Under The Tree

Author            : Park Sooyun

Title                : Under The Tree

Cast                : Kim Kibum, Im Yoona

Genre             : Romance

Length           : Oneshoot

Rating              : General

 

 

“Karena di bawah pohon inilah,

aku bisa mengukir sebuah perasaan indah dihatiku.”

 

 

 

NORMAL POV

 

 

 

Angin berhembus pelan, membuat ranting-ranting pohon bergoyang. Langit terlihat kelabu dan suhu lingkungan turun beberapa derajat. Seperti inilah keadaan saat musim dingin di Seoul. Dingin dan sepi. Tapi ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu.

Ia merapatkan kedua tangannya supaya tidak kedinginan. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri kenapa ia tidak membawa jaket padahal cuaca sedang tidak bersahabat.

Salju mulai turun dan membuat jarak pandangan berkurang. Ia terus berusaha untuk mempertajam matanya walaupun dihadang salju. Samar-samar ia dapat melihat sekolahnya dulu. Ia mempercepat langkahnya dan beberapa menit kemudian ia sampai di sebuah lapangan sepak bola. Ia melewati lapangan itu dan berjalan menuju rimbun pepohonan yang ada di sisi utara. Ia berhenti sejenak ketika melihat pohon yang ia cari.

Pohon yang sudah ada di sana sejak ia masuk di sekolah ini. Masih sama meskipun waktu sudah menggerogotinya.

Im Yoona berjalan menghampiri pohon itu. Sejenak ia pandangi sebuah tulisan yang diukir di pohon itu. Sedetik kemudian ia tersenyum.

Ternyata masih utuh. Dan Yoona bersyukur atas hal itu. Setiap tahun ia selalu ke sini, dan setiap tahun itu pula ukirannya masih ada.

Yoona terdiam. Sudah lima tahun sejak tulisan itu diukir. Tapi ia tidak pernah lupa untuk datang ke sini. Tidak hanya untuk melihat ukiran itu, tapi juga untuk menagih janji orang yang telah mengukir nama-nama itu.

Hari ini tanggal 15 Desember. Orang itu telah berjanji untuk menemuinya tanggal 15 Desember, di bawah naungan pohon ini. Pohon yang membawa sejuta kenangan.

Yoona memejamkan matanya. Sekelebat ingatan muncul di otaknya. Memori tentang orang itu pun muncul. Ia membiarkan memorinya bermain dan dirinya larut dalam memori itu.

 

$#@#$

(Flashback started)

 

Hari ini adalah hari yang cukup cerah. Namun berbanding terbalik dengan Im Yoona. Gadis cantik itu sedang kesal pada temannya sendiri, Choi Sooyoung. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, Sooyoung memintanya—bisa dibilang memaksanya—untuk menemaninya ke kedai ramyun yang baru buka di dekat sekolah.

Sudah menjadi kebiasaan Sooyoung; mengunjungi restoran atau kedai makan yang baru buka. Maklum saja, ia adalah seorang sikshin.

Dan kini Yoona sedang berdiri di bawah pohon belakang lapangan sekolah. Beberapa jam yang lalu Sooyoung bilang padanya, ia akan menemuinya di tempat ini tepat setelah pulang sekolah. Tapi ini sudah lewat lima belas menit setelah bel pulang berbunyi. Dan tebak, Sooyoung belum juga datang.

Yoona menghela napas pelan dan berusaha mengalihkan perhatiannya dari Sooyoung ke hal yang lain. Saat pandangan Yoona melewati lapangan, ia melihat seorang anak laki-laki seusia dirinya sedang bermain sepak bola di lapangan itu. Yoona terus memperhatikan laki-laki itu.

Laki-laki itu kelihatannya sedang berlatih sendirian dan ia terlihat serius. Tiba-tiba Yoona merasakan sesuatu yang basah menimpa rambutnya. Ia membelai rambutnya pelan lalu mendongakkan wajahnya ke atas. Ternyata hujan.

Buru-buru Yoona menutupi kepalanya dengan tas dan ia segera lari ke kelas terdekat.

“Aisshh… Kenapa harus hujan?” gumam Yoona.

“Kau terjebak juga?”

Yoona menolehkan kepalanya dan melihat laki-laki yang tadi bermain bola sudah ada di sampingnya. Yoona mengangguk. “Aku sedang menunggu temanku, tapi tiba-tiba hujan.”

“Kalau begitu, kita bisa menunggu hujannya reda. Ngomong-ngomong, aku Kim Kibum dari kelas XII A.”

