[Chapter 4] Social Science

Previous Chapter ~ Teaser :: Chapter 1 :: Chapter 2 :: Chapter 3 ::

burninganchovy’s storyline:

”  Social Science — Chapter 4 “

DISCLAIMER :

Casts are belong to God, their families, and their entertainments.

But a whole story in this ff is MINE. So, if you want to take this FF, don’t forget to write credit ^^

From Author

Annyeong! Adakah yang menunggu lanjutan FF Series Social Science? Setelah lama hiatus, saya balik lagi dengan Social Science Chapter 4. Di chapter ini saya fokusin ke cerita Minhyuk-Jiyoung dan sebagai selingan, ada cerita Minah-Minhyuk juga. Maaf kalo misalnya chapter ini semakin memburuk, baik dari segi cerita ataupun cara penulisannya. T.T *maklum, udah lama gak nulis nih* *derita mahasiswa menuju tingkat akhir*. Ah iya, just for your info aja nih, di chapter ini saya nyisipin Jung Hana’s ringtone di K-drama Love Rain dan lagu KARA yang saya dengerin pas lagi nyelesein ini FF. Lagunya enak lho! Hehe udah deh… Tanpa banyak bacot lagi, HAPPY READING YAA :)

***

[ Chapter 4 ]

Sementara itu, di waktu yang bersamaan, Minhyuk tengah menikmati suasana Taman Duryu yang ramai. Minhyuk duduk pada sebuah bangku, lalu melemparkan pandangan ke sekelilingnya; ada begitu banyak sepasang muda-mudi jalan bergandengan, tertawa bersama, serta tanpa malu mengumbar kemesraan—seakan dunia hanya milik berdua. Minhyuk tersenyum kecut melihat pemandangan itu, kemudian menundukkan kepalanya. Lelah, hanya itu yang dirasakannya sekarang. Kini ia bersandar pada bangku yang tengah didudukinya, lalu mata sipitnya mulai menatap langit luas. Angin sore itu berhembus kencang menyapu peluh-peluh keringat yang berhasil diproduksi oleh ribuan kelenjar keringat sejak Minhyuk intens menabuh drum di sekolah tadi.

*Flashback*

Taman Duryu, Oktober 2007

Seorang gadis nampak begitu bosan duduk sendirian pada sebuah bangku di Taman Duryu. Ia mengerucutkan bibil mungilnya, memainkan ujung-ujung rambut panjangnya yang ikal, dan sesekali melihat ke sekeliling—berharap seseorang yang sejak tadi ditunggunya akan segera datang.

            Setelah lama menunggu, akhirnya sebuah senyuman manis terpancar dari wajah gadis itu—membuat dirinya makin bersinar. Seorang lelaki berperawakan kurus-tinggi datang menghampirinya. “Mianhae, apakah kau sudah menunggu lama, Minah-ssi—ng, maksudku Minah-ah?” tanya lelaki itu.

            Gadis mungil bernama Bang Minah itu menggeleng sambil tersenyum. “Aniyo… aku belum lama menunggumu, kok, Minhyuk-ah” bohongnya, kepada lelaki itu—lelaki yang sejak hari ini resmi menjadi namjachingunya, Kang Minhyuk. “A-Aku senang kau datang… Aku juga senang kau menerima suratku—Ah, maaf, obrolanku jadi kacau seperti ini. Jadi, sekarang bagusnya kita kemana ya?”

            “Ah, mianhae, Minah-ah.. ini kali pertamaku menjalin hubungan dengan seorang perempuan” balas Minhyuk, yang memutuskan untuk menempati ruang kosong di samping Minah. “Disini juga indah… bagaimana kalau kita mengobrol banyak disini?”

