Faithfulness [1/?]

Judul: Faithfulness [1/?]

Author: Vii-Chan or emibuct24

Cast:

-Kim Jaejoong (DBSK/JYJ)

-Jung Yunmi (Me)

-Shim Changmin (DBSK)

Rating: R

Genre: Romance, tragedy,

Length: Chaptered

OST:    -Insa – TVXQ (Changmin’s side)

-The Boy’s Latter – JYJ

-Fallen Leave – JYJ

-Ring (Banji) – Tiffany/SNSD

Sinopsis: Yunmi hanya gadis biasa yang tidak memiliki apapun didunia ini selain Kim Jaejoong. Hanya pria itu, dan untuk pria itu; adalah prinsip hidupnya. Dan Jaejoong adalah seorang pria muda yang terhanyut akan arus kencang dunia.

Author’s Note: FF ini hanya terpikirkan begitu saja oleh saya saat selesai membaca novel, jadi begitulah… ini juga saya rasa agak dewasa (u,u)a mungkin (?) dan agak teragis (tetep :p) kekekkee~ entahlah… silakan membaca dan menikmati FF yang saya yakini tidak bisa anda mankan (?) jika ada salah kata atau kalimat yang sulit dimengerti silahkan tinggalkan komentar untuk intropeksi saya! Mohon bantuaanya!!!! J

-* * *-

Jung Yunmi…

          Aku terlahir disebuah panti asuhan di pingir kota yang tidak aku ingat sama sekali apa nama-nya. Tapi yang jelas, aku sangat tidak menyukai tempat itu dan tidak akan pernah ingin kembali lagi kesana. Aku memang lupa seperti apa panti asuhan itu, tapi aku masih mengingat jelas rasa sendiri dan terbuang yang kuat disana. Disana adalah kumpulan anak yang terbuang, dan aku merasa diriku begitu menyedihkan dengan julukan itu jadi aku tidak akan pernah menginjakan kaki ketempat itu lagi sekali’pun!

Yang aku ingat aku pernah diangkat oleh seorang keluarga kaya menjadi anak asuhnya, tapi disana aku hanya menjadi budak menyedihkan yang tertindas. Jangan pernah pikirkan Cinderella! Karna aku bukan Cinderella yang mengemis pada peri tua! Itu konyol! Sungguh! Aku menemukan keajaibanku sendiri tanpa perlu mengemis pada peri tua.

Saat itu musim dingin dan aku berhasil melarikan diri dari rumah hanya dengan dress rumah usang, jaket tipis dan tanpa alas kaki! Aku menyedihkan bukan? Setidaknya memikirkan aku bisa keluar dari sana sudah membuatku bahagia. Aku hanya terus berjalan tanpa arah selama  tiga hari. Aku yang belum makan merasa lelah dan kelaparan, mungkin aku bisa melahap hidup-hidup kucing jalanan jika tidak ada orang yang melihatku.

Saat itu aku berjongkok di sebuah semak, menahan dingin dan lapar, menangis meringkuk dengan sangat menyedihkan. Aku tidak memikirkan sama sekali akan kembali kepada panti itu, karna aku sudah bilang bahwa aku benci tempat itu! Mungkin aku hanya menunggu perintah selanjutnya dari tuhan yang akan turun untuk-ku, entah itu kehidupan atau kematian.

Tak pernah ada yang menduga, seorang laki-laki memberikan ku kimbab dinginnya yang sepertinya telah lama ia simpan pada kantung jaket-nya. Dan setelah itu aku hidup bersamanya, bersama laki-laki itu yang bernama Kim Jaejoong.

Lalu aku memutuskan sesuatu setelah bersamanya; Aku hidup untuk-nya dan mati untuknya. Mungkin itu sebagai balas terima kasih-ku padanya karna aku tidak bisa melakukan apapun untuknya. Aku bahkan hanya diam saat dia memberikan seluruh jatah dagingnya untukku dan membiarkan dirinya hanya memakan ramyun dan nasi. Atau, saat dia memyelimutiku yang tertidur nyenyak sedangkan dirinya meringkuk dilantai dengan kedinginan di musim dingin.

