Fall For You, Noona | Part 4

burninganchovy’s storyline ~ ( http://burninganchovy.wordpress.com/ )

Fall For You, Noona

(Chapter 4)

Read the previous chapter : | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 |

Author’s Note :

Annyeong ^^ udah lama nggak maen kesini. Kali ini saya post lanjutan FFYN ke-4 walaupun dari part sebelumnya kurang banyak peminatnya. Hehe. Kalo yang part ini entar dikit peminatnya (lagi) mungkin saya post di WP saya pribadi. :) Oke deh, happy reading yak, teman-teman!

***

CHAPTER 4 | I WILL FORGET YOU

” Yaa~ Kau sudah sombong sekali sekarang!

Apa kabarmu, temanku yang baik hati?

Bolehkah aku meminta waktumu sebentar hanya sekedar untuk mengobrol sebentar? ”

– Im Yoona –

Begitu menerima pesan singkat dari Yoona, refleks Jonghyun berlari keluar rumahnya dan pergi menuju sebuah tempat. Pasti disana, ucapnya sambil terus berlari. Ingatannya dengan cepat dapat mendeteksi dimana keberadaan Yoona—dan dengan feeling yang kuat, ia tahu apa tujuan Yoona berada di tempat itu sekarang.

            Setelah jauh berlari, Jonghyun menghentikan langkah kakinya pada sebuah taman kecil. Taman itu tak lain adalah taman yang berada di sekitar sekolah Yoogeun, sepupunya. Bukan hanya itu—taman itu juga merupakan tempat dimana ia melewati masa kecilnya bersama Yoona dan Seohyun.

            Jonghyun menunduk, nafasnya masih terengah-engah. Sedangkan tangannya memegangi kedua lutut. Dalam posisi seperti ini, peluh-peluh keringat pun berhamburan jatuh dan mulai membasahi anggota tubuhnya yang lain. Setelah beristirahat sebentar, Jonghyun mulai mengitari isi taman—tentu saja untuk memastikan bahwa Yoona ada di taman itu.

             Namun, setelah lama berkeliling, Jonghyun tak kunjung menemukan sahabatnya, Im Yoona. Sepi.

“Ah, benar…” ucap Jonghyun ketika membungkukkan badannya ke dalam lubang sebuah pipa besar. “Tempat favoritmu masih sama seperti dulu, Yoong~”. Jonghyun akhirnya berhasil menemukan Yoona—yang tengah ‘bersembunyi’ di dalam pipa besar itu.

            Yoona menoleh, tersenyum, lalu bergeser—seolah mempersilakan Jonghyun untuk duduk di sampingnya. “Ayo, masuk”

            Walaupun sempat menggelengkan kepala, Jonghyun akhirnya menurut. Ia duduk di samping Yoona dengan menyimpan rasa bingung. Ada apa dengannya? Tingkahnya aneh sekali.

            “Hmm…” Yoona menghela nafas sambil menyunggingkan sebuah senyuman. “Apa kabarmu, Jonghyunnie~?” tanyanya kemudian, membuat Jonghyun membelalakkan kedua bola matanya. “Aish, kenapa ekspresimu seperti itu? Apakah aneh kalau aku bertanya seperti itu?”

            “A-Anniyo…” akhirnya Jonghyun mengucapkan sesuatu. “Aku… baik-baik saja. Kau sendiri?”

            “Sudah lama sekali kita tak bertemu” ucap Yoona dengan tatapan lurus ke depan—hampa. Selang sepersekian detik, ia menolehkan kembali wajahnya, namun kali ini dengan memasang tampang cemberut. “Yaa~ kemana saja kau, huh?! Apa kau mencoba menjauhiku lagi? Eo’?”

            Jonghyun sempat kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari Yoona. Namun ia memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Sebuah senyum simpul yang diiringi dengan gelak tawa pun menghiasi wajahnya.

            “Yaa~ jawab!” protes Yoona, sambil mengguncangkan badan Jonghyun.