 

Saat itulah pertama kalinya Kang Minhyuk berpacaran—dengan Bang Minah. Minhyuk dan Minah sudah lama saling mengenal, karena sejak kelas 1 SMP, mereka berada di sekolah—bahkan kelas dan bangku yang sama. Karena sering bertemu, Minah mulai menyimpan sebuah perasaan; yang bahkan ia sendiri tak tahu perasaan apakah itu. Setiap kali melihat Minhyuk, jantungnya berdebar-debar. Bahkan, jika suatu waktu Minhyuk absen sekolah, Minah penasaran bukan main—apa yang menyebabkan teman sebangkunya itu tidak masuk sekolah. Sejak perasaan itu mulai ‘mampir’ menghantuinya, mood Minah bergantung pada Minhyuk. Setelah beberapa lama memendam perasaan yang tak menentu itu, akhirnya Minah dapat menyimpulkan bahwa… ia telah jatuh cinta kepada Kang Minhyuk, teman sebangkunya yang sangat pendiam.

            Minhyuk memang sosok lelaki yang sangat pendiam. Namun, ia memiliki banyak sekali penggemar. Dengan sikapnya yang selalu ‘cool’ kepada siapapun, juga kemampuannya di bidang akademik, itulah yang menjadi alasan utama bagi para murid perempuan untuk tidak bisa tidak menyukainya. Karena itulah, Minah—dengan pemikirannya yang masih terlalu kekanak-kanakan saat itu, memutuskan untuk segera menyatakan perasaannya kepada Minhyuk. Beruntung, Minhyuk sama sekali tak keberatan menerima pernyataan cinta Minah. Mereka pun  sepakat untuk berpacaran—genap di bulan kedelapan sejak mereka resmi menjadi ‘teman sebangku’.

          Awalnya, hubungan mereka memang terlihat sangat aneh. Bahkan, begitu kabar bahwa mereka berdua berpacaran menyebar ke seantro sekolah, tak sedikit murid perempuan yang memilih untuk tidak percaya dengan kabar itu.

            ‘Aku bahkan tak pernah melihat Kang Minhyuk menggandeng Bang Minah!’

            ‘Aku yakin, saaangat yakin, Minah-lah yang menyatakan perasaannya terlebih dulu!’

            ‘… Dan beruntungnya dia, uri-Minhyuk memang memiliki hati yang baik. Mana mungkin tega membuat seorang yeoja menangis karenanya! Itu hanya keberuntungan Bang Minah saja…’

            Beberapa ucapan tak sedap yang terkesan memojokkan Bang Minah pun mulai menyeruak. Setiap malam ucapan-ucapan menyakitkan itu terus menghantui Minah–bahkan membuatnya berpikir ulang mengenai status hubungan yang dijalaninya bersama Minhyuk. ‘Sudah cukup lama aku berpacaran dengan Minhyuk, tapi… sampai sekarang… aku belum benar-benar tahu satu hal: Apakah dia juga menyukaiku?’

 

Taman Duryu, Oktober 2009

“Maaf, aku akan terlambat lagi”—Lovely Kang-Goon.

            Minah mendengus pelan begitu selesai membaca pesan singkat dari Minhyuk.  Persis seperti saat pertama kali ia resmi berpacaran dengan Minhyuk, Minah setia menunggui kedatangan namjachingunya pada sebuah bangku kayu—yang kini telah dihiasi dengan tulisan ‘Kang-Goon X Minah’. Minah tersenyum getir membaca tulisan itu—tulisan yang dibuatnya sendiri setiap kali menunggu kedatangan Minhyuk.

            “Maaf, aku terlambat lagi… Aku harus menyelesaikan les drum-ku dulu. Apa yang ingin kau bicarakan, Minah-ah?”

            Sebuah suara—yang sangat familiar—pun terdengar menyapanya. Minah membalikkan badannya, lalu tersenyum. “Gwenchana…”

            “Minhyuk-ah…” panggil Minah, memecah keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Matanya mulai berkaca-kaca. “Bagaimana… kalau… kita… putus saja?”

            “Mwo?”

