[CHAPTER] My Everything – Part 2

Title : My Everything

Author : Reenesmee Potter

Main Cast : Kim Kibum (SuJu) , Im Yoona

Supporter cast : Lee Donghae, Park Jiyeon, Choi Minho, Bae Suzy, Choi Siwon, Kim Heechul, Lee Jinki

Genre : Romance, frienships, School Life

Length :  Sequel

A/N : Mianhae atas keterlambatan post-nya yaa ^^

Part 2

 

Yoona menatap surat beramplop pink di tangannnya itu dengan garang. Apa kata sunbaenya tadi? Menembak seorang Kim Kibum? Astaga, siapapun, bunuh ia sekarang juga! Namanya memang Kim Kibum. Namun nama Kibum itu pasaran *author ditendang* jadi memang banyak kemungkinan, bisa saja Kim Kibum yang akan ia tembak berbeda dengan Kibummie masa kecilnya itu. Tapi tetap saja ia merasa resah. Ia sudah bersumpah sebagai seorang perempuan untuk TIDAK PERNAH menembak seorang cowok. Lagipula, ia tidak tahu yang mana namja bernama Kim Kibum itu.

Beberapa temannya hanya menatap aneh padanya yang tengah mondar-mandir tidak jelas itu. Mereka sudah menyelesaikan tugas mereka, ada yang menyabuti rumput, membersihkan WC, ataupun lari keliling lapangan basket sambil berteriak “AKU YEOJA YEOPPO” sebanyak 50 kali.

“Ya, Im Yoona, kau kenapa, hah?” tanya salah seorang temannya sambil mengaduk-aduk es teh yang sedang dipegangnya. Yoona hanya meliriknya sekilas, lalu kembali mondar-mandir tidak jelas.

“Hei, kau gangguan jiwa yah?” tanya seorang yang lain lagi. Kali ini Yoona menoleh menatap mereka dengan ketus.

“Aku sedang dalam masalah BESAR,” katanya sambil mengangkat surat beramplop pink yang sedang di pegangnya itu.

“Masalah apa?”

“Oke, aku harus menembak seorang sunbae yang bernama Kim Kibum itu!”

“MWOYAAA???”

“Ne, dan waktuku hanya sampai istirahat kedua!” lanjutanya lagi.

“Kalau begitu cepat tembak, tunggu apa lagi? Mumpung orangnya tampan loh,” sahut salah seorang temannya sambil menyeruput jusnya.

“Masalahnya, aku bingung harus ngapain, aku gak tahu orangnya yang mana, dan.. haish! Semuanya tambah rumit!” racaunya sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

__

Jiyeon tengah berjalan santai menuju perpustakaan ketika sesosok namja tertangkap oleh sudut matanya. Namja itu jangkung dengan mata belo dan charisma yang dapat melelehkan hati setiap yeoja yang terperangkap di dalam tatapannya itu. Dan ia rasa ia termasuk disalah satunya.

Kini matanya telah terkunci seluruhnya oleh gerak-gerik namja itu. Choi Minho, kalau kalian bisa menebaknya. Namja itu tengah berbincang seru dengan chingu namjanya, dan sesekali tertawa. Dan ketika kepala Minho berputar, tatapannya dengan tatapan Jiyeon bertemu. Seketika Jiyeon mengalihkan tatapannya dengan semburat merah yang muncul di pipinya. Ia mempercepat langkahnya ke arah yang berlawanan dengan Minho, dimana tempat perpustakaan itu berada.

Sesampainya di perpustakaan, ia tak dapat menghentikan senyum yang terlukis di bibirnya sejak kejadian itu. Ia memilih sebuah tempat duduk di salah satu sudut perpustakaan dan membuka bukunya. Sebenarnya ia cukup cantik, malah tergolong cantik, dengan mata bening dan bibir warna pink cerah. Namun sepertinya suasana kedamaiannya itu terpaksa terhenti ketika sesosok mahkluk yang tengah tertidur beberapa jarak darinya tertangkap oleh matanya. Senyumnya lenyap seketika.

