Release!

Judul: Release!

Author: Vii-Chan or emibuct24

Cast:    -Jung Yunmi

-Kim Junsu

-Cho Kyuhyun (Cameo)

Rating: R

Genre: Romance

Ok! Selamat menikmati! Ini kepikiran begitu aja waktu lagi melamun dikamar :p FF ini juga sebenernya agak ketunda waktu itu karna ada banyak ujian T.T dan baru semper dilanjutin beberapa waktu yang lalu. Ini juga lama kesimpen aja di lepi, untung gak basi (u,u) jadi baru sempe post sekarang. :)

Enjoy it!! Berikan komentar jika ada salah kata, atau jika ada saran juga! Mohon bantuaannya!!! :)

 (Maaf belum bisa bawa lanjutannya yg kemarin hehhe.. tapi pasti akan diselesaikan kok! :) )

-***-

            “Aku rasa kita harus mengakhiri ini semua.” Seorang pria ber-jas hitam Louis Vuitton terduduk dihadapan segelas Wine-nya dan seorang gadis cantik dengan Embellished Crepe Dress-nya yang terlihat sempurna ditubuh rampingnya.

Gadis itu membuang pandangannya pada pemandangan diluar restoran yang langsung menampakan Han River dimalam hari. “Hey! Sungai sangat indah. Apa kau ingin berjalan?” Gadis itu berucap dengan ceria dan mengangak perkatan pria itu sebagai semilir angin berlalu.

“Aku tidak bisa! Kau harus berjalan dengan orang yang kau cintai”

Kali ini gadis itu menatap pria dihadapannya, walau agak terkejut dan terpukul ia terus mempertahankan sisi manisnya dengan senyum. “Aku mencintaimu!”

Alunan lembut pionis terus mengema mengisi kekosongan mereka untuk beberapa waktu. Gadis itu sendiri masih terus menatap dengan pasti pria dihadapannya, sedangkan pria dihadapannya terus menatap gelapnya Sungai Han. Menghindari tatapan gadis dihadapannya.

“Berhentilah berpura-pura dan tataplah aku. Aku tahu kau juga menyukaiku!” ucapan gadis itu membuat pandangan pria dihadapannya beralih padanya.

“Aku memang menyukaimu, tapi tidak seperti yang kau pikirkan. Berhentilah sampai sini bukankah sudah aku katakan aku menentang pernikahan kita?”

“Aku tidak akan berhenti! Bukankah ini sudah terlambat? Minggu depan kita akan menikah”

“Ini sudah sangat larut. Ayo kita pulang!” Pria dihadapan gadis itu bangkit merapikan jas-nya dan berlalu meninggalkan gadis itu yang masih terdiam menatap punggung yang semakin berjalan menjauhinya. Dalam diam ia berharap sosok itu akan menoleh padanya dan menawarkan tangannya untuk ia genggam tapi itu tidak pernah terjadi.

“Turunkan aku disini!” Ucap gadis itu yang kali ini tengah berada didalam sebuah Maserato Gran bersama pria ber-jas Louis Vuitton yang tadi bersamanya.

“Ini bukan rumahmu! Bukankah kau bilang aku harus selalu mengantarmu sampai depan pintu-mu?”

“Bukankah menuruti perkataanku juga termasuk dalam daftar permintaanku sebagai kekasihmu?”

Maserato Gran hitam itu terhenti dan meninggalkan seorang gadis ditepi terotoar sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya. Gadis itu sendiri masih menatap Maserato Gran itu hingga hilang dalam sebuah tikungan. Gadis itu berjalan berlahan menelusuri jalan yang begitu gelap dan sepi menghampiri sebuah bangku tepi jalan.

Gadis itu menerawang menatap lagit membuat dirinya terperangkap pada rasi bintang yang bertaburan dilangit. Segala hal dan bahkan apapun telah gadis itu miliki, tapi entah kenapa hanya pria yang ia cintai yang tidak bisa ia miliki. Tidak peduli seberapa keras ia berusaha mendapatkan dan menyentuh hati pria itu, pria itu tetap tidak pernah mempedulikannya.

