posting lanjutan Fall For You, Noona ke Chapter yang ke-3. Sebenernya, Chapter ke-3 nya udah saya terbitin di blog pribadi. Ah iya, dulu FF ini saya buat waktu saya masih freelance. Dan berhubung saya udah jadi author tetap sekarang, saya kayanya nge-post sendiri aja kali ya.. (boleh ya admin FKI :D). Dan, terimakasih buat reader yang udah baca FF ini dari first chapternya. Semoga menyenangkan. Happy Reading :)

CHAPTER 3 | AFTER PAIN DISAPPEAR..

***

Jonghyun dan Hyomin terdiam untuk beberapa saat. Keduanya tak pernah menyangka kalau orang yang mereka sukai sekarang telah resmi berpacaran. Selang beberapa menit, kesunyian itu pun berakhir. Hyomin mencoba menenangkan Jonghyun yang masih nampak begitu lemas di sampingnya.

            “Sebenarnya, aku sudah melupakannya. Sedikit lega ketika aku tahu kalau pacar Lee Donghae adalah temanmu yang manis itu” ucap Hyomin dengan pandangan kosong. “Tapi… kau jauh lebih beruntung dariku, Jonghyun-ah”

            Jonghyun menoleh, “Beruntung? Maksudmu?”

            “Kau masih dekat dengan sahabatmu, yang tak lain adalah orang yang kau suka. Kau sudah baca semua isi buku kecil ini kan? Berarti kau sudah tahu kan, aku dan Lee Donghae bahkan tak bisa seperti dulu—bersahabat lagi… A-Aku memang patah hati, tapi aku lebih sedih karena dia bersikap seolah tak pernah mengenaliku”

            “Noona…

            “A-Aku harus pergi, aku rasa… aku perlu menenangkan diri” Hyomin memotong perkataan Jonghyun yang berusaha menenangkannya.

            Jonghyun menyenderkan punggungnya lagi pada rak buku besar di belakangnya. Ia mulai mengkhawatirkan Hyomin. Jonghyun memang paling tidak bisa melihat seorang cewek  bersedih. Ia pun beranjak dari posisi duduknya dan segera mengejar Hyomin.

“Lee Donghae?”

            Yang merasa dipanggil namanya pun membalikkan badan sambil tersenyum. Tapi tak lama, senyum itu luntur begitu saja. “K-Kau?!”, Donghae nampak canggung ketika mendapati Hyominlah yang tengah berdiri di hadapannya sekarang.

            “Oppa!!”, tiba-tiba terdengar suara keras seorang perempuan dari kejauhan—membuat Hyomin dan Donghae mencari sumber suara itu. “Aku senang sekali kau bisa menjemputku! Tapi, mianhae oppa, aku tak menemukan Jonghyun! Entah kemana dia… padahal aku kan ingin sekali mengenalkannya pada oppa”

            Ya, suara keras itu berasal dari seorang perempuan yang tak lain adalah Yoona. Ia nampak begitu senang karena Donghae bersedia menjemputnya sepulang jam kuliah. Donghae pun nampak begitu lega dan nyaman ketika bertemu dengan yeojachingu-nya. Dengan penuh kasih sayang, ia mengacak-acak rambut Yoona. “Gwenchana… Mungkin dia sibuk… Nah, sekarang, kita mau pergi kemana?”

            Sikap Donghae yang dingin seperti saat ini benar-benar membuat Hyomin merasa tak dianggap. Ia hanya bisa membisu saat melihat kemesraan antara Donghae dan Yoona yang ada di hadapannya. Hyomin pun menundukkan kepalanya; kakinya gemetaran dan matanya memanas. “Mian…” ucap Hyomin pelan.

            “Eh, eonnie…” ujar Yoona, sambil langsung menyembunyikan badannya di balik badan Donghae—ketika mengetahui keberadaan Hyomin, yang lebih dikenalnya sebagai seorang sunbae galak dan jutek.

            “Anggap saja kita tak pernah mengenal satu sama lain” akhirnya Donghae mengatakan sesuatu. Mendengar ucapan Donghae, Yoona menjadi kebingungan. Apakah yang telah terjadi antara sunbae galak itu dengan Donghae? Bagaimana Donghae bisa mengenal sunbae itu? Semua pertanyaan itu terus saja berdatangan dan mengusik pikiran Yoona. Namun, ia lebih memilih untuk diam karena suasana yang ada di antara Donghae dan Hyomin sekarang nampak tidak begitu baik.

