[Chapter 2] True Love

Title : True Love

Author : Shi Arvioryna

Cast in this chapter:

  • Lee Chaerin (fiction)
  • Cho Kyuhyun Super Junior
  • Kim Kyoungjae (Eli) U-Kiss
  • Song Hyeri (fiction)
  • Park Minna (fiction)
  • Lee Sungmin Super Junior
  • Lee Donghae Super Junior
  • Choi Siwon Super Junior

Rating : G

Genre : Romance, Friendship, Angst

Disclaimer : This story is MINE! Read Yes, Like Yes, Comment Yes! But please No Plagiat! Hargai para author yang bikin FF ya!

Note : Akhirnya selesai juga membuat chapter ini. Maaf ya yang udah lama nungguin. Aku lagi banyak banget tugas kuliah. Jadi harap maklum ya. Hehe…. Oke. Langsung aja dinikmati hasil karyaku ini. Happy reading ^_^

~~~***~~~

Hari ini adalah hari Jumat. Kupakai seragam kotak-kotak ku yang khusus dipakai di hari Jumat. Kuikat rambutku ke atas. Dan tak lupa kupakai bedak untuk menghiasi wajahku. Hmm… aku telah siap memulai hari ini dengan semangat. Matahari saja masih bersemangat menampakkan dirinya. Kenapa aku tidak??

Waktu menunjukkan pukul 7 lebih 20. Sudah waktunya aku berangkat sekolah, pikirku. Aku berjalan keluar kamar. Saat melewati ruang makan, aku melihat ruangan itu kosong. Sepi. Tak ada ayah dan ibuku. Usut punya usut, ternyata mereka sedang bersiap-siap. Ayahku adalah seorang dokter. Sedangkan ibuku mempunyai sebuah butik. Dan hampir keseluruhan baju disana adalah desain ibuku. Selebihnya adalah desainku dan karyawan yang bekerja disana.

Aku duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan itu dan mulai menikmati sarapan yang sudah Eomma siapkan untukku. Aku melihat sekeliling ruangan. Berharap menemukan orang yang bisa aku ajak bicara. Tapi tak ada orang disini, selain aku tentunya. Bahkan kakakku, Sungmin Oppa juga tak ada disini. Kemana dia? Seingatku pagi ini dia mempunyai jadwal kuliah. 10 menit berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8. Aku sudah menyelesaikan sarapanku. Dan Sungmin Oppa belum juga kelihatan. Setiap pagi memang aku selalu diantar kakakku. Itu pun karena jarak rumah dengan sekolahku cukup jauh. Butuh waktu sekitar 20 menit.

Aku melirik jam yang ada di dinding. Aku gelisah. Aku takut terlambat. Apalagi pelajaran pertama hari ini adalah kimia. Dan gurunya killer banget. Kalau sudah telat, tidak akan ada toleransi. Terpaksa aku harus rela untuk tidak mengikuti pelajarannya.

Aku tidak sabar lagi. Kudatangi kamar Sungmin Oppa. Kuketuk pintunya. Tapi tak ada jawaban. Lalu kubuka pelan-pelan pintu kamarnya. Aku kaget saat melihat dia masih terbaring di tempat tidurnya. Ia juga menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya. Rasa khawatir perlahan muncul di hatiku. Segera kuhampiri kakakku. “Oppa kenapa?” tanyaku khawatir. Aku takut melihat kondisi Sungmin Oppa seperti ini. “Oppa sakit ya?” tanyaku lagi yang dijawab dengan anggukan lemah olehnya.

“Iya. Maaf aku tidak bisa mengantar kamu ke sekolah,” ujarnya pelan. Ia terlihat lemah. Wajahnya pucat. Dan tubuhnya terasa panas. “Maaf juga aku tidak bisa menjemputmu,” tambahnya.

