Story Of April Chapter 2 [WiL Afterstory] END

Story of April

Tittle               : Story of April

Author                        : dinimnida a.k.a Nh.dini (@nhdni + @qwertao)

Genre              : school life, friendship, AU, im not sure this is romance T,T

Rating             : Teenager

Length                        : Twoshoot (Sequel of What is Love)

Cast                 :

–          Huang Zi Tao (EXO-M)

–          Jung Hyera

–          Kim Jong In -Kai (EXO-K)

–          Kim Younghwa

–          Oh Sehun (EXO-K)

–          Xi Luhan

Disclaimer       :

This is pure my imagination. Semua cast di sini milik tuhan, kecuali Tao, dia milik saya *ditimpuk* FF ini bakal aku post juga di wordpress pribadi aku, di sini

Kata-kata selain bahasa Indonesia bercetak miring karena saya ingin menggukanan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi kalau ada typo, mianhae..

Playlist                        :

–          U-KISS : When Love Stop

–          U-KISS Soohyun ft. Eunyoung : Story of April

Authors Note :

Annyeonghaseyo.. saya kembali dengan lanjutan FF nista ini. Semoga ada yang nungguin ini FF. Pertama, saya mau minta maap sama readers soalnya updatenya lama, anda tahu kan ya saya siswa SMP kelas 9 yang sedang di cekoki oleh test T,T, dari UN kemarin, TO RSBI exam, RSBI exam, dan satu yang belom tuntas yaitu test SMA *curcol*. Kedua, saya rada lama dalam menulis FF ini soalnya dunia fangirl saya lebih menarik daripada dunia FF *eh._. ketiga, lagi sibuk mempertebal keimanan biar gak dipelet sama mas-mas member EXO yang ganteng itu *ngarep._.  keempat, mood juga suka ilang dengan mudahnya pas bikin FF, tapi gara-gara mewek dengerin lagunya Ukiss yang When love stop itu, saya jadi semangat nerusin FF dan jadilah FF nista ancur ini._.

Saya banyak curcol ya? Yaudah Skip aja, langsung baca Ffnya..

***

 before story : What is Love | Story of April Chap 1

20th of April

SOPA-

Oh Sehun. aku sangat membencinya! Haruskah ia berangkat dengan Younghwa ke sekolah? Pulang sekolah bersama? apa dia pikir dia adalah supir pribadi Younghwa? Tsk, aku jadi harus berangkat sekolah sendiri. tapi alangkah beruntungnya appaku punya supir pribadi di Korea. Aku tak perlu menunggu taksi sendirian, lagipula aku baru saja keluar dari rumah sakit. biarkanlah aku menikmati kekayaan orangtuaku. Hehe

“selamat datang kembali ke sekolah tuan putri..” Sehun berakting seperti seorang ajudan dalam kerajaan. Younghwa yang berada di samping Sehun mengikuti tingkah Sehun, menjadi dayang-dayang. Aku belum beranjak dari tempatku turun dari mobil. yeah, aku memang seperti tuan putri sekarang, semua orang bersikap over protektif sekembaliku dari rumah sakit.

“kau benar-benar seperti tuan putri sekarang, awalnya naik taksi bersamaku. Sekarang diantar supir pribadi. Nikmati harimu sebagai tuan putri, nona Jung” Younghwa menundukkan kepalanya untukku. Apakah kau tak menyadari, aku seperti ini karena aku tidak bisa berangkat bersama lagi denganmu karena Sehun telah memilikimu. Aku mengutuk Sehun dalam hati.

“ini semua karena kau!” aku menunjuk muka Sehun.ekspresinya berubah, ia menerutkan keningnya dan menunjuk dirinya sendiri.

“karena kau aku tidak bisa berangkat bersama lagi dengan Youngie!” jawabku ketus. Sehun dan Yunghwa menahan tawa. Kurasa tak ada hal lucu yang harus ditertawakan di sini.

“kau iri dengan kami? Kau sebaiknya mengakhiri masa lajangmu itu Jung-ah”

Aku memandang sengit Sehun.

“huh!” aku mendengus kesal, lalu berjalan meninggalkan ‘young lover’ itu. Berlama-lama dengan mereka membuatku tampak sangat menyedihkan.

“hei, Jung Hyera!” Sulli memanggilku. Aku hanya tersenyum padanya. Dia sangat rindu denganku ya? Dari nada bicaranya, sepertinya ia sangat senang melihatku kembali bersekolah.

“Jungie, oi!”

“kau sudah sembuh?”

“hallo, Jung Hyera!”

“kyaaa.. Hyera sudah sembuh!”

Aku tersenyum untuk semua orang yang menyapaku tadi. Aku senang mereka memperhatikanku dan perduli padaku.

***

            Panas sekali suhu sekolah siang ini. Kurasa sekalng minuman dingin di sebrang sana bisa mengurangi panas yang aku rasakan. Aku segera merogoh saku seragam sekolahku, mengambil koin dan memaskukkannya ke mesin soda(?) ini. Satu kaleng soda sudah keluar. Tapi sebuah tangan lebih cepat mengambil sekaleng soda milikku. Aku melongo, lalu melihat kearah sang pemilik tangan. Kai?

“Kim Jong In..” aku menyipitkan mataku, menatap tajam kearahnya, bahkan suaraku sudah kubuat sedingin mungkin, tapi reaksinya tetap saja santai, tidak perduli dengan tatapan super tajamku ini.

“kau ini, baru keluar dari rumah sakit sudah bertingkah!” Kai membuka soda itu, lalu menegak separuh isinya. Baiklah, aku terima alasannya yang satu ini.

Aku memasukkan lagi koin ke mesin soda ini. Tapi lagi-lagi Kai mengambil soda milikku. Aku menghela nafas berat.

“sudah kubilang jangan minum soda!” Kai menjauhkan soda itu dari jangkauanku saat aku berniat mengambilnya dari tangan kai.

“Kai, itu bukan untukmu! Kembalikan!” jawabku setengah berbisik dengan tatapan mengancam ke arahnya. Karena postur tubuhku lebih pendek darinya, aku harus berjinjit untuk menggapai soda itu, tidak berhasil.