Aku tidak mengerti kenapa ia melakukan hal itu, yang pasti dia mengatakan pada-ku bahwa dia sangat menyukai-ku! Jadi aku juga menyukainya! Bahkan aku mencintainya! Aku tidak peduli sekali’pun dia menyuruhku menenggak racun aku akan melakukannya, aku juga akan mengikutinya dengan setia sekali’pun ia pergi ke-neraka. Sudah kukatakan bukan? Aku hidup untuknya dan mati untuknya!

Tapi kau tahu? pada akhirnya tidak ada sakura yang hidup di musim dingin. Begitu juga tidak ada lagi Kim Jaejoong yang aku kenal setelah kami berdua mencoba dunia entertaimen, aku tahu sejak awal bahwa ini tidak akan bagus…

 

-***-

            Entah berapa lama lagi ia harus berdiri dan terus berhadapan dengan kilatan blitz yang membuat kepalanya terasa pusing dan bahkan membuat penglihatannya meremang. Walau rasa lelah telah mengergoti tulang rusuknya tapi gadis dihadapan blitz itu hanya dapat tersenyum dan menampakan beberapa pose dengan Long Crepe Swarovski Dress hitam yang melekat indah ditubuhnya. Sesekali ia menatap pria tinggi yang mematung menatapnya disebelah  komputer sang produser, dari tatapannya ia berharap bantuan pria itu untuk segera menyelesaikan itu semua. Tapi pria itu hanya terus memandangnya dengan mata dengan sorotan yang lembut.

Photografer yang terus mengambil foto gadis itu terhenti dan menatapnya dengan agak jengkel, lalu ia beralih pada pria tinggi disamping komputer itu dan membicarakan sesuatu dengannya. Gadis itu tahu bahwa sedari tadi ia hanya menampilkan pose-pose yang membosankan.

“Gwaenchana, Yunmi-a?”

Gadis bernama Yunmi itu hanya menghela nafas panjang, dan dari sorotan mata gadis itu yang redup pria tinggi itu dapat mengertinya. Tangan pria itu terjulur meraih bahu Yunmi yang begitu kecil dan terkesan rapuh seolah ada beribu ton beban disana dan jika ia lepas makan bahu itu akan lebur menjadi abu, pria itu mengelusnya lembut. “Aku tahu kau lelah, jika kau bisa selesaikan ini… aku janji akan segera membawamu pulang dan memberikanmu 5 kotak susu. Ah! Ani! 10 kotak!”

Yunmi tersenyum lepas mendengarnya, merasakan kelelahan dalam tubuhnya lenyap dengan perkataan itu. “Bawakan aku Yoghurt juga, huh?”

“Tentu!” mereka tertawa pelan dan pria itu sendiri masih sungkan untuk melepas tangannya pada bahu Yunmi, ia benar-benar takut bahu itu melebur menjadi debu jika ia lepas.

“Changmin-a!”

Mata coklat pria bernama Changmin itu menatap penuh pada Yunmi. Gadis itu tersenyum manis, ia mengangkat tangannya untuk menyentuh bahu Changmin dan memukul-mukulnya perlahan. “Fhaiting!” Gumamnya, setelah itu ia mengepalkan tangannya diudara, memberi semangat untuk dirinya sendiri.

Changmin tertawa pelan dan kali ini ia baru berani melepaskan tangannya dibahu gadis itu, walau ia tahu bahu itu begitu rapuh tapi setidaknya sudah ada setumpuk semangat disana untuk menyangangnya.

Pria itu’pun pergi kembali berdiri disamping komputer bersama sang produser disusul dengan datangnya lagi blitz yang menyilaukan dan membuat pandangan Yunmi meremang dengan cahaya putih itu.

Changmin mengecup kilas dahi Yunmi dan setelah itu membiarkan gadis itu turun dari mobilnya. Hal yang selalu ia lakukan pada gadis itu setiap kali ia mengantarnya pulang. Mungkin bagi gadis itu kecupan kilas di dahinya hanya sebuah ucapan selamat malam, tapi ia menikmatinya lebih dari itu.

“Besok kau ku jemput pukul 7 pagi, kita akan ke Daegu untuk syuting CF” Changmin menegaskan suaranya, menunjukan ketegasannya sebagai manajernya—walau sebenarnya perbedaan umur mereka hanya dua tahun lebih tua Changmin.

Yunmi mengangukan kepalanya tanpa bersuara hanya senyum yang terukir dibibirnya.