“Kita bertemu lagi, eh?” kata namja itu dalam posisi yang aneh. Kakinya naik ke atas meja, sementara wajahnya tertutup topi kupluk. Perlahan tanganya terangkat mengambil topi kupluk itu dari wajahnya, menampakkan senyum evil yang membuat Jiyeon langsung terkejut.

“Neo? Untuk apa kau di sini?” sahut Jiyeon kaget bercampur sinis.

“Ini kan tempat umum, harusnya aku yang bertanya kenapa kau mengganggu acara tidur siangku,” jawab namja yang tak lain tak bukan adalah Lee Donghae itu dengan santai.

“Aku tak mengganggumu, kau saja yang mencari masalah,” tukas Jiyeon tenang. Ia tak ingin merusak hari indahnya ini. Donghae merenyit bingung. Apakah yeoja didepannya ini sudah putus syaraf marahnya?

“Haish, lebih baik aku tidur lagi,” rutuk Donghae pelan, namun Jiyeon tak mendengarkannya. Cuaca hatinya terlalu bahagia saat ini, dan ia sama sekali tidak mau merusaknya walaupun dengan masalah sekecil apa pun itu.

__

Bruukk

“Ah, mianhae sunbae,” Yoona membungkuk ketika ia menabrak seseorang ketika sedang dalam perjalanan mencari namja bernama Kim Kibum.

“Ne, gwaencanna,” jawab orang itu. Yoona menoleh. Yeoja? “Kau mau kemana? Bukankah ini sedang istirahat? Kenapa kau malah keliling sekolang ini?” tanya sunbae itu. Yoona hanya tersenyum.

“Aku… ditugaskan oleh sunbae MOS untuk menjalankan tugas,” sahut Yoona pelan. Sunbae yang ternyata yeoja itu mengerutkan keningnya.

“Tugas apa?”

“Me… Menembak seorang sunbae,” jawab Yoona sambil menundukkan wajahnya. Sunbae di depannya tergelak seketika.

“Nuguya?”

“Kim Kibum sunbae,”

“Ah, dia. Kebetulan memang tak memiliki pacar. Tadi barusan kulihat ia kembali ke kelasnya di lantai 3. Kelas XII C,” jawab sunbae itu. Yoona membungkuk berterima kasih.

“Gomawo… err… nama sunbae?”

“Suzy,” jawab sunbae yang diketahui bernama Suzy itu. Yoona tersenyum dan kembali membungkuk.

“Yoona imnida, gomawo Suzy sunbae, annyeong,” kata Yoona cepat lalu bergegas melangkah menuju ke arah yang disebutkan Suzy tadi. Lantai 3… XII C…

“Ini dia!” pekik Yoona riang setelah menemukan sebuah kelas dengan papan pintu XII – C. ia bergegas memasuki kelas itu, dan semua pandangan menoleh kepadanya.

Glek.

Yoona menelan ludahnya. Walaupun hanya ada beberapa orang di kelas itu, tetap saja Yoona merasa sangat gugup. Tangannya mulai gemetaran menggenggam surat yang harus diberikannya kepada sunbae yang bernama Kim Kibum itu.

“Ya! Hoobae! Kau ngapain bengong di situ hah? Mau mencari siapa?” seru salah satu sunbae namja kepada Yoona. Wajah Yoona mulai memerah, lalu menunduk.

“A… a… aku…” Yoona menggigit bibirnya lalu mengadah dan berkata keras, “ Aku mencari Kim Kibum sunbae, apakah ada?”

“Ne?” salah seorang sunbae namja yang tengah menikmati musik dari Ipod dan menggunakan earphone menjawab. Ya, namja itu bernama Kim Kibum orang yang di cari Yoona. Tiba-tiba seluruh pandangan tertuju kepada mereka berdua.

