[Chapter 3] Social Science

Author : burninganchovy (@meutiakbachnar) || Title : Social Science || Length : Chapter/Series || Rating : T || Genre : Romance, Friendship, School-Life || Main Casts : Kang Jiyoung, Kang Minhyuk, Jung Jinyoung, Sulli || DISCLAIMER : Sekali lagi, all of casts in this fanfiction are belong to God, their families, and their entertainments. But a whole story in this ff is mine. So, if you want to take this FF, don’t forget to write credit ^^ || Cuap-Cuap AuthorAnnyeong!! Saya balik lagi (akhirnya) membawa Chapter 3 Social Science. Sebenernya saya bikinnya udah lama, tapi sempet ada beberapa kali pengeditan karena berbagai alasan ^^ jadinya baru sempet saya post sekarang. Chapter 3 ini saya buat di sela-sela kesibukan kampus, jadi mian kalo hasilnya jadi agak gak jelas dan aneh. Tanpa banyak bacot lagi, selamat membaca para readers ^^ *kaya bakalan ada yang baca aja*. Ah iya, komen masih diharapkan loh, supaya tau chapter ini ancur apa nggak hehehe. Dan.. makasih juga buat yang udah komen via Twitter, its really an honor ^^ I really appreciated it. Oke deh, HAPPY READING \(^o^)/

***

[Chapter3]

Sudah hampir seminggu Jiyoung dan Minhyuk menjalani rutinitas mereka untuk belajar bersama. Sudah hampir seminggu pula kehidupan Jiyoung perlahan berubah. Kini, setiap harinya, Jiyoung disibukkan dengan berbagai pelajaran eksak yang memiliki image menakutkan bagi beberapa murid lainnya. Setiap hari itu juga Jiyoung dibebani oleh berbagai tugas yang diberikan oleh Minhyuk.

            “Jiyoung-ah!” panggil Sulli yang baru saja keluar dari kelas. Melihat sahabatnya tengah bersendirian di sebuah bangku di pinggir lapangan basket, Sulli pun menghampirinya. Sulli terdiam sebentar sambil melihat tumpukan buku-buku tebal yang ada tepat di sebelah Jiyoung. “Kau tidak ingin membeli makanan? Begitu bel istirahat berbunyi, kau langsung kesini. Memangnya… apa yang sedang kau lakukan, Jiyoung-ah?”

            Jiyoung menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian ia meraih sebuah kantung plastik yang berisi sekotak susu cokelat dan sebungkus roti. “Aku sudah membawa bekal dari rumah” ujar Jiyoung, sambil memamerkan kantung plastik itu persis di depan wajah Sulli. “Aku sedang mengerjakan tugas yang diberikan Kang Minhyuk. Tugasnya banyak sekali, Sulli-ah~ Kurasa dia benar-benar memiliki bakat terpendam untuk menjadi seorang guru—”

            “—Guru killer!”, seru Jiyoung dan Sulli bersamaan. Keduanya pun tertawa.

            Tanpa disadari, segerombolan anak basket datang mengerumuni mereka berdua yang sedang asyik bersenda gurau karena membayangkan Minhyuk menjadi seorang guru killer. Dari sekian banyaknya anak basket yang mengerumuni Jiyoung dan Sulli, tiba-tiba Jinyoung menerobos masuk ke dalam kerumunan itu dan menyapa seorang yeoja yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.

            “Kang Jiyoung?” sapa Jinyoung, ragu-ragu.

            Jiyoung yang masih asyik bersenda gurau bersama Sulli langsung mengalihkan perhatiannya pada seorang namja kurus-tinggi yang tengah berdiri di hadapannya. DEG! Jung Jinyoung? Omo~ d-dia memanggil namaku? Ottoke?! Apa yang harus kulakukan sekarang? Ekspresi Jiyoung langsung berubah. Seperti biasa, ketika salah tingkah, wajah Jiyoung akan langsung memerah. Begitu juga dengan perasaannya—entah apa nama yang tepat untuk menggambarkan perasaan Jiyoung sekarang. Senang? Berdebar-debar? Bingung? Yang jelas, saat itu Jiyoung hanya bisa membuka mulutnya lebar sambil terus memandangi Jinyoung.

