The Promise//One Shoot

Author : Gita Oetary as Goetary

Cast : Choi Sulli, Kim Heechul

Length : One Shoot

Genre : Sad Romance

No Rating! For all age…

WARNING! Don’t be silent reader! Don’t be plagiator!

Author Notes : Annyeong haseyo ^^ ini ff perdana aku sebagai author disini, please don’t be silent readers. Maaf kalo ada yang salah, yang kurang bahkan yang lebih, silahkan di kritik :)  setiap ff aku di publish ke beberapa blog wordpress dan biasanya selalu di ganti castx, sesuai sarat di blog tersebut ^^ jadi nanti kalo nemu ff aku dengan nama selain Goetary/Gita Oetary is mean the author are plagiarism :)

THE PROMISE

Mei 2015

Masih di tempat ia melepas kepergian Heechul tiga tahun yang lalu. Saat lelaki tersebut berjanji akan kembali untuk wanita itu, yang menunggu kepulangannya dengan sabar. Kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Tak terasa musim dingin sudah berakhir, rasanya baru kemarin ia melihat sakura bermekaran dengan indah.

Sulli menunggu di sana. Udara yang ia hirup berangsur hangat, entah mengapa ia masih menunggu sesuatu yang kedatangannya tidak pernah pasti.

Dua tahun bukan waktu yang singkat, aku pasti menderita tanpa dirimu di sisiku. Hari-hari akan berjalan lambat, hal yang paling kutakutkan adalah ketika aku merindukanmu. Bodohnya aku, sudah pasti aku akan rindu padamu. Bagaimanapun, semua hal masih jelas terukir di benakku.

Sulli-ku yang cantik, aku tahu aku meminta terlalu banyak kepadamu. Aku tahu kalau permintaanku yang ini juga akan membuatmu susah. Tapi, maukah kau menungguku Sulli-a? Sampai aku kembali ke sisimu? Relakah kau menanti kepulanganku?

Jika kau mengabulkan permohonanku yang ini aku berjanji, untuk pulang dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Aku berjanji akan pulang membawa banyak kerinduan untukmu. Aku berjanji akan mencintaimu lebih dari sekarang. Dan aku berjanji aku akan menjadikanmu istriku.

Sulli, maukah kau menungguku?

Tiba-tiba air mata menyeruak ketika memori lama tentang perasaannya saat itu kembali terngiang di pikirannya ketika Heechul melamarnya dalam sepucuk surat yang ia tinggalkan di samping tempat tidur beserta sebuah cincin emas yang sekarang masih melingkari jari manisnya. Meskipun awalnya ia tersenyum karena ingatan tersebut tapi sekarang Sulli justru menangis tersedu.

Semburat merah muncul di langit sore, yang artinya sudah saatnya untuk dia pulang kerumah. Langkahnya berat tertatih. Air mata masih tergenang di pelupuk matanya. Ia lelah. Kenyataannya ia lelah dengan kondisi begini yang sudah berlangsung terlalu lama.

Kalau boleh, Sulli sebenarnya ingin berhenti menunggu. Ia juga ingin bahagia seperti orang lain. Setidaknya bahagia dengan hidupnya sendiri tanpa harus menanggung beban berat akibat mencintai seseorang terlalu lama. Tapi bagaimana jika suatu hari Heechul tiba-tiba kembali? Kalau ia tak ada disana untuk menunggu bagaimana nanti perasaan Heechul?

Pikiran seperti itulah yang setiap hari membawanya kesana. Menanti. Ia sudah berharap terlalu lama. Bermimpi terlalu pagi. Dan mencintai terlalu dalam.

Seminggu kemudian Sulli kembali lagi ke taman itu. Pohon sakura di dekat danau sudah mengering, kelopaknya yang berwarna merah dan putih pun gugur sepenuhnya. Tersenyum miris saat ia berpikir betapa setiap hal di dunia ini bisa berganti seiring perubahan musim, mungkinkah cintanya seperti itu? Seperti janji Heechul, mungkinkah perasaannya telah berubah?