Lamunan gadis itu tersita karna dering ponselnya yang menandakan sebuah sms.

From: Cho Kyuhyun

Apa kau sudah pulang? Kau sudah makan? Aku bosan! Bisa tidak aku menginap lagi dirumahmu? Temani aku bermain! Aku punya DVD baru!

Bukannya membalas pesan itu, gadis itu lebih memilih menelpon pengirim sms. Setelah nada sambung terhenti dan seseorang berseru diserbang sana gadis itu berkatan, “Bisa kau kesini? Junsu meninggalkan ku! Aku sendiri…”

Dengan langkah berlari Kyuhyun terus menelusuri jalan setapak yang sangat sepi dan gelap. Memikirkan seorang gadis terduduk dalam diam diantara kegelapan dan kesendirian seperti ini membuatnya khawatir dengan keadaan gadis itu. Dan lagi satu hal yang sangat ia yakini; hal yang tidak baik baru terjadi dengan gadis itu.

Kyuhyun menghela nafas lega saat melihat seorang gadis terduduk dalam diam disebuah bangku taman. Dalam bayangan gelap malam ia menyungingkan senyumnya.

“Ah! Anginya cukup segar juga! Ya, Jung Yunmi! Kenapa tampangmu jelek begitu?”

Yunmi menatap Kyuhyun secara teliti, “Ya, Cho Kyuhyun Kemana Sepatu-sepatu mu? Apa kau sudah menukarnya dengan sendal jepit murahan?”

“Hey! Ini hadia dari Eunhyuk Hyung! Aissh! Kenapa aku tidak melihat dulu sebelum memakainya!” Yunmi tersenyum tipis dan Kyuhyun tersenyum lebar melihatnya. “Kau mau kopi?”

“Ani! Aku ingin minum! Kajja temani aku!”

Kyuhyun manarik lengan Yunmi secara paksa dan langsung membuat gadis itu kembali terduduk, “Jukeosipho? Dari kemarin kau terus minum!”

Yunmi menepis kasar tangan Kyuhyun dan berlalu meninggalkan pria itu tanpa mempedulikannya.

Mereka terduduk pada sebuah pub yang cukup sepi dengan sebotol wine dan gelas mereka. Yunmi menuangkan segelas untuk Kyuhyun dan dirinya, lalu menengak wine-nya dengan cepat. Saat gadis itu kembali menuangkan wine pada gelasnya, Kyuhyun segera menghentikannya.

“Minumlah perlaha!”

Kyuhyun segera meraih botol wine dan menjauhkannya dari Yunmi, tapi Yunmi kembali merampasnya. “Aku lelah! Biarkan aku minum!”

Kyuhyun hanya bisa menatap nanar Yunmi dihadapannya. Dia bukan termasuk dalam pria yang pandai berbicara jadi mungkin menurutnya untuk saat seperti ini ia hanya bisa membiarkan gadis itu dalam kesendiriannya. Jika bercermin, mungkin dirinya dalam posisi yang hampir sama dengan Yunmi. Unrequited Love, pemilik perasaan yang tidak terbalas. Tidak peduli apapun yang telah dilakukan baik Yunmi atau’pun Kyuhyun mereka sama-sama tidak mencapai apapun.

Yunmi membuka perlahan matanya, membiarkan korneanya meyaring sinar pagi. Ia mencoba bangkit dengan kepalanya yang masih terasa pusing. Ia memijar perlahan kepalanya, “Ah! Eojileo!”

“Kau sudah bangun?”

Seorang pria bersandar diambang pintu kamar Yunmi dengan seluruh perhatiannya pada buku yang ia baca. Yunmi segera bangkit dan berdiri dihadapan pria itu, ia menutup paksa buku pria itu. “Bukankah ada satu hal yang harus kau berikan padaku setiap pagi, Kim Junsu?”

Pria bernama Junsu itu menatap Yunmi dan kemudiam menarik gadis itu dalam pelukan dan ciumannya. Ia menarik tengkuk gadis itu dan mempererat pelukannya selama mereka berciuman, mengunci gadis itu.