            Sulli menyenggol lengan Jiyoung, lalu memberi isyarat kepada Jiyoung melalui gerakan mata indahnya. Jawab sapaan pangeranmu itu, Jiyoung-ah, seperti itulah isyarat dari Sulli yang bisa ditangkap oleh Jiyoung. Jiyoung menganggukkan kepalanya, lalu mengatur napasnya yang sempat tak terkendali. “N-Nee?” akhirnya Jiyoung memberanikan diri untuk membalas sapaan Jinyoung.

            Jinyoung tersenyum lega. “Syukurlah kau masih mengingatku. Ng… sedang apa kau disini? Belajar?”

            Jiyoung mengangguk-anggukkan kepalanya. Begitu matanya beradu dengan mata Jinyoung, Jiyoung langsung mengalihkan perhatian kepada tumpukan buku tebal yang ada di sampingnya. Situasi awkward yang sempat muncul beberapa saat itu pun hilang begitu saja saat Jiyoung tiba-tiba teringat akan suatu hal: Ia ingin menanyakan sebuah soal Fisika yang sangat rumit kepada Minhyuk. Saat itu juga, Jiyoung beranjak dari posisi duduknya. “Mianhamnida… Aku harus pergi”, ucap Jiyoung sambil membungkukkan badannya lalu menggandeng tangan Sulli. Jiyoung dan Sulli pun meninggalkan lapangan basket dengan terburu-buru.

            Jinyoung tak berkutik sedikitpun saat Jiyoung berlalu dari hadapannya. Ia terus memandangi Jiyoung dari kejauhan. Sesekali Jiyoung pun membalikkan badan sekedar untuk melihat Jung Jinyoung. Setelah Jiyoung telah benar-benar hilang dari pandangannya, barulah Jinyoung tersenyum. Ia menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal. Hmm… Sepertinya hanya kau yang tak betah berlama-lama ngobrol denganku, Kang Jiyoung, ucap Jung Jinyoung di dalam hati sambil terus mengingat sosok Kang Jiyoung yang lugu, ceria, dan imut.

 ***

“HUAAAA!!! CHOI SULLI-AH, JUNG JINYOUNG MENGENALKU!!”

            Jiyoung mengekspresikan rasa senangnya dengan cara berteriak sekencang mungkin. Sulli hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. “Eh tapi ngomong-ngomong… sekarang kau mau kemana, Jiyoung-ah? Kau tiba-tiba menyeretku pergi untuk mengikutimu. Kau memang tak pernah berubah kalau sedang salah tingkah, hahaha” ujar Sulli sambil menyenggol lengan Jiyoung pelan.

            Jiyoung memberhentikan langkah kakinya. “Aku benar-benar tak bisa mengendalikan rasa senang ini Sulli-ah! Bisa kau bayangkan bagaimana senangnya ketika ada seorang namja populer di sekolah ini bisa memanggil namaku. ‘Kang Jiyoung…’, begitu katanya. Aiiissh, sepertinya aku akan gila!”

“Mm… sekarang aku ingin ke perpustakaan. Aku harus menemui Kang Minhyuk, ada soal Fisika yang tak kumengerti dan harus kutanyakan padanya sekarang juga. Kalau tak kutanyakan sekarang, nanti sore, ketika les privat kami dimulai dia akan menyerangku dengan soal-soal Fisika lain yang lebih rumit. Kau mau menemaniku, kan?”

            “Maaf, Kang Jiyoung sahabatku, tapi aku tidak ingin mengganggu kebersamaanmu dengan Kang Minhyuk hahaha…” balas Sulli, dengan intonasi seolah sedang menggoda Jiyoung. Tanpa berpamitan, Sulli langsung berlari meninggalkan Jiyoung sendirian di sebuah koridor sekolah yang akan mengantarkannya ke Perpustakaan Haknam High School.

