Story of April – Chapter 1 [What Is Love Afterstory]

Story of April

Tittle                : Story of April

Author             : dinimnida a.k.a Nh.dini

Genre              : romance, friendship, AU

Rating              : Teenager

Length             :

Cast                 :

–          Huang Zi Tao (EXO-M)

–          Jung Hyera

–          Kim Jong In -Kai (EXO-K)

–          Kim Younghwa

–          Oh Sehun (EXO-K)

Disclaimer       :

This is pure my imagination. Semua cast di sini milik tuhan, kecuali Tao, dia milik saya *ditimpuk* FF ini bakal aku post juga di wordpress pribadi aku, di sini . follow my twitter @nhdni

Kata-kata selain bahasa Indonesia bercetak miring karena saya ingin menggukanan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi kalau ada typo, mianhae..

Rocommended backsound  :

–          Into Your World (EXO-K)

–          Baby dont cry (EXO-K)

–          What is love (EXO)

–          Longer (chi-chi)

Before Story | What Is Love  

It doesn’t matter how im suffering. It depends on nothing, but I just won’t deny..

Im crying baby..

***

Incheon Airport

11th of April

T-Shirt, jaket kulit berwarna cokelat dan jeans hitam berpadu dengan sebuah topi dengan warna yang senada dengan warna jaket kulit terlihat apik, melekat pada diri seorang gadis yang baru saja keluar dari terminal kedatangan Incheon Airport. Ia baru saja pulang dari perjalanan ke Amerika untuk bertemu dengan ayahnya. Wajah gadis itu tampak lesu, tentulah ia lelah dengan perjalanan Seoul-New York yang memakan waktu berjam-jam.

Tidak seperti gadis seusianya yang lain, yang tidak boleh pergi ke luar negeri sendiri oleh orang tuanya. Ia tampak seorang diri, tanpa seseorangpun di sampingnya. Bisa dipastikan bahwa ia sudah terbiasa untuk pergi kemanapun sendirian. Matanya tak lekat memandangi layar iPhone yang sedari tadi digenggamnya di tangan kanan. Ia sedang mengirim pesan singkat untuk ayahnya, hanya untuk memberi tahu bahwa ia sudah tiba di Seoul dengan selamat. Sementara tangan kirinya ia gunakan menyeret sebuah koper berwarna hitam. Sesekali ia melihat kedepan, agar tidak menabrak orang ataupun benda di depannya.

Tapi sial baginya, seseorang dari arah kiri tengah berjalan dengan keadaan yang nyaris sama sepertinya, sama-sama sedang memperhatikan layar iPhone tanpa memperhatikan keadaan di depan orang itu. Jadilah mereka bertabrakan. Tapi karena badan gadis itu lebih lemah daripada badan orang yang menabraknya, yang notabene adalah laki-laki, ia terjatuh. Tidak sampai luka memang, tapi membuat pantatnya terasa sedikit ngilu karena berbenturan dengan lantai tiba-tiba.

Laki-laki itu salah tingkah. ia membantu gadis yang tadi ditabraknya berdiri. Secara tidak sengaja mereka betemu pandang dalam waktu yang cukup lama. Cukup lama bagi mereka untuk menyadari bahwa mereka sebenarnya saling kenal.

“Jung Hyera-ssi, gwenchanna?” tanya laki-laki itu dengan aksen chinese yang kental, setelah sadar bahwa gadis ini adalah Jung Hyera, teman satu sekolahnya.

nan gwenchanna, Tao-ssi.” Hyera menjawab dengan aksen Korea yang jelas. Meskipun orang tuanya ada di Amerika, Hyera tetaplah gadis asli Korea yang kecil hingga sekarang tinggal di Korea Selatan, pantaslah tak ada aksen kebarat-baratan yang ia tampakkan saat menjawab pertanyaan lelaki di depannya ini, Tao.

Tao mengambilkan iPhone yang terjatuh di lantai, lalu mengembalikan iPhone itu pada sang empunya, Jung Hyera. sedikit senyum ia tawarkan pada Hyera. lalu segera pergi.

Hyera melongo atas apa reaksi yang diberikan Tao untuknya. Hanya sebuah senyum tipis, sebuah kalimat, dan mengambilkan iPhone di bawah kakinya, ia tidak mengharap lebih memang, tapi menurut Hyera, Tao hanya perlu menambah kadar keramahannya pada orang lain.

Tak mau larut dengan pikiran tidak pentingnya itu, Hyera melangkah menjauhi terminal kedatangan, lalu keluar dari airport ini. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai ke apartemennya lalu tidur. Seluruh badannya terasa remuk, sampai-sampai sudah puluhan bahkan mungkin ratusan kali, Hyera memukul-mukul dan memijit tengkuknya.

***

Change, just take a little time..

            Entah apa yang membuat Tao cepat-cepat menghindar dari Hyera. sejak kedua mata mereka tidak sengaja bertemu pandang, perasaannya menjadi tidak tenang. Bukan karena ada aura mistis atau apapun, tapi ada sesuatu yang membuat darahnya berdesir hebat. Tao hanya tidak mau terus-terusan berada di dekat Hyera, itu bisa membunuhnya perlahan, pikir Tao.

Tanpa sesorangpun yang tahu, Tao sekarang sedang mengamati Hyera. gerak-geriknya, ekspresinya, dan wajahnya. Ia tidak tahu apa yang membuat dirinya bertidak konyol seperti ini, tapi menurutnya ini mengasyikkan.

Tao segera menuju tempat dimana mobilnya berada setelah memastika Hyera sudah naik ke taksi. Ia sangat lelah setelah pulang dari liburannya di kampung halamannya, China.

Koper dan tas ransel yang sedari tadi ia bawa sudah ia letakkan di bagasi mobil. ia men-starter mobilnya, lalu matanya tidak sengaja melihat ke arah kursi di sampingnya yang kosong.

‘kenapa aku tidak mengajaknya pulang bersama saja tadi?’ batin Tao dalam hati. Betapa bodohnya Tao membiarkan Hyera pulang ke rumahnya sendiri, padahal ia membawa mobil.

“kenapa aku harus mengajaknya pulang bersamaku? Aish, sudahlah Tao. Kau dan Jung Hyera bukan teman dekat” Tao memijit dahinya sedikit frustasi. Hyera sudah membuatnya risau.

Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Membelah kota Seoul yang sedikit lenggang. Mungkin orang-orang sedang pergi ke kota lain untuk menghabiskan liburan mereka. Tao mengedarkan pandangannya ke sekitar. Berharap, ada pemandangan yang membuatnya tertarik dan tidak bosan. Meskipun ia bukan orang asli Korea, tapi ia sudah sangat jenuh dengan jalanan kota Seoul yang selalu ia lewati beberapa tahun belakangan ini. Orang tuanya bersepakat untuk pindah ke Korea karena suatu alasan. Mau tidak mau, Tao harus ikut dengan orang tuannya.

Tak butuh waktu lama bagi Tao untuk dapat sampai di rumahnya. Orang tuannya masih berada di China, dan bisa dipastikan bahwa rumahnya kali ini pasti kosong. Tapi Tao salah, Luhan sudah berdiri menyandar pada sebuah mobil yang ada di halaman rumahnya. Tao berpura-pura tidak melihat Luhan, dan langsung masuk ke rumahnya. Luhan yang awalnya memasang wajah ‘sok cool’ langsung berubah menjadi pandangan ‘takjub’ saat Tao hanya berlalu dengan santai tanpa menyapa Luhan sedikitpun. Ia mengejar Tao kedalam rumah.

“Huang zi Tao! Kau benar-benar !” Luhan menghampiri Tao yang tengah terduduk di sofa.

“kau siapa?” jawab Tao santai. Tao melepas kaos kaki yang menempel pada kakinya, seraya memberikan tatapan aneh pada Luhan.