            “Mian… Jeongmal mianhaeyo…

            Hyomin tetap mengucapkan permohonan maaf, namun kini sambil terisak tangis. Donghae tetap bersikap dingin dan malah mengajak Yoona untuk pergi meninggalkan Hyomin sendirian. Kini Hyomin benar-benar sendirian. Ketika ia sadar kalau Donghae sudah benar-benar pergi meninggalkannya, ia pun memilih untuk membalikkan badannya. Namun tiba-tiba… DUK! Hyomin menabrak seorang lelaki, yang tak lain adalah Jonghyun. Dengan cepat Jonghyun menahan Hyomin. “Noona, gwenchana yo?” tanya Jonghyun. Hyomin tak menjawab. Tak lama kemudian, Jonghyun menemukan Donghae dan Yoona tengah berjalan menuju gerbang kampus. Seakan mengerti apa yang telah terjadi pada Hyomin, Jonghyun pun memutuskan untuk berlari menyusul Donghae dan Yoona. “Kau tunggu disini saja, Noona

            “Lee Donghae”

            Donghae dan Yoona kaget ketika mendapati Jonghyun ada di hadapan mereka berdua. “Kau mengenal Donghae-oppa, Jonghyun-ah?” tanya Yoona.

            “Kalau dia yang menjadi namjachingu-mu, sampai kapanpun aku tak akan pernah menyetujuinya” ucap Jonghyun, to the point.

            Yoona tersentak dan menghampiri Jonghyun. Sambil mengguncang-guncangkan lengan Jonghyun, Yoona bertanya, “Wae?!”

            “Lee Donghae-ssi, begitukah caranya memperlakukan seorang sahabat? Semudah itukah persahabatanmu bisa dihancurkan hanya karena kau sudah menyukai seorang perempuan? Apakah kau tak sadar sahabatmu itu sudah berusaha menjadi sahabat yang setia kepadamu? Selalu mendengarkan cerita tentang perempuan yang kau sukai, mendengarkan seluruh keluh kesahmu… Kau pikir sahabatmu egois ketika ia mengatakan perasaannya yang sebenarnya kepadamu, tapi apakah kau tak merasa kalau kau jauh lebih egois?! Namja seperti apa kau ini?!” Jonghyun langsung menjejali Donghae dengan luapan emosinya. “Sekarang kau lihat, Hyomin-noona tengah menangis sendirian disana! Dia menangisimu! Dia begitu tertekan ketika kau mengabaikannya! Kau tahu, dia berusaha melupakanmu dalam waktu yang lama sampai akhirnya dia berhasil menghapus perasaannya padamu. Itu semua dilakukannya demi kau mau kembali menjadi sahabatnya! Aku bahkan tak percaya kau yang selalu dibangga-banggakan Yoona bisa sekejam ini”

            Donghae hanya terdiam. Di hadapannya, Yoona—yang masih tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi diantara Donghae dan Jonghyun—justru semakin berharap Donghae mengatakan sesuatu. “Oppa, ada apa ini sebenarnya? Jonghyun-ah, ada apa??” tanya Yoona, menatap Jonghyun dan Donghae bergiliran.

            “Tanya saja pada pacarmu itu” balas Jonghyun sinis, kemudian langsung pergi. Ia kembali menemui Hyomin yang masih berdiri sambil menundukkan wajahnya. Kemudian, ia menarik lengan Hyomin dan mengajak Hyomin untuk pergi.

            “Yaa~ aku lemas, kau mau menyeretku kemana, Jonghyun-ah?” tanya Hyomin, sambil menggosok-gosok matanya. Jonghyun tak menjawab.

            Keduanya sudah sampai di tempat dimana Jonghyun memarkirkan motor cepernya. “Kau pakai helmku” ujar Jonghyun, memberikan helmnya kepada Hyomin.

            “Kita akan kemana?” tanya Hyomin lagi.

            “Naik saja” balas Jonghyun dingin.

***

Jonghyun mengendarai motor cepernya itu dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya, Hyomin cuma bisa berharap semoga dirinya akan baik-baik saja selama dibonceng oleh Jonghyun.

            Ternyata Jonghyun membawa Hyomin ke Samcheongdong, tepatnya ke kedai ddeobbogi yang menjadi langganannya selama ini. “Ahjumma, tolong ddeobbogi satu porsi saja ya” pesan Jonghyun setelah ia dan Hyomin duduk di sebuah bangku pelanggan.