Aku menatap wajah kakakku. Aku benar-benar khawatir. Kucoba tersenyum padanya. Menenangkannya. “Nggak apa-apa kok, Oppa. Aku bisa naik taksi. Yang penting buatku adalah keadaan Oppa. Oppa harus istirahat agar cepat sembuh,” pesanku sebelum aku meninggalkan kamarnya.

Aku menceritakan keadaan kakakku kepada Appa. Tentu saja Appa segera memeriksa Sungmin Oppa. Sementara aku, aku harus bergegas. Aku berjalan dengan terburu-buru. Dan saat aku membuka pintu rumah, aku menemukan seseorang yang membuatku kaget. “Kyoungjae,” panggilku. Kyoungjae menatapku lalu tersenyum. Aku bingung. Untuk apa dia kemari? Yang aku tau, akhir-akhir ini dia menjauhiku. Tak mau lagi bicara denganku. Tetapi kenapa dia tiba-tiba datang ke rumahku? Pagi-pagi pula…

“Annyeong Rin-ah,” sapa Kyoungjae. “Aku ingin mengajakmu berangkat bareng. Kamu mau nggak?” tanyanya. Sebenarnya aku ingin menolak ajakan Kyoungjae. Aku tak mau merepotkannya. Namun karena waktu sudah tidak bersahabat lagi, akhirnya kuputuskan untuk mengiyakan ajakannya itu. “Ne. Aku mau.”

Kami lalu berangkat dengan menaiki motor Kyoungjae. Aku dibonceng olehnya. Tak lama kemudian, ia mulai menjalankan motornya. Melewati jalan-jalan yang sekarang sudah dipadati kendaraan bermotor ataupun tidak. Ada juga orang yang rela berjalan kaki. Entah mereka mau kemana.

Di tengah perjalanan, aku terus berpikir. Sikap Kyoungjae benar-benar membuatku bingung. Dulu dia baik padaku. Lalu dia menjauhiku. Kini dia kembali baik lagi. Yang paling membuatku heran, dia menjemputku. Padahal selama beberapa tahun aku bersahabat dengannya, tak pernah sekalipun ia menjemputku untuk berangkat sekolah bersama. Yah… Apapun perubahan Kyoungjae, satu hal yang pasti. Kyoungjae masih menganggapku sebagai temannya. Itu saja sudah membuatku senang.

Tepat sebelum bel berbunyi, kami sudah sampai di sekolah. Kami berjalan ke kelas bersama. Anehnya, tak ada obrolan yang keluar dari mulut kami. Aku lebih memilih untuk diam. Begitu juga dengan Kyoungjae. Hal ini berlangsung sampai kami tiba di kelas.

“Tumben banget kamu dan Kyoungjae bareng,” ujar Hyeri yang melihat kedatanganku. Aku tak menjawab. Pikiranku tertuju pada Kyoungjae. Apa sebenarnya yang terjadi padanya?

KRIIINNGG!!! Bel istirahat berbunyi. Pelajaran kimia yang melelahkan akhirnya usai juga. Aku lega sekali karena aku tak akan bertemu Ahra Songsaengnim sampai Selasa depan. Dan lebih senang lagi, Ahra Songsaengnim tidak memberi tugas rumah kepada kami.

“Rin-ah, ke kantin yuk!” ajak Minna, mengagetkanku yang sedang asyik dengan pikiranku.

“Oh… Eh…” Aku tergagap. “Nggak ah. Aku nggak lapar. Kalian berdua saja yang ke kantin,” jawabku pada Minna dan Ellin.

“Ya sudah. Kami pergi dulu ya,” pamit Hyeri sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkanku. Dan aku hanya bisa tersenyum menatap kepergian mereka.