“Aku Im Yoona dari kelas XII G. Salam kenal,” ucap Yoona sambil membungkukkan badannya.

Kibum tersenyum kecil. “Sepertinya aku baru melihatmu.”

“E-eh? Aku memang jarang bergaul kecuali dengan teman sekelasku saja.”

“Oh.”

“Kenapa kau tidak pulang?”

“Aku ingin berlatih sepak bola. Sayangnya hujan turun.”

Yoona hanya ber-oh ria dalam hati. Ia mengalihkan pandangannya ke langit kelabu yang masih menangis. Aneh sekali. Padahal tadi cuacanya cerah, tapi sekarang berubah seratus delapan puluh derajat.

Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri. Tadi pagi ada ramalan cuaca dan sang reporter meramalkan hari ini akan hujan. Tapi Yoona menghiraukannya dengan dalih langit terlihat cerah tadi pagi. Namun sekarang hujan turun dan Yoona hanya bisa menyesali pemikirannya.

Seandainya saja ia mempercayai ucapan sang reporter dan membawa payung ke sekolah. Pasti sekarang ia sudah berada di rumah dan bisa segera mengerjakan PR-nya yang menumpuk.

“Kau mau pulang?”

Yoona menolehkan kepalanya. “Tidak mungkin aku pulang sekarang. Hujannya masih lebat.”

“Tapi kau terlihat gelisah,” ucap Kibum. “Apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan di rumah?”

“Sebenarnya aku akan mencari bahan-bahan tugas setelah pulang sekolah.”

“Kapan tugasmu dikumpulkan?”

“Lusa.”

“Kalau begitu, bawa saja payungku.”

“Hah?”

Kibum membuka tasnya dan mengambil sebuah payung lipat berwarna merah. Ia membuka payung itu lalu memberikannya pada Yoona. “Ibuku menyuruhku untuk membawa payung ini. Tapi aku terlalu malas untuk pulang sekarang. Aku akan menunggu hujannya reda lalu berlatih sepak bola. Jadi daripada payungnya kusimpan, lebih kupinjamkan padamu.”

Payung merah itu Yoona terima dengan tangan canggung. “Benar tidak apa-apa?”

“Bawa saja,” ucap Kibum sambil tersenyum. “Aku memang berniat untuk menunggu hujan reda dan berlatih sepak bola di lapangan.”

“Terima kasih.”

 

$#@#$

 

“Yoong, antar aku ke kedai ramyun depan sekolah nanti ya.”

Orang yang ada di hadapannya ini benar-benar membuatnya kesal. Yoona menghembuskan napas lalu melirik orang itu dengan tatapan sinis.

“Ayolah, Yoong~” Orang itu masih saja merajuk padanya.

“Maaf, Choi Sooyoung,” ucap Yoona. “Aku tidak mau bernasib sama seperti kemarin. Kehujanan dan terjebak di sekolah. Dan untungnya ada orang yang membantuku.”

“Yoona, aku minta maaf. Sebenarnya kemarin aku akan menyusulmu, tapi hujan sudah turun dan Han oppa terus saja memaksaku untuk pulang.”

Yoona menangkap sebuah nama asing di perkataan Sooyoung. “Han oppa?” tanyanya dengan nada curiga. “Siapa itu Han oppa? Setahuku kau tidak punya kakak bernama Han.”

Menyadari ia telah membocorkan rahasianya sendiri, Sooyoung membekap mulutnya. “I… itu…”

“Kau telah merahasiakan sesuatu dariku ya? Ayolah, Sikshin. Ceritakan padaku siapa itu Han oppa. Kalau kau cerita, aku anggap insiden kemarin tidak pernah terjadi.”

Sooyoung memandang Yoona dengan ragu. Ia memajukan wajahnya. “Jangan bilang siapa-siapa ya,” ucapnya dengan suara pelan. “Sebenarnya Han oppa adalah pacarku.”

“Pacar?!”

“Jangan keras-keras! Kau tahu murid pindahan dari China yang baru pindah ke sini lima bulan yang lalu ‘kan?”

“Bukankah namanya Hangeng?”

“Itulah Han oppa. Aku baru jadian dengannya sebulan yang lalu.”

Yoona mendecak. “Kau ini bagaimana sih? Kau sudah pacaran sebulan yang lalu, tapi baru memberitahuku sekarang. Sahabat macam apa kau? Kau harus menggantinya dengan mentraktirku!”