            “Mwo?! Aku dengan Kang Minhyuk?! Aish, yang benar saja! Sulli-ah, sudah berulang kali kukatakan padamu bahwa aku hanya menyukai Jung Jinyoung. Untuk apa menyukai orang lain kalau semua tipe namjachingu idealku ada padanya?” gumam Jiyoung beberapa saat. Setelah habis meluapkan semua celotehannya, Jiyoung pun melanjutkan perjalanannya menuju ruang perpustakaan.

 ***

Kang Minhyuk itu anak jenius. Dia itu pintar. Selain itu dia pendiam. Jadi aku yakin seratus persen kalau dia ada disini sekarang. Tapi… dimana dia? Dan… kenapa perpustakaan ini harus begitu luas? Yaa~ Kang Minhyuk, dimana kau sekarang?

Jiyoung masih sibuk mencari keberadaan Minhyuk di perpustakaan. Hampir semua rak buku telah dilewatinya, namun nihil—ia tetap tak menemukan Minhyuk. Namun saat Jiyoung berjalan melewati rak buku terakhir, ia mendapati seorang murid lelaki tengah tertidur dalam posisi duduk. Wajahnya ditutupi oleh sebuah buku kecil. Apakah dia Kang Minhyuk?

            Jiyoung menghampiri murid lelaki yang tengah tertidur itu. Perlahan ia menyingkirkan buku kecil yang menutupi wajah murid itu.

            “Yaa~ Siapa kau?! Kau tak lihat aku sedang tertidur pulas? Aish, kau ini benar-benar mengganggu” protes murid lelaki itu, membuat Jiyoung berkali-kali membungkukkan badannya sambil mengucapkan kata maaf.

            “Mianhaeyo… Mianhae—BRUK!!”

            Saat Jiyoung akan membalikkan badannya, tak sengaja ia menabrak seorang namja. Dan karena belum siap menerima omelan dari orang lain (lagi), Jiyoung langsung menundukkan wajahnya. “Sepertinya takdirku hari ini adalah untuk diomeli semua orang”, gumam Jiyoung, membuat namja yang baru saja ditabraknya itu membungkukkan badannya.

            “Kau rupanya” ucap namja itu, dingin.

            Jiyoung memberanikan diri untuk menengadahkan wajahnya. “Eeeh?! Kang Minhyuk? Akhirnya aku menemukanmu disini!”

            “M-Mwo?! Sedang apa kau disini? Sepertinya bawaanmu berat sekali, ya?” tanya Minhyuk sambil memperhatikan Jiyoung yang nampak kesulitan membawa beberapa buku tebal dalam dekapannya.

            “Aku ingin menanyakan soal Fisika padamu. Soalnya benar-benar rumit”

            “Hanya itu?”

            “Memangnya kenapa kalau ‘hanya itu’?”

            “Anni… Baiklah, ikut aku”

 ***

Minhyuk berjalan menuju sebuah meja kosong, lalu mendudukinya. Setelah duduk, Minhyuk mendengarkan kesulitan yang dihadapi Jiyoung mengenai soal Fisika yang dianggapnya rumit. Tanpa memerlukan waktu lama untuk menganalisa soal Fisika itu, Minhyuk langsung menarik beberapa helai kertas kosong dari genggaman Jiyoung. Ia mulai menuliskan beberapa simbol serta angka dan… dalam sekejap, ia menemukan penyelesaian untuk menjawab soal Fisika itu.

            “Tsk…” Jiyoung hanya bisa berdecak kagum. “Kenapa kau bisa menyelesaikannya dalam waktu yang cepat? Kenapa juga kau bisa dengan cepat memahami soal itu? Aish, kau ini benar-benar jenius, Kang Minhyuk!”

            “Yaa~ Dengarkan aku…”

            Minhyuk tak mempedulikan pujian yang berturut-turut keluar dari mulut Jiyoung. Ia langsung menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan soal Fisika tersebut dengan benar-benar mendetail—membuat Jiyoung cepat mengerti dengan penjelasannya. Jiyoung menanngguk-anggukkan kepalanya. “Aaah~ ara ara… Rupanya begini cara menyelesaikannya”

            “Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” tanya Minhyuk, sambil menatap lurus ke arah Jiyoung. Jiyoung mencoba mengingat-ingat apalagi yang bisa ia tanyakan selagi Minhyuk ada di hadapannya. “Ng… Buku Matematika-ku apa sudah selesai kau pinjam?” tanya Minhyuk lagi.