Pandanganku berkelana ke seluruh kelas. Aku menemukan sosok Kyoungjae sedang duduk sendiri. Jari-jarinya terlihat asyik memencet keypad HP-nya. Aku memberanikan diri bicara pada Kyoungjae. Perlahan tapi pasti, aku mulai berjalan ke arahnya. Tepat di depannya, nyaliku kembali menciut. Ingin aku segera menjauh dari tempat ini. Tapi mata Kyoungjae terlebih dahulu menemukanku. Berdiri di ambang jurang keraguan. “Ada apa?” tanyanya membuat nyaliku kini hilang tak berbekas. Suaraku tercekat. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Dengan sisa keberanianku, aku membangun kembali nyaliku.

Kutatap mata Kyoungjae. Sejenak kami berpandangan, tapi sedetik kemudian kuhancurkan situasi ini. “Kita ke perpustakaan, yuk!” ajakku ragu.

Tanpa mengiyakan ajakanku, Kyoungjae beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan mendahuluiku. “Kajja!” ujarnya. Aku pun hanya bisa mengikuti langkah kaki Kyoungjae sembari menebak-nebak apa yang ada di pikirannya saat ini.

Tak butuh waktu lama untuk kami sampai di perpustakaan. Dia langsung asyik menyusuri kumpulan buku yang tersusun rapi di raknya. Aku menatapnya nanar. Dia masih saja mendiamkanku. Kukira hubunganku akan membaik mengingat tadi pagi dia sudah menjemputku – suatu hal yang tidak pernah dilakukannya. Tapi bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa di antara kami, masih sulit kulakukan. Aku tidak bisa melupakan kejadian itu – saat Kyoungjae menyatakan perasaannya padaku. Namun, aku juga tidak mungkin untuk terus mengingatnya. Lalu apa yang harus aku lakukan?

“Hhh…”  Aku menghela nafas panjang. Aku mengikuti kegiatan yang dilakukan Kyoungjae. Kususuri perpustakaan ini. Aku membaca setiap judul buku yang aku lewati. Tak ada yang menarik, pikirku. Tapi tunggu dulu. Aku melihat sebuah buku bersampul biru disana – di ujung deretan buku-buku ini. Aku berjalan mendekatinya. “I have many dreams,” gumamku saat membaca judul dari buku itu. Sepertinya bagus. Aku bermaksud mengambil buku itu ketika tiba-tiba kurasakan tanganku menyentuh tangan orang lain yang sepertinya mempunyai tujuan yang sama denganku. “Maaf, tapi aku dulu yang meli…”

“Kau gadis ‘tukang nguping’ itu kan?” potong orang itu yang sontak membuatku membelalakkan mata. Langsung saja kutolehkan wajahku untuk mengetahui siapa orang yang berani memanggilku seperti itu. Dan aku sangat terkejut ketika melihat orang itu – orang yang juga menyebutku dengan sebutan yang sama. Siapa lagi kalau bukan laki-laki aneh yang kujumpai saat proomnite.

“Kau…” ujarku tertahan. Laki-laki itu melirik sekilas padaku dengan tatapan dingin. Dan tanpa kusadari, ia telah berhasil mengambil buku yang menjadi incaranku tadi. “Hey, kau jangan seenaknya mengambil buku itu!” teriakku. Beberapa pasang mata langsung mengarah padaku. Aish… Aku lupa kalau saat ini aku sedang berada di perpustakaan. Itu artinya aku harus berbicara sepelan mungkin, bukannya berteriak seperti tadi.

Kulihat laki-laki yang menjadi lawan bicaraku itu berbalik dan berkata, “Siapa cepat, dia dapat.” Ia kemudian melangkah pergi meninggalkanku. Aku mengepalkan tanganku, menahan amarahku yang sudah dari tadi ingin kukeluarkan. Kalau bukan mengingat ini adalah perpustakaan, aku pasti sudah memarahinya habis-habisan. Awas saja kalau kita bertemu lagi! Kau tak akan selamat! ancamku dalam hati.