“Aku sudah menyediakan latte kesukaan mu. Na Bappa!” Junsu mengecup kilas kelopak mata Yunmi dan meninggalkan gadis itu tidak peduli.

“Kau sudah sarapan? Tidak mau makan bersama?”

Junsu menghentikan langkahnya. Pagi ini ia memang belum sarapan bahkan sebelumnya juga begitu, karna permintaan kekanakan Yunmi ia bahkan harus berangkat lebih pagi dari biasanya. Menyediakan Latte yang penuh cream susu dan dibentuk dengan love, morning kiss, dan goodbay kiss di kelopak matanya setiap ia akan pergi kerja. “Kau tidak menyebutkan aku harus sarapan dengan mu dalam syarat berpacaran kita!”

“Apakah itu penting?” Yunmi mendekat dan menarik lengan Junsu menuju dapur, “Gudae! Mulai besok kau juga harus sarapan dengan ku!”

“Geuman!” Junsu melepas tangannya dan meletakan dengan manis tangan Yunmi disamping tubuh pemiliknya. “Berhentilah! Jangan berbuat lebih lagi. Apa aku masih harus melayanin permintaan kekanakanmu?”

Yunmi tersenyum naif, “Kau mengatakannya? Kau menolak ku?”

“Ne… Apa itu artinya kita harus berpisah?”

Yunmi berjinjit dan mengecup kilas Junsu, merapikan tatanan rambut pria itu dan kerah jasnya. “Kayo! Kau sibukan? Jangan lupa makan, huh?” dan terakhir Yunmi membersihkan debu pada bahu Junsu. “Ah! Kau jangan lupa, nanti siang kita harus memilih cincin!”

Junsu sendiri tidak terlalu memusingkan hal itu. Yang penting baginya ia bisa pergi dari gadis itu dan menikmati sarapannya sendiri dikantor. Merasakan hangatnya kopi dipagi hari dengan tenang seperti semestinya.

Yunmi melangkah disebuah lorong bedinding kayu dengan beberapa lukisan terpajang. Beberapa orang yang melihatnya segera menundukan badannya memberi hormat pada gadis itu. Ia membuka sebuah pintu besar dan segera menemukan Junsu dan beberapa berkas kerjaannya. Ia segera menarik paksa berkas itu dari hadapan Junsu.

“Ah! Direktur Kim kau tidak lupa janji kita kan?”

Junsu melepas kacamata kerjanya, “Kka! Na Bappa!”

“Bappa? Jeongmal? Sampai kapan kau akan terus mengatakan ‘sibuk’?” Yunmi meletakan begitu saja berkas kerja Junsu dimejanya, “Tidak bisakah kau melakukan satuhal yang membuatku senang?”

“Aku sudah melakukan apapun yang kau katakan! Membuatkan latte setiap pagi, morning kiss, goodbay kiss, mengantarmu sampai depan pintu aparte-mu, mengirim pesan setiap hari, apa kau masih belum senang?”

Yunmi memejamkan matanya mencoba menjernikan pikirannya yang hampir meledak. “Junsu-a! Pernahkah kau melakukan sesuatu yang tulus untuk-ku?” Junsu diam dan lebih memilih kembali pada tumpukan berkasnya. “Junsu-a! Pernahkan kau memikirkan ku?” Yunmi menarik nafas perlahan, “Dan pernahkah Merindukan ku? pernahkah kau mencintaiku?”

Junsu tidak berkata, lebih tepatnya ia tidak pernah melakukan apapun yang Yunmi tanyakan tadi. Status mereka saat ini terjadi karna sebuah perjodohan, walau ia menolak tapi kedua orang tuanya dan Yunmi sendiri menyetujuinya. Seperti apapun ia mencoba memikirkan gadis dihadapannya, ia tetap tidak bisa menyukainya. Ia tidak pernah menyetujui pernikahan karna bisnis, mungkin itu yang ia sesali karna telah menjadi seorang Kim Junsu.

