[FF One Shot] Do You Think 3 Days Even Enough?

Title : Do You Think 3 Days Even Enough?

Author : Nicky

Main Cast

Lee Donghae aka WooKi

SaeMi

Length : OneShot

Genre : Romance, School Life

Disclaimer : SaeMi OC punya author… Donghae punya dirinya sendiri meskipun nama castnya dariku..hahaha

Warning : FF ini sudah pernah di publish di blog ku sendiri http://nickisland.wordpress.com/2011/06/05/ffoneshoottell-me-u-think-3-days-even-enough/

Happy Reading, Happy Scrolling ^^

Comments Are Love^^

Yah..Kau pikir begitu mudah memutuskan sesuatu..Aku butuh seumur hidup untuk melakukan segalanya..Hanya 3 hari…3 hari ini dan aku akan mencoba untuk memutuskan apa yang sebenarnya kuinginkan

Day 1

Aku mencoret-coret buku tulis biru yang ada di atas meja.Merasa agak percuma membeli buku lucu tersebut hanya untuk mencatat banyak materi ekonomi. Tetap saja bagaimanapun aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Dan hal ini masih harus aku jalani selama 2 hari lagi.

Awalnya aku benar-benar senang saat namanya diumumkan untuk mengikuti pertandingan dan pelatihan ekonomi tingkat nasional bersama dengan 4 orang temanku, tapi begitu satu persatu temannya berguguran(dan yang tersisa malah orang yang paling ingin kujauhi),aku mulai merasa bosan. Ambisiku masih tetap ada untuk menang,tapi keinginanku untuk bertahan sudah mulai memudar.

“Semua peserta diharapkan hadir di ruang audio visual.”

Aku mengambil handphone kemudian berjalan ke arah yang ditujukan oleh songsaenim botak yang tadi masuk ke kelasku.Aku menatap ke sana ke mari berusaha mencari wajah-wajah ramah yang mungkin saja bisa kuajak berbincang. Huh.. Sia-sia..Semua orang datang ke sini dengan tujuan untuk berkompetisi bukan beramah-tamah.Yaah… Hal yang sebelumnya aku lakukan juga.

“Kelasnya bahkan tidak cukup songsaenim.”Ujar sebuah suara dengan nada geli yang jelas.

Aku berusaha melongokkan kepala mencari asal suara tersebut dan menemukan sosok seorang cowok yang asing. Ia seperti tidak cocok berada di antara kerumunan pelajar yang tegang dan serius.Senyum miringnya bertengger pas di wajahnya yang.. (Aku terkejut saat mengakuinya) cukup tampan. Padahal hampir sama dengan sebagian besar manusia di tempat ini,cowok itu menggunakan kacamata yang cukup tebal.

“Kau masih bisa bergeser agak ke kanan,WooKi ssi.”Ujar salah satu songsaenim yang berdiri di depan.

Cowok itu mengangkat tangannya sembari bergeser ke kanan sesuai perintah. Senyum yang tadinya muncul di wajahnya tiba-tiba menghilang. Aku segera menurunkan wajahku begitu sadar bahwa WooKi pasti menyadari bahwa aku menatap lekat dirinya. Ugh.. Aku merasa bahwa tindakanku memang kurang sopan. Perlahan aku memberanikan diriku untuk mengangkat lagi wajahnya untuk memastikan keadaan.

Tatapan itu.. WooKi masih tidak melepaskan pandangannya dariku. Sisanya selama sesi presentasi, aku sama sekali tidak bisa mengungkapkan apa yang songsaenim katakan. Pikiranku terperangkap pada sepasang mata yang juga tidak berpindah dariku sedari tadi.

***

Day 2

“Yah kau kan bisa dikatakan ranking 2 juga.Bagaimanapun nilai juara pertama dan kedua seimbang.Sedangkan juara 3,4 dan 5 sama nilainya.”

“Tetap saja.. Intinya namaku ada di urutan keempat, DaeRi ah.”Ujarku bosan. Kenapa semua orang senang sekali menempatkan diriku pada kategori-kategori buatan mereka? Itu malah membuatku semakin terbebani. Bagaimana kalau aku gugur? Padahal itu adalah hal yang sedang setengah hati kupikirkan.