“Ya sudah,” sahut Sooyoung lemas. Kini acara untuk mampir ke kedai ramyun sepertinya harus dibatalkan karena ia akan mentraktir Yoona. “Habis pulang sekolah?”

Yoona mengangguk. “Tapi sebelumnya aku harus menemui Kibum dulu.”

“Siapa Kibum?” Mata Sooyoung berkilat nakal. “Pacarmu ya?”

“Bukan!” balas Yoona cepat. “Dia anak dari kelas XII A. Kemarin aku meminjam payung darinya. Sudahlah… Nanti akan kuceritakan.”

 

$#@#$

Yoona melongok ke dalam ruangan kelas XII A yang nampak sepi. Semua orang sudah pulang rupanya. Lalu dimana Kibum?

“Bagaimana? Apa Kibum ada?”

Yoona mengedarkan pandangannya sekali lagi. Semua orang memang sudah pulang. Ia menarik kepalanya lalu menatap Sooyoung dan menggeleng pelan.

“Sepertinya dia sudah pulang atau…” Perkataan Yoona terpotong ketika ia ingat akan sesuatu. Mungkinkah Kibum sedang berada di lapangan sekolah seperti kemarin?

“Atau apa…”

Belum selesai berkata, Yoona sudah menarik Sooyoung menuju lapangan sekolah. Ketika tiba di sana, Yoona dapat melihat sesosok laki-laki yang ia cari sedang berada di tengah lapangan. Ia tersenyum. Sudah ia duga, Kibum ada di sini.

Yoona mempercepat langkah kakinya.

“Anneyeong.”

Kibum membalikkan badannya dan melihat Yoona ada di hadapannya sambil tersenyum. Sedetik kemudian, Kibum membalas senyuman Yoona. “Hai.”

“Aku ingin mengembalikan payungmu. Ini.” Yoona menyerahkan sebuah payung lipat berwarna merah. “Terima kasih ya. Berkat kau, aku bisa menyelamatkan tugas-tugasku.”

“Tidak masalah,” balas Kibum. “Aku senang bisa membantumu.”

“Lain kali aku yang akan membantumu.”

“Kupegang omonganmu.”

“Sudah dulu ya, Kibum. Aku mau pulang. Selamat berlatih~”

 

$#@#$

Jam pulang sekolah adalah waktu yang sangat Yoona tunggu-tunggu. Rasanya menyenangkan bisa meninggalkan tempat mengadu ilmu tersebut. Bukannya ia tidak suka sekolah, hanya saja ia bisa rehat sejenak dari berbagai macam pelajaran yang cukup memusingkannya. Menjadi anak kelas dua belas yang sebentar lagi akan ujian membawa beban tersendiri.

Saat Yoona melewati lapangan sekolah, ia menyadari sesuatu yang hilang. Biasanya ia akan melihat seorang Kim Kibum sedang berlatih sepak bola di lapangan, tapi nyatanya sekarang lapangan terlihat sepi.

Yoona mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok lelaki tersebut. Pandangan matanya terhenti ketika ia melihat sesuatu—atau seseorang—di balik pohon. Ia segera menghampiri orang itu.

“Kibum?”

Lelaki yang dipanggil Kibum itu membuka matanya lalu melihat Yoona. Ia segera berdiri. Senyum mengembang di wajahnya. “Hai Yoona.”

“Kau sedang tidur?”

Kibum mengangguk.

“Di bawah pohon?”

Kibum tertawa. “Iya. Semalam aku begadang menonton pertandingan bola bersama ayahku. Jadi sekarang aku masih ngantuk.”

“Kenapa tidak tidur di rumah saja?” tanya Yoona.

“Aku sudah ada janji dengan teman-temanku untuk bermain bola di sini setengah jam lagi. Kalau aku pulang dan tidur di rumah, aku bisa ketiduran.”

Yoona memandang Kibum. “Kau ini aneh ya.”

“Aku tidak aneh. Aku hanyalah laki-laki normal yang senang dengan sepak bola.”

“Oh, baiklah.” Yoona tergelak. “Ngomong-ngomong, kau sudah makan siang?”

“Belum.”

“Kalau begitu, ikut aku saja. Kebetulan aku akan mampir ke kedai ramyun di depan sekolah. Aku yang akan mentraktirmu. Kau ingat aku pernah berkata aku akan membantumu? Anggap saja ini sebagai balas budiku padamu~”

“Oke.”

Yoona tersenyum lalu ia mengajak Kibum untuk membeli ramyun di kedai depan sekolah. Setelah membeli dua bungkus, mereka segera kembali ke sekolah. Di bawah pohon rindang yang berada di tepi lapangan, mereka memulai acara makan siang mereka.