“Kenapa kau terus menutup hati-mu? Apakah ada orang lain?” Junsu menatap Yunmi, kali ini mata gadis itu cukup merah  entah karna ruangan ber-AC atau menahan emosinya.

“Eobsso!”

“Tidak pernahkah kau mencoba melihatku?” Junsu terdiam, “Hah! Kau bahkan tidak pernah mencobanya!”

“Aku selalu mencobanya!” Junsu berkata dengan agak tegas membuat Yunmi menatapnya. “Aku selalu mencobanya! Semakin mencobanya semakin aku ingin menjauh dari mu! Tidak peduli dalam keadaan apapun aku ingin terus menjauh darimu. Kau, kau membuatku tidak dapat bernafas! Kau selalu disisiku dan selalu menyuruhku melakukan apapun! Tidak kah kau lelah? Aku lelah… Apa bisa kita hentikan semuanya?”

“Tidak bisa Kim Junsu! Kita tidak bisa berhenti dalam keadaan ini. Bukankah beberapa hari lagi kita akan menikah? Kau ingin menghancurkan segalanya?” Yunmi Meraih hanphon-nya dan membuat sebuah pangilan keluar. “Bawakan padaku katalok cincin pernikahan!” Yunmi segera menutup pangilannya dan kembali menatap Junsu. “Dalam keadaan apapu kita tidak bisa berhenti! Kau hanya kurang mencobanya. Kau bisa mencoba lagi mulai sekarang” Yunmi tersenyum dengan manis pada Junsu. Junsu sendiri hanya dapat menghela nafas panjang mendengarnya, ia benar-benar berharap semuanya berhenti sekarang juga.

Lantunan lembut Pionis menemani Yunmi yang terduduk sendirian disebuah bangku bar. Ia menengak dengan cepat wine-nya dan kembali menuangkannya. Saat ia akan menuangkannya seorang pria meraih botolnya dan mengantikannya menuangkan untuk gelasnya.

“Bukankah anggur akan lebih enak jika diminum berdua?”

Yunmi tidak mempedulikannya dan langsung menengak wine-nya, saat meletakan gelasnya ia menatap sebuah cincin melingkar dijari manis pria itu. “Kau bukan pria lajan! Itu cincin pernikahanmu kan? Kau ingin mengodaku?”

Pria itu mencoba menyembunyikan tangan kirinya dengan agak gugup.

“Aku juga akan menikah. Beberapa hari lagi! Dia sangat baik dan tampan. Bahkan cincin pertunangan ku penuh berlian! Ah yeupeutta!” Yunmi menatap sebuah cincin dijari manisnya dengan senyum, walau sebenarnya cincin itu tidak bisa disebut sebuah cincin pertunangan, tapi cincin yang ia minta dari Junsu untuk menjadi hadia ulangtahun-nya.

Pria itu segera membenarkan letak dasinya dan beranjak pergi meninggalkan Yunmi. Yunmi kembali pada gelas wine-nya. Merasakan pahitnya alkohol yang langsung membakar tengorokannya, membuatnya sedikit melupakan pikiran tentang Junsu.

“Kenapa kau terus minum seperti ini?”

Kyuhyun segera menarik sebuah gelas yang akan diminu Yunmi. Yunmi yang agak setengah sadar menatap sinis Kyuhyun dan kembali merampasnya. “Ini milik-ku!”

Kyuhyun menghela nafasnya dan ia meraih botol wine Yunmi, menjauhkan dari gadis itu. “Ada apa denganmu?”

Yunmi diam dan taklama ia berdecak, “Na Mollaso!” Yunmi tersenyum naif dan mencoba meraih botol wine-nya tapi hanya angin yang ia dapat. “Ah! Dimana wine-ku?! Ah! Hilang! Kyu! Minumanku hilang!”

Kyuhyun tidak mempedulikan jeritan histeris gadis itu ia malah meraih tangan gadis itu dan mengengamnya dengan kuat. “Apa kau ingin terus seperti ini? Tidak bisakah kau lepaskan dia?”