            “Hahaha… Ha… Ha… Hah…” Jonghyun masih tertawa, tidak jelas apa yang tengah ditertawakannya. Namun perlahan, tawa itu menghilang dan kini raut wajahnya berubah menjadi serius. Ia menatap Yoona dalam-dalam. Kau cantik, seperti biasanya. “Hm… aku… Aku telah mendapat kerja paruh waktu, jadi… yah, begitulah~ Kita jarang bertemu. Kenapa? Apa kau merindukanku, Im Yoona-ssi? Hahah—”

            “—Nee!

            “…”

            Jawaban yang keluar dari mulut Yoona itu berhasil membuat Jonghyun terpaku. Gelak tawanya barusan hilang begitu saja dan dirinya benar-benar beku seperti es untuk beberapa saat.

            “Aku… akan pindah” ucap Yoona pelan.

            “Mwo?”

            “Aku akan pindah ke Mokpo. Sebentar lagi aku akan bertunangan dengan Donghae-oppa. Sebentar lagi salah satu impianku akan terwujud. Menjadi seorang istri dan tinggal bersama orang yang kucintai. Kemudian kami akan hidup bahagia. Lalu… aku akan menjadi seorang ibu yang baik, yang akan merawat anak-anakku dengan baik juga. Ah~ Jhohta! Jonghyunnie, benar-benar sudah lama aku memimpikan itu semua. Kau tahu kan, sejak dulu aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu? Jadi aku ingin anak-anakku nanti tak akan merasakan hal yang sama denganku…”

            Jonghyun tak merespon apapun. Hentikan. Sakit sekali. Ia mengalihkan pandangan, kemudian menundukkan wajahnya. Ada sesuatu yang telah menusuk-nusuk ‘bagian abstrak’ dalam tubuhnya. Bertunangan? Menikah? Hidup bahagia?

            “Yaa~ Lee Jonghyun!!”

            “Ah, n-ne?”

            “Apa kau mendengarkanku?” tanya Yoona, memastikan bahwa sahabatnya itu masih setia mendengarkan ceritanya. Lagi, Yoona menyunggingkan sebuah senyuman, namun tak lama kemudian raut cemberut kembali menghiasi wajahnya. “Maka dari itu, aku ingin melewati hari-hari terakhirku disini bersama kalian berdua, bersamamu dan juga Seohyun. Tapi… kau… kau malah menghilang begitu saja! Aish, kau ini benar-benar—”

             Jonghyun hanya tersenyum getir. Ia kembali memandangi Yoona. “Chukkae yo. Chukkae yo, Im Yoona”

            Yoona nampak tersipu malu. “Aih, kau ini… Hey, lalu kau bekerja apa sekarang? Dimana tempat kerjamu? Mungkin… saat-saat terakhirku disini, aku bisa kesana bersama Seohyun untuk melihatmu?”

            Jonghyun mengangguk, masih dengan sebuah senyuman. Getir. “Aku bekerja di Art Cafe Siam. Datanglah kapanpun kau mau”

___________________________________________________________________________

Keesokan harinya…

Hyomin menapakki sepanjang jalan menuju Art Cafe Siam dengan santai. Ia benar-benar menikmati perjalanan menuju tempat kerjanya kali ini. Udara sore yang begitu segar, pemandangan yang indah, semua terasa benar-benar sempurna baginya. Suasana seperti ini pulalah yang telah memberinya sedikit inspirasi untuk lukisan yang akan ia buat dalam waktu dekat ini—untuk mengikuti sebuah lomba melukis tingkat internasional.

            Jari-jemari Hyomin bergerak lincah membentuk persegi panjang. Bak sebuah kamera, Hyomin mengarahkan jari jemarinya untuk merekam beberapa pemandangan indah yang akan menjadi calon lukisannya nanti. Ada banyak sekali pemandangan yang telah direkam melalui kamera ‘manual’-nya itu; sepasang kekasih tengah berjalan sambil berpegangan tangan, awan yang tengah berkumpul di langit, dan… “Omona! Mengapa banyak sekali pengunjung hari ini?” seru Hyomin saat mendapati bahwa cafe tempatnya bekerja telah ramai—bahkan sangat ramaai—akan pengunjung.