            “Buku Matematika?” Jiyoung malah balik bertanya. Ia mencoba mengingat apakah buku Matematika milik Minhyuk itu sudah dikembalikan atau belum. “Oh! Buku Matematika yang di dalamnya ada foto kau bersama seorang yeo—”

            Raut wajah Minhyuk langsung berubah menjadi tak bersahabat saat mendengar ucapan Jiyoung yang tiba-tiba menggantung begitu saja. Spontan, Minhyuk beranjak dari tempat duduknya. “Kurasa kita harus segera kembali ke kelas masing-masing” ucap Minhyuk dingin, sambil berjalan keluar dari perpustakaan.

            Jiyoung terdiam dengan kedua telapak tangan yang masih membungkam erat mulutnya. Ia mulai mencubit kedua belah pipinya berulang kali, lalu mengomeli dirinya sendiri. Aish, kau ini, Kang Jiyoung! Kau ini benar-benar pabo! Kenapa kau harus menyinggung soal foto itu?! Lihat sekarang, Kang Minhyuk nampaknya kesal karenamu… Aissh, ottoke?!

***

Begitu bel yang menandakan waktu pulang sekolah berbunyi keras, Jiyoung menghampiri Sulli yang masih membereskan alat tulisnya. “Sulli-ah, doakan aku ya, hari ini aku akan privat lagi dengan Kang Minhyuk” ucap Jiyoung dengan nada bicara yang terkesan panik.

Sulli melirik Jiyoung sambil tersenyum. “Yaa~ sudah seminggu kau privat dengannya, tapi hari ini kau masih berpamitan denganku? Aku mengerti kalau sekarang setiap pulang sekolah kau mempunyai jadwal rutin bersama Kang Minhyuk dan aku selalu mendukungmu, Jiyoung-ah. Kenapa kau harus berpamitan lagi kali ini? Dan… wajahmu, kenapa seperti itu? Apa ada sesuatu yang kau cemaskan, Jiyoung-ah?”

Sulli memang mengetahui apa yang kurasakan saat ini. Aku tak bisa membohonginya kalau aku memang benar-benar mencemaskan suatu hal…ya, aku terlalu cemas dan aku takut Minhyuk masih kesal padaku, ungkap Jiyoung dalam benaknya. Sulli mendekatkan wajahnya, berusaha memastikan kalau Jiyoung baik-baik saja.

Gwenchana? Ada apa, Jiyoung-ah?” tanya Sulli.

Mian Sulli-ah, aku belum bisa menceritakannya padamu sekarang. Sepulangnya aku privat bersama Minhyuk nanti, aku akan meneleponmu”

“Hm… Arasseo” balas Sulli sambil tersenyum manis, membuat Jiyoung sedikit lebih lega setelah melihat senyum manis sahabatnya itu. “Kalau begitu, aku pulang duluan ya. Annyeong, Jiyoungie~”

Nee~ Annyeong~

 ***

Setelah berpisah dengan Sulli, Jiyoung langsung keluar dari kelas. Jiyoung berlari kencang melewati semua kelas sambil menyempatkan diri untuk memastikan ada atau tidaknya Kang Minhyuk di setiap kelas yang dilewatinya. Namun sudah hampir seluruh kelas yang dilewatinya, ia tak kunjung menemukan Minhyuk.

            “Sepertinya dia benar-benar kesal padaku…” keluh Jiyoung, yang sekarang sudah kehabisan energi untuk menggerakkan kakinya. Ia hanya berdiri lemas di depan sebuah ruangan yang jarang sekali digunakan oleh para murid Haknam High School.