Yunmi segera menepis kasar tangan Kyuhyun, “Jangan sentuh aku! Kau bukan siapa-siapa! Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu! Seharusnya kau mendukungku Kyu…” Nada suara Yunmi yang awalnya meningi kembali menurun. Menunjukan emosi dalam dirinya yang juga masih belum labil karna beberapa pikiran akhir ini.

Kyuhyun menatap mata kecoklatan Yunmi yang agak sayup karna efek alkohol. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau seperti menyukaiku saja!” Yunmi tertawa santai. “Ah! Tentu kau menyukaiku. Aku kan sahabatmu!”

Seketika hati pria itu menghilang. Terasa hampa dan kosong serta rasa yang agak menyekitkan. Ia lalu tertunduk menyembunyikan dirinya yang bahkan tidak dapat mengatakan apapun pada gadis dihadapannya.

“Kyuhyun-a! Aku berharap orang yang aku suka itu kau… setidaknya kau selalu bersikap baik padaku, melakukan hal yang aku suka tanpa perlu aku katakan. Kenapa Junsu tidak bisa melakukan hal itu?”

“Kalau begitu sukalah padaku! Maka aku akan lebih menyukaimu. Kau bisa mulai menyukaiku, dan kau bisa meninggalkan pria itu…”

Yunmi diam menatap Kyuhyun dan tak lama ia tertawa, “Kau lucu Kyu. Itu cukup menghibur!” Yunmi masih tertawa pelan, “Jika begitu aku bisa meninggalkan Junsu dengan bahagia. Lalu mendapatkan cintamu dengan tulus. Bahkan lebih tulus. Ah! Happy ending ever after! Kau pintar membuat cerita juga Kyu.”

“Gudae? Aku pandai membuat cerita?” Kyuhyun mencoba tertawa, walau ada perasaan lain dalam hatinya dan umpatan pada otaknya karna kebodohannya.

“Hhhmmmm…..” Yunmi bergumam panjang dan menutup matanya, tertidur. Kyuhyun segera meraih gadis itu dalam pelukannya. Ia menghela nafasnya berat, akhir-akhir ini ia selalu melakukan hal itu, ia bahkan akan segera lupa bagaimana cara menarik nafas dengan begitu ringan.

Kyuhyun menatap Yunmi yang terpejam, terlihat lebih polos dan lucu. Kyuhyun tersenyum dan terus menatap gadis itu. Melihat bibir gadis itu yang agak memerah karna angur, pipi putihnya yang juga memerah karna memabuk, dan matanya yang terpejam rapat. Kadang ia memikirkan hal gila saat gadis itu tertidur, mengeciumnya, tapi ia tahu gadis itu pasti tidak akan suka dengan apa yang ia lakukan. Lagi pula ia tidak ingin menjadi pengecut yang mencuri ciuman seorang gadis saat gadis itu tertidur, bahkan ia sudah terlalu lama menjadi pengecut karna terus menyembunyikan perasaannya sendiri.

Yunmi terduduk pada sofa ruang tengahnya, menyalakan sebuah tv hanya untuk memecahkan kesepian dirumahnya dan mengengam erat secangkir kopi hangat. Mata kecoklatannya melayang bebas diluar kaca apartemennya, dan pikirannya terlalu jenuh untuk berpikir. Lusa adalah satu hari yang paling ia tunggu, pernikahannya, walau ia masih agak ragu untuk melakukannya tapi ia tidak akan pernah membatalkannya. Tidak peduli seperti apapun dan bagaimanapun lusa harus berjalan dengan lancar.

Yunmi meraih remot tv-nya dan menekan tombol off menghentikan kebisingan di aparte-nya. Perlahan ia menghirup aroma kopi lalu menyeruputnya perlahan, merasakan rasa pahitnya merasuki kerongkongannya. Walau biasanya ia membenci rasa pahit kopi tapi kali ini ia ingin meminumnya. Ia menghela nafas berat dan membenamkan dirinya pada kedua lutut kakinya yang tertekuk.

“Apa yang kau pikirkan?”