Aku menatap kertas urutan 25 orang terbaik hasil tes terakhir. Nama WooKi tepat berada di bawah namaku. Lucu juga kalau menyadari sebelum ini aku sama sekali tidak tertarik atau bahkan menyadari keberadaan nama itu. Nilai cowok itu sama persis pula dengan nilaiku Bukankah itu artinya cowok itu cukup hebat? Padahal ia terlihat paling santai di antara anak- anak lainnya.

“Ada yang kau kenal lagi di sini selainku?”Tanya DaeRi.

Aku menggeleng.WooKi kan tidak termaksud dalam golongan orang yang kukenal, aku hanya tahu cowok itu yang mana.

“Lalu kenapa mereka memanggilmu?”Lanjut DaeRi sambil menunjuk gerombolan anak yang melambaikan tangan kea rahku.

Aku sendiri mengerutkan dahi bingung, tapi didorong rasa penasaran.Aku melangkah juga ke depan kelas, berusaha menampilkan senyum formal yang sudah kupakai bertahun-tahun di dalam kegiatan seperti ini. Well…sopan santun kan tetap diperlukan walaupun aku sering dihadapkan pada mood yang buruk.

“Jonun?Waeyo?”Tanyaku sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kami belum berkenalan denganmu.Aku KyungIn.Salah satu yang namanya ada di 25 besar tes kemarin.”

Aku menyambut uluran tangan di depanku dan berkenalan dengan sekitar 7 orang lainnya. Rasanya agak aneh dengan pergantian suasana yang begitu tiba-tiba seperti ini.Padahal kemarin aku masih mengutuk kelasnya yang super sepi.Apa jangan-jangan hanya kelasku yang seperti itu sedangkan di kelas lain adegan perkenalan seperti ini sudah biasa?

Aku hampir terjatuh saat menemukan tatapan yang sama dengan yang kucari sedari pagi di belakang gerombolan teman-teman baruku. Sepasang mata yang menatapku jenaka,tapi juga dipenuhi kehati-hatian. Sepasang mata WooKi berada di sana. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke arah lain.Memaki diriku sendiri atas kepengecutanku.Ia penasaran..Jelas,siapa yang tidak dengan tatapan seperti itu?Tapi aku juga tidak menyukai fakta bahwa aku harus mengartikan sendiri pandangan WooKi.

Lagi-lagi yang aku lakukan hanyalah mengaburkan pendengaranku. Aku tidak terlalu menelaah apa yang KyungIn katakan (Juga AeRa.DaeSung dan entah siapa lagi sisanya yang malah semakin lama semakin banyak berkumpul di sekitar mereka). Tersenyum simpul pada saat yang lain tertawa dan mengangguk sesekali setiap beberapa saat.

“Bagaimana kalau kita foto bersama?”Seru KyungIn.”WooKi ah..Bantu kami mengambil sebuah foto.”Tambah cewek itu sambil melemparkan blackberrynya ke tangan WooKi yang menangkapnya dengan sigap.Anak-anak lainnya juga melakukan hal yang sama sehingga tangan WooKi dengan segera dipenuhi beberapa handphone.

Aku sendiri terpaksa memasrahkan dirinya untuk ditarik-tarik oleh KyungIn yang mengambil foto lebih dari sekali kemudian tanpa suara mundur teratur menjauhi kerumunan yang masih sibuk berfoto dengan gaya-gaya yang membuatnya harus menahan diri agar tidak tertawa.

“WooKi..WooKi hamnida.”

Terdapat sebuah uluran tangan disamping tubuhku.Aku benar-benar berhenti bernafas saat mendapati suara yang kudengar bukan hanya khayalan.WooKi benar-benar sudah berada di sampingku dengan tatapan dan senyum yang seakan menantang dan berpuas diri karena keberaniannya.

“SaeMi.KimSaeMi.”Ujarku gugup sambil mengambil uluran tangan di sampingku.

“Arrayo..1 ranking di atasku kan?”

“Tidak perlu membahas itu.”

“Benar..Kau hanya beruntung kok karena nama depanmu lebih awal daripada namaku.”

Aku memutar bola matanya,cowok ternyata juga tahu bagaimana cara memutar lidahnya.”Baguslah kalau begitu.WooKi ssi selamat berjuang.Aku akan kembali ke kelas.”

