We Will Meet Again [Part 2-End]

Title : We Will Meet Again

Author : Lusy Zanita (@lusyznt)

Cast :

  • Kim Jihyun (OC)
  • Choi Siwon
  • Jung Yunho >> Choi Yunho

Genre : Romance, AU

Rating : PG-15

Length : Two Shot

Previous : Part 1

Disclaimer: This story is ©Lusy Zanita 2012, and cast on my story belong to God.

NOT FOR SILENT RIDERS!

Although we are separeted,I believe that we will meet again

***

Previous Part :

“Kau! Kumohon…kembalikanlah tasku, kau boleh mengambil semua uang yang berada di dalamnya, tapi kumohon kembalikanlah tas itu, ada barang yang sangat berharga bagiku di dalamnya,” pinta Jihyun memelas.

Sang pencopet tak menjawabnya, justru telah mengulurkan tas tangan itu pada Jihyun. Dengan ragu Jihyun mendekat kemudian mengambil tas itu dari tangan sang pencopet. Tanpa peringatan, pria itu justru menggenggam erat tangan mungil Jihyun.

“Ap- apa yang kau lakukan?”

Tak menjawab, pencopet itu lalu mengangkat wajahnya, membuka topi lusuhnya kemudian memperlihatkan wajahnya. Rambut hitam pekatnya, hidung mancungnya, wajah tampan yang sedikit kotor karena debu, kemudian mata itu, mata yang tidak akan pernah Jihyun lupakan, mata tajam bak mata elang.

“Ka-kau…”

“Apa kabar Jihyun~ah?”

~Part 2~

Jihyun menghambur ke dalam pelukan sang pria, merangkulnya dengan erat seolah tak ingin kehilangan kembali. Tak di hiraukannya baju sang pria basah karena air matanya. Akhirnya, penantian yang seolah tak berujung kini membuahkan keajaiban.

“Aku sungguh tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi Siwon~ah,” ucap Jihyun setelah acara peluk-pelukan itu selesai. Dan kini mereka duduk di tepian sungai Han, menikmati malam yang bagi keduanya entah kenapa sungguh sangat istimewa kali ini.

“Aku juga.” Suara baritone itu menyahutnya, Siwon menatap Jihyun yang berada di sebelahnya, melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kau bukan lagi gadis berumur 10 tahun yang kumal, kau telah menjelma menjadi wanita yang…cantik.”

Jihyun tersentak, rasa hangat menjalari wajahnya tatkala dipuji seperti itu.

“Dan sepertinya kau sudah hidup bahagia dan sangat berkecukupan sekarang he?” Siwon melanjutkan.

Gadis itu menghela nafas sejenak, “Seorang tuan baik hati dan ibunya mengadopsiku dan membawaku tinggal di Jepang.” Kemudian raut wajah gadis itu berubah seperti menuntut.

“Lalu kenapa 15 tahun yang lalu kau tidak datang? Kau sudah berjanji Siwon~ah!”

Pria tampan itu kini bergantian yang menghela nafas, menerawang jauh ke angkasa, “Maafkan aku, saat itu, saat aku dalam perjalanan ke jembatan. Aku di tangkap bandit lalu dijual dan dibawa ke Korea Utara, kemudian di sana aku dijadikan pekerja kasar. Setelah hampir 3 tahun aku berhasil kabur dan kembali ke sini. Beruntung tidak ada yang mengenaliku, sepertinya orang-orang telah melupakan kasusku dulu.” Siwon tertawa kecil mengingat betapa bodohnya dia dulu mencuri sebuah roti.

Kemudian matanya telah beralih menatap Jihyun, menatapnya dalam-dalam. “Aku kembali hanya untuk menemuimu Jihyun~ah. Aku masih mencoba untuk menepati janjiku padamu. Tiap sore seperti yang dulu kujanjikan di atas jembatan Banpo aku masih terus menunggumu,” ucap Siwon.

“Maafkan aku, saat itu aku sudah berada di Jepang bersama keluarga angkatku. Ini salahku.” Jihyun mulai terisak.

“Tidak! Ini bukan salahmu, takdir yang telah memisahkan kita, tapi takdir juga yang telah mempertemukan kita kembali.”