Sebuah suara yang agak serak dan lembut mengagetkan Yunmi, membuat wajahnya terangkat sebentar dan ia kembali menyembunyikannya lagi dikedua lututnya. “Na mollaso—“ Junsu baru saja akan membuka mulutnya lagi, tapi Yunmi menyelanya “Jangan datang untuk memohon pada ku agar aku berhenti. Aku tidak akan pernah menghentikan ini semua!” Junsu bungkam, dan terus diam pada posisinya saat ini.

“Jika hanya itu yang ingin kau katakan pulanglah! Kau harus istirahat!”

Yunmi bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Terlalu keluh pikirannya untuk berbicara dengan Junsu saat ini.

“Aku sudah mencoba apapun. Tapi aku tidak bisa. Aku sudah pada batas akhirku… apa kau tidak begitu?”

Yunmi menghentikan langkahnya namun engan untuk memutar badannya dan manatap pria itu, “Pulanglah!”

“Berhentilah untuk pura-pura tidak mengetahu apapun! Berhentilah membohongi hatimu! Kau lelah kan untuk terus mempertahanku seperti ini?”

“Pergilah!”

“Bisakah kau buka mata-mu dan lihat posisi kita saat ini? Aku tidak bisa terus berdiri disampingmu dan terus berbohong pada diriku bahwa aku menyukaimu. Aku bukan boneka yang harus terus menuruti perintahmu…”

“AKU BILANG ‘PERGI!’”

Junsu diam, dan seluruh luapan perasaan dihatinya kembali terhenti. Ia masih engan untuk pergi dan terus berdiri diposisi awalnya. Yunmi sendiri juga tidak merubah posisinya. “Yunmi-a!”

“Pulanglah! Kau harus istirahat.”

Yunmi baru saja akan melangkahkan kakinya lagi, tapi Junsu kembali berkata “Aku tahu kau gadis yang baik… Jaebal, Nal bonaejwo.” Kali ini Junsu berbalik dan meninggalkan gadis itu sendiri. Ia tahu sekeras apapun ia mencoba, gadis itu tetap tidak dapat ia luluhkan.

Tinggalah Yunmi dengan suara pintu aparte-nya yang baru tertutup. Ia tidak tahu kemana ia harus melangkah. Maju ataukah mundur, atau lebih baik ia tetap pada posisinya saat ini dan membiarkan waktu yang membawanya. Ia sungguh tidak tahu.

Memikirkannya membuat gadis itu merasa lelah dan ia’pun terduduk dilantai. Ia tertunduk menatap dirinya yang nampak sangat menyedihkan, dengan kedua tangannya ia menyembunyikan wajahnya dan linangan air matanya yang telah membasahi pipinya. Ia menggigit bibir bawahnya menahan suara isakan agar dirinya tidak nampak sangat menyedihkan.

Yunmi terduduk diantara tirai putih transparan yang melingkar disekitarnya. Dengan balutan wedding dress angun dan sebucket bunga ia terdiam dengan pikirannya. Beberapa waktu lagi, Benarkah hanya beberapa waktu lagi? Benarkah setelah ini Junsu akan menjadi miliknya? Dan gadis itu menatap bucket bungan digengamannya.

“Aku selalu mencobanya!” Pendengarnya menangkap kilasan perkataan Junsu. “Aku selalu mencobanya! Semakin mencobanya semakin aku ingin menjauh dari mu! Tidak peduli dalam keadaan apapun aku ingin terus menjauh darimu. Kau, kau membuatku tidak dapat bernafas! Kau selalu disisiku dan selalu menyuruhku melakukan apapun! Tidak kah kau lelah? Aku lelah… Apa bisa kita hentikan semuanya?” Kali ini kalimat itu terdengar lebih jelas.

Yunmi mengigit bibir bawahnya, walau seperti apapun perasan menyesal terus menyergapnya dan menikamnya. Perasaan itu bahkan kadang datang seperti mimpi buruk yang akan menyeretnya ke-neraka.

