SCANDAL

SCANDAL

Author : Gita Oetary as Goetary

Cast : KangTa (former H.O.T), Stephanie (The Grace)

Genre : Romance

Rating : NC 17+

Length : One Shoot

Author Note : FF ini udah lumayan lama, dan udah pernah di publish di blog2 lain juga :) mian kalo gak ada yang suka pairingnya, tapi Kangta adalah suamiku, jadi terserah author mau diapain :P Kira2 ada yang tau sama Kangta? Kalo gak aku kasih tau sedikit, Kangta adalah mantan main vocalist boyband H.O.T grup pertama yang dibuat SMent taun 96. Waktu H.O.T bubar dia jadi soloist dengan album Polaris, salah satu lagunya Persona jadi back song disini, dia sampai sekarang masih setia berada dibawah naungan SMent. Umur Kangta 33 thn, jadi terserah kalian mau manggil Oom, Ahjussi, Oppa asal jangan panggil Sayang kalo gak pengen jadi korban aniaya author hehehe ;) v piss~

-Copyright & Cross-Posting by Goetary-

Aku seharusnya punya seribu alasan setelah membiarkanmu terseok masalah seperti ini. Tapi aku tak punya. Aku tak bisa mengatakan satu halpun yang bisa membenarkan perbuatanku kepadamu. Tapi aku tahu, dalam hatiku, seluruh hidupku, aku benar-benar mencintaimu.

 

Saat ini, di dalam dadaku seperti ada bom waktu. Yang bisa meledak kapan saja. Artinya juga bisa membuatku mati kapan saja. Aku tak sanggup terus hidup seperti ini, Oppa. Aku takut hidup terlalu lama dalam kesedihan.

 

Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tapi menyakitkan bagiku juga. Mulai saat ini aku tak akan meninggalkanmu sendirian. Jadi percayalah kepadaku.

Prologue,

Kangta menggenggam tangan Stephanie dengan penuh perasaan saat ia hampir sampai di puncak kenikmatan. Sementara wanita itu mengerang. Stephanie bisa merasakan sekujur tubuhnya panas. Sangat panas.

Seakan tubuh Kangta memancarkan gelombang berdaya isap, membuatnya tak mampu mengelak. Stephanie semakin merapatkan tubuhnya, mempertipis setiap inci jarak yang memisahkan mereka. Ia ingin merasakan Kangta dalam dirinya. Masuk lebih jauh ke sanubarinya yang haus akan belaian lelaki itu.

Stephanie melingkarkan tangannya di pinggang Kangta. Sementara tubuhnya mulai mahir mengikuti gerakan naik-turun yang dilakukan Kangta.

Kangta balas memeluk Stephanie. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung Stephanie yang ramping. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bokong Stephanie yang penuh. Kejantanan Kangta tiba-tiba kembali bereaksi. Keduanya merasakan hal itu.

Desah napas mereka langsung memburu, menggema.

Kangta mendesah sambil menciumi rambut Stephanie yang basah. Lalu menjauhkan tubuh wanita itu agar bisa menunduk dan menciumi bibirnya yang membuka. Bibir mereka saling memagut. Lidah mereka saling menjilat. Stephanie membiarkan Kangta menjadi pemilik utuh dirinya. Mendominasinya.

Membiarkan lidah Kangta masuk ke mulutnya. Menunjukkan kepemilikan lelaki itu yang tak akan pernah disesalinya. Lidah lelaki itu dengan penuh cinta menjelajah, menjilat, berputar-putar di dalam mulut Stephanie.

Seluruh panca indranya seakan lumpuh. Rambut Kangta tersangkut diantara jemarinya. Erangan lembut dan kata-kata mesra yang dibisikkan Kangta semakin membuat napasnya memburu dan tubuhnya seakan melayang.

***

Wanita itu menggeleng berkali-kali. Sudah cukup penderitaan yang ia rasakan. Sudah cukup air mata darinya. Pada akhirnya, sekuat apapun ia berusaha, sekuat apapun ia menginginkan tetap saja lelaki itu bukan takdirnya.

Tapi ia masih menangis. Karena dalam hatinya, seluruh jiwa raganya tak akan sanggup hidup dengan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan seperti ini.

Ia ingin lari dari sana. Meninggalkan lelaki itu. Tapi kakinya tak mau membawanya kemana-mana. Karena ia masih disitu. Menunggu, entah apa.

***

Ini sudah kesekian kalinya ada orang yang mengirimkannya paket berisi ancaman. Kali ini lebih menyeramkan, seekor kelinci dalam bingkisan merah, lehernya tercabik, ada darah dimana-mana dan secarik surat ditaruh sembarangan di atas badannya.