“Kau lupa padaku? Aha, baiklah.. berarti kau juga tidak ingat dengan PSP-mu yang sedang aku pinjam. Baiklah” Luhan mengeluarkan smirknya. Lalu melambai-lambaikan sebuah PSP di tangannya.

“eish! Baiklah Luhan. Katakan apa maumu?” Tao menyerah. Ia menuju ke dapur, hendak mengambil 2 gelas jus jeruk yang ada di lemari pendingin. Lalu meletakkan salah satu jus itu di meja depan Luhan sekarang berdiri. Sementara satu gelas lainnya ia minum sendiri.

“bagaimana Beijing?” tanya Luhan. Ia menerawang. Luhan sama seperti Tao, ia juga berasalah dari China. Tentulah wajar jika Luhan bertanya tentang keadaan Beijing pada Tao. Luhan sangat rindu dengan kampung halamannya itu, tapi ia tidak seberuntung Tao yang bisa ke Beijing liburan kali ini. Begitu banyaknya tugas yang menumpuk membuat dirinya harus rela tetap tinggal di Seoul.

“Beijing tanpamu akan baik-baik saja, kau tidak perlu khwatir” Tao terkekeh. Luhan mendengus kesal, ia bertanya dengan serius, tapi Tao malah menjawab dengan santai.

“aku bertanya serius. Bagaimana keadaan Beijing? Bagaimana keadaan teman-teman kita disana, kau pasti menemui mereka bukan?” Luhan meneguk setengah gelas jus jeruk yang tadi Tao berikan. PSP milik Tao yang dipinjam oleh Luhan sudah tergeletak manis di meja.

“iya.. mereka sehat-sehat saja. Bahkan mereka juga bersekolah di SMA yang favorit di Beijing. Beberapa mereka juga sudah punya kekasih. Apa yang mau kau tanyakan lagi hah?” jelas Tao singkat. Tao membuka tas ranselnya, mencari sesuatu.

“benarkah?! Apa kekasih mereka cantik-cantik? Aaahh aku iri pada mereka!” Luhan menghela nafas, terlalu sulit baginya untuk mendapat gadis yang cocok untuknya di Seoul. Ia masih sendiri dari awal kedatangannya ke Seoul sampai saat ini.

“gadis-gadis di Seoul bahkan tidak kalah cantik dari gadis mereka.” Jawab Tao santai, ia masih memfokuskan pandangannya ke dalam tas ransel miliknya.

“aaa.. Huang Zi Tao.. jangan-jangan kau mulai menyukai gadis Seoul ya? Katakan padaku, siapa namanya?” Luhan mengeluarkan smirknya lagi.

“kau ini jangan bicara yang tidak-tidak.” Tao memberikan tatapan super tajam ke arah Luhan.

“ah, kau jangan sungkan-sungkan begitu. Katakan saja padaku, siapa gadis Seoul yang kau sukai itu, hm?” Luhan semakin menggoda Tao. Tao tampak berfikir untuk menjawab pertanyaan Luhan.

“tidak ada” jawab Tao singkat dan nada yang datar. Tapi kali ini Tao tidak berani menghadap Luhan lagi. Luhan mengerucutkan bibirnya, kecewa dengan jawaban dari Tao. Kalau saja Tao mau menjawab pertanyaannya tadi, tentu Luhan akan mengumumkan hal itu kesuluruh penjuru dunia.

“kau tidak punya satupun makanan di sini?” tiba-tiba Luhan sudah berada di dapur dan mengaduk-aduk isi lemari pendingin milik Tao.

“yak Luhan.. aku baru saja sampai di Korea, tentulah isi lemari pendinginku kosong.” Jawab Tao dari sofa. Ia berbaring.

“aish jinjja! Kalau begitu aku pulang saja!” Luhan keluar dari dapur lalu menuju ke pintu keluar rumah Tao.

“Luhan-ah!” Tao memanggil Luhan yang posisinya kini tepat di ambang pintu keluar. Luhan munduk beberapa langkah.

Luhan mengangkat satu alisnya.

“kau tidak mau ini?” Tao melambai-lambaikah sebuah kotak persegi panjang. Mata Luhan membulat, lalu mengangguk senang.

“tangkap!” tao melempar kotak itu ke arah Luhan, Luhan berhasil menangkapnya dengan sukses.

“uaaa… xie xie Tao!” Luhan tersenyum senang.

“cepatlah pulang, hush hush..”

arra.. annyeong!” luhan berlari keluar dari rumah Tao. Tak lama kemudian suara debuman mobil terdengar. Luhan sudah pulang pikir Tao.

***

            Pintu apartemen Hyera dan Younghwa terbuka setelah Hyera memasukkan beberapa kode sebagai password apartemen mereka. Hyera langsung masuk ke dalam tanpa salam atau sepatah katapun, Hyera tahu benar kalau Younghwa baru akan kembali dari Busan nanti sore menjelang malam.

Disandarkannya seluruh tubuh yang nyaris saja menjadi puzzle kalau saja ia tidak cepat-cepat sampai ke rumah. Terlebih lagi, ia sempat terjatuh saat ditabrak Tao tadi. Pantatnya masih terasa panas. Ia tetap bersandar di sofa untuk beberapa saat. Lalu menuju ke dapur untuk mengambil minuman.

Saat membuka pintu lemari pendingin, tiba-tiba rasa sakit mendera di bagian kiri bawah perutnya. Rasanya seperti tertusuk-tusuk pisau. Ia mengurungkan niatnya untuk minum, ditutupnya lagi pintu lemari pendingin. Hyera memegangi perut sebelah kirinya itu erat, berharap semoga rasa sakit itu menghilang atau setidaknya bisa berkurang. Sayangnya, itu tidak berpengaruh. Rasa sakit yang ia rasakan malah semakin bertambah, tubunya beringsut ke lantai. Badannya mendadak lemas, ia hanya bisa bersandar ke pintu lemari pendingin dan mengerang kecil.

Saat dirasa rasa sakit itu sudah semaking berkurang, Hyera mencoba merogoh saku jaketnya untuk mengambil iPhone. Ditekannya beberapa nomor yang sudah ia hafal diluar kepala, ya nomor ponsel Pak Kim, sekertaris appanya yang ada di Korea. Setelah tersambung, mereka berbincang sebentar. Lalu Hyera mencoba berdiri. Beberapa kali ia gagal, sampai akhirnya ia bisa berdiri dengan sedikit terhuyung-huyung.

“Nona Jung!” tak lama, Pak Kim datang dengan membawa seorang pengawal. Untunglah Hyera lupa untuk mengunci kembali pintu apartemennya,  kalau tidak pasti ia akan kepayahan untuk membukakan pintu.

“apa nona baik-baik saja?” Pak Kim memastikan keadaan Hyera dengan seksama. Dilihatnya wajah yang begitu pucat, membuat Pak Kim khawatir terhadap keadaan putri atasannya ini.

“rumah sakit. ppaliwa!” perintah Hyera. ia sudah tidak sanggup berbicara lebih banyak lagi, dari mulutnya hanya bisa terdengar rintihan kecil.

Tanpa banyak bicara, pengawal yang datang bersama Pak Kim langsung memapah Hyera keluar dari apartemen. Pak Kim mengikuti dari belakang, tak lupa juga mengunci pintu apartemen Hyera.

***

            “ada serpihan batu ginjal yang melukai ureter dan pelvis ginjalnya.” Dokter pribadi keluarga Jung menjelaskan masalah apa yang terjadi pada Hyera. Pak Kim memijat dahinya, setengah mati ia khawatir terhadap keadaan Hyera, Pak Kim sudah seperti ayah kedua bagi Hyera. sementara itu, pengawal Hyera masih sibuk berbicara dengan orang tua Hyera via telepon. Membicarakan langkah apa yang harus diambil setelah dokter telah mengetahui penyebab pasti sakit Hyera.