            “Kau lapar sekali ya, sampai mengajakku kesini? Aish, kenapa harus aku…” ujar Hyomin sambil bertopang dagu. Jonghyun hanya tersenyum.

            Tak butuh waktu lama, pesanan Jonghyun sudah datang.

            “Makan” ujar Jonghyun.

            “Kau? Kau tak memakannya?” tanya Hyomin, kebingungan.

            “Tiba-tiba aku kekenyangan makan angin”

            “Cih” ejek Hyomin. “Baiklah. Aku akan menghabiskannya”

            Jonghyun terus memperhatikan Hyomin. Ia teringat saat makan ddeobbogi beberapa hari yang lalu bersama Yoona, Seohyun dan Yonghwa. Saat itu ia melihat Hyomin juga tengah memakan ddeobbogi, dan kemudian menangis. Kali ini, ia berharap Hyomin akan meneteskan air matanya lagi ketika memakan ddeobbogi dan merasa baikan.

            “Berikan aku tisu” pinta Hyomin.

            “Benar saja, kau mulai menangis, Noona” ejek Jonghyun.

            “Ini karena ddeobbogi-nya pedas sekali! Yaa~ sepertinya kalau aku menangis akan memberikan kebahagiaan tersendiri untukmu”

            “Tentu saja. Seorang noona menangis adalah hal langka. Yang biasanya menangis itu hanya anak kecil. Tapi sekarang? Kau yang bahkan lebih tua dariku menangis. Hahaha—Aiish”

            Hyomin memukul pelan kepala hoobae-nya saat itu juga. “Kau sendiri juga ingin menangis kan? Kau juga patah hati, kan? Hanya saja… kau ini seorang lelaki. Kau akan merasa malu kalau kau menangis—apalagi di hadapanku, seorang yeoja yang lebih tua darimu! Apa bedanya denganku, kalau begitu?” protes Hyomin kemudian, sambil mengusap-usap pipinya yang baru saja basah karena menangis.

            Mereka berdua pun tertawa bersama. Kini mereka terlihat semakin akrab. Bahkan mereka memakan satu porsi besar ddeobbogi itu bersama-sama. Patah hati yang sama-sama mereka rasakan itu seakan hilang begitu saja ketika mereka berbagi cerita lucu bersama.

            “Waah, hujaaan…” ujar Hyomin saat keluar dari kedai ddeobbogi. Ketika Jonghyun sudah berada di sampingnya, ia menarik-narik lengan jaket Jonghyun untuk melanjutkan perjalanan mereka sambil hujan-hujanan.

            “Sekarang kita mau kemana?” tanya Hyomin lagi.

            “Seharusnya aku yang bertanya itu. Bukankah kau yang menarikku tadi?”

            “Kalau begitu langsung pulang saja… Eomma dan Appaku pasti akan cemas jika anaknya pulang terlambat. Tolong antarkan aku ke halte yang kemarin itu ya, hehe”

            “Nee~ Lihat, betapa baiknya aku hari ini padamu, Noona” balas Jonghyun, sambil tersenyum.

            Kini, baik Jonghyun ataupun Hyomin, keduanya telah merasa baikan. Mereka berdua bahkan nyaris lupa apa yang sebenarnya terjadi hari ini; yang membuat mereka patah hati dan ingin menangis. Perjalanan singkat mereka berdua itu pun berakhir pada sebuah halte yang ada di dekat rumah Hyomin. Namun, karena hujan sangat deras, Hyomin memilih untuk diam di halte—menunggu hujan reda.

            “Untuk apa kau masih disini?” tanya Hyomin, ketika Jonghyun duduk di sebelahnya.

            “Kau yakin tempat sesepi ini aman untukmu?!” Jonghyun malah balik bertanya.

            Hyomin tertawa pelan. Ia menarik napasnya dan menghembuskannya kembali.