“KAU AKAN SEPERTI INI JIKA MASIH MENDEKATINYA”

Stephanie memegang surat itu dengan tangan bergetar. Hatinya sakit kali ini. Seolah apa yang sedang dilakukannya salah. Seakan berhubungan dengannya adalah sebuah dosa.

Because my throat burned my tears fall

Cause everything infront of me blurred

Stephanie tertidur dengan kepalanya di atas meja, rambutnya yang panjang terurai menutupi hampir seluruh wajahnya. Kangta berjalan mendekatinya sambil berjinjit supaya tak membangunkan gadis itu.

Ia berjongkok di samping meja Stephanie. Memerhatikan wajah cantiknya yang terlelap. Tangannya terulur, menyingkirkan rambut di wajahnya. Kangta tersenyum sekilas, tapi air mukanya dingin tanpa ekspresi saat tiba-tiba setitik air jatuh di pipi Stephanie.

Wanita itu bahkan menangis saat ia tertidur. Kangta ingin tahu mengapa. Ketika itu tatapannya tertumbuk pada secarik kertas dalam genggaman Stephanie. Ia pasti tertidur setelah membaca surat tersebut.

Kangta membelalak ketika membaca isi surat tersebut adalah sebuah ancaman. Dengan kata-kata kotor dan menakutkan seperti itu, ia yakin hati Stephanie pasti hancur lebur.

Ia memandangi wajah Stephanie lagi. Rasanya ingin mengecup bibirnya seperti biasa. Ingin memeluk gadis itu dan berbisik di telinganya bahwa ia tak akan pernah pergi meninggalkannya.

Because I couldn’t walk

I must have no able to even call enough strenght to hold onto you

Seseorang menggenggam jemarinya membuat Stephanie terjaga. Kelopak matanya terbuka perlahan dan orang itu tengah tersenyum kepadanya.

Rasanya ingin menangis. Stephanie langsung menyeka air mata di pipinya, ternyata ia tidur sambil menangis tadi. Hatinya sakit.

“Kau tak apa?” tanya lelaki itu. Raut mukanya nampak khawatir saat ia melepas genggaman tangan Stephanie.

Wanita itu mengangguk. Wajahnya mengernyit pilu. Ia ingin menangis. Air matanya memaksa keluar. Dan hatinya ngilu bagai teriris sembilu.

“Stephanie?” panggil lelaki itu memastikan.

Stephanie mengangguk lagi. Tapi kini air mata mulai merembes keluar. Ia tak sanggup menerima cobaan seberat ini. Semuanya terlalu sering membuatnya patah hati. Keadaan yang senang itu hanya bertahan selama beberapa detik saja dan penderitaan malah menyambutnya untuk selamanya.

“Mengapa harus aku, Oppa?” bisik Stephanie pilu. “Mengapa aku?”

Air mata menetes lagi, dan lelaki di depannya semakin bingung. Akhirnya, Yunho tanpa tahu permasalahannya menarik wanita itu kedalam pelukannya. Membiarkan ia menumpahkan segala perih yang bersarang dihatinya.

Sementara itu, Kangta hanya bisa menyaksikan kekasihnya menangis di pelukan orang lain. Karena ia sendiri tak punya cukup kekuatan untuk bisa menaruh beban Stephanie di bahunya. Mungkin ia memang pengecut. Yah, ia memang pengecut.

***

Tangisannya mulai mereda kini. Yunho sudah berbaik hati menawarkannya tumpangan untuk pulang kerumah. Tapi Stephanie menolaknya. Ia ingin diberi waktu untuk berpikir. Berpikir apa saja.

Who’s getting farther away

Not being able to make you laugh at least once

Ia melangkah keluar dari ruang rapat tempat ia tadi ketiduran setelah mendapat keputusan kalau dirinya harus mengundurkan diri dari agensinya.

Sebenarnya, bukan itu yang membuatnya berat. Ia berat harus meninggalkan Kangta.

Tanpa sengaja ia bertemu Kangta di koridor. Tatapan mereka beradu. Sesak rasanya. Karena yang diinginkan Stephanie adalah menjatuhkan dirinya dalam pelukan Kangta.

Rasanya sudah terlalu lama waktu berlalu. Waktu seakan meninggalkan mereka terlalu jauh. Bahkan penggalan kenangan yang terjadi di masa lalu perlahan mulai memudar.