“aku tidak mau ke Amerika!” Hyera bersikeras menolak perintah appanya untuk kembali ke Amerika untuk menjalani perawatan disana. Keadaannya berangsur membaik setelah tadi dokter memberikan obat pereda rasa sakit untuk Hyera.

“Tapi nona, di Amerika perlengkapannya lengkap.” Alasan Pak Kim memang benar, tapi Hyera tidak mau berobat sampai ke Amerika kalau di Korea sendiri alatnya juga sudah tersedia.

“dokter, di rumah sakit ini terdapat alat ESWL?” Hyera mencoba mencari alasan untuk tidak pergi ke Amerika. Kalau di Korea benar ada alat extracorporeal shock wave lithotripsy, tentu ia tidak akan pergi ke Amerika.

“tentu saja” jawaban dokter tadi membuat hati Hyera menjadi lega.

“Pak Kim, tidak ada alasan untuk aku berangkat ke Amerika. Beritahu appa tentang hal ini. Jangan beritahu masalah dan penyakitku ini pada siapapun selain orangtuaku, Younghwa juga tidak boleh tahu.” Hyera mulai mengoceh. Untuk masalah seperti ini Hyera harus dituruti, Hyera bukanlah tipikal orang yang mau melihat orang lain khawatir terhadap keadaannya.

“baiklah, nona. Dokter kapan pengobatan bisa mulai dilakukan?” tanya pak Kim pada dokter, dokter berfikir sejenak.

“bisa dilakukan besok” jawab dokter.

shireo! Dokter, aku belum mau menjalani perawatan besok. beri aku obat apapun untuk menahan rasa sakit ini dulu. 2 minggu lagi, aku akan langsung menjalani perawatan.” Hyera menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu turun dari ranjang rumah sakit. infus yang tadinya terpasang sudah dilepas karena keadaan Hyera sudah baik-baik saja.

Pak Kim memijit dahinya lagi.

“baiklah, nona Jung. Kalau anda merasa sakit lagi, datanglah kemari. Resep obatnya akan segera kutulis.” Dokter kembali keruangannya disusul oleh pengawal Hyera. Hyera dan Pak Kim keluar dari ruang perawatan.

Hyera menghentikan langkahnya ketika ia melihat kesebuah ruangan di mana ada seorang pasien yang sedang melakukan cuci darah. Dari balik kaca ia bisa melihatnya samar-samar. Ia membayangkan, kalau saja ia yang sekarang ada di ruangan itu. Apa suatu saat nanti aku akan seperti itu? Apa aku akan mati karena penyakit ini? Batin Hyera.

“nona, mengapa berhenti?” tanya pak Kim.

“eh..” Hyera salah tingkah.

“ayo kita pulang saja, Pak” Hyera menarik tangan pak Kim menjauhi ruangan tersebut.

***

Hyera POV

Sepertinya Younghwa sudah pulang. Apartemen tidak dikunci. Sedikit terdengar bunyi zipper koper yang dibuka. Aku masuk kedalam. Benar saja, Younghwa sedang membereskan koper miliknya dan milikku.

“aku pulang” Younghwa menoleh. Ia menampakkan raut wajah kesal. Pasti ia marah karena aku meninggalkan koperku begitu saja.

“kau darimana saja? Lihat, sudah rapi kan sekarang?!” Younghwa berkacang pinggang, lalu memberi pandangan ke sekeliling.

“hehe.. aku dipanggil Pak Kim sebentar. Mianhae Youngie..” aku melangkah ke arah kamar.

“apa yang kau bawa?” Younghwa menatap penasaran dengan obat yang aku bawa. Tidak mungkin kan aku berkata jujur kalau yang aku bawa sekarang ini adalah obat penyakitku? Aku berfikir keras untuk bisa memberikan alasan yang tepat.

“ini? Multi vitamin. Kau mau?” tawarku, aku tahu Younghwa pasti akan menolak, dia tidak suka minum obat, apapun bentuk dan rasanya.

“ah tidak” tolak Younghwa. Aku segera masuk ke kamar.

Aku mengerutuki nasibku yang sial ini. Mengapa aku harus menderita dalam usiaku yang semuda ini? Pikiran buruk menggelayut dibenakku, mulai dari kemungkinan untuk meninggal di usia yang masih muda, meninggalkan Younghwa sendirian, meninggalkan appaeomma..arrrgh hentikan pikiran buruk itu Jung Hyera! kau tidak akan mati karena penyakit sepele seperti ini. Kau harus kuat, kau harus sembuh.

***

SOPA – 12th of April

“kau darimana?”Younghwa menanyaiku setelah aku sempat menghilang dari pandangannya untuk sesaat.

“oh, mianhae Young-ah. Aku tidak memberitahumu kalau aku pergi ke kelas lain untuk meminjam beberapa partitur lagu. Hehe” aku menujukkan beberapa lembar partitur yang baru saja aku pinjam dari kelas Tao. Tapi aku tidak meminjam partitur ini dari Tao. Yah, kenapa aku jadi membicarakan Tao?

“untuk apa partitur itu? Kita tidak di beri tugas untuk mengaransemen lagu bukan?” Younghwa menaikkan satu alisnya. Bisa kutebak, dia pasti berfikir ‘apakah Jung Hyera sudah gila?’

“ini? Oh, hanya ingin meng-improve kemampuan memainkan bass gitar ku.” Jawabku jujur. Entah mengapa aku jadi rindu memainkan bass gitar. Mungkin sudah 1 tahun lebih aku tidak bermain bass gitar.

“Jung-ah, kau bisa bermain bass gitar?” meskipun sudah dua tahun kami bersama, tapi Younghwa tak pernah tahu kalau aku bisa bermain bass gitar. Aku tidak pernah bermain gitar di apartemen kami.

“tentu, kau tidak percaya? Dulu aku bassist saat SMP.” Aku menyombongkan diri. Lalu kembali fokus dengan partitur lagu ini. Mencoba mengingat-ingat permainan gitar bass-ku dulu.

 

***

 

            Semua siswa sudah pulang kerumah mereka masing-masing, kecuali yang belum pulang tentunya mereka masih berada di sekolah. Mungkin untuk memanfaatkan beberapa fasilitas yang dimiliki sekolah ini. Aku melangkah ke lantai 2 sekolah. Mencari tempat yang sepi untuk meminum obat ini dan hanya merenung.

Rasa sakit itu datang lagi.

Seseorang keluar dari ruang musik. Aku yang tak mau orang lain tahu tentang penyakitku ini langsung berpura-pura sedang menali sepatu. Aku berharap orang itu tidak mendekat kearahku dan mengajakku bicara. Aku sedang menahan rasa sakit.

Oh Sehun, dialah sosok yang baru saja keluar dari ruang musik. Aku beuntung ia pergi melewati koridor yang berlawanan arah denganku. Aku bisa sedikit bernafas lebih lega sekarang. Dari arah bawah terdengar suara-suara aneh. Seperti orang yang sedang berlatih bela diri.

Menakjubkan.. satu kata yang bisa mendeskripsikan apa yang sedang aku lihat sekarang. Tao sedang berlatih wushu menggunakan tongkat panjang yang aku tidak tahu apa namanya. Galah? Masa bodoh, yang aku tahu jika tongkat itu memukulku bisa kupastikan kepalaku akan membengkak. Aku terkesima dengan permainannya, terlihat sangat indah meskipun itu adalah self-defense. Mata ini sulit untuk berkedip. Rasa sakitku sebagian hilang, karena konsentrasiku sedang memusat pada satu objek yaitu Tao. Aku sangat mengagumi permainannya.

Drrttt~ iPhone-ku bergetar.

Satu pesan masuk.

From Youngie

Jungie.. cepat pulang, appa Kim mengirimi kita banyak makanan dari Busan!