“Yah..Tunggu sebentar.Bagaimana kalau kita berfoto bersama?”Tanya cowok itu tiba-tiba. “Sedari tadi aku hanya mengambil fotomu sendiri.”Bisiknya pelan

“Mwo?Untuk apa?”

WooKi menarik tubuhku agar mendekat kepadanya tanpa menjawab pertanyaanku,”Just smile.”Gumam WooKI sambil membidikkan kamera handphonenya sendiri ke arah kami.”Sekarang berikan alamat emailmu.”

“Untuk apa?”

“Apa kau mendapat nilai tinggi karena kau sangat suka bertanya ya?”Gumam WooKi sambil menjejalkan handphonenya ke tanganku agar aku memasukkan alamat email.

“Yah kan kalau tujuanmu hanya untuk mengirimkan foto itu,lebih cepat kalau kau membluetoothkannya saja.”Gerutuku walaupun tetap mengetikkan alamat emailnya. Setengah bingung kenapa cowok itu tidak sekalian saja meminta nomor handphoneku daripada memakai alasan foto demi alamat email.

“Yah..WooKi..Setelah kau berhasil berkenalan kau malah melupakan kami ya.”Ujar KyungIn tiba-tiba.”Bagaimana kalau kau pindah ke kelas pelatihan kami saja,SaeMi ah.”

“Namaku sudah ada di ruang 3 jadi aku rasa tidak bisa.”Tolakku halus.Aku memang merasa bosan karena di kelasnku, hanya ada DaeRi yang bisa diajakku bicara, tapi kalau dipikir-pikir sepertinya hal itu lebih baik.Dikelilingi orang-orang seramai itu,aku jelas harus terus berpura-pura antusias dan jelas kemungkinan besar aku tidak akan mendapat kesempatan untuk bicara juga.. atau bahkan melamun.

Lagipula ada hal yang tiba-tiba menggantung di pikiranku. Kalimat KyungIn tadi. Apa maksudnya akhirnya WooKi bisa berkenalan denganku?Apa dari awal ini memang direncakan oleh cowok itu?Aku sama sekali tidak tahu harus merasa tersanjung atau malah terganggu. Sebagian dari otakku meneriakkan pernyataan agar aku jangan terlanjur mengira yang tidak-tidak, sedangkan yang sebagian lagi malah bersorak ketika mencium hal-hal yang mencurigakan.

***‘

Aku mengetuk-ngetukkan jari-jari tanganku dengan tidak sabar.Huuff..mengakses web sekolahku benar-benar hal yang menyebalkan.Aku jamin saking banyaknya siswa yang membuka web ini di saat bersamaan,server utamanya menjadi benar-benar lelet.

Aku menggerutu pelan. Bagaimana caranya mau fokus ke perlombaan kalau sekolah dengan kejamnya tetap mewajibkanku untuk mengerjakan seluruh ulangan dan tugas tanpa keringanan apapun.Aku bahkan tetap harus menjalankan hukumanku dari sekolah.Tidak heran orangtuaku dengan tegas melarangku untuk ikut apapun yang ditawarkan oleh sekolah.Percuma kata mereka.. Di saat aku berjuang,aku juga tahu kalau aku tidak mendapatkan penghargaan sepantasnya.

Setelah mendownload seluruh soal-soal yang harus kukerjakan, aku memutuskan untuk mematikan web sekolahku dan membuka account me2day ku. Sudah beberapa hari tidak terurus. Ada beberapa friend request baru dan obrolan-obrolan dari teman-temanku. Aku sudah menduga kemungkinan WooKi mengaddku di me2day sehingga aku segera mengaprovenya tanpa banyak berpikir.

Mungkin cowok itu hanya mau mengirimkan foto mereka?

Apa yang sedang kau lakukan,SaeMi-ah?

Aku membaca sekilas mention dari WooKi yang ditujukan kepadanya. Baiklah.. sedikit mengobrol juga tidak ada salahnya kan?

Belajar..Bisa apa lagi?

Jangan terlalu serius..Lebih baik beristirahat kalau sudah semalam ini.Memangnya bab apa yang sedang kau baca?

Bukan bahan lomba.Tenang saja…Kau selalu punya kesempatan untuk mengalahkanku. Aku sedang mengerjakan tugasku,WooKi ssi.

Tidak ada keringanan dari sekolahmu?Dan panggil aku WooKi saja.