“Istirahatlah!” Kali ini ia berkata dengan lebih lembut, dengan mata coklatnya yang teduh menatap penuh gadis itu.

Yunmi semakin melebarkan senyumnya dan berlalu menghilang pada pintu utama apartenya yang mewah. Mata coklat pria itu sendiri masih terus mengawasi bahu Yunmi hingga benar-benar menghilang dibalik pintu kaca transparan, taklam setelah itu ia kembali menginjak pedal gas-nya dan melaju membelah jalan.

Yunmi menekan tombol kombinasi untuk apartemennya hingga berbunyi ‘Pririp’ menandakan pintu telah terbuka. Perlahan ia memasuki aparte-nya, jika dulu ia sangat menantikan rumah tapi kali ini ia selalu takut tiap kali harus memasuki rumahnya sendiri. Jika dulu selalu ada pria manis yang akan menyambutnya tapi sekarang hanya pria yang tidak ia kenal.

Yunmi mengendus wangi wine pada ruang keluarganya dan ia menemukan sebotol wine dan dua gelas yang telah kosong dengan sisa wine didalamnya. Yunmi meraih gelas dan botol itu, meletakan botol itu pada kulkas dan mencuci gelas winenya. Walau ada rasa sesak pada dadanya ia tidak dapat melakukan apapun dengan ini semua.

Setelah ia merapikannya ia segera beranjak pada kamarnya, baru saja ia meraih kenop pintunya ia kembali menarik tangannya. Beberapa suara desasan dan jeritan lembut terdengar dibalik pintunya, dan ia mengerti apa lagi yang terjadi kali ini—selalu sama seperti sebelumnya. Gadis itu memilih kembali menjejaki langkahnya sebelumnya dan duduk diruang keluarganya.

Ia menyalakan tv dengan volum tinggi dan meringkuk memeluk kakinya bersandar pada sofa. Ia menarik nafas panjang, mencoba melongarkan ronga dadanya yang terasa terhampit. Terhampit kekasalan, dan ketidak berdayaan. Gadis itu’pun pada akhirnya menengelamkan kepalanya pada lutut kakinya dan terpejam sejenak.

Entah berapa lama ia terduduk seperti itu, hingga pintu kamarnya terbuka dan menampakan seorang pria bersama wanita. Yunmi masih memilih menudukan kepalanya.

Pria itu berambut hitam dan kulitnya seputih susu, dengan bibirnya yang semerah darah. Pria itu merangkul pingang wanita yang keluar dari kamarnya tadi menuju pintu utama rumahnya. Ia mencium wanita itu cukup lama hingga wanita itu menarik diri darinya.

“Huh! Kau ini… sudah, aku pulang!”

Bunyi pintu apartenya mengema meninggalkan pria itu sendiri, pria itu segera menatap ruang keluarganya dan mencari sesosok yang tadi ia lihat. Tapi tidak ada siapapun disana, Pria itu’pun kembali pada kamarnya.

Yunmi melepaskan Long Sleeeved Tops yang ia kenakan dan segera mengantikannya dengan sebuah kaos putih tipis. Baru saja baju itu terpasang pada tubuhnya sebuah tangan meraih pingangnya dan membawanya pada sebuah ciuman. Pria itu mengigit bibir Yunmi, Yunmi sendiri mencoba melepaskan dirinya. Tapi pelukan pada pingangnya semakin ditekankan oleh pria itu dan lagi tengkuk gadis itu tertahan olehnya. Yunmi mangatup rapatkan bibirnya mencoba menolaknya.

Pria itu mengengam kencang pingang Yunmi membuat buku-buku kukunya memutih, dan gadis itu meringis membuat katupan bibirnya terbuka. Tangan kecilnya terus mencoba medorong pria itu untuk menjauh. Perasaan lelah pada dirinya segera mengerogotinya hingga hulu hati mengetahu dirinya tidak dapat berbuat apapun untuk menolaknya. Ia memejamkan matanya menahan rasa sakit yang ia terima saat ini.

Yunmi meremas kencang bahu pria itu dan menanamkan kukunya disana, membuat pria itu agak terkejut dan melepasnya.

“Aku lelah, Jae… Bukankah tadi sudah ada yang mengantikanku?”

