We Will Meet Again [Part 1 of 2]

Title : We Will Meet Again

Author : Lusy Zanita (@lusyznt)

Cast :

  • Kim Jihyun (OC)
  • Choi Siwon
  • Jung Yunho >> Choi Yunho

Genre : Romance, AU

Rating : PG-15

Length : Two Shot

Disclaimer: This story is ©Lusy Zanita 2012, and cast on my story belong to God.

NOT FOR SILENT RIDERS!

**

Although we are separeted,I believe that we will meet again…

***

Tengah malam yang penuh dengan kelabu, 2 sosok anak manusia berlari tak tentu arah. Berlari melewati gang-gang sempit dan bau demi melarikan diri dari sosok yang mengejar mereka. Salah seorang dari mereka berlari lebih cepat dan meninggalkan seorang lagi yang berlari dengan tergopoh-gopoh demi mengejar yang di depan. Yang tertinggal berusaha berlari lebih cepat agar tidak tertinggal jauh oleh yang satunya, namun alhasil dia justru jatuh tersungkur karena tersandung. Dia kemudian bangkit untuk duduk, menepis butiran-butiran pasir yang menempel di celana lusuhnya sambil menahan tangis. Mengetahui temannya terjatuh, sosok itu datang menghampiri.

“Apa yang kau lakukan, ayo!” Dia berusaha membantu temannya untuk berdiri, tapi yang di bantu justru menjatuhkan dirinya ke tanah dan menangis.

“Cepatlah! Sekarang tidak ada waktu untuk menangis Jihyun~ah! Atau kita akan tertangkap.”

Gadis cilik yang di panggil Jihyun itu masih terus menangis.

“Aku sudah tidak sanggup lagi Siwon~ah! Kau…kau tinggalkan aku saja!” gumamnya di sela-sela tangis.

Teman Jihyun itu terlihat tidak sabaran, lalu dengan cepat memutar tubuhnya memunggungi Jihyun kemudian berjongkok. “Cepat naik! Aku tidak akan meninggalkanmu, kita akan tetap bersama.” perintah Siwon.

Dengan kasar Jihyun menghapus sisa-sisa air mata di pipinya kemudian bangkit menuju punggung anak lelaki bernama Siwon.

Siwon terus saja berlari tergopoh-gopoh sambil terus membawa Jihyun dalam gendongannya. Dengan nafas tersenggal-senggal mereka kini berada di jembatan besar Banpo –jembatan dengan 10.000 nosel air mancur termegah di Korea Selatan-. Setelah menurunkan Jihyun dia menatap gadis itu serius, “Kurasa pelarian ini tidak akan berhasil Jihyun~ah.” ucapnya.

“Sudah kubilang, kau saja yang pergi. Aku tidak apa-apa di sini.”

“Tidak! Aku sudah punya rencana. Dan aku harap ini berhasil dan harus berhasil.”

“Dengar! Malam ini kita berpisah di sini, tapi besok saat matahari terbenam temui aku di sini lagi. Setelah itu kita akan pergi dari kota ini. Mengerti?” Gadis kecil itu mengangguk.

“Tapi kenapa kau tidak lari sendiri saja?” tanya Jihyun.

“Sudah kukatakan aku tidak akan meninggalkanmu! Aku yakin walaupun kau tertangkap, kau akan di bebaskan kembali, karena kau tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian, tapi kurasa hanya ini caranya.” jelas Siwon panjang lebar.

“Kau…pasti akan datang bukan?” tanya Jihyun khawatir.

“Ya, aku janji pasti akan datang menjemputmu di sini.” jawab Siwon mantap. Kemudian anak lelaki itu merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah cincin dengan sebuah hiasan berwarna biru sapphire menyerupai batu permata, atau itu memang batu permata?

“Aku mau kau menyimpan ini, ini adalah sebuah tanda bahwa aku pasti kembali.” ucap Siwon.

“Dari mana kau mendapatkan ini?” Bersamaan dengan pertanyaan yang Jihyun lontarkan terdengar suara keramaian, sepertinya orang-orang yang mengejar mereka semakin mendekat.