“untuk Tao? Apa kau pikir dia tidak bisa beli sendiri, hah?” Kai melotot kerahku. Hei, ada apa dengannya? Tapi karena kalimatnya barusan, aku jadi terdiam. Tebakannya tepat sasaran, dan aku rasa kalimatnya barusan memang benar.

Kai melenggang pergi tanpa mengembalikan soda itu padaku. Saat ia bertemu dengan Luhan, soda itu sudah berpindah tangan. Apa? Ia memberikan soda itu untuk Luhan? Kenapa ia dengan mudahnya memberikan soda itu untuk Luhan? Ish.

Kurasa aku sudah melupakan hawa panas yang aku rasakan tadi. Aku berbalik ke kelas. Tapi betapa terkejutnya aku, melihat seorang lelaki yang berdiri tegap di belakangku tadi. Kenapa ia ada di belakangku? Jadi dia melihat apa yang aku lakukan bersama Kai, juga mendengar semua perkataan kami berdua? Aish, kurasa Kai sengaja membuatku malu di depannya.

igo. Untukmu, kurasa kau membutuhkannya..” segelas jus jeruk ada di hadapanku. Aku menerimanya.

“kau mau soda?” tawarku pada lelaki ini, Tao. Aku harus mengganti segelas jus jeruk ini dengan sekaleng soda kurasa.

“tidak perlu, aku bisa membelinya sendiri. menyingkirlah..” Tidak adalah kata yang lebih halus dari kata ‘menyingkir’ untuk memerintakanku menjauh dari depan mesin soda ini. Baiklah, lebih baik aku menyingkir ke kelas.

***

            Sebenarnya aku tidak bernafsu untuk meminum jus jeruk pemberian lelaki itu, tapi aku sudah terlanjur haus-lagi-. Alhasil, aku meminum jus jeruk darinya dengan rasa dongkol di hati. Yak, kata-katanya tadi yang membuat mood-ku memburuk. Aish.

igo!” sebuah tangan dan selembar uang tersaji dihadapanku. Bisa kutebak, ini pasti tangan milik Jong In, warna kulitnya yang gelap membuatku tak sulit untuk mengenalinya. Jadi ia berniat mengganti dua kaleng soda milikku tadi?

“kau pikir aku semiskin itu? Apa-apaan kau ini!” aku menatap sinis kearahnya. Lalu membuang muka.

“ya, Jung Hyera. kau ini kenapa?” Kai bergeser ke tempat di mana aku bisa melihatnya.

“kau marah?” iya, aku marah denganmu juga laki-laki itu! Kenapa laki-laki seenaknya saja dalam bertingkah dan berbicara, jawabku dalam hati.

“sudahlah Kai. Waktu istirahat hampir habis, sebaiknya kau kembali ke kelas.” Usirku dengan kalimat yang diperhalus.

mianhae..” Kalimat terakhir Kai sebelum ia menuju ke kelasnya lagi. Dia, Kai mengucapkan kata maaf untukku? Hah, yang benar saja?

“Kau kenapa dengan dia, Jung?” Younghwa datang sesaat setelah Kai pergi, entah darimana.

Aku hanya mengakat bahuku, tidak berniat menjawab apapun. Lalu keluar untuk membuang sisa jus jeruk ini. Aku tidak ada keinginan untuk meminumnya lagi.

“nanti kau bermusik bersama Sehun lagi?” tanya Younghwa sekembaliku ke kursi ‘kebesaranku’ ini. Younghwa memandangku intens.

“ada apa? Kau mau mengajaknya pergi? Pergi saja dengannya, aku nanti istirahat saja di rumah.” Jawabku sambil memainkan sebagian rambutku yang tergerai.

“aa~ jeongmal? Kau mau aku apa? Nanti biar aku belikan?” Younghwa tampak sangat bahagia sekarang. Aku ingin mengganti waktu mereka berdua menemaniku di rumah sakit dengan waktu untuk mereka bersenang-senang layaknya pasangan kekasih lainnya. Lagipula aku belum sepenuhnya pulih, aku belum boleh banyak beraktifitas.

***

            “hey kau!” seseorang berteriak dari arah samping kananku. Aku tidak menoleh karena aku merasa tidak terpanggil, terlebih namaku bukan ‘kau’ ataupun ‘hey’.

“hey Jung Hyera!” derap langkah terdengar mendekatiku, lalu sebuah tangan menepuk pundakku. Aku menoleh.

“ada apa?” tanyaku malas. Aku lelah dan ingin pulang.

“kau mau kemana, Jung-ah? Kau tidak ingat hari jadwal kita berlatih musik bersama?” tanya Sehun dengan deru nafas yang tidak beraturan. Sepertinya ia baru saja berlari.

“Sehunnie, kau tidak ingat kalau aku baru keluar dari rumah sakit kemarin? Aku belum boleh benyak beraktifitas. Lagipula..”

“Oh Sehun!” Younghwa memotong kalimatku. Baguslah, aku tidak perlu memberitahu Sehun kalau Younghwa mengajaknya pergi.

“ada apa Youngie?” raut mukanya dibuat semanis mungkin.tsk. membuatku ingin muntah.

“Sehun-ah, aku ingin jalan-jalan..” Younghwa mengeluarkan puppy eyes-nya. Sehun menengok ke arahku, ia memberikan tatapan ‘boleh aku pergi dengannya?’. Bodoh, tentu saja boleh. aku punya hak apa terhadapnya?

“selamat bersenang-senang!!” aku mendorong tubuh mereka berdua untuk segera pergi. Lambaian tangan tak lupa kulakukan. Aku tersenyum, lalu berbalik dan berjalan menuju gerbang sekolah. Pak Kim pasti sudah menungguku.

***

            Menonton tv tanpa cemilan, pasti bagaikan sayur tanpa garam. Hambar. Ya, sangat hambar. Aku sedang menonton tv tanpa satupun cemilan terhidang di hadapanku. Apa Younghwa tidak pernah memeriksa stok makanan ringan di rumah ini selama aku berada di rumah sakit? ya.. jinjja.