“Aku heran kenapa penjaga sekolah tidak mengunci gerbang sekolah usai pulang sekolah,” gumam Yoona. Ia menyendokkan ramyun ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya perlahan.

“Sebenarnya lapangan sekolah ini sering digunakan untuk latihan tim sepak bola kota. Jadi sekolah tidak mengunci gerbang supaya para pemain sepak bola itu tidak kesusahan untuk berlatih di sini,” balas Kibum.

Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau dipikir-pikir, lapangannya memang bagus.”

“Ya. Itu sebabnya pemerintah menyuruh sekolah untuk membuka lapangan ini untuk umum—sekaligus sebagai tempat berlatih tim,” ucap Kibum. Ia melirik jam tangannya. “Ngomong-ngomong, kau tidak pulang?”

“Aku ‘kan sedang makan.”

“Maksudku, kenapa kau tidak langsung pulang? Kau ‘kan bisa membawa ramyun-mu ke rumah dan memakannya di sana.”

“Aku sedang ingin suasana baru,” dalih Yoona. “Sudah terlalu sering aku makan di rumah. Sekarang aku ingin merasakan makan di bawah pohon. Ternyata rasanya sejuk. Seperti piknik saja~”

“Kau lucu ya,” ucap Kibum sambil tertawa.

“Kalau sedang makan jangan tertawa!” Yoona mengingatkan. “Bisa tersedak nanti.”

Kibum segera membekap mulutnya. “Maaf.”

Yoona hanya tersenyum melihat Kibum. Entah kenapa rasanya berbeda sekali ketika ia menatap Kibum seperti itu.

 

$#@#$

“Biasanya kau pulang bersamaku.”

“Aku tidak bisa. Aku sudah ada janji…”

“—dengan Kibum?”

Yoona mendesah kecil lalu menatap Sooyoung. “Iya. Aku sudah berjanji padanya akan menemaninya ke toko buku sepulang sekolah. Maaf, Sooyoung. Aku tidak bisa menemanimu.”

Sooyoung melirik Yoona dengan tatapan pura-pura marah. “Kau ini bukan teman sejati, Yoong.”

“Oh, ayolah~” rajuk Yoona. “Kau juga sekarang lebih sering jalan dengan Hangeng dibandingkan denganku.”

“Oke, oke,” ucap Sooyoung. Ia menatap Yoona jahil. “Lagi pula aku tahu bagaimana perasaan seorang gadis yang ingin terus bersama kekasihnya.”

“Ya! Apa maksudmu?!”

“Jangan bohong, Im Yoona~ Sebenarnya kau sudah pacaran dengan Kibum kan?” Mata Sooyoung berkilat nakal.

“Tidak!” sahut Yoona.

“Kalau begitu, kau menyukainya~”

Pipi Yoona merona. “Si-siapa bilang?!”

“Ayolah, Yoong. Raut wajahmu sudah mengatakan itu.”

“Terserah kau saja!”

Sooyoung tertawa. “Baiklah. Aku tidak akan meledekmu lagi. Tapi kau harus janji. Setelah menemani Kibum-mu itu, kau harus mentraktirku makan ramyun.”

“Hei… Apa yang kau maksud dengan ‘Kibum-mu’?!”

 

$#@#$

Sejak saat itulah Yoona sering menghabiskan waktunya dengan Kim Kibum. Pertemuan tidak sengaja ternyata telah membawanya sejauh ini. Terutama perasaannya. Mungkin saat pertama kali bertemu, tidak ada kesan spesial di antara Kibum. Namun sekarang Yoona harus mengakui bahwa sosok Kibum telah membawa warna lain dalam hidupnya. Mungkinkah ia menyukainya?

Sepertinya iya. Memang sekarang Yoona lebih suka jalan-jalan dengan Kibum atau menemaninya berlatih sepak bola dibandingkan dengan Sooyoung. Bukannya ia bermaksud membandingkan, hanya saja ia baru pertama kali merasa seperti ini, dan Sooyoung juga paham akan dirinya.

“Yoong, menurutmu lebih baik aku membeli buku yang ini,” Kibum mengangkat buku berwarna putih. “atau yang ini?” Lalu ia menunjuk buku bersampul merah.

“Yang bersampul merah saja. Kurasa isinya lebih lengkap.”