            “Aku rasa… Kau berhak mendapatkan seorang gadis yang jauh lebih baik dariku. Maaf kalau selama ini aku terkesan ‘memaksamu’ untuk membalas perasaanku. A-Aku… Haha, konyol sekali, kan? Hanya karena aku takut kehilanganmu, tanpa berpikir panjang, aku langsung menyatakan perasaan padamu. Aish, memalukan! Mana ada seorang perempuan yang menyatakan perasaannya terlebih dulu…”

            “… Minhyuk-ah, jika suatu saat nanti kau akan menyukai perempuan, kau harus berani seperti aku.  Kau harus nyatakan perasaanmu secepatnya! Dan, kau harus merubah sikap dinginmu itu… Cukup aku saja perempuan yang akan selalu menunggu kedatanganmu di Taman Duryu ini. Cukup aku saja perempuan yang selalu kau kirimi pesan singkat ‘Maaf, aku akan datang terlambat lagi’. Cukup aku saja…”

            “Baiklah, Kang Minhyuk. Maaf… dan terimakasih untuk dua tahun ini”

            “Annyeong, Kang-Goon”

*Flashback-End*

Mata Minhyuk yang mulai terpejam, spontan meneteskan air mata. Entah kenapa otaknya terus memutar kenangan yang tak ingin lagi diingatnya. Ada perasaan sakit yang begitu hebat, rasa bersalah yang begitu dalam, dan juga perasaan rindu… setiap kali kenangan itu muncul–dan membuat dirinya kacau.

            Minah-ah, apa kabarmu? Apakah kau menjalani hidupmu dengan baik? Apakah kau masih suka melakukan tindakan konyol seperti anak kecil? Apakah kau masih ceroboh akan segala hal? Ini aku–Kang Minhyuk, namja pertama yang membuatmu menangis. Hmm… Minah-ah, kenangan tentangmu kembali lagi. Padahal sudah lama berlalu, tapi kenangan itu… selalu menggangguku. Mungkin karena selama ini aku masih menyimpan satu rahasia yang tak pernah kuungkapkan padamu. Ya, rahasia bahwa aku…

            Aku juga menyukaimu.

            Kau tahu? Saat itu, di hari terakhir kita, aku datang terlambat bukan karena les drum. Aku sibuk menghapal sebuah lagu yang akan kunyanyikan padamu. Bahkan, aku memaksa Jungshin untuk mendengarkan nyanyianku yang… haha, tak seberapa bagus. Kau tahu judul lagu itu apa? Beautiful Woman. Sesuai kan dengan namamu, Minah-ah? Saat itu aku berusaha keras untuk menjadi sosok namja yang sesuai dengan keinginanmu—romantis, perhatian, tapi… kesempatanku saat itu sudah hilang tepat saat kau meminta hubungan kita berakhir.

            Hhh, gwenchana. Semuanya memang salahku, Minah-ah.

            Aku harap kau akan selalu baik-baik saja, dimanapun kau sekarang.

***

“AISH KANG JIYOUNG! APA YANG KAU PIKIRKAN?!”

            Kalimat yang diucapkan dengan nada setengah berteriak itu sudah berulang kali keluar dari mulut Kang Jiyoung. Ia masih saja mengingat perkataan Jungshin, “…Image imut, ceria, kekanak-kanakan, kikuk, wataknya cepat ditebak oleh orang lain. Benar-benar mirip denganmu. Hmmm… benar, pantas saja saat melihatmu aku teringat seseorang. Ternyata kau memang mirip dengan Bang Minah…

            “AISH APA YANG KAU PIKIRKAN?!”

           Mungkin sudah genap seratus kali Jiyoung melontarkan kalimat tanya itu untuk dirinya sendiri. Ia mengacak rambut lurusnya yang dibiarkan tergerai dan sesekali mencubit kedua belah pipinya yang chubby—tanpa mempedulikan orang-orang yang lewat di hadapannya saat itu.

           Ya, Jiyoung masih duduk manis di sebuah halte. Sudah sepuluh menit ia berada di halte itu dengan terus melakukan tiga hal secara berturut-turut. Pertama, Jiyoung akan larut dalam lamunannya. Namun lamunan itu terus memaksanya untuk mengingat ucapan Jungshin mengenai kemiripan dirinya dengan Bang Minah, seorang yeoja yang pernah menjadi yeojachingu-nya Minhyuk. Kedua, Jiyoung spontan mengacak-acak rambut sambil mencubiti pipinya, lalu berteriak ‘AISH APA YANG KAU PIKIRKAN, KANG JIYOUNG?!’. Dan yang terakhir—ketiga. Setelah berteriak, Jiyoung akan terdiam untuk beberapa saat dan tak lama kemudian… sebuah senyuman malu-malu akan menghiasi wajahnya.