Pria bernama Jaejoong itu menatap Yunmi dengan matanya yang tajam, Yunmi segera mundur selangkah menerimanya. Ia tahu ini salah, tapi untuk saat ini ia benar-benar lelah. Lebih tepatnya tubuh rapuhnya tidak tahan jika harus menerima perlakuan kasar, atau bahkan luka baru.

“Kau tahu aku menginginkanmu, dan aku tidak suka penolakan agghasi,…”

Tanpa kalimat dari Yunmi lagi, Jaejoong langsung kembali meraih tubuh wanita itu dan mendekapnya kencang membuat tubuh mereka sangat rapat. Yunmi memejamkan matanya dan merasakan kupingnya terhisap kuat. Ia semakin merapatkan matanya dan mengengam tangan pria itu kencang sambil menancapkan kukunya yang sengaja ia panjangkan, dengan cepat ia mengoreskan luka cukup dalam pada lengan pria itu membuat kulit halusnya memerah dan meneteskan darah.

“Akhg!” Jaejoong berteriak dan melepas Yunmi darinya. Yunmi bergidik mengetahui apa yang baru ia lakukan, sekali’pun ia melakukannya tanpa sengaja ia tahu Jaejoong tidak akan pernah menerima itu. Mata tajam itu kembali menatap Yunmi. Kaki gadis itu yang agak bergetar perlahan mundur teratur.

‘Plak—‘

Yunmi tersungkut dilantai dengan pipinya yang memerah, sebuah tamparan yang sangat kencang telah menghantamnya. Jaejoong segera berjongkok dihadapannya dan maraih dagu gadis itu membuat pandangan mereka bertemu. Sudut bibirnya terangkat menatap tubuh gadis itu yang bergetar.

Yunmi mengigit bibir bawahnya menahan getaran hebat yang mulai menyerangnya, bibirnya yang tergigit kencang’pun mengeluargan darah. Dengan segera Jaejoong menyeka pedarahan itu dengan bibirnya, ia mengisap seluruh darah yang keluar dan setelah itu ia segera memopong gadis itu menuju kasur.

Yunmi masih dapat merasakan bau wanita tadi diranjangnya, walau ia tidak sudi berbaring disana tapi ia tahu tidak ada kesempatan baginya untuk menganti sepray itu. Jaejoong terdiam menatap gadis itu, kali ini dia berada diatas gadis itu.

Yunmi mencoba memalingkan wajahnya ia tidak ingin bertemu pandang dengan Jaejoong, dan ia lebih memilih menatap langit-langit kamarnya yang bercat putih. Tapi pandangan matanya pada langit-langit kamar kali ini terhalangi oleh wajah Jaejoong yang perlahan mendekatinya dan kembali mengigiti bibirnya.

Bukan ringisan lagi seharusnya yang ia lakukan, tapi jeritan. Merasakan jamahan kasar pada tubuhnya yang telah lemah dan tidak berdaya. Bahkan hatinya menangis, merasakan pedihnya jamahan itu. Ia benar-benar tidak menikmati apapun malam itu, selain merasakan tubuhnya perlahan melebur hingga mati rasa. Sekali’pun ia menangis, tidak dapat menghentikan apapun. Dan satu hal yang sangat ia harapkan malam itu; malam cepatlah berlalu.

-***-

                        Yunmi memeluk kencang selimut yang terus membalut tubuhnya, ia berbaring dan tetap terjaga. Saat ini pukul 6 pagi, dan sebentar lagi Changmin akan menjemputnya. Sekali’pun ia lelah, tapi ia tidak ingin tertidur, perasaan sesak pada dadanya yang membuatnya terjaga semalaman. Ia terdiam hingga sosok disisinya bangkin dan beranjak menuju kamar mandi.

Tak lama Jaejoong keluar dari kamar mandinya dan menemukan Yunmi yang masih terbaing kaku dikasur. Sejenak ia hanya terdiam memandang bahu gadis itu yang terbuka dan tidak tertutup apapun, jelas terlihat beberapa memar biru disana. “Hari ini aku akan ke Taiwan, mungkin 2-3 hari…”

Yunmi tidak merespon apapun hingga suara pintu kamar tertutup ia menatap pintu itu dalam diam.