“Begitu ya? Baiklah, aku ambil yang merah saja. Terima kasih ya. Kau sudah repot-repot menemaniku untuk membeli buku,” ucap Kibum sambil tersenyum.

Jantung Yoona langsung saja berdegup dua kali lebih kencang. Ia buru-buru menyadarkan otaknya, sebelum ia jatuh pingsan karena senyuman Kibum. “Eh? I-iya. Sama-sama.”

Yoona balas tersenyum manis pada Kibum.

Hm… Sebegininyakah efek jatuh cinta?

 

$#@#$

“Tak terasa ya. Sebentar lagi kita akan lulus.”

“Iya,” balas Yoona. Ia memandangi Sooyoung. “Itu artinya sebentar lagi aku akan terbebas darimu.”

“Hei!” seru Sooyoung. “Kau kira aku ini beban?”

“Ya. Kau ini beban batin,” canda Yoona. Ia tertawa.

Sooyoung mendengus. “Tidak lucu, Yoong.”

“Aku hanya bercanda,” ucap Yoona. “Ayolah. Jangan marah~”

“Kau akan melanjutkan kemana nanti?” tanya Sooyoung sembari mengalihkan topik.

Yoona berpikir sebentar. Ia sudah memikirkan ini beberapa bulan yang lalu. Ayahnya bilang Universitas Seoul akan cocok untuknya. Tapi ia sendiri masih berpikir. “Aku belum memutuskan. Mungkin aku akan melanjutkan ke Universitas Seoul.”

“Oh,” Sooyoung mengangguk-angguk. “Lalu bagaimana dengan Kibum?”

“Eh?” Yoona menatap Sooyoung. “Aku… tidak tahu. Aku belum pernah bertanya padanya.”

“Isshh… Kau ini,” desis Sooyoung. “Makanya kalau bertemu Kibum, jangan kencan saja! Coba tanyakan hal itu.”

“Ngomong apa sih kau ini? Aku tidak kencan dengan Kibum.”

“Lalu apa? Pacaran? Itu sama saja.”

“Sudahlah… Kita bicarakan yang lain saja.”

 

$#@#$

Rasanya menyenangkan sekali berdiri di sini. Di bawah naungan pohon yang hijau dan rindang. Sudah berpuluh-puluh kali Yoona berada di sini—tepatnya setelah ia bertemu dengan Kibum.

Lucu rasanya. Sebelumnya ia tidak menyukai tempat ini. Dulu ia berada di sini hanya ketika ia harus menunggu Sooyoung untuk pulang sekolah bersama. Ia melakukannya hampir setiap hari. Sama seperti sekarang, namun dengan tujuan yang berbeda. Jika dulu ia menunggu Sooyoung, sekarang ia menunggu Kibum.

“Hei, Yoong. Sudah lama menunggu ya?”

Yoona membalikkan badannya. Senyum segera terlukis di wajahnya ketika ia melihat Kibum. “Aku baru sampai kok.”

“Baiklah. Kita langsung makan saja ya.”

Yoona mengangguk dan membuka tasnya. Ia mengambil sebuah lunch box yang telah ia bawa dari rumah. Lalu ia duduk tepat di depan Kibum.

Mungkin bagi orang lain, ini adalah hal yang kekanak-kanakan. Membawa makan siang dari rumah lalu memakannya di bawah pohon. Tapi Yoona tidak peduli dengan hal itu. Baginya ini adalah hal yang spesial—bukan hal yang kekanak-kanakan.

Yang menjadi momen ini spesial bukanlah karena tempat ia berada, tapi orang yang sedang bersamanya. Yoona melirik Kibum yang sedang memakan kimbab-nya dengan lahap. Perlahan ia tersenyum.

Makan siang bersama itu pun dilalui dengan penuh ketenangan. Namun sepertinya itu tidak berlaku bagi Yoona. Karena jantungnya terus berdetak cepat dan membuat bunyi dag-dig-dug yang tidak teratur.

“Makan siang kali ini benar-benar spesial.”

Yoona menatap Kibum yang ternyata sudah selesai makan. Lalu ia menyudahi acara makan siang tersebut dengan menutup lunch box-nya dan menaruhnya kembali ke dalam tas.

“Benarkah?” tanya Yoona.

Kibum mengangguk. “Ya. Sangat spesial. Mungkin karena bersamamu.” Senyum menghias wajahnya.

Pipi Yoona memerah seketika. “Kau ini bisa saja,” ucapnya sambil memukul bahu Kibum pelan.

Kibum tertawa pelan. Lalu ia terdiam dan memandangi pohon yang sedang menaunginya. “Kita banyak menghabiskan waktu di bawah pohon ini ya.”

