Je Suis deSole (I’m Sorry) [Chapter 1]

title      : Je Suis deSole (I’m Sorry)

author : devolyp

cast      : Park Ji Yeon; Yoo Seung Ho; Ham Eun Jung; …

genre   : Hurt/ Comfort

rating  : PG-15

length : Chaptered

p.s.      : Akhirnya, FF kedua author terbit juga. Semoga FF kali ini nggak lebih buruk dari FF pertama (read: etre aime). Tapi baru kali ini author buat FF ber-genre-kan Hurt/ Comfort, lho. Enjoy reading!

CHAPTER ONE

“I…just cannot live without you” –Anonymous

 

“He comes again…in my dream.

He’s the only one that I will and always love in my whole life.

I can’t wait any longer.

Please…”

Air mata Jiyeon menetes satu per satu, setelah ia menyelesaikan posting blog.

“Aku tidak bisa seperti ini terus,” Jiyeon mengambil tissue di meja sebelah tempat tidurnya, kemudian menghapus beberapa tetes air mata yang sudah terlanjur jatuh ke atas bantal. Jiyeon masih tidak dapat mempercayai kejadian yang terjadi satu tahun yang lalu.

I’ve to move on.” Jiyeon segera membereskan laptop-nya, lalu berjalan ke arah kaca untuk berbenah diri. Ia melihat matanya yang sembap. Secara reflek, Jiyeon memakai kacamata neutral yang memang selalu dipakai di saat genting.

Di sisi lain, Kwon ajeossi sudah menunggu Jiyeon di bawah, untuk berangkat ke sekolah.

“Kau hari ini menangis lagi?” tanya Kwon ajeossi seketika Jiyeon keluar dari rumah.

Jiyeon diam. Ia langsung masuk ke dalam mobil.

Perjalanan menuju ke sekolah begitu hening. Kwon ajeossi kelihatannya mengerti kalau Jiyeon sedang tidak ingin diganggu. Sedari tadi, mata Jiyeon hanya sibuk memandangi layar iPhone-nya. Terpampang wajah seorang laki- laki tampan dengan jelas di sana.

Kedua matanya menerawang ke arah luar mobil, memperlihatkannya pada pemandangan urban di Seoul. Ia memikirkan banyak hal. Berbagai pertanyaan timbul dalam pikirannya, tapi tidak ada jawaban yang sesuai. Seakan angin pun berlaku bisu.

——————–0——————-

Sesampai di sekolah, Jiyeon turun dari mobil. Matanya seketika itu juga mencari sesosok laki- laki yang masih sangat berarti di hatinya. Namun sayang, tidak ditemukan. Ia berjalan lurus menuju ke kelasnya.

“Jiyeon eonni,” adik kelas Jiyeon, Eunjung, mengejar Jiyeon dari arah belakang.

Jiyeon menoleh. Ia tersenyum kecil, melihat adik kelasnya ini berlarian membawa barang yang cukup banyak.

“Kamu bawa apa aja itu? Kok rasanya banyak sekali,” kata Jiyeon saat Eunjung sudah berdiri di depannya.

“Hari ini aku ada ujian praktek, eonni. Makanya bawa banyak barang.” Eunjung menjelaskan dengan polos.

“Ya sudah, sini, eonni yang bantuin kamu sekarang,” Jiyeon tersenyum, menawarkan bantuan untuk membawakan barang Eunjung. Jiyeon kemudian mengantarkan Eunjung ke kelasnya dengan membawakan beberapa barang Eunjung.

Gomawo, eonnie…” Eunjung membungkuk mengucapkan terima kasih pada Jiyeon karena telah membantu membawakan barang- barangnya.

Ne…” Jiyeon tersenyum lebar.

Tidak lama setelah itu, bel berbunyi tanda kelas akan dimulai. Namun, Jiyeon lebih memilih untuk berjalan berlawanan arah dari ruang kelasnya. Tampaknya Jiyeon tidak sedang ingin bertemu dengan pelajaran History di pagi buta.