           Setiap orang yang sibuk berlalu-lalang di hadapannya hanya bergidik ngeri—mungkin beberapa diantara mereka menganggap Jiyoung adalah salah satu dari sekian murid Haknam High School yang tertekan akan materi pelajaran sekolahnya yang berat. Tapi, toh, Jiyoung tak mempedulikan siapapun yang lewat di hadapannya. Pikiran Jiyoung hanya terfokus pada ucapan Lee Jungshin.

           Kalau aku mirip Bang Minah… itu berarti, ada kemungkinan Minhyuk menyukaiku? Ah! Mungkin saja dia mencari alasan untuk menjadi ‘guru privat’ karena ingin mendekatiku. Aish, dasar Kang Minhyuk~!, pikir Jiyoung sambil senyam-senyum sendiri. Tunggu! Kenapa aku harus senang kalau memang nantinya Minhyuk menyukaiku? Andwae~ Tidak boleh begini.. Aku kan hanya menyukai satu pangeran. Ingat Jung Jinyoung-mu—

          “Kang Jiyoung?”

          Begitu terdengar seseorang memanggil namanya, Jiyoung langsung menoleh. “Kang Minhyuk?” ujar Jiyoung, diikuti dengan jantungnya yang mulai berdegup lebih cepat.

          “Sedang apa kau disini?” tanya Minhyuk, yang kemudian duduk di samping Jiyoung.

          “Ng… Ta-Tadi… Tadi kupikir kau marah padaku. Jadi, aku berniat untuk meminta maaf. Tadi, aku ke rumahmu” jawab Jiyoung gugup. “Aish, sayang sekali! Padahal tadinya aku membawakan takoyaki untukmu, tapi karena kau tak ada di rumah, kurasa Jungshin sudah melahap habis takoyaki itu”

            Minhyuk melirik Jiyoung sebentar, lalu tersenyum.

          Senyuman itu lagi. Aku suka senyuman itu. Aku suka ketika matamu melingkar membentuk lengkungan bersahabat seperti itu, Kang Minhyuk.

           “Kupikir kau akan pulang bersama Jung Jinyoung… pangeranmu itu” celetuk Minhyuk kemudian.

           “Ng… Itu… Yaa, Kang Minhyuk! M-Mana mu-mungkin aku bisa dengan tenang pulang bersamanya saat kau masih marah padaku, hah?!” balas Jiyoung, yang langsung membuang muka—menghindari kontak matanya dengan Minhyuk. “Kau tahu, tadi aku mencarimu kemana-mana! Dan begitu menemukanmu di ruang ansamble, kau malah bersikap acuh tak acuh…”

          “Mianhae” ucap Minhyuk, membuat Jiyoung terpaksa menghentikan luapan rasa kesalnya. Diam-diam, Jiyoung mencoba mengintip ke arah Minhyuk—entah kenapa ia begitu penasaran dengan raut wajah Minhyuk saat ini. “Berikan handphone-mu, Kang Jiyoung”

          “Mwo? U-Untuk apa?” balas Jiyoung sambil menyerahkan handphone-nya kepada Minhyuk dengan ragu-ragu.

          Minhyuk pun menekan keypad handphone kepunyaan Jiyoung, lalu diakhiri dengan menekan tombol dial. Tak lama kemudian, suara instrumen drum pun mengalun kencang. “Lain kali, kalau aku sedang tidak mood mengajar, aku akan memberitahumu”, ujar Minhyuk sambil mengembalikan benda mungil berwarna pink itu kepada sang pemilik. Jiyoung hanya terdiam. Bahkan ia masih memasang tampang kebingungan, sampai-sampai membuat Minhyuk tertawa melihatnya. “Hei, apa lagi yang kau pikirkan? Ayo, kutemani kau pulang, sudah malam sekali”

Minhyuk menarik lengan Jiyoung dan mengajaknya masuk ke dalam bus yang baru saja berhenti menanti penumpang. Jiyoung mengikuti jejak Minhyuk untuk memasuki bus tersebut. Minhyuk dan Jiyoung duduk pada jajaran bangku yang sama, namun dipisahkan oleh jarak sekitar satu meter. Keduanya duduk pada bangku yang berdekatan dengan jendela. Selama perjalanan, baik Jiyoung maupun Minhyuk, keduanya hanya terdiam sambil sibuk memperhatikan pemandangan di balik jendela bus.

