Love Is Bitter, Pain Is Calling

title: Love is Bitter, Pain is Calling

author: lightless_star

cast:

  •  Yoon Doojoon (B2ST’s Doojoon)
  • Choi Gina (G.Na)

genre: Romance, Hurt

length: ficlet

rated: PG

Love Is Bitter, Pain Is Calling

-lightless_star-

xxx

DISCLAIMERS: I only own the plot. This just a fiction, so it doesn’t really happen to the character in their real life.

xxx


 Yoon Doojoon tak berkata apa-apa. Yang ia lakukan hanya menumpukan berat badan pada sepasang lengannya yang menyentuh rerumputan yang ia duduki dan melihat ke langit luas diatas sana. Banyak yang ingin ia katakan, sebenarnya. Ini pertemuan mereka setelah bertahun-bertahun tak berjumpa. Bagaimana mungkin ia tak merindukan gadis ini?

Ia memejamkan mata. Merasakan semilir angin membuai wajahnya yang beralur tegas. Membiarkan hembusannya memainkan ujung-ujung rambutnya yang acak-acakan. Ia tak menatap gadis itu, Choi Gina. Bukan karena ia tak mau, namun ia tak mampu. Padahal ia sangat merindukan iris cokelat tua itu.

Mereka tak berbicara. Mungkin karena atmosfir canggung yang diciptakan keduanya. Canggung karena sudah lama tak berjumpa, canggung karena perasaan itu tak pergi juga, canggung karena apa yang terjadi di babak sebelumnya dalam persahabatan mereka.

Cinta. Hal rumit yang menguji persahabatan keduanya. Saat dimana mereka selalu bisa berlari bergandengan tangan, saat dimana gadis itu selalu merona saat si pemuda memujinya, saat si pemuda selalu mau menunggu gadis itu saat kencan mereka.

Saat dimana mereka sama-sama tersakiti dan memutuskan untuk saling menjauhi. Pergi ketempat yang jauh, dan memutuskan untuk tak pernah bertemu lagi.

Dan kali ini, mereka dipertemukan sekali lagi. Bukan karena ingin, tapi karena kebetulan yang tak pernah disangka. Walaupun sudah memutuskan untuk saling menjauhi, keduanya diam-diam masih merasa senang bila diberi kesempatan untuk bertemu lagi.

Mereka sudah terlalu mengerti satu sama lain. Mereka paham, kalau mereka masih sama-sama menyimpan rindu yang sebenarnya hanya bisa menyiksa batin. Mereka paham, kalau mereka masih sama-sama menginginkan satu sama lain.

“Kenapa ke kota ini lagi?” tanya pemuda itu. Pandangannya tetap menghadap langit. Gadis disampingnya menegakkan kepala lalu meluruskan kaki di rerumputan hijau yang menari ditiup angin sore ini.

“Ada urusan,” jawabnya singkat. Ia tak tahu lagi harus bicara apa. Atmosfirnya terlalu canggung sekarang.

Dan sekali lagi, angin berhembus pelan mengiringi sepi yang ada diantara mereka berdua.

Doojoon hanya mengangguk. Lalu mereka berdua larut dalam bisu lagi. Beberapa menit berlalu tanpa suara, hanya tatap mata yang bertemu beberapa kali. Tatap mata yang membuat keduanya paham maksud satu sama lain.

Lihat? Mereka masih bisa saling memahami walau tanpa suara. Sama seperti dulu.

“Tak perlu sembunyi lagi,” si pemuda lagi-lagi buka suara. Mengawali pembicaraan.

Gina menundukkan kepala, dari raut wajahnya, Doojoon tahu kalau ada yang terasa ganjil dihati gadis itu.

“Sebenarnya, aku rindu,” gadis itu berbicara dengan suara yang pelan sekali, sampai kedengaran seperti berbisik.

“Kau ingin kita kembali seperti dulu lagi?” suara berat disertai nada senang terselip disuaranya dan matanya yang menatap gadis itu ingin tahu. Choi Gina tak merespon.

Pemuda itu menggenggam tangan gadis disampingnya, lalu menatap mata gadis itu dalam. Doojoon menggenggam erat tangan Gina, menelusupkan jemarinya disela-sela jemari lentik gadis itu, sementara Gina tak membalasnya, bahkan gadis itu juga menghindari tatap matanya.

“Katakan padaku kalau kau ingin,” Doojoon menatap mata gadis itu dengan tatapan memohon, namun Gina masih menghindari tatapnya. Gadis itu menundukkan kepala, namun Doojoon masih bisa melihat pancaran kelabu yang ditunjukkan mata indahnya.

“Kita… Sudah tidak bisa.”

Doojoon membelalakkan mata. Melepaskan genggaman erat tangannya pada gadis itu dan kembali pada posisinya semula; duduk bertumpu pada sepasang lengannya dan menatap ke langit luas tanpa memandang gadis disampingnya.

Apa yang baru saja ia katakan? Sudah tidak bisa? Memangnya kenapa? Ia sudah punya yang lain? Tidak mungkin. Bukannya tadi ia bilang kalau dia rindu?