“Rin-ah,” panggil seseorang. Aku mencari sumber suara itu dan menemukan Kyoungjae sedang berdiri beberapa meter di hadapanku. Emosiku telah hilang, digantikan dengan  senyum manis yang tersungging di bibirku. Aku senang sahabatku itu masih ingat padaku. Tadinya kupikir dia lupa kalau dia pergi ke perpustakaan bersamaku dan memilih kembali ke kelas sendiri. “Kamu pinjam buku apa?” tanyanya kemudian.

“Molla. Tak ada buku yang menarik. Kamu sendiri pinjam apa?”

“Ini,” ujarnya sambil menunjukkan dua buah buku yang dipegangnya. Aku membaca judulnya dan membuatku mengernyitkan dahi. “English novel?” tanyaku sedikit ragu.

“Yes. It seems good,” jawabnya mantap. Aku menatap Kyoungjae tak percaya. Apa dia yakin akan membacanya? Aku tau kemampuan bahasa Inggrisnya cukup baik. Ah, tidak. Justru sangat baik, menurutku. Dia hebat sekali meminjam dua novel berbahasa Inggris sekaligus. Aku saja, yang menurutku kemampuan bahasa Inggrisku lumayan baik, malas melakukannya. Repot jika harus bolak-balik buka kamus.

“Ayo kembali ke kelas! Sebentar lagi masuk.” Kyoungjae berbalik lalu mulai menjauhiku. Aku tersenyum sinis. Dia bahkan tak menungguku.

***

“Bosaann…” Aku membanting pelan stick PS yang sedari tadi kumainkan. Terpampang jelas di layar TV-ku kata YOU WIN! Entah sudah berapa kali tulisan itu muncul disana. Terlalu mudah bagiku untuk menang jika hanya bermain sendiri. Biasanya aku bertanding melawan kakakku, Sungmin. Tapi hari ini aku harus bermain sendiri. Oppa masih sakit dan butuh banyak istirahat. Padahal hari ini adalah hari Minggu.

Aku melirik jam di dinding. Baru pukul 11, tapi kenapa rasanya lama sekali. Aku menengok ke belakang. Kulihat ibuku sedang asyik membuat desain baju. Beberapa lembar kertas dan majalah berserakan di sekitarnya. “Eomma, aku boleh main di kamar Oppa tidak?” rengekku.

Eomma menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatapku. “Jangan, Sayang! Sungmin sedang tidur. Kamu ingat kata Appa kan? Sungmin harus banyak istrahat. Jadi tolong jangan diganggu dulu ya, Sayang!” jawab Eomma lembut. Aku langsung cemberut. Eomma lalu berkata, “Lebih baik kamu bantu Eomma. Kamu suka mendesain baju kan?” tanyanya masih dengan nada suara yang lembut. Rasanya tenang sekali mendengar suara Eomma. Dan aku ingin membantunya. Tapi, entah kenapa aku sedang tidak mood mendesain baju. Tak ada ide yang muncul di kepalaku.

“Mianhe, Eomma. Aku sedang tidak punya ide,” kataku dengan menyesal. Aku menatap Eomma dan Eomma membalasnya dengan senyuman. “Ne. Tak apa, Sayang. Besok kalau kamu punya ide, kasih tahu Eomma ya. Oke?” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku tertawa melihat tingkah Eomma. Ibuku ini memang lucu. Selera humornya tinggi.

“Eomma tahu dari mana gaya itu?”

“Lho? Di drama-drama seperti ini kan? Eomma sering menontonnya.” Aku kembali tertawa. Dasar Eomma-ku ini benar-benar aneh. Aku jadi ingat saat Eomma menirukan gaya berpakaianku. Terlihat aneh. Tapi dengan pede-nya Eomma berkata, “Eomma kan seorang desainer. Jadi harus ikut perkembangan tren dong!” Seluruh isi rumah langsung tertawa mendengarnya.

“Ini lagi tern kan, Rin-ah?” Eomma bertanya dengan polosnya. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. “Ne, Eomma. Tapi Eomma jangan keseringan melakukannya. Nanti dikira Eomma sakit mata,” candaku sambil mengedipkan mata. Eomma tertawa. Aku juga ikut tertawa.