            Tiba-tiba, dari dalam ruangan itu terdengar bunyi hentakan drum yang begitu keras. “Suaranya berasal dari ruangan ini…” ujar Jiyoung sambil melihat sebuah tulisan yang tertera pada pintu ruangan itu. Kelas Ansamble—begitulah tulisannya. “An… Ansamble? Ah, pasti ruangan ini dulu sering dipakai oleh murid-murid yang mengikuti ekstrakulikuler ansamble. Tapi… bukankah sekarang ekstrakulikuler itu sudah tidak aktif lagi?”

            Jiyoung mengintip dari jendela ruangan itu untuk mencari tahu siapa yang sedang memainkan drum. Kang Minhyuk? Bukankah… itu Kang Minhyuk? Ternyata di dalam ruangan itu memang ada seorang namja yang masih lengkap dengan pakaian seragamnya tengah bermain drum—dialah Kang Minhyuk. Tanpa jeda, Minhyuk terus memainkan stiknya untuk menabuh satu set drum besar itu sampai wajahnya berkeringat.

            “Kang Jiyoung?”

            Tiba-tiba sebuah suara memanggil nama Jiyoung. “Eeeh?!”

            “Ssst”, seorang namja bernama Jung Jinyoung itu meminta Jiyoung untuk tidak ribut. “Kau sedang apa disini? Sedang mengamati dia?” tanya Jinyoung kemudian, sambil menunjuk ke arah Minhyuk yang masih menabuh drumnya.

            “A-Ah, itu—“

            “—Hei Kang Minhyuk”. Belum sempat Jiyoung menjawab pertanyaannya, Jinyoung langsung menyapa Minhyuk yang baru saja keluar dari ruang ansamble. Mendengar itu semua, Jiyoung langsung membalikkan badannya secara spontan.

            “H-Hei… Minhyuk” sapa Jiyoung, sedikit canggung.

            Minhyuk melirik Jiyoung dan Jinyoung bergantian. “Aku duluan” pamit Minhyuk yang langsung meninggalkan Jiyoung dan Jinyoung—yang masih berdiri di depan ruang ansamble. Melihat sikap dingin Minhyuk barusan, Jiyoung semakin merasa bersalah dan berniat untuk menyusulnya. Namun, begitu Jiyoung ingin melangkahkan kaki untuk menyusul Minhyuk, Jinyoung memanggilnya.

            “Kau pulang sendiri?” tanya Jinyoung ramah.

            “N-Nee~ Aku duluan ya, Jinyoung”

            “Tunggu. Kau… pulang naik apa? Bus? Bagaimana kalau pulang bersama denganku?”

            Jiyoung menggelengkan kepalanya—menolak tawaran Jinyoung. Ia tak mempedulikan lagi kesenangan yang seharusnya ia rasakan saat ini—saat Jung Jinyoung mengajaknya pulang bersama. Jiyoung sendiri heran dengan perasaannya yang sedang tak menentu sekarang. Seharusnya aku senang, tapi… sekarang aku malah mencemaskan Kang Minhyuk. Aaaa~ kenapa kau ini, Kang Jiyoung?!

            “N-Ng… Gwenchana~ Aku pulang dengan bus saja. Annyeong, Jinyoung-ah”

***

Jiyoung terus dilanda rasa gelisah. Ia terus menggoyangkan kakinya selama duduk di bus yang tengah ditumpanginya sekarang. Matanya terus mengamati dengan cermat ke sekelilingnya. Saat bus akan melintasi kawasan Daegu, dengan cepat Jiyoung meminta sang supir untuk memberhentikan busnya.

            Perasaan Jiyoung masih tidak karuan sampai saat ini. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah mengungkit masalah foto yang ditemukannya di sela-sela halaman Buku Matematika kepunyaan Minhyuk—ya foto itu, foto Minhyuk bersama seorang yeoja cantik. Rasa bersalah yang amat dalam itulah yang membawa Jiyoung berjalan menyusuri setiap jalan yang ada di kawasan Daegu—untuk menemui Minhyuk dan meminta maaf padanya.