“Untuk apa kau mencarinya?” tanya seorang sunbae yeoja yang tengah memainkan rambutnya. Kali ini Yoona tersentak, lalu menundukkan wajahnya.

“Sst, cepat bawa dia keluar,” Donghae—entah kenapa ia telah bangun dari tidurnya—menyikut lengan Kibum dan berbisik kepadanya. Kibum hanya menoleh sekilas dan melepaskan earphonenya.

“Ck, untuk apa? Paling juga dia lagi dikerjain sama Panitia MOS,” balas Kibum cuek.

“Err.. ada yang harus dibicarakan,” jawab Yoona pelan.

“Ya! Hoobae! Kalau kau mau berbicara dengan Kibum, perkenalkan dirimu dulu!” sahut seorang sunbae namja yang tengah duduk di atas meja dengan cengiran lebar. Yoona meremas tangannya yang gemetaran.

“Kok malah diam?” tanya sunbae yeoja lainnya. Yoona menarik nafas sejenak, lalu menatap ke lantai dengan harapan seolah-olah lantai itu bisa membuka dan membiarkan dirinya terjun ke dalam dasar bumi. Sekarang juga!

“Naneun Im Yoona imnida,” kata Yoona pelan. Beberapa sunbae di kelas itu mendekatkan telinganya.

“Mwoya? Kami tidak dengar. Lebih keras lagi!”

“Naneun Im Yoona imnida!” seru Yoona lebih keras. Jelas pernyataannya itu membuat Kibum terbelalak. Apa yang barusan ia dengar? Im Yoona?

Ia tertegun, menoba berpikir apakah telinganya bermasalah. Tapi ia juga yakin kalau apa yang di dengarnya memang tidak salah. Pikiran Kibum langsung melayang ke masa 9 taun lalu. Im Yoona, sahabat ciliknya yang sekarang entah dimana.

Apakah dia… Im Yoona yang itu?

__

“Dia… benar-benar… namja…BRENGSEK!” maki Suzy di kelasnya yang kosong. Masa-masa MOS adalah masa yang paling berharga bagi para sunbae, karena selama tiga hari tidak ada pelajaran sama sekali. Karena? Karena sebagian besar gurunya belum pada pulang dari liburan tentunya, XD

Duakkk

Sebuah penghapus papan tulis berhasil membentur pintu kelasnya yang tertutup.

“Akan…kubunuh…DIA!!” pekiknya lagi sambil melempar kapur ke arah yang sama.

Tukk

Kali ini ia bersiap dengan sepatunya. Ia mencopot salah satunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, mempersiapkan kuda-kuda untuk lemparan paling mengenaskan yang akan dilakukannya.

“Rasakan INI!!”

Syuutt~~~

Cklekk…

DUAKKKKKK

“YAK! SIAPA YANG MELEMPAR SEPATU?” teriak seseorang yang berdiri diambang pintu dengan jidat yang memerah—bekas jiplakan sepatu Suzy. Suzy terbelalak, lalu nyengir menanggapinya. Tentu saja ia senang, lemparannya tepat sasaran pada orang yang benar!

“Baguslah kau yang kena,” sahutnya tanpa perasaan. Ia melangkah mendekat untuk mengambil kembali sepatunya itu, namun tangan orang itu menahannya dan malah mengambil sepatu yang telah membuat wajah tampannya menjadi tidak begitu tampan lagi.

“Kau mau cari masalah lagi, hah?” seru orang itu. Ya, dia Minho, yang tengah menatap Suzy garang.

“Tidak juga, hanya keberuntungan,” jawab Suzy cuek sambil berusaha menggapai sepatunya yang kini berada di dalam genggaman Minho. Namun tangan minho menjauhkan sepatu itu dari pemiliknya. “Heii itu sepatuku!”