Pandangan Yoona beralih ke arah pohon. Senyum kecil menghiasi wajahnya. “Iya. Aku juga pertama kali melihatmu ketika aku berada di sini.”

“Benarkah? Kalau begitu, pohon ini telah mempertemukan kita berdua.”

“Kurasa begitu.”

Tiba-tiba Kibum merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah cutter ternyata. Lalu ia bangkit dan menggoreskan cutter itu di batang pohon. Setelah selesai, Kibum berbalik dan memperlihatkan hasil karyanya pada Yoona.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Kibum.

Yoona terdiam melihat ukiran yang ada di pohon itu. Sedetik kemudian, ia tersenyum lebar. “Bagus. Aku suka sekali.”

Kibum ikut tersenyum lalu memandangi ukiran tersebut.

 

Kibum & Yoona

 

“Sayangnya kurang rapi,” komentar Kibum.

“Tidak apa-apa,” sahut Yoona. “Itu bagus kok.”

“Ya sudah kalau menurutmu begitu.”

“Ngomong-ngomong, kau akan kuliah dimana nanti?”

Pertanyaan Yoona membuat Kibum sedikit terkejut. Ia menatap Yoona. “Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Hanya saja… jika sekolah kita berjauhan, kita akan sulit bertemu. Dan aku pasti akan merindukanmu,” ucap Yoona.

Kibum terdiam. Ia tak dapat memberikan jawaban untuk pertanyaan yang tadi diajukan padanya. Akhirnya ia tersenyum ambigu. “Aku… tidak akan meninggalkanmu, Yoong.”

“Kau janji?”

“…ya.”

Yoona tersenyum manis. “Terima kasih.”

 

$#@#$

Sudah seminggu Yoona tidak melihat sosok Kibum. Bahkan ia tidak menemukannya di lapangan sekolah. Padahal biasanya Kibum latihan di sana sendirian atau bersama teman-temannya. Yoona sudah bertanya pada teman-teman Kibum, tapi ia tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Menurut teman-teman Kibum, sekarang Kibum jarang sekali ikut latihan bersama mereka. Ketika ditanya mengapa, Kibum hanya menjawab ia sedang sibuk.

Yoona terus berusaha untuk menghubungi Kibum. Ia juga telah berulang kali meneleponnya, tapi sepertinya Kibum sengaja tidak mengaktifkan nomornya. Ini membuat Yoona lelah.

Mungkin saja, Kibum sedang mempersiapkan dirinya untuk mengikuti ujian akhir bulan depan. Dan sekaligus untuk menempuh ujian masuk universitas. Yoona berusaha untuk berpikir positif. Ya, mungkin saja.

 

$#@#$

Bahkan ketika mendekati kelulusan, Yoona belum juga bertemu Kibum. Melihatnya saja belum. Ia ingin sekali mencari Kibum, tapi sayangnya ujian akhir membuatnya sibuk dengan buku-buku. Sehabis pulang sekolah pun, ia tidak bisa mampir ke kelas Kibum karena ada tambahan pelajaran dan usai itu ia harus mengikuti les privat.

“Yoong, kau belum bertemu dengannya juga?”

Yoona mengangkat wajahnya lalu menatap Sooyoung yang duduk di sebelahnya dengan tatapan sedih. Ia menggeleng pelan. “Belum.”

“Jangan sedih begitu, Yoong. Mungkin saja ia sedang sibuk. Kau yang bilang begitu bukan?” Sooyoung berusaha menghibur Yoona.

“Tapi ini sudah lewat ujian akhir. Seharusnya ia punya waktu untuk menemuiku, ‘kan? Bahkan saat perpisahan seperti ini, ia tidak datang.”

“Sudahlah, Yoong. Mungkin saja ia terlambat.”

Yoona terdiam mendengar perkataan Sooyoung. Semoga saja.

Akhirnya Yoona berusaha fokus untuk mengikuti acara perpisahan sekolah. Sesekali ia melirik ke arah kumpulan anak-anak kelas XII G, tapi ia tidak mendapati sosok yang ia cari. Berjam-jam ia lewati sambil berharap Kibum akan datang. Tapi harapannya itu sia-sia saja sampai akhirnya Yoona menyadari bahwa acara perpisahan sekolahnya telas usai.

Yoona menghela napas pelan. Ia melirik Sooyoung yang menatapnya dengan khawatir.

“Aku baik-baik saja,” sahut Yoona pelan sambil tersenyum.