“Jiyeon-ssi…”

Ne?” Jiyeon menoleh kaget.

“Bisa ke ruangan saya sebentar?”

Ne, Yi Sam.” Jiyeon mengangguk cepat.

——————–0——————-

Yi Sam adalah salah satu staff advisor yang sangat dekat dengan Jiyeon. Mungkin karena kebetulan Yi Sam adalah sahabat omma Jiyeon.

“Silahkan duduk,” Yi Sam tersenyum.

Ne,” Jiyeon duduk dengan santai.

“Kemarin lusa, Yi Sam bertemu dengan teman lama, Gary-ssi. Dia sekarang sudah jadi sutradara terkenal.”

“Gary-ssi?” Jiyeon masih tidak mengerti arah pembicaraan ini.

Ne. Nah, kemarin Gary-ssi meminta tolong pada Yi Sam untuk memberikan rekomendasi aktris untuk drama terbarunya. Waktu itu Yi Sam tidak pikir panjang, langsung memberikan nama Jiyeon beserta nomer telepon.”

Ne?” Jiyeon semakin terkejut.

Mian-hae. Tapi, bukannya Jiyeon memang tergabung dalam grup theater?”

Ne, Yi Sam. Tapi, saya belum terlalu mahir dalam dunia akting.”

Ani. Kamu jangan takut. Kamu akan belajar banyak di sana.”

Raut muka Jiyeon masih terlihat bingung.

“Kamu jangan bingung. Untuk urusan ijin sekolah, biar Yi Sam yang urus semua. Kesempatan nggak datang dua kali, lho! Daripada kamu menghabiskan waktu untuk hal- hal yang tidak perlu?” Yi Sam nampak semangat. “Begini saja, karena tidak ada waktu lagi, kamu boleh berpikir dahulu. Paling lambat, nanti malam, segera kabari Yi Sam. Okay?”

Jiyeon mengangguk cepat. “Kamsahamnida, Yi Sam.”

Jiyeon keluar ruangan dengan perasaan yang campur aduk.

“Sebenarnya tawaran Yi Sam merupakan kesempatan yang baik. Setelah kejadian satu tahun yang lalu, setiap hari aku selalu menangis. Mungkin, dengan kegiatan ini, aku bisa melupakannya,” pikir Jiyeon dalam hati.

——————–0——————-

Yesterday was epic

I’d never plan that one day, it will be like this

Now…

Everything is different

You’re there, and I’m just stuck in here

You move on, and I, still, can’t…

 

Jiyeon menutup laptopnya. Air matanya masih saja mengalir deras. Rupa- rupanya, Jiyeon masih sulit untuk melupakan mantan kekasihnya. Jiyeon berkali- kali mengusap air matanya dengan tissue.

“Aku tidak boleh seperti ini terus,” Jiyeon memotivasi dirinya sendiri.

Kemudian, tangannya berusaha mengambil ponsel di sebelah bantal. Tangan Jiyeon sibuk menekan beberapa angka. Ia terlihat yakin.

Yoboseyo.

Yoboseyo, Jiyeon-ssi! Bagaimana?” Terdengar suara Yi Sam begitu excited.

Ne, Yi Sam. Boleh saya menerima tawarannya?” Jiyeon menggigit bagian bawah bibirnya.

“Tentu saja, boleh. Kalau begitu, besok pagi, kita ketemuan di café sebelah sekolah, ya. Gary-ssi juga akan datang. Dia pasti akan sangat senang mendengar kabar baik ini.” Yi Sam terdengar sangat senang. Ia tersenyum dengan sangat lebar. “Yi Sam tahu ini cita- citamu sedari kecil, Jiyeon. Yi Sam bukan orang lain lagi. Saya sangat menyayangimu seperti anakku sendiri,” suara Yi Sam mulai terdengar lirih.