“Tangkap sendiri!!” tukas Minho cuek sambil melangkah keluar kelas Suzy. Yang membuat Suzy bingung adalah, untuk apa orang itu mengunjungi kelasnya yang notabene berbeda satu lantai dengannya? Apakah sunbae—tidak, dia tidak sudi memanggilnya sunbae—namja itu memang sengaja mencari perkara dengannya?

“Heuh, dia belum tahu aku atlet yang handal,” dengus Suzy kesal lalu berlari dengan kecepatan dahsyat menyusul Minho, dengan tujuan mau merebut kembali sepatu miliknya.

Minho menoleh ke belakang, lalu terkaget melihat Suzy yang berlari mengejarnya. Spontan ia berlari juga, menghindari Suzy. Alhasil, mereka berdua kejar-kejaran, bak polisi sedang berusaha menangkap penjahat, ==”

“Hei!! Kauuu!!” teriak Suzy garang. Minho hanya 3 meter berada di depannya, namun ia tetap tidak bisa meraihnya. Mwo? Meraihnya? Tidak, tidak, lebih tepat menyerangnya hingga ambruk.

__

“Jadi, untuk apa kau mencariku?” tanya Kibum menatap Yoona tajam. Yoona hanya bisa menelan ludahnya, tak berani memandang sunbaenya.

“Errr…”

“Kau gagu ya?” seru salah seorang sunbae dari balik punggung Kibum. Mereka berdua kini berdiri berhadapan di depan kelas, membuat para penonton sangat bersemangat dan tidak akan melewatkan pemandangan langka ini. Kibum menanggapi seorang yeoja! Hoobae pula!

“Aku…” tangan Yoona kian erat mencengkeram surat yang ada di balik punggungnya. “INI!! AKU DISURUH UNTUK MEMBERIKAN INI KEPADAMU!!” teriak Yoona sambil menyerahkan surat yang sedari tadi digenggamnya. Kibum terlonjak kaget.

“Hah?” dengan ragu Kibum mengambil surat dengan amplop pink itu. Ia membuka suratnya, dan membaca isinya dengan cepat, dan tertegun sejenak. Pandangannya kembali terarah menatap Yoona. “Ini benar perasaanmu?” tanyanya pelan, namun tetap saja seluruh penghuni kelas itu mendengarnya.

“Woahhhh Kibum ditembak hoobae!!”

“Semoga tidak diterima.. jangan terimaa…” gumam beberapa haksaeng perempuan yang kebetulan melewati koridor kelas itu tertarik dan ikut menyaksikan pemandangan itu.

Yoona melengos, memandang sunbaenya tak percaya. “Sunbae itu lelet, tolol, apa bego sih? Ya jelas bukanlah!! Orang aku cuma di suruh memberi itu kepada sunbae kelas 3 yang bernama Kim Kibum!” sahutnya kesal sambil menunjuk surat yang ada di tangan Kibum dengan dagunya. Seisi kelas terkejut.

“Heii~ aku suka gaya bicaramu!!” teriak seorang sunbae namja. Kibum melirik Yoona yang kini meremas-remas tangannya, jelas ia sangat khawatir, harga dirinya bisa jatuh kalau ia di suruh untuk menembak seorang sunbae secara langsung.

“Kau mengataiku lelet, tolol, dan… bego?’ ucap Kibum tak percaya, membuat Yoona tersentak lalu menutup mulutnya dengan tangannya.

“Ups, mianhae, itu di luar kendali,”

“Sebenarnya kau mau apa sih?” tanya Kibum lagi. Yoona melongo.

“Entahlah. Yang pasti aku di suruh untuk menyatakan pertasaanku…”

“KYAA~~~~” jerit beberapa siswa yang tengah menonton aksi aneh itu dari jendela.

“Hei, kalau kau mau menyatakan perasaanmu, harusnya kau bersikap sedikit lebih sopan,” kata seorang sunbae kepada Yoona dengan tenang. Kibum menatapnya dengan kesal. Tentu saja, dia adalah Donghae.