Biar sedikit aku jelaskan isi pesan tersebut. Namaku memang Hyera, tapi semenjak aku masuk SMA aku lebih sering dipanggil dengan margaku ‘Jung’ bukan namaku. Alasannya simple, aku bosan dipanggil Hyera. lalu, appa Kim adalah appa dari Kim Younghwa, tentu saja appa Kim dan Pak Kim berbeda. Pak Kim hanyalah sekertaris appaku. Appa Kim adalah seorang pengusaha yang bekerja sama dengan perusahaan milik appaku, maka dari itulah aku dan Younghwa bisa bersahabat seperti ini. Oiya, appa Kim dan ayahku juga sekarang lebih sering menetap di Amerika Serikat dari pada di Korea Selatan. Tapi karena suatu urusan appa Kim kembali ke Korea, tepatnya Busan.

Aku mengetik pesan balasan untuk Younghwa yang berisi aku akan segera pulang, dan mengingatkan Younghwa agar tidak menghabiskan makanan itu sebelum aku sampai dirumah.

Aku memasukkan botol air mineral yang baru ¼ nya aku minum. Lalu bergegas turun dan keluar dari area sekolah. Menunggu taxi yang tak kunjung datang. Melelahkan..

***

            Malam ini aku hanya duduk di sofa sambil memainkan gitarku. Younghwa? Dia sedang bergulat dengan dunianya sendiri. aku sibuk menahan perih di jari-jariku yang mulai berair karena aku sudah sangat jarang bermain gitar, Younghwa sedari tadi hanya terdiam menatap layar laptopnya. Sudah kutebak dia pasti sedang melihat foto Oh Sehun. aku pernah tidak sengaja melihatnya sedang memandangi foto Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan. Younghwa menyukai Oh Sehun mungkin.

Sebenarnya aku 50% yakin kalau Sehun juga menyukai Younghwa. Sering aku melihat Sehun sedang mengamati Younghwa yang sedang berada di sampingku. Dan saat Younghwa menoleh ke arah Sehun, Sehun pasti akan memalingkan wajahnya cepat-cepat.

Aku tetap duduk di sofa meskipun aku sudah tidak memainkan gitarku lagi. Aku tidak mau mengganggu ‘ritual’ yang sedang dilakukan Younghwa. Aku hanya terdiam, aku bahkan bingung dengan apa yang sedang aku pikirkan sekarang. Andai saja aku punya seorang kekasih, pasti saat ini aku sedang memandangi layar handphone-ku untuk menunggu sebuah panggilan ataupun pesan dari kekasihku. Tapi apadaya, aku tak punya kekasih saat ini.

Sebuah partitur kosong tergeletak dimeja. Partitur itu membuatku ingin menciptakan sebuah lagu. mungkin lebih baik aku membuat rangkaian nada-nada daripada hanya berdiam diri seperti ini. Tapi entah mengapa saat aku ingin membuat lagu sedih, di pikiranku hanya ada ide untuk membuat lagu bertempo cepat. Apa mungkin ini terilhami dari  latihan self-defense Tao tadi. Ish, masa bodoh. Tanganku sudah gatal untuk menulis beberapa not not lagu.

***

SOPA- after school

13th of April

“Kau sedang mengamati Tao?” Sehun menadapatiku sedang mengamati Tao. Aku tersentak sekaligus kaget dengan suaranya.

“aku tertarik dengan self-defense dan martial art.” Aku memang mulai menyukai self-defense ataupun martial art menurutku hal itu keren, tapi itu bukanlah alasan utamaku untuk berdiri di sini. sayangnya, aku juga tidak tahu apa alasan utamaku untuk melihat Tao di sini.

“kau yakin? Aku rasa kau menyukai orang yang sedang berlatih wushu itu.” Sehun menujuk Tao. Jantungku nyaris berhenti berdetak, mungkin apa yang dikatakan Sehun benar. Tapi aku tak yakin. Mungkin aku hanya sebatas mengagumi Tao saja. Aku menata kegugupanku.

“kau ini, sok tahu” Jawabku enteng, aku menghindari tatapannya yang menusuk itu.

“terserah lah, tapi aku berani bertaruh, kau pasti sering mengunjungi tempat ini, kan?” aku kembali menatap Sehun, kusipitkan mataku agar terkesan bahwa aku tidak mengerti dengan apa yang ia katakan.

“bagaimana kau bisa tau?” aku penasaran juga dengan kesimpulannya itu, walaupun salah. Aku baru melihat Tao berlatih wushu 2x.

Sehun mengangkat bahunya, bibirnya agak mengerucut. “insting” katanya singkat.

“kau tidak pulang? Apa orang tuamu tidak mencarimu?” pertanyaan Sehun yang ini membuatku ingat dengan eomma. Walaupun aku baru beberapa hari yang lalu pulang dari Amerika, aku tetap merindukan eommaku. Aku juga sama seperti orang pada umumnya yang ingin selalu dekat dengan orangtuanya.

“aku tinggal terpisah dengan orang tuaku. Aku tinggal bersama Young di apartemen.” Langit tampak cerah, tapi tak secerah hatiku saat ini.

“Young?”

“Young, Kim Younghwa” aku memperjelas kataku barusan. Sehun terlihat sedikit gugup sekarang, aku tertawa dalam hati.

“kau dan Younghwa bersaudara? Kenapa kalian bisa tinggal bersama?”

“ani. Appa-ku dan appa Young adalah rekan bisnis, mereka bersahabat sejak kecil. Waktu itu appa kami berencana untuk membuat proyek baru di beberapa negara, kami diajak untuk ikut bersama mereka tapi kami menolak.” Jelasku panjang lebar. Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

“kalian tidak takut tinggal sendiri?” sangat terlihat bahwa Sehun mulai penasaran.

“kami tinggal di apartemen, ada banyak security di sana. Ngomong-ngomong, kemana Sehun sang manusia es?” aku menyindir Sehun yang mulai bertanya ini-itu tentang kehidupanku, padahal dalam otaknya ia hanya ingin mengetahui semua tentang Younghwa. Aku menengok ke segala arah, mendramatisir apa yang barusan aku katakan.

“kau meledekku? Aku tidak sedingin itu.” Sehun mengalihkan pandangannya, ia juga menjawab pertanyaanku dengan ketus.

“hahhh.. seseorang di sana selalu menganggapmu sebagai orang yang dingin. Tapi kau tak perlu tahu siapa orangnya.” Aku bicara tentang Younghwa.

“Tao sudah tidak ada, pulanglah!” Sehun mengusirku sekaligus mengalihkan arah pembicaraan kami.

“sepertinya kau juga harus pulang Sehun-ahAnnyeong!” aku merasa sudah terlalu lama disini, lagipula Younghwa juga sedang sendirian di apartemen. aku membereskan tasku. Lalu berjaan mundur dan melambaikan tangan pada Sehun. Sehun membalasnya dengan senyuman.

Sepanjang perjalanan pulang aku selalu memikirkan perkataan Sehun.

Aku rasa kau menyukai orang yang sedang berlatih wushu itu.”

Mungkinkah aku menyukai Tao secepat ini? Bahkan sebelum pertemuanku dengannya di airport, aku  tidak mengetahui apapun tentangnya. Aku tidak mengenalnya secara khusus ataupun biasa saja, aku tidak pernah menganggap Tao sebagai siapaun. Yang aku tahu, Tao hanyalah laki-laki biasa yang satu kelas dengan Kai, Sehun, dan Luhan. Hanya itu, dan tidak lebih. Lalu mengapa aku bisa secepat ini memikirkan Tao seserius ini? Aku bahkan mulai menduga bahwa aku menyukai Tao. Yak yak yak, kau tidak perlu berfikir sejauh itu Jung Hyera.