“Itu tidak penting! Simpan saja, karena aku akan mengambilnya kembali.”

Jihyun berhambur ke dalam pelukan Siwon, memeluknya erat seperti tak ingin berpisah. “Berjanjilah padaku kau pasti akan datang besok.”

“Jihyun~ah…”

“Sudah ya, orang-orang semakin mendekat. Kau jaga dirimu.” Dengan berat hati Jihyun melepaskan pelukannya pada Siwon. Dengan tatapan penuh janji yang diberikan anak lelaki itu padanya, dia menanamkan rasa percaya bahwa Siwon pasti kembali. Jihyun menatap punggung Siwon yang semakin lama semakin menjauh sampai menghilang dari pandangan matanya.

“Hei bocah sialan! Dimana teman kecilmu yang brengsek itu ha?!” bentak salah seorang pria yang mengejarnya.

“……” Jihyun tak bergeming, ia masih menatap jalanan sepi yang tadi di lewati Siwon.

“Sialan, kita kehilangan jejak bocah itu. Ayo cari dia lagi! Tak ada gunanya bertanya pada bocah ini, dia pasti sudah di tinggalkan oleh bocah itu.” Kemudian segerombol orang itu menjauh pergi.

**

Besoknya saat matahari tenggelam, Jihyun telah menunggu Siwon datang menjemputnya. Namun nihil sampai larut malam pun Siwon tak kunjung datang.

“Kau dimana…kau dimana Siwon~ah?” Suara isakan mulai terdengar dari bibir Jihyun.

“Siwon~ah…kau…membohongiku.”

Hingga fajar tiba pun Siwon masih tak kunjung datang, Jihyun yang putus asa hanya bisa menangis semalaman. Ia tertunduk lesu menyandarkan tubuhnya pada tembok jembatan sambil terus menangis, sampai sebuah suara menegurnya.

“Hei, kau kenapa menangis?” tanya suara itu. Dengan berat gadis itu membuka matanya.

“…..” Tak ada jawaban. Jihyun menatap asing orang tersebut.

“Namamu siapa? Kau tinggal dimana? Kau kenapa menangis?” Rentetan pertanyaan itu terlontar dari bibir seorang anak lelaki yang sepertinya berasal dari kalangan atas.

Jihyun menggeleng. Hanya dengan gelengan kecil saja anak lelaki itu sepertinya paham, tapi anehnya anak itu kemudian justru berlari menjauhi Jihyun. Orang iseng pikir Jihyun.

Namun beberapa saat kemudian anak lelaki tadi datang kembali bersama seorang wanita dewasa yang sepertinya adalah ibunya.

“Dia kasihan sekali bu. Sepertinya dia yatim piatu dan tidak mempunyai tempat tinggal.”

Samar-samar Jihyun dapat mendengar percakapan kedua orang itu.

“Kau sedang apa nak? Orang tuamu di mana?” tanya wanita yang bersama anak lelaki tadi.

Jihyun menatap kedua mata wanita itu sayu, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

“Kalau kau mau, kau bisa ikut dengan bibi nak.” ucapnya sambil mengelus rambut Jihyun.

***

15 tahun kemudian…

Suara mobil yang meluncur halus berhenti di sebuah hotel mewah berbintang. Pintu mobil tersebut terbuka secara otomatis dan menampakkan seseorang yang berada di dalamnya. Wanita yang tampak seperti seorang bangsawan berbalut dengan dress mewah berwarna pink tak berlengan, menampakkan kulit putih mulusnya yang bak mutiara, juga mengenakan sebuah topi bertepi lebar untuk menghalangi sinar matahari yang nakal menyerobot mengenai wajahnya yang rupawan.

Dengan di kawal oleh seorang pelayan, ia melangkah dengan anggunnya di atas sepatu merah mengkilap berhak tinggi yang menimbulkan suara ‘tuk-tuk-tuk’ setiap kali sepatunya beradu dengan lantai. Sungguh wanita yang dapat mengalihkan seluruh mata pengunjung tertuju kepadanya. Membuat mata sampai tak berkedip. Namun itu semua tak di hiraukannya, benar-benar wanita bangsawan bukan?