“Baiklah. Huffttt..” Yoona menarik napas pelan, dan setelah memantapkan hatinya, ia menatap Kibum dengan tenang. Bila hari ini ia harus menghancurkan harga dirinya, yang telah bersumpah TIDAK AKAN PERNAH menembak seorang namja kecuali namja itu menembaknya duluan, hancurkan saja. Hancurkan selebur-leburnya. “Kim Kibum sunbae, maukah kau menjadi namjachinguku?”

“UHUKK!!” KIbum terbatuk memegangi tenggorokannya, ia tersedak air liurnya sendiri. Yoona lebih kaget lagi, sekaligus heran juga, ternyata pria juga bisa kaget (ya iya lah).

“Eh? Aku salah ngomong ya?” gumam Yoona ambil menutup mulutnya.

“Hei!! Kau! Hoobae tengik! Baru MOS sudah kegatelan!!” teriak salah seorang haksaeng dari luar jendela. Yoona menoleh lalu menatap bingung.

“Heh!! Kalau bukan karena MOS aku juga tidak akan melakukan hal ini kali!!” sahutnya keras.

“Kau hoobae yang berani,” kata Kibum pelan. Yoona menoleh ke arahnya dengan cuek.

“Jadi bagaimana?”

“Baiklah, aku…”

“Ehhhh.. andwae!! Jangan dijawab dulu, Kibum!” larang Donghae tiba-tiba.

“Wae?” tanya Kibum heran

“Kita sepertinya harus memberikan sedikit tantangan kepada hoobae berani ini,” jawabnya yang disambut anggukan dari seluruh sunbae yang tengah duduk di kelas itu. Yoona panas dingin lagi sekarang.

“Bagaimana kalau… kau… memberikan jawabannya di Café Shappire lusa?” usul salah seorang sunbae yeoja.

“Jangan. Terlalu lama. Bagaimana jam 5 sore ini?” usul salah seorang yang lainnya. “Dan Kibum, kau harus datang,”

“Ya, kupikir memang sebaiknya sore ini saja,” sahut yang lainnya. Yoona melongo. Ia sedang tidak bermain Jumanji, kan? Apakah film kesukaan oppanya pada saat ia masih baru mengenal aljabar itu benar-benar terjadi padanya? Yah, meski tidak dengan cara yang sama, Yoona bisa merasakan sesuatu yang menakutkan seperti film itu.

“Ta… tapi sunbae, aku butuh jawabannya sekarang!” seru Yoona.

“Jam 5, Café Shappire, sore ini,” tegas seorang sunbae padanya.

“Ck,” Yoona mendumel kesal lalu melangkah keluar ruangan. Ia hendak mencari sunbae yang telah memberinya tugas tadi. Ia merasa sunbae itu berada di lantai 2, karena kebanyakan anggota OSIS masih menduduki kelas XI.

Setelah mengedarkan pandangannya sejenak, ia menemukan sunbae itu. Tengah bercanda bersama dengan temannya yang lainnya. Yoona mendatanginya dengan langkah lemas.

“Sunbae, aku sudah menembaknya,” kata Yoona to-the-point.

“Benarkah? Bagaimana jawabannya?”

“Nanti sore, jam 5, di Café Shappire,”

“Kenapa bisa begitu?”

“Entahlah, yang penting aku sudah berusaha, sunbae,” sahutnya kalem. Sunbae di depannya hanya mengangguk.

“Kau datang saja. Kalau misalkan diterima, ya mungkin itu adalah keberuntunganmu,”

__

“Heiii!!” teriak Suzy lagi. Secara tidak sadar mereka sudah kejar-kejaran selama 2 jam, 5 kali mengelilingi komplek sekolah, dan kini arah mereka sedang menuju gudang olahraga. Dengan semangat Minho masuk ke dalam gudang, lalu menghentikan larinya. Tentu saja! Napasnya sesak sekarang!! Keringatnya membasahi seluruh kemeja sekolahnya, astaga! Sementara Suzy? Sedang merutuki rambut panjangnya yang telah lepek karena keringatnya. Dan, kaus kaki kirinya yang kotor karena berlari tanpa sebelah sepatu.