Aku hanya ingin satu kesimpulan dalam pikiran anehku ini. Aku hanya sebatas mengagumi Tao, tidak lebih.

***

            “Jungie..” younghwa datang mendekatiku dengan membawa iPhone milikku.

wae geurae?” aku menghentikan kegiatan membuat laguku. Dari kemarin aku baru berhasil memenuhi 5 paranada. Sisanya masih kosong, menulis lagu memang tak semudah yang aku kira.

“ada telefon dari Sehun” Younghwa tampak memaksakan senyumnya. Aku bingung, untuk apa Sehun menelfonku?

“benar untukku?” aku memastikan, jangan-jangan Younghwa berbohong.

“sudahlah, jangan buat Sehun menunggu lama!” Younghwa menyodorkan iPhoneku dengan kasar. Aku menerimanya, lalu menempelkan iPhone ini ke telinga kananku.

yeoboseo..”

“….”

“ruang musik? Besok? Ah ne, aku juga sedang membuat lagu.”

“…”

ne. Aku ingin mendengarkan lagu ciptaanmu itu.”

“….”

ne” pip! Telepon terputus. Sehun mengajakku mengaransemen dan membuat lagu bersama besok. Aku dengan senang hati menyetujuinya. Akhirnya aku punya teman di bidang yang sama sepertiku.

***

Young-Jung apartement

14th of April

 

Hari ini banyak hal yang belum aku ketahui, aku ketahui. Ternyata Sehun bukanlah tipe orang ang dingin, hanya saja ia pendiam sehingga orang-orang banyak yang menilainya sebagai sosok yang dingin. Sehun juga memuji sepenggal lagu ciptaanku meskipun aku sempat meragukan lagu ciptaannya. Setelah aku dengarkan dengan seksama, melodi ciptaan Sehun sangatlah dalam dan penuh arti.

Ada satu kejadian menarik hari ini. Yang pertama, aku melihat Younghwa-Sehun sedang berbincang bincang. Itu adalah salah satu sinyal positif untuk kelanjutan hubungan mereka, setidaknya Sehun sudah berani mendekati Younghwa. Yang aku tahu, selama ini Sehun hanya berani memandangi Younghwa dari jauh, seperti apa yang sudah aku jelaskan sebelumnya.

Yang kedua, hari ini aku membelikan Sehun minum. Sebenarnya bukan Sehun yang akan aku pikirkan saat ini. Tapi, aku heran kenapa tadi aku membelikan minuman juga untuk Tao? Ada sebuah dorongan untuk membelikan Tao minuman setelah aku melihatnya sedang mandi keringat saat berlatih wushu. Ada hal lain yang aneh hari ini, aku berdebar-debar saat ingin memberikan sebotol air mineral pada Tao. Aku juga sangat senang dipanggil ‘Hyera’ olehnya, padahal aku sangat sebal dan marah-marah bila teman-teman di sekolahku memanggilku ‘Hyera’ tanpa marga didepannya. Aku selalu ingin dipanggil ‘Jung’, Tao telah membuat pengecualian dalam hal ini.

Aku menatap nanar meja belajar yang hanya diterangi sebuah lampu. Younghwa sudah tidur. Sebenarnya sakit yang aku rasakan saat ini belum sepenuhnya hilang, tapi dorongan untuk meneruskan laguku terlalu besar, sehingga aku memutuskan untuk bangun dari tidurku dan menuju meja belajar ini. Tapi apadaya, partitur laguku tertinggal di ruang musik.

***

Hyera’s room

16th of April

Aku masih meringkuk menahan sakit dibawah selimut tebalku. Sudah 2 hari aku tidak masuk ke sekolah. Sebisa mungkin aku menembunyikan rasa sakitku di depan Younghwa. Aku tidak mau Younghwa berfikir untukku, dan membujukku untuk berobat ke dokter. Bukan karena aku takut dokter, tapi aku lebih takut kalau Younghwa tahu penyakitku.

Hari semakin siang, rasa sakitku semakin memuncak. Aku mengerang kesakitan. Bahkan bibir ini hampir berdarah karena aku terlalu keras menggigitnya. Sekuat tenaga aku menahan rasa sakit ini. Bahkan menangispun tak akan mampu membuat rasa sakit ini. Dan aku sangat membenci saat ini, saat di mana aku tidak berdaya. Aku tidak bisa bangun, bagaimana bisa aku pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter? Sialnya lagi, iPhoneku terletak di meja belajar, jarak yang dekat tapi terlalu jauh untuk ku gapai saat ini.

Tuhan, kalau seluruh uangku mampu untuk menghilangkan rasa sakit ini aku akan menyerahkannya. Kalau hidupku harus aku gadaikan, hanya untuk menghapus rasa sakit ini, aku bersedia. Tapi kau tahu, banyak hal yang tidak boleh aku tinggalkan begitu saja, aku tidak boleh mati secepat ini hanya karena rasa sakit. kau mengujiku untuk tetap kuat, agar aku bisa mempertahankan apa yang sudah aku miliki di dunia ini, dan meraih apa yang ingin aku dapatkan sekarang.

Kau harus kuat Jung Hyera. jangan menangis lagi. Air matamu hanya akan sia-sia, sakit ini tidak akan hilang kalau kau hanya menangis. Ingatlah temanmu, orang tuamu dan semua orang yang kau kenal, meskipun mungkin mereka tidak membutuhkanmu tapi kau membutuhkan mereka. Kau tidak akan mati begitu saja.

Aku mencoba turun dari ranjangku, aku tersenyum dan menghapus air mataku. Setidaknya aku punya semangat untuk tidak putus asa. Aku berhasil turun, dengan perlahan aku meraih meja belajar walau itu sungguh tak mudah, aku membutuhkan hampir separuh jam untuk dapat sampai di sini. ku mencoba untuk berdiri, dengan bertumpu dan berpegangan pada ujung meja belajar. Bekali aku terjatuh, berkali lipat pula rasa sakit ini bertambah, air mata ini juga semakin tak terkendali deras mengalir. Hingga akhirnya aku bisa meraih iPhone-ku, tapi saat itu juga tubuhku merosot ke lantai dengan mudahnya. Tenagaku habis hanya untuk menahan rasa sakit.

Segera aku tekan speed dial nomor satu di iPhone-ku, aku tidak perduli lagi jika aku sedang memanggil Younghwa. Aku hanya butuh rumah sakit sekarang.

***

SOPA

16th of April

 

Author POV.

perlahan Younghwa mendekati Sehun yang tengah asik memainkan gitarnya di dekat lapangan Sekolah. Hanya ada beberapa siswa yang belum pulang karena hari sudah sore.

“Oh Sehun..” panggil Younghwa, ia memposisikan dirinya duduk di samping Sehun. sebelum ia melanjutkan kata-kata yang akan keluar dari bibirnya, Younghwa menghela nafas.

“aku tak yakin tapi..” Younghwa memotong kalimatnya

“aku butuh keyakinan” sambung Sehun.

“baiklah.. jujur aku tak tahu dengan apa definisi cinta yang sesungguhnya..”

“tapi, jika kau menyebut perasaan yang sedang kita rasakan ini cinta, maka aku juga akan meyakini kalau perasaan ini adalah cinta. Kau yakin kalau ini cinta?” tanya Younghwa pada Sehun, kini mereka berdua saling bertatapan.

“aku mencintaimu Kim Younghwa” jawab Sehun mantap, Younghwa tersenyum penuh arti. Mereka saling berpandangan lalu tertawa.

Dari dalam saku jaket Younghwa, ponselnya menjerit. Ada sebuah panggilan. Younghwa sontak menghentikan tawanya, lalu merogoh ponselnya dari saku jaketnya.

혜라  , calling..