Bukankah mereka masih sama-sama menginginkan satu sama lain? Lalu kenapa tidak bisa?

Namun, Doojoon tak bertanya. Bukannya tak mau tahu, tapi ia hanya takut lebih tersakiti saat mendengar respon gadis itu nanti.

Langit nampak cerah sore ini. Matahari bersinar hangat serta tak menyilaukan mata, dan hanya ada awan-awan halus yang mengganggu hamparan biru itu. dulu, dihari-hari saat mereka masih bersama, ia dan Gina sering ke tempat ini. Ketempat dengan rerumputan luas ini, ditemani tenangnya sore dan cerahnya langit yang seakan ikut tersenyum melihat dua insan dibawahnya. Gadis itu selalu senang melihat langit, ia bilang langit selalu bisa membuatnya tenang bahkan saat tak ada lagi manusia yang dapat menenangkannya. Langit memang tak dapat menjawabnya, namun ia bisa menghilangkan kegundahan walau tak berbicara. Kebanyakan orang malah selalu bersikap acuh tak acuh padanya saat ia butuh mereka. Gina selalu bilang, Doojoon adalah salah satu dari sedikit sekali orang yang mau mendengarkannya, merespon dengan baik segala ceritanya, mau tertawa untuk leluconnya yang tidak lucu, dan bisa dijadikan tempatnya bersandar. Gina selalu bilang kalau Doojoon adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya terjebak dimata pemuda itu, dan ia ingin sekali terjebak disana selamanya.

“Doojoon-ah? Ini sudah sore sekali. Apa kau masih akan disini?” suara manis itu bertanya padanya lembut sekali.

Doojoon menolehkan kepalanya kesamping, menatap gadis itu,”Entahlah. Mungkin aku akan pulang sebentar lagi.”

“Kau masih sering kesini dan melihat bagaimana matahari itu kembali pulang?”

Doojoon mengangguk, senyum kecil terulas diwajahnya yang tampan,”Masih. Seperti dulu,” ucapnya lagi. Gadis itu membalas senyumnya.

“—-walau sendirian, tanpamu,” lanjutnya sendu, membuat senyum diwajah gadis itu seketika redup.

“Aku akan pulang sebentar lagi,” ucapnya, Doojoon hanya mengangguk.

“Senang bisa bertemu lagi. Kuharap kita masih bisa berhubungan baik,” ia berkata dengan nada berat hati, namun senyum itu ia coba lengkungkan sekali lagi, kali ini sambil memamerkan deretan giginya yang berjejer rapi.

“Kau akan selalu istimewa untukku, Doojoon-ah. Walau kita bukan sepasang kekasih lagi,” ucapnya lembut, tak ada pancaran kelabu dimatanya lagi.

“Gina-ya!” sebuah suara berat memanggil nama gadis itu dari belakang, membuat keduanya menolehkan kepala.

Sosok pria berwajah tampan sedang berjalan kearah mereka. Langkahnya panjang dan cepat, wajahnya tampak cerah karena ia sedang tersenyum kearah gadis itu.

“Jinwoon-ah!” gadis itu langsung berdiri, berjalan kedepan dan menghambur dipelukan pria itu. Doojoon hanya diam, namun dalam hati ia meringis perih.

“Jinwoon-ah, kenalkan. Ini Yoon Doojoon, sahabatku,” gadis itu masih tersenyum, sementara Jinwoon menjabat tangan Doojoon.

“Senang bertemu denganmu, Jinwoon-sshi.” Ucap pria itu kaku.

“Doojoon-ah, ini Jinwoon. Tunanganku,” ucap gadis itu lagi, nada suaranya ia turunkan. Ia tahu kalau Doojoon pasti akan sakit hati saat mendengarnya.

Namun, pria itu masih kuat untuk tersenyum.

Ia bisa melihat sendiri bagaimana gadis itu tersenyum cerah saat pemuda itu datang. Ia bisa melihat sendiri bagaimana gadis itu tertawa kecil saat pemuda itu memujinya. Ia bisa melihat sendiri bagaimana gadis itu menggandeng tangan Jinwoon dengan erat dan kemudian menyandarkan kepala dibahunya.

Sama seperti yang sering mereka lakukan dulu.

Rasanya? Sakit.

Namun, gadis itu bahagia.

Sosok Gina dan Jinwoon yang pergi setelah pamit pada Doojoon perlahan menghilang semakin mereka melangkah menjauhi tempat itu. Meninggalkan Doojoon sendirian disana.

“… Aku turut bahagia,” bisik pria itu sambil mencoba mengembalikan senyum, walau mata hitamnya yang dalam terlihat begitu sendu.

Ia sadar, mereka tak mungkin bersama lagi.

Namun, Gadis itu juga bilang,” Kau akan selalu istimewa untukku, Doojoon-ah.”

Itu artinya, ia masih boleh menempatkan Gina di satu bagian khusus dihatinya, kan?

Bagian khusus yang tak akan bisa digantikan siapapun, sekalipun ia mendapat orang yang lebih baik nantinya.

-fin-

2 thoughts on “Love Is Bitter, Pain Is Calling

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s