Sialnya TIDAK. Ah ya..apa kau akan mentag foto tadi sekarang?

Tidak ..Tidak hari ini.Lihat saja nanti…

Ya!Ada wajahku di foto itu!Aku jelas berhak memiliki sebagian!

X3 Yang jelas tidak sekarang…Selamat belajar SaeMi-ah..Semoga besok kau lulus juga.Jadi kita bisa ke Jeju Island bersama.

Yakin tidak akan mendapat mention apapun lagi,Aku melog out account me2day ku . Ah yaa..Bsok sudah hari terakhir pelatihan.Hari yang benar-benar kutunggu selama ini.Akan ada tes lagi untuk penyaringan selanjutnya dan aku tidak tahu harus belajar atau menyelesaikan tugas-tugasnya. Dan tampaknya doronganku untuk menang tidak bertambah besar walaupun ada prospek ke Jeju bersama WooKi.Well…tidak sama sekali.

***

Day 3 Is this really our LAST DAY?

Aku bahkan tidak bisa tersenyum balik saat WooKi lewat untuk menyemangatiku. Kepalaku benar-benar berat dan masalahnya bukan karena berisi latihan-latihan ataupun rumus ekonomi,tetapi lebih merunjuk pada kenyataan aku hampir tidak tidur karena mengerjakan tugas dan tidak bisa memusatkan perhatianku pada pertandingan hari ini.

Soal-soal di hadapanku kukerjakan begitu saja.Aku bisa mengerjakan semua soal itu,tapi terlalu malas untuk mengeceknya lagi. Bahkan aku tidak bernafsu untuk protes pada saat kertas jawabanku tidak sengaja menjadi lecek karena ada peserta lain yang menggenggamnya tanpa hati-hati. Tidak seperti biasanya…Aku benar-benar tidak peduli dan berharap hal seperti ini akan segera berakhir.

“Bagaimana tadi?Aku tidak bisa mengerjakan soal nomor 34..Ada yang aneh dan lagi soal terakhir…Apa ada jawabannya?”

“Er..Aku tidak ingat KyungIn ah..Mianhe.”Jawabku pelan.Toh aku sudah setengah yakin kalaupun aku lolos,aku akan mengundurkan diri. Jadwal ujian akhir naik kelas sudah keluar dan itu bertepatan dengan hari-hari pelatihan akhirnya.Maaf saja kalau aku harus mengorbankan nilai-nilai ujianku untuk hal seperti ini.Mending kalau sekolah memberinya nilai tambahan…Sialnya.. Aku hanya bisa berpuas dengan nilai ujiannya tengah semester lalu yang tidak terlalu gemilang.

“Yah..Pokoknya tinggal menunggu pengumuman kan?”Ujar DaeRi.

Aku mengangguk..Ya..tinggal 1 jam lagi terkurung di tempat ini.Tanganku merogoh-rogoh bagian dalam tas untuk mencari lollipop yang sengaja tadi sengaja kubeli untuk mengurangi kebosanan.

“Jeju Island..Jeju Island!!Kita akan pergi ke sana bersama.”Seru WooKi menyemangati semua yang lewat.

“Yah…sepertinya kita sudah dipanggil masuk..”Ujar DaeRi menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah berisi banyak bangku.

WooKi mengambil kursi di depanku dengan senyum lebarnya.Ketara sekali kalau ia memiliki keyakinan yang besar untuk lanjut ke sesi berikutnya.

Nama demi nama mulai disebutkan,tapi sampai nama dengan urutan terakhir, namaku tidak muncul. Aku memaksakan senyumku saat beralih ke arah nama-nama yang tadi disebutkan. Yaa..Walaupun sebagian dari hasil ini adalah keinginanku,tapi rasanya tiba-tiba blank juga saat menyadari bahwa ia juga tersisih dari pertandingan ini.

“Aku tidak percaya kalau kau tidak lolos.”Seru DaeRi.

“Yah..buktinya seperti ini kan..Selamat berjuang ya..”Ujarku tulus.

Aku menyalami begitu banyak anak-anak lainnya yang menghampiriku untuk mengatakan keidakpercayaan mereka.Lama-lama perasaanku malah membaik dengan sendirinya. Benar-benar lega karena akhirnya aku bisa keluar dari rutinitas ini.