“aaaahhhh…” aku menghela nafas panjang, sekaligus menekan tombol power remote televisiku. Televisiku? Tentu tidak, ini milikku dan Younghwa, hehe.

Aku sedang melewati masa-masa kritis. Nyaris mati karena bosan. Acara tv tidak ada yang menarik untuk dilihat. Gitar? Aku sedang tidak ada mood untuk memainkannya. Aa, yang aku butuhkan hanyalah makanan ringan sekarang.

Bodoh, kenapa aku tidak membeli makanan ringan saja? Lagipula letak supermarket tidak jauh dari sini.

T-Shirtcotton blazer dan celana pendek ini tidak buruk jika digunakan hanya untuk pergi ke supermarket kan? Lagipula aku hanya ingin membeli beberapa makanan. Aku keluar dari apartemen, dan tidak lupa menguncinya lalu menuju ke lift. Apartemenku terletak di lantai 3. Sebenarnya tidak apa-apa kalau aku turun lewat tangga, tapi seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, aku tidak boleh banyak beraktifitas.

Dddrrtt~

iPhone-ku bergetar di dalam saku blazer-ku. Saat aku sudah memasuki supermarket.

Hye-ah, kau ada di rumah?

From : Jong In :p

 

Kai mau ke apartemenku? Tidak biasanya ia bertanya seperti ini. Aku membalas pesannya dengan tangan kiri sementara tangan kananku sibuk memasukkan beberapa makanan ke dalam keranjang belanja milik supermarket ini.

Aku sedang di supermarket, ada apa?

To : Jong In :p

Sent!

Ddrrt~  Kai sudah membalas pesanku. Cepat sekali.

Aku butuh partitur lagu milik Baekhyun yang masih ada padamu. Nanti malam aku ambil di apartemenmu. Jangan lupa belikan aku biskuit ya ^^

From : Jong In :p

Aku tertawa kecil saat membaca pesannya. Memangnya aku ibunya, kenapa dia selalu minta dibelikan biskuit saat ia ingin mengunjungi apartemenku? Arraso Jong In-ah, aku segera menuju rak biskuit.

Arraso Tuan muda Kim ^^,

To : Jong In :p

 

            Tangan kiriku masih mengetik pesan balasan untuk Kai, tangan kananku sedang bertugas mengambil biskuit kesukaan Kai yang sudah aku hafal di luar kepala. Tepat sekali, biskuitnya tinggal satu.

“eung..” heuh, kenapa biskuit ini susah sekali di ambil? Aku menariknya lebih kuat. Sepertinya ada yang menarik biskuit ini dari sisi yang lain. Siapa?

Aku menoleh ke arah biskuit ini.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

“ambil saja” aku melepaskan cengramanku di salah satu sisi kotak biskuit ini.

“untukmu saja” kata lelaki itu dengan aksen chinese yang sangat kental. Siapa lagi kalau bukan Tao? Ah tidak.. kebetulan lelaki Chinese ini Tao.

“tidak, ambilah..” aku menolak uluran sekotak biskuit yang ada dihadapanku ini. “aku ambil yang rasa vanilla saja” jawabku halus.

igo! Aku tahu kau tidak suka vanilla” Tao memasukkan biskuit rasa coklat tadi ke dalam keranjang belanjaku, lalu merebut biskuit vanilla yang baru saja aku ambil. Dia melangkah pergi. Aku tersenyum memandangi sekotak biskuit yang sudah terbaring manis di keranjangku. Aku melupakan sikap Tao padaku tadi saat di sekolah._.

Setelah mengambil item terakhir yang ingin aku beli yaitu yoghurt, aku bergegas menuju kasir. Membayar semuanya.

Agassi, total belanjaan anda 20.000 won” kata sang petugas kasir itu padaku. Aku tersadar dari lamunan sesaatku, lalu merogoh saku celanaku. Di mana dompetku?

Aku merogoh saku sebelah kanan, tidak ada. Sebelah kiri, tidak ada. Begitupun dengan saku depan dan saku blazer-ku. Aku menjatuhkan dompetku, atau aku lupa membawa dompet itu kemari? Ish, sebaiknya aku menelfon Kai.

agassi..” petugas kasir itu mungkin tau kalau aku tidak membawa dompet. aku memaksakan bibirku untuk tersenyum, lalu kembali berkonsentrasi pada ponselku. Kai, kenapa kau tidak segera mengangkat telfonmu?

“hitung bersama barang-barang ini.” Tiba-tiba Tao sudah ada di sampingku dan memberikan barang belanjaannya untuk dihitung harganya. Aku menoleh ke arahnya, sementara ia hanya memberikan pandangan sinis untukku.

“sudah kuduga.” Katanya dingin padaku. Aku menunduk malu.

gamsahamnida.. akan ku ganti uangnya besok,” kataku saat kami sudah berada di depan pintu keluar supermarket ini.

“tidak perlu. Itu tidak masalah” jawabnya enteng tanpa menoleh padaku karena ia tampak sedang mencari sesuatu. Ternyata kunci mobil.

“Tao..” panggilku saat ia selangkah menjauhiku.

“apa?” ia menoleh menghadapku.

“bagaimana kau bisa menduga kalau aku tidak membawa dompet?” tanyaku penasaran. Jangan-jangan ia punya indera keenam?

“….” ia tidak memberikan jawaban apapun, hanya saja… hanya saja ia melirik ke arah pantatku, lebih tepatnya saku celana bagian belakangku, seraya pergi dan tertawa.

mwo? Aishhh…” aku menundukkan kepala dan menggigit bibir bawahku frustasi. Mungkin aku terlihat sangat bodoh sekarang. Mukaku memerah.

***

Author POV

Sungai Han memang memiliki pemandangan yang sangat memukau. Tak heran banyak orang yang datang kemari, berjalan-jalan atau hanya sekedar melepas penat. Biasan cahaya matahari yang dipantulkan oleh permukaan air seolah tampak seperti berlian yang ditimpa cahaya. Udara yang sejuk dan jauh dari kebisingan kota. Mungkin itulah yang membuat banyak pasangan remaja yang datang kemari. Tak terkecuali, Younghwa dan Sehun tentunya.