Udara terasa lembab, angin bertiup. Rambut Sulli yang panjang tergerai berkibar sesuai hembusan angin.

Sudah berjam-jam ia berdiri termenung disana. Selama hampir dua tahun, ini sudah menjadi kebiasaannya, datang sepulang kerja dan berlama-lama sampai matahari tenggelam.

Sulli melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya, sudah hampir jam lima. Matahari juga perlahan memudar. Ia mendengus dan memutar badan dengan enggan.

Padahal waktu itu, Heechul berjanji hanya pergi setahun saja. Mungkin dua tahun paling lama. Tapi dia tak pernah kembali. Sampai hari ini, setelah tiga tahun berlalu demikian lambat sejak kepergiannya ke medan perang, lelaki itu tak juga kembali untuknya.

Dadanya terasa sesak. Air mata mengenang, sementara bibir merahnya bergetar lembut. Sulli mendesah dalam diam, ia menangis lagi. Kali ini lebih lama dari biasanya. Ia tak pernah siap menghadapi kenyataan atas kepergian lelaki yang dicintanya. Namun nasibnya malah berkata lain.

Mau tak mau, meskipun berat, Sulli toh harus berjalan ke depan. Mungkin sesekali menengok ke belakang untuk mengenang masa lalunya yang indah. Tapi tidak akan selalu seperti itu. Bagaimanapun juga, ia harus merelakan Heechul, apakah berarti merelakan cintanya juga?

Di balik sebuah pohon seorang pria berdiri bersandar disana. Menyaksikan punggung Sulli yang perlahan berjalan menjauh. Sebenarnya ia ingin berlari kearah wanita itu, memeluknya erat-erat sebelum memberitahukan bahwa dirinya sudah pulang. Tapi ia takut.

Sulli sekali lagi memutar kepalanya, kalau-kalau ada sebuah keajaiban yang membuat lelaki itu ada disana. Dan sekali lagi ia ngin menangis. Matanya yang bulat terbelalak. Heechul tersenyum kaku. Tapi juga tak bisa menahan kesedihan dalam hatinya.

“Oppa?” tanya Sulli ragu sembari berjalan mendekat. Ia menangis saat melihat lelaki di depannya mengangguk. “Oppa…” Sulli mendekap bibirnya dengan kedua tangan.

“Kau masih mengenakannya.” Ucap Heechul dengan suara bergetar melihat gadis itu tak melepas cincin pemberiannya.

Sulli tak begitu memerhatikan ucapan Heechul. Perhatiannya teralih oleh sepasang kaki Heechul yang tak lagi lengkap. Lelaki itu memakai kruk.

“Aku cacat sekarang.”

Sulli membisu.

“Kau pasti takut kepadaku.” Sulli masih membisu dan hal itu membuat Heechul semakin sedih. Dengan berat hati ia memutar tubuhnya untuk beranjak pergi dari sana.

“Oppa…” tiba-tiba Sulli sudah melingkarkan lengannya di pinggang Heechul.

Heechul memutar tubuhnya, air mata tiba-tiba jatuh di pipi Sulli.

“Oppa,” panggil Sulli setengah berbisik, “terima kasih sudah kembali.”

Senyum mengembang di bibir Heechul, air mata juga menetes di pipinya. Ia merengkuh tubuh Sulli dalam pelukannya. Berjanji untuk tidak pernah melepaskannya lagi.

-THE END-

13 thoughts on “The Promise//One Shoot

  1. Dr segi cerita saya kira tidak masalah tetapi klo menurut aku terlalu kependekan tuh one shotnya padahal ceritanya tu lumayan bagus.
    Keep on writing y

  2. waaaa FF.y koq oneshot sich padahal crita.y bagus loch….”
    .pkok.y bwt author.y FIGHTING yaaaa……..”

  3. huhhuhu..kasihan Sulli nuggu 3thn.. tpi endingnya mengharukan.. :)
    Trus kl boleh ku saranin, bwt ff lainnya dipanjangin ea shoot nya ^w^
    =)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s