Changmin yang berharap dapat melihat senyum ceria gadis itu malah menemukan wajah muram gadis itu dengan matanya yang menyiratkan kelelahan melebihi kemarin. Bahkan tampilan gadis itu terlihat lebih aneh, ia membalut rapat tubuhnya dengan kous berleher tinggi dan jeans. Dan saat mendapatkan gadis itu setelah berganti pakaian, ia cukup terkejut menemuka beberapa memar biru dan goresan merah ditubuh gadis itu. Bahkan jika ia perhatikan wajah gadis itu ada sedikit memar kecil pada pipinya. Changmin berdiri dibelakang gadis itu dan menatap pantulan Yunmi pada cermin rias dihadapan gadis itu.

“Apa terjadi sesuatu?”

Yunmi tersenyum tipis yang nampak sangat naif, dan Changmin masih terpaku tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Ini bukan kali pertama ia melihat Yunmi seperti ini, namun sesering apapun ia melihatnya seperti ini, ia masih tidak bisa memaafkan dirinya yang entah mengapa selalu merasa bersalah.

“Aigoo! Yunmi-a! Apa kau tidak mengerti seberapa berharganya tubuhmu ini? Aigoo!” Nyonya Gong datang memecahkan kesunyian Changmin dan Yunmi, ia memutari Yunmi dan menatapnya seksama. Matanya memutar jengkel, “Aku tidak peduli masalahmu apa, tapi berapakali aku harus tegaskan padamu bahwa tubuhmu ini berharga lebih dari 10juta won sayang…”

Yunmi terkiki kecil mendapat respon berlebihan penata riasnya, “Kau bisa menutupinyakan?”

Nyonya Gong menghela nafas berat, seberapa sering lagi ia harus menutupi hal ini. Dengan lemah ia menganguk kan kepalanya. Ia tidak mengerti kenapa tubuh serapuh ini masih harus menerima hal seperti ini lagi, bahkan sekali’pun ia samson tidak seharusnya ia terus seperti ini.

Van terus melaju membelah jalan menuju Seoul, Yunmi terduduk lemah disampin Changmin yang terus menatapnya. Changmin memperhatikan tubuh kecil itu terguncang karna jalan yang tidak halus, dan dari matanya yang terpejam rapat ia tahu gadis itu tengah tertidur. Changmin segera meraih gadis itu, menyandarkan kepala Yunmi pada bahunya dan merangkul bahu gadis itu dengan erat.

Changmin tersenyum mendengar deru nafas Yunmi yang pelan dan teratur. Ia meraih jemari gadis itu  memainkannya dengan jemarinya sendiri, dan ia tertawa pelan merasakan jemari gadis itu begitu kecil dan lemah sehingga mudah ia tautkan dengan jemarinya sendiri.

“Apa jemari-ku begitu lucu?”

Yunmi masih terpejam dan tidak mengubah posisinya sama sekali.

“Kau belum tidur?”

“Belum…”

Changmin mengecup lembut kepala Yunmi, “Kalau begitu sekarang kau harus tidur! Jika tidak, cuti mu 2hari aku batalkan!”

Yunmi hanya tersenyum dan terus memejamka matanya, berharap mimpi segera menyelimutinya malam ini.

-***-

A Few Days Later…

 

Dengan deru mobil yang stabil Jaejoong mengendarai Lamborgi-nya membelah jalan, sesekali ia menatap sebuah kota berwarna putih disisinya. Ia tersenyum dan membuka kotak itu, menampakan sebuah kalung berliontin lumba-lumba yang lucu. Melambangkan kesetiaan, seperti seorang gadis manis yang selalu mengikutinya. Ia tertawa pelan memikirkan tawa gadis itu yang sebelumnya selalu mengitarinya setiap hari—walau ia sudah lupa kapan terakhir itu terjadi.

Dengan agak mendadak ia mengerem membuat decitan pada ban dan jalan, dan mata coklatnya menatap seorang pria tinggi merangkul seorang gadis disampingnya. Gadis itu  memjulurkan jus yang ia minum pada pria tinggi itu, saat pria tinggi itu hendak meminumnya ia segera menariknya kembali. Gadis itu tertawa dan berlari menjauhi pria tinggi itu, ia berjalan mundur menuju jalan besar dibelakangnya. Dan secara tiba-tiba pria tinggi itu memeluk gadis itu dengan erat, cukup lama.