Mereka tampak serasi berjalan beriringan meskipun mereka masih memakai seragam sekolah mereka. Entah karena merasa canggung atau karena hubungan mereka yang baru berjalan beberapa minggu, mungkin mereka belum berani untuk bergandengan tangan. Namun dalam hati kecilnya, mereka ingin berjalan dengan bergandengan tangan. Juga tak ada satupun yang berbicara. Yang terdengar hanyalah derap langkah mereka.

“Sehunnie..” Younghwa membuka suara.

ne?”

“tidak adakah sesuatu yang ingin kau katakan padaku? Kita terlarut dalam keheningan” Younghwa menghentikan langkahnya. Mengubah arah pandangannya ke Sungai Han.

“kau sendiri?” Sehun ikut mengubah arah pandangannya, lalu ia duduk di hamparan rumput.

“kenapa kau malah bertanya balik padaku?” Younghwa melirik ke arah Sehun, lalu ikut duduk di sampingnya.

“aku tak yakin mengatakannya”

“ayolah, Oh Sehun” Younghwa memandang Sehun yang sedang menatap lurus kedepan.

arraso arraso. Kim Younghwa, pernahkah kau terpikir untuk memanggilku dengan nama atau panggilan sayang?”

“eumm.. bukankah aku sudah memanggilmu dengan panggilan sayang, ‘Sehunnie’ tidakkah itu manis?” jawab Younghwa ragu-ragu. Sehun nampak menundukkan kepalanya, lalu menggaruk rambut yang sebenarnya tidak gatal itu.

“bukan seperti itu.. kau tahu kan, biasanya pasangan kekasih memiliki panggilan sayang, ‘chagiya’ misalnya..”

Chagiya? Tsk. Aku tidak suka” jawab Younghwa ketus. Ia menggembungkan pipinya dan menghadap ke lain arah. Sehun mengacak-acak rambutnya asal. Ia nampak sedikit kesal.

“aish, terserah kau saja! Teruslah memanggilku ‘Oh Sehun’, ‘Sehun-ah’, atau apapun” Sehun berdiri lalu berjalan meninggalkan Younghwa yang menekuk mukanya.

“kau marah?” tanya Younghwa setengah berteriak. Jarak mereka mulai menjauh. Younghwa berdiri.

“….” tak ada jawaban. Sehun masih berjalan. Sepertinya ia benar-benar marah pada Younghwa. Bukannya Younghwa tidak ingin memanggil Sehun dengan panggilan layaknya pasangan kekasih lain, tapi ia hanya tidak mau memanggil atau dipanggil dengan sebutan ‘chagiya’.

“huhh.. kuatkan dirimu Kim Younghwa, fighting!” kata Younghwa pada dirinya sendiri.

“OPPA! SEHUN OPPA!!!” Younghwa berteriak sangat keras, hingga beberapa orang disekitarnya menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh. Sehun ikut menoleh, dan tersenyum. Sebenarnya younghwa sangat ingin memanggil Sehun dengan sebutan oppa sejak dulu, tapi Younghwa malu. Ia menunggu perintah dari Sehun untuk memanggil sehun dengan sebutan oppa tadi, tapi Sehun malah pergi.

Sehun berbalik mendekati Younghwa yang bermuka merah. Younghwa tidak menyangka akan banyak orang yang melihatnya dengan tatapan seperti itu setelah ia memanggil Sehun dengan suara yang sangat keras. Ia berfikir, mungkin ia gadis terbodoh di dunia ini.

“tadi kau memanggilku apa?” bisik Sehun di telinga Younghwa.

“apa kau tuli. Aku sudah mengatakannya sangat keras”

“aku ingin mendengarnya sekali lagi. Jebal..” Sehun menunjukkan failed (?) aegyonya ._.

“kau sangat jelek, Sehun oppa” Younghwa menjulurkan lidahnya, lalu pergi meninggalkan Sehun yang melongo.

“Hyak! Awas kau!!”

***

SOPA – After school

23th of April

Hyera’s POV

Tebak apa yang sedang aku lakukan sekarang. Ya benar sekali, aku sedang melihat Tao berlatih wushu dari lantai atas sekolahku. Di tempat seperti biasa. Aku ingin membayar waktuku untuk melihatnya bermain wushu, karena sakit kemarin aku tidak punya waktu untuk melihatnya berlatih. Tapi kali aku tidak sendiri, disampingku ada Younghwa yang sedang menunggu Sehun selesai berlatih musik bersama Kai. Jika aku fokus pada Tao, maka ia  fokus pada iPod barunya itu. Aku tidak tahu apa yang ia dengarkan.

“kau  tidak ikut berlatih?” tanya younghwa, ia melepas satu earphone-nya.

“tidak. Kai sedang mengerjakan tugas bersama Sehun. apa lagu yang sedang kau dengarkan, eo?”

“oppa-oppa lagi?” lanjutku.

“…” younghwa tidak menjawab, hanya mengangguk dan tersenyum senang, hei matanya juga ikut tersenyum (?).

“Jung Hyera, kau cantik sekali hari ini” Senyum Younghwa makin lebar. Ia bahkan memujiku. Aku hanya bisa menatap nanar ke arahnya. Sepertinya ada yang tidak beres. Bayangkan saja, ia terus-terusan memutar dan menyanyikan lagu Oppa-oppa milik Eunhae SJ sejak kencan Sehun-Younghwa 2 hari yang lalu. Kenapa? Apa sehun membuat Younghwa menjadi aneh seperti ini?

 Drrttt~

From : 031xxxxxxxx

Kuharap kau mau datang ke Namsam tower besok malam. Aku akan menunggumu..

Nomor anonim ini lagi? Sebenarnya siapa? Sungguh aku berharap namja yang sedang berlatih wushu itulah yang mengirim pesan ini, tapi itu tidak mungkin. Bagaimana bisa ia mengirim pesan seperti ini saat ia jelas-jelas sedang berlatih wushu saat pesan ini aku terima, kecuali kalau ia punya kekuatan telepati, bisa mengendalikan sesuatu hanya dengan pikirannya. Aku tahu, Tao hanyalah manusia biasa. Jangan banyak berharap Hye-ah..