With my heart that’s ripped and broken

And already withered away

Stephanie hampir menangis lagi. Napasnya tercekat ketika Kangta mengacuhkan dirinya padahal jelas-jelas mereka bersinggungan saat di koridor. Hatinya yang sudah remuk redam kini harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang menjadi alasan satu-satunya ia bertahan sudah tidak perduli lagi kepadanya. Ia sedih. Hancur.

***

Tak pernah cukup alasan untuk bertahan. Tak pernah cukup perasaan untuk menjadi kuat. Itu sebabnya ia disini sekarang. Mengakui kesalahannya karena sudah mencintai seorang Kangta. Meminta maaf kepada orang-orang yang melabelkan diri mereka sebagai fans lelaki itu.

Don’t turn to look at me, don’t turn around

Just run away as you are and forget me. Farther

“Aku minta maaf atas kejadian ini,” ujar Stephanie dengan suara bergetar. “Aku minta maaf karena sudah menjadi contoh yang buruk untuk anak-anak kalian,” katanya.

A little farther

Run away from me

It’s good that you’ve left me who’s so bad

Air mata Stepanie menetes. Ia merasa malu berdiri di depan hampir seluruh penduduk Korea. Ia malu karena mereka melihatnya tanpa sehelai benang pun. Karena dalam pikiran mereka dirinya saat bercinta dengan Kangta yang tersebar di internet dan media massa masih teramat jelas dalam benak mereka.

So unworthy, so foolish

Don’t have any memories don’t even remember me

Seseorang meneriakinya jalang. Orang lain meneriakinya pelacur. Semuanya ia dapatkan hari itu. Hukuman baginya karena mencintai seseorang yang tak semestinya ia cintai.

Stephanie menangis pilu. Ia berusaha tegar. Tapi ia tak sekuat itu. Dalam ingatannya ia kembali melihat wajah Kangta hari itu. Yang membisikkan kata-kata mesra kepadanya, yang bilang kalau ia mencintai Stephanie. Tangisannya tak berhenti sesering cemooh yang ia terima.

Padahal ia juga manusia. Tak salah jika mencintai seseorang. Tak salah kalau bercinta dengan orang yang ia cintai. Ia tahu, dirinya publik figur yang semestinya memberi contoh yang baik. Dan selama ini ia sudah berusaha. Tapi, ia kembali lagi pada sosok manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

The words “be well” and “I’m sorry”

If you’re wanting to leave me

Than instead just kill me right here and go

Ia berlari sekuat tenaga. Sesekali hampir menabrak pejalan kaki yang berlalu lalang. Tapi ia tak perduli. Saat ini hanya ada satu hal yang harus dipastikannya.

Kangta sampai di gedung konfrensi. Dan menyaksikan wanita yang ia cintai tengah berlutut di depan banyak orang. Tiba-tiba hatinya terasa pilu.

Kangta berlari naik ke atas panggung. Ia sampai di depan Stephanie yang tidak melihat kedatangannya. Kangta menarik lengan Stephanie dan membantu wanita itu berdiri.  Tanpa sadar ia mundur selangkah.

Without you day by day I’ll die away

But you know, you know that it’s already too late to go back

Kangta heran melihat Stephanie yang menjauhinya. Ia kembali menarik lengan wanita itu dan menariknya ke pelukan tapi Stephanie malah mendorongnya jauh-jauh. Tak kuasa menahan emosi tanpa sadar telapak tangan Kangta mendarat ke pipi Stephanie.

Wanita itu nampak terkejut dengan yang dilakukan Kangta. Kangta menatapnya membelalak. “Kau mau meninggalkanku? Mau kemana? Mau pergi tanpa aku? Kalau begitu seharusnya dari awal tak perlu muncul di depanku!”

Air mata kembali merembes. Ini pertama kali ia melihat Kangta lepas kendali seperti ini. Rasanya takut bercampur sedih. Takut karena emosi Kangta yang meledak-ledak dan sedih karena ia tahu kalau penyebabnya adalah dirinya.

What about me who’s become so much like you

How in the world?

Why are you trying to leave me? Why?

“Aku seharusnya punya seribu alasan setelah membiarkanmu terseok masalah seperti ini,” ujar Kangta mulai melunak. “Tapi aku tak punya. Aku tak bisa mengatakan satu halpun yang bisa membenarkan perbuatanku kepadamu.” Ia menarik napas dalam dan kembali menatap mata Stephanie, “tapi aku tahu, dalam hatiku, seluruh hidupku, aku benar-benar mencintaimu Stephanie.”

Stephanie menggeleng kuat-kuat dengan wajah kaku ia berkata, “saat ini, di dalam dadaku seperti ada bom waktu. Yang bisa meledak kapan saja. Artinya juga bisa membuatku mati kapan saja. Aku tak sanggup terus hidup seperti ini, Oppa. Aku takut hidup terlalu lama dalam kesedihan.”