Tiba-tiba aku mendengar ponselku berbunyi. Tertera nama ‘Minna’ di layarnya. Aku pun menekan tombol OK untuk menerima panggilan darinya. “Yoboseyo,” sapaku ramah.

“Yoboseyo, Rin-ah. Kamu ada dimana sekarang?” tanyanya tanpa basa-basi. Aku mengernyitkan dahi. Aku sedikit curiga dengan pertanyaannya barusan. “Aku ada di rumah. Memang kenapa?” Aku balik bertanya.

“Sebentar lagi aku jemput ya.”

“Eh? Kita mau kemana?”

“Kamu siap-siap aja. Dua puluh menit lagi aku sampai. Annyeong.”

“Tunggu Minna-ya…”

Tuutt… Tuutt… Telepon terputus. Aku menatap ponselku dengan tatapan bingung. Apa yang sedang dipikirkan sahabatku itu? Mau dibawa kemana diriku ini? Pertanyaan itu muncul di benakku. Aku teringat saat Minna melakukan hal yang sama seperti ini dulu. Dia mengajakku ke bioskop. Dan dia juga memintaku menemaninya menonton film yang menurutnya sangat romantis. Tapi menurutku itu film yang membuatku merinding. Aku memang tidak terlau suka dengan film yang ber-genre romantis, karena cerintanya agak berlebihan dan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Setidaknya itu pendapatku. Anehnya, aku ini penyuka fil ber-genre fantasy, yang jelas-jelas tidak pernah terjadi di kehidupan nyata.

“Dari siapa, Sayang?” tanya Eomma yang membuyarkan lamunanku. “Dari Minna. Mm… Eomma, aku ijin keluar ya?” tanyaku sedikit ragu.

“Mau kemana?”

“Molla. Minna yang mengajakku. Sebentar lagi dia kemari.”

“Oh… Baiklah. Eomma ijinkan. Tapi ingat! Pulangnya jangan terlalu malam ya!” pesan Eomma. Aku tersenyum penuh sayang pada Eomma. Aku senang diperhatikan seperti ini oleh Eomma. Appa dan Oppa juga perhatian padaku. Itu tandanya mereka sayang aku ^_^. “Ne, Eomma. Gomawo.”

Dua puluh menit kemudian, seperti yang Minna bilang, ia telah sampai di rumahku. Aku sedikit terkejut saat melihat Hyeri ada disini. “Hyeri-ya, kau juga…”

“Ne,” potong Hyeri cepat. “Gadis ini tiba-tiba saja datang ke rumahku dan memaksaku ikut dengannya,” lanjutnya dengan nada kesal. Aku tertawa mendengar ucapan Hyeri. Aku tahu benar siapa gadis yang dimaksud olehnya. Dan ternyata dia juga bernasib sama sepertiku, dijemput paksa oleh Minna.

“Mianhe Hyeri-ya, Rin-ah… Kepalaku sudah pusing memikirkannya,” kata Minna menyesal.

“Hah?” ujarku dan Hyeri bersamaan.

“Besok adalah hari ulang tahun Eomma Siwon. Aku ingin memberi sesuatu sebagai hadiah. Tapi aku tidak punya ide akan memberikan apa.” Minna berkata panjang lebar. Aku dan Hyeri yang berada di kanan dan kirinya, hanya mendengarkan cerita Minna dengan khusyuk. Saat ini kami sedang berada di kawasan pertokoan Seoul. Berjalan sembari melihat deretan barang yang dijual disini.

“Kenapa kamu tidak mengajak Siwon?” tanyaku tanpa pikir panjang. Kurasa mengajak Siwon adalah pilihan yang paling tepat karenya dia pasti tahu selera ibunya.

“Justru itu. Siwon tidak bisa pergi karena dia ada acara dengan keluarga besarnya. Makanya aku mengajak kalian.” Nada bicara Minna berubah menjadi sedih.