“Yi Sam?” Jiyeon berusaha memutus pembicaraan advisor yang dapat dikatakan cukup  muda ini. Ia tidak ingin mengingatkan Yi Sam pada anaknya yang telah meninggalkannya enam bulan lalu. Sangat tragis. Yi Sam kehilangan anaknya, ketika Mei Yi, anak perempuan Yi Sam, berumur dua tahun.

Mian-hae,” suara Yi Sam tidak terdengar jelas.

“Sampai ketemu besok, Yi Sam!” Jiyeon mengakhiri pembicaraan tersebut.

Setelah menutup telepon, hati Jiyeon sangat lega.

“Kesempatan ini tidak akan kusia- siakan. Kejadian satu tahun yang lalu, tidak boleh menghalangiku untuk meraih keinginanku sedari kecil.” Jiyeon berkata mantap pada dirinya sendiri.

——————–0——————-

Suasana Minggu pagi kali ini terasa begitu sejuk. Angin sepoi- sepoi begitu lembut menyapa kulit beberapa orang yang sudah duduk di outdoor café sebelah sekolah Jiyeon, termasuk dirinya sendiri. Jiyeon melihat beberapa orang lalu lalang. Mereka tampak sibuk. Ada beberapa orang yang masih menunggu bis, ada pula orang- orang yang sibuk dengan ponselnya masing- masing. Sedangkan Jiyeon sendiri, ia sedang sibuk menghabiskan sarapan yang dipesannya.

Annyeonghaseyo,”

“Ah, annyeonghaseyo, Yi Sam!” Jiyeon seketika itu juga langsung berdiri, mempersilahkan Yi Sam duduk.

“Kamu sudah menunggu lama, ya?” Yi Sam memulai pembicaraan.

“Ah, ani. Aku memang rencana datang lebih awal. Tadi belum sempat sarapan, tidak ada makanan di rumah. Kekeke.”

“Oh. Ya sudah, habiskan dulu. Mungkin sebentar lagi, Gary-ssi akan datang.”

Ne,” jawab Jiyeon sambil menghabiskan makanannya.

Beberapa menit kemudian, terlihat dua orang berjalan cepat menuju ke arah café. Keduanya adalah laki- laki. Laki- laki pertama, tidak terlalu tinggi, berkacamata, berkulit putih. Agaknya, ia adalah orang Asia. Laki- laki yang lain, terlihat lebih muda dari laki- laki di sebelahnya. Ia memiliki tubuh yang tegap dan proporsional. Laki- laki itu membawa tas selempang dan beberapa buku. Keduanya berpakaian rapi, bak eksekutif muda.

Jiyeon sudah menyelesaikan makanannya. Kedua matanya mulai memperhatikan kedua lelaki tersebut. Ia merasa familiar dengan laki- laki yang lebih muda. Dahinya mengerut, berusaha mengingat- ingat.

Annyeonghaseyo, Park Sung Yi,”

Mata Jiyeon mulai membesar. Ia ingat, siapa laki- laki yang lebih muda itu.

Annyeonghaseyo, Gary-ssi.” Yi Sam tersenyum dengan sangat ramah.

Annyeonghaseyo,” Jiyeon reflek berdiri kemudian menunduk, memberi salam.

Gary mengalihkan pandangannya ke Jiyeon. “Anda yang bernama Jiyeon?”

Ne.” Jiyeon menjawab singkat.

Gary tersenyum, sambil menarik kursi untuk duduk.

“Jiyeon, ini Gary, yang saya ceritakan kemarin,” Yi Sam memperkenalkan teman lamanya itu.

Jiyeon hanya mengangguk- angguk. Ia tidak tahu harus bicara apa. Matanya fokus pada lelaki yang duduk di sebelah Gary.