“Aku sudah mencoba apapun. Tapi aku tidak bisa. Aku sudah pada batas akhirku… apa kau tidak begitu?” Yunmi menundukan kepalanya merasa malu, ia tahu ini salah. Ia tahu tidak seharusnya ia melakukan hal ini. Tapi ia benar-benar tidak bisa melepaskan Junsu.

“Berhentilah untuk pura-pura tidak mengetahu apapun! Berhentilah membohongi hatimu! Kau lelah kan untuk terus mempertahanku seperti ini?” Kali ini walau ragu Yunmi membenarkan perkataan Junsu. Ia lelah, bahkan sangat lelah. Bagai mana bisa ia terus hidup seperti seorang gadis yang kejam yang terus memaksa orang lain untuk mencintainya. Bahkan tuhan sekali’pun tidak pernah memaksa hambanya untuk taat padanya.

“Bisakah kau buka mata-mu dan lihat posisi kita saat ini? Aku tidak bisa terus berdiri disampingmu dan terus berbohong pada diriku bahwa aku menyukaimu. Aku bukan boneka yang harus terus menuruti perintahmu…” Kali ini air mata bersalahnya jatuh membasahi pipinya. Ia menyesal, ia benar-benar merasa bersalah dengan seluruh yang telah ia lakukan. Ia tahu semuanya tidak harus berjalan seperti ini.

Junsu terdiam menatap pantulan dirinya dengan tuxedo hitam. Ia ingin berdiri diam disana hingga hari ini berakhir. Ia benar-benar lebih memilih berdiri disana dibanding harus berjalan dialtar sana menunggu seorang gadis.

“Chagio! Mempelai pria diharapkan menuju altar. Upacara akan segera dimulai!”

Junsu menghempaskan nafasnya dari mulutnya, sebelum berangkat ia kembali menatap pantulan dirinya dari cermin dan kembali menemukan dirinya yang sangat nampak menyedihkan dengan semua ini.

Junsu berjalan melewati seluruh hadiri, beberapa diantara mereka bergumam menatap penampilannya yang nampak sempurna dengan tuxedo hitamnya. Junsu menghentikan langkahnya dan berdiri dialtar diam menatap kosong kedepan, menerawang menembus kaca dihdapannya menatap langit siang yang sangat cerah.

Waktu berjalan cukup lama, seharusnya mempelai wanita sudah harus menghampiri altar. Dan saat itu seseorang datang dengan tergesa membisikan sesuatu pada telinganya, “Mempelai wanita… dia, dia tidak ada ditempat. Dia menghilang!”

Peredaran darahnya segera memompa seluruh darahnya secara cepat mengantarkan pesan itu pada otaknya agar langsung direspon. Ia tidak tahu apa ini bertanda baik atau tidak, tapi ia segera pergi meninggalkan seluruh hadiri dan menembus pintu.

Kyuhyun yang awalnya hanya terduduk dalam diam, segera bangkit saat melihat kepergian Junsu yang begitu terburu. Ia segera menghampiri penyampai pesan itu dan bertanya akan situasi yang tengah terjadi. Kakinya sendiri langsung berlari meninggalkan ruangan setelah mengetahu keadaan yang sebenarnya, hanya pada hadiri pestalah yang masih belum bisa memahami kejadian itu dan begitu riuh menatap kepergian Junsu begitu saja.

Junsu melangkahkan kakinya kesegala tempat tapi tidak dapat menemukan apapun. Ia tahu gadis itu pasti belum pergi jauh, bagaimana bisa gadis itu berlari dengan cepat dengan balutan wedding dress yang begitu melilitnya. Junsu menelusuri setiap lift, eskalator, dan bahkan ruangan tersembunyi, tapi tidak ada apapun.

Ia menghentikan langkahnya dan mencoba mengatur nafasnya yang memburu, pandangannya masih mengeledah sekitarnya mencari selah gadis itu pergi dan pintu darurat menyadarkannya.

Junsu melangkahkan kakinya memasuki tangga darurat, saat langkah pertamanya masuk saat itu juga ia mendengar isakan halus seorang gadis. Ia menatap kebawah anak tangga dan menemukan seorang gadis yang menangis disebuah anak tangga dilantai bawahnya. Gadis itu mengenakan wedding dress yang juga dikenakan Yunmi.