“Baiklah. Kami akan menemanimu,’ ujar Hyeri yang langsung mendapat tatapan senang dari Minna. Tak lupa senyum manis terkembang di bibirnya yang mungil itu, menampilkan lesung pipit di kedua pipi Minna. “Kamu aneh,” kata Hyeri pada Minna, datar. Ekspresi wajah Minna yang tadinya senang, sekarang berubah menjadi cemberut. Aku hanya tersenyum melihat mereka.

“Kamu ingin memberi hadiah seperti apa, Minna-ya?” tanyaku ketika kami sampai di depan sebuah toko yang menjual berbagai jenis tas. Aku melihat melalui kaca etalase toko itu. Minna dan Hyeri mengikuti arah pandanganku. Dan seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan, Minna berkata, “Jangan tas! Itu terlalu mewah sepertinya. Aku ingin memberikan hadiah yang sederhana tapi bagus.”

Aku melirik ke arah Hyeri. Kulihat bola matanya berputar yang menandakan bahwa ia sedang berpikir. “Mm…” Ia bergumam. “Bagaimana kalau sepatu?” lanjutnya. Aku berpikir. Sepertinya bagus juga.

“Andwae!” tolak Minna cepat. “Itu juga terlalu mewah. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Eomma Siwon. Jadi aku tak mau membuat kesan pertama yang buruk di depannya.” Aku menghela nafas panjang. Baru jadi pacar saja sudah pusing seperti ini. Apalagi kalau sudah jadi istri? Aish… Merepotkan! Aku, Minna dan Hyeri kembali berdiskusi tentang hadiah untuk Eomma Siwon.

Dua puluh menit telah berlalu. Aku mulai bosan memilih hadiah yang cocok. Semua ideku ditolak mentah-mentah oleh Minna. “Sudahlah… Kamu beri syal saja,” ujarku akhirnya. Menyerah. Minna dan Hyeri terdiam sejenak. Dan tiba-tiba saja mereka melihatku dengan tatapan serius. “A… Apa?” tanyaku gugup. Aku merasa risih diperhatikan seperti itu.

Minna memegang pundakku dan menatapku dalam. Aku hanya bisa menunjukkan ekspresi bingung. Menebak apa yang akan dia katakan. “Ide bagus! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?” ucapnya yang membuatku lega. “Kajja!” Ia tersenyum kemudian kembali menarik tanganku dan Hyeri.

“Ah… Segarnya!” ujar Hyeri setelah ia meneguk lemon ice miliknya. Aku mengikuti Hyeri dan meneguk minumanku yang kebetulan sama dengannya. Rasanya segar sekali. Di cuaca panas seperti hari ini memang paling enak minum minuman dingin. Apalagi setelah kami berjalan-jalan lebih dari satu jam. Tentunya dengan hasil yang sangat memuaskan untuk Minna. Akhirnya ia membeli syal warna biru– sesuai saranku.

Minna meneguk minumannya paling akhir, setelah memastikan barang yang barusan dibelinya telah aman masuk ke dalam tasnya. Tak ada ekspresi kelelahan di wajahnya. Yang ada hanyalah ekspresi kepuasan karena ia telah berhasil menjelajahi wilayah pertokoan ini demi mencari barang yang awalnya belum jelas bentuknya. Aku tersenyum kecil mengingat saat ia memaksaku ikut dengannya. Betapa egoisnya dia. Sebenarnya aku bisa saja menolak ‘paksaan’ dari Minna. Bukan karena kurangnya rasa kesetiakawananku. Namun cuaca panas yang membuatku malas keluar dari rumah.