Younghwa menoleh ke arah Sehun, bermaksud meminta izin untuk menerima panggilan dari Hyera. Sehun tersenyum seraya berkata, “terima telfonmu dulu”. kontan Younghwa menekan tombol hijau di ponselnya. Hatinya dipenuhi rasa takut sekarang, kalau-kalau terjadi sesatu pada Hyera yang sedang sakit.

‘yeoboseo, Jungie..’ sapa Younghwa dalam telefon..

‘….’ tidak ada jawaban.

‘Jung Hyera.. Hyera..’ kecemasan Younghwa makin memuncak. Sehun memperhatikan wajah pucat gadisnya ini. Sepertinya ada yang tidak beres, pikir Sehun.

‘Yo.. Youngie’ suara Hyera terdengar sangat parau dan lirih. Younghwa menggigit jarinya.

‘Jung Hyera, neo gwenchanna?’ Younghwa menggigit bibir bawahnya. Wajahnya pucat

eo..eodiseo? Ppaliwa..’ suara Hyera semakin terdengar parau.

‘ne.. aku sampai rumah 15 menit lagi! Jungie, tunggu aku.’ Setelah kalimat Younghwa yang terakhir, terdengar suara ponsel yang jatuh. Kecemasan younghwa semakin berada di puncak. Ia baru saja merasakan kebahagiaan, tapi keadaan bisa berubah sangat drastis dan cepat. Ia tak menyalahkan Hyera akan hal ini, bagaimanapun Hyera juga tidak menghendaki dirinya sakit seperti ini.

“ada apa?” Sehun yang melihat younghwa yang terlihat panik, bingung.

“kau bawa motor,kan? Maukah kau mengantarkanku pulang? Sepertinya terjadi sesuatu pada Jung.” younghwa menjawab pertanyaan Sehun sambil meng-scroll down kontak ponselnya, mencari nomor Pak Kim.

“ne tentu saja. Cepatlah!” Sehun menarik tangan Younghwa dan meninggalkan gitarnya begitu saja. Younghwa yang sedang cemas, sedikit mendapat penghiburan karena tangannya sedang dihenggam oleh Sehun. satu hal yang ia impikan dari dulu.

***

Hospital – Seoul

16th of April

Sehun sibuk menenangkan Younghwa yang terus saja merutuki sikapnya yang terlalu ‘acuh’ pada keadaan Hyera. Younghwa merasa bahwa ialah yang paling bersalah pada kasus ini. Sementara Kai yang notabene sahabat Hyera sejak SMP sibuk menelfon orangtua Hyera yang sedang di Amerika. Kai langsung datang kerumah sakit setelah Sehun memintanya. Sementara Pak Kim sedang dipanggil dokter, karena wali Hyera saat ini adalah Pak Kim.

Sampai saat ini Kai, Younghwa, dan Sehun hanya bisa menunggu dan berharap-harap cemas tentang keadaan Hyera. dokter tidak memperbolehkan sembarang orang untuk masuk ke dalam ruangan, karena saat ini Hyera sedang melakukan shock wave therapy untuk menghancurkan batu yang ada di ginjalnya.

“bagaimana keadaan Jung Hyera?” appa Kim datang. Younghwa, Sehun dan Kai kontan menoleh ke sumber suara. Appa Kim sedang berada di Korea, jadi ia bisa cepat sampai di rumah sakit. ketiga pemuda itu langsung berdiri dan menundukkan kepalanya untuk appa Kim.

appa..” Younghwa menatap ayahnya, air mata hampir menetes dari pelupuk matanya. Sehun yang tidak ingin melihat Younghwa terus-terusan bersikap seperti ini hanya bisa mengelus-elus pundak gadisnya.

“Jung sedang melakukan perawatan, aku tidak tahu pasti tapi perawatan itu untuk menghancurkan batu di ginjalnya. Ia akan baik-baik saja paman. Anda tidak perlu khawatir.” Kai menjelaskan keadaan yang sebenarnya setelah melakukan bow untuk ayah Younghwa.

Appa Kim mendekati Kai lalu menepuk bahu pemuda itu. Saat melihat Sehun dan Younghwa yang begitu dekat.

“Kim Younghwa..” appa Kim memberikan pandangan penuh tanda tanya ke arah Sehun.

appa.. dia..” Younghwa tampak ragu-ragu menjawab pertanyaan ayahnya.

“apa kabar paman. Aku Oh Sehun. aku….”

“kau kekasih Younghwa?” kalimat Sehun dipotong oleh appa Kim. Wajahnya mendadak cerah sekarang. Younghwa salah tingkah sedangkan Sehun tersenyum penuh arti.

“kau, jaga dia baik-baik ya?!” appa Kim membisikkan sesuatu di telinga Sehun. Sehun tersenyum dan mengangguk patuh.

“dan kau, kau kekasihnya Jung?” appa Kim bicara dengan Kai. Kai menaikkan satu alisnya, bagaimana bisa ia disangka kekasih Hyera?

“bukan.. bukan. Aku teman baiknya sejak SMP.” Kai menyangkal apa yang seharusnya ia sangkal. Tangannya tak henti-hentinya mengisyaratkan ‘bukan aku’. Kepalanya menggeleng cepat.

***

HOSPITAL

17 April

“ugh..” Hyera melengguh, ia baru saja terbangun dari tidurnya yang lumayan panjang. Sudah seharian ini dia tidur tanpa seorangpun yang mengusiknya.

uri Hyera sudah bangun?” suara lembut yang Hyera rindukan membuatnya tersentak. Matanya membuka dengan sempurna, ia hampir saja bangun untuk duduk kalau saja perutnya sudah tidak terasa sakit.

eomma..” Hyera bersuara. Tapi suaranya terdengar sangat lirih, tenggorokannya seperti tercekat sesuatu, suaranya parau. Sangat parau.

mianhae Hye-ah, eomma tidak bisa menjagamu dengan baik disini” eomma menahan tangisnya. Ia membelai lembut wajah Hyera yang masih terbaring. Hyera hanya tersenyum, mengisyaratkan pada ibunya bahwa ia baik-baik saja.

“kau sudah bangun Hyera Jung?” appa datang bersama dengan appa Kim. Hyera sontak menoleh ke arah mereka.

“kau jaga kesehatanmu, jangan sampai sakit seperti ini lagi.” Appa Kim mendekati Hyera, memijat pelan bahu Hyera.

“ne appa..” jawab Hyera lirih. Ia menahan tangisnya. Ia merasa sudah merepotkan banyak orang karena penyakitnya ini.

Seusai sarapan, Hyera bermanja-manja dengan eommanya. Waktu yang tepat bagi Hyera untuk bermanja-manja, mengingat saat liburannya kemarin beliau tidak punya banyak waktu untuk menemani Hyera menghabiskan waktu di New York. Ia merasakan kasih sayang seorang Ibu sepenuhnya saat ini, tanpa terganggu pekerjaan eommanya, juga Younghwa karena Younghwa sekarang sedang sekolah.

***

HYERA POV

“Jung Hyera I’m coming!!!” suara kai! Yap, suara Kai sudah aku hafal diluar kepala. Ia mengagetkanku saja. Aku sudah bisa duduk sekarang. Ya, efek shockwave therapy yang aku jalani kemarin berangsur menghilang.

“kau sudah membaik sekarang, tapi apa masih terasa sakit?” Younghwa tiba-tiba muncul dari balik pintu bersama Sehun, dua orang ini memang selalu bisa membuatku iri.

“aku sudah baik-baik saja” aku tersenyum ke arah mereka bertiga. Mereka pasti baru saja pulang sekolah. Terbukti dengan seragam yang masih melekat pada tubuh mereka.

“ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.” Kai mengupas jeruk yang ada dimeja, lalu memakannya. Aku kira dia akan mengupaskan jeruk untukku, ternyata..