            “Chogi…

            Sebuah suara lembut mengalihkan perhatian Hyomin. Ia membalikkan badannya. Dua orang yeoja manis tengah tersenyum kepadanya. Chamkaman. Bukankah dia… Im Yoona? Gadis yang disukai oleh Lee Jonghyun? Bukankah dia…

            “Ah? Eonni?” ucap salah satu dari mereka, ketika menyadari bahwa Hyomin bukanlah orang asing untuknya.

            “A-Ah, n-ne…” balas Hyomin, canggung. Ia membenarkan rambutnya yang sempat berantakan karena diterpa angin sore yang bertiup kencang. “Kau… temannya Lee Jonghyun, bukan?” lanjutnya, mencoba akrab dengan memulai sebuah obrolan basa-basi.

            Yeoja itu mengangguk, tersenyum, lalu membungkukkan badannya sopan. “Nee annyeonghaseyeo Eonni, nan Yoona imnida… dan dia, Seohyun, teman Jonghyun juga. Kami sudah bersahabat dekat sejak kecil” ucapnya, sambil memperkenalkan Seohyun yang ada di sampingnya. Yeoja itu memang benar Yoona. “Apakah Jonghyun ada di dalam, Eonni? Ah… Kau juga bekerja disini, Eonni?”

            “N-Ne~ Ng… Mari kuantarkan kau masuk ke dalam. Nampaknya hari ini ramai sekali…” balas Hyomin, yang kemudian mengantarkan Yoona dan Seohyun untuk masuk ke dalam cafe. Setelah masuk dan menemukan sebuah bangku kosong, Hyomin langsung mempersilakan Yoona dan Seohyun untuk duduk. “Aku harus mengganti pakaianku dulu. Ng… Apa kalian mau memesan sesuatu?”

            Yoona dan Seohyun nampak sibuk menentukan minuman yang akan mereka pesan. Selang beberapa menit kemudian, Yoona dan Seohyun sepakat untuk memesan Lemon Tea hangat. Hyomin mengangguk dan tersenyum ramah. “Baiklah, tunggu sebentar ya”

Hyomin memegang sebuah nampan kayu untuk mengantarkan pesanan Yoona dan Seohyun—dua gelas Lemon Tea hangat. Karena cafe begitu padat akan pengunjung, Hyomin sedikit kesulitan untuk berjalan ke arah meja Yoona dan Seohyun.

            “Maaf, lama” ucap Hyomin begitu sampai di meja yang terletak dekat dengan pintu masuk cafe. Sambil tetap mengulas sebuah senyuman, Hyomin menaruh tiap gelas Lemon Tea itu tepat di hadapan Yoona dan Seohyun. “Apa kau sudah melihat Jonghyun? Mungkin sebentar lagi dia akan perform

            “E-Eh? Perform?” tanya Yoona dan Seohyun bersamaan. “Memangnya, dia bekerja sebagai apa, Eonni?”

            “A-ah? Kalian belum tahu? Dia bekerja disini sebagai personel band yang setiap malamnya akan mengadakan live accoustic perform. Sepertinya karena dia dan Yonghwa-ssi bergabung dalam band cafe inilah yang membuat cafe semakin dipadati pengunjung. Mereka berdua memang benar-benar musisi, hahaha…” jelas Hyomin, yang kini sudah duduk diantara Yoona dan Seohyun.

            Seohyun nampak mengernyitkan dahi dan serba salah. Melihat tingkah Seohyun, Yoona tersenyum geli dan menyenggol sikutnya. “Eonni, kau menyebut nama Yonghwa-ssi barusan. Hahaha, temanku ini akan selalu salah tingkah ketika nama namja itu disebut” ujar Yoona kepada Hyomin, membuat Seohyun semakin salah tingkah.

            “A-Anniyo~” protes Seohyun.

            “Aaah, geurae…” balas Hyomin yang mulai mengikuti Yoona untuk menggoda Seohyun. Hyomin benar-benar berusaha untuk bisa berbaur dengan dua yeoja manis yang lebih muda darinya itu.