Mata jernihnya menerawang ke arah jalanan, di mana terdapat banyak manusia dan kendaraan berlalu-lalang. Menghela nafas sejenak, “Paman Lee, rasanya aku ingin jalan-jalan.” ucapnya.

“Sebentar lagi Tuan akan datang, nona bisa menungg—”

“Tidak perlu, sebentar saja, ya? 1 jam.” pintanya dengan nada memohon.

Kini giliran sang pelayan yang menghela nafas, kalau sudah begini dia tidak bisa menolak keinginan nona mudanya itu apalagi kalau di beri tatapan memohon seperti itu. Dia lalu mengangguk pelan.

“Nah! Kalau begitu kau tunggu di dalam hotel saja sambil istirahat, aku akan kembali 1 jam lagi.”

“Apa? Nona akan pergi sendiri?” tanya sang pelayang terkejut.

Tersenyum garing nonanya berkata, “1 jam lagi aku kembali Paman! Sungguh aku tidak apa-apa!”

Untuk kedua kalinya sang pelayang menghela nafas kembali, “Baiklah. Tapi sungguh saya tidak bisa membayangkan apa yang akan Tuan lakukan pada—”

“Terimakasih Paman Lee! Sampai jumpa!!” Belum saja sang pelayan menyelesaikan kalimatnya, sang nona muda sudah berjalan menjauh.

“Haahh…” Sang pelayan hanya dapat menghela nafas kembali melihat tingkah majikannya yang satu itu.

*

Jihyun akhirnya sampai di sebuah jembatan besar yang di sebut jembatanBanpo. Jembatan dengan 10.000 nosel air mancur yang berjalan sepanjang jalan di kedua sisinya melintang jauh di atas sungai besar bernama sungai Han.

Dari atas jembatan Jihyun dapat melihat salah satu sisi keindahan kota Seoul. Perahu-perahu kecil yang melintas di sungai Han, gemerlapan lampu-lampu yang sudah mulai menyala mengingat hari sudah menginjak sore.

Memori tentang masa lalunya tiba-tiba berkelebatan di otaknya, memori tentang seorang anak laki-laki yang telah berjanji untuk datang menemuinya di atas jembatan ini. Namun yang di tunggu tidak pernah datang.

“Siwon~ah…”

Tanpa sadar gadis itu menyebutkan nama anak lelaki itu. ‘Apa aku masih bisa bertemu lagi denganmu Siwon~ah…?’ batinnya. Dalam hati nuraninya dia masih percaya. Namun 15 tahun telah berlalu. Kepercayaan itu lambat laun pun ikut terkikis oleh waktu. Hanya cincin pemberian Siwonlah satu-satunya benda yang dapat memberinya kekuatan, memberinya kepercayaan. Perlahan bulir-bulir air mata mengalir melewati wajahnya yang rupawan.

Jihyun terlalu asyik termenung mengenang masa lalu, tiba-tiba saja ada seseorang merenggut tas tangan miliknya yang senada dengan dress yang gadis itu kenakan. Dia baru sadar sesaat setelah tas tangannya telah berpindah di tangan orang asing itu.

“Tunggu!!” Jihyun mencoba mengejar pencopetnya, merasa terhalangi larinya, kemudian ia melepas sepatu hak tingginya lalu berusaha berlari lebih cepat lagi. Harus. Dia harus mendapatkan kembali tas tangan miliknya itu. Tidak masalah bila hanya uang yang di ambil. Tapi, cincin itu, cincin pemberian Siwon berada di dalam tas itu. Dan hanya itu barang peninggalan Siwon yang ia miliki.

Jihyun masih berusaha berlari, meskipun telapak kaki mulusnya telah lecet sana-sini akibat berlari tanpa alas kaki. Si pencopet berlari semakin jauh dan akhirnya tak terlihat lagi.