Perlahan ia bangkit dari kursinya lalu pergi meninggalkan gedung sekolah bersama Sooyoung.

 

$#@#$

“Kak, ada surat untukmu.”

Yoona mengangkat wajahnya dan menaruh buku yang tadi ia baca di atas meja. Ia membalikkan badannya dan melihat sang adik sedang berdiri di ambang pintu sambil membawa sepucuk kertas.

“Dari siapa?” tanya Yoona.

“Aku tidak tahu,” jawab adiknya sambil menyerahkan surat itu pada Yoona.

“Terima kasih,” Yoona menerima surat itu. Lalu adiknya pergi meninggalkan kamarnya.

Ketika melihat nama sang pengirim, Yoona langsung membulatkan matanya. Ini surat dari Kibum. Segera saja ia membuka surat itu dan membacanya dengan hati-hati.

 

Dear Yoona,

Maafkan aku jika aku menghilang begitu saja dari hadapanmu. Bukannya aku tidak ingin melihatmu. Sungguh… Sekarang aku pun merindukanmu.

Yoong, kau ingat saat aku berjanji padamu di bawah pohon itu? Pohon kenangan kita? Aku berjanji padamu aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi sayangnya aku harus melanggar janji itu. Maafkan aku…

Ada alasan kenapa selama sebulan terakhir ini aku menghindarimu. Sebenarnya, aku telah menerima beasiswa untuk kuliah di Amerika. Aku sangat senang dengan hal itu. Namun semuanya berubah ketika kau berkata kau tidak ingin aku meninggalkanmu.

Karena itulah aku menghindarimu, Yoong. Jika kau tahu aku telah menerima beasiswa di Amerika, kau pasti akan sangat sedih. Dan aku tidak mau itu terjadi. Kau tidak pantas merasa sedih hanya karena aku.

Aku minta maaf atas janji yang telah kubuat dan telah kulanggar sendiri. Aku tahu seharusnya aku tidak membuat janji yang bersilangan dengan kenyataan seperti itu. Maafkan aku.

Kuharap kau membaca surat ini setelah aku pergi. Aku akan berangkat ke Amerika jam lima sore, hari Sabtu.

Selamat tinggal, Yoong… Aku mencintaimu.

 

Kim Kibum

 

Surat itu membuat Yoona sangat kaget. Kibum akan ke Amerika hari Sabtu? Itu artinya hari ini! Yoona melirik jam dinding. Sudah jam empat lebih empat puluh menit. Oh, tidak. Sebentar lagi Kibum akan pergi.

Yoona langsung meninggalkan kamarnya dan berlari untuk mengejar Kibum. Ia tidak tahu harus kemana. Ia berusaha untuk berpikir. Yoona pernah mendengar dari teman-teman Kibum kalau Kibum tinggal di Gyunji. Itu tidak terlalu jauh dari rumahnya. Yoona mempercepat larinya.

Lima menit kemudian, ia sampai di Gyunji. Ia berusaha untuk menemukan rumah Kibum. Ketika ia melihat ada seseorang, ia segera bertanya.

“Apa Anda tahu dimana rumah Kim Kibum?”

“Ya. Tinggal jalan lurus, rumah nomor 54.”

“Terima kasih.”

Ia mendapatkannya. Ia harus segera menyusul Kibum, sebelum Kibum pergi.

Yoona terus berlari. Melewati barisan rumah-rumah yang tersusun rapi. Ia melirik nomor rumah-rumah yang ia lewati. Sudah lewat lima puluh. Itu artinya hampir sampai. Yoona mempertajam pandangannya ketika ia melihat sebuah mobil keluar dari sebuah rumah. Ia dapat melihat penumpang mobil itu walaupun agak tidak jelas. Itu… itu Kibum! Yang sedang duduk di kursi belakang!

“Hei! Tunggu!”

Mobil itu sudah pergi. Yoona berlari lagi untuk mengejar mobil itu. Ia tetap memaksakan dirinya walaupun dadanya sudah sakit.

Ketika ia hampir dekat dengan mobil itu, Yoona berteriak, “Kibum!!”

Tiba-tiba Yoona melihat kaca pintu mobil terbuka, dan wajah Kibum menyembul keluar.

“Yoong!” teriaknya.

Yoona terus berlari walaupun dadanya terasa sesak dan air mata terus mengaburkan pandangannya. Tiba-tiba ia merasa hand phone-nya bergetar. Yoona mengambil HP-nya dan membaca nama yang tertera di layarnya. Dari Kibum. Yoona pun langsung mengangkatnya.