            “Jonghyun-ah… Kau tahu?” panggil Hyomin. “Dulu, aku ini anak yang sangat pendiam. Sifatku yang sangat pendiam inilah yang membuatku kadang terasingkan dari lingkungan yang ada di sekitarku. Tapi… untuk pertama kalinya ada seseorang yang mau memperhatikanku, menganggapku seperti anggota keluarganya sendiri, dan mau menjadi temanku…tak peduli apapun kekuranganku. Dialah Lee Donghae. Mungkin karena itulah, aku nekat… sampai-sampai berani mengutarakan perasaanku padanya. Rasa takut akan kehilangan orang sepertinya jauh lebih besar, sehingga membuatku berbuat seenaknya… Tapi, apa yang selama ini kutakutkan akhirnya terjadi. Dia benar-benar tak ingin mengenaliku lagi… Aku benar-benar sudah kehilangan dia”

            “Yaa~ Noona, kau masih bisa bersedih setelah kau menghabiskan sekian banyak ddeobbogi tadi?” tanya Jonghyun, yang terkesan mengalihkan pembicaraan.

            “Aniy.. Aku tak bersedih. Aku hanya ingin memberitahumu saja kalau Lee Donghae itu tak seburuk yang kau pikirkan. Aku sebenarnya tak tahu apa pendapatmu tentang Lee Donghae, tapi…”

            “Arasseo” Jonghyun memotong pembicaraan Hyomin. “Aku tak akan berpikir macam-macam tentangnya. Aku juga akan menyetujuinya untuk berpacaran dengan Yoona”

            “Mm…” akhirnya Hyomin tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aaah, hujannya sudah reda. Kau sudah bisa pulang, Jonghyun-ah. Gomawo sudah menenangkanku hari ini, hahaha”

            Jonghyun tersenyum dan berjalan menuju motor cepernya. Setelah menghidupkan motornya, Jonghyun pun melambaikan tangannya pada Hyomin dan berlalu.

 ***

I sent my tears away with a smile

The sorrow that I wanted to hide is now mocking me

I swallowed my tears with a smile

Even when I’m ready to move on,

My loneliness isn’t letting me go easily

After the pain go away, now I’m by myself

I can smile but I’m not looking forward to love

After the pain go away, I’m happy

But… what is this tears of sorrow?

(Yoon Mirae-After Pain Disappear)

Sudah tiga bulan berlalu. Dan dalam waktu itu pula-lah Jonghyun terus berusaha untuk melupakan perasaannya kepada Yoona. Ia bahkan memiliki niat untuk mencari sebuah pekerjaan paruh waktu untuk membuat dirinya makin sibuk sampai akhirnya benar-benar bisa melupakan Yoona.

            Seperti pada pagi ini, Jonghyun telah siap dengan penampilan barunya yang rapih. Rencananya, pagi ini ia akan pergi bersama Yonghwa untuk melamar pekerjaan di sebuah cafe yang ada di daerah Seochodong—letaknya lumayan jauh dari kampus SNUA.

            Berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini Jonghyun melintasi sebuah jalanan sepi yang jarang dilalui oleh orang lain untuk pergi ke Seochodong bersama motor ceper kesayangannya. Dengan headset yang setia menggantung di kedua lubang telinganya, Jonghyun terus mengendarai motornya sambil menikmati suasana pagi ini yang begitu cerah dan bersahabat.

“Ah, Hyung!” panggil Jonghyun ketika menemukan Yonghwa sudah lebih dulu sampai di depan cafe yang dinamakan Art Cafe Siam itu. Yonghwa menoleh dan melambaikan tangannya pelan. “Apa kau sudah lama menungguku, Hyung?”

            “Aniya.. Aku baru saja sampai. Hmm… Baiklah, ayo kita masuk. Kebetulan temanku bekerja disini dan katanya sedang dibutuhkan sebuah band untuk menjadi band pengiring setiap Rabu dan Sabtu malam. Pada malam itu, cafe ini akan dipenuhi pengunjung. Cafe ini cukup terkenal dengan live accoustic performance-nya” ungkap Yonghwa, menceritakan cafe berseni itu secara singkat. Jonghyun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka berdua pun memasuki bangunan cafe yang cukup luas itu.

            “Jungshin-ah!”

            Begitu memasuki cafe, Yonghwa langsung menyerukan sebuah nama—membuat semua pasang mata para pengunjung tertuju padanya. Di sisi lain, yang merasa dipanggil namanya barusan, langsung meninggalkan kesibukannya dan menghampiri Yonghwa.

            Lelaki tinggi-kurus itu bernama Lee Jungshin, seorang siswa SMU yang sudah lama bekerja di cafe itu sebagai salah seorang personel band pengiring pada acara live accoustic performance yang diadakan setiap Rabu dan Sabtu malam. “Apa kabar, Hyung?” tanyanya sambil menepuk pundak Yonghwa.