***

Sesampainya di rumah, Jiyoung langsung diinterogasi oleh kedua orangtua, kakak, serta adik perempuannya. Berbagai pertanyaan yang diberikan oleh semua anggota keluarganya itu mengharuskan Jiyoung duduk manis di ruang tamu—untuk menjawab masing-masing pertanyaan. Setelah selesai di-‘interogasi’, barulah Jiyoung diperbolehkan untuk masuk ke dalam kamarnya.

            Jiyoung menghela napas panjang begitu memasuki kamarnya. Matanya melirik ke arah jam digital yang ada di meja belajarnya. 21:30? Pantas saja Eomma dan Appa menginterogasiku dengan berbagai macam pertanyaan. Hari ini aku pulang sangat terlambat, pikir Jiyoung sambil menutup tirai jendela kamarnya. Ah, berarti Minhyuk sudah pulang. Cepat sekali dia pulang, tapi bagus juga… Kalau Eomma dan Appa sampai tahu aku pulang bersamanya, mungkin sampai tengah malam, aku masih duduk di ruang tamu untuk menjawab pertanyaan mereka.

            Jiyoung merebahkan badannya yang kelelahan di atas tempat tidur. Ketika matanya—yang juga kelelahan—mulai menutup, Jiyoung teringat akan sesuatu. Ya, janjinya pada Sulli—janji untuk menelepon Sulli. Apakah Sulli masih terbangun? Lagipula… masalahku dengan Minhyuk kan sudah selesai. Hahah, yah, selesai begitu saja dengan sendirinya, gumam Jiyoung sambil menatap handphone-nya. Ketika akan menelepon Sulli, Jiyoung malah menemukan sebuah nomor telepon pada daftar panggilan keluarnya. Aah, ini nomor handphone-nya Minhyuk, kan?, tanya Jiyoung kepada dirinya sendiri. Ah iya, tadi aku lupa mengucapkan terima kasih padanya karena dia sudah mengantarku pulang! Ottoke yo?

            Jari-jemari Jiyoung pun mulai sibuk menekan keypad handphone-nya. Sudah sembilan kali Jiyoung menuliskan beberapa kalimat yang akan dikirimkannya untuk Minhyuk. Namun sudah sembilan kali juga ia menghapusnya. “Kang Minhyuk, terima kasih kau sudah mengantar—aish, apakah bahasaku ini tidak terlalu formal?” ujar Jiyoung, yang kembali menuliskan pesan untuk Minhyuk. Setelah beberapa lama, akhirnya Jiyoung menemukan kalimat yang tepat sebagai ungkapan terima kasihnya kepada Minhyuk. Dengan segera, ia mengirimkan pesan singkat itu.

 

Minhyuk-ah, gomawo sudah mengantarkan muridmu ini pulang dengan selamat ^^

Selamat malam ^^

–Kang Jiyoung

            Jauh di dalam benaknya, Jiyoung tengah berharap Minhyuk akan membalas pesannya. Setidaknya hanya dengan satu kata—yang penting Minhyuk membalasnya. Mata Jiyoung yang tadinya kelelahan, kini sudah kembali terang untuk menatap layar handphone-nya.

            Gyeonara! Five six seven eight tam taram taramtam! Gyeonara gyeonara!!

            Suara berisik yang merupakan nada panggilan masuk handphone-nya itu kembali terdengar—dan kali ini sukses membuat Jiyoung kaget bukan main. Dengan pemikiran bahwa yang tengah meneleponnya adalah Minhyuk, tanpa melihat layar handphone-nya, Jiyoung langsung menerima panggilan masuk itu. “Yoboseyo…

            “Yaa~ Jiyoungie~” balas si penelepon, dengan nada kesal.