Jaejoong tersenyum naif menatapnya dan tanpa perlu pikir panjang lagi ia segera memutar kemudinya, memutar arah, menjauh dari adegan dramatis itu. Kakinya’pun langsung menginjak pedal gas sedalam mungkin, melajukan Lamborgi-nya denga kecepatan penuh.

-***-

                        Yunmi menikmati minumannya dengan sangat baik sambil menghirup udara dingin yang cukup menyejukkan. Changmin sendiri terus merangkul pinggangnya dengan erat, menuntun gadis itu berjalan.

“Apa kau mau minum? juss ini enak loh!”

“Tentu saja enak! Kau membelinya dengan gratis.”

Yunmi tertawa pelan, “Yasudah kalau tidak mau…” Ia kembali menikmati juss-nya lagi.

“Aaa~” Changmin berdesas, “Tengorokan ku kering sekali—“

Yunmi masih meminum juss-nya tidak mempedulikan Changmin.

“Ah! Apa tidak ada orang yang menawarkan minuman padaku? Aku bilang ‘Aku Ha..uu..ss..’, ”

Segelas juss terjulur dihadapan Changmin, dan ia tersenyum senang. Saat pria itu hendak meminumnya, gelas itu tertarik dan selajutnya seorang gadis langsung tertawa melihatnya. Changmin menatap Yunmi yang masih terkikik, dan gadis itu segera menjauh membelakangi jalan—berjalan mundur.

Ia tertawa sambil memperhatikan wajah Changmin yang agak kesal dengan perlakuaanya. Ia terus berjalan mundur hingga tidak menyadari bahwa langkahnya membawanya pada jalan besar. Sebuah mobil melajut kencang dan hampir menyentuh Yunmi, terdengar kelakson mobil itu dengan sangat nyaring, dengan cepat Changmin menarik gadis itu dan memeluknya dengan erat. Perasaan takut akan kehilangan gadis itu langsung memenuhi dirinya, dan ia semakin mempererat pelukannya.

“Cha…Changmin-a!” Yunmi berbisik pelan, mencoba menarik nafasnya. Dipeluk sekencang ini dengan seorang berdada bidang dan tinggi seperti Changmin membuatnya tidak dapat bernafas dengan bebas.

Changmin’pun melepaskannya dan menatapnya tajam, “Apa kau punya otak? Berjalan’lah yang benar! Kau mau membuatku gila, huh?!” Yunmi terpaku bingung dengan kalimat Changmin yang menyerbunya. “Kau… !” Changmin mengantung kalimatnya dan menghela nafasnya kencang.

“Pulanglah! Bukakah kau bilang hari ini dia pulang?” Yunmi masih terdiam tidak mengerti. “Jika dia tahu kau tidak dirumah saat dia datang nanti, bukankah dia akan marah padamu?”

Yunmi mengerjap dan langsung kembali pada kenyataan. Apa yang ia lakukan ditempat ini? kenapa ia melakukan hal seperti ini? dan,… Apa dia sudah gila? Seberapa sering lagi ia harus mendengarkan perkataan Jaejoong yang sangat membenci Changmin. Bahkan pria itu selaru melarang Yunmi berjalan keluar bersama Changmin jika selain masalah pekerjaan. Bahkan ia masih mengingat jelas bagaimana Jaejoong bersikeras menganti manajernya itu dengan orang lain, dan bagaimana ia memohon pada pria itu agar tidak melakukan apapun pada manajernya.

“Kau bisa pulang sendiri?”

Yunmi mengangukan kepalanya dan berlalu pergi. Saat membalikan badannya dan berjalan, mata coklatnya menemukan sebuah Lamborgi merah berjalan menjauh darinya. Ia menatapnya dengan pikiran yang entah apa, ia terlalu bingung memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

-***-

                        Langkah mereka berjalan beriringan, dan Yunmi terus merangkul dengan erat lengan Jaejoong. Yunmi menghirup udara musim gugur yang segar dan agak dingin, “Ah! Udaranya dingin~ aku jadi lapar!”

“Aku berikan makan paling kau hanya bisa menghabiskan setengah porsi.”

Yunmi berdeham panjang mengingat porsi makannya yang memang terlalu sedikit, bahkan bisa dibilang hanya memakan nasi dengan jatah kucing saja ia sudah kenyang. “Aku’kan hanya menyisakan untuk Jaejoong!” Alasannya

Jaejoong tersenyum lebar dan mengelus lembut rambut Yunmi, “Jangan sisakan aku, dan makan saja! Aku akan kenyang jika kau juga kenyang.”