To : 031xxxxxxxx

Nuguya?

Sent!

 

Bukankah sebaiknya aku memastikan siapa pengirim pesan ini dulu. hoh, aku bukanlah gadis yang dengan mudahnya pergi menemui orang yang tak jelas siapa. Masih besar kemungkinan kan kalau aku diculik oleh si pengirim pesan ini? Setidaknya appa ku punya banyak pesaing yang yah mungkin saja ingin mencelakai keluargaku. Aku harus ekstra hati-hati.

From : 031xxxxxxxx

Jong In imnida^^

Aku tunggu kau, 7.00 PM KST

 

Kai? Benar saja dugaanku saat di rumah sakit. baiklah aku akan datang tanpa banyak bertanya.

“nona Jung.” Ternyata asisten ayahku sudah datang untuk menjemputku. Baiklah, meskipun aku masing ingin melihat Tao berlatih wushu tapi aku sudah sangat lelah.

“nona Kim, ayo pulang bersama kami” tawar asisten ayahku ini pada Younghwa.

“oh.. aku..” Younghwa kaget.

“biarkan ia pulang dengan kekasihnya, Pak. Youngie, ku tunggu kau di rumah, eo?”

“ah, ne..” jawab Younghwa sekenanya, lalu melambaikan tangannya ke arahku.

***

Namsan Tower

24th Of April

Aku melangkah keluar dari mobil yang aku dapatkan kemarin dari appa-ku. memandang ke arah Namsan tower yang bersinar di gelapnya malam ini. Bintang-bintang juga bersinar sangat terang, aku bahkan bisa melihat rasi bintang orion dengan jelas. Aku melangkah lagi, tak mau membuat Kai menunggu terlalu lama, aku sudah terlambat 15 menit.

“Jong In-ah!!” panggilku saat aku menemukannya sedang duduk di bangku yang ada di sekitar namsan tower ini. Ia menegang, kenapa ia tampak gugup.

“Hye, kenapa kau ada di sini?” ia mengalihkan pandangannya dari layar..eum blackberry nya ke arahku. Sejak kapan Kai menjadi pengguna BB?

“Kai.. Kau tidak ingat, kau yang menyuruhku datang kemari!” hei, ada apa dengan Kai ini. Dia mempermainkanku, huh?

“tidak! Aku tidak memintamu datang kemari!” elaknya.

see! Aku tidak berbohong!” aku menunjukkan inbox ponselku.

“….” ia mengerutkan dahinya, lalu menepuk dahinya yang lebar itu._.v

“aku salah mengirim pesan” katanya panik.

“kenapa aku bisa salah menulis nomor ponselnya..” katanya lirih tapi masih cukup jelas terdengar di telingaku.

“nomor ponsel siapa? Dan kau, sejak kapan kau punya dua ponsel huh?” aku menyipitkan mataku, mengintrogasinya.

“ah.. bukan siapa-siapa.. ponsel ini, eumm.. milik sepupuku, hehe.. mianhae” mencurigakan, nada bicaranya terdengar sangat gugup dan pelan. Aku semakin menatap tajam kearahnya. Kai menampakkan senyum gugupnya, lalu membuang muka.

“kau mencurigakan..”

“apa? Mencurigakan bagaimana? Duduklah, minum ini!” Kai sedikit menggeser posisi duduknya, lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya, mempersilahkan diriku untuk duduk di sebelahnya.

“kau menawariku soda? Tsk! Kau yang melarangku untuk minum soda kemarin, aneh!” aku memukul pundaknya pelan, lalu menolak uluran soda darinya.

“baiklah.. ini saja, aku belum meminumnya” ia menyodorkan segelas bubble tea.

“kau yakin tidak ada racun didalamnya?” candaku.

“aku pastikan kau akan keracunan!” hahaha.. aku tertawa melihat ekspresi kesalnya itu. Sangat lucu menurutku.

“Hye-ah, mianhaeyo..”

“untuk?” kami berdua saling bertatapan.

“terlalu overprotektif terhadapmu, aku bukan tidak suka kalau kau menyukainya.. hanya saja..” Kai menggantung kalimatnya, membuatku harus berfikir apa maksud dari kata-katanya barusan.

“ini masalah, Tao?” aku mulai memahami apa maksud dari ucapannya tadi.

“ne, kau benar. Aku hanya tidak mau kau terlalu ‘bergantung’ padanya, dia akan..” lagi-lagi ia memotong kalimatnya. Tapi yang kali ini aku benar-benar tidak paham dengan apa yang ia bicarakan.

“apa maksudmu, Kai? Aku tidak mengerti” aku menatapnya lebih intens, berharap ia akan meneruskan kalimatnya yang terpotong itu. Tapi sepertinya gagal, ia hanya tersenyum dan mengacak-acak puncak kepalaku.

“sebaiknya kita pulang saja. Udara luar tidak baik untuk kesehatanmu.” Kai menarikku untuk menjauh dari tempat ini.

“tunggu dulu! kita tidak memasang gembok cinta?” candaku.

“dasar gila!” ia mengacak rambutku lebih brutal dari pada tadi.

***

Seoul- …

25th of April

Tebak di mana aku sedang berdiri sekarang? Ditempat yang sama sekali belum pernah aku kunjungi dan aku juga tidak tahu apa nama tempat ini. Hanya berbekal GPS dan kelincahan supirku, aku bisa sampai ke tempat yang indah ini. Menunggu seseorang yang sangat aku harapkan kehadirannya saat ini. Aku duduk terdiam menunggu.

15 menit lagi aku sampai’ aku memandangi pesan yang ia kirimkan padaku 12 menit yang lalu. 3 menit lagi, kuharap dia tidak berbohong kali ini. Satu menit menunggunya sungguh seperti satu hari. Aku menunduk, mengamati tanah dan kerikil kecil yang kalau aku pijaki tanpa menggunakan alas kaki pasti akan melukaiku.

“maaf telah membuatmu lama menunggu” aku menoleh ke sisi kiriku, ke arah datangnya suara laki-laki itu.