“Jadi, langsung saja,” Gary mulai angkat bicara, “…sebenarnya, saya tidak hanya mencari aktris untuk drama, yang rencananya, beberapa bulan ke depan akan di-release. Mungkin Yi Sam belum tahu, kalau saya juga punya management sendiri.”

Jinjja?” Yi Sam sedikit terkejut.

Ne. Jadi, sebenarnya saya juga sedang mencari artis baru untuk bergabung dalam management saya ini. Tapi, karena jadwal shooting yang begitu padat, saya jadi tidak bisa menggelar audisi seperti management kebanyakan.”

Jiyeon mulai mengerti arah pembicaraan ini.

“Hmmm. Jiyeon dari klub theater juga, ya?” Gary melontarkan pertanyaan.

Ne. Tapi, saya sebenarnya belum terlalu mahir di acting. Saya malah lebih rajin ikut klub dancing. Kekeke.” Jiyeon terkekeh.

“Hahaha. Gwiyeowa,” Gary juga ikut tertawa. “Wah, saya sampai lupa mengenalkan orang di samping saya ini. Perkenalkan, namanya Seung Ho,”

Jantung Jiyeon serasa berhenti beberapa detik mendengar nama itu kembali disebut. Setelah sekian lama.

“…Seung Ho adalah asisten saya. Tapi, mungkin akan menjadi manager kamu, kalau kamu lolos beberapa tes yang nanti akan saya berikan.” Gary kembali tersenyum.

Seung Ho juga ikut tersenyum, “Annyeong,” ia memberi salam pada Jiyeon.

Jiyeon hanya menunduk. Gadis ini memegang erat rok-nya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Lho, jadi tetap ada tes-nya, ya?” Yi Sam melanjutkan pembicaraan.

“Tentu saja. Anggap saja ini tahap casting. Jiyeon, jangan terlalu nervous. Tes-nya tidak akan susah buat kamu. Kelihatannya kamu memang sudah memiliki skill yang saya cari. Setelah kamu bergabung dengan kami, percayalah, kamu akan jauh lebih berkembang,” Gary menjelaskan, “…nah, untuk masalah ijin sekolah, saya serahkan semuanya pada Yi Sam.”

“Ah, ne. Tenang saja, akan saya atur semuanya.” Yi Sam tertawa, sambil menyeruput kopi yang tadi dipesan.

“Mungkin, sampai sini saja dulu. Saya masih ada beberapa urusan. Nanti, Seung Ho akan menghubungi kamu, Jiyeon, mengenai jadwal tes dan beberapa perjanjian dalam management kami. Selanjutnya, mungkin hanya Seung Ho yang akan mengurus masalah ini, karena saya, beberapa minggu ke depan, harus pergi ke Thailand untuk kepentingan shooting.” Gary melihat jam tangannya.

“Gary-ssi, nggak pesan kopi dulu?” Yi Sam berbasa-basi.

“Tidak usah,” Gary hanya tersenyum seraya berdiri, “…baiklah kalau begitu. Annyeonghaseyo.” Gary mengakhiri pembicaraannya kemudian dengan sedikit berlari, menuju ke arah mobilnya yang sedari tadi parkir di pojokan jalan.

Annyeonghaseyo,” Seung Ho tersenyum, menunduk, memberi salam, kemudian mengikuti Gary.

Jiyeon menghela nafas panjang.

“Apa benar itu Seung Ho yang kukenal? Dia sepertinya tidak mengenaliku? Atau mungkin Seung Ho hanya berpura- pura tidak mengenalku?” Pertanyaan- pertanyaan itu berputar- putar di kepala Jiyeon. Sulit untuk dijawab.

——————–0——————-

Finally.

You came.

It’s like for years I’ve never seen your face.

Jiyeon menutup laptop, kemudian menarik selimut tosca-nya.

Tonight will be a very good night.

to be continued…

6 thoughts on “Je Suis deSole (I’m Sorry) [Chapter 1]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s