            Selagi menyusuri sebuah jalan di kawasan Daegu, terpikir oleh Jiyoung untuk membelikan beberapa makanan ringan untuk Minhyuk dan juga sepupunya, Lee Jungshin. Saat aku ke rumahnya, benar-benar tak ada siapapun disana. Pasti mereka belum makan saat ini… Tak ada salahnya kubelikan mereka beberapa makanan ringan, siapa tahu Minhyuk akan senang dan tidak merasa kesal lagi padaku, pikir Jiyoung sambil tersenyum sendiri membayangkan ekspresi wajah Minhyuk dan Jungshin yang kegirangan saat dibelikan makanan.

            “Ahjussi, apa ini?” tanya Jiyoung, menghampiri sebuah gerobak di pinggir jalan. Pada gerobak itu tertulis dengan jelas sebuah kata: Takoyaki.

            “Aaah~ ini makanan Jepang. Apa kau mau mencobanya?” jawab seorang lelaki paruh baya itu dengan ramah. Ia menawarkan satu tusuk makanan yang disebut Takoyaki kepada Jiyoung.

            “Mmm… mashita!” ujar Jiyoung, sambil mengedipkan matanya dan tersenyum cerah. “Ahjussi, aku pesan Takoyakinya dua kotak ya” lanjut Jiyoung, sambil merogoh beberapa lembar uang dari dompetnya.

 ***

Tok… tok… tok…

Kini Jiyoung sudah berdiri tegak di depan pintu utama rumah Minhyuk. Berkali-kali ia mengetuk pintunya, namun tidak ada tanggapan dari penghuni rumah. Jiyoung menghela napas, lalu mengetuk pintunya lagi sambil menyerukan nama Kang Minhyuk.

            “Kang Minhyuk… ini aku, Kang Jiyo—“

            “—kau berisik sekali” protes Jungshin, saat membuka pintunya. Matanya yang besar itu nampak mengantuk dan penampilannya benar-benar acak-acakan. “Ada apa kau kesini?”

            “Ng… A-Aku… Ah~ ini ada makanan untuk kalian, kebetulan aku melihat gerobak penjual Takoyaki—“

            “—ah gomawo yo, kau memang tahu betul keadaan perutku” balas Jungshin, yang langsung merebut kantung plastik berisi dua buah kotak Takoyaki dari tangan Jiyoung.

            “Ng… chogi… Apa Kang Minhyuk ada di rumah?” tanya Jiyoung.

            “Jadi, tujuan utamamu kesini adalah mencari Kang-Goon?” balas Jungshin, yang malah bertanya balik. “Tadi dia sempat pulang, lalu pergi lagi. Sepertinya mood-nya tidak begitu baik”

            Mendengar ucapan Jungshin, Jiyoung menundukkan kepalanya. Ia mengacak isi tasnya dan mengambil foto yang membuat Minhyuk kesal padanya, lalu memberikan foto itu kepada Jungshin. “Ini… tolong kembalikan kepada Minhyuk, ya”

            Jungshin menerima foto itu. “MWO?! Bagaimana kau bisa mendapatkan foto ini? Pantas saja mood-nya langsung berubah, rupanya karena foto ini…”

            “Mianhae” ujar Jiyoung, yang semakin takut untuk menengadahkan kepalanya.

            “Hmmm” Jungshin menghela napas, lalu menyuruh Jiyoung untuk masuk ke dalam rumahnya. “Sepertinya kau perlu tahu hal ini, karena saat ini… kurasa kaulah orang terdekat Kang-Goon. Seperti yang telah kau lihat pada foto ini. Dulu, Kang-Goon memiliki seorang yeojachingu. Namanya Minah. Sebenarnya hubungan mereka baik-baik saja, tapi aku pun tak mengerti kenapa Minah-ssi malah memutuskannya. Dan ironisnya, Minah memutuskan Kang-Goon saat Kang-Goon telah mempersiapkan sebuah kejutan untuknya. Mungkin Kang-Goon terlalu menyayanginya, sampai sedepresi itu… Aish, aku pun tak tahu kenapa Kang-Goon bisa selemah itu~”

            Jiyoung tertegun mendengar cerita Jungshin tentang masa lalu Minhyuk bersama seorang perempuan cantik bernama Minah—Bang Minah. Ia menatap foto yang terletak di meja di hadapannya. “Dia memang cantik, pantas saja Minhyuk begitu menyayanginya”

            “Aaa~ kau juga harus tau, Bang Minah itu…. persis seperti dirimu!” tambah Jungshin lagi, yang sebelumnya telah memperhatikan Jiyoung lama.