“kau datang, 13 menit setelah pesan itu datang kepadaku. Kau tidak terlambat” kataku setelah melihat waktu yang ditunjukkan jarum panjang jam tanganku, lalu tersenyum ke arahnya.

“kenapa kau mengajakku datang kemari?” lanjutku.

“…” ia terdiam, tampak memikirkan sesuatu.

“kenapa diam?” tanyaku, membuatnya menoleh dan tersenyum ke arahku.

“hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu, apa itu salah?” jawabnya singkat setelah duduk disampingku.

“tidak. Kenapa harus sekarang? Bahkan kau baru memintaku untuk datang ke tempat ini tadi pagi. Aneh.” Aku menatap ke arah lain, aku tidak mau ia melihat semburat merah yang tampak dipipiku karena jawabannya tadi.

“karena kurasa sekarang saat yang tepat. Mau berjalan-jalan di sekitar sini?” tawarnya padaku. Aku mengangguk.

Kami berjalan beriringan. Ia menjelaskan setiap inchi tempat ini dengan detail, seolah-olah ia tahu segalanya tentang tempat ini. Aku tidak begitu mendengarkan penjelasannya saat ini, karena fokusku hanya pada daun-daun dan ranting pohon yang ada di kanan dan kiri jalanku. Aku takut serangga, maka dari itu aku harus ekstra hati-hati agar tidak ada serangga yang berani mendekatiku. Kalau bukan karena namja ini, aku tidak mungkin mau datang ketempat seperti ini.

“Tao, jangan lewat jalan itu.. jebal..” aku menarik jaket yang ia kenakan, memerintahkannya untuk mudur. Aku berada satu langkah di belakangnya. Ia menoleh.

“wae?” ia mengerutkan keningnya.

“kita kembali ke tempat tadi itu saja. Ne?” rengekku. Aku tidak mau mengambil resiko yang lebih besar dengan mengikuti arah jalannya menuju jalan yang ditumbuhi tanaman lebih lebat dari jalan yang sekarang aku lalui ini.

“tapi..”

jebal..” aku mengatupkan kedua telapak tanganku, memohon padanya. Ia terdiam lalu berjalan kembali ke tempat tadi kami bertemu.

mianhae..” aku takut ia marah padaku yang seenaknya memerintahnya untuk kembali ke tempat ini.

“aku yang salah, jeongmal mianhaeyo Hye-ah..”

“aku tahu kau takut pada serangga, tapi aku malah mengajakmu kemari. Jeongmal mianhae..” lanjutnya.

Aku tertegun, ia tahu kalau aku takut pada serangga, tapi kenapa ia malah mengajakku ketempat seperti ini? Ada sedikit perasaan yang mengganjal hatiku. Ia sedikit membuatku kecewa.

Kajja..” ia menarik tanganku menjauhi tempat ini menuju, eum.. aku tidak tahu pasti. Sepertinya menuju mobil itu, mobil miliknya.

“kita mau kemana?” tanyaku sesaat sesudah aku duduk manis di mobilnya, sesaat sebelum mobil ini mulai berjalan.

“menonton film, eotte?” tawarnya padaku. Aku mengangguk setuju.

***

            “aaahhh~ filmnya benar-benar bagus. Aku hampir saja meneteskan air mataku.. Taozi.. Taozi.. Huang Zi Tao~ kau tidak mendengarkanku? Kenapa kau malah menghadap kesana? Ada apa?” kenapa dengan anak ini, ia tidak mau menatapku saat aku mengajaknya bicara?

“hyak! Kau menangis? Tsk..” olokku saat aku melihatnya menangis setelah aku membalikkan badannya untuk menghadap padaku.

aa..aniya” ia buru-buru menyerka air matanya dengan punggung tangannya. Namja ini, berhati sensitif rupanya. Kkk~

“huhuhuhuhuhuhu~ Jung Hyera, aku tidak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir ini. Huhuhu~” aku merendahkan nada suaraku, menggodanya. Tapi saat ia menatap tajam ke arahku, aku langsung terdiam. Tatapannya mengerikan sekali T,T membuatku ingin menangis T,T

“yak, kau mau kemana? Tunggu aku..” aku berlari mengejarnya.

***

            Saat ini kami sedang berada di Hongdae. Hari semakin sore, tapi aku belum merasakan lelah yang berarti. Namja ini membuatku nyaman di dekatnya, meskipun hari ini ia sudah menunjukkan (terlalu) banyak smirk-nya padaku, karena aku terus saja menggodanya karena menangis saat menonton film tadi.

ahjuma, kami mau hotdog dua” Tao bilang ia ingin makan hotdog hari ini, makanya aku mengajaknya ke Hongdae untuk merasakan hotdog langgananku.

“tunggu sebentar, eo?” kataku pada Taozi yang sepertinya sudah tidak sabar untuk mencicipi hotdog itu.

“…” ia hanya mengangguk. Diam, dan menunjukkan sikap ‘cool’ yang selalu ia perlihatkan di sekolah.

“nona, ini pesananmu.. aigoo.. kau dan kekasihmu ini serasi sekali..”

mwo?”

gamsahamnida” ish, apa yang dilakukan namja ini, bukannya mengelak malah berterima kasih.

“Huang zi Tao..” aku menyenggol lengannya. Ia hanya menunjukan tatapan ‘apa?’ yang sangat sadis padaku.

Ia membayar sosis bakar ini lalu menarikku pergi mencari tempat untuk bisa menikmati hotdog dan bubble tea  (HunHan eaaaaa._.v) yang sudah kami beli, ah tidak yang sudah ia beli untukku dan untuknya.

“bagaimana rasanya, enak?” tanyaku memastikan apakah hotdog yang aku rekomendasikan untuknya ini terasa enak di lidahnya.

“….” ia tak berkata apapun, hanya terseyum. Aku lega, sepertinya ia menyukai hotdog ini.

“ngomong-ngomong, kenapa tadi kau berterimakasih saat ahjumma penjual hotdog ini menyebut kita pasangan kekasih?” tanyaku asal.

“memangnya kenapa?” tanyanya balik.