            “Ah, aku selalu baik-baik saja. Bagaimana permainanmu sekarang?” jawab Yonghwa sambil berbasa-basi. Jungshin pun mengajak Yonghwa beserta Jonghyun untuk duduk terlebih dulu di sebuah bangku.

            “Lebih baik. Ah, betapa aku merindukan saat-saat belajar gitar bersamamu, Hyung” ujar Jungshin sambil tertawa pelan. “Eh, tunggu, Hyung… biar aku pesankan minuman untuk kalian. Kau tahu, capuccino disini sangat digemari oleh pengunjung! Apa kau mau mencobanya?”

            “Gratis, kan?”

            “Ahahaha, tentu saja bayar! Tapi… untuk kali ini, anggap saja aku sedang mentraktirmu” balas Jungshin, yang semakin lama wajahnya makin terlihat ceria. Lelaki kurus-tinggi itu mengalihkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan cafe, sampai akhirnya pandangannya terfokus pada seorang gadis yang baru saja tiba di bagian kasir. Dengan cepat, Jungshin beranjak dari posisi duduknya dan menghampiri gadis itu. “Noona, bisakah kau antarkan tiga buah capuccino ke bangkuku.. disana?”

            Setelah memesan tiga gelas capuccino untuk dirinya, Yonghwa, dan Jonghyun, Jungshin pun kembali duduk dan melanjutkan pembicaraannya. “Jadi, sebentar lagi… pemilik cafe ini akan datang. Kebetulan, anak pemilik cafe ini adalah sahabat dekatku, Kang-Goon”

            “Geurae yo?” ujar Yonghwa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ah iya, aku lupa memperkenalkannya padamu. Dia adalah teman kuliahku. Namanya Lee Jonghyun. Dia lebih tua setahun darimu. Dan dia bermain gitar dengan sangat baik” lanjut Yonghwa, memperkenalkan Jonghyun yang duduk tepat di sampingnya.

            Jungshin membungkukkan badannya dan tersenyum ketika bersalaman dengan Jonghyun. “Wah, aku tak sabar untuk manggung bersama kalian berdua” ujar Jungshin, yang merasa sangat excited ketika dipertemukan dengan orang-orang sepertinya—orang-orang yang sangat tertarik dengan dunia musik.

            “Ah~ Aku tak sehebat itu, ini semua juga berkat Yonghwa-hyung. Dia yang mengajariku bermain gitar sampai aku tergila-gila pada benda itu, hahaha” balas Jonghyun.

            Mereka bertiga pun larut dalam pembicaraan panjang tentang musik. Tak lama kemudian, seorang pelayan perempuan datang menghampiri bangku yang mereka duduki. “Ini pesananmu, Jungshin-ah”

            Jonghyun spontan mengangkat kepalanya dan menatap wajah pelayan itu. Ia tersentak ketika mendapati bahwa pelayan perempuan itu tak lain adalah Noona yang baru-baru ini dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Hyomin-noona. Hyomin dengan santai dan ramah meletakkan masing-masing satu gelas besar berisi capuccino dingin yang sebelumnya telah dipesan Jungshin. Dan saat Hyomin meletakkan gelas itu di hadapan Jonghyun…

            “Noona?” ujar Jonghyun, berharap Hyomin masih mengingat dirinya—setelah hampir tiga bulan mereka jarang bertemu karena kesibukan mereka di kampus.

            Hyomin mendongak. “Eh?”

            DEG! Jantung Hyomin berdetak kencang. Sudah lama ia tak melihat namja yang setahun lebih muda darinya itu. Hyomin pun menjadi kikuk dan canggung. Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku harus bertemu dengannya disaat seperti ini—disaat aku ingin menghindari perasaanku yang sudah mulai ada untuknya?, ucap Hyomin di dalam hatinya.

           “Aku Jonghyun” ujar Jonghyun, sambil menyunggingkan sebuah senyuman untuk Hyomin. “Apa kau tidak mengingatku, Noona? Yaa~ Noona~”

            “Jjong? Jonghyun? Omo~ Jonghyun-ah, kau sudah berubah!! Ada apa kau kesini?” balas Hyomin, bersikap seolah tak ada apa-apa. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia ingin sekali berlari—menghindari Jonghyun dan menghindari perasaan yang ia miliki untuk Jonghyun.