            “Eonni, bukankah kita sering bertemu? Sudah beberapa kali kita bertemu, namun tak sekalipun kita berkenalan. Ketika makan ddeobboki, ketika di kampus, dan… ketika ada Donghae-oppa…” ujar Yoona, mengalihkan pembicaraan.

            “—Ah, itu. Kau jangan salah paham, Im Yoona-ssi. Aku dan Lee Donghae adalah sahabat lama. Kami memang ada sedikit masalah—“

            “Ah, anniya… Gwenchana, Eonni. Aku hanya ingin tahu namamu saja, apakah boleh, Eonni?”

            “E-Eh…? Namaku? Park Sunyoung imnida, tapi sejak kecil aku sudah dipanggil Hyomin, aku pun tak tahu kenapa bisa begitu hahahaha”

            Suasana kaku diantara Hyomin, Yoona, dan juga Seohyun perlahan mencair. Mereka sudah bisa membaur satu sama lain. Kini mereka larut dalam obrolan perempuan yang akan terus berlanjut—tak ada habisnya.

I will forget you…”

Tiba-tiba dari kejauhan, sebuah suara lembut seorang namja mulai terdengar. Namja itu menyanyikan sebuah lagu dan berhasil membuat seisi cafe mengalihkan perhatian untuk melihatnya, termasuk Hyomin, Yoona, dan Seohyun. Mereka bertiga serentak membesarkan bola mata ketika menyadari bahwa namja itu tak lain adalah Lee Jonghyun. Sebuah lagu mellow pun terdengar menghiasi malam Minggu di cafe yang telah dipenuhi pengunjung ini.  

Starting today, I don’t know you. I have never seen you.
We never even walked pass eachother.
I’m okay. I forgot everything. I’m happy with my busy life.
I’ve met a great person too.

Love is always like this. It fades away after some time.
Can’t even remember it, Oh.

When love goes away, another love comes again. It definitely will.
Even if it hurts now, it will heal a little later.
It will forget. I will too.

It’s not difficult. I will forget everything after today.
I’m just getting used to my changed life. Oh~ No.

Love is always like this. It fades away after some time.
Can’t even remember it. Yes~

I will erase everything. I definitely will.

When love goes away, another love comes again. It definitely will.
Even if tears fall now, I will smile a little later.
I will (now) forget you (now). Just like a wound heals…
I will. I will. I will forget you.

(CNBLUE – I’ll Forget You)

I will… I will… I will forget you

            Riuh suara tepuk tangan mulai memenuhi Art Cafe Siam. Beberapa pujian terlontar begitu saja untuk penampilan Jonghyun malam ini. Bukan hanya pujian dari penonton, Yonghwa, Minhyuk, dan Jungshin pun ikut memuji rekan satu bandnya itu. Hyomin yang mencoba memahami kata demi kata yang ada pada tiap lirik lagu, sesekali memandangi Yoona yang ada di sebelahnya. Lagu ini… apakah lagu ini untuk Yoona?

            “Yoona-ssi, Seohyun-ssi, sepertinya aku harus kembali ke dapur karena akan banyak sekali gelas kotor yang harus ‘kuselesaikan’ hahaha…” pamit Hyomin kepada Yoona dan Seohyun. Dua yeoja manis itu mengangguk sambil tertawa mendengar candaan Hyomin.

            Hyomin berjalan menuju dapur. Sebenarnya bukan untuk mencuci setiap gelas kotor, tapi untuk menenangkan dirinya. Sepertinya, sebentar lagi, Jonghyun akan menyadari keberadaan Yoona dan Seohyun. Dan sepertinya, akan ada sebuah pemandangan yang akan membuatnya makin sakit.

            “Noona?

            Hyomin menoleh, “Eh?”

            “Bagaimana penampilanku barusan, Noona?”