“kau menyukaiku ya? Hm?” gurauku.

“ish, kenapa kau bertanya yang tidak-tidak Hye-ah..”

“yak, bilang saja, kau menyukaiku kan?” ledekku sambil menyenggol lengannya. Aku tertawa evil.

“aku rasa.. ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’” nada bicaranya berubah. aneh.. kenapa ia manganggap gurauanku tadi serius. Ia bahkan menatap manik mataku lekat.

“datanglah besok ke incheon, maka aku akan memberitaumu, apakah aku menyukaimu atau tidak.” Lanjutnya.

“Incheon?” kenapa harus ke incheon? Airport? apa ia akan kembali ke China?

“aku akan pulang ke China, ku harap kau mau datang untuk mengucapkan salam perpisahan untukku Jung Hyera.” katanya mantap, dan sukses merobohkan hatiku.

Kemungkinan terburuk itu memang benar. Ia akan kembali ke China.

“Tapi…ah..untuk berapa lama?” kalimat dan pikiranku mulai kacau.

“sampai batas waktu yang tidak ditentukan” aku menahan nafas, menggigit sedikit bibir bawahku agar aku tidak menangis dihadapannya.

***

Incheon Airport

26th Of April

Tadinya aku tak ingin datang ke airport untuk mengantarkan kepergian Tao ke China, ah tidak lebih tepatnya kembalinya ke negara tercintanya, China. Bukan. Bukannya aku tidak perduli padanya, atau membencinya sehingga aku (awalnya) tak mau datang, tapi aku hanya tidak ingin kisahku tentangnya harus berakhir di bandara seperti dalam drama-drama melankolis itu. Air mataku deras mengalir jika melihat scene perpisahan macam itu, lalu bagaimana jika aku harus melakukan ‘scene’ itu? Aku tak yakin..

Entah apa, tapi akhirnya mobilku juga diriku sampai juga di Incheon. Setelah Younghwa memaksaku untuk tetap datang, ditambah lagi ceramah dari Sehun yang aku dapatkan tadi saat ia menjemput Younghwa di apartemen kami dengan hati yang mulai tak berwarna lagi, aku pergi. Sehun bilang, mungkin aku akan menyesal kalau aku tidak datang. Tapi aku rasa, mendengar ‘pemberitahuan’ atas perasaannya padaku akan membuatku lebih menyesal. Aku berpegang teguh pada kata-kata yang Kai katakan untukku..

‘Aku hanya tidak mau kau terlalu ‘bergantung’ padanya’

            Untaian kata-kata itu selalu terngiang di telingaku. Mungkin mengetahui perasaannya teradapku akan membuatku selalu teringat tentang Tao, tentang bagaimana aku memperhatikannya, tentang bagaimana aku menyukainya secepat ini. Tapi aku sudah sampai sejauh ini, mungkin hanya butuh beberapa langkah maka aku sudah akan tiba di kerumunan remaja itu. Ya, tidak lain adalah teman-temanku.

Luhan tampak berat melepas kepergian teman satu negaranya itu. Sehun dan Younghwa yang tampak mengucapkan beberapa kalimat yang aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Baekhyun, yang tampak tersenyum walau dipaksakan, dan semua yang berdiri disana yang aku tak bisa mendiskripsikan satu persatu ekspresinya.

Tao, ia tampak memaksakan senyumnya dan sesekali mengangguk mendengarkan beberapa kalimat perpisah dari teman-temannya. Namun pandangannya tidak terfokus pada satu titik, ia menoleh kesana kemari. Taozi, kau mencariku? Aku di sini ditempat yang dekat denganmu, tapi mungkin kau tak akan bisa melihatku. Aku beruntung bisa menemukan tempat bersembunyi yang tepat. Agar kau tidak bisa melihatku dalam keadaan yang menyedihkan karena mungkin kau akan meninggalkanku di sini, di negara ini, dan mungkin kita tak akan bertemu lagi.

“rupanya kau di sini. Dia sudah menunggumu, mencarimu, dan terus mencarimu Jung-ah~ temui dia” Xi Luhan menemukanku di sini. aku tidak tahu bagaimana ia bisa melihatku.

“Ng. Kau mengagetkanku Luhan-ah..”

“sampai kapan kau hanya berdiri di sini? dengan kau hanya berdiri di sini, tidak akan merubah apapun, ia tetap akan pergi. Ucapkan salam perpisahanmu, Jung Hyera..” Luhan menatapku lebut.

“dengan aku menemuinya kesana, itu juga tak akan merubah apapun. Ia tetap akan pergi, Luhan-ah.. aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.. aku mohon padamu, berbohonglah. Aku mau kau memberitahu mereka kalau aku tidak bisa datang, dan sampaikan salamku untuk Huang Zi Tao..” semakin lama, nada bicaraku semakin rendah. Aku takut, aku akan menangis di sini.

Shire-..”

jebal.. aku mohon Xi Luhan.. jebal..”

***

Huang Zi Tao POV

Hari ini pastilah hari yang paling aku sesali selama 19 tahun hidupku. Aku telah menunggunya, hanya ingin melihatnya dan mendengar satu kata dari mulutnya sebelum aku pergi. Tapi semuanya hanya bisa menjadi anganku saja.

Xi Luhan, pria yang sedang berada di sampingku ini telah berkata bahwa Jung Hyera-orang yang paling ku tunggu kedatangannya di sini-tidak bisa datang. Kenapa Hyera tidak memberi tahuku saja, kenapa harus Xi Luhan?

Saat Kim Younghwa menatapku dengan pandangan iba, aku berfikir. Apakah aku terlihat sangat menyedihkan? Aku seperti seseorang yang akan ditinggalkan orang yang ku cintai, padahal faktanya aku yang akan meninggalkan orang yang ku cintai.

Jung Hyera apakah tak ada satu menit saja waktumu yang tersisa untukku? Untuk memenuhi permintaanku, Hanya untuk berdiri di sini, di depanku dan mendengarkan kalimat yang akan meluncur dari bibirku yang akan memberitahumu betapa aku menyukaimu. Bukankah kemarin kau bertanya apa aku menyukaimu? Apa kau benar-benar tidak mau mendengarkan jawaban dariku?