            Jiyoung langsung menatap layar handphone-nya. Choi Sulli. “Sulli-ah…”

           “Kau ini membuatku menunggu lama, Jiyoung” protes Sulli. “Tadi kau berjanji untuk meneleponku, kan? Hoooaammm… Jadi, apa yang terjadi denganmu dan Minhyuk? Ayo, walaupun aku mengantuk, aku siap mendengarkan ceritamu, sahabatku Kang Jiyoung~”

            Jiyoung tersenyum mendengar suara Sulli yang sudah mengantuk. “Nee~ ara… ara… Akan kuceritakan padamu sekarang. Miaan~ aku baru saja pulang dan baru ingat dengan janjiku padamu. Apa kau sudah siap mendengarkan ceritaku, Sulli-ah? Apa kau yakin, kau tak akan tertidur selagi mendengarkan ceritaku?”

            “Aih, ppalii… Cepat ceritakan padaku, Jiyoung-ah. Aku kan ingin tahu kemajuan hubunganmu dengan Kang Minhyuk, hahaha” walau sudah mengantuk, Sulli masih sempat menggoda sahabatnya itu.

            “Aish, kau ini…” balas Jiyoung yang tanpa sadar sudah tersipu malu. Ia pun mulai menceritakan segala sesuatu tentang sosok Kang Minhyuk yang begitu cool dan misterius—yang menyimpan segudang rahasia dalam dirinya.

***

Why is my heart beating so fast?
Seriously, just by seeing you I get nervous
I keep thinking of what
you are going to say to me
I don’t know whats wrong with me

Shake it, shake it My heart
I can’t take it no more
I feel like saying, “This heart is only for you”

Fresh berry, berry you’re strawberry
I don’t know what to do or what to say
I’m telling you this is how I feel
Sweet cream. cream, You’re cream puff
You’re my sweet dreaming
Receive my heart, my love

(KARA-Strawberry)

Percakapan panjang antara Jiyoung dan Sulli berakhir pada perkataan Jungshin—yang lagi-lagi berhasil membuat Jiyoung tersipu malu mengingatnya. Ada sedikit perasaan lega di hati Jiyoung setelah menceritakan semua tentang Minhyuk kepada sahabatnya, Choi Sulli. Namun di samping perasaan lega itu, masih tersisa perasaan harap-harap cemas yang tak kunjung menghilang. Berulang kali Jiyoung mengecek handphone-nya, berharap akan ada—setidaknya—sebuah pesan balasan dari Kang Minhyuk.

            “Hoooamm… Baguslah! Yaa, Kang Minhyuk, lihat… aku sudah mengantuk sekarang! Aku tak akan lagi menunggu pesan balasan darimu! Aish” gerutu Jiyoung, setelah menguap lebar, kepada benda mungil berwarna pink yang tengah digenggamnya erat. Karena sudah tak kuasa menahan rasa kantuk, Jiyoung pun memutuskan untuk segera berbaring di tempat tidurnya—membiarkan dirinya beristirahat dari semua kelelahan yang dihadapinya hari ini. Perlahan, mata indah Jiyoung mulai menutup dan dirinya mulai terbawa ke alam bawah sadar. Selamat malam Kang Minhyuk, ucap Jiyoung sebelum dirinya benar-benar tertidur.

            Gyeonara!! Five six seven eight tam taram tararam tam! Gyeonara gyeonara!!

            Suara yang berasal dari handphone-nya itu kembali terdengar, namun kali ini, Jiyoung mengacuhkan nada panggilan masuk itu. Jiyoung sudah tertidur nyenyak.

            Gyeonara! Five six seven eight tam taram tararam tam! Gyeonara gyeonara!!

            Lagi, untuk kedua kalinya, suara berisik itu kembali terdengar. Jiyoung yang merasa sedikit terusik pun meraih handphone-nya dan dengan setengah sadar menerima panggilan masuk itu. “Nee~ yoboseyo…”

            “Kang Jiyoung?” sapa si penelepon.