            “Kau mengenalnya, Jonghyun-hyung?” tanya Jungshin, yang terus saja memperhatikan Jonghyun dan Hyomin. Sepasang mata bulatnya terus memandangi Jonghyun dan Hyomin secara bergantian. “Noona, kalau begitu duduklah sebentar bersama kami. Aih, ini seperti saat-saat reunian saja”

            “Ta-Tapi… Aku sibuk, Jungshin-ah. Mian… Tapi aku harus kembali bekerja”

            Hyomin pun membalikkan badannya lalu berjalan menjauh dari tempat Jonghyun, Yonghwa, dan Jungshin. Jonghyun tersenyum memandangi Hyomin. Ada segelintir perasaan bahagia saat bisa bertemu kembali dengan Hyomin.

            “Eh, Kang-Goon! Kau sudah datang” seru Jungshin tiba-tiba, ketika seorang namja memasuki cafe dan berjalan kearahnya.

            “Nee~ Mianhae, aku telat” balas namja itu, yang langsung mengalihkan perhatiannya kepada dua orang asing yang baru dilihatnya hari ini. Sebuah senyuman pun terpancar dari wajah imut namja itu. “Kau pasti Yonghwa-hyung! Dan kau pasti temannya Yonghwa-hyung! Benar, kan?” tanyanya dengan ramah.

            Yonghwa dan Jonghyun saling berpandangan sebentar, kemudian mengangguk.

            “Ah, aku Kang Minhyuk. Senang bertemu dengan kalian” ujar namja yang ternyata bernama Kang Minhyuk itu. Ia pun menarik sebuah kursi, lalu duduk diantara Yonghwa dan Jungshin. “Jadi, kapan bisa kita mulai manggung bersama?”

            “MWO?!” Yonghwa dan Jonghyun sama-sama terkejut mendengar pertanyaan Minhyuk.

            “Kapan kita bisa mulai manggung bersama?” kata Minhyuk, mengulangi pertanyaannya sekali lagi.

            “Jadi… kami diterima untuk bekerja disini?” tanya Yonghwa.

            “Untuk apalagi aku meragukan kemampuan kalian?” balas Minhyuk, hangat dan ramah.

            Yonghwa dan Jonghyun tak mampu menyembunyikan rasa senang. Berkali-kali mereka mengucapkan terima kasih kepada Minhyuk dan Jungshin. Melihat pemandangan ini dari kejauhan, Hyomin pun terdiam. Apa dia benar-benar harus bekerja disini? A-Apa yang harus kulakukan nantinya? Aku takut perasaanku kepadamu semakin menjadi-jadi.., ujar Hyomin di dalam hati sambil menatap pancaran kebahagiaan dari wajah Jonghyun.

***

Kini sudah hampir jam enam sore. Hyomin masih terus membersihkan tempat kerjanya, Art Cafe Siam. Dan ketika semua pekerjaannya telah selesai, Hyomin pun keluar dari cafe besar itu dan mengunci pintunya.

            “Hari ini kau lembur ya, Noona?”

            Sebuah suara mengusik Hyomin yang tengah berusaha mengunci cafe. Hyomin menoleh dan di sampingnya telah berdiri seorang namja yang tersenyum ke arahnya. “Jonghyun? Kau masih disini?” tanya Hyomin kaget.

            “Sudah lama kita tak bertemu, Noona

            Ya, akhirnya Hyomin berhasil mengunci pintu cafe itu. Hyomin melangkahkan kakinya tanpa membalas perkataan Jonghyun. Jonghyun merasa sedikit aneh dengan sikap Hyomin kali ini. Hyomin yang biasanya begitu bersahabat dengannya, tiba-tiba bisa sedingin ini. “Noona! Noona! Yaa~ Hyomin!

            Hyomin menghentikan langkah kakinya. Tanpa pikir panjang, Jonghyun langsung mendekati Hyomin.

            “Ada apa, Noona? Apa kau sedang sedih?” tanya Jonghyun.

            Hyomin menggelengkan kepalanya. “Aniya… Aku hanya terburu-buru sekarang. Aku harus cepat pulang, sudah hampir malam”

            “Pulang denganku saja… Sudah lama motorku tak memboncengimu, Noona

            “Tapi…”

            Belum sempat Hyomin melanjutkan ucapannya, Jonghyun sudah menarik lengan Hyomin yang semakin kurus. Jonghyun membawa Hyomin ke tempat dimana ia memarkirkan motor cepernya. Dengan cepat Jonghyun pun menaiki motornya dan menunggu Hyomin mengikutinya—menaiki motor cepernya. Hyomin terdiam untuk beberapa saat sambil memandangi motor ceper yang sudah lama tak ditumpanginya itu. Ia tersenyum getir.