            Ya, dialah Lee Jonghyun, yang saat ini menjadi orang nomor satu di hati Hyomin. “Aku tak menyangka kau bisa se-mellow itu. Haha… Oh iya, ada dua temanmu yang cantik tengah menunggumu di meja sana, dekat pintu masuk cafe”

            “Eh? Maksudmu… Seohyun dan… Yoona?” tanya Jonghyun. Mimik wajahnya seketika berubah ketika menyebutkan nama Yoona.

            Hyomin mengangguk sambil memaksakan sebuah senyuman. “Ka… Pergilah, mereka sudah sangat ingin bertemu denganmu. Aku ke dapur duluan ya, banyak sekali gelas kotor menantiku disana hahaha”

___________________________________________________________________________

Hyomin tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya saat ini. Ia selalu penasaran akan pemandangan yang ada di dekat pintu masuk cafe. Apa yang sedang mereka bicarakan? Aish, kenapa aku jadi seperti ini! Sesekali, Hyomin melirik ke arah tempat duduk Jonghyun, Yoona, dan Seohyun. Mereka tertawa bersama. Sudahlah, Hyomin, lupakan.

            Dari kejauhan memang terlihat jelas Jonghyun asyik sekali mengobrol dengan Yoona dan Seohyun. Sesekali gelak tawa keluar dari mulut mereka. Pemandangan ini membuat Hyomin cemburu, dan memutuskan untuk mencari kesibukan lain—setelah setumpuk gelas kotor telah ia cuci.

            Hyomin berjalan ke ruang istirahat. Ia mengambil tas, lalu mengecek handphone-nya. Tak ada pesan maupun panggilan. Membosankan. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Pengunjung cafe sudah mulai berkurang, sehingga Hyomin bisa menikmati waktu istirahatnya yang panjang sampai jam sebelas malam nanti—saat cafe akan ditutup. Namun, waktu istirahat panjang seperti inilah yang justru membuatnya diam dalam kebosanan. Hyomin bertopang dagu dalam waktu yang cukup lama.

            “Ah, seharusnya aku membuat sketsa lukisanku!” seru Hyomin seketika.

            Ia pun mengambil sebuah buku berisi halaman-halaman kertas putih polos yang biasa digunakannya untuk menggambar sketsa atau pola lukisan. Tangannya mulai bergerak dengan begitu lihai di atas lembaran kertas putih polos itu. Ia menggambar apa yang telah dinikmatinya dalam perjalanan menuju cafe ini. “Langit yang berawan, udara segar, sepasang kekasih yang larut dalam dunianya, dan ramainya pengunjung di cafe ini… Jhohta!” ucapnya puas.

            “Katanya kau harus meladeni tumpukan gelas kotor, Noona

            Hyomin terkesiap, dengan cepat kedua telapak tangannya menutupi sketsa lukisan yang baru saja dibuat. “Aigoo, kau mengagetkanku, Jonghyun!”

            Jonghyun mulai tertarik dengan apa yang disembunyikan Hyomin di balik tangannya. Jonghyun berjalan menghampiri Hyomin, kemudian duduk di sebelahnya. “Apa yang kau tutupi itu, Noona?” tanyanya dengan suara parau.

            Hyomin yang menyadari ada sesuatu—yang ‘tidak beres’ dengan Jonghyun langsung mengambil sikap, “Kau sendiri… apa yang kau tutupi saat ini? Suaramu terdengar begitu parau, Jonghyun-ah” Hyomin balik bertanya.

            Jonghyun tertunduk. Beberapa saat kemudian, ia meletakkan kepalanya yang terasa berat itu di pundak Hyomin. Hyomin awalnya menolak untuk memberikan pinjaman pundaknya, namun Jonghyun tetap bersikeras. “Jebal, Noona… Sebentar saja…”

            Hyomin terdiam. Begitu juga dengan Jonghyun.

            “Yoona akan menikah dengan Lee Donghae-ssi” ucap Jonghyun pelan. “Kau beruntung, Noona. Posisi Lee Donghae di hatimu telah tergantikan oleh orang lain, jadi kau tak perlu merasa sakit seperti aku. Hahahah…”

            Kau bahkan tak tahu aku juga tengah merasakan sakit yang kau rasa, Jonghyun-ah. Bahkan rasa sakitku ini lebih dari yang kau punya.