“Hosshhh… hoshhh.. kau… hebat juga..” ujar Minho sambil mengatur napasnya. Tangan kanannya masih memegang sepatu kiri Suzy.

“Aku… hehh.. juara dua lari 500 m sewatu SMP,” sahut nya sambil memegang lututnya, meredakan napasnya yang satu-satu. “Kau gila, berlari selama itu. Memangnya kau mau bermain Tom and Jerry, huh?”

“Lha, kita kan memang Tom and Jerry,” balas Minho dengan cengirannya. Suzy mendengus.

“Capek berdebat denganmu,”

“Aku juga capek, hanya saja kau nyolot banget,” timpal Minho cuek. Suzy mendelik, namun kali ini ia meredam emosinya.

“Cepatlah, kembalikan sepatuku,” pinta Suzy pelan sambil menyodorkan tangannya. Dengan pelan Minho mengulurkan sepatu itu. “Gomawo,”

“Ck, kau memang mudah terpancing emosi, yah,” kata Minho sambil menyenderkan punggungnya di dinding, memperhatikan gerak-gerik Suzy yang sedang memakai sepatu.

“Itulah aku, wae?”

“Kau jangan mudah terpancing emosi, nanti cepat tua,” sahut Minho jail.

“YAA~!” tangan Suzy terangkat untuk menjitak Minho yang notabene lebih tinggi darinya tapi entah kenapa ia selalu berhasil melakukannya. Dengan sigap tangan Minho menangkapnya, dan mengenggam tangan Suzy. Ia menatap Suzy lembut.

“Bisakah kita berbicara tanpa ada kemarahan?”

__

“Apa? Ke Café Shappire jam 5 sore ini? Untuk apa?” tanya Yoona pada dirinya sendiri. Kini ia sedang terduduk di halte bus, menunggu oppanya, Niel untuk menjemputnya. “Mereka aneh. Aku ada perlu dengan manusia yang bernama Kim Kibum itu, tapi kenapa malah menginterogasiku dengan berbagai pertanyaan seperti aku ini seorang terdakwa?”omelnya lagi. Untung saja keadaan di halted an sekitarnya sepi, kalau saja ada orang ia pasti dikira orang gila karena berbicara sendiri.

“Kalau aku menurutinya, apa yag akan terjadi nanti,ya? Katanya sunbaedeul itu sangat kejam, bisa saja aku dipermalukan di depan umum,” ucapnya, menumpahkan semua yang ada di pikirannya.

“Kenapa kau suka brbicara sendiri?” sebuah suara mengagetkan Yoona. Ia menoleh, lalu terkejut mendapati seorang sunbaenya terduduk tepat di sampingnya.

“E.. Eh? Sunbae?”

“Kalau bisa, jangan datang ke café itu. Hal yang tidak terduga pasti terjadi,” katanya lagi, membuat Yoona melongo. “Tapi terserah kau juga. Kalau kau mau mengetahui jawabannya, kau bisa datang ke café itu,” kata sunbaenya tenang.

To Be Continued…

Ottheyo?? memuaskankah?? Komen yah!!

16 thoughts on “[CHAPTER] My Everything – Part 2

  1. Akhirnya muncul jg nih ff… Aku kira masih lama…
    Ceritanya sih makin bagus dr yg wkt itu…
    Keep on writing y

  2. lanjut yeah…..
    aku selalu ikutin ff ini,,,
    thor,,, kapan part 3nya,,,,,,,,ngga pke lama yeah,
    makasih udah buat cast nya yoonbum…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s