            “Ayo, cepat. Nanti kau kemalaman” ujar Jonghyun yang sudah lama menunggu Hyomin.

            Dengan ragu-ragu, Hyomin pun menaiki motor ceper milik Jonghyun. Kini, jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat. Sekujur badannya lemas seketika. Aku benar-benar takut untuk jatuh cinta lagi… Ya Tuhan… Apa yang harus kulakukan untuk menghindarinya? Aku tahu aku tak pantas menyukainya…

            Jonghyun mulai mengendarai motornya. Sepanjang perjalanan, Jonghyun terus mencoba untuk memulai pembicaraan—sekedar untuk basa-basi. Namun semua perkataan Jonghyun hanya ditanggapi seadanya oleh Hyomin. Hyomin lebih banyak menghabiskan waktunya untuk diam selama perjalanan menuju rumahnya.

            “Tak kusangka nantinya kita akan sering bertemu. Kau tahu, aku diterima bekerja di cafe tempatmu bekerja itu, Noona” ujar Jonghyun. “Dan kau tahu, aku mencontek caramu untuk melupakan seseorang yang kusukai. Aku mencontek kau yang menyibukkan dirimu sebagai penjaga perpustakaan dulu untuk melupakan Lee Donghae. Ah, apa kau masih memikirkan namja itu, Noona?”

            “Aniya… Aku tak memikirkannya lagi. Sudah ada seseorang—eh…”

***

“Yaa~ Kenapa aku harus memberitahunya tentang itu? Bahkan ia tak membalas ucapanmu! Dia tak akan peduli kau suka dengan siapa, Hyomin pabo! Dia hanya mencintai Yoona! Ya, Im Yoona! Yang jauh lebih cantik darimu, lebih baik darimu, kau tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yeoja berwajah angel itu…”

            Hyomin terus memarahi dirinya sendiri sambil menatap cermin, ketika telah sampai di rumahnya. Ia tak bisa melupakan betapa malunya saat keceplosan mengatakan bahwa ia tengah menyukai seseorang, dan Jonghyun tak menanggapi ucapannya itu.

            Hyomin terus berjalan mondar-mandir di kamarnya. Setelah capek mondar-mandir, ia pun membenamkan wajahnya dengan bantal besar di tempat tidur. Ia tak mengerti dengan perasaan yang begitu saja datang kepadanya.

Sudah dua bulan terakhir ini Hyomin terus memikirkan Jonghyun. Awalnya Hyomin senang karena ia telah memiliki teman lain selain Lee Donghae, hanya sebatas itu. Tapi semakin lama, perasaannya semakin tak menentu. Setiap ia melihat Jonghyun dari kejauhan, jantungnya selalu berdetak lebih kencang. Kalaupun berpapasan dengan Jonghyun di kampus, Hyomin malah bersikap kikuk dan panik. Untuk itulah Hyomin lebih memilih untuk menghindari Jonghyun.

            Tapi sekarang… takdir membawanya kembali untuk dipertemukan dengan Lee Jonghyun. Ia dan Jonghyun akan sering bertemu karena mulai hari ini, Jonghyun resmi bekerja di tempat yang sama sepertinya.

***

Di waktu yang bersamaan, Jonghyun terus memikirkan perubahan sikap Hyomin kepadanya. Jonghyun mengacak-acak rambut barunya yang pendek dan merentangkan badannya di atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya pun mulai melayang jauh, jauh melewati batas dan waktu—membuatnya kembali mengingat sosok seorang yeoja yang pernah, dan masih ia cintai. Im Yoona. “Sedang apa kau sekarang? Betapa menyedihkannya aku. Aku belum benar-benar bisa melupakanmu, Yoong~”

            Bip! Handphone Jonghyun yang berada di meja belajar bergetar—menandakan ada sebuah pesan baru untuknya. Dengan malas-malasan Jonghyun beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pesan itu.

 

Yaa~ Kau sudah sombong sekali sekarang!

Apa kabarmu, temanku yang baik hati?

Bolehkah aku meminta waktumu sebentar hanya sekedar untuk mengobrol sebentar?

– Im Yoona –

…To be continued..

6 thoughts on “Fall For You, Noona | Part 3

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s