Hanya bisa pasrah, Jihyun jatuh terduduk di sebuah gang yang sepi. Sepatu yang tadi di tentengnya pun sudah tergeletak di atas tanah. Air mata sudah bergumul di pelupuk matanya, siap meluncur kapan saja. Jihyun menyesal telah gagal menjaga benda peninggalan terakhir Siwon. Dia kali ini benar-benar gagal untuk mengejar jejak anak lelaki itu.

Putus asa. Merasa tidak ada lagi yang akan di lakukannya, Jihyun memutuskan untuk kembali ke hotel. Mungkin Paman Lee sudah kebingungan menunggunya. Saat ia memutar tubuhnya, kedua bola matanya terbelalak kaget melihat seorang pria berpakaian lusuh, mengenakan topi untuk menutupi wajahnya. Si pencopet.

“Kau! Kumohon…kembalikanlah tasku, kau boleh mengambil semua uang yang berada di dalamnya, tapi kumohon kembalikanlah tas itu, ada barang yang sangat berharga bagiku di dalamnya.” pinta Jihyun memelas.

Sang pencopet tak menjawabnya, justru telah mengulurkan tas tangan itu pada Jihyun. Dengan ragu Jihyun mendekat kemudian mengambil tas itu dari tangan sang pencopet. Tanpa peringatan, pria itu justru menggenggam erat tangan mungil Jihyun.

“Ap- apa yang kau lakukan?”

Tak menjawab, pencopet itu lalu mengangkat wajahnya, membuka topi lusuhnya kemudian memperlihatkan wajahnya. Rambut hitam pekatnya, hidung mancungnya, wajah yang sedikit kotor karena debu, kemudian mata itu, mata yang tidak akan pernah Jihyun lupakan, mata tajam bak mata elang.

“Ka-kau…”

-TBC-

Bacotan author : IM COME BACKKK!! setelah sekian lama hibernasi -__- gimana-gimana? aneh gak sih? tiba-tiba kepikiran buat nulis fic twotshot, manapula ini idenya tiba-tiba melintas pas aku dikamar mandi lagi ._. langsung ajadeh biar gak lupa langsung aku tulis, eh hasilnya kayak ginian -.- sebenernya juga fic ini udah selesai sampe end dan maksud awalnya mau aku jadiin oneshot, siapa tahunya kayak fic aku Love at the first sight yg lumayan laku *lopikirjualan* tapi nyatanya aku males aja dijadiin satu, abisnyaa panjang banget hampir sampe enam ribuan kata -__- sorry kalo masih banyak typo. oiya, coba deh baca ff ini pake backsound lagunya Big Bang – Blue, feel nya kerasa banget, itu sih pendapat aku aja, soalnya aku buat ff ini sambil dengerin lagu itu, dan great aku merasa charming pas nulis ini(?). okey kyknya udahan ajadeh bacotannya, langsung ajaa buat para reader, komen pliss. tunjukan apresiasimu terhadap suatu karya, hargai karya tersebut. no silent readers at here! :)

p.s : aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih buat readers yang udah komen di fic Love at The First Sight dan The Name I Loved.. aku terharu banget baca komen kalian, maaf gak bisa balesin semuanya, karena aku bingung mau ngomong apa. tapi tetep aku usahain buat bales komen kalian kok ^^ oiya buat sequel Love at The First Sight masih aku usahain, jadi ditunggu aja yaa, sedikit bocoran sequelnya kyknya bakal chaptered loo *teruskenapa* -___-

6 thoughts on “We Will Meet Again [Part 1 of 2]

  1. Feelnya dapet, semuanya bagus, dan sudah rapi. Artnya juga sangat bagus dan aku sangat suka. I love this fanfiction, dan lanjutkan. Endingnya jangan gantung ya! Semua harus jelas, gomawo.

  2. Ceritanya bagus emang author ini kek jualan nih hihi. Tp harus kuakui karya2mu lumayan bagus#baru tau elo.
    Keep on writing y

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s