            “E-Eehh?! Maksudmu?”

            “Image imut, ceria, kekanak-kanakan, kikuk, wataknya cepat ditebak oleh orang lain. Benar-benar mirip denganmu. Hmmm… benar, pantas saja saat melihatmu aku teringat seseorang. Ternyata kau memang mirip dengan Bang Minah”

***

To Be Continued

25 thoughts on “[Chapter 3] Social Science

    • iya eonni T,T
      aku juga ngerasa gitu *pabo*
      tp emang udh di-plot-in gini biar nyambung ke chapter selanjutnya *berhubung aku udh buat sampe chapter berikutnya hehe*
      gomawo yah eonn~ ^^

  1. Kelanjutannya ditunggu nich…
    Sayang bgt jiyoun malah gak jd pulang ma cowok idamannya jin young.
    Tp jinyoung itu punya perasaan pd jiyoung y?

    • iya sayang banget, gara2 si minhyuk tuh =,= hehehe, hmm kira-kira udh mulai suka belom ya si jinyoung sama jiyoung? Tunggu chapter berikutnya aja ya chingu ^^
      gomawo sudah baca & nyempetin komen :)

  2. Wah daebak bgt jalan critanya. I like it like it like it
    tapi ujung2ny psti ngga jadian ma jinyoung deh.. next part ditunggu

  3. wah…
    ternyata selain pendiam minhyuk juga rapuh ya..
    #digeplakminhyuk
    btw aku bertanya2 maksud kata2 minhyuk “hanya itu?”
    apa itu maksudnya..
    jgn2 dia mau jiyoung nemuin dia dengan alasan lain..

    trus si jinyoung, dia udah mulai suka sama jiyoung ya?
    sikapnya mencurigakan.. hehe
    penasaran nih sama kelanjutannya..
    lanjut terus ya thor!!
    fighting!^^

    • minhyuk rapuh itu kayanya emang fakta chingu *dilemparin bom sama fansnya minhyuk* hehe :D
      yap, tepat sekali. bener itu kok maknanya. minhyuk pengennya si jiyoung nyariin dia bukan hanya karna ada masalah pelajaran doang. makanya dia bilang, “hanya itu?” dengan nada ngeremehin ^^

      hmmm, jinyoung suka ga yaa kira-kiraa.. entar deh aku update soon next chapternya ^^ gomawo loh *bow* udah baca dan komen. :D

      *seneng banget loh dikomen* :)

  4. ngekkk…baru baca T_T telat bgt!!! trnyata dah lama publishnya.. ahhh..ternyata Minah Girls Day kirain….hehehe… bagus nie critanya.. walaupun iya setuju ama yg diatas chapter ini mudah ditebak. banyakin interaksi jjing-hyuk nya ya.. >< couple yg cuuuuteee.. *mimpiku adalah melihat jjing-hyuk maen drama breng jd lead-nya dan ceritanya kya ini (jd ngelantur kan,,,abaikan)*
    chingu…ijin comot pict di atas ya…buat nambah koleksi pict jing-hyuk..tnang hanya utk di simpan saja..^^

    • hihi ga papa kok ^^
      interaksi jjing-hyuk? aihh tungguin aja chingu! pasti aku banyakin kok, tapi di chapter tertentu, pada saat yang tepat *kaya apa aja deh*
      yeeep, mereka memang cute couple, aku juga ngarep loh chingu mereka jadi sering ketemu dan sering berinteraksi *poor shipper*
      wew, boleh kok, comot aja pictnya ^^
      btw makasih masih mau baca *hopeless author* hehehe :D

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s