Aku melirik Minna yang tengah asyik dengan ponselnya. Biar kutebak. Dia pasti sedang ber-sms-an ria dengan Siwon. Aku tak peduli dengan topik sms mereka. Yang paling penting sekarang adalah menagih upah ‘menemani’ kami. Dalam perjalanan tadi, Minna bilang kalau dia akan mentraktir kami. “Kamu yang traktir kan, Minna-ya?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Ne. Kalian tenang saja!” jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya. “Dan makasih sudah menemaniku,” tambahnya kali ini dengan senyuman yang ditujuan padaku dan Hyeri. Tapi tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi serius. Aku yakin dia sedang memperhatikan sesuatu. “Bukannya itu Donghae Oppa?” gumamnya. Arah pandangan Minna lurus ke depan. Itu berarti ia sedang melihat sesuatu di belakangku karena aku duduk persis di depannya.

Aku dan Hyeri mengikuti arah pandang Minna dan menemukan orang yang kami kenal di sana. Ya, itu Donghae dan seseorang bersamanya, yang kurasa adalah teman Donghae. Hyeri langsung berteriak memanggil Donghae. Tak butuh waktu lama bagi Donghae untuk mengetahui siapa orang yang memanggilnya. Dan seperti yang Hyeri harapkan, Donghae dan temannya berjalan ke arah kami. Semakin membuatku mengenali siapa orang yang bersamanya. Tepat saat mereka sampai di depanku, aku memalingkan wajahku. Berharap tak ada ‘reuni’ antara aku dan teman Donghae.

“Chagi, kenapa kamu disini?” tanya Donghae membuka percakapan.

“Tadi aku habis menemani Minna jalan-jalan. Kamu sendiri sedang apa disini?” Hyeri balik bertanya.

“Kalau aku tadi dari toko buku. Pengennya sih beli buku. Tapi tidak ada yang menarik,” jawab Donghae. Suasana hening sejenak. “Oh ya, kenalkan ini temanku. Namanya…” Belum sempat Donghae menyelesaikan ucapannya, orang yang sedari tadi bersamanya memotongnya dengan berkata, “Kamu ingin bersembunyi? Sudah terlambat.”

Aku tahu benar siapa yang diajak bicara olehnya, karena hanya aku yang memalingkan wajah. Dan seperti apa yang dia bilang, aku memang berniat menyembunyikan diri. Tapi percuma. Dia sudah mengenaliku. Jadi mau tidak mau aku menatapnya. Sangat tajam. “Untuk apa aku bersembunyi? Memangnya aku takut padamu?!” tantangku.

“Tidak. Aku tak pernah berpikir kalau kamu takut padaku. Aku hanya menebak kalau kamu pasti malu sampai-sampai tidak mau melihatku. Ingat kejadian proomnite dulu?? Kau sudah….”

“Ya. Ya,” potongku cepat. “Aku ingat. Aku akui aku memang salah. Tapi aku tidak sengaja melakukannya.” Aku harus membuat orang ini diam. Berbahaya jika dia menceritakan kejadian proomnite itu. Bisa turun harga diriku.

Donghae, Hyeri dan Minna menatapku dan orang itu secara bergantian. Aku yakin mereka pasti bingung. Aku saja bingung kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi. Yang lebih parah dia adalah teman Donghae. Arghh!!

“Kalian sudah saling kenal ya?” tanya Hyeri.

“Tidak.” jawabku dan orang itu bersamaan.

“Wah, kalian romantis. Jawabnya bisa barengan!” celetuk Minna yang sukses mendapat tatapan tajam dariku. Seenaknya saja dia bilang seperti itu. Siapa juga yang mau romantis dengannya??!

Donghae tertawa. “Kalian lucu sekali!” komentarnya. “Ya sudah. Aku kenalkan. Dia adalah sahabatku dan juga teman sekelasku. Namanya Cho Kyuhyun.”

***

To be Continued

Gimana ceritanya? Bagus kah? Atau jelek kah? Oya, FF ini juga aku publish di blog pribadiku. Jangan lupa comment-nya ditunggu ya!! :)

4 thoughts on “[Chapter 2] True Love

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s