“Kau selalu berkata begitu!” Yunmi mengeluh dan menekuk bibirnya. “Kau kenyang maka aku juga kenyang, kau merasa hangat maka aku juga akan merasa hangat, kau senang aku juga senang,…” Yunmi mengulang seluruh kalimat yang memang pernah Jaejoong ucapkan, “Kenapa kau terus berbohong seperti itu?!”

Jaejoong menatap langit dan tersenyum, “Aku tidak bohong!”

“Aku bukan anak kecil lagi!”

“Umurmu saja belum sampai 17tahun. Kau itu bocah!”

‘Ck!’ Yunmi berdecak kesal dan menatap sinis Jaejoong. “Aku bukan bocah! Beberapa tahun lagi aku juga 17tahun!”

Jaejoong tertawa keras mendengar ucapan Yunmi yang memaksakan dirinya bahwa ia telah dewasa, karna perbedaan usia mereka yang bertau jauh 4tahun gadis kecil ini tidak akan senang jika dia dibilang bocah.

“Jika kau lapar, kau harus katakan itu! Kau kedinginan juga tetap katakan pada-ku! Kau sedih ceritalah pada-ku! Aku juga mau Jaejoong senang,…”

Jeajoong diam beberapa waktu, agak terkejut baginya mendengar gadis berusia 12tahun berucap seperti itu. Terkadang kedewasaan datang tanpa ada batasan usia. Lalu ia tetawa tidak kalah keras seperti yang tadi.

Yunmi menatapnya kesal dan berjalan pergi mendahului Jaejoong, namun Jaejoong segera meraih tangan gadis itu dan memeluknya. “Aku lelah… aku capek… aku ingin kabur… aku juga ingin mati,… tapi aku tidak bisa melakukan apapun,” Suaranya lemah bergetar dan wajahnya ia benamkan dibahu Yunmi dalam-dalam, menutupi air matanya yang telah tumpah membasahi jaket gadis kecil itu.

Yunmi membelai lembut bahu Jaejoong dan terus memeluknya, “Aku sayang Jaejoong… Jadi menangislah agar kau bisa senang kembali.”

Yunmi mengerjabkan matanya dan menemukan langit kamarnya, ia bermimpi. Ia segera menghapus setitik air matanya yang tidak sengaja keluar selama ia tertidur tadi. Yunmi bangkin dan menatap jam, jam 2 pagi. Jaejoong seharusnya sudah pulang pesawatnya bahkan sudah sampai sejak tadi siang, tapi entah kenapa ia belum sama-sekali mendapat kabar pria itu—selain mobil Lamborgi merah yang tadi ia lihat dan ia kira Jaejoong, itu juga tidak terlalu yakin.

Yunmi berjalan menuju dapurnya dan meraih sekotak susu dingin di kulkasnya, ia menuangkannya pada gelas dan saat ia hendak meminumnya pintu apartenya terbuka namun segera tertutup kembali dengan suara yang sangat keras.

Jaejoong muncul tanpa mempedulikannya dan segera memasuki kamarnya, tubuhnya gak linglung terpengaruhi alkohol dan matanya sangat merah. Awalnya Yunmi tidak ingin mengambil pusing dengan itu semua tapi suara hantaman keras dan teriakan Jaejoong mengema dari kamarnya. Tanpa pikir panjang lagi ia segera menuju kamarnya dan menemukan semuanya telah berantakan denga Jaejoong yang terpaku ditengan ruangan.

Jaejoong terus berteriak dan melemparkan seluruh barang-barangnya kesembarang tempat, hampir saja Yunmi mengenai sebuah pot kaca jika gadis itu tidak segera menunduk.

“Jae… Gwaenchana? Jae-a!” Jaejoong tidak mempedulikan gadis itu dan mendorognya kencang, membuat gadis itu terhempas mengenai serpihan kaca yang langsung mengukir goresan dalam dilengannya.