“siapa? Super Junior Eunhyuk? Atau U-Kiss AJ?” aku mulai kembali kedunia asalku, dunia fangirl. Kai yang mendengar kata-kataku tadi langsung melemparkan kulit jeruknya ke dahiku, Sehun dan Younghwa menahan tawa. Apakah ini lucu? Aku sedang bermimpi ya?

hey you! Get a life! Super Junior Eunhyuk hanya akan datang dalam mimpimu!” aku mengerucutkan bibirku. Memangnya aku tidak boleh bertemu dengan Eunhyuk atau Jaeseop? Aku kan fans mereka._. Kai seorang moodbreaker yang hebat!

“Sehun-ah, panggil dia kemari” Sehun yang diperintah oleh Younghwa langsung menurut. Mereka berdua sangat aneh, tidak ada panggilan sayang? Hanya Sehun-ah?

“masuklah..” bagai tersengat arus listrik yang sangat kuat, tubuhku menegang. Ia ada di sini? ia kemari untuk menjengukku? Dalam hati aku tersenyum, tapi tidak dengan wajahku. Susunan syaraf wajahku mengkin sedang bermasalah kali ini. Tao, aku senang kau datang kemari, tapi terlalu sulit untuk mengungkapkannya.

“ah.. annyeonghaseyo Hyera-ssi” Tao membungkukkan badannya, aku menundukkan kepalaku.

“Hye..Hyera? kau memanggilnya Hyera? aku bahkan tidak boleh memanggilnya Hyera” Kai mengerucutkan bibirnya, ia tampak lucu. Kai-ah, I wanna tell you something, Tao is the one expectation in my life, batinku.

“biarkan saja..” Sehun menyeringai ke arahku. Apa? Dia tahu kalau aku menyukai Tao? Masa bodoh!

“bagaimana keadaanmu?” tanya Tao, setelah kalimat yang ia luncurkan dari bibirnya, perlahan Kai dan pasangan kekasih itu pergi meninggalkanku. Aku menjulurkan tanganku, mengisyaratkan agar mereka jangan pergi. Tapi tetap saja mereka pergi, aku gugup.

“sudah lebih baik..” suaraku kembali parau.

Tao meraih bangku yang terletak tidak jauh dari meja, mendekatkan bangku itu ke ranjangku dan mendudukinya.

“apakah sakit sekali? Seperti apa rasanya?” Tao menatap mataku dalam, seolah terhipnotis, aku ikut menatap matanya.

‘saat aku melihatmu bermain wushu, rasa sakit ini tidak berarti apa-apa’ jawabku dalam hati.

“kau ingin merasakannya? Cobalah tusukkan pisau ke perutmu, kau akan tau bagaimana rasanya.” Aku tersenyum tipis. Tao menaikkan satu alisnya.

“sesakit itukah?”

“kau coba saja sendiri” jawabku asal. Aku memainkan kuku-kuku jariku, terlalu gugup hingga aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.

“kau mau apel?” tawarnya. ‘tidak, bersamamu saja di sini sudah cukup’ batinku.

“tidak” jawabku singkat.

“Tao-ssi, kau belum pulang kerumah?” dia masih memakai seragam sekolahnya.

“belum, kenapa kau keberatan kalau aku di sini?” Tao terlihat salah tinggkah, tak ku sangka kalimatku tadi membuatnya salah presepsi.

“a.. ah, bukan begitu, hanya saja kau masih memakai seragam sekolah. Apa ibumu tidak mencarimu?” jawabku jujur.

“aku bukan anak kecil yang harus selalu dengan ibunya, Hyera-ssi” Tao tersenyum simpul, meledekku akan pikiran dangkalku itu. Ish, paboya –‘

“oh..” jawabku lalu diam.

Kami berdua bergulat dengan pikiran kami sendiri. tidak tahu apalagi yang harus kami bicarakan. Sesekali aku memandangnya, lalu tersipu saat Tao juga melihat ke arahku. Ini sangat lucu. Aku tidak berniat untuk memulai pembicaraan lagi, alasannya? Tentu karena aku gugup, terlebih aku tidak terlalu akrab dengannya.

Ish sial, mengapa di saat seperti ini –saat ada Tao di dekatku- terasa ngilu di perut bagian kiriku? Apa shockwave therapy kemarin berefek seperti ini? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang lain? Ish, aku hanya bisa meringis.

“Hyera-ssiGwenchannayo?” Tao memandang panik ke arahku. Aku memejamkan mataku menahan perih. Tao memegangi pikiku, lalu memeriksa keadaanku.

“Kim Jong In!” Tao memanggil Kai dari ambang pintu. Sayup-sayup aku medengar derap langkah menuju kamar rawatku.

***

            “ini hanyalah efek dari shockwave therapy  yang kau jalani kemarin. Dan rasa sakit itu hanya akan bertahan satu hari. Kau tak perlu cemas” Tao kembali duduk di samping ranjangku. Setelah semua orang mendengarkan penjelasan dokter, mereka agaknya sudah merasa agak tenang. Younghwa masih saja mengupas apel, entah mengapa mengupas apel saja membutuhkan waktu yang sangat lama. Aku ingin makan apel

“Taozi..” panggilku lirih. Untuk pertama kalinya aku memanggilnya dengan sebutan ‘Taozi’.

ne..” ia memandangku lebih intens, saat itu juga aku menahan nafas.

“ah lupakan” aku benar-benar lupa ingin mengatakan apa.

“Jung Hyera igo..” Younghwa menggusur tempat Tao untuk duduk, kini ia yang duduk di samping tempat tidurku. Aku tertawa kecil, lalu memakan apel yang sudah dikupas olehnya. Terlihat Sehun iri terhadapku, ia ingin makan apel disuapi Younghwa juga? Kkk~

“Hyeraa~” suara berat Kai telah membuat semua orang dalam kamar inapku menoleh.

“bawa pergi mahluk itu dariku, Kai-ah” aku mulai was-was saat Kai mendekatiku dengan wajah heran. Dia pura-pura bodoh atau bagaimana.

“Kai-ah! Jangan mendekat!” kututup mataku dengan kedua tanganku. Aku sangat takut dengan kupu-kupu.

“Hye-ah, kau kenapa? Apa yang kau bawa Kai?” Younghwa mendekati Kai. Tak lama setelah itu aku mendengar suara jitakan di kepala.

“yak! Kau ini sudah gila ya? Jungie takut pada kupu-kupu!” Younghwa membentak Kai. Kai yang bermuka polos itu hanya bisa menganga.

“Younghwa..” Sehun memperingatkan Younghwa agar bertindak terlalu kasar pada Kai. Aku yang melihat momen langka seperti ini, hanya bisa menghela nafas atau tertawa.

“tapi, ini kan hanya pin biasa yang berbentuk kupu-kupu” Kai mengelak, rupanya ia tidak mau disalahkan.

“sudahlah Kai, kau membuat Jung Hyera ketakutan.” Tao membelaku. Aku tidak ketakutan lagi sekarang.

arraso, akan aku singkirkan benda ini.” Kai melangkah keluar. Ia akan membuang pin itu mungkin? Aku tidak tahu.

“anak-anak, sudah sore. Kalian pulanglah dulu, tidak masalah kalau kalian kembali lagi kemari malam ini, besok libur bukan?” Appa Kim dan orang tuaku datang, entah dari mana. Saat orang tuaku dan appa Kim datang, Kai sudah kembali dari aktifitas membuang sampahnya, eumm..lebih tepatnya pin berbentuk kupu-kupunya.

arraso, Appa” jawab Younghwa, lalu menggandeng Sehun keluar setelah sebelumnya membereskan tas dan barang-barangnya.

“kami pulang dulu, Jung-ah. Nanti kami kembali lagi” Sehun berpamitan padaku.