            Jonghyun mengangkat kepalanya. “Terima kasih pinjaman pundakmu”

            “E-Eh? N-Nee… Kepalamu berat sekali”

            “Hahaha… Eh, jadi apa yang kau tutupi tadi, Noona? Apakah kau sedang menulis diary-mu lagi? Atau… kau sedang melukis wajah orang yang kau sukai saat ini?” Jonghyun mulai mengalihkan pembicaraan, ia tak mau dianggap begitu lemah oleh Hyomin.

            “A-Anniyo… Ini bukan ap—“

            “Wah, kau melukis pemandangan di sekitar cafe, bukan? Daebaaak” potong Jonghyun, yang telah lebih dulu mengambil sketsa lukisan dari tangan Hyomin.

            “Jeongmal yo? Baiklah, aku akan melukis ini untuk mengikuti lomba itu”

            “Lomba?”

            “Nee. Lomba tingkat internasional. Kau tahu, pemenangnya akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan kesempatan ke Eropa. Di Eropa, sang pemenang itu akan dilatih oleh pelukis terkenal disana. Benar-benar bagus, bukan?”

            Jonghyun mengangguk. Senyuman mulai terpancar dari wajahnya—ini membuat Hyomin sedikit lega. Akhirnya kau bisa tersenyum lagi.

            “Tapi…” ujar Jonghyun, sambil mengernyitkan dahi. “Apa kau menggambar ini sesuai dengan perasaanmu? Kenapa kau tak mencoba melukiskan apa yang kau rasa, Noona? Seperti aku, aku menyanyikan lagu tadi dengan sepenuh hati sesuai dengan apa yang kurasakan. Dan kau lihat? Semua pengunjung tadi terkagum-kagum melihat penampilanku”

            “Aish, kau ini… Bilang saja, kau ingin dipuji”

            “Hahaha… Ya sudah. Aku harus membantu yang lain membereskan panggung. Hwaiting untuk lukisanmu, Noona” balas Jonghyun, yang kemudian berlalu meninggalkan Hyomin.

            Hyomin kembali sendirian di dalam ruang istirahat cafe. Ia menatap lukisannya itu dalam-dalam dan kembali mengingat ucapan Jonghyun. Melukis dengan hati? Sesuai dengan perasaan?

            Apakah aku… harus melukis itu?

___________________________________________________________________________

To be continued~

10 thoughts on “Fall For You, Noona | Part 4

  1. Woa… Ceritanya bagus Feelnya dapet nih… Jd lbh puas deh bacanya. Tp aku blm baca chap1 makanya kurang ngerti asal-usulnya. Hehe#kurang warasnya kumat!
    Keep on writing y

  2. yee akhirnya update juga!!!!! ^^
    makasih author udah meng-update ff ini..

    tapi jonghyun sama hyomin sama2 patah hati ya kasian..
    semangat deh buat mereka berdua..
    wah.. si hyomin mau ngelukis apa ya? hmm jadi penasaran

    lanjut terus ya thor..
    fighting! ^^

    • yeee!! ^^ wah, cheonma..
      Makasih jg udh baca & komen ;)

      Hmm, iya patah hati mrk brdua :”'(
      Hehe, sipp tngguin aja yaa next chapternya.. :)

  3. Udah lama di tunggu akhirnya muncul juga,,,,
    Ngebayangin posisi jonghyun,,,,,sedih banget
    Dan juga salut,,,,,keren banget,,,,,next part’nya
    Jangan lama” yah,,,,,,

    • Iya..sedih bgt kalo jd Jonghyun :”(
      Sipp, tungguin yaa chapter slnjutnya.
      Makasih udh baca & komen *bow*

  4. Wahhh daebak..bgus crta’y tp agk kurg stju jonghyun spsagn sm yg lain,jonghyun cocok sm yoona hehe maaf cz deerburning shiper nih. Lnjtkn crta’y btw smpe part brp nihh?

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s