“Yunmi-a”

Gadis itu menghentikan isakannya dan bangkit. Ia mengangkat dress-nya dan berlari kecil menuruni anak tangga.

“Yunmi-a!”

Junsu menyusulnya dan dengan mudah ia meraih tangan gadis itu. “Kau akan pergi kemana?”

“Lepaskan! Bukan urusanmu aku pergi kemana. Pergilah! Aku sudah melepaskanmu! Kau sudah bebas. Pergilah!”

Junsu masih engan untuk melepas gengaman tangannya, dan Yunmi terus mencoba memberontak. “Apa kau benar-benar akan melakukannya?”

Yunmi terdiam, dan setelah itu ia berbalik dan mengecup kilas Junsu. “Aku melepaskanmu! Apa tidak bisa aku mengatakan itu sekali saja?! Itu terlalu menyakitkan untuk aku katakan! Aku tidak akan mengulangnya lagi. Jika kau masih menahanku aku akan menarik kata-kataku!”

Kali ini Junsu melepas gengamannya dan meninggalkan Yunmi yang mulai turun mendahuluinya. Ia menatap bahu gadis itu. “Gomapta! Aku tahu kau gadis yang baik…”

“Jangan buat aku menyesal! Jangan berbuat baik lagi padaku! Sudah jangan berkata lagi! kau menyebalkan!” Yunmi mengumpat tanpa menatap wajah Junsu dan bahkan tidak menghentikan langkahnya. Suaranya mengema memenuhi tangga darurat.

“Arraso! Jaga dirimu baik-baik. Setelah ini hiduplah dengan sangat baik!”

Kali ini Yunmi tidak menjawab apapun ia lebih memilih tidak mendengar perkataan Junsu. Jika saja kalimat yang Junsu keluarkan bukan kalimat-kalimat manis mungkin ia akan mudah untuk melepasnya. Oleh karna itu ia benar-benar berharap ia tidak mendengar apapun yang dikatakan pria itu.

Yunmi melangkahkan kakinya yang tidak mengenakan alas apapun menelusuri jalan. Beberapa orang menatapnya menyaksikan seorang wanita berjalan dengan wedding dress-nya, memang agak aneh. Saat langkah gadis itu berjalan dengan linglung seseorang menariknya dan menangkap gadis itu dengan mata coklatnya yang menusuk penuh amarah.

Saat menatap raut tidak menyenangkan diwajah gadis itu, pandangannya yang awalnya menyala kini meredup menjadi lembut. Perlahan ia menarik gadis itu kedalam pelukannya.

“Apa kau lelah?”

Yunmi membenamkan wajahnya dibahu pria itu, menyembunyikan air matanya yang jatuh. “Aku lelah Kyu… sangat lelah…”

Walau pelan dan tertelan kebisingan Seoul, Kyuhyun masih dapat mendengar isakan kencang gadis itu. Ia mengelus secara perlahan bahu gadis itu yang bergetar, dan terus membiarkan gadis itu menangis sepuasnya didalam bahunya.

-***-

END!!!

This’is so simple! But, I think I like it J hehehe.. Ini awal peselingkuhan saya dengan JUNSU! LOL~  OMG! I sorry Jae. Really I Love you :* kekeke~ Ok! #Skip!!!

Enjoy it! :)

8 thoughts on “Release!

  1. Ceritanya sih bagus dan tak ada masalah cuman mungkin kurang dapat feelnya truz aku sulit mengertinya maklum masih anak sd…
    Keep on writing y

  2. lumayan banyak typo ya, gapapa..masih dlm taraf wajar :D
    ceritanya bagus, tapi kyuhyun-nya kurang banyak. wahaha~ *ditimpuk*. Awalnya kasian bgt liat Kyu *pukpuk Kyuhyun*, pas liat endingnya.. kayaknya harus dibikin sequel deh! XD keep writing ya.
    good job!
    oiya,salam kenal~ *bow*

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s