“Taozi, sudah waktunya kita untuk pergi..” tidak bisakah aku menunggunya lebih lama lagi? Karena sampai saat ini aku masih meyakini jika pesan Hyera yang disampaikan Luhan itu hanyalah gurauan belaka.

“Selamat jalan Huang zi Tao.. jaga dirimu baik-baik di sana” kata Sehun, Luhan menepuk pundakku, dan beberapa teman lainnya mengucapkan-lagi-salam perpisahan untukku.

“selamat tinggal teman-teman, ku harap kita bisa bertemu lagi.” Aku membungkukkan badanku, lalu melangkah pergi.

Hyera-ah.. saat ini aku berharap kau tiba-tiba datang dan menyebut namaku. Menahanku untuk pergi dan mengatakan sebaris kata perpisahan untukku. Dan kau akan tersenyum untukku, atau mungkin menangisi kepergianku. Kau tahu, aku sedang membayangkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

“Jung Hyera!”

Bahkan aku berhalusinasi ada orang yang memanggil namamu di sekitarku. Kau ada di sini?

“Jung Hyera!!”

Sekali lagi aku berhalusinasi. Bahkan namamu terdengar sangat jelas di telingaku sehingga aku harus memutar kepalaku hanya untuk memastikan keberadaanmu, tapi nihil, kau tetap saja tidak ada di manapun mataku melihat saat ini. Aku benar-benar sedang berhalusinasi.

***

Jung Hyera POV

Ia mulai melangkah pergi, dan aku tetap berada di sini. tubuhku kaku mematung di sini.

“Selamat jalan” ucapku lirih

Kau menoleh ke belakang, ada apa? Kau mendengar apa yang tadi aku ucapkan? Kau merasakan keberadaanku di sini? Huang Zi Tao.. teruslah berjalan.

Ketika kau semakin menghilang dari pandanganku dan berjalan menjauh. Kini aku tidak bisa melihatmu lagi. Maafkan aku, aku adalah gadis pengecut yang egois. Aku tak mengindahkan permintaanmu, tapi aku datang bukan?

Setelah ini, setelah detik ini kau akan hidup dalam kehidupanmu yang dulu. tak ada gadis yang menggangu latihan wushu-mu lagi, tak ada gadis yang dengan bodohnya tak membawa dompet saat berbelanja dan-akhirnya-kau yang membayar untuk itu, tak ada lagi gadis bodoh yang akan menabrakmu di incheon airport karena kau tak akan kembali dan tak ada lagi untukku kesempatan untuk menawarimu sekaleng soda di sekolah. Kita kembali ke kehidupan kita yang dulu, sebelum aku dan kau tak sengaja ‘bertemu’ di tempat ini dan menyadari keberadaan kita satu sama lain.

Aku berbalik, aku melihat tempat itu. Tempat yang membuatku mengenalmu lebih jauh, dan akhirnya aku semakin menyukaimu. Moment ketika kita bertabrakan itu kembali terputar, aku berfatamorgana aku bisa melihat moment itu di mataku.

Jika waktu bisa berputar tentulah aku akan menghindari moment itu dan semua ini tak akan berawal dan berakhir, but life is too short to hold back.

Jika kebetulan itu yang membuat kisah ini dimulai, maka perpisahan ini bukanlah kebetulan. Tapi semua berawal dan berakhir di sini, di tempat ini dan di satu bulan yang indah yang bernama April..

***

When at some point, you leave
When this world falls into a deep sleep, please remember
Remember me, who loved you with all my heart
You’re a person I long for even at the moment I look at you
Even in my dreams, do not speak of separation
Even if I’m reborn several times – When love stop

STORY OF APRIL IS OVER

***

                Aaa~ eotteoke eotteoke? Jelek ya? Kurang memuaskan? Pasti jawabannya iya. Jujur ini FF ancur bgt T,T saya sebagai author juga gak dapet feel pas nge-review FF ini lagi. Aduh gimana dong? Minahae jeongmal mianhae T,T endingnya juga gak banget T,T tapi anehnya, kenapa saya nekat ngepost FF ini lagi?

Oiya, buat readers yang kemarin komen minta Kris appa(?) buat dimasukin di FF ini, saya minta maaf, awalnya sih mau diikutin tapi karena endingnya juga saya ubah makanya Kris gak jadi nyempil di FF ini. Mianhae yak, besok saya bikinin FF khusus buat kris deh J

Oke~ Dont Forget to RCL <3 <3

17 thoughts on “Story Of April Chapter 2 [WiL Afterstory] END

  1. Emang sich Feel di dlm cerita ini masih blm dpt. Tp penggunaa kata-kata dan typo-nya da bagus kok makanya di ff lain diusahaain lo. I`ll be waiting your another ff….
    Keep on writing y

  2. aku gatau mu blng ap slain kta DAEBAK wat ff ni…
    Kai tu ska ap sekedar perhatiian si torr??
    *jawab yaa
    aku dpt feel’y kok.. dpt bgt malah mpe nangis satu RT… :*lebaii :D
    pa lg momen perpisahan hmm nyelekitt..
    authorr fighting !! ^^

    • haha, makasih loh #nangisbarengnewolin T,T
      makasih lhooo…
      Kai kan sayang sm hyera soalnya mereka udah temenan lama. bukan suka. kai sukanya sama kamu say *eh ._.v

  3. bagus thor… hehehe
    numpang promote ya?
    Ada yang berminat menjadi admin atau author di exoshidaefanfic.wordpress.com ? Kalau ada, baca syaratnya di blog tsb…

    Mohon bantuannya, karena wp tsb masih baru…
    ~ Kamsahamnidah ~

  4. Aku tersentuh banget terakhirnya ;'( pengen bnget rasa nya nyuruh hyera nahan Tao ;) Good Job ,Author!!!! Lagi ya,FF tntang Tao Love Story nya….

  5. Mau nangis rasanya ngelihat tao pergi..!
    Mau nya sih Hyera nahan Tao…
    Ini bgus banget author!!! Buat lagi donk Tao Love story nya

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s