“Kau benar.” Jihyun menghapus jejak air matanya lalu tersenyum lembut.

“Jihyun~ah…” Siwon meraih tangan mungil Jihyun lalu menggenggamnya erat.

“Ayo kita pergi dari kota ini dan memulai hidup baru bersama.” Mata hitam pekatnya menatap kedua mata Jihyun intens.

Jihyun perlahan melepaskan genggaman tangan Siwon, matanya tersorot kesedihan.

“Maafkan aku Siwon~ah, tapi aku tidak bisa.”

Mata Siwon membulat kaget, “Kenapa?! Bukankah dari dulu kau ingin pergi bersamaku?”

Gadis itu menunduk sedih, “Kau terlambat, aku telah bertunangan dan akan menikah 4 hari lagi.” Suaranya nampak bergetar saat mengucapkan kalimat itu.

Bak tersambar petir, Siwon merasa kaget, marah, kecewa? Tentu saja. Mencoba meredam emosi pria itu bertanya, “Apa kau mencintainya?”

Jihyun diam seribu bahasa untuk beberapa detik, bingung harus menjawab apa. “Tapi dia mencintaiku,” gumamnya lirih.

Tatapan Siwon melemah. Dia tahu dirinya tidak mungkin memaksa kehendak Jihyun. Seperti yang dikatakannya tadi, ‘takdir yang memisahkan, takdir pula yang mempertemukan mereka’. Sekarang takdir benar-benar memisahkan mereka. Hatinya benar-benar kecewa. Namun, dia senang karena masih bisa bertemu dengan Jihyun. Penantiannya selama ini tidak sia-sia.

“Siwon~ah…” Jihyun meraih tangan pria itu, lalu memberikan cincin yang dulu dititipkan padanya, karena Siwon sudah kembali, sudah seharusnya dikembalikan bukan?

“Ini cincin yang dulu kau titipkan padaku,” lanjutnya.

Tapi Siwon justru melakukan hal yang sebaliknya, mengembalikan cincin itu. “Tidak. Cincin ini sudah menjadi milikmu. Simpanlah!”

Sebelum Jihyun berkomentar lagi, Siwon telah bangkit berdiri, diikuti Jihyun kemudian.

Lelaki bermata hitam malam itu menatap Jihyun. “Ini adalah hari yang luar biasa. Penantian panjangku selama ini akhirnya terwujud, aku bisa bertemu denganmu.” Siwon tersenyum.

“Selamat untuk pernikahanmu, selamat tinggal!” ucapnya sebelum memutar tubuhnya dan melangkah pergi menjauh.

“Siwon~ah!!” teriak Jihyun. “Apa kita masih bisa bertemu lagi?”

“Mungkin–” jawabnya tanpa menoleh pada Jihyun.

“Aku selalu di jembatan Banpo, memandang matahari terbenam,” lanjut pria tampan itu.

Sama seperti malam 15 tahun yang lalu, Jihyun hanya bisa menatap punggung Siwon sampai dia benar-benar menghilang dari pandangan.

‘Maafkan aku Siwon~ah…’

Jihyun melangkah tanpa semangat menuju hotel. Entah dia harus merasa senang atau sedih setelah bertemu Siwon. Setelah dipikir-pikir, mungkin sebaiknya dia tidak bertemu dengan teman masa kecilnya itu. Dengan begitu Siwon tidak perlu kecewa, dan dia pun tidak perlu merasa serba tidak enak seperti saat ini.

**

“Nona Jihyun!!” teriak sang pelayan, kemudian menghapiri nona mudanya itu.

“Anda dari mana saja nona? Saya sangat khawatir,” ucap sang pelayan.

“Maafkan aku Paman, aku sampai lupa waktu,” gumamnya pelan. Nampak sekali raut penyesalan karena telah melanggar janjinya.

“Tuan muda sangat khawatir karena Nona tak kunjung kembali hingga petang, sampai-sampai Tuan menelepon polisi untuk mencari Nona Jihyun.” Pelayan itu menunjuk seorang pria yang sedang sibuk berbicara di telepon di seberang sana, pria dengan setelan jas mewah yang membungkus tubuh tinggi dan tegapnya. Jelas sekali kalau pria itu adalah dari kalangan kelas atas.

Jihyun lantas menghampiri pria itu lalu merebut ponselnya. “Aku sudah kembali! Kau tidak perlu berlebihan seperti ini Oppa!”

“Jihyun~ah!” Pria itu langsung menghambur ke pelukan wanita itu. “Kupikir kau hilang karena tidak tahu jalan pulang.”

“Kau pikir aku anak kecil yang tidak tahu jalan pulang?” wanita itu mendengus. Setelahnya ia melepaskan pelukan sang pria.

“Kota ini terlalu indah, sampai-sampai membuatku lupa akan waktu.”

“Itulah mengapa aku mengajakmu kembali setelah bertahun-tahun untuk menggelar pernikahan kita di sini.”

Jihyun tersenyum, berusaha agar terlihat tidak seperti tersenyum yang dipaksakan. “Terima kasih.”

Tentu saja wanita itu tak bisa mengelabui mata sang calon suami, pria itu dapat melihat dengan jelas senyuman sang calon istri adalah senyum yang dipaksakan. Tapi berusaha tak ingin ambil pusing, pria itu lebih memilih diam.

“Oh Tuhan! Lihat! Apa yang terjadi dengan sepatumu?” tanya pria itu begitu menangkap kaki telanjang Jihyun, sepatu yang harusnya dikenakannya sekarang justru menggantung dikedua tangannya.

“Aku terlalu lelah menggunakannya saat menjelajahi kota ini, jadi kulepas saja,” jawab Jihyun asal. Tidak mungkin bukan ia memberitahukan bahwa tadi sepatunya dilepas karena sedang mengejar pencopet?

“Kau terlihat sangat lelah Jihyun~ah, lebih baik sekarang kita istirahat. Besok aku akan seharian menemanimu berjalan-jalan untuk melihat kota cantik ini! Kau harus coba menaiki gondolanya! Setelah itu kita akan……” oceh pria itu semangat.

Melihat tingkah calon suaminya itu, Jihyun hanya tersenyum sambil menatapnya lembut. Bagaimana bisa ia menyakiti pria di hadapannya ini? Pria ini sungguh mencintai dirinya, tapi sampai saat ini pun Jihyun tak dapat merasakan cinta untuk pria itu. Pria di hadapannya juga yang telah menjadi dewa penolongnya, mengadopsi dirinya yang dulu hanya sebatang kara. Mungkin memang takdir sudah menetapkan bahwa pria ini yang akan menjadi pendamping hidupnya, bukan Siwon. Cinta pasti bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu.

‘Maafkan aku Yunho Oppa…’

**

Malam selanjutnya, malam di mana tepat 15 tahun yang lalu saat Siwon meninggalkan Jihyun sendirian di Jembatan Banpo. Kenangan yang tak terlupakan.

Seperti janji yang dibuat sebelumnya, Yunho mengajak Jihyun untuk berjalan-jalan. Setelah makan malam romantis di hotel tempat mereka menginap, mereka berencana akan menaiki perahu kecil yang melintasi sungai Han. Melihat gemerlapan cahaya lampu Kota Seoul, sungguh indah bukan?

“Jihyun~ah,” Yunho memulai percakapan setelah terjadi keheningan beberapa saat karena mereka terlalu asyik bergumul dengan pikiran masing-masing. Kini mereka berada di atas perahu kecil menyusuri sungai Han.

“Hmm?”

“Apa kau masih ingat pertemuan pertama kita di jembatan Banpo?” Tanya Yunho.

“Tentu saja, mana mungkin aku melupakannya.” Tentu saja Jihyun masih mengingat dengan jelas pertemuan mereka di atas jembatan Banpo. Seorang anak lelaki yang tiba-tiba saja datang dan mengajukan rentetan pertanyaan, menghiburnya tatkala ia masih menangis, mencoba menghiburnya. Kemudian anak lelaki itu bersama dengan ibunya mengadopsinya, memberinya kehidupan yang layak. Yunho, malaikatnya, penyelamatnya. Tak pernah sepintas pun pikiran di otaknya untuk membuat Yunho kecewa padanya. Yang ada hanya bagaimana cara agar pria itu bahagia, karena hanya dengan ini terbalaslah rasa hutang budinya. Termasuk dengan menikah dengan pria ini.

“Sampai sekarang…kau tidak memberitahukan kepadaku apa penyebabmu menangis saat itu,” ucap Yunho.

Jihyun sedikit tersentak dengan kata-kata Yunho. “Itu karena…” pikiran Jihyun menerawang, “Aku sudah lupa,” lanjutnya sekenanya.

Yunho menatap Jihyun sepersekian detik, lalu tersenyum. “Wajar saja, itu sudah lama sekali.”

Pria itu kemudian merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah kotak beludru merah. Begitu terbuka, nampaklah sebuah cincin dengan batu permata berwarna biru sapphire.

“Sebenarnya, cincin ini akan kuberikan setelah upacara pernikahan kita selesai. Tapi sungguh aku tidak sabar melihatmu memakai cincin ini,” ucap Yunho.

“Indah sekali!” komentar Jihyun, sepintas ia teringat dengan cincin pemberian Siwon. Cincin itu sama persis dengan cincin yang kini tersemat di jari manisnya. Suatu kebetulankah?

“Sangat indah bila kau yang memakai,” ucap Yunho yang terlihat senang melihat Jihyun telah menggunakannya. “Cincin ini adalah cincin khusus yang dipesan oleh keluarga Choi, dan hanya digunakan oleh wanita-wanita keluarga Choi. Dan kau sebentar lagi akan menjadi wanita dari bagian keluarga Choi.”

‘Hanya digunakan oleh wanita-wanita dari keluarga Choi’. Kalimat itu sungguh terngiang di kepala Jihyun. Wanita keluarga Choi? Keluarga besar Yunho. Lalu kenapa Siwon juga memilikinya? Sebenarnya apa hubungan Siwon dengan keluarga besar Yunho?

“Jihyun~ah…” Yunho membuyarkan lamunannya.

“Hmm?”

“Kau pernah dengar soal cinta abadi di sungai Han?” tanyanya.

Jihyun menggeleng. Jujur saja, walau lahir dan tumbuh di kota Seoul, Jihyun sama sekali tidak pernah mendengar mitos tersebut.

“Ada yang bilang, bahwa jika sepasang kekasih berciuman di bawah jembatan Banpo maka cinta mereka akan abadi.”

“Kau percaya pada mitos itu?”

“Tidak. Tapi aku mempunyai sebuah keinginan untuk mencium wanita yang kucintai di sini,” tutur Yunho sambil menatap mata Jihyun lembut.

“Kau tahu? Kurasa kau akan segera mendapatkannya…” ucap Jihyun kemudian mengeliminasi jarak di antara mereka. Sedikit lagi keinginan Yunho untuk mencium wanita yang dicintainya akan tercapai apabila ponselnya tidak bordering. Kecewa memang, tapi mau bagaimana lagi?

“Dari Ibu…” ucap Yunho ketika melihat raut wajah Jihyun yang penasaran.

“Ini soal pernikahan kita esok lusa.”

“Apa ada masalah?”

“Tidak. Hanya saja ibu meminta agar cepat kembali ke hotel. Ada yang ingin ibu katakan.”

Gondola telah merapat ke tepi sungai Han, setelahnya Yunho sudah melompat turun.

“Yunho Oppa…”

“Hmm?”

“Bolehkah aku di sini lebih lama? Rasanya masih enggan untuk pergi dari tempat ini.”

“Tentu saja. Jangan kembali terlalu larut ya,” ucap Yunho kemudian mulai melangkah menjauh.

“Nona, apakah anda ingin melanjutkan perjalanannya?” tanya sang penggayuh.

“Ya.”

“Tunggu!” seru seseorang dari kejauhan kemudian perlahan menampakkan sosok pria berambut hitam.

“Siwon~ah?”

“Bolehkah?” tanya Siwon sambil melirik gondola itu.

Jihyun yang seakan mengerti menjawab, “Tentu saja. Naiklah!”

“Kukira kau tak akan menemuiku lagi,” ucap Jihyun saat gondola sudah kembali menyusuri sungai Han.

Siwon menatap tepat pada manic mata Jihyun. “Aku sungguh menyesal karena tidak bisa menemuimu saat itu.”

“Sudahlah, itu masa lalu.” Hening sesaat.

“Kau memakainya Jihyun~ah?” tanya Siwon saat melihat jari manis Jihyun tersemat sebuah cincin.

“Apa? Oh ini pemberian dari calon suamiku.”

“Calon suamimu?” Siwon terkejut bukan main, cincin itu pemberian calon suami Jihyun?

“Kenapa? Ada yang salah?” Tanya Jihyun begitu melihat raut keterkejutan di wajah Siwon.

“Tidak, tidak ada yang salah.” Gondola yang membawa mereka telah menepi kembali.

“Emm… Siwon~ah, sebenarnya kau mendapatkan cincin itu dari mana?” tanya Jihyun sedikit ragu.

“Aku mencurinya,” ucap Siwon datar.

“Benarkah?” Jihyun sepertinya sedikit tidak percaya dengan ucapan Siwon barusan.

“Sudahlah! Aku ke sini bukan untuk membahas cincin itu! Aku datang karena ingin menanyakan sesuatu.” Hyuri diam menunggu pertanyaan Siwon.

“Apakah… apakah kau mencintai calon suamimu? Di antara kami, mana yang lebih kau cintai? Aku atau dia?”

DEG. Kenapa tiba-tiba? – pikir Jihyun.

“Apa? Pertanyaan macam apa ini? Hahaha.” Jihyun tertawa garing, tetapi dari matanya terpancar kebimbangan.

“Jawab aku! Mana yang lebih kau cintai Jihyun~ah?” desak Siwon.

“Aku…” tatapan Jihyun beralih. Wajah gadis itu menunduk tak ingin memperlihatkan air mata yang sebentar lagi siap meluncur.

Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak ingin memberikan harapan pada Siwon, juga tidak ingin mengkhianati Yunho yang selama ini sudah berbuat banyak untuknya.

“Aku… mencintaimu…” jawab Jihyun pada akhirnya. Siwon tersenyum tipis.

Pria itu kemudian menghapus air mata yang baru saja mengalir di pipi gadisnya. Mengeliminasi jarak antara keduanya. Siwon mencium lembut bibir Jihyun, hati Jihyun justru semakin menyesakkan.

“Kumohon, ikutlah bersamaku Jihyun~ah…” pinta Siwon setelah menyudahi ciuman itu.

“Aku… tidak bisa, aku tidak mungkin meninggalkannya. Pernikahanku akan segera digelar esok lusa.”

“Kita bisa! Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Apa salahnya jika kita ingin meraih kebahagiaan kita sendiri?”

“Tidak. Tidak ada yang salah,” sahut seseorang yang kehadirannya sama sekali tak disadari Siwon maupun Jihyun. Perhatian keduanya kini tertuju kepada seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Mata Jihyun terbelalak tak percaya.

**

“Sialan!” Yunho mengumpati dirinya sendiri yang ceroboh meninggalkan kunci mobil di gondola yang tadi sempat ia naiki bersama Jihyun. Ia pasti akan terlambat untuk menemui ibunya, dan sang ibu akan menceramahinya panjang lebar. Dasar bodoh.

Ketika hampir mendekati bibir sungai, ia bersyukur bahwa gondola yang membawa Jihyun sudah menepi. Tetapi mata Yunho menangkap sesosok bayangan lagi yang tengah duduk bersama Jihyun. Pria itu mulai menghampiri gondola, namun kedua sosok itu tak menyadari kehadiran Yunho.

“Aku… mencintaimu…” dengan jelas Yunho dapat mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Jihyun. Sakir hati? Tentu saja. Wanita yang selama ini dicintainya dengan sepenuh hati ternyata mencintai orang lain.

Kedua orang itu kini tengah berciuman mesra untuk meluapkan perasaan mereka. Yunho masih terpaku di tempatnya berdiri. Tetapi pria itu lebih dikejutkan lagi oleh wajah pria yang sedang bersama Jihyun. Takdir benar-benar mempermainkan hidupnya. Oh tidak, hidupnya, Jihyun, dan pria itu.

“Kumohon, ikutlah bersamaku Jihyun~ah…” pinta orang itu.

“Aku… tidak bisa, aku tidak mungkin meninggalkannya. Pernikahanku akan segera digelar esok lusa.”

“Kita bisa! Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Apa salahnya jika kita ingin meraih kebahagiaan kita sendiri?”

“Tidak. Tidak ada yang salah,” ucap Yunho menimpali. Sungguh mengucapkan kalimat itu sangat menyakitkan untuk dirinya sendiri.

Oppa…” Jihyun terbelalak kaget melihat Yunho tengah berdiri menatapnya dan Siwon. Rasanya sudah seperti tertangkap basah sedang mencuri roti di pasar.

“Tidak ada yang salah jika kalian ingin meraih kebahagiaan kalian sendiri,” ulang Yunho kemudian pria itu mulai mendekati Jihyun dan Siwon.

“Ini tidak seperti yang kau lihat Oppa!” Jihyun buru-buru menghapiri Yunho.

“Persis seperti yang kukira selama ini, kau telah menemukan cinta sejatimu Jihyun~ah. Di sini, sudah lama kau mencarinya bukan?” Yunho menatap Jihyun dengan penuh perhatian, sama sekali tak menyiratkan aura kemarahan, walau sebenarnya di dalam hati pria itu rasanya sudah seperti tercabik-cabik.

Oppa…”

“Tapi yang mengejutkanku adalah orang yang kau cari selama ini adalah adikku.” Mata Yunho kini beralih menatap Siwon.

Jihyun sama sekali tak mengerti dengan ucapan Yunho. Dia menatap Yunho dan Siwon bergantian, “Adik? Aku maksudku–adik? Siapa yang adiknya–”

“Dia kakakku,” ucap Siwon pada akhirnya.

Jihyun melemparkan pandangan bingung kepada Siwon, “Kau tak mempunyai orang tua Siwon~ah, kau tinggal bersamaku di panti asuhan.”

“Aku tidak yatim piatu, aku kabur dari rumah–” Siwon mengaku, kemudian matanya beralih menatap Yunho. “Aku kabur dari rumah karena mempunyai prinsip hidup yang berbeda dari keluargaku. Lagi pula mereka tidak membutuhkanku, mereka sudah mempunyai dia sebagai kebanggaan keluarga.” Kalimat Siwon yang terakhir merupakan kalimat sindiran bagi Yunho.

“Kau salah Siwon~ah! Kami menyayangimu!” sahut Yunho.

“Kami sangat menyayangimu, kami sudah mencoba untuk mencarimu semenjak kau kabur dari rumah. Tapi kami sudah putus asa karena tak kunjung menemukanmu, dan pada akhirnya aku dan juga ibu menemukan gadis kecil malang yang tengah menangis dia atas jembatan Banpo.”

Siwon sudah pernah mendengar cerita itu dari Jihyun, tentang ‘keluarga baik hati’ yang telah menolongnya dan membawanya ke Jepang. Menjauh dari kota Seoul, dan menjauh dari dirinya.

Sementara itu Jihyun masih berkutat dengan pikirannya. Kini Jihyun tahu jawabannya mengapa Siwon juga memilik cincin yang sama dengan cincin pemberian Yunho, sudah tentu Siwon adalah anak dari keluarga Choi, keluarga Yunho. Dan kalau diperhatikan Siwon dan Yunho memang mempunyai kemiripan, rambut mereka yang hitam legam, kulit mereka sama-sama putih pucat, mata mereka yang tajam tapi menyorotkan kelembutan. Pantas saja Jihyun merasa tidak asing dengan wajah Yunho saat pertama kali mereka bertemu.

“Jihyun~ah,” panggil Yunho. “Apakah kau mencintai Siwon?”

Lidah Jihyun terasa kelu, “Aku…”

“Tidak perlu menjawab, aku sudah tahu jawabannya,” ucap Yunho lembut, membuat Jihyun terperangah.

“Aku juga tahu sebenarnya kau tidak pernah mencintaiku, kau menunggu cinta pertamamu. Itu yang menjadi alasan mengapa kau menangis di jembatan Banpo 15 tahun yang lalu, bukan?” lanjut pria itu.

Ya Tuhan, apakah sebegitu mencoloknyakah sampai Yunho mengetahui bahwa gadis itu tidak mencintainya?

“Yang menjadi alasanku ingin menggelar upacara pernikahan di Seoul adalah memberimu kesempatan untuk menemukan cinta pertamamu itu. Tapi jika pada saat upacara pernikahan kau tak kunjung menemukannya, maka akulah yang akan menggantikan posisinya untuk menjadi mempelai priamu. Tapi kini kau telah menemukannya.”

Jihyun memberanikan diri menatap mata Yunho dan berkata mantap, “Aku akan tetap menikah denganmu. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaanmu, impianmu, kau telah berbuat banyak untukku.”

“Tidak Jihyun~ah. Kebahagiaanku adalah melihatmu bahagia, dan kebahagianmu bukan bersamaku dan padaku. Tetapi ada pada Siwon dan bersama Siwon,” ucap Yunho dalam.

“Hiduplah bahagia bersama adikku, Siwon,” lanjutnya.

Siwon tak bisa berbuat apa-apa. Pria itu terpaku di tempat. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu kembali dengan sang kakak, dalam situasi seperti ini. Cinta segitiga.

Hyung kau tidak perlu–”

“Berjanjilah padaku Wonnie~ah,” ucapan Siwon terputus oleh suara Yunho.

“Berjanjilah padaku kau akan selalu membahagiakan Jihyun, demi aku, demi kebahagiaan kalian sendiri,” lanjut Yunho.

“Aku melakukan ini untuk menebus semua kesalahanku, aku yang membawa Jihyun menjauh darimu, dan aku pula yang harus membawanya kembali padamu. Dan aku tak ingin menyakiti hati adik kesayanganku.” Mata Siwon membulat, dia…

Oppa… tapi kau mencintaiku,” ucap Jihyun lirih. Air mata gadis itu sudah tak terbendung lagi.

“Cinta tak harus memiliki, kau sering mendengarnya bukan?” Yunho kembali tersenyum, senyum yang menyiratkan kesakitan.

Jihyun sudah tak tahan lagi, ia menghambur ke dalam pelukan Yunho. Pelukan persahabatan. Sungguh Jihyun tak sampai hati untuk menyakiti perasaan Yunho sang tuan baik hati.

“Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan hatimu padaku, tidak akan pernah,” ucap Jihyun kemudian melepaskan pelukannya. Yunho hanya tersenyum.

“Siwon~ah, mengenai pernikahan esok lusa, bisakah kau yang menggantikanku di sana?”

“Maafkan aku Hyung tapi aku mempunyai jalanku sendiri, akan kubuat Jihyun bahagia dengan caraku,” tolak Siwon.

Yunho tertawa kecil, “Belum berubah ternyata,” gumam Yunho tanpa seorang pun yang mendengarnya.

“Baiklah kalau itu kemauanmu, tapi tidakkah kau ingin menemui Ayah dan Ibu? Mereka pasti sangat merindukanmu.”

“Mungkin bukan sekarang, aku akan segera menemui mereka kalau aku sudah sukses. Emm, Hyung?”

“Ya?”

“Terima kasih,” ucap Siwon lirih.

“Eh?”

“Terima kasih atas semuanya, aku tidak akan melupakanmu,” lanjut Siwon. Setelahnya ia dan juga Jihyun pergi menaiki bus. Ketika mulai berjalan Jihyun menoleh ke arah Yunho yang masih tersenyum, senyum seorang tuan baik hati.

Yunho merasa lega bukan main, dapat membahagiaan kedua orang yang paling berharga di hidupnya walau harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

“Baiklah… Aku harus tetap menjalankan hidup. Oh tidak! Aku melupakan ibu, dia pasti akan mengomel sepanjang malam.” Dan sekali lagi, dia hanya bisa tabah menghadapi hidup.

 

 

~THE END~

Apa-apaan ini?? sudah buat readers nunggu lamaa, hasilnya gak memuaskan lagii T__T mianhaeyoo readers atas keterlambatan ini.. gak usah kebanyakan ngomong mending enjoy aja yaa!! semoga…bisa memuaskan walau sebenernya aku sendiri gak yakin..

Keep Read Like and Comment!! ^^

-your comment is a spirit for me-

8 thoughts on “We Will Meet Again [Part 2-End]

  1. Klo da jodoh emang bakalan tetep ketemu ya…
    Penulisannya sudah bagus lah meski ini agak sedikit kepanjangan.
    tp aku tetep bakalan nunggu sequelnya lo.
    Keep on writing y

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s