“Kau sudah berjanji tidak akan pergi!” seru Yoona.

“Maafkan aku, Yoong,” ucap Kibum dari seberang telepon. Yoona mendengar suara Kibum dengan baik, meskipun pandangannya tetap terarah pada wajah Kibum yang menyembul dari balik kaca jendela dan tengah meneleponnya.

“Kau pembohong!” seru Yoona lagi. Ia tidak dapat menahan rasa perih dihatinya.

“Dengarkan aku, Yoong. Aku tahu aku telah berbohong padamu. Tapi aku berjanji, kita akan bertemu lagi.”

Yoona terisak. Ia tidak peduli dengan hal itu. Ia hanya ingin Kibum tidak pergi dan meninggalkannya.

“Jangan menangis… Jika kau menangis, aku juga merasa sedih.”

Dengan sekuat tenaga, Yoona menahan air matanya dan segera menyekanya dengan punggung tangannya. “Aku tidak menangis lagi…”

“Dengar, Yoong. Kita akan bertemu lagi. Kau ingat pohon tempat kita sering menghabiskan waktu bersama?”

“…ya…”

“Tanggal 15 Desember, aku berjanji akan menemuimu di sana. Tepat di bawah pohon itu. Aku janji, Yoong. Aku janji…”

“Aku tidak bisa… Itu terlalu lama…”

“Aku berjanji akan menemuimu lalu aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Kau percaya padaku?”

Yoona terdiam. Perlahan ia mengangguk. “Ya… Aku percaya padamu.”

“Terima kasih, Yoong… Aku mencintaimu.”

Sambungan telepon terputus dan mobil Kibum melaju cepat, meninggalkan Yoona begitu saja di pinggir jalan. Yoona duduk bersimpuh di trotoar. Air matanya segera menetes—meninggalkan sejuta luka dan perih dihatinya.

 

(Flashback END)

 

$#@#$

Yoona membuka matanya. Kenangan itu berlalu saja di otaknya dengan cepat. Ia tahu membiarkan kenangan itu bermain, sama saja membuat hatinya terluka. Namun ia sendiri tidak dapat menghapus kenangan itu begitu saja, karena kenangan itu sangat berharga buat dirinya.

Kembali lagi Yoona memandangi pohon yang ada di hadapannya. Diperhatikannya ukiran yang ada di batang pohon itu. Ia mengangkat tangannya dan mengelusnya pelan.

Ia berharap sekali pohon ini hidup dan dapat mendengarnya sehingga ia bisa mengucapkan terima kasih. Karena pohon ini telah menjadi tempat dimana ia pertama kali melihat Kibum. Karena pohon ini telah menjadi saksi kisah hidupnya yang indah. Dan karena pohon ini telah bersedia menjadi tempat dimana cintanya bersemi.

Yoona tersenyum kecil. Ia menarik tangannya. Lalu ia menatap langit yang ternyata berubah semakin gelap. Mungkin ini waktunya untuk pulang. Ia sudah menunggu di sini terlalu lama. Ia akan kembali tanggal 15 Desember tahun depan.

Yoona membalikkan badannya. Baru saja ia akan melangkah, namun terhenti. Badannya membeku seketika. Bukan karena suhu lingkungan, tetapi karena matanya melihat sesosok laki-laki. Laki-laki yang selama ini dirindukannya…

Laki-laki itu tersenyum dan berjalan menghampiri Yoona. Yoona tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Air matanya menetes—kali ini karena ia bahagia.

Laki-laki itu berlari dan langsung memeluk tubuh Yoona erat. Yoona pun membalas pelukan hangat sang laki-laki.

“Terima kasih kau telah menungguku…” ucap sang laki-laki.

Yoona mengangguk di bahu laki-laki itu. “Dan terima kasih karena kau telah menepati janji, Kibum.”

Kibum tersenyum kecil. Ia mempererat pelukannya. “Aku mencintaimu, Yoong.”

“Aku juga…”

 

 

The End

10 thoughts on “Under The Tree

  1. Cerita dgn ending yg bagus dan Alurnya jg masalah typo pun g ada masalah. Benar2 bagus.
    Keep on writing y

  2. Love it!!!! Keep writing… :)
    YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum YoonBum
    Aq jdi deg”an jg… Apalagi kalau ada kta” Senyum Kibum… Kibum Smile… More than Love it!!! <3 <3 <3
    Endingnya bgs…
    Thanx Author… :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s