            “Ya, aku Kang Jiyoung, kau siapa?”

            “Hm, karena hari ini kau tidak ‘privat’ denganku, kau harus memahami materi pelajaran Kimia bab Molaritas. Lalu, jawab semua latihan soalnya. Besok akan kita bahas jawabannya sepulang sekolah di perpustakaan sekolah. Arasseo?”

            “Nee~ Arasseo, sonsaengnim~

            Bip. Panggilan masuk yang cukup singkat itupun berakhir. Jiyoung menutup layar handphone-nya dan…

            “AIGOO!!! KANG MINHYUK?!”

***

~ To Be Continued ~

Yosh, otte? Makin jelek-kah FF saya ini? *pasang muka hopeless*

Mau makin jelek atau apapun, saya terima kok, semua saran dan kritikannya.

Thankyou, good reader(s) ^^

25 thoughts on “[Chapter 4] Social Science

  1. Ceritanya g tambah ancur… Tp makin sedih…
    Tp kpn neh minhyuk suka ma Jiyoung klo ia masih inget ama masa lalunya…

    • Tambah sedih? Iya :( disini aku mencoba membuka semua kisah sedih yang menyelimuti Minhyuk, chingu..
      Hmmm, kita tunggu aja lanjutannya ya chingu :D
      Terima kasih udh baca & comment b^^d

  2. Bagus banget eon ^^ tapi post FFnya jgn kelamaan donk, akukan ngga sabar nunggunya ^^
    entah kenapa aku selalu mau Jiyoung beneran jadian ma Jinyoung, wkwkkw biar Minhyuknya ja yang tersakiti XD

    • bagus? jeongmalyo? makasih chingu ^^
      ahh miaan~ selain kemaren kuota inetnya terbatas, aku jg sibuk belajar buat cerita supaya lebih bagus dari chapter kemaren chingu, *semoga usahanya ga sia2 ya :)*

      aaa~ kamu shipper nya jiyoung sama jinyoung ya?
      emm kita liat aja deh entar gimana kelanjutan ceritanya :)
      tapi btw, jangan sampe dong minhyuk tersakiti lagi :(
      *abaikan, authornya lagi labil*

      hehe, makasih udh baca & komment ya chingu :D

      • hehehehehehehehe, nae…
        ani.. aku bukan shippernya mreka. tapi klu udh ketemu crita kyak gini, ngga tau kenapa pengennya cast utama jadi ama pelaku ke 3, wkwkwk
        iya ya, jgan deh… ntar Minhyuknya nangis lagi O,o
        lanjut ya thor ^^

    • bagusnya jiyoung sama siapa yaa? *laah balik tanyaaa
      minhyuk… atau jinyoung yaa? minhyuk? jinyoung? minhyuk? jinyoung?

      terimakasih udh baca &komen chingu^^

  3. wkwkwkw…ngakak pas bgian akhirr..si jjing nya udah bener2 ngantuk eh malah di kasih tugas ma minhyukkk..tega amat sie.. si minhyuk msih saja terbelenggu ma cinta lama lgi “ngegalau nih ceritanya”.. oke author aq tunggu next chapter nya…^^

    • hahah iya tega plus lempeng banget emang si minhyuk itu.. :D
      sipp, tungguin aja yaa ^^ makasih udh komen :D

  4. yaaa…
    aku telat!!!! T_T

    bagus kok ceritanya, author… ^^
    gak tambah ancur..
    minhyuk kasian…. dasar si rapuh… hehe
    lanjut ya thor.. ^^
    ditunggu..

  5. […] [Chapter 4] Social Science (fanficskpopindo.wordpress.com) Share this :TwitterFacebookSurat elektronikCetakLike this:SukaBe the first to like this post. Catatan ini telah ditulis dalam Informasi Pariwisata, Kota Manado, Sulawesi Utara dan di-tag dengan Indonesia, Informasi Pariwisata, Kota Manado, Sulawesi Utara, WordPress.com. Penunjuk permalink. ← Anggota Volksraad Mewakili Kota Manado […]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s