“yak kalian ini, mana ada pasangan kekasih yang berkencan di rumah sakit pada malam minggu!” aku merasa terlalu merepotkan Younghwa dan Sehun yang selalu setia menemaniku di rumah sakit ini. Mereka kan pasangan baru, tidak seharusnya mereka menemaniku di sini, tapi kalau Kai, dia memang harus menemaniku di sini haha.

“biarkan saja, mungkin mereka ingin memecahkan rekor berkencan di rumah sakit. Sebaiknya aku pulang dulu Hye-ahAnnyeong..” canda sekaligus salam perpisahan Tao padaku. Aku tertawa kecil lalu melambaikan tanganku untuknya. Tao hanya tersenyum sebentar ke arahku lalu pergi. Bisakah ia bersikap lebih manis daripada ini? Atau aku yang sebaiknya tidak terlalu berharap akan sikap manisnya?

Tao, Younghwa, dan Sehun beranjak keluar dari kamar inapku setelah berpamitan dengan orang tuaku. Appa Kim juga pulang, tapi tidak bersama Younghwa karena Sehun yang akan mengantarkan Younghwa pulang, lagipula appa Kim juga tidak tinggal di apartemen ku dan Younghwa.

“Jong In-ah, kau tidak pulang?” eommaku sudah kenal dekat dengan Kai, jadi ia tahu siapa nama asli Kai dan kedekatan Kai denganku.

ahjuma-ya.. aku baru saja datang, kau ingin aku pergi sekarang juga?” nada bicara Kai dibuat-buat seperti orang yang minta dikasihani. Appaku hanya bisa tertawa melihat tingkah aneh Kai. Kai memanyunkan bibirnya, kalian tahu? Kai sangat lucu.

arraso, kau ingin berdua dengan Hyera? arraso, aku tahu..” mwo? Apa yang appa katakan? Cih, aku dengan Kai berdua?

ne, benar sekali ahjussi! Iyakan chagiyaa?” rasanya aku ingin memukul kepala besar Kai itu dengan tongkat baseball! Ih, aku benci ekspresi muka kegirangannya itu._.

“kau membuat moodku buruk, Kai” aku berekspresi seperti orang yang frustasi. Hei, ini seperti dalam drama-drama di TV! Sepertinya aku cocok sebagai aktris, dan Kai aktornya tentu.

“Kai-ah, kau belum makan bukan? Biarkan kami membelikan makan malam untukmu. Tunggu di sini dan temani Hyera, jangan lupa paksa ia untuk memakan makanan yang disediakan rumah sakit ini, mengerti?” jelas eomma panjang lebar. Aku saja malas mendengarnya, aku tak yakin Kai mendengarkan semua perkataan eomma.

Eomma dan appa sudah pergi lagi. Kini tinggal aku dan Kai yang masih bertahan di ruangan yang sudah 2 hari aku tempati. Kai sedang mengambil jatah makan malamku, dia mendengarkan apa kata eommaku rupanya.

“Kau harus segera sembuh. Makanlah yang banyak, hm?” Kai mengatur ranjang ‘pesakitanku’ untuknya bisa meletakkan makanan yang harus aku makan. Ia mengacak rambutku lembut setelah selesai. Mengapa aku merasa ada yang berubah dalam dirinya? Ia bahkan memperhatikanku lekat-lekat saat aku mulai makan. Ada apa dengannya?

“Jong In-ah, jangan melihatiku seperti itu” aku menatap tajam kearahnya, ia mengerucutkan bibirnya dan sedikit menghela nafas.

arraso, arraso.. cepat habiskan saja makananmu!” Kai sudah tidak melihat kerahku, ia sudah berbalik hingga sekarang hanya nampak punggungnya saja. Yeah, aku tidak bisa melihat muka menyebalkannya J

“Kai-ah…” panggilku setelah selesai makan. Aku juga sudah meminum obatku.

Kai menoleh, ia sedang memainkan handphonenya. “ada apa? Kau sudah selesai makan?” aku mengangguk.

Aku memperhatikan raut wajah Kai saat ia sedang membawa satu nampan piring dan mangkuk kosong. Dia benar-benar laki-laki yang bisa diandalkan rupanya. Untuknya, aku memberikan satu senyuman termanisku, dibalasnya dengan tawaan kecil.

“Kai..”

“apalagi?”

“ambilkan ponselku. Hehe” sudah lama juga aku tidak mengutak-atik ponsel. Setiap hati aku hanya istirahat, minum obat, dan menyapa teman-teman yang datang menjengukku. Tidak ada waktu untuk sekedar memainkan handphone.

igo” dia langsung menemukan keberadaan ponselku, ia juga langsung memberikan ponsel ini padaku. Biasanya ia akan membuka semua pesan dan galeriku dulu sebelum ponsel ini diberikan padaku. Sekali lagi aku tersenyum senang.

Aku lelah membuka satu persatu pesan yang masuk ke ponselku. Tapi tiba-tiba ada satu pesan yang aku ingin membukanya.

 

From : 031xxxxxxxx

Nomor tidak dikenal, huh? Dengusku dalam hati.

24th of April. Namsan tower.

Namsan tower? Aku bukan gadis yang sedang diajak pacarnya untuk kencan, kan? Jelas saja, aku tak punya pacar. Aku rasa pengirimnya salah mengirimkan pesan. Tapi bagaimana jika ada seseorang yang mengajakku dan menungguku di namsan tower besok? Siapa orang yang kira-kira mengirimkan pesan ini?

Kai? Dugaanku memang belum tentu benar, tapi….

TBC

Kira-kira pesan itu dari siapa ya? Trus Hyera bisa sembuh gak ya? Hyera bisa ngungkapin perasaannya ke Tao gakya? Kenapa Kai jadi perhatian sama Hyera? jawabannya ada di next chapter J

Hallo semuaaa~

After storynya What is Love posted nih. Ada yang seneng? Kyaaa~

Mianhae kalo updatenya rada lama, abis otak gue yang labil selalu aja seenaknya ngasih ide yang diluar dari ide awal FF ini. Sebenernya FF ini udah mau di post sejak kemarin-kemarin, tapi berhubung gue kudu nemenin suami gue (baca: Tao) showcase, gue jadi gabisa ngepost FF. Oke, abaikan kalimat sebelum ini. Yah seperti yang anda-anda tahu, judul FF ini kan Story of april yah, ya jadinya gue kudu posting ini FF di bulan april. Begitu!

Btw, maap banget juga itu posternya abal-abal, abisnya foto-foto debut member exo susah banget buat di crop.-. otak mulai tumpul pula *sejak kapan otak lancip?*

Okedeh, gak usah banya bacot ntar limit *ini bukan twitter din._.* yang suka FF ini di komen yah, yang gasuka komen juga apa kekurangan gue sebagai istrinya tao author dings. Yang punya acc WP, di klik tombol like-nya.

Adios, amigos! Gomawoooo~ ß bahasa planet EXO *ngarang*

15 thoughts on “Story of April – Chapter 1 [What Is Love Afterstory]

  1. Neng, seperti biasa ;) chap slnjutnya kasih tau aku ya :D
    ceritanya keren. Kai gak suka sama hyera kan? *pleasedont* hehe

  2. Daebak..gx kalh seru sma ff what is love.
    Aq tw pzt tao yg nunggu d namsan tower truz kai pzt mulai fall in love sma hyera.

    Btw please chingu msuk.n kris d ff mu,hehe#apa.n so akrb bgt aq.

  3. keren ceritanya thor,apa lagi cara penulisannya,mengalirrrrrrr….. hehe
    ditunggu chap selanjutnya ^^
    btw si hyera takut kupu-kupu yah??? sama ma aku -_____- *ga penting*

  4. Ciee akhirnya sehun dan younghwa pacaran drestui lagi asekkk
    Pnasaran spa orang yg mngrmkn sms it pada jung? Apakah tao? Kkk entahlah
    Ditunggu crta slanjutnya

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s