“Apa WooKi tidak menghampirimu?”

Aku menggeleng menjawab pertanyaan KyungIn.Sedari tadi aku memang melihatnya mondar-mandir di dekatku,tapi sama sekali tidak menghampiriku.Ia hanya melakukan pekerjaan biasanya.Menatapku dengan sejuta hal yang perlu ditebak.

Permasalahannya,aku sama sekali tidak mood menebak hal itu atau bahkan menghampirinya duluan untuk memberikan selamat.Aku ingat kalau namanya juga disebut tadi sehingga sesuai keinginannya, ia akan pergi ke Jeju Island..Bedanya hanya tidak bersamaku.

“Aku pikir aku sudah harus pulang sekarang.”Ujarku kepada yang lain.Kebetulan mobil sekolahku sudah menunggu sehingga aku bisa menghabiskan waktu 1 jam dengan tertidur di mobil kemudian baru berjalan pulang dari sekolah.

***

Aku merasakan ada yang mengikutiku sepanjang jalan.Dengan tiba-tiba aku menghentikan langkahku sambil menggenggam kuat tas yang ada di tanganku.Bersiap kapanpun menggunakannya sebagai senjata juga bersiap untuk berteriak.

“Yah!Kau menakutiku!”Seruku saat melihat siapa yang ada di belakangku.

WooKi dengan senyumnya yang dipenuhi rasa bersalah dengan gerak-gerik gugupnya. Hal ini bisa terlihat lucu sebenarnya..Ya kalau mereka sedang berada dalam keadaan lain. Masalahnya sekarang apapun yang terjadi tidak akan membuatku merasa gembira.

“Annyong SaeMi ah.”

“Kau mengikutiku sampai ke sini?”Tanyaku heran. Yang benar saja…

“Ada yang harus kukatakan,SaeMi ah…”

“Oh yeah?Sepertinya tidak…Kau bisa mengatakannya tadi sebelum aku pulang kalau memang perkataanmu itu penting.”

“Terlalu ramai tadi di sana.”

“Oh memang sih..Agak memalukan berbincang dengan orang yang tidak lolos.”sindirku

“Bukan seperti itu,SaeMi.Aku tidak terbiasa seperti ini.”

“Lalu?Memangnya itu alasan?Tolong cepat katakan karena biasanya aku tidak membiarkan orang asing mengikutiku.”

“Maksudmu aku orang asing.”

“WooKi ssi.Kita baru berkenalan kurang dari 3 hari.Apakah kau pikir itu cukup untuk memiliki hubungan yang dekat?”

Aku melihat WooKi menghela nafasnya panjang.Pasti baginya menanganiku benar-benar sulit.Ini bukan sifatku yang biasa, tapi aku sendiri juga tidak berniat membuatnya lebih mudah bagi WooKi.

Tidak setelah aku memutuskan untuk keluar dari neraka pelatihan itu sehingga aku sama sekali tidak berniat membawa souvernir apapun termaksud seorang WooKi.

“Well..SaeMi..Aku tahu 3 hari ini jelas tidak cukup untuk membuatku menjadi seseorang yang dekat untukmu.Tapi maukah kau memberiku kesempatan untuk hari-hari berikutnya ?”

“Mwo?”

“Kau jelas mendengar pernyataanku,SaeMi ah.Aku tidak memintamu untuk jadian denganku sekarang,tapi aku minta kesempatan agar kita bisa mengenal lebih jauh.”

Aku menatap tidak percaya cowok di depanku itu.Kalau menurut pada kebiasaanku..Aku jelas akan berjalan menjauh dan meninggalkan cowok itu sendirian di jalan.

“Please..”

Aku mengangguk kemudian tidak tahan untuk tidak tersenyum.Kami berdua sama-sama menertawakan kebodohan dan adegan konyol yang baru saja terjadi…

Ya..3 hari ini memang merupakan neraka dunia bagiku,tapi di situ juga kau mendapatkan awal yang baru dari sebuah tatapan…

10 thoughts on “[FF One Shot] Do You Think 3 Days Even Enough?

  1. Aih kukira genre ceritanya ke arah angst ketika baca judulnya…
    Tertipu. Tp ceritanya seru kok 3 hari si oc depresi sampe segitunya.
    Keep on writing y

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s