“Kau..!.” Jaejoong meraih benda-benda lain dan melemparkannya pada Yunmi, gadis itu hanya dapat meringkuk dengan kedua tangannya yang mencoba melindungi kepalanya. Ia terus menjerit memangil pria itu, tapi tidak dapat menyadarkan apapun. Sebuah bangku kecil tepat mengenai Yunmi membuat kepala gadis itu terbentur lantai dan menimbulkan luka pada pelipisnya.

Yunmi mencoba bangkit dan berjalan dengan tertatih kearah Jaejoong, “Jae-a… Jaejoong-a!” Ucapanna lemah dan agak tercekak. Dan lagi ia dihempaskan dengan kecang pada dinding membuat dirinya terbentur dan menimbulkan bunyi keras pada bahunya yang mungkin patah.

Belum sempat gadis itu melakukan apapun setelah bangkit, Jaejoong segera mendorongya lagi membuat perut gadis itu berbenturan dengan ujung sudut meja yang agak lancip. Dan aliran darah yang lebih deras mulai mucul disudut bibirnya dan perutnya yang tersudut meja.

“Jae…” Ucapnya lirih, tapi Jaejoong yang seolah terasuki kembali menuju dirinya. Saat pria itu akan mendorongnya lagi dengan segera Yunmi meraih sebuah gitar yang tergeletak pada sudut kamar dan memukulkannya dengan keras mengenai kepala Jaejoong, pria itu’pun pingsan dihadapannya.

Changmin yang terlelap segera terjaga ketika menemukan sebuah pangilan yang masuk di iphone-nya. Ia sedikit mengerutuh kesal mendapat telephone sepagi ini, siapa yang akan menelpon jam 3pagi dini hari?

“Yeoboseo!”

“Cha,..Changmin,..a!” Changmin segera bangkit dari tidurnya setelah mendengar suara lemah Yunmi dengan deru nafasnya yang tergantung.

“Yunmi-a! Gwaenchanayo?”

“Jaejoong!… Ah,.. aku,” Yunmi menghentikan perkataannya dan mencoba menarik nafasnya, Changmin dengan seksama mendengarnya. “Datanglah… rumah-ku,.. kemarihlah!.”

Tanpa menunggu lanjutan perkataan Yunmi, Changin segera meraih jaketnya dan berlari keluar. Ia mengendarai mobilnya dengan cepat dan langsung terhenti dihadapan apartemen Yunmi.

Dengan deru nafas yang memburu ia berlari menuju pintu rumah Yunmi, dan saat dia berdiri dihadapannya detak jantungnya berdetak semakin cepat menandakan kekhawatiran telah menguasai dirinya. Dari cara gadis itu berbicara tadi, ia tahu Yunmi dalam bahaya dan lagi ia membawa nama ‘Jaejoong’. Seperti apapun ia tidak pernah tenang mendengar nama pria itu disebut-sebut Yunmi. Dengan gemetar Changmin mengetok pintu rumah Yunmi, tak lama pintu itu terbuka dan Changmin segera masuk.

Yunmi berdiri dihadapannya bertumpuh pada dinding dengan tangannya dan aliran darah di lengan, pelipis, sudut bibir dan bahkan perutnya. Gadis itu hapir saja tersungkur kelantai jika Changmin tidak segera menangkapnya.

Melihat kedatangan Changmin Yunmi tersenyum tipis, “Cangmin-a..” lalu mata coklat gelap itu terpejam rapat.

-***-

TBC.

5 thoughts on “Faithfulness [1/?]

  1. Sejujurnya aku suka ma jaejoong and yunmi#gak nanya…
    Tp klo ada Changmin disitu rasanya kepingin deh si evil DBSK oni langsung Jd org jahatnya#plak! Terlalu jahat ni orang.
    Alurnya bagus loh meski ada penggunaan beberapa kata kurang pas, tetapi ceritanya Daebak!
    Keep on writing y

    • eh.. hehehehe.. di setujuin jdi malu >///< *pede bgt :P hahahaha.. evilmaknaedbsk!!! ok! thanks komen dan sarannya!!! akan aku perbaiki :3

  2. Thor, kok ceritanya ga dilanjutin? Padahal penasaran banget~ Ceritanya keren banget dan sesuai sama khayalan aku><

  3. wwwwaaahhhhhhhhhhhhhh JJ Oppa bisa juga jadi karakter overprotektif yah cckckckckckckckckk bayangin muka’a yg kaia gitu waahhhhhhhhhh

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s