Kangta memandangnya dengan rasa bersalah. “Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tapi menyakitkan bagiku juga. Mulai saat ini aku tak akan meninggalkanmu sendirian. Jadi percayalah kepadaku.”

Lelaki itu melangkah maju perlahan, tapi Stephanie kembali mundur. Ia menggeleng. Hatinya yang sakit. Pikirannya yang lelah. Raganya yang serasa lumpuh membuatnya kehilangan keseimbangan. Stephanie terhuyung ke belakang.

Dengan sigap Kangta meraihnya. “Stephanie?” panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Stephanie yang berkeringat. Wanita itu panas dingin, badannya panas sekali.

Kangta memeluknya dengan panik. Sambil sesekali memanggil namanya. Air mata yang selama ini dipendam akhirnya menetes di wajah Stephanie yang pucat. Tapi Stephanie tak lagi bisa merasakannya. Ia tak merasakan apapun. Tak lagi ada perasaan apapun.

***

Don’t turn to look at me

Don’t turn around

Just run away as you are and forget me

Matanya mengerjap ngilu. Jemarinya terasa berat dalam tindihan tangan seseorang. Ia membuka matanya perlahan. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menjerit.

Kangta sedang tertidur pulas di samping ranjangnya. Tapi ia tak kenal ruangan ini. Ini bukan kamarnya ataupun kamar Kangta. Bau steril khas rumah sakit menyerang hidungnya dan Stephanie mencibir.

Farther a little farther

Run away farther away from me

Stephanie mengangkat tangannya dan membelai lembut rambut Kangta. Perlahan menarik tangannya yang digenggam lelaki itu berusaha untuk tidak membangunkannya. Stephanie beranjak turun dari ranjang rumah sakit, kembali mengendap-endap ia membuka pintu ruangan tersebut.

It’s good that you’ve left me

Stephanie menggigit bibirnya. Menahan rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Tiba-tiba ia terhuyung ke belakang. Kangta menarik lengannya sampai Stephanie menatapnya.

So unworthy, so foolish

“Jangan kira kau bisa lari dariku,” geram Kangta.

“Oppa…”

“Sebenarnya apa sih yang kau pikirkan?” tanya Kangta tak habis pikir. Ia memijit pelipisnya dan kembali menatap mata Stephanie. “Kau tak boleh kemana-mana lagi. Setelah kupikir-pikir aku juga sudah punya cara untuk membuatmu tetap disisiku,” ujar Kangta percaya diri.

Stephanie memandangnya tanpa ekspresi.

Don’t have any memories

Don’t remember me

Kangta mengelurkan sesuatu dari kantong celananya. Stephanie terperangah melihat cincin yang dipegang Kangta di depan matanya. Cincin itu cantik sekali, dengan batu berwarna hijau jamrud. “Menikahlah denganku.”

Stephanie menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia memejam mata, mengira dengan begitu segala halusinasi ini bisa menghilang dan pergi darinya.

“Aku disini, Steph. Ini bukan mimpi,” ucap Kangta lembut. Ia meraih tangan Stephanie dan menyematkan cincin tadi di jari manisnya. “Menikahlah denganku,” ulangnya sekali lagi.

Even if you’re so lonely you think you might die

Stephanie tak kuasa menjawab lamaran tersebut. Hanya air mata yang kembali menemukan jalan keluar. Sementara Kangta tak butuh jawaban apapun. Ia yakin wanita itu mau menerimanya. Menjadi istrinya. Wanita satu-satunya dalam kehidupannya.

Kangta meraih Stephanie dalam pelukannya. Mengecup ringan dahinya dan kembali membenamkan kepala wanita itu di dadanya.

“Aku tak akan meninggalkanmu lagi,” bisik Kangta. “Akan selalu disisimu.”

Dan ia bisa merasakan anggukan kepala Stephanie yang halus. “Terima kasih,” bisiknya pelan.

Kangta mendorong tubuh Stephanie agak jauh darinya. “Tak perlu berterima kasih padaku, Steph. Karena akulah orang yang seharusnya berterima kasih.”

Stephanie tak menjawab. Ia hanya tersenyum.

“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah menjagaku. Aku cinta padamu, Stephanie.”

END

3 thoughts on “SCANDAL

  1. Ceritanya sich seru dan ga bermasalah ya… Tp utk sbh one shot masih kependekan. Lalu ni ff pernah di post di sm